Kamis, 06 November 2008

Blessing In Disguise

Blessing In Disguise

Adalah sepasang suami-istri yang sudah lama tidak mempunyai anak. Suatu hari
sang istri ternyata hamil lalu melahirkan seorang anak laki-laki. Semua
tetangga mengatakan mereka adalah pasangan yang beruntung. Anaknya laki-laki
lagi. Kalau nanti sudah dewasa, bukankah dia bisa bekerja keras dan merawat
orang tuanya? Sungguh beruntung mereka punya anak laki-laki.

Ternyata anak tersebut sangat senang kuda. Dia sangat ingin memiliki seekor
kuda. Tapi mereka miskin sehingga tidak bisa membeli hewan tersebut. Semua
orang mengatakan bahwa mereka benar-benar sial karena miskin, sehingga
tidak bisa membeli kuda. Kalau mereka kaya, kan bisa beli kuda? Sial benar.

Suatu hari ayahnya diberi seekor anak kuda oleh pelanggannya yang sering
membeli kayu bakarnya. Jadilah anak itu punya seekor kuda. Semua orang
mengatakan mereka sangat beruntung. Ingin punya kuda, eh ada yang memberi
kuda. Beruntung sekali.

Anak itu pun belajar berkuda. Dia sering berkuda ke mana-mana. Suatu Hari,
ketika sedang berkuda. ternyata kuda tersebut mengamuk, sehingga anak itu
terjatuh dan kakinya patah. Sejak kejadian itu dia menjadi pincang apabila
berjalan.

Semua orang menyesali mengapa dia berkuda. Kalau dulu tidak punya kuda, kan
dia tidak akan jatuh. Dan kakinya tidak akan pincang. Sial. Mengapa punya
kuda? Lebih baik tidak usah punya kuda. Sial sekali.

Setelah anak tersebut menginjak dewasa, ternyata di negara tersebut pecah
perang dengan negara lain. Semua pemuda harus menjadi serdadu. Anak pasangan
suami-istri itu juga harus mendaftar. Orangtuanya khawatir kalau anak
satu-satunya ikut berperang. Semua tetangga merasa kasihan dan menyesali
mengapa dulu tidak lahir anak perempuan saja. Kalau anak perempuan kan tidak
harus berangkat berperang. Aduh, sial benar, mengapa pasangan itu dulu
melahirkan anak laki-laki?

Ketika dilakukan pemeriksaan kesehatan ternyata anak itu yang kini sudah
tumbuh menjadi seorang pemuda, tidak diterima sebagai serdadu karena kakinya
cacat. Semua orang mengatakan, beruntung sekali dia tidak harus berperang.
Coba kalau dulu tidak jatuh dari kuda, dia pasti harus ikut berperang.
Untung dulu dia punya kuda. Untung dulu dia jatuh dari kuda. Untung kakinya
pincang. Sungguh beruntung dia.

Dari cerita ini, sebenarnya untung dan sial itu apa sih? Kapan seorang
disebut beruntung dan kapan kurang beruntung? Ketika anak laki-laki yang
lahir, katanya beruntung, tapi ketika dia harus berperang, orang-orang
mengatakan mengapa dulu tidak lahir anak perempuan saja?

Ketika dia mendapat kuda, katanya beruntung, tapi ketika dia pincang karena
jatuh dari kuda, katanya sial. Orang-orang menyesali mengapa punya kuda.
Lalu ketika dia tidak jadi berperang karena pincang, kata orang dia
beruntung karena dulu pernah jatuh dari kuda. Untung dulu punya kuda. Untung
dia pincang.

Jadi, sebenarnya kapan seseorang sial dan kapan seseorang beruntung? Apakah
karena tidak sesuai dengan yang kita harapkan lalu kita katakan sial atau
kita anggap musibah? Apakah ketika sesuai dengan keinginan kita, lalu
musibah tersebut bisa berubah menjadi keberuntungan? Kapan kita menyesali
sesuatu? Kapan kita mensyukuri sesuatu? Mungkin saja apa yang dianggap sial
atau musibah hari ini, mungkin bisa berubah menjadi keberuntungan di masa
depan. Mengapa? Mungkin karena kita belum bisa melihat blessings in
disguise. Kita tidak bisa melihat berkah dibalik musibah. Apa yang dilihat
sebagai musibah hari ini, ternyata di kemudian hari baru kita sadari bahwa
hal itu mengandung berkah.

Kisah berikut ini juga mengambarkan adanya berkah terselubung. Sekali waktu
ada seorang pria buta huruf yang bekerja sebagai penjaga sebuah sekolah di
Amerika Serikat. Sudah sekitar 20 tahun dia bekerja di sana. Suatu hari
pemimpin sekolah itu dipindahkan ke tempat lain dan digantikan oleh pemimpin
baru.

Pemimpin baru ini menerapkan aturan baru. Semua pekerja harus bisa membaca
dan menulis agar mereka bisa mengerti pengumuman yang ditempel di papan
pengumuman. Penjaga yang buta huruf itu terpaksa tidak bisa bekerja lagi.

Dia sangat sedih dan berjalan pulang dengan lemas. Dia tidak berani langsung
pulang ke rumah, tidak berani langsung memberitahu isterinya. Dengan sedih
dia berjalan pelan menelusuri jalanan.

Setelah hari gelap sampailah dia di sekitar pelabuhan. Dia pun ingin membeli
tembakau. Tapi setelah mencari kemana-mana, setelah mengelilingi beberapa
blok, tidak ada satu toko pun yang menjual tembakau. Tiba-tiba, dia berfikir
"Tembakau sangat perlu. Tapi di sekitar sini tak ada yang jual tembakau. Aku
ingin jualan tembakau saja ah."

Dia pun pulang, lalu dengan penuh semangat menceritakan idenya untuk
berjualan tembakau kepada isterinya. Dia tidak lagi menyesali nasibnya yang
baru saja kehilangan pekerjaan. Kemudian dia pun membuka kios tembakau.
Ternyata tembakaunya laku keras.

Tak berapa lama, dia bisa membuka toko tembakau. Beberapa tahun kemudian dia
bisa membuka beberapa cabang toko tembakau di tempat lain. Jadilah dia
pedagang tembakau sukses.

Ketika sudah jadi orang kaya, dia pun pergi ke bank untuk membuka rekening.
Tapi karena buta huruf, maka dia tidak bisa mengisi formulir. Karyawan bank
berkata "Wah, Bapak yang buta huruf saja bisa punya uang sebanyak ini,
apalagi kalau Bapak bisa membaca dan menulis, Bapak pasti lebih kaya lagi."
Dengan tersenyum dia berkata "Kalau saya bisa membaca dan menulis, saya
pasti masih menjadi penjaga sekolah."

Waktu dia dipecat, dia merasa sedih, putus asa, dan mungkin menyesali
kejadian itu. Peristiwa itu merupakan musibah. Tapi kini, dia bisa melihat
bahwa mungkin nasibnya tidak akan berubah menjadi seperti sekarang kalau
dulu dia tidak dipecat.
Apa yang dulu merupakan musibah, ternyata kini mendatangkan keberuntungan,
menjadi berkah. Mari kita mencoba bersabar dan tabah dalam menghadapi
apapun. Berdoa supaya bisa melihat berkah di balik musibah dan selalu
bersyukur terhadap apa yang sudah diberikan DIA untuk kita.

Do not give up! See the blessings in disguise!

.

Rabu, 05 November 2008

Dilema sang ibu yang bekerja

Dilema sang ibu yang bekerja

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM

Principal of Yemayo – Advance Education Center

Sebutlah ibu Arni namanya, seorang wanita berpenampilan rapi yang selalu kelihatan sibuk dengan segala macam urusannya. Ia terlihat tidak bisa diam, ada saja selalu yang diurusnya. Telepon genggamnya dari tadi berbunyi; kesibukan ibu Arni sungguh tidak terlihat dibuat-buat. Akhirnya ia mendapatkan waktu juga untuk berbicara dengan saya.

"Maaf nih, dari tadi telepon saya bunyi terus yah. Ya beginilah, urusan kantor saya memang banyak, sampai beberapa kali saya ingkar janji dengan anak saya karena waktu itu saya ada deadline sehingga pulang larut malam", kata ibu Arni yang terlihat begitu salah tingkah. Terlihat ia sangat antusias dan gembira mengatakan dirinya sebagai seorang wanita yang sibuk, namun mukanya pun terlihat tidak nyaman dan tersirat rasa bersalah saat mengatakan bahwa ia harus ingkar janji dengan buah hatinya.

"Duh! Saya salah yah? Gimana ya, saya lupa diri terus kalau bekerja. Tapi gimana yah, saya sangat menyukai pekerjaan saya, tapi saya sadar sih, seharusnya saya lebih menyediakan waktu bagi anak saya", terdengar suara ibu Arni meneruskan kata-katanya terdahulu. Saya yang diajaknya bicara belum mengemukakan apa-apa, tapi tampaknya ibu Arni yang berparas manis ini seperti ingin mengakukan dosa-dosa yang dilakukan terhadap anaknya.

Curhat ibu Dina lain lagi, ia merasa sangat bersalah karena harus kembali bekerja lagi setelah mengambil 3 bulan cuti melahirkannya. "Saya merasa sangat tidak tenang meninggalkan anak saya. Saya sedih kalau mengingat bahwa kemungkinan bukan saya yang akan mendengarkan anak saya mengucapkan 'ma' pertama kali. Saya sering merasa cemburu dengan pengasuh saya karena dia justru bisa dekat dengan anak saya di rumah", nadanya terdengar sangat sedih. Saya dapat merasakan kekacauan hatinya.

Cerita ibu Rima berbeda lagi, ia harus mendapat surat peringatan dari perusahaan tempat bekerjanya karena ia terlalu sering memakai telepon perusahaan untuk menelpon pengasuh anaknya di rumah. Inilah dilema-dilema para ibu yang bekerja. Banyak di antara mereka yang bertanya kepada saya : "Salahkah saya bekerja dan meninggalkan anak-anak saya?"

Saya agak kurang setuju dengan pertanyaan ini, sebab kalau dijawab 'salah', maka perasaan sang ibu akan semakin tertekan, pekerjaannya semakin kacau dan anaknya pun semakin tidak nyaman memiliki ibu berhati kacau, tetapi kalau dijawab 'tidak salah', bisa jadi anak-anak akan tidak pernah merasakan sosok peran ibu yang normal di rumah. Yang sangat menular dan dapat dirasakan oleh anak adalah 'emosi'. Jika seorang ibu bekerja dengan gembira dan mampu membawa kegembiraannya ke rumah, maka emosi positif akan tertular pada anaknya. Masalahnya, untuk ibu yang 'doyan' kerja, ia hanya senang di tempat kerja, tetapi yang dibawa pulang hanyalah emosi kelelahan, tentu saja ini tidak baik dan tidak adil untuk anak.

Sementara untuk ibu yang terpaksa harus bekerja untuk memiliki double income dalam rumah tangga; juga sama kacaunya, di dalam pekerjaan ia tidak tenang, bertemu dengan anaknya pun terasa menjadi sangat berlebihan menumpahkan kasih sayang sebagai kompensasi rasa bersalahnya.

Di dunia ideal memang sebaiknya kaum ibu tinggal di rumah dan kaum bapak sajalah yang mencari nafkah, sehingga urusan rumah dan urusan mencari uang tidak tumpang tindih. Sayangnya permasalahannya tidaklah sederhana.

Jaman sekarang ini, bekerja bagi kaum wanita tidak melulu hanya untuk mencari uang, namun justru seringnya sebagai sarana aktualisasi diri berkarya dan berkreasi dan menambah luasnya wawasan.

Seorang ibu lain yang saya kenal mempunyai masalah lain lagi, saat ia telah memutuskan berhenti bekerja, ternyata anaknya merasa tertekan karena kehadiran sang ibu yang terlalu mendikte. Lalu, apa permasalahan yang sebenarnya? Yang terutama adalah kemampuan anda mengolah emosi. Para ibu yang sangat mencintai pekerjaannya, perlu menjaga kestabilan emosi anda untuk senang bekerja dan senang kembali ke rumah. Untuk ibu yang merasa 'terpaksa' bekerja, perlu juga menjaga kestabilan emosi untuk tetap bekerja dengan tenang dan mengatur emosi sedemikian rupa agar tidak terlalu meluap-luap di depan anak sehingga anak membaca anda sebagai ibu yang labil.

Tips untuk para ibu yang bekerja:

 - Siapkan mental anda bukan mental 'eight to five', tetapi lebih dari itu, 'eight to sleeping time'. Ingatlah bahwa setelah pekerjaan selesai, ada tugas mulia lain yang menunggu anda, yaitu berinteraksi dengan putra-putri yang rindu pada anda.

- Pulanglah dengan gembira, jika anda terlalu lelah, segeralah masuk ke dalam kamar dan tenangkan diri anda 10 hingga 15 menit; anda bisa merendam kaki dengan air panas, tiduran sebentar, namun, ingatlah bahwa putra-putri anda memerlukan anda, keluarlah dari kamar tidur dengan senyuman.

- Bawalah anak anda sesekali ke tempat kerja dan perlihatkanlah kesibukan anda. Anda bisa meminta anak anda membantu pekerjaan sederhana, seperti melipat amplop, menjepret kertas, dll; bila dilibatkan, anak bisa belajar mengerti kesibukan anda. Berikan pandangan positif dan gembira tentang pekerjaan anda, maka anak anda akan turut gembira juga mengetahui bahwa anda gembira melakukan pekerjaan anda.

Tidak seorangpun yang pernah memberikan

yang terbaik itu menyesalinya

= George Halas

Kamis, 30 Oktober 2008

Ma, aku jatuh cinta

Ma, aku jatuh cinta…

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM

Principal of Yemayo – Advance Education Center

Tanpa sadar seorang ibu telah mengulang-ulang pertanyaannya kepada saya, "Duh! Gimana yah, anak remaja saya berkata bahwa ia sedang jatuh cinta. Dia kan masih kecil, tapi kalau saya larang dia pasti tidak akan cerita lagi ke saya. Kalau saya tidak larang, saya takut dikiranya saya menyetujui cinta monyetnya", ujar sang ibu kebingungan.

Masalah jatuh cinta? Duh! Kayak nggak pernah muda aja nih… Tentu secara logika masalah percintaan anak muda bisa berakibat buruk pada pelajaran sekolahnya, tapi jangan juga terlalu membesar-besarkan sesuatu yang belum mungkin terjadi. Bila anak remaja anda jatuh cinta, saya sangat menyarankan anda untuk mau menjadi sahabat yang baik anak anda. Sayangnya, hal yang satu ini cukup rumit juga terutama bagi orangtua yang telah terbiasa memberikan perintah dan merasa 'tidak perlu' melakukan komunikasi terbuka.

Beberapa orangtua berkata bahwa mereka telah berusaha melakukan komunikasi terbuka namun sang anak tetap saja berkonflik. Usut punya usut ternyata pola komunikasi yang disebut sebagai komunikasi terbuka itu adalah komunikasi interogasi dan nasehat. Maksudnya, di depannya anak ditanyai secara halus seolah-olah anak bebas mengungkapkan apa saja, tapi setelah anak secara blak-blakan bercerita, akhirnya anak malah dinasehati habis-habisan sehingga akhirnya anak sulit bisa percaya lagi bila kelak akan ada suatu pembicaraan masalah pribadi dengan orangtua.

Jatuh cinta adalah hal yang wajar itu berarti anak anda tumbuh normal sebagai biologis. Jadi kalau kita melarang sesuatu yang normal dan menentangnya habis-habisan, justru sebenarnya kitalah yang tidak normal. Sekarang tinggal tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Dibiarkan saja? Tentu jawabnya tidak. Dilarang saja? Tentu jawabnya tidak. Bila anda telah beberapa kali membaca artikel-artikel saya terdahulu, anda akan mengerti benar bahwa saya selalu mengemukakan 'cara'. Tidak boleh 'terlalu', baik terlalu lunak ataupun terlalu keras. Biarkan anak anda berbicara dari hati ke hati tentang pujaan hatinya; anda bisa menanggapinya dengan pertanyaan-pertanyaan datar, seperti bagaimana perasaanmu? Rumahnya dimana? Bagaimana ceritanya sampai kamu jatuh hati dengannya? Tentu saja sebagai orangtua anda wajib memberikan batasan yang sopan bagi anak berpacaran. Sebelum anak anda sempat bercerita tentang keinginannya dicium atau mencium pacarnya, anda bisa memberikan peringatan dengan nada bersahabat, "mama nggak larang kamu pacaran, tapi nggak perlu pakai cium-cium deh. Kalian ngobrol-ngobrol saja dulu." Ini adalah suatu peringatan yang halus tapi bersifat 'mencegah', dengan keterbukaan seperti ini, justru anak akan mudah mengingat perkataan anda sehingga pada saat benar ia ingin mencium atau dicium, bukan tidak mungkin ia berkata pada dirinya, 'mama bilang, nggak boleh cium dulu.' Hal ini juga berlaku bila anda ingin memberikan peringatan ringan agar anak anda tidak sembarangan mau 'pegang-pegangan', janganlah menggunakan nada tinggi, anda bisa bertanya tentang pendapat anak anda, "menurutmu, kalau pacaran sudah seenaknya pegang-pegangan, baik atau tidak?" Tentunya, anda tidak bisa sampai pada pertanyaan semacam itu bila anak anda tidak mempercayai anda, karena kalau anda langsung tiba-tiba bertanya seperti itu, pastilah mereka mencurigai anda sedang menginterogasi mereka.

Anda wajib memberikan teguran yang keras bila ternyata anak anda mulai terlihat tidak bertanggung jawab, seperti melalaikan tugas sekolahnya ataupun nilai-nilainya mulai menurun. Katakan pada anak anda bahwa anda kecewa karena ia melanggar batas kepercayaan yang anda berikan yaitu mampu membagi waktu untuk belajar dan berpacaran. Teguran keras juga wajib anda berikan bila anak pulang malam atau melanggar janji waktu pulang ke rumah yang telah disepakati, tegurlah secara fokus bahwa anda merasa kesal dengan pelanggaran yang dilakukannya, hindarilah menyindir-nyindir tentang ia berpacaran.

Walaupun kita perlu mengandalkan komunikasi yang terbuka, saya sangat mewajibkan agar orangtua juga mengetahui teman dekat atau 'pacar' sang anak, paling tidak anda perlu tahu dimana ia tinggal, nomor teleponnya, orangtuanya. Tentu sangat konyol bila kita membiarkan anak kita jatuh cinta dengan orang yang 'tidak beres'. Dalam hal ini orangtua wajib menegur. Istilahnya, kalau sudah tahu anak mau masuk ke jurang, sebaiknyalah segera ditarik, bukan malah diberi kesempatan supaya masuk jurang.

Untuk anak-anak kuat yang mengerti benar tentang prioritas hidupnya, perihal berpacaran tidak akan membuat orangtuanya pusing karena kebanyakan mereka mampu memutuskan mana yang terbaik bagi dirinya. Anak-anak yang kuat seperti ini justru terbentuk dari keluarga yang positif. Orangtua yang membiasakan komunikasi terbuka dengan anak-anak, rutin berkumpul bersama dimana anak merasa nyaman untuk mengemukakan pendapat, mampu menghadirkan kegembiraan dan canda saat berkumpul bersama, tetap menyentuh anak-anaknya dengan belaian, cium, colek atau mengelitik sebagai tanda keakraban yang hangat, akan menghadirkan pribadi-pribadi yang kuat dan jauh dari kehampaan. Kalau pacarnya 'macam-macam' mereka tak segan-segan menendangnya.

Hati, itulah yang membedakan antara yang baik dengan yang hebat.

= Michael Jordan

Senin, 27 Oktober 2008

Pilihlah keduanya

Pilihlah keduanya!

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM

Principal of Yemayo – Advance Education Center

Dilema keluarga dan pekerjaan selalu dihadapi oleh para orangtua. Belakangan ini semakin banyak pekerjaan ataupun bisnis yang menyita waktu pribadi orangtua. Ditambah juga dengan prinsip-prinsip kebablasan yang mengatas-namakan kerja keras untuk kebahagiaan keluarga, padahal setelah ada penghasilan yang baik sekalipun, keluarga tidak juga diberikan prioritas. Sibuk, capek, itu merupakan alasan seseorang yang selalu sibuk bekerja untuk dapat lepas dari kewajibannya membagikan waktu dengan keluarga. Hal ini berlaku untuk pria dan wanita; ayah atau ibu yang selalu sibuk.

Seorang ibu mengutarakan dengan nada gembira bahwa suaminya sudah tidak sesibuk dulu waktu ia masih bekerja, dengan demikian, sang suami kini memiliki banyak waktu bercengkrama dengan anak-anak, sementara suaminya hanya mengangguk-angguk, tapi saya lihat anggukkan itu bukan suatu anggukkan tegas yang menyatakan bahwa ia benar-benar ikut gembira dengan kata-kata istrinya. Tidak berapa lama kemudian, sang suami berkata, "Bisnis apa ya yang menghasilkan uang namun tidak menyita banyak waktu?" Pertanyaan bapak itu membenarkan asumsi saya sebelumnya, bahwa sebenarnya bapak itu masih menginginkan kesibukan bagi dirinya, tentulah ia tidak puas dengan waktu luang yang dimilikinya saat ini. Buku karangan T. Harv Eker, yang berjudul Secrets of the Millionaire Mind, menyebutkan bahwa salah satu prinsip orang kaya yang sukses adalah memikirkan 'keduanya' (both), bukan memikirkan 'salah satunya' (either). Bila anda dihadapkan dengan pilihan keluarga atau pekerjaan, seandainya anda ingin benar-benar menjadi orang yang berhasil, pilihlah keduanya, yaitu memilih keluarga dan memilih pekerjaan.

Bukankah dengan memilih keduanya akan menyebabkan kita menjadi tidak fokus di dalam usaha pencapaian sesuatu? Mengenai fokus, ini tergantung dari pilihan yang kita buat dari awal. Sebagai contoh, bila kita memilih keluarga dan pekerjaan, maka kita akan fokus untuk dapat membagi waktu dengan bijaksana,  kita akan membiasakan pikiran kita untuk memenangkan kedua perkara tersebut. Namun bila kita hanya memilih salah satu, contoh, hanya memilih pekerjaan, fokus kita tentu saja memberikan waktu semaksimal mungkin untuk pekerjaan saja. Semua tindakan yang kita lakukan, tergantung dari pilihan apa yang kita buat. Kita bisa fokus memilih keduanya tentu saja kita bisa memilih fokus untuk memilih satu hal saja. Sebelum anda memilih; pikirkanlah konsekuensi yang mungkin anda terima pada akhirnya; bila anda memilih 'keduanya', keluarga dan pekerjaan, maka sebagai akibatnya anda dapat mengasihi dan dikasihi keluarga anda dan tetap mempunyai penghasilan yang baik. Bila anda memilih 'salah satu', maka akibatnya anda akan kehilangan salah satunya. Melihat dari akibatnya saja, memilih 'salah satu' sudah tidak menyenangkan, apalagi kalau kita sampai memilih untuk menjalaninya.

Anda mungkin akan berteriak dalam hati, tidak mungkin saya bisa memilih keduanya. Henry Ford berkata, berpikir bisa atau berpikir tidak bisa, sama saja. Jadi, kalau anda berpikir bisa, maka anda akan menemukan banyak jalan keluar yang bijaksana sehingga anda dapat berhasil baik di dalam keluarga maupun pekerjaan. Demikian sebaliknya, bila anda berpikir 'tidak sanggup' menjalani keduanya, maka anda akan menemukan banyak alasan bahwa anda tidak mungkin memilih keduanya. Ada begitu banyak contoh orang-orang pekerja keras yang sukses di dalam keluarga dan di dalam bisnis ataupun pekerjaan mereka, kesamaan dari orang-orang tersebut adalah tidak mau disuruh memilih 'salah satunya' saja. Keluarga sangat penting dan pekerjaan juga sangat penting. Bila ada kerunyaman di dalam pelaksanaan hal ini, sebenarnya sungguh dapat terlihat, bahwa anda sebenarnya hanya memilih 'salah satu' dari awalnya, sehingga mengorbankan yang lain. Sayang banyak orang kurang menyadari hal ini.

Seorang wanita workaholic yang saya temui mengatakan bahwa ia harus bekerja keras namun diceraikan suaminya, wanita inipun merasa semua usaha kerja kerasnya tidak dihargai anak-anaknya yang tumbuh menjadi anak-anak yang suka melawan orangtua. Namun ketika ia menceritakan tentang pekerjaannya, tampak benar ia sungguh-sungguh 'cinta mati' pada pekerjaannya tersebut. Ia menceritakan pekerjaannya dengan mata yang berbinar-binar, antusias dan penuh semangat. Inilah kenyataan yang menyedihkan! Banyak orang kurang menyadari apa yang telah dipilih dan dijalaninya, sehingga ketika menemukan keadaan telah menjadi kacau, mereka mulai menceritakan dirinya sebagai orang sengsara yang telah berjuang namun tidak dihargai. Hal ini sungguh tidaklah benar. Jika anda ingin benar-benar jadi orang bahagia dan berhasil, pilihlah keduanya, keluarga dan pekerjaan adalah penting. ANDA BISA!!!

Setiap orang sukses adalah seseorang yang pernah gagal, tetapi tidak pernah menganggap dirinya orang yang kalah.

= John C. Maxwell

Minggu, 26 Oktober 2008

Trik Mebel Hadapi Krisis AS

Trik Mebel Hadapi Krisis AS
Oki Baren
 
Tren mode yang sedang diminati adalah sebuah kecermatan dalam memandang pasar yang harus dipunyai pengusaha mebel dan kerajinan.
(Istimewa)
 

INILAH.COM, Jakarta – Anjloknya perekonomian Amerika Serikat menjadi sarana pendewasaan bagi pelaku pasar di Indonesia. Selama ini produsen Indonesia sangat tergantung pada pasar negara Paman Sam itu. Kini eksportir mesti pintar-pintar mencari alternatif pasar baru.

Salah satu pelaku pasar yang pintar menyiasati peluang itu adalah pelaku usaha kerajinan dan mebel. Setelah pesanan dari AS menurun drastis kini produsen mebel dan kerajinan Tanah Air mulai melirik peluang dari China.

Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono mengatakan, China adalah solusi untuk menggantikan pasar AS yang selama ini berada di posisi tertinggi. China dipilih sebagai alternatif pasar baru karena pertumbuhan ekonomi negara itu yang luar biasa.

Padahal China merupakan eksportir mebel terbesar tapi hingga kini negara itu masih mengimpor mebel buatan Italia sebanyak 25% dari total konsumsi domestiknya.

"Orang-orang berduit di China tetap menginginkan produk mebel impor. Mereka tidak peduli dari mana asalnya, termasuk juga dari Indonesia. Hotel-hotel di sana juga sudah banyak yang menggunakan mebel dari Indonesia," kata Ambar, hari ini, di Jakarta.

Sejak 2002 hingga 2006 Indonesia menempati urutan ketiga eksportir produk mebel dunia dengan perolehan pangsa pasar 4,26%. Sedangkan China sebagai eksportir produk mebel utama memiliki market share 15,75%. Urutan kedua hingga keempat ditempati Italia, Polandia, dan Jerman.

Sedangkan importir mebel terbesar ditempati Amerika Serikat dengan market share 29,93%, dengan nilai mencapai US$ 6,2 miliar di 2006. Pasar mebel dan kerajinan China mampu menyerap produk berbahan baku solid wood maupun plywood.

Konsumen mebel dan kerajinan China juga lebih menyukai produk yang unik atau aneh. Sehinga mendorong produsen mebel terus melakukan inovasi baik dari sisi desain motif maupun proses finishing.

Tren mode yang sedang diminati adalah sebuah kecermatan dalam memandang pasar yang harus dipunyai pengusaha mebel dan kerajinan. Saat ini model minimalis masih mendominasi tren yang disukai konsumen.

Sekretaris Eksekutif Asmindo Jawa Timur, Chilman Suaidi, mengatakan perlu kontribusi dari seluruh pemangku kepentingan agar industri mebel Indonesia bisa lebih kompetitif. "Kita harus merangkul China sebagai calon konsumen potensial. Tapi juga jangan lupa bahwa mereka harus dipandang sebagai kompetitor," tegas Chilman.

Dari sisi kualitas produk, kata Chilman, mebel buatan Indonesia jauh lebih baik karena menggunakan kayu tropis berkualitas prima. Sedangkan kualitas kayu dari produk mebel China tidak sebaik Indonesia karena merupakan produk massal.

Ketersediaan bahan baku produk mebel relatif tidak ada masalah. Dari sisi pasokan kini pengusaha mebel sudah dilindungi peraturan yang mengikat bahwa kayu hasil hutan tidak boleh diekspor dalam bentuk log atau gelondongan. Hal itu demi menjamin nilai tambah bagi pendapatan negara. [E1]

Usia balita sudah harus bisa membaca ?

Usia balita sudah harus bisa membaca?

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM

Principal of Yemayo – Advance Education Center

Saat mendengar bahwa usia anak-anak TK harus sudah bisa membaca dan menulis, spontan saja saya berpikir bahwa ini benar-benar edan! Tentu saja bukan hanya saya yang berkomentar demikian, ada banyak orangtua yang juga mengeluhkan hal ini. Sambil masih terus mengeluh, mereka terpaksa memberikan les tambahan membaca dan menulis, bahkan sebagian kaum ibu sudah tidak sanggup membayangkan anaknya diharuskan duduk diam menulis dan membaca. Akhirnya banyak juga yang lepas tangan akan hal ini dan benar-benar melepaskan tanggung jawab ini kepada sekolah ataupun guru les tambahan. Sering para ibu cukup terkejut mendapatkan anak-anaknya yang mengucapkan kata-kata saja masih kacau ternyata sudah dapat mengeja kata-kata dan bahkan sudah dapat menulis. Walaupun demikian, masih banyak orangtua yang bertanya kepada saya, apakah baik mengharuskan anak usia balita membaca?

Walau pada awalnya ide ini terdengar memaksa, tapi saya memutuskan untuk menelusuri sumber dari mana asalnya berkembang ide bahwa anak balita sebaiknya diajarkan membaca. Jika hampir seluruh sekolah mengadopsi hal ini, maka akan sangat naif untuk mengatakan bahwa para bapak dan ibu guru itu sungguh tidak berperasaan karena memaksa anak-anak balita untuk dapat membaca.

Glen Doman, seorang pakar psikologi yang handal yang selalu melakukan riset secara sistimatis mengupas tuntas tentang hal ini. Doman pulalah yang diyakini sebagai pencetus ide mengharuskan anak balita membaca. Bermula dengan rasa skeptis yang besar, saya membuka buku Glen Doman pada halaman-halaman pertama dengan hati yang kesal dan sedikit banyaknya ingin menghakimi beliau sebagai bapak yang mungkin hanyalah seseorang yang menginginkan komersialisasi.

Namun setelah membaca bahasan-bahasan Doman sampai pada halaman terakhir, justru saya sangat bersemangat untuk menerapkan hal ini atau paling tidak menganjurkannya pada para ibu muda yang saya kenal.

Nah! Tentu anda bertanya, apa yang menyebabkan akhirnya saya dapat menyetujui buah pikiran Doman? Jawabannya adalah pada "cara". Bila kita membayangkan bahwa anak-anak harus melewati cara belajar membaca seperti yang kita lewati ketika kita masih duduk di bangku kelas 1 SD, dimana semua kata mulai dengan dieja,maka cara belajar seperti ini memang akan menjadi suatu hal yang menyulitkan. Tetapi Doman tidak menawarkan cara demikian, bahkan bayi berusia 3 bulan sekalipun bisa diajarkan membaca. (Saya yakin anda pasti heran). Tapi mari kita simak caranya, si ibu disarankan ke sebuah ruangan yang tidak terlalu banyak pernak-pernik, seperti ruang kosong saja, kemudian ibu mulai mengangkat satu kata, misalnya, apel, selama beberapa detik. Kata apel ditulis dengan tulisan yang besar di atas sebuah karton. Sambil mengangkat karton bertulisan apel itu, ibu harus juga menyebutkan 'apel'. Proses ini pun tidak boleh lama-lama karena rentang konsentrasi anak masih pendek. Semakin bertambah usia anak, barulah perlahan-lahan jumlah waktu ditambahkan. Hal paling menarik bagi saya dari cara ini adalah bahwa yang sangat penting bagi sang ibu atau sang ayah yang mau mengajarkan anak batita ataupun balitanya membaca untuk merasa senang dan menganggap bahwa sesi belajar membaca sebagai sesi bermain. Inilah esensi Kecerdasan Emosi!Bila kita mampu untuk merubah emosi suatu suasana belajar, maka belajar itu tidak akan menjadi suatu hal yang sulit ataupun menakutkan, tetapi justru sebaliknya. Di dalam buku Doman pun disebutkan bahkan banyak ibu mengaku bahwa sang anak selalu menanti ibunya untuk bermain 'membaca' bersamanya. Bila di usia yang begitu belia anak sudah dapat membaca dengan penuh sukacita tanpa merasa terpaksa, saya pikir anda pun kini tidak berkeberatan akan ide mengajarkan membaca kepada anak usia dini. Perihal teknis detil mengajar anak membaca dengan gembira dapat anda baca di buku Doman.

Namun hal yang kurang menggembirakan adalah kenyataan bahwa anak-anak usia dini ini justru masih banyak yang diajarkan dengan menggunakan cara lama, yaitu dengan cara mengeja. Akibatnya sekarang bermunculanlah kasus-kasus ke permukaan dimana banyak anak menjadi malas belajar. Pertama, karena metode yang dipakai kurang tepat (tidak seperti yang dianjurkan oleh sang pakar), kedua, karena usia anak memang belum memungkinkan untuk disuruh duduk diam dan menyimak. Akibatnya guru kewalahan, anak pun mungkin akan semakin membenci kata 'belajar' karena identik dengan suasana yang tidak nyaman.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah baik mengharuskan anak usia balita membaca? Jawabannya adalah sangat baik, kalau diberikan dengan metode yang tepat. Ajaibnya lagi, bila metode yang digunakan sudah tepat, jangan heran kalau anak bukan hanya pandai membaca ataupun menulis, bahkan ia sudah dapat menjelajahi matematika ataupun science dengan keinginannya sendiri. Hal ini dikarenakan anak melihat sisi 'asyiknya' belajar. Kata belajar baginya identik dengan dunia eksplorasi yang menantang bukan identik dengan suatu paksaan yang mengikatnya yang membuat ia merasa bosan ataupun malas setiap kali mendengar kata 'belajar'.

Begitu anda berhenti belajar, anda berhenti memimpin

= Rick Warren

Kamis, 23 Oktober 2008

Pengaruh games pada anak-anak

Pengaruh games pada anak-anak

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM

Principal of Yemayo – Advance Education Center

Ada begitu banyak orangtua bertanya tentang baik atau tidakkah anak-anak bermain games? “Bolehkah saya mengijinkan anak saya bermain games? Soalnya saya takut dia tidak mau belajar.” Ya, hal itu memang suatu kecemasan yang cukup beralasan. Namun ada kisah lain lagi dimana seorang anak remaja merasa stres dan tidak mau ke sekolah karena merasa minder tidak mempunyai games sementara teman-temannya selalu membicarakan tentang games di sekolah setiap hari.

Lain lagi kasusnya dengan seorang murid kami, ia terbiasa menghabiskan waktu selama 3 jam setiap hari bermain games, sehingga ia menjadi seorang anak yang kaku dan sulit diajak berkomunikasi, emosinya meledak-ledak di dalam kelas, interaksi dan komunikasi dengan teman-temannya menjadi sulit.

Games mempunyai manfaat membuat tangan dan otak kita menjadi lebih gesit dan tangkas serta mengasah kegigihan mental anak, kata sebagian orang. Ya, saya setuju. Games itu merusak pikiran dan kemampuan sosial anak, kata sebagian orang lainnya. Ya, saya juga setuju. Sebenarnya masalahnya bukan pada games tersebut, tetapi pada cara orangtua memberikan ijin agar anak boleh bermain games. Banyak orangtua yang tidak membatasi waktu anak bermain games, tersirat dan tersurat dari alasan pemberian ijin yang terlalu longgar ini ialah orangtua dapat merasa tenang tidak ‘direcoki’ anak. Pada prinsipnya, segala sesuatu yang ‘terlalu’, tentu saja tidak baik. Ada juga orangtua yang hanya memberikan ijin anaknya bermain games selama setengah jam seminggu, sehingga membuat anak nekat mencongkel lemari games-nya karena kesal dengan pemberian ijin waktu bermain yang terlalu sedikit.

Hukum Timbangan

Untuk mudahnya, sebaiknya kita melihat hukum timbangan saja. Kalau terlalu banyak di sisi kanan, tentu ia akan oleng ke kanan, demikian juga sebaliknya. Di dalam kelas kami, kami menemukan beberapa kasus anak pecandu games. Sering pada awal mereka masuk kelas, pribadi-pribadi mereka seolah jauh di awang-awang dan sulit diajak berinteraksi. Bila bertanya pada mereka, maka jawabannya singkat-singkat dan kasar. Bila diberikan materi yang menuntut berpikir secara lebih, maka terlihat emosi mereka naik-turun dan hasil coretan tangannya pun sering tidak beraturan. Padahal mereka adalah anak-anak yang pandai di sekolahnya.

Ijinkanlah anak anda bermain games dengan cara yang bijaksana, sebagai contoh orangtua boleh membelikan player/games bila anak telah berhasil mencapai sesuatu, seperti 5 hasil ulangannya berturut-turut mendapat nilai 10. Hindari membuat janji yang terlalu lama jangka waktunya, misalnya, nanti kalau kamu naik kelas atau nanti kalau kamu juara kelas barulah akan dibelikan games. Bila anda sudah membelikan, sebagai orangtua anda perlu ingat bahwa tugas anda untuk mengontrol waktu penggunaannya harus anda jalankan dengan baik. Buatlah kesepakatan bersama putra-putri anda mengenai aturan waktu bermain games, janganlah menentukan waktu secara sepihak, misalnya, “Pokoknya, papa bilang kamu hanya boleh main dua jam dalam seminggu itupun hanya hari Sabtu saja.” Anda perlu menanyakan pendapat anak anda, “Berapa lama sebaiknya mama mengijinkan kamu bermain games?” Tentu saja anak akan me-negosiasikan waktu yang lebih panjang, sementara anda mungkin menginginkan waktu yang lebih pendek.

Carilah titik temunya, dimana anak mengurangi waktu yang dimintanya dan anda pun menambahkan waktu dari yang sebenarnya anda ijinkan. Anda juga perlu membicarakan apa konsekwensinya bila anak ataupun anda melanggar kesepakatan tersebut. Bertindaklah rasional! Jangan katakan, “Kalau kau melanggar, maka kau tidak boleh main games selama-lamanya.” Hal ini hanya mengacaukan pelaksanaan kesepakatan ini ke depannya.

Jika kesepakatan sudah didapat, maka mintalah anak untuk menulis di atas secarik kertas tentang kesepakatan yang telah dibuat tersebut, anak dan orangtua menandatangani kesepakatan tersebut lalu tempelkan di pintu kulkas agar semua dapat melihat kesepakatan tersebut. Sebagai variasi, anda bisa menambahkan ekstra jam untuk bermain games jika anak anda melakukan hal-hal yang baik, seperti bersikap baik pada saudaranya, atau mendapat hasil ulangan yang baik.

Saya juga sangat menyarankan orangtua untuk menyeleksi pilihan-pilihan games anak. Belakangan ini dunia games sudah jamak diwarnai dengan perkelahian, selain itu, marak pula karakter-karakter seksi yang menyerempet pada pornografi. Hindarilah apa yang disebut sebagai garbage-in, garbage-out (masuk sampah, keluar sampah). Banyak orangtua yang belum merasa yakin akan hal ini karena menganggap bahwa games hanyalah permainan elektronik biasa. Contoh nyata dari tidak terseleksinya tayangan mata dan games adalah Smack Down. Cukup banyak orang keheranan ketika melihat anak-anak menjadi korban Smack Down, “kok, bisa ya sampai jadi begitu?” Tentu saja bisa karena apa yang dilihat oleh mata tentu juga masuk ke dalam pikiran dan perasaan seorang pribadi, sehingga bila yang diserap pikiran terlalu banyak hal yang negatif, akan membuahkan tindakan yang negatif pula. Waspadai secara bijaksana! Bermain dan belajar sesuai hukum timbangan.

Ada orang yang kalau pun mereka tidak tahu,

anda tidak bisa memberitahu mereka

= Louis Armstrong