Minggu, 31 Agustus 2008

Profil Alumni Pika

Perbanyak Sekolah Kejuruan Bermutu
(Kompas, 30 April 2002)
Dok kompas/dirman thoha

SETIAP ditanya menyangkut soal cita-citanya, J Sujanto Basuki kecil selalu menjawab bahwa ia ingin menjadi insinyur mesin. Basuki kecil membayangkan suatu saat kelak ia bisa membuat beraneka macam mesin, apa saja, bahkan kalau mungkin membuat mesin pesawat terbang.

Cita-cita itu terus hidup dalam dirinya, terus ia pelihara, sampai suatu saat ketika Basuki berumur 11 tahun sang ayah tercinta meninggal. Perginya pilar utama keluarga itu membuat ekonomi mereka morat-marit. Anak kelima dari tujuh bersaudara ini dihadapkan pada kenyataan pahit, yakni tertutupnya pintu untuk menggapai cita-citanya sebagai insinyur mesin. Sejak itu pula, cita-cita yang ia pupuk selama bertahun-tahun itu kandas sudah, tenggelam bersama kepergian sang ayah sebagai pilar sekaligus pondasi keluarga mereka.
 
Dengan kepergian sang ayah, keluarga mereka kini tak memiliki cukup uang guna menopang sekolah Basuki, di tiap jenjang pendidikan yang harus dilaluinya hingga ke tingkat universitas, sebelum harapan Basuki kecil untuk menjadi insinyur mesin bisa terwujud. Apalagi ia masih punya adik, sementara empat kakaknya juga membutuhkan biaya tak sedikit untuk sekolah. Tetapi bukan berarti semangat Basuki untuk ikut surut.

Seusai menamatkan pendidikan di tingkat SMP, saudara-saudara Basuki mendorongnya masuk Pendidikan Industri Kayu Atas (PIKA), sekolah kejuruan empat tahun di Kota Semarang. Alasan mereka sederhana, yakni agar seusai menamatkan pendidikan di sekolah ini cepat mendapat pekerjaan.
 
"Sebetulnya saya agak dibohongi oleh saudara-saudara saya. Mereka bilang, di sana nanti juga belajar goniometri, matematika, dan sebagainya. Pas saat itu PIKA membuka pendaftaran. Ya, saya masuk ke sana dan ikut tes, tetapi ditolak karena terlalu muda. Lalu saya dititipkan di Kebun Kayu (cikal bakal PIKA-Red). Saya menangis. Sebulan lamanya saya jalani 'sekolah' di Kebun Kayu. nDilalah, ada anak PIKA yang mengundurkan diri. Saat itu saya sedang menggergaji kayu. Br Wiederkehr SJ (Direktur PIKA saat itu-Red) datang dan bilang : 'Mau masuk ?' Sejak itu pula saya pindah ke PIKA," kata Basuki mengenang peristiwa puluhan tahun lalu itu, yang kelak di kemudian hari ikut mengubah jalan hidupnya.

Apa yang dipelajari di PIKA? Hari pertama, seperti juga teman-temannya yang lain, Basuki harus belajar menyerut kayu. Dalam hati ia bertanya-tanya, kok, tidak ada pelajaran goneo (metri), matematika, dan sebagainya? Tentu saja Basuki agak kecewa, tetapi melihat keadaan ekonomi keluarga di rumah yang morat-marit, ia mengaku terpacu juga untuk "ngebut" menyelesaikan pendidikan. Bahkan di saat libur Basuki tidak memanfaatkannya untuk bersenang-senang. Ia justru masuk ke perpustakaan, ikut menggambar, dan memperoleh penghasilan di sana karena kegiatannya itu dibayar.

"Selama empat tahun belajar di PIKA ternyata banyak membawa berkah. Sebelum selesai, saya sudah dipesan perusahaan Inggris, Louis T Leonowens. Perusahaan itu bergerak di bidang mesin-mesin kayu dan importir pengering kayu. Tetapi, karena lama tidak ada kelanjutannya, eee... perusahaan mebel Ligna malah memberi tawaran. Januari 1976 saya ke Cibinong. Di sana belum ada apa-apa dan harus membangun pabrik Ligna mulai dari bawah," demikian Basuki berkisah tentang masa-masa awal kariernya.

Basuki memang gagal mewujudkan cita-citanya semasa kecil untuk menjadi seorang insinyur mesin. Akan tetapi, kini ia justru menuai hasil sebagai seorang pengusaha permesinan yang justru memberi lapangan kerja bagi banyak orang, termasuk insinyur mesin. Setelah melalui berbagai bidang pekerjaan dengan gaji besar, tahun 1980 ia memutuskan menjadi tuan bagi diri sendiri dengan memulai usaha sendiri. Usaha pertama adalah menerima service pisau gergaji, lalu secara bertahap ia membuat pisau khusus untuk kayu, kemudian diikuti usaha mendesain mesin pengering kayu, disusul dengan usaha membuat mesin-mesin pengering lainnya untuk pabrik permen, cat mobil, obat-obatan, batik, pastiles, dan sebagainya.

"Karyawan saya sekarang ada 200 orang, 40 di antaranya adalah insinyur. Karena itu saya meyakini tidak rugi masuk sekolah kejuruan seperti PIKA. Banyak hal yang saya peroleh. Ada disiplin, dan ada kemauan yang terus mendorong saya untuk berbuat sesuatu," Sujanto Basuki. Kini ia adalah Presiden Direktur di tiga perusahaan yang ia miliki, yakni PT Basuki Pratama
Engineering, PT Rekaboiler Utama, dan PT Intertool Wahana.
***

Kahlil Gibran : Our daily life is our true temple.

Rekan-rekan Alumni Pika,
Lingkungan sangat mempengaruhi kita dan dapat membuat kita berubah. Tetapi yang paling menentukan mau jadi apa kita, adalah kita sendiri, bukan lingkungan. Ini pendapat Marie Muhammad. Sedang pendapat Kahlil Gibran : our daily life is our true temple. Simak artikel selengkapya di bawah ini. (PDS)


Kahlil Gibran : Our daily life is our true temple
Penulis: Gede Prama

Karena mendidik diri peka dengan suara-suara kehidupan, setiap kali mengalami kejadian, atau bertemu orang penting, kerap ada yang bertanya dari dalam diri ini : apa makna dari kejadian ini? Pertanyaan ini juga yang muncul ketika sang "kebetulan" membuat saya duduk bersebelahan dengan Bapak Marie Muhammad "mantan menteri keuangan zaman orde baru" dalam penerbangan dari Medan ke Jakarta empat Agustus 2002 lalu. Beruntung bisa duduk dekat dengan salah satu tauladan Indonesia dalam hal kebersihan hidup, maka beberapa pertanyaanpun dilemparkan oleh mulut ini.

Ketika pertanyaan bagaimana Pak Marie bisa bertahan lama dalam lingkungan orba dilontarkan, tokoh yang senantiasa bersemangat inipun menjawab sederhana : lingkungan memang menentukan, tetapi kitalah yang paling menentukan dalam hidup kita sendiri !. Ada angin kekaguman yang berdesir di dalam sini ketika mendengar jawaban seperti itu. Lebih-lebih ketika berjalan meninggalkan pesawat, Pak Marie menentengkan tas seorang Ibu yang menggendong dua tas dan membawa seorang anak. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba melalui suara yang tidak bersuara ada yang membisikkan kalimat indah Kahlil Gibran dari dalam sini : our daily life is our true temple. Kehidupan sehari-hari kita adalah tempat ibadah kita yang sebenarnya.

Setelah mendengar bisikan kalimat Gibran ini, tiba-tiba Indonesia yang telah lama gelap ini seperti muncul cahaya. Ya cahaya keteladanan. Sebab, tanpa keteladanan bangsa manapun berjalan dalam kegelapan. Demikian juga dengan kehidupan perusahaan. Tidak sedikit perusahaan yang berjalan dalam kegelapan. Enron, World Com dan sejumlah perusahaan yang memecahkan rekor skandal korporasi dunia, hanyalah sebagian contoh korporasi yang tersandung dalam kegelapan.

Angka-angka neraca, rugi laba, arus kas memang sebentuk peta yang berguna. Tanpa cahaya keteladanan yang memadai, angka-angka tadi berubah menjadi deretan kebohongan yang menakutkan. Betul kata Richard Morris dalam The Big Questions, ilmu pengetahuan hasil produksi pikiran manusia memang tidak bisa menjawab semua pertanyaan. Lebih dari tidak bisa menjawab semua pertanyaan, "mind" - dari mana konstruksi logika itu dibangun? memang bisa jadi sahabat bisa juga jadi teman.

Meminjam argumen seorang guru, sebagai pembantu "mind" adalah sahabat yang baik. Karena ia juga yang membantu manusia berkomunikasi, merangkai analisa dan masih banyak lagi yang lain. Akan tetapi, sebagai penguasa "mind" sungguh sebuah penguasa yang buruk. Keserakahan, ketakutan, kebencian, pengkotakan adalah rangkaian hasil kerja "mind". Amerika sebagai contoh, adalah sebuah bangsa yang memiliki banyak sekali hal. Termasuk memiliki pemenang hadiah nobel paling banyak. Namun dalam perjalanan peradaban yang dikuasai "mind", Amerika harus menuai malu melalui serangkaian skandal korporasi, kekeliruan serangan di Afghanistan dan Irak, sampai ketakutan akan teroris.

Kamis, 28 Agustus 2008

Berhentilah Menyalahkan Orang

Alumni Pika yang berbahagia,
Saya pernah mendengarkan seorang penceramah bertutur, bahwa tidak ada gunanya saling menyalahkan, lebih baik mencari jalan keluar bersama. Kalau kita menyalahkan orang lain, seperti kalau telunjuk kita menunjuk orang lain, sebetulnya hanya telunjuk dan jempol saja yang menunjuk orang, sedang ketiga jari yang lain menunjuk pada diri kita sendiri (coba buktikan sendiri). Ini berarti, jelas penceramah itu lebih lanjut, jangan menyalahkan orang lain karena kesalahan ada pada kita (terbukti dengan tiga jari menunjuk kepada kita). Entah benar atau tidak uraian penceramah itu, tulisan Gede Prama di bawah ini rupanya sejalan dengan pemikirannya. Mari kita simak bersama.

 
Berhentilah Menyalahkan Orang
Oleh: Gede Prama

Ribuan anak muda yang baru memasuki gerbang kerja, juga manajer muda yang
frustrasi di dunia kerja, kerap bertanya pada saya : aspek apa dari dunia
kerja yang paling sulit dihadapi ? Terus terang, bekerja apapun dan
dimanapun, serta bermodalkan pendidikan manapun sebenarnya mudah, asal tekun
belajar dan bertanya. Yang sering bikin semuanya jadi rumit, adalah
interaksi antar manusia. Jangankan manusia yang baru memasuki gerbang kerja,
mereka yang sudah berumur senja di tempat kerja sekalipun sering dibuat
pusing oleh interaksi antar manusia ini.

Meminjam pengandaian seorang penulis, ada perbedaan antara menendang bola
dan menendang kucing. Sebelum menendang bola, kita bisa ramalkan kemana bola
akan bergerak setelah ditendang. Akan tetapi, sebelum menendang kucing, kita
tidak tahu apakah kucingnya akan menangis, lari, melompat, mati atau
alternatif lainnya. Nah, meramalkan respons orang lain sebelum kita
bertindak, jauh lebih rumit dibandingkan dengan meramalkan respons kucing.
Sebab, kucing tidak mengenal politik, pura-pura, balas dendam dan
serangkaian hal rumit lainnya. Namun, ini juga yang menyebabkan disiplin
mengelola manusia menjadi penuh sentuhan seni dan kepekaan. Sebagian kecil
memang bisa diungkapkan melaui kata-kata. Cuman, sebagian besar ia bersifat
tidak terungkapkan dan hanya bisa dirasakan.

Saya tidak anti sekolah atau anti pelatihan, namun hal-hal yang bersifat
tidak terungkapkan itu, lebih banyak bisa dimengerti kalau kita mengalaminya
sendiri di lapangan. Diisukan negatif oleh orang lain, tidak cocok, mau
didongkel dari kursi, dipermalukan di depan umum, diomongkan negatif di
belakang kita, hanyalah serangkaian hal yang mesti dialami sendiri di
lapangan. Untuk kemudian, mendapatkan pengertian yang dalam tentang dinamika
interaksi antarmanusia di dunia kerja. Saya meragukan, kalau ada orang yang
memperoleh pengertian terakhir, tanpa pernah dihempas gelombang-gelombang
godaan tadi. Setelah belajar dari tumpukan ribuan kebodohan dan kegagalan
masa lalu, saya menemukan sebuah kearifan berguna. Dalam setiap persoalan
manusia, saya belajar untuk mengurangi mencari siapa yang salah. Dan
memusatkan perhatian untuk memecahkan persoalan. Amat mirip dengan cara terakhir, Ken
Cloke dan Joan Goldsmith dalam Resolving Conflict At Work, pernah menulis :
'Define the problem as a person and you are in trouble. Define the problem
as difficult behavior, you can do something about it'. Dengan kata lain,
jika Anda menempatkan masalahnya pada orang, dan kemudian mengambil tindakan
(apa lagi ilegal) maka masalah akan diganti dengan masalah yang lebih besar.

Namun, bila pemecahan dikonsentrasikan pada perilaku yang sulit, kemudian
kita bisa mencarikan jalan keluar yang lebih produktif. Nah, bila saja
banyak orang mau belajar berhenti untuk menyalahkan orang lain, dan
memusatkan perhatian pada pemecahan persoalan, dunia
kerja bukanlah sesuatu yang menakutkan. Ia adalah tempat 'meditasi' yang
kerap menghadirkan kedamaian. Persoalannya, untuk bisa berhenti dari
kebiasaan buruk tadi, disamping kadang kurang didukung lingkungan, juga
sering dihadapkan oleh dorongan-dorongan dari dalam diri yang juga tidak
mudah. Emosi, ego, harga diri, gengsi, ketidaksabaran hanyalah sebagian
kecil dari dorongan-dorongan tadi. Siapapun orangnya - dari penjahat sampai
dengan pendeta -   memiliki dorongan terakhir dengan kadar yang
berbeda-beda. Namun, siapapun juga orangnya, ia membutuhkan "deep
 meditation" untuk mengelola dorongan-dorongan tadi.

Apa yang saya sebut dengan deep meditation sebenarnya amatlah mudah. Ketika
lapar, makanlah secukupnya. Tatkala haus, minumlah semampunya. Manakala mata
mengantuk, tidurlah secukupnya. Dengan kata lain, hidup kita dengan seluruh
kesehariannya sebenarnya sebuah meditasi panjang. Bila kita melakukan
meditasi panjang ini dengan penuh ketekunan, kita yang menjadi pengelola
tubuh dan jiwa ini. Bukan sebaliknya, kita dikelola oleh tubuh ini.
Lebih-lebih bagi mereka yang kebanyakan pekerjaannya adalah mengubah orang
lain. Atau memiliki tugas mulia memasyarakatkan nilai-nilai luhur. Sulit
membayangkan, tugas-tugas itu bisa diselesaikan secara berhasil tanpa
melalui deep mediation. Ini juga sebabnya, kenapa bertemu orang-orang
tertentu kita mudah segan, hormat, respek dan perasaan sejenis.

Di suatu waktu, seorang rekan yang sudah puluhan tahun berpengalaman
mengelola ribuan manusia bertutur penuh keprihatinan. Mengurus
manusia-manusia sulit - demikian menurut rekan tadi - adalah pekerjaan yang
tidak pernah selesai. Tahun ini ada sekian manusia sulit
diselesaikan secara baik-baik, tahun berikutnya pasti - sekali lagi pasti -
ada manusia lain yang menjelma menjadi manusia sulit. Mirip dengan pekerjaan
rumah (PR) di sekolah, ia akan selalu datang secara bergantian dan
bergiliran. Benang merah yang bisa ditarik dari kisah ini adalah :
memecahkan masalah manusia dengan memindahkan, memecat dan sejenis memang
boleh-boleh saja dilakukan kadang-kadang. Akan tetapi, organisasi manapun
yang dipimpin oleh manusia dengan hobi menyalahkan orang lain, disamping
tidak bisa memecahkan persoalan jangka panjang, juga gagal membangun
hubungan industrial yang kuat. Nah, satu spirit dengan pendekatan deep
meditation, pekerjaan interaksi antarmanusia akan menjadi lebih mudah, bila
kita mulai berhenti menyalahkan orang lain.

Rabu, 27 Agustus 2008

Cerita menarik.

Jangan pernah berhenti memberikan cinta
Dia hampir saja tidak melihat wanita tua yang berdiri di pinggir jalan itu, tetapi dalam cahaya berkabut ia dapat melihat bahwa wanita tua itu membutuhkan pertolongan. Lalu ia menghentikan mobil Pontiacnya didepan mobil Mecedes wanita tua itu, lalu ia keluar dan menghampirinya.

Walaupun dengan wajah tersenyum wanita itu tetap merasa khawatir, karena setelah menunggu beberapa jam tidak ada seorang pun yang menolongnya. Apakah lelaki itu bermaksud menyakitinya ?

Lelaki tersebut penampilanya tidak terlalu baik, ia kelihatan begitu memprihatinkan. Wanita itu dapat merasakan kalau dirinya begitu ketakutan,
berdiri sendirian dalam cuaca yang begitu dingin, sepertinya lelaki tersebut tau apa yang ia pikirkan. Lelaki itu berkata : "Saya kemari untuk membantu anda bu, kenapa anda tidak menunggu didalam mobil bukankah disana lebih hangat? oh ya nama saya Bryan".

Yach memang dia sudah terlalu lelah apalagi untuk wanita setua dirinya hal ini benar-benar terasa berat. Bryan masuk kedalam kolong mobil wanita itu untuk memperbaiki yang rusak.

Akhirnya ia selesai, tetapi dia kelihatan begitu kotor dan lelah, wanita itu membuka kaca jendela mobilnya dan berbicara kepadanya, ia berkata bahwa ia
dari St Louis dan kebetulan lewat jalan ini. Dia merasa tidak cukup Kalau hanya mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan. Wanita itu berkata berapa yang harus ia bayar, berapapun jumlahnya yang ia minta tidak menjadi masalah, karena ia membayangkan apa yang akan terjadi jika lelaki tersebut
tidak menolongnya. Bryan hanya tersenyum.

Bryan tidak mengatakan berapa jumlah yang harus dibayar, karena baginya
menolong orang bukanlah suatu pekerjaan. Ia yakin apabila menolong seseorang
yang membutuhkan pertolongan tanpa suatu imbalan suatu hari nanti Tuhan pasti akan membalas amal perbuatanya.

Ia berkata kepada wanita itu "Bila benar-benar ingin membalas jasanya, maka apabila suatu saat nanti apabila ia melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan maka tolonglah orang tersebut ..dan ingatlah pada saya".

Bryan menunggu sampai wanita itu menstater mobilnya dan menghilang dari
pandangan. Setelah berjalan beberapa mil wanita itu melihat kafe kecil, lalu ia mampir kesana untuk makan dan beristirahat sebentar.

Pelayan datang dan memberikan handuk bersih untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Wanita itu memperhatikan sang pelayan yang sedang hamil dan masih begitu muda. Lalu ia teringat kepada Bryan.

Setelah wanita itu selesai makan dan, sang pelayan sedang mengambil kembalian untuknya, wanita itu pergi keluar secara diam-diam.

Setelah kepergiannya sang pelayan kembali, pelayan itu bingung kemana
wanita itu pergi, lalu ia menemukan secarik kertas diatas meja dan uang $100

Ia begitu terharu setelah membaca apa yang ditulis oleh wanita itu : "Kamu tidak berhutang apapun pada saya karena seseorang telah menolong saya, oleh karena itulah saya menolong kamu, maka inilah yang harus kamu lakukan : "Jangan pernah berhenti untuk memberikan cinta dan kasih sayang".

Malam ketika ia pulang dan pergi tidur, ia berfikir mengenai uang dan apa yang di tulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita itu bisa tahu kalau ia dan suaminya sangat membutuhkan uang untuk menanti kelahiran bayinya ?

Ia tau bagaimana suaminya sangat risau mengenai hal ini, lalu ia memeluk suaminya yang terbaring disebelahnya dan memberikan ciuman yang lembut
sambil berbisik "Semuanya akan baik-baik saja, I Love You Bryan"

This is for you. Hope it can encourage you not
stop to do good things in your life.

Lajang lebih cepat pikun

Lajang Lebih Cepat Pikun

Sel saraf di otak harus selalu aktif digunakan untuk mencegah kepikunan.

Melajang hingga usia paruh baya tidak hanya membuat seseorang bersentuhan dengan kesepian, tapi ternyata juga meningkatkan risiko terkena demensia alias kepikunan. Kesimpulan ini terungkap dari penelitian yang dilakukan tim peneliti dari Karolinska Institute, Swedia. Tim yang dipimpin Dr Krister Hakansson ini menemukan ternyata memiliki pasangan hidup dapat mengurangi risiko kepikunan setelah melakukan studi terhadap 1.449 responden.

Dari penelitian ini, tim peneliti percaya bahwa rendahnya frekuensi interaksi sosial, terutama di antara pasangan, dapat mempengaruhi kepikunan. Rebecca Wood dari Lembaga Riset Alzheimer, Inggris, mengatakan hasil penelitian yang dipublikasikan pada konferensi di Amerika Serikat itu membuat cemas banyak pihak karena, menurut hasil penelitian tersebut, ancaman kepikunan tiga kali lebih tinggi pada janda atau duda yang terus melajang hingga paruh baya. Sementara itu, janda muda yang tidak kunjung menikah kembali risikonya lebih tinggi enam kali lipat. Tentunya dibandingkan dengan orang yang memiliki pasangan.

"Penelitian Hakansson memperlihatkan dampak baik dan menguntungkan dari kehidupan pernikahan, namun menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi Inggris karena di sana banyak terjadi perceraian, rendahnya pernikahan, dan meningkatnya populasi orang lanjut usia," ujar Rebecca seperti dikutip dari BBC.

Demensia merupakan sindrom penurunan kemampuan intelektual progresif yang menyebabkan penurunan kualitas kognitif dan fungsional sehingga memicu terjadinya gangguan fungsi sosial, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari. Derita ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti penyakit yang menyangkut kesehatan umum, antara lain penyakit jantung, paru, ginjal, gangguan darah, infeksi gangguan nutrisi, berbagai jenis keracunan, serta kelainan otak primer, seperti stroke, infeksi, dan proses degenerasi.

Demensia alzheimer merupakan salah satu bentuk demensia yang terjadi akibat degenerasi otak. Penyakit ini dikategorikan sebagai penyakit degeneratif otak progresif yang mematikan sel-sel otak sehingga mampu menurunkan daya ingat, kemampuan berpikir, dan perubahan perilaku. "Demensia jenis ini merupakan yang paling sering ditemukan dan paling ditakuti," ujar Dr Samino SpS dalam seminar "No Time to Lose" di Hotel Nikko, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sayangnya, menurut Ketua Umum Alzheimer Indonesia, demensia alzheimer belum cukup dikenal masyarakat sehingga kepedulian terhadap penyakit ini sangat rendah. Umumnya masyarakat menganggap kepikunan merupakan proses penuaan alami sehingga gejala awal demensia sering diabaikan. Walaupun belum ada data pasti jumlah penderitanya, Samino memprediksi terjadi peningkatan signifikan atas kasus tersebut. Diperkirakan pada 2040, jumlah penderitanya mencapai 80 juta. "Padahal kegagalan diagnosis dini mengakibatkan penanganan yang tidak tepat dan memberikan beban bagi pasien dan keluarganya," ujar dokter spesialis saraf ini.

Dr Suryo Dharmono SpKJ(K) menambahkan, gangguan perilaku yang sering ditemukan pada pasien demensia alzheimer, antara lain, berupa perilaku agresif (menjadi galak, kasar, tidak jarang menyerang secara fisik), hilang arah (pasien suka keluyuran tanpa tujuan, hilang dari rumah, tersesat), gelisah, mondar-mandir, senang menimbun barang, sering berteriak-teriak tengah malam, dan penderita tidak mau ditinggal sendirian.

"Penderita juga menjadi impulsif, tidak bisa mengontrol perilakunya, kekanak-kanakan, cenderung mengulang-ulang pertanyaan dan kehilangan sopan santun, seperti meludah di sembarang tempat," psikiater dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo ini memaparkan.

Gangguan psikologis juga sering ditemukan pada pasien demensia alzheimer, biasanya berupa depresi, misalnya penderita menarik diri, menolak makan, menangis, merasa terbuang, putus asa, dan merasa ingin bunuh diri. Pasien demensia zlzheimer dengan depresi memperlihatkan gangguan fungsional yang lebih berat dibanding yang tanpa depresi. Di samping itu, juga ditemukan kecemasan (penderita selalu ketakutan akan ditinggal oleh keluarganya) serta halusinasi/deluasi (sering kali berupa halusinasi penglihatan, seperti melihat anak kecil memasuki kamarnya, seseorang duduk di ranjangnya).

Bila saat ini Anda hidup sendiri, jangan keburu cemas. Susanne Sorenson dari Masyarakat Alzheimer Inggris menyebutkan, ada sejumlah pencegahan agar tidak terkena penyakit ini, di antaranya menjalankan diet Mediterania, menghentikan kebiasaan merokok, dan berolahraga secara rutin. Samino pun menyarankan preventifnya serupa, yakni mengubah gaya hidup, termasuk memilih makanan yang baik untuk otak, seperti sayuran hijau, buah-buahan, dan aktif berolahraga.

Selain itu, Samino menganjurkan agar rajin menstimulasi fungsi kognitif, seperti membaca, menulis, atau mendongeng; mengikuti kegiatan seni musik atau tari; aktif melakukan kegiatan yang kreatif atau mengembangkan hobi, menghindari paparan zat toksin; melakoni senam otak, seperti belajar mengingat kembali masa dulu, menulis otobiografi, sering pergi ke tempat ramai seperti mal untuk mengenali obyek-obyek baru; serta bersosialisasi dengan kelompok atau orang lain. "Prinsipnya, sel neuron di otak selalu aktif kita gunakan. Jangan karena tua, lantas kita diam saja, tidak aktif, ini justru semakin mempercepat terjadi penurunan kualitas otak," ujarnya. MARLINA MARIANNA SIAHAAN

Selasa, 26 Agustus 2008

Bahagia Bikin Panjang Umur

Bahagia Bikin Panjang Umur
Jumat, 15 Agustus 2008 | 05:51 WIB

TETAPLAH senandungkan lagu Don't Worry Be Happy. Lagu yang tenar di era 1980-an ini ternyata benar adanya. Sebuah penelitian menunjukkan, merasakan kebahagiaan membuat hidup bakal lebih awet dan lama.

"Kebahagiaan tidak menyembuhkan, tetapi melindungi kita dari penyakit," ujar Ruut Veenhoven dari Universitas Erasmus di Rotterdam dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan bulan depan.

Setelah  meninjau kembali 3 penelitian yang telah dilakukan di berbagai belahan dunia selama periode hingga 30 tahun, profesor asal Belanda ini mengatakan bahwa efek bahagia pada panjang umur itu sama dengan kalau kita membandingkan antara orang yang merokok dan yang tidak merokok.

Merasa bahagia, katanya, dapat memperpanjang usia 7,5 hingga 10 tahun.
Temuan ini membawa pada sebuah pertanyaan baru yang cukup sulit dijawab, yakni soal penyebab bahagia. Apa yang bisa membuat seseorang bahagia?

Dan terkait dengan pertanyaan ini perlu kita cermati gejala yang menarik di negara-negara maju. Materi begitu diupayakan sedemikian rupa. Namun setelah dicapai, di tempat ini, kelebihan materi atau kelimpahan rezeki ternyata dianggap sebagai sesuatu yang tak lagi memuaskan hidup mereka.

Pertanyaan atas kebahagian muncul, dianalisis, dan menjadi pertanyaan yang serius untuk dicari tahu. Beberapa mengungkapkan jawaban yang kemudian jatuh pada keadaan yang disebut hedonis (mengutamakan kenikmatan materi, fisik).

"Ide bahwa ada situasi yang disebut bahagia dan kita dapat menjelaskan ciri-ciri mengenai rasa dan bagaimana mengukurnya, jelas-jelas merupakan ide subversif," ungkap Bill McKibben dalam bukunya Deep Economy: The Wealth of Communities and the Durable Future, 2007.

Ini akan membuat para pemuja ekonomi berpikir untuk meningkatkan kekayaan. Padahal, bertambahnya materi, kekayaan, hanya menyumbang sedikit bagi munculnya kebahagiaan seseorang. Demikian hasil riset itu.

Namun, kebahagiaan dapat muncul akibat suasana persahabatan yang hangat dan menyenangkan, juga karena faktor-faktor sosial seperti kemerdekaan, demokrasi, pemerintahan yang efektif, dan aturan hukum yang ditegakkan.

Dalam temuan Veenhoven, yang dipublikasikan di Journal of Happiness Studies, sebuah media ilmiah yang didirikan tahun 2000, bukti bahwa rasa bahagia sangat berpengaruh atas kehidupan seseorang ditemukan pada sekelompok biarawati di Amerika Serikat. Mungkin karena mereka didukung oleh komunitas yang saling mendukung, kedekatan antarpribadi dan kesatuan hati dan budi yang terjadi di antara mereka.

Lirik lagu dari pemenang Grammy 1989 Be Happy terinspirasi dari guru terkenal dari India, Meher Baba. Saat ini, di lebih dari 100 negara, dari Butan di Pegunungan Himalaya hingga Amerika Serikat dan Australia, para ahli ekonomi berupaya membuat indikator "kebahagiaan" (satu bentuk indeks kualitas hidup yang baru) ke dalam ukuran pertumbuhan.

Kebahagiaan, menurut para spesialis, yang diterima oleh masyarakat umum diartikan sebagai "penghargaan atas hidup seseorang sebagai manusia utuh". 

Dalam tulisan ini, Veenhoven pertama-tama mencermati statistik untuk melihat apakah kegembiraan membawa pengaruh bagi orang yang sakit. Yang ditemui justru kebahagiaan memang membantu mengurangi derita yang dialami pasien kanker. Namun, secara umum kebahagiaan tidak akan memperpanjang hidup mereka.

Di antara warga masyarakat yang sehat, sebaliknya, kebahagiaan terbukti melindungi mereka dari sakit. Ini berarti memperlama hidup mereka.

Orang yang bahagia lebih mudah waspada akan berat badannya, lebih mengerti dan memahami gejala-gejala penyakit yang mungkin timbul di dalam dirinya, cenderung lebih moderat bila mereka perokok dan peminum, dan secara keseluruhan hidup mereka lebih sehat. Mereka juga lebih aktif, lebih terbuka terhadap dunia, lebih percaya diri, membantu membuat keputusan yang tepat, dan membangun jaringan sosial yang kuat.

"Selama ini kita tahu bahwa rasa bahagia akan membuat fisik kita menjadi sehat, tapi kita tidak tahu persisnya bagaimana. Kesedihan atau rasa kurang bahagia kronis mengaktifkan respons bertempur dalam diri kita. Artinya, kondisi ini bakal mengancam diri sendiri karena jangka lama bakal membuat kita sendiri hipertensi dan respons kekebalan tubuh menurun", tulisnya

Untuk meningkatkan rasa gembira perlu ada riset tambahan atas efek-efek kondisi tempat tinggal, sekolah, atau lingkungan yang mengelilingi hidup kita dalam waktu lama. Apakah semua itu membuat kita bahagia?

Bahkan, penelitian atas kepuasan kerja dan tempat kerja pun memengaruhi kebahagiaan seseorang. Karena itu, pemerintah perlu mengajari atau setidaknya memberikan suasana yang nyaman pada rakyatnya untuk bisa hidup nyaman sehingga semua orang bisa menikmati hidup dan mendapatkan makna yang berarti dalam hidupnya.

"Jika kita merasa tidak sehat, kita akan pergi ke dokter umum," katanya. "Jika kita merasa tidak bahagia, tak ada ahli dalam hal itu. Kita harus mengupayakan sendiri. Petunjuk profesional bagaimana caranya agar bisa hidup bahagia sampai sekarang belum ada," tuturnya. Ini jelas merupakan pertanda nyata kegagalan pasar dan ekonomi. Pada akhirnya, tanpa hal ini pun banyak orang merasa lebih bahagia.


ABD
Sumber : healthdaynews

Senin, 25 Agustus 2008

Inikah saatnya pindah kerja ?

Alumni Pika yang berbahagia,
Tahun 80 an yang lalu, Alumni Pika mendapat julukan "kutu loncat". Entah sekarang ini, saya tidak mendengar lagi. Sebutan "kutu loncat" sering konotasinya kurang baik : suka pindah-pindah kerja, tidak bertanggung-jawab, merendahkan nama baik PIKA dsb. Mungkin memang benar ada yang begitu, tetapi tidak semua begitu. Artikel di bawah ini saya kirim bukan untuk memprovokasi supaya pindah kerja, tetapi sekedar untuk memberikan bahan pemikiran kalau pengin pindah kerja. Silahkan membaca. (PDS)
INIKAH SAATNYA PINDAH KERJA ?
(By : Linda R. Dominguez)

Mengapa anda ingin pindah kerja? Ada banyak alasan mengapa seseorang berkeinginan untuk mencari pekerjaan baru. Tak jarang keinginan tersebut bersifat emosional hanya karena salah seorang rekan kerja kita mendapatkan pekerjaan baru. Kita menganggap mereka begitu beruntung, dan kita tak cukup beruntung mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Tetapi, sebenarnya tujuan terpenting dari keputusan kita untuk pindah kerja adalah untuk mendapatkan sebuah kehidupan yang kita angankan. Tak sedikit orang meninggalkan pekerjaan yang memberikan penghasilan besar hanya karena ingin bekerja pada profesi yang ia idam-idamkan sejak kecil.

Berikut ini ada beberapa keadaan, yang ditulis oleh Linda R. Dominguez, dari Executive Coaching and Resource Network, yang bila anda menemukan anda berada di salah satu atau lebih kondisi tersebut, anda bisa mempertimbangkan untuk pindah kerja.

1--Anda tidak menyukai atasan anda, atasan anda tidak menyukai anda, atau anda mempunyai konflik dengan atasan, kolega, bawahan, rekan kerja, kontraktor, customer, -- dan anda tidak bisa mengatasinya.
* Jika anda tak mampu mengatasi semua persoalan dan konflik yang terjadi di pekerjaan anda, maka jangan bebankan hidup anda sedemikian berat. Jika satu-satunya jalan pemecahan adalah keluar dari pekerjaan, maka pertimbangkan baik-baik.

2--Anda sedang merencanakan untuk menjalankan usaha anda sendiri, namun anda sedikit khawatir untuk melakukan langkah pertama.
* Semakin lama anda bertahan di pekerjaan anda sekarang, semakin besar kekhawatiran anda untuk mengambil langkah pertama bagi bisnis anda sendiri.

3--Anda menderita stress berat akibat dari pekerjaan anda: sakit kepala, kurang tidur, gelisah, gangguan pencernaan, tertekan. Bahkan anda meimpahkan semua keputus-asaan yang anda derita dari kerja kepada keluarga.
* Semestinya bekerja adalah bagian dari tujuan kesejahteraan kehidupan anda. Jika pekerjaan anda sekarang justru menjauhkan anda dari tujuan tersebut, mengapa anda tak mempertimbangkan untuk meraih kehidupan yang lebih baik, yang terbebas dari tekanan dan derita ?

4--Anda terbebani oleh pekerjaan, proyek, dan stress membuat anda gila.
* Jika anda ingin melakukan sesuatu yang anda senangi, dan anda enganggapnya sebagai bagian dari kebahagiaan hidup anda, tetapi pekerjaan telah menyita seluruh waktu anda, maka mungkin ini saatnya anda mencari pekerjaan yang memberikan kemungkinan luas bagi pemenuhan tujuan dan nilai-nilai pribadi anda.

5--Anda tidak bahagia pada pekerjaan anda. Bahkan sejumlah liburan pun takkan mampu memberi anda kebahagiaan itu.
* Anda akan bekerja baik dan memberikan hasil yang positif jika anda senang dengan pekerjaan anda. Mungkin tak selamanya kita mendapatkan pekerjaan yang kita idamkan, tetapi setidaknya kita bisa menyenangi pekerjaan yang sekarang ini.

6--Anda tak mendapatkan promosi yang semestinya anda terima. Malahan orang lainlah yang mendapatkan posisi itu.
* Jangan bekerja dengan memelihara rasa dendam dan kecewa. Singkirkan itu dan terimalah keadaan sebagaimana adanya. Namun jika anda tak bisa menerimanya, jangan memiliki pandangan yang sempit. Di luar sana ada banyak kesempatan, jika itu benar-benar milik anda.

7--Anda terjebak dalam politik kantor yang berlarut-latur. Sedangkan para top manajemen di kantor anda tampak tidak memiliki integeritas.
* Tak perlu bersikap naif dalam menghadapi politik kantor. Itu adalah sesuatu yang biasa terjadi dimana-mana. Bila anda tak tahan, jangan korbankan integeritas anda sendiri. Masih banyak kantor dan perusahaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai keintegeritasan seseorang.

8--Anda berada di lingkungan kerja yang kacau, kejam, kasar, bagai penjara dan tak menjunjung martabat karyawan.
* Bukankah kita mendambakan lingkungan kerja yang bermartabat, saling menghormati, menjunjung tinggi nilai-nilai profesionalisme ? Jika anda tak mampu hidup di situasi yang keras (padahal bisnis itu keras) maka segera cari pekerjaan lain yang sesuai dengan jiwa anda.

9--Anda merasa usaha-usaha anda tak lagi dihargai.
* Keinginan dasar setiap orang adalah mendapatkan penghargaan. Bagi banyak orang, penghargaan adalah kehormatan. Jika kehormatan tak lagi dihargai, bagaimana anda bisa melakukan sesuatu dengan baik dan meraih kehidupan kerja dengan baik pula?

10--Anda merasa inilah saatnya untuk pindah, tetapi belum tahu dimana harus memulainya, atau takut untuk memulainya.
* Jika anda merasa sudah waktunya untuk pindah, karena alasan apa pun, sebenarnya ketakutan anda hanyalah penghalang besar yang perlu anda singkirkan.

Jika kondisi-kondisi di atas tampak jelas pada keadaan anda, mungkin inilah waktunya untuk melakukan perbaikan dalam karier dan kehidupan anda. Ada banyak alasan untuk melakukan perubahan yang positif. Pelajari kembali seluruh perjalanan karier anda sejujurnya. Pertimbangkan itu sebagai bagian dari kehidupan yang anda dambakan. Jika anda merasa harus melakukan suatu perubahan dalam pekerjaan anda, berbicaralah dengan seseorang yang anda percaya.
Dapatkan pertimbangan-pertimbangan dan strategi untuk melakukannya. Kemudian, susun berbagai rencana untuk mewujudkannya. Selamat meraih sesuatu yang lebih baik.

Cinta & Perkawinan

Alumni Pika yang berbahagia,
Soal Cinta & Perkawinan bagi yang sudah berkeluarga, bukan barang baru lagi. Tapi bukan berarti tidak perlu membaca artikel ini, silahkan baca dan bandingkan dengan pengalaman anda sendiri. Bagi yang belum berkeluarga, artikel ini dapat menjadi pegangan dalam menemukan "cinta" menuju "perkawinan". Silahkan dibaca ! (PDS)


Cinta & Perkawinan

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa
menemukannya?"

Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah
kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting.
Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya
kamu telah menemukan cinta."

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan
kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"

Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak
boleh mundur kembali (berbalik)."

Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu
apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil
ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari
bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang
tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya."

Gurunya kemudian menjawab "Jadi ya itulah cinta"

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, "Apa itu perkawinan?
Bagaimana saya bisa menemukannya?"

Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan saja. Berjalanlah tanpa
boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon
saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena
artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan."

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa
pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/ subur, dan tidak juga
terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?"

Plato pun menjawab, "Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah
menjelajah seluruh ladang gandum, ternyata aku kembali dengan tangan kosong.
Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk
amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya."

Gurunyapun kemudian menjawab, "Ya, itulah perkawinan."


CATATAN KECIL :

Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di
dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.
Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat
adalah kehampaan... tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat
dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah
cinta apa adanya.

Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan
kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka
akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin
kau dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena,
sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

Rabu, 13 Agustus 2008

Menejemen Waktu

Manajemen Waktu

Suatu hari seorang dosen sedang memberi kuliah tentang manajemen waktu pada para mahasiswa. Dengan penuh semangat ia berdiri depan kelas dan berkata : "Okay, sekarang waktunya untuk quiz". Kemudian ia mengeluarkan sebuah ember kosong dan meletakkannya di meja. Kemudian ia mengisi ember tersebut dengan batu sebesar sekepalan tangan. Ia mengisi terus hingga tidak ada lagi batu yang cukup untuk dimasukkan ke dalam ember. Ia bertanya pada kelas, "Menurut kalian, apakah ember ini telah penuh ?"

Semua mahasiswa serentak berkata : "Ya!" Dosen bertanya kembali : "Apakah benar demikian ?" Kemudian, dari dalam meja ia mengeluarkan sekantung kerikil kecil. Ia menuangkan kerikil-kerikil itu ke dalam ember lalu mengocok-ngocok ember itu sehingga kerikil-kerikil itu turun ke bawah mengisi celah-celah kosong di antara batu-batu. Kemudian, sekali lagi ia bertanya pada kelas : "Nah, apakah sekarang ember ini sudah penuh ?"

Kali ini para mahasiswa terdiam. Seseorang menjawab : "Mungkin belum". "Bagus sekali", sahut dosen. Kemudian ia mengeluarkan sekantung pasir dan menuangkannya ke dalam ember. Pasir itu berjatuhan mengisi celah-celah kosong antara batu dan kerikil. Sekali lagi, ia bertanya pada kelas : "Baiklah, apakah sekarang ember ini sudah penuh ?". "Belum!", sahut seluruh kelas.

Sekali lagi ia berkata : "Bagus. Bagus sekali." Kemudian ia meraih sebotol air dan mulai menuangkan airnya ke dalam ember sampai ke bibir ember. Lalu ia menoleh ke kelas dan bertanya : "Tahukah kalian apa maksud illustrasi ini ?"

Seorang mahasiswa dengan semangat mengacungkan jari dan berkata : "Maksudnya adalah, tak peduli seberapa padat jadwal kita, bila kita mau berusaha sekuat tenaga maka pasti kita bisa mengerjakannya."

"Oh, bukan", sahut dosen, "Bukan itu maksudnya. Kenyataan dari illustrasi mengajarkan pada kita bahwa : bila anda tidak memasukkan batu besar terlebih dahulu, maka anda tidak akan bisa memasukkan semuanya".

Apa yang dimaksud dengan "batu besar" dalam hidup anda ?

Anak-anak anda; Pasangan anda; Pendidikan anda; Hal-hal yang penting dalam hidup anda; Mengajarkan sesuatu pada orang lain; Melakukan pekerjaan yang kau cintai; Waktu untuk diri sendiri; Kesehatan anda; Teman anda; atau semua yang berharga. Ingatlah untuk selalu memasukkan "Batu Besar" pertama kali atau anda akan kehilangan semuanya. Bila anda mengisinya dengan hal-hal kecil (semacam kerikil dan pasir) maka hidup anda akan penuh dengan hal-hal kecil yang merisaukan dan ini semestinya tidak perlu. Karena dengan demikian anda tidak akan pernah memiliki waktu yang sesungguhnya anda perlukan untuk hal-hal besar dan penting.

Oleh karena itu, setiap pagi atau malam, ketika merenungkan cerita pendek ini, tanyalah pada diri anda sendiri : "Apakah "Batu Besar" dalam hidup saya ?" Lalu kerjakan itu pertama kali.

Sumber : Internet.

Hidup Sejahtera Selamanya.

Hidup Sejahtera Selamanya
Gede Prama

Satu hal fundamental yang membedakan hidup di negara berkembang seperti
kita, dan hidup di negara welfare state adalah perhatian terhadap kaum tidak
punya. Perhatian mereka terhadap kesejahteraan rakyat amatlah besar. Oleh
karena itulah, maka banyak negara berlomba-lomba berpacu menuju welfare
state.

Tidak hanya negara, individu pun sangat banyak yang mengejar kesejahteraan.
Kerja keras, sekolah setinggi-tingginya, tekun dan loyal terhadap pekerjaan,
hanya sebagian saja dari usaha untuk mencapai kesejahteraan hidup. Demikian
penting kesejahteraan terakhir, sampai-sampai ada orang yang mau mencapainya
dengan segala cara.

Digabung menjadi satu, baik negara maupun individu, banyak yang teramat
rindu dengan kesejahteraan. Sayangnya, tidak sedikit orang yang masih
terjebak dengan perangkap 'umum' kesejahteraan. Kesejahteraan, dalam
perangkap terakhir, berhubungan amat dekat dengan gunungan materi yang kita
miliki. Namun, karena gunungan materi sering tidak mengenal kata cukup, maka
mengejar kesejahteraan kerap seperti mengejar cakrawala.

Dalam perspektif ini, saya berutang banyak pada Shakti Gawain - penulis buku
Creating True Prosperity. Penulis jernih dan produktif ini, di salah satu
bagian dari buku tadi menulis : 'Prosperity is an internal experience, not
an external state. It is an experience separate from having a certain amount
of money. While prosperity is related to money, it is not caused by money.
Dengan kata lain, kesejahteraan sebenarnya lebih terkait dengan pengalaman
internal. Sebuah pengalaman yang terpisah dari kepemilikan uang. Kesejahteraan memang berkaitan dengan uang, namun tidak disebabkan oleh uang.

Argumen terakhir, sebenarnya tidak orisinil, namun amat mendasar. Secara
lebih khusus dengan menyebut kesejahteraan sebagai pengalaman internal, dan
keterkaitan persisnya dengan uang. Dalam pengertian saya, ada dua hal yang
perlu dicermati dalam hal ini: pengalaman internal dan reposisi uang dalam
kehidupan.

Mari kita mulai dengan pengalaman internal. Sejak zaman Mahabrata sudah
diajarkan, bahwa badan kita sebenarnya ibarat lapangan peperangan.
Dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun, peperangan di dalam diri senantiasa
terjadi. Kadang stimulusnya datang dari luar, kerap datang dari dalam. Tidak
pernah ada tubuh manusia yang absen dan bersih dari peperangan. Ia bersifat
given. Bedanya, ada orang yang mengelola peperangan tadi, ada orang yang
dikelola oleh peperangan.

Berkaitan dengan pengalaman internal yang disebut Gawain di atas,
pengelola-pengelola peperangan dalam diri, lebih mungkin sampai pada tataran
hidup sejahtera selamanya. Sedangkan mereka yang membiarkan dirnya dikelola
peperangan, amat sulit untuk sampai pada tataran sejahtera. Bagaimana bisa
sejahtera, kalau nafsu, ego, keserakahan, dan keinginan lari kencang tanpa
rem. Berapapun jumlah materi yang kita miliki, ia akan tetap terasa kurang.
Untuk itulah, kita memerlukan seorang manajer dalam diri kita. Secara lebih
khusus yang bisa mempengaruhi struktur kerja fikiran. Pekerjaan manajer
tadi, menjaga jangan sampai ego, nafsu dan keinginan lari liar tanpa
kendali, dan menetralisir setiap kekuatan untuk kembali pada posisi
seimbang. Kearifan, kedewasaan dan spiritualitas adalah sebagian kekuatan
yang bisa digunakan manajer tadi, dalam menetralisir hawa nafsu.

Berkaitan dengan reposisi uang dalam kehidupan, sudah saatnya kita kembali
ke fungsi uang yang mendasar. Sebagai sarana kehidupan, uang memang mengenal batas. Namun sebagai sarana pemuas ego, uang tidak pernah mengenal batas cukup. Untuk itu, penting sekali buat setiap orang, untuk memisahkan antara kedua posisi uang terakhir.

Mungkin saja kedengaran idealis, namun menjebak diri ke dalam posisi uang
sebagai pemuas ego, sama saja menggali kuburan buat kehidupan sendiri, untuk
kemudian masuk ke situ tanpa disadari. Coba renungkan secara mendalam,
seberapa banyak yang betul-betul kita butuhkan untuk hidup sehat, untuk
sekolah anak-anak, atau hidup aman ? Bukankah jumlahnya bisa dihitung secara
amat rasional ? Akan tetapi, bisakah Anda menghitung jumlah uang yang cukup
untuk memuaskan semua ego ? Dihitung saja tidak bisa, apa lagi dipuaskan.

Makanya, saya tidak heran ketika mengetahui bahwa Gawain menulis : 'Although
no amount of wealth can guarantee prosperity, it is possible to experience
prosperity at almost any level of income'. Hanya saja ada dua hal yang
kurang diperhitungkan Gawain, kesejahteraan bisa hadir di setiap tingkatan
penghasilan, bila orang memiliki manajer fikiran, serta berhasil kembali ke
fungsi dasar uang sebagai sarana kehidupan.

Tidak mudah tentunya. Dan kesempurnaan hidup seperti kesejahteraan, memang
senantiasa bersembunyi di balik banyak hal yang tidak mudah. Persis seperti
apa yang disarankan Gawain : 'True prosperity is not something we create
overnight. It is not a fixed goal, a place where we finally arrive, or a
certain state that we will some day achieve. It is an ongoing process that
can continue to unfold and deepen throughout our lives'.

Seorang guru yang saya tahu hidup sejahtera selamanya, pernah bertutur,
ketika uang ada ia akan menikmati secukupnya, ketika uang tidak ada ia akan
mendalami spiritualitas. Dengan penuh keyakinan ia bertutur ke saya :
'kehidupan tidak bisa mendikte saya, sayalah yang mendikte kehidupan'.
Sudahkah Anda sampai di sana ?

Senin, 11 Agustus 2008

Mengecek hasil kerja

Rekan-rekan Alumni Pika di mana saja berada.
Kadang kala kita ragu-ragu dengan hasil pekerjaan kita, apakah dapat diterima oleh atasan, rekan kerja atau konsumen kita. Bagaimana caranya agar kita tahu pasti ? Cerita berikut ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi kita. Selamat membaca.
 
 
Mengecek Hasil Pekerjaan Sendiri

"Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu dengan sekuat tenaga".

Satu saat saya sedang membeli lampu neon untuk penerangan rumah. tengah saya memilih barang, seorang pemuda masuk dan langsung numpang menelpon seseorang. Memang, toko di bilangan jalan Banceuy, bandung tempat saya belanja itu menyediakan semacam "telepon umum" dengan pesawat yang menggunakan coin box. Karena hanya di sebelah saya, tak sengaja saya
menyimak percakapannya.

Ia berkata. "Bu, apakaha Anda membutuhkan tenaga bantuan untuk membersihkan kebun?"
Wanita di telepon itu sepertinya menjawab,"Saya sudah membayar seseorang untuk membersihkannya".
"Bu, anda dapat membayar saya dengan setengah harga saja".
Tetapi, sepertinya wanita itu sudah puas dengan hasil kerja orang yang sudah bekerja padanya. Namun pemuda itu tidak mengenal putus asa dan menawarkan, "Bu, saya juga akan menyapu pinggiran jalan serta trotoar depan rumah anda,
sehingga anda akan memiliki halaman yang selalu bersih dan asri".
Lagi-lagi wanita di seberang telepon itu sepertinya menolak.

Dengan senyum, pemuda itu meletakkan gagang telepon. Rupanya selain saya, sang pemilik toko peralatan lampu dan listrik itu juga memperhatikan percakapan pemuda itu. Ia menghampiri pemuda itu dan berkata; "Mas, saya suka dengan sikapmu itu. Saya mengagumi semangat yang kau miliki. Bagaimana kalau kamu bekerja untuk saya saja?"

Pemuda itu menjawab sambil menggelengkan kepala, "Tidak, Pak, terima kasih, sebenarnya tadi saya hanya sedang mengecek hasil pekerjaan saya sendiri".

Kekuatan Tanpa Kekerasan

KEKUATAN TANPA KEKERASAN

Pada tanggal 9 Juni Dr. Arun Gandhi memberikan ceramah di Universitas Puerto
Rico dan bercerita bagaimana memberikan contoh tanpa-kekerasan yang dapat
diterapkan di sebuah keluarga.

"Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama dengan orang tua
di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, di tengah-tengah kebun
tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh
dipedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara
perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk
mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Suatu hari, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk
menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan
kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar
belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya untuk
mengerjakan beberapa pekerjaan yang lama tertunda, seperti memperbaiki mobil
di bengkel.

Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berkata, "Ayah tunggu kau disini
jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama". Segera saja saya
menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan oleh ayah saya. Kemudian,
saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan
John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjukkan pukul
5:30, langsung saya berlari menuju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput
ayah yang sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul 6:00. Dengan
gelisah ayah menanyai saya : "Kenapa kau terlambat ?" Saya sangat malu untuk
mengakui bahwa saya menonton film, sehingga saya menjawab : "Tadi, mobilnya
belum siap sehingga saya harus menunggu". Padahal, ternyata tanpa
sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan, kini ayah
tahu kalau saya  berbohong. Lalu ayah berkata : "Ada sesuatu yang salah
dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk
menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah
akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya
baik-baik".

Lalu, ayah dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai
berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan
sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima
setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat
penderitaan yang dialami oleh ayah hanya karena kebohongan yang bodoh yang
saya lakukan. Sejak itu saja tidak pernah akan berbohong lagi.

Seringkali saya berpikir mengenai episode ini dan merasa heran. Seandainya
ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita maka apakah
saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai tanpa-kekerasan ?

Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang
sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa-kekerasan yang sangat
luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin.
Itulah kekuatan tanpa-kekerasan".

Diadaptasi dari "The Power Of Nonviolence", copyright Dr. Arun Gandhi.
Dr. Arun Gandhi adalah cucu Mahatma Gandhi dan pendiri Lembaga M.K.Gandhi.

Hidup Secukupnya

Hidup Secukupnya
Oleh: Gede Prama

Pemburu-pemburu kenikmatan. Mungkin itu sebutan yang tepat bagi tidak sedikit orang yang hidup di zaman modern ini. Mereka yang mempercayai kapitalisme sebagai mesin pendorong peradaban, malah menyebut kenikmatan sebagai awal dari pertumbuhan dan kemajuan.. Kalau tanpa kenikmatan, bukankah semuanya jadi tidak hidup dan stagnan ? Demikianlah kira-kira pertanyaan awal mereka dalam melakukan pencaharian.

Dari sinilah kemudian lahir setiap hari jutaan pemburu kenikmatan. Ada yang memburunya melalui jalur seks. Ada yang mencarinya melalui hobi seperti motor gede, mobil built up, main golf, rumah mewah secara amat berlebihan. Ada yang mengejarnya melalui tangga-tangga kekuasaan. Serta masih banyak lagi yang lainnya. Digabung menjadi satu, benar kata kaum kapitalis, kenikmatanlah awal dari kemajuan dan pertumbuhan.

Bukan kapasitas saya untuk meninjau persoalan ini secara ekonomi maupun sosiologi. Sebagaimana biasa, saya akan mengajak Anda berefleksi atau bercermin. Bukan untuk membenarkan atau menyalahkan kehidupan seperti ini, namun untuk menarik garis merah kehidupan ke depan dari sini.

Dalam sebuah perjamuan makan malam di hotel Borobudur beberapa waktu lalu, saya tumben bertemu es puter yang pas di selera. Karena sudah lama tidak makan es model terakhir, maka ada nafsu untuk memakan sepuas-puasnya. Dan lupa kalau memiliki penyakit maag.. Tidak lama kemudian, penyakit maag datang menyiksa tidak kurang dari tiga hari.

Seorang sahabat bertutur tentang nasib keponakannya. Dengan latar belakang masa muda yang demikian ketat, maka begitu orang tuanya meninggal hampir semua kenikmatan - terutama kenikmatan seks - dikejarnya habis-habisan. Tidak lama kemudian, tidak hanya sekolahnya yang berantakan. Diapun mulai kena penyakit seks yang amat menakutkan.

Sebenarnya masih ada banyak sekali cerita sejenis dengan makna serupa. Yang jelas, segala bentuk kenikmatan yang datang dari luar - entah makanan, seks, harta dan lain-lain - memerlukan kesiapan badan dan jiwa. Di tingkat yang tepat (tidak kurang dan tidak lebih), kenikmatan dari luar tadi menjadi sahabat. Di tingkatan yang tidak tepat - apa lagi amat berlebihan - maka dia menjadi musuh yang amat berbahaya. Bagi Anda yang suka sekali nasi goreng, makanlah sepuluh piring. Pencinta sate kambing, makanlah seribu tusuk. Dengan semua langkah ini, bukankah neraka langsung menghadang di depan mata ?

Sebagai ilustrasi lain, lihat saja sendiri, bagaimana banyak orang kaya dijebak dan dibuat menderita oleh kekayaannya. Harta yang berlimpah memproduksi ketakutan akan kehilangan yang bisa membuat insomnia. Asuransi kehidupan yang menggunung membuat sejumlah orang tua mencurigai anak-anaknya. Sisa harta kehidupan yang melimpah (baca : warisan) tidak jarang membuat anak cucu pecah berantakan. Demikian juga sebaliknya. Orang yang teramat miskin juga dibuat menderita oleh kemiskinan. Kelaparan, kekurangan gizi, penyakit hanyalah sebagian saja dari perangkap-perangkap kemiskinan yang mencelakakan.

Belajar dari sini, penting dan teramat penting untuk sesegera mungkin menemukan titik cukup dalam kehidupan. Titik ini memang tidak absolut, bisa diperdebatkan, dan berbeda dari satu orang ke orang lain. Makanya ada pertanyaan yang berbunyi : when is enough enough ?

Entah bagaimana Anda menemukan hidup yang cukup. Bagi saya, kata kuncinya ada pada pengeluaran. Sebab, dia lebih controlable dibandingkan dengan pendapatan. Dengan prosentase pengeluaran yang tidak boleh lebih dari lima puluh persen dari pendapatan, siapapun akan aman secara keuangan. Garis pembatas cukup, dalam kehidupan saya adalah setengah dari pendapatan tadi. Sisanya, kami sisakan untuk persiapan hari depan.

Ada juga rekan yang bertanya tentang godaan untuk tidak melebihi limit lima puluh persen. Godaan sebenarnya bukan datang dari luar, tetapi seberapa cermat kita menjaga 'jendela-jendela' hawa nafsu. Mata, mulut, hidung, telinga, perasaan adalah jendela-jendela hawa nafsu yang sebaiknya kita jaga secara cermat.

Sebagai ilustrasi saja, saya dan keluarga mengurangi untuk datang ke pameran-pameran yang barangnya tidak kami butuhkan sekarang-sekarang ini. Ia hanya menimbulkan kebutuhan-kebutuhan baru yang membuat kami berhitung, untuk kemudian menyimpulkan bahwa uang tidak cukup. Saya mendidik diri untuk tidak membandingkan diri dengan teman maupun tetangga. Anak-anak kami didik sejak awal untuk hidup lentur. Ketika hidup naik, kita nikmati kenikmatan hidup di tingkat yang lebih tinggi. Demikian juga kalau sebaliknya.. Dan yang paling penting, sesering mungkin mengatakan cukup pada jumlah uang yang kami miliki.

Awalnya memang tidak mudah. Namun dengan sedikit kesabaran dan disiplin diri, serta komitmen bersama, sinyal-sinyak hidup secukupnyapun cukup sering datang dalam kehidupan kami.

Mirip dengan tanaman, pupuk yang terlalu banyak bisa membuat dia mati. Tidak pernah diberi pupuk juga bisa membuatnya mati. Kadar pupuk yang cukup amatlah penting dalam hal ini. Kita manusia juga sama. Kekayaan dan kekuasaan yang kita kejar dengan kerja amat keras, menguras banyak energi, bahkan menanggung resiko sakit sekalipun, eh setelah kita peroleh ternyata hanya menciptakan racun dan petaka baru. Bukankah hidup akan penuh dengan kesia-siaan, kalau setelah berlari kencang amat jauh menghabiskan keringat, ternyata garis finishnya hanya sebuah tiang gantungan ?

Memuji anak

MEMUJI ANAK.

Salah satu cara menghargai anak adalah dengan memberikan pujian akan apa
yang sudah dilakukannya. Saat anak dalam keadaan senang karena dihargai dan
dipuji, anak pasti ingin melakukan banyak hal lagi untuk menyenangkan orang
lain. Kita tahu jika kita mampu mengerjakan sesuatu dengan baik, maka kita
ingin berbuat lebih baik lagi. Memuji anak tidak akan membuatnya manja.
Hanya anak yang tidak dihargai dan tidak mendapatkan pujian -- padahal
sewajarnya dia memperolehnya -- yang akan bertingkah laku aneh. Meskipun
demikian janganlah asal memberikan pujian. Berikut ini petunjuk-petunjuk
dalam memberikan pujian.

PETUNJUK DALAM MEMBERIKAN PUJIAN

1. Pujilah prestasi anak, bukan kepribadiannya.
Setelah memuji sifat anak seperti, "Kamu sudah menjadi anak yang baik," anak
malah bereaksi dengan tingkah laku yang buruk. Mengapa ? Anak mungkin takut
kalau-kalau ia tidak dapat berperilaku sebaik yang diharapkan. Ia merasa bahwa ia harus, dengan cara tertentu, menolak anggapan yang ia rasakan salah.

Satu keluarga menceritakan piknik mereka. Sepanjang setengah hari perjalanan
anak mereka yang masih kecil dan duduk di belakang bertingkah baik sekali
dan tenang sampai akhirnya ibunya menengok ke belakang dan berkata, "Bill,
Kamu anak manis sekali pagi ini". Setelah pujian ini masalah tidak kunjung
berhenti. Ia mengosongkan asbak di kursi mobil. Ia berteriak dan melempar-lempar barang. Alasannya ? Ketika duduk tenang ia sedang merasa marah pada semua orang di dalam mobil, marah karena ia harus meninggalkan rumah saat ia dan kawan-kawannya merencanakan sesuatu yang menarik untuk minggu itu. Waktu ibu berkata ia "baik" ia tahu betul apa yang sedang ia rasakan dan karena itu menyangkal apa yang ibunya katakan.

Daripada berkomentar tentang sifat, pujian seharusnya adalah tentang tugas
yang dikerjakan dengan baik, tentang pemikiran bagi orang lain, tanggung
jawab, dan kejujuran. Orangtua harus berkomentar bila anak berusaha keras
untuk menjadi baik, meskipun tidak seluruh usahanya membawa hasil yang diharapkan. Orangtua harus menunjuk pada kemajuan.

2. Pujilah apa yang anak-anak itu bisa kerjakan daripada apa yang mereka
tidak bisa.
Misalnya, anak-anak tidak dapat berbuat apa-apa bila mereka memiliki rambut
yang indah atau mata yang biru. Memuji anak untuk hal-hal semacam ini akan
membentuk kesombongan. Tetapi memuji anak karena tindakannya dan
kemurahannya tidak akan memanjakan dia atau membuatnya sombong. Anak
membutuhkan persetujuan untuk perasaan berharga. Anak yang mendapatkan
persetujuan dari orang- orang lain akan mampu bersikap rendah hati. Anak
yang sombong atau membanggakan diri sebenarnya kekurangan penghargaan.

3. Akui bahwa pujian terutama diperlukan dari orang-orang yang penting dalam
kehidupan anak.
Orangtua adalah orang terpenting di dunia bagi anak. Dunia anak kecil,
orangtualah pusat dari dunia itu. Dan bila orangtua memuji anak, ia akan
merasa dicintai dan aman. Seperti pengakuan seorang anak, "Tidak peduli
orang lain mengatakan apa. Hanya sedikit pengaruhnya. Tapi bila ayah saya
berkata, 'Itu adalah hasil kerja yang bagus', dunia saya berubah".

Memuji seorang anak akan membantunya mengatasi rasa malu dan mengembangkan kemandirian. Pujian membentuk sifat murah hati, inisiatif, dan kemampuan bekerja sama. Kurangnya penghargaan akan membuat si anak merasa ia tidak diperlukan, tidak diinginkan, dan bahwa ia adalah gangguan. Ini berlaku tidak hanya antara orangtua dan anak, tapi juga pada hubungan-hubungan
lainnya di sekolah, pekerjaan, atau waktu bermain.

4. Pujilah dengan tulus.
Anak-anak tahu bila Anda tulus. Mereka tidak dapat dikelabui. Pujian tidak perlu dibuat-buat. Melebih-lebihkan tidak ada artinya. Ketulusan mengajar anak untuk menerima ucapan selamat dengan mudah dan menerima penghargaan dengan penuh kerendahan hati.

5. Pujilah anak atas apa yang ia kerjakan dengan inisiatif sendiri.
Mengerjakan hal yang berharga tanpa disuruh perlu dihargai khusus. Pujian
semacam ini akan mengarah pada tumbuhnya kepercayaan diri. Ini berarti bahwa
orangtua harus tanggap dalam memuji seorang anak yang kalah. Dalam
pertandingan semuanya kalah kecuali satu. Sikap maupun keberhasilan perlu
dihargai. Memuji anak yang sudah mencoba, walaupun gagal, berarti memberikan
semangat padanya untuk terus mencoba dan memiliki motivasi untuk masa-masa
sulit yang pasti dihadapi setiap orang.

Alta Mae Erb, dalam 'Mendidik Anak' menuliskan : "Seorang anak mungkin
menjadi patah semangat dan hilang kepercayaan diri bila ia diberi tugas yang
melampaui batas kemampuannya dan dituntut untuk mencapai standar keberhasilan yang tinggi. "Komentar atas kue pertama yang dibuat lebih penting dari rasa kue itu sendiri".

6. Perhatikan bahwa semakin cepat pujian diberikan semakin baik.
Sangat baik bila orangtua ada pada saat keberhasilan dicapai. Bila orangtua
hadir ketika anak telah mencoba namun tidak berhasil dan lalu memberi
semangat pada anak, ini lebih baik lagi.

7. Ingatlah bahwa sikap orangtua sama pentingnya seperti kata-kata mereka
yang memberi semangat.
Cara orangtua berhenti untuk mendengarkan, cara orangtua membagi
keberhasilan atau kegagalan, dan nada bicara orangtua dapat menghasilkan
suasana yang memberi semangat atau menghancurkan semangat anak.

Bila anak hidup dengan pujian, ia akan belajar untuk menghargai. Seorang
dewasa bisa bertahan tanpa pujian tiap hari, tapi anak tidak. Anak harus
memiliki itu supaya dapat berkembang. Anak akan menciut tanpa pujian.
Berbahagialah anak yang mendapatkan pujian yang tulus.

Barangkali tidak ada hal lain yang mendorong anak untuk mencintai kehidupan,
mencari keberhasilan dan memperoleh kepercayaan diri, selain dari pujian
yang tulus, tepat, dan tidak berlebih-lebihan dan penghargaan yang jujur
bila anak mengerjakan sesuatu dengan baik.

Bahan diringkas dari sumber :
Judul Buku: Tujuh Kebutuhan Anak
Pengarang : John M. Drescher
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1992
Halaman : 93 - 96

Kamis, 07 Agustus 2008

Berlian dan bau busuk.

Berlian Dan bau Busuk
Oleh : Gede Prama

Ketika Jack Welch menjadi nara sumber seminar di Jakarta, seorang peserta bertanya, bagaimana ia bisa mengelola gurita usaha yang demikian besar dan berhasil. Entah ia rendah hati, entah benar-benar seperti itu keadaannya,  salah satu CEO terkemuka dunia ini berujar, tidak ada yang bisa melakukan pekerjaan sebesar itu seorang sendiri. Bahkan, diapun tidak sanggup  melakukannya. Ia melakukan semua pekerjaan besar ini, bersama-sama  orang-orang terbaik yang dimiliki General Electric. Oleh karena alas an  terakhirlah, maka setiap kali Welch berjalan-jalan keliling dunia, ia selalu  mencari orang-orang terbaik.  Bila benar demikian, rupanya salah satu kunci keberhasilan dalam mengelola  gurita usaha yang demikian meraksasa, adalah mencari dan memilih orang yang tepat. Sebagaimana pernah saya tulis, begitu orang-orang berada di tempatnya  yang tepat, mesin organisasi akan hidup dan lari cepat dengan sendirinya.

Persoalannya sekarang, bagaimana kita bisa menemukan orang-orang tepat ini  dlm keseharian ? Sebagai orang yang telah lama malang melintang membantu  klien di sektor SDM, serta bergaul luas dengan banyak sekali rekan psikolog  yang berjam terbang tinggi dalam memilih orang, saya sampai pada kesimpulan  : memilih orang bukanlah perkara yang mudah. Lebih-lebih memilih orang  potensial, sekaligus tepat di posisinya serta berkinerja tinggi.  Seringkali terjadi, mencari orang seperti menanam pohon. Ketika bertemu  bibit yang tepat, lahannya kurang mendukung. Kadang terjadi, karena tidak  ada pilihan, terpaksa memilih bibit yang kurang memadai. Akan tetapi, karena  lahannya subur, maka berkembanglah sang bibit secara meyakinkan. Idealnya  memang, bibitnya baik dan lahannya subur.

Sayang kehidupan nyata jarang dalam kondisi ideal. Satu ketika, saya pernah  menemukan seorang manajer dengan potensi yang tinggi, sekaligus memiliki  kemampuan interaksi yang mengagumkan. Namun, bertemu dengan lingkungan  pemilik dengan gaya 'memiliki' karyawan. Di mana pekerjaan pribadi dicampur  dengan pekerjaan kantor, tidak mengenal hari libur, ketika harus berkumpul dg keluarga mendadak dipanggil. Maka larilah calon potensial tadi entah  kemana.

Belajar dari sini, mampu menggaji orang tidak otomatis bisa membuat orang  dan organisasi berkinerja tinggi. Ada faktor kedua setelah mampu menggaji,  yakni kemampuan untuk menggunakan sang calon. Tanpa kemampuan terakhir,  keadaan hanya akan menyerupai bibit unggul yang ditanam di atas batu kering. Di sinilah letak kelalaian banyak orang berduit. Punya uang tetapi tidak  bisa menggunakan orang secara tepat dan pas. Ujung-ujungnya, kadang konsultan yang disalahkan, kerap alat test yang dianggap keliru, psikolog  dikatakan kurang kompeten.Lebih-lebih kalau 'lahan kering' tadi bertemu  dengan kebiasaan tidak sabar untuk sedikit-sedikit memecat orang. Padahal, mencari orang berbakat sekaligus cocok dengan kita lebih mirip  dengan mencari berlian, dibandingkan dengan mencari sumber bau busuk.  Mencari berlian memerlukan waktu, ketekunan, kesabaran dan tidak jarang  malah membutuhkan pengorbanan. Namun mencari sumber bau busuk, ia relatif  lebih mudah
.

Ini tidak hanya berlaku bagi perusahaan dan pengusaha. Ia juga berlaku pada  pribadi-pribadi yang merasa memiliki berlian di dalam dirinya. Untuk  menunjukkan bahwa diri Anda berlian memerlukan waktu yang amat panjang, pengorbanan dan kesabaran. Lain halnya kalau mau menunjukkan  kebusukan2. Dalam waktu yang amat pendek, semua orang tahu akan kebusukan-kebusukan tadi. Saya pernah memiliki seorang mantan atasan yang amat tekun. Sejak tamat SMU telah mulai bekerja, sambil bekerja ia kuliah. Tidak jarang ia melaksanakan pekerjaan setingkat kuli. Untuk sampai pada posisi tertinggi di dalam perusahaan, ia sudah mendaki tangga karir yang terjal, berat, menggoda dan menyakitkan. Setelah dua puluh tahun, baru pemilik tahu kalau dialah  berliannya. Lain halnya dengan bau busuk. Lihat saja mantan menteri yang  dibawa ke pengadilan gara-gara korupsi. Hanya butuh waktu bulanan untuk  menghancurkan seluruh bangunan karir dan reputasinya yang selama ini amat menjulang. Belajar dari sini, bagi perusahaan maupun bagi pribadi, teramat penting  untuk menyadari hakikat mendalam dari berlian dan bau busuk. Kita semua  memang tidak menyukai bau busuk dan menyukai berlian. Namun, sebagaimana cerita di atas, untuk menemukannya atau untuk ditemukan orang lain, memerlukan tenggang waktu dan pengorbanan yang amat berbeda.

Bercermin dari sini, setiap kali ada gangguan atau godaan karir, saya  belajar untuk menempatkannya dalam kerangka berlian dan bau busuk ini.  Demikian juga kalau menghadapi klien tidak sabar dan mau cepat-cepat tahu  berliannya. Sebagaimana kita berproses secara panjang dan kompleks menjadi  manusia dewasa. Berlian dalam bentuk karyawan, maupun diri kita juga sama.  Ada kalanya kita memiliki kinerja yang turun drastis. Ada saatnya orang  demikian bergairah dalam memacu prestasi. Kalau hanya karena ketidaksabaran, egosime dan sejenisnya kita memfokuskan pada bau busuk – dan lupa potensi berliannya - tidak ada perusahaan yang akan menemukan berlian. Demikian juga dengan Anda yang menyimpan berlian dalam diri masing-masing. Benar ungkapan orang bijak, di manapun berlian tetap berlian. Akan tetapi, agar berlian Anda ditemukan orang, diperlukan banyak usaha dan pengorbanan.

Tips to teach your children well

TIPS TO TEACH YOUR CHILDREN WELL

1. Berikan mereka waktu

Jangan membuat alasan bahwa anda akan menghabiskan lebih banyak waktu
bersama dengan anak-anak ketika anda akan mempunyai lebih banyak waktu di
kemudian hari, karena "Hidup Akan Selalu Sibuk!"

Kita dapat jatuh dalam perangkap kesibukan memberikan anak-anak kita apa
yang tidak kita miliki, yaitu kita gagal memberikan mereka apa yang kita
miliki.

Anda harus berada disana untuk mereka, karena jika anda tidak ada disana
untuk mereka, mereka tidak akan mendengarkan anda.

Sekali pintu masa kanak-kanak tertutup, ia akan tertutup. Dan akan menutup
dengan sangat cepat.

Di masa tua kita, kita tidak akan pernah menyesali kalau kita tidak
menghabiskan banyak waktu di kantor, tetapi kita tentu saja menyesali tidak
menghabiskan banyak waktu dengan keluarga kita.

2. Tertawalah dengan anak anda

Bermain dan bersenang-senang dengan anak anda. Tertawalah dengan mereka.
Karena ini adalah salah satu kunci yang mengikat kebersamaan keluarga anda.
Dan anak anda akan mengingat hari-hari bahagia yang mereka habiskan bersama
anda.

3.  Berikan Cinta Tanpa Syarat

Anda tidak dapat membuat anak anda menjadi seseorang yang dia tidak mampu.
Setiap anak adalah unik. Oleh karena itu, belajarlah mengidentifikasi
keunikan dan kualitas anak-anak anda. Belajar untuk hidup dengan kelemahan
dan kekuatan mereka. Beberapa kelemahan dapat anda bantu untuk rubah, tetapi
tidak semua.

4. Tetapkan batas

Menetapkan batas misalnya menetapkan kedisiplinan itu penting. Anak anda
akan selalu menguji batas yang anda tetapkan, tetapi anda harus tenang dan
tegas akan hal ini. Karena dengan menetapkan batas anda mendemonstrasikan
nilai-nilai anda kepada anak-anak anda, nilai-nilai yang anda harapkan untuk
berikan kepada mereka. Nilai-nilai seperti, tepat waktu, kejujuran, menepati
janji, dsb. Anak anda akan selalu menguji batas-batas tersebut apakah dapat
mereka langgar, tetaplah tegas - karena tidak ada yang membuat si anak
merasa tidak aman selain ketika kita sebagai orang tua terus membiarkan
batas-batas tsb dilanggar. Catatan akan hal ini adalah orang tua harus
memilih pertempuran yang akan mereka perangi. Biarkan beberapa berlalu,
tetapi jangan hal yang terpenting. Tetaplah konsisten mengkomunikasikan
kepada anak-anak nilai-nilai anda tersebut.

5. Pujilah anak anda

Orang tua selalu punya kebiasaan menangkap kesalahan anak mereka, dan
menekankan kesalahan tersebut. Lebih baik "menangkap anak anda melakukan
sesuatu yang benar!"Biarkan mereka mendengar anda memuji mereka di depan
orang lain. Ini akan meningkatkan harga diri dan percaya diri mereka. Anak
yang percaya diri akan belajar dari ajaran anda dengan lebih baik.

Kenapa hal ini dapat berjalan ? Anak suka menyenangkan orang tua mereka.
Ketika mereka merasa telah menyenangkan anda, mereka akan terus melakukan
hal-hal tersebut yang akan menyenangkan anda.

6. Kenalilah keunikan setiap anak

Jangan membandingkan anak anda dengan saudaranya atau dengan yang lain.
Setiap anak adalah unik. Kenalilah kualitasnya dan fokuskan pada bagaimana
menolong anak anda menggunakan kualitas-kualitas tersebut.

7. Bebaskan diri anda dari apa yang orang lain pikir tentang anda sebagai
orang tua

Anda seharusnya mendengarkan nasihat orang tua yang lain akan pengalaman
mereka, tetapi orang tua harus memutuskan apa yang terbaik untuk anak
mereka, karena tiap anak berbeda. Oleh karena itu, jangan khawatir
mendengarkan komentar orang lain akan cara anda mendidik. Kadang-kadang anda
akan berbuat kesalahan, tetapi kesalahan akan menuntun kepada pencerahan dan
kejelasan.

8. Sisihkan waktu untuk meneruskan ke anak anda apa yang anda yakini

Ingat untuk menyisihkan waktu untuk meneruskan kepada anak anda apa yang
anda yakini, yaitu nilai-nilai anda.

Dr. James Dobson berkata bahwa remaja sekarang menghadapi lebih banyak
tekanan dan menghadapi kehidupan yang lebih stress daripada remaja dahulu.
Dia menggambarkannya seperti ini:

Remaja dahulu melalui sebuah koridor, dengan pintu dikiri dan kanan
tertuliskan "Sex", "Obat-obatan", "Disko", "Alkohol", "Rokok", dll. tetapi
semua pintu tertutup. Kadang-kadang ada seseorang saja yang masuk ke pintu
tersebut.

Remaja sekarang berjalan melalui koridor, dengan pintu yg sama dikiri dan
kanan, tetapi semua pintu terbuka, dan ada banyak orang di tiap pintu, yang
merayu dan membuat janji-jani yang merayu remaja tersebut untuk masuk.

Katakan kepada anak anda bahwa "MEREKA ISTIMEWA, dan mereka TIDAK PERLU
menunjukkan kepada masyarakat bahwa mereka istimewa".

"Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa
tuanyapun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu" (Amsal)

9. Jangan Menyerah

Kita harus pantang menyerah dalam mendidik anak-anak kita.

10. Biarkan mereka pergi

Kadang-kadang kita harus membiarkan mereka pergi, untuk menunjukkan bahwa
kita mempercayai mereka. Kadang-kadang, mereka akan jatuh, tetapi
kesalahan-kesalahan akan membantu anak kecil tersebut untuk tumbuh dewasa.

Diambil dari : What Every Child Wish Their Parents Knew by Rob / Dianne
Parson

Rabu, 06 Agustus 2008

Angin duduk

Angin Duduk

Angin Duduk sama dengan Sindrom Jantung Koroner Akut. Hanya dalam 15 menit sampai 30 menit,
orang yang terserang angin duduk bisa meninggal. Padahal, penderita, sebelumnya terlihat sehat-sehat saja.

Dunia kedokteran selama dua tahun terakhir berhasil mengidentifikasi istilah baru penyakit jantung yang akrab disebut angin duduk. Ternyata, penyakit ini tak sekedar masuk angin berat, tetapiidentik dengan
sindrom serangan jantung koroner akut (SSJKA).

Teridentifikasinya istilah ini, menurut Guru Besar Bidang Ilmu Penyakit Dalam  FKUI, Prof DR dr Teguh Santoso.SpPD, di Jakarta, pekan lalu. Menandai sebuah  koreksi besar terhadap mitos yang berkembang di masyarakat selama ini. Bahwa masuk angin hebat itu adalah penyakit yang berbahaya, bahkan bisa menimbulkan kematian hanya dalam waktu 15 hingga 30 menit sejak serangan pertama. Jadi kata Teguh lagi, jika Anda tiba-tiba  merasa nyeri dada, sebaiknya tidak melakukan aktivitas fisik apapun termasuk  berhubungan seks.

Segeralah pergi ke rumah sakit yang menyediakan fasilitas penanganan gawat darurat jantung. Ingat. Tidak boleh lebih dari 15 menit setelah serangan nyeri pertama.

Sindrom serangan jantung koroner akut merupakan penemuan terbaru akhir abad ini pada bidang penyakit jantung. Anehnya, gejala penyakit ini banyak disikapi masyarakat dengan tindakan yang salah. Misalnya, penderita dikerok, diberi minuman air panas, atau diberi ramu-ramuan untuk mengeluarkan angin. Padahal, penderita bisa meninggal mendadak
tanpa ada tanda-tanda sakit

Gejalanya:

Muncul keluhan nyeri ditengah dada, seperti :
- Ditekan
- Diremas-remas,  menjalar ke leher, lengan kiri dan kanan, serta ulu hati.
- Rasa terbakar dengan sesak napas dan keringat dingin.

Keluhan nyeri ini bisa merambat ke kedua rahang gigi kanan atau kiri, bahu, serta punggung. Lebih  spesifik, ada juga yang disertai kembung pada ulu hati seperti masuk angin atau maag.

Sumber masalah sesungguhnya terletak pada penyempitan pembuluh darah jantung (vasokonstriksi). Penyempitan ini diakibatkan oleh empat hal :

- Pertama, adanya timbunan-lemak (aterosklerosis) dalam pembuluh darah
  akibat konsumsi kolesterol tinggi.
- Kedua, sumbatan (trombosis) oleh sel beku darah (trombus);
- Ketiga, Vasokonstriksi  atau penyempitan pembuluh.darah akibat kejang
  yang terus menerus.
- Keempat, infeksi pada pembuluh darah.

Penyempitan itu, lanjutnya lagi, mengakibatkan berkurangnya oksigen yang masuk ke dalam jantung. Ketidak-seimbangan pasokan dengan kebutuhan oksigen pada tubuh mengakibatkan nyeri dada yang dalam istilah medisnya disebut angina.

Namun kata Teguh, hendaknya dibedakan antara keluhan nyeri pada sindrom serangan jantung koroner akut (SSJKA) dengan serangan jantung koroner (SJK) (infark miokard). Pada SJK, angina terjadi akibat sumbatan total pembuluh darah jantung karena aktivitas fisik yang berlebihan. Sementara pada SSJKA angina terjadi akibat sumbatan tidak total yang dirasakan saat istirahat.


"SSJKA ini memang mendadak. Bukan karena capek, masuk angin, atau penyakit-penyakit lainnya. Biasanya penderita akan meninggal paling lama lima belas menit setelah keluhan rasa nyeri pertama kali dirasakan". kata Teguh.

Masyarakat diminta waspada terhadap keluhan angina ini. Soalnya penderita sebelum terserang akan tampak sehat-sehat. Solusi satu-satunya hanyalah melonggarkan sumbatan yang terjadi, yaitu dengan memberikan obat anti platelet (sel pembeku darah) dan anti koagulan. Atau, obat untuk mengantisipasi  ketidak-seimbangan supplai oksigen dan kebutuhan oksigen. Misalnya nitat, betabloker, dan kalsium antagonis.

Di tempat terpisah. Ahli jantung RS Jantung Harapan Kita dr. Santoso Karo-Karo MPH:, SpJp mengungkapkan kondisi rumah sakit di Indonesia tidak terlalu bisa diharapkan untuk pengobatan SSJKA. Rumah sakit terkesan lambat menangani pasien. Untuk itu ia menyarankan agar penderita yang sudah tahu bahwa dirinya memiliki gangguan jantung sebaiknya membawa tablet anti platelet ke manapun ia pergi.

Obat antiplatelet yang paling murah dan gampang di cari adalah aspirin. Obat  ini selain bermanfaat sebagai pertolongan pertama mengatasi nyeri dan melonggarkan kembali pembuluh darah yang tersumbat oleh thrombosit atau platelet (sel pembeku darah).

****


THE GIFT OF LIFE

The Gift of Life

On the very first day, God created the cow. He said to the cow, "Today
Ihave created you! As a cow, you must go to the field with the farmer
alldaylong. You will work all day under the sun! I will give you a life
span of 50years." The cow objected, "What? This kind of a tough life you
want meto live for 50 years? Let me have 20 years, and the 30 years I'll
give backto you." So God agreed.

On the second day, God created the dog. God said to the dog, "You are
supposed to do is to sit all day by the door of your house. Any people that
come in, you will have to bark at them! I'll give a life span of 20
years."The dog objected, "What? All day long to sit by the door? No way! I
give you back my other 10 years of life!" So God agreed.

On the third day, God created the monkey. He said to the monkey,
"Monkeyshave to entertain people. You've got to make them laugh and do
monkey tricks. I'll give you 20 years life span." The monkey objected.
"What? Make them laugh? Do monkey faces and tricks? Ten years will do,and
the other 10 years I'll give you back." So God agreed.

On the fourth day, God created man and said to him, "Your job is to
sleep,eat, and play. You will enjoy very much in your life. All you need to
do is toenjoy and do nothing. This kind of life, I'll give you a 20 year
lifespan." The man objected. "What? Such a good life! Eat, play, sleep,do
nothing? Enjoy the best and you expect me to live only for 20 years? No
way, man! Why don't we make a deal? Since the cow gave you back 30 years,
and the dog gave you back 10 years, and the monkey gave you back 10 years, I
will take them from you! That makes my life span 70 years...right?" So God
agreed.

And that is why in our first 20 years, we eat, sleep, play, enjoy the best
and do nothing much. For the next 30 years, we work all day long, suffer
and get to support the family. For the next 10 years, we entertain our
grand children by making monkey faces and monkey tricks. And for the last 10
years, we stay at home, sit by the front door, and bark at people!