Kamis, 28 Mei 2009

3 PINTU KEBIJAKSANAAN

3 PINTU KEBIJAKSANAAN

Seorang Raja, mempunyai anak tunggal yg pemberani, trampil dan pintar.
Untuk
menyempurnakan pengetahuannya, ia mengirimnya kepada seorang pertapa
bijaksana.

"Berikanlah pencerahan padaku tentang Jalan Hidupku", Sang Pangeran
meminta.

"Kata-kataku akan memudar laksana jejak kakimu di atas pasir", ujar
Pertapa.
"Saya akan berikan petunjuk padamu, di Jalan Hidupmu engkau akan menemui 3
pintu. Bacalah kata-kata yang tertulis di setiap pintu dan ikuti kata
hatimu. Sekarang pergilah". Sang Pertapa menghilang dan Pangeran
melanjutkan
perjalanannya.

Segera ia menemukan sebuah pintu besar yang di atasnya tertulis kata
"UBAHLAH DUNIA"
"Ini memang yang kuinginkan" pikir sang Pangeran. "Karena di Dunia ini ada
hal2 yang aku sukai dan ada pula hal2 yang tak kusukai. Aku akan
mengubahnya
agar sesuai keinginanku"

Maka mulailah ia memulai pertarungannya yang pertama, yaitu mengubah dunia.
Ambisi, cita-cita dan kekuatannya membantunya dalam usaha menaklukkan dunia
agar sesuai hasratnya. Ia mendapatkan banyak kesenangan dalam usahanya
tetapi hatinya tidak merasa damai. Walau sebagian berhasil diubahnya tetapi
sebagian lainnya menentangnya. Tahun demi tahun berlalu. Suatu hari, ia
bertemu sang Pertapa kembali.

"Apa yang engkau pelajari dari Jalanmu ?", tanya sang Pertapa
"Aku belajar bagaimana membedakan apa yang dapat kulakukan dengan
kekuatanku
dan apa yang di luar kemampuanku, apa yang tergantung padaku dan apa yang
tidak tergantung padaku", jawab Pangeran

"Bagus! Gunakan kekuatanmu sesuai kemampuanmu. Lupakan apa yang di luar
kekuatanmu, apa yang engkau tak sanggup mengubahnya". Dan sang Pertapa
menghilang.

Tak lama kemudian, sang Pangeran tiba di Pintu kedua yang bertuliskan
"UBAHLAH SESAMAMU"
"Ini memang keinginanku" pikirnya. "Orang-orang di sekitarku adalah sumber
kesenangan, kebahagiaan, tetapi mereka juga yang mendatangkan derita,
kepahitan dan frustrasi"

Dan kemudian ia mencoba mengubah semua orang yang tak disukainya. Ia
mencoba
mengubah karakter mereka dan menghilangkan kelemahan mereka. Ini menjadi
pertarungannya yang kedua. Tahun-tahun berlalu, kembali ia bertemu
sang Pertapa.

"Apa yang engkau pelajari kali ini ?"
"Saya belajar, bahwa mereka bukanlah sumber dari kegembiraan atau
kedukaanku, keberhasilan atau kegagalanku. Mereka hanya memberikan
kesempatan agar hal-hal tsb dapat muncul. Sebenarnya di dalam diriku lah
segala hal tersebut berakar"
"Engkau benar" Kata sang Pertapa. "Apa yang mereka bangkitkan dari dirimu,
sebenarnya mereka mengenalkan engkau pada dirimu sendiri. Bersyukurlah pada
mereka yang telah membuatmu senang & bahagia dan bersyukur pula pada mereka
yang menyebabkan derita dan frustrasi. Karena melalui mereka lah, Kehidupan
mengajarkanmu apa yang perlu engkau kuasai dan jalan apa yang harus kau
tempuh". Kembali sang Pertapa menghilang.

Kini Pangeran sampai ke pintu ketiga "UBAHLAH DIRIMU"
"Jika memang diriku sendiri lah sumber dari segala problemku, memang di
sanalah aku harus mengubahnya" Ia berkata pada dirinya sendiri. Dan ia
memulai pertarungannya yang ketiga. Ia mencoba mengubah karakternya
sendiri,
melawan ketidak sempurnaannya, menghilangkan kelemahannya, mengubah segala
hal yg tak ia sukai dari dirinya, yang tak sesuai dengan gambaran ideal.
Setelah beberapa tahun berusaha, di mana sebagian ia berhasil dan sebagian
lagi gagal dan ada hambatan, Pangeran bertemu sang Pertapa kembali.

"Kini apa yang engkau pelajari ?"
"Aku belajar bahwa ada hal2 di dalam diriku yang bisa ditingkatkan dan ada
yang tidak bisa saya ubah"

"Itu bagus" ujar sang pertapa. "Ya" lanjut Pangeran, "tapi saya mulai lelah
untuk bertarung melawan dunia, melawan setiap orang dan melawan diri
sendiri. Tidakkah ada akhir dari semuai ini ? Kapan saya bisa tenang ? Saya
ingin berhenti bertarung, ingin menyerah, ingin meninggalkan semua ini!"
"Itu adalah pelajaranmu berikutnya", ujar Pertapa. "Tapi sebelum itu,
balikkan punggungmu dan lihatlah Jalan yang telah engkau tempuh". Dan ia
pun
menghilang.

Ketika melihat ke belakang, ia memandang Pintu Ketiga dari kejauhan dan
melihat adanya tulisan di bagian belakangnya yang berbunyi "TERIMALAH
DIRIMU".
Pangeran terkejut karena tidak melihat tulisan ini ketika melalui pintu
tsb.
"Ketika seorang mulai bertarung, maka ia mulai
menjadi buta", katanya pada dirinya sendiri.

Ia juga melihat, bertebaran di atas tanah, semua yang ia campakkan,
kekurangannya, bayangannya, ketakutannya. Ia mulai menyadari bagaimana
mengenali mereka, menerimanya dan mencintainya apa adanya. Ia belajar
mencintai dirinya sendiri dan tidak lagi membandingkan dirinya dengan orang
lain, tanpa mengadili, tanpa mencerca dirinya sendiri.

Ia bertemu sang Pertapa, dan berkata : "Aku belajar, bahwa membenci dan
menolak sebagian dari diriku sendiri sama saja dengan mengutuk untuk tidak
pernah berdamai dengan diri sendiri. Aku belajar untuk menerima diriku
seutuhnya, secara total dan tanpa syarat."

"Bagus, itu adalah Pintu Pertama Kebijaksanaan", ujar Pertapa. "Sekarang
engkau boleh kembali ke Pintu Kedua"

Segera ia mencapai Pintu Kedua, yang tertulis di sisi belakangnya
"TERIMALAH
SESAMAMU"
Ia bisa melihat orang2 di sekitarnya, mereka yang ia suka dan cintai, serta
mereka yang ia benci. Mereka yang mendukungnya, juga mereka yang
melawannya.

Tetapi yang mengherankannya, ia tidak lagi bisa melihat ketidaksempurnaan
mereka, kekurangan mereka. Apa yang sebelumnya membuat ia malu dan berusaha
mengubahnya.

Ia bertemu sang Pertapa kembali, "Aku belajar" ujarnya "Bahwa dengan
berdamai dengan diriku, aku tak punya sesuatupun untuk dipersalahkan pada
orang lain, tak sesuatupun yg perlu ditakutkan dari mereka. Aku belajar
untuk menerima dan mencintai mereka, apa adanya.

"Itu adalah Pintu Kedua Kebijaksanaan", ujar sang Pertapa, "Sekarang
pergilah ke Pintu Pertama"
Dan di belakang Pintu Pertama, ia melihat tulisan "TERIMALAH DUNIA"
"Sungguh aneh" ujarnya pada dirinya sendiri "Mengapa saya tidak melihatnya
sebelumnya".
Ia melihat sekitarnya dan mengenali dunia yang sebelumnya berusaha ia
taklukkan dan ia ubah. Sekarang ia terpesona dengan betapa cerah dan
indahnya dunia. Dengan kesempurnaannya.

Tetapi, ini adalah dunia yang sama, apakah memang dunia yang berubah atau
cara pandangnya ?
Kembali ia bertemu dengan sang Pertapa : "Apa yang engkau pelajari sekarang
?"
"Aku belajar bahwa dunia sebenarnya adalah cermin dari jiwaku. Bahwa Jiwaku
tidak melihat dunia melainkan melihat dirinya sendiri di dalam dunia.
Ketika
jiwaku senang, maka dunia pun menjadi tempat yang menyenangkan. Ketika
jiwaku muram, maka dunia pun kelihatannya muram.

Dunia sendiri tidaklah menyenangkan atau muram. Ia ADA, itu saja. Bukanlah
dunia yang membuatku terganggu, melainkan ide yang aku lihat mengenainya.
Aku belajar untuk menerimanya tanpa menghakimi, menerima seutuhnya, tanpa
syarat.

"Itu Pintu Ketiga Kebijaksanaan", ujar sang Pertapa.
"Sekarang engkau berdamai dengan dirimu, sesamamu dan dunia". Sang pertapa
pun menghilang.

Sang pangeran merasakan aliran yang menyejukkan dari kedamaian,
ketentraman,
yang berlimpah merasuki dirinya. Ia merasa hening dan damai.

Rabu, 27 Mei 2009

Angin telah menerbangkannya kemana-mana.

Angin telah menerbangkannya kemana-mana.

Ada sebuah ceritra rakyat abad kesembilan-belas yang mengisahkan tentang
seorang lelaki yang berkeliling sebuah kota kecil menyebarkan fitnah
terhadap orang bijak kota kecil itu.

Suatu hari, ia pergi ke rumah orang bijak itu untuk meminta maaf. Sang
bijak, menyadari kalau lelaki itu belum sepenuhnya sadar akan apa yang
sebetulnya telah diperbuatnya, memberitahunya bahwa ia hanya memaafkannya
atas satu syarat: pulang ke rumahnya, mengambil sebuah bantal bulu,
merobeknya, dan menebar bulu-bulu itu melalui tiupan angin. Setelah
melakukannya, ia boleh kembali ke rumah sang bijak itu.

Kendati merasa bingung akan permintaan aneh itu, si pemfitnah merasa senang
bisa menebus dosanya itu sedemikian mudah. Dengan tergesa-gesa ia memotong
dan merobek bantal itu, menebarnya kemana-mana dengan bantuan tiupan angin,
dan kembali lagi ke rumah sang bijak.
"Apakah saya sekarang dimaafkan?" tanyanya.
"Hanya satu syarat lagi," jawab sang bijak. "Sekarang, pergi dan
kumpulkanlah kembali semua bulu-bulu bantal itu."
"Itu tidak mungkin. Angin telah menerbangkannya kemana-mana."
"Persis," jawab sang bijak. "Kendati kamu benar-benar berniat memperbaiki
kejahatan yang telah kamu perbuat, tidaklah mungkin memperbaiki kembali
kerusakan yang kamu timbulkan melalui kata-katamu itu, semustahil
mengembalikan bulu-bulu bantal itu seperti sediakala. Kata-katamu itu
sekarang beredar di pasar, menebar kebencian, bahkan saat kita sedang
berbincang ini."

Sungguh menarik untuk diamati kalau kita, sebagai anak manusia, sedemikian
cepatnya mempercayai kejelekan yang dikatakan orang lain tentang seseorang,
sedemikian mudahnya menerima "berita-berita" yang terkandung dalam
bentuk-bentuk cetakan dan tabloid-tabloid televisi, serta sedemikian
siapnya
untuk beranggapan buruk terhadap perbuatan orang lain, dimana kita
menyangka
kalau tindakan jahat yang kita tebar tentang seseorang itu bukan berarti
apa-apa.

Lebih tidak masuk akal lagi adalah, kita tampaknya tidak bisa segera dan
dengan tegas menyadari fakta bahwa gosip yang kita bicarakan bisa -dan
memang sering- menimbulkan kerusakan signifikan terhadap seseorang.

~ Lori Palatnik dan Bob Burg.

Kebiasaan, makanan dan minuman yang dapat memicu diabetes.

Kebiasaan, makanan dan minuman yang dapat memicu diabetes.

Dalam hidup ini berlaku hukum "tabungan". Apa yang kita lakukan menjadi tabungan di masa mendatang. Apa yang kita tabung sedikit demi sedikit akan terasa hasilnya bertahun-tahun kemudian. Begitu pun dengan penyakit. Mulai dari segelas minuman favorit hingga suka menonton TV hingga larut. Siapa nyana kalau itu bisa meningkatkan risiko diabetes ?

1. Teh manis
Penjelasannya sederhana. Tingginya asupan gula menyebabkan kadar gula darah melonjak tinggi. Belum risiko kelebihan kalori. Segelas teh manis kira-kira mengandung 250-300 kalori (tergantung kepekatan). Kebutuhan kalori wanita dewasa rata-rata adalah 1.900 kalori per hari (tergantung aktivitas). Dari teh manis saja kita sudah dapat 1.000-1.200 kalori. Belum ditambah tiga kali makan nasi beserta lauk pauk. Patut diduga kalau setiap hari kita kelebihan kalori. Ujungnya : obesitas dan diabetes.

Pengganti : Air putih, teh tanpa gula, atau batasi konsumsi gula tidak lebih dari dua sendok teh sehari.

2. Makanan Gorengan
Karena bentuknya kecil, satu gorengan tidak cukup buat kita. Padahal gorengan adalah salah satu faktor risiko tinggi pemicu penyakit degeneratif, seperti kardiovaskular, diabetes melitus, dan stroke. Penyebab utama penyakit kardiovaskular (PKV) adalah adanya penyumbatan pembuluh darah koroner, dengan salah satu faktor risiko utamanya adalah dislipidemia. Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida, serta penurunan kadar HDL (kolesterol baik) dalam darah. Meningkatnya proporsi dislipidemia di masyarakat disebabkan kebiasaan mengonsumsi berbagai makanan rendah serat dan tinggi lemak, termasuk gorengan.

Pengganti : Kacang Jepang, atau pie buah.

3. Suka ngemil
Kita mengira dengan membatasi makan siang atau malam bisa menghindarkan diri dari obesitas dan diabetes. Karena belum kenyang, perut diisi dengan sepotong atau dua potong camilan seperti biskuit dan keripik kentang. Padahal, biskuit, keripik kentang, dan kue-kue manis lainnya mengandung hidrat arang tinggi tanpa kandungan serta pangan yang memadai. Semua makanan itu digolongkan dalam makanan dengan glikemik indeks tinggi. Sementara itu, gula dan tepung yang terkandung di dalamnya mempunyai peranan dalam menaikkan kadar gula dalam darah.

Pengganti : Buah potong segar.

4. Kurang tidur.
Jika kualitas tidur tidak didapat, metabolisme jadi terganggu. Hasil riset para ahli dari University of Chicago mengungkapkan, kurang tidur selama 3 hari mengakibatkan kemampuan tubuh memproses glukosa menurun drastis. Artinya, risiko diabetes meningkat. Kurang tidur juga dapat merangsang sejenis hormon dalam darah yang memicu nafsu makan. Didorong rasa lapar, penderita gangguan tidur terpicu menyantap makanan berkalori tinggi yang membuat kadar gula darah naik.

Solusi : Tidur tidak kurang dari 6 jam sehari, atau sebaiknya 8 jam sehari.

5. Malas beraktivitas fisik
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kasus diabetes di negara-negara Asia akan naik hingga 90 persen dalam 20 tahun ke depan. "Dalam 10 tahun belakangan, jumlah penderita diabetes di Hanoi, Vietnam, berlipat ganda. Sebabnya ? Di kota ini, masyarakatnya lebih memilih naik motor dibanding bersepeda," kata Dr Gauden Galea, Penasihat WHO untuk Penyakit Tidak Menular di Kawasan Pasifik Barat. Kesimpulannya, mereka yang sedikit aktivitas fisik memiliki risiko obesitas lebih tinggi dibanding mereka yang rajin bersepeda, jalan kaki, atau aktivitas lainnya.

Solusi : Bersepeda ke kantor.

6. Sering stres
Stres sama seperti banjir, harus dialirkan agar tidak terjadi banjir besar. Saat stres datang, tubuh akan meningkatkan produksi hormon epinephrine dan kortisol supaya gula darah naik dan ada cadangan energi untuk beraktivitas. Tubuh kita memang dirancang sedemikian rupa untuk maksud yang baik. Namun, kalau gula darah terus dipicu tinggi karena stres berkepanjangan tanpa jalan keluar, sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan.

Solusi : Bicaralah pada orang yang dianggap bermasalah, atau ceritakan pada sahabat terdekat.

7. Kecanduan rokok
Sebuah penelitian di Amerika yang melibatkan 4.572 relawan pria dan wanita menemukan bahwa risiko perokok aktif terhadap diabetes naik sebesar 22 persen. Disebutkan pula bahwa naiknya risiko tidak cuma disebabkan oleh rokok, tetapi kombinasi berbagai gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan dan olahraga.

Pengganti : Permen bebas gula. Cara yang lebih progresif adalah mengikuti hipnoterapi. Pilihlah ahli hipnoterapi yang sudah berpengalaman dan bersertifikat resmi..

8. Menggunakan pil kontrasepsi
Kebanyakan pil kontrasepsi terbuat dari kombinasi hormon estrogen dan progestin, atau progestin saja. Pil kombinasi sering menyebabkan perubahan kadar gula darah. Menurut dr Dyah Purnamasari S, Sp PD, dari Divisi Metabolik Endokrinologi RSCM, kerja hormon pil kontrasepsi berlawanan dengan kerja insulin. Karena kerja insulin dilawan, pankreas dipaksa bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin. Jika terlalu lama dibiarkan, pankreas menjadi letih dan tidak berfungsi dengan baik.

Solusi : Batasi waktu penggunaan pil-pil hormonal, jangan lebih dari 5 tahun.

9. Takut kulit jadi hitam
Menurut jurnal Diabetes Care, wanita dengan asupan tinggi vitamin D dan kalsium berisiko paling rendah terkena diabetes tipe 2. Selain dari makanan, sumber vitamin D terbaik ada di sinar matahari. Dua puluh menit paparan sinar matahari pagi sudah mencukupi kebutuhan vitamin D selama tiga hari. Beberapa penelitian terbaru, di antaranya yang diterbitkan oleh American Journal of Epidemiology, menyebutkan bahwa vitamin D juga membantu keteraturan metabolisme tubuh, termasuk gula darah.

Solusi : Gunakan krim tabir surya sebelum "berjemur" di bawah sinar matahari pagi selama 10-15 menit.

10. Keranjingan soda
Dari penelitian yang dilakukan oleh The Nurses' Health Study II terhadap 51.603 wanita usia 22-44 tahun, ditemukan bahwa peningkatan konsumsi minuman bersoda membuat berat badan dan risiko diabetes melambung tinggi. Para peneliti mengatakan, kenaikan risiko itu terjadi karena kandungan pemanis yang ada dalam minuman bersoda. Selain itu, asupan kalori cair tidak membuat kita kenyang sehingga terdorong untuk minum lebih banyak.

Pengganti : Jus dingin tanpa gula.*

Sumber : Prevention

Selasa, 26 Mei 2009

Citra Manusia Bermotivasi Superior

Citra Manusia Bermotivasi Superior   

Sejarah dunia selalu diperindah dengan kiprah para tokoh yang
mengagumkan hati kita. Mereka bahkan membuat sejarah itu sendiri;
menancapkan tonggak-tonggak penting dan meninggalkan jejak-jejak
besar yang secara bersama membentuk apa yang kita sebut sebagai
sejarah. Merekalah yang saya sebut sebagai para figur bermotivasi
superior, jago-jago dunia, para maestro, para empu, para world-class
achiever yang mencetak prestasi-prestasi unggul.

Mengapa mereka mampu berkarya secara luar biasa? Buat sementara saya
katakan karena mereka mampu memberdayakan Roh Keberhasilan dalam diri
mereka, sehingga menjadi sebuah motivasi superior dalam bekerja,
mencipta, dan menggubah. Hasilnya memang ajaib. Karena mereka kita
kemudian mengenal Borobudur dan Taj Mahal, Mobil dan Kapal, Komputer
dan Supermal, Sosrobahu dan Toko Virtual, serta banyak lagi. Jumlah
tokoh-tokoh itu ada ribuan banyaknya. Dan tokoh-tokoh berikut ini
sekadar pengingat saja.

Julius Caesar. Kaisar Romawi paling akbar ini memiliki motivasi agung
untuk berhasil dan memantapkan tekad menang dalam diri pasukannya
dengan menghancurkan kemungkinan gagal itu sendiri. Ia memang selalu
menang. Dan gaya menang ala Romawi ini dikristalkannya dengan sebuah
motto yang sampai kini dipakai orang: "Veni, Vidi, Vici" (Aku Datang,
Aku Lihat, Aku Menang).

Alkisah, pada suatu ketika armada laut yang dipimpinnya bermaksud
menaklukkan wilayah yang sekarang dikenal sebagai Inggris. Begitu
mendarat di pantai Inggris, Caesar langsung memimpin suatu upacara
pantai yang mencekam dengan membakar semua kapal yang mereka
tumpangi. Tindakan ini adalah sebuah dramatisasi dari kenyataan
perang, yaitu bahwa mereka tak akan bisa pulang dengan selamat
kecuali menang. Julius Caesar tahu betul psikologi orang yang pergi
berperang: yaitu adanya harapan tersembunyi, bahwa jika yang terburuk
terjadi, masih ada jalur mundur cari selamat. Akan tetapi, justru
harapan inilah yang dimusnahkan Caesar. Artinya, pulang selamat hanya
bisa diperoleh melalui kemenangan. Dengan itu terciptalah kondisi
mental untuk "harus menang" dengan menuntaskan tugas dan menunaikan
misi dengan harga sebesar apa pun juga. Meminjam istilah Denis
Waitley, terbitlah "the psychology of winning" dalam hati setiap
prajurit. Kini kita ketahui, inilah prasyarat bagi setiap kemenangan.

Helen Keller. Buta dan tuli total, Helen Keller berhasil menjadi
penulis dan dosen terkenal. Dia tidak meratapi nasib dan menangisi
kelemahannya sebagai orang cacat. Akan tetapi dia bekerja ekstra
keras, belajar secara spartan sehingga akhirnya lulus dengan predikit
cum laude dari Radcliffe College.

Martin Luther King. Demi idealismenya yang agung dalam persamaan hak-
hak sipil, ia bersedia masuk penjara dan berjalan kaki ribuan
kilometer dalam long marchnya menuju Washington, DC. Di sanalah ia
menyampaikan pidatonya I Have A Dream yang terkenal itu dan
mengakhiri segregasi kulit hitam dan putih di Amerika Serikat. Untuk
jasanya ia dianugerahi hadiah nobel bidang perdamaian pada tahun
1964.

Bill Gates. Inilah tokoh sukses yang mampu mencapai status manusia
terkaya di bumi pada usia 39 tahun. Kekayaannya tidak diperoleh
sebagai warisan atau hasil KKN, melainkan kreasi dan inovasi
intelektual dalam bidang perangkat lunak komputer. Dilaporkan dalam
biografinya, bahwa ia mampu tidak tidur berhari-hari untuk
menyelesaikan sebuah proyek. Ia tahan tidak keluar dari kamar
kerjanya seminggu penuh dengan hanya ditemani oleh McDonald, CocaCola
dan komputernya.

Utut Adianto. Dialah Super Grandmaster pertama Indonesia yang mampu
menembus elo rating 2.600 untuk menyejajarkan dirinya dengan
segelintir pecatur top dunia lainnya. Untuk memperoleh posisi itu,
Utut berlatih sangat keras. Tak segan-segan ia berguru kepada pecatur
top negeri Balkan maupun Amerika. Meskipun dunia catur di Indonesia
tidak menjanjikan penghasilan yang layak, namun ia berani melepaskan
kariernya di sebuah perusahaan hanya untuk 100 persen menekuni catur.
Akhirnya perjuangannya membawa hasil. Dengan posisi Super GM itu,
undangan bertanding selalu datang dari seluruh penjuru dunia.

Selanjutnya, dunia masih selalu membutuhkan lebih banyak orang yang
mampu berkarya dengan roh yang kuat, dengan motivasi yang besar.
Termasuk pada tingkat organisasional, dibutuhkan karyawan yang
memiliki motivasi kerja superior. Setiap manajer dan eksekutif ?
pimpinan pada umumnya ? tahu benar bahwa karyawan bermotivasi
superior merupakan aset sejati. Sedangkan karyawan bermotivasi rendah
adalah sumber masalah dan penyakit. Ia membuat pusing rekan
sekerjanya, bikin susah atasannya, bikin marah pelanggannya.

Mengapa orang bermotivasi superior merupakan aset? Setidaknya karena
sepuluh citra berikut:

Pertama, orang bermotivasi superior adalah bagian dari penyelesaian
masalah, andalan bagi upaya mengejar prestasi; sedangkan orang
bermotivasi rendah adalah bagian dari masalah, tidak bisa diandalkan
untuk proyek-proyek rintisan karena sikap mentalnya didominasi oleh
pikiran "apa untungnya buat aku?"

Kedua, orang bermotivasi superior bekerja dengan semangat I am doing
my best ? my utmost ? sehingga kualitas kerjanya tinggi. Artinya,
nilai tambah dirinya tinggi. Tetapi orang bermotivasi rendah bekerja
seadanya, ala kadarnya, minimalis. Pekerjaannya tidak bermutu. Nilai
tambahnya rendah.

Ketiga, orang bermotivasi superior memiliki disiplin tinggi, sehingga
ia bisa menjadi contoh bagi orang lain. Ia bersemangat, menularkan
antusiasme kepada sekitarnya. Tetapi orang bermotivasi rendah
bersikap seenaknya, lesu darah, malas, dan gemar mencari kambing
hitam bila pekerjaannya tidak selesai. Ia juga suka beredar dan
menebarkan virus beracun dengan kebiasaan 5-ng (ngeluh, ngedumel,
ngegossip, ngomel, ngeyel).

Keempat, orang bermotivasi superior gigih menghadapi masalah, kreatif
memecahkan problem, dan jeli melihat peluang dalam setiap kesulitan.
Tetapi orang bermotivasi rendah gampang menyerah, tidak kreatif, dan
selalu melihat kesulitan dalam setiap peluang.

Kelima, orang bermotivasi superior cepat maju karirnya karena ia
rajin belajar, gemar berguru, dan senang mengasah kemampuan dirinya.
Tetapi orang bermotivasi rendah lambat majunya karena ia malas
belajar, ogah berguru dan segan memperbarui keterampilan. Ia
tergantung pada orang lain sehingga malah jadi beban bagi
pimpinannya.

Keenam, orang bermotivasi superior masuk kantor lebih awal dan pulang
lebih sore sampai tugasnya tuntas. Produktivitasnya tinggi. Tetapi
orang bermotivasi rendah suka datang terlambat, suka curi-curi waktu,
tidak sabar menunggu usai jam kantor, dan sangat senang jika ada hari
kejepit.

Ketujuh, orang bermotivasi superior punya sense of belonging yang
besar; ia turut memelihara, merawat dan membesarkan perusahaan dengan
sikap menyayangi. Tetapi orang bermotivasi rendah tidak peduli pada
organisasinya, miskin sense of belonging dan memperlakukan
perusahaannya sebagai sapi perahan.

Kedelapan, orang bermotivasi superior tidak memerlukan pengawasan. Ia
dapat bekerja mandiri sehingga energi dan waktu pemimpin dapat
digunakan untuk hal lain yang lebih penting. Tetapi orang motivasi
rendah bagaikan "kuda liar" yang senantiasa memerlukan pengawasan,
tali-les-dan-kekang. Waktu atasan banyak habis untuk mengawasi
mereka.

Kesembilan, orang bermotivasi superior, hatinya dipenuhi oleh emosi
gembira, semangat dan suka cita. Loyalitasnya tulus. Tetapi orang
bermotivasi rendah tidak pernah puas. Ia selalu resah. Setiap hari
rajin membaca iklan lowongan kerja. Loyalitasnya cuma sebatas ada
kesempatan baru di tempat lain. Ia siap meloncat setiap saat jika
keadaan sudah dinilainya menguntungkan.

Terakhir, orang bermotivasi superior dapat berkonsentrasi pada pe-
kerjaannya sehingga hasil kerjanya bermutu dan produktif. Tetapi
orang bermotivasi rendah gampang kejangkitan isu, takut pada banyak
hal, cepat merasa bosan, dan suka berpikir negatif.

Jadi secara umum, pentinglah bagi siapa saja untuk tahu bagaimana
memotivasi diri sendiri, memotivasi orang lain, bahkan memberdayakan
seluruh eselon organisasi dalam rangka meraih prestasi dan
keunggulan.

Sumber: Citra Manusia Bermotivasi Superior oleh Jansen H Sinamo,
Direktur Jansen Sinamo WorkEthos Training Center.

Senin, 25 Mei 2009

Apa yang Paling Penting dalam Perkawinan?

Apa yang Paling Penting dalam Perkawinan?
--Anwar Holid

Suatu hari, aku pernah tanya seorang kawan: apa yang paling penting
dalam perkawinan ? Dia jawab: kebersamaan. Entah kenapa, aku langsung
tertawa mendengar jawaban itu.
"Memang, menurut kamu apa ?" balas dia.
"Menurutku, penghasilan, mendapatkan nafkah"

Entah kenapa aku cukup yakin dengan jawaban itu. Boleh jadi dalam
bayanganku waktu itu ialah aku teringat acara fauna di televisi. Acara
itu menayangkan seekor serigala jantan membawa mangsa untuk keluarganya.
Mangsa itu dia cengkeram kuat-kuat dengan mulutnya, lantas dia
persembahkan pada anak-anak dan pasangannya. Setelah itu dia
memperhatikan mereka berebut makanan yang dia bawa. Terdengar narasi:
Pasangan dan anak-anak serigala itu senang bahwa dia pulang dengan
selamat; tapi ia tahu mereka jauh lebih mengharapkan makanan yang dia
bawa daripada kehadiran dirinya sendiri.

Terdengar ironik ?

Meskipun cukup yakin bahwa yang paling penting dalam perkawinan ialah
penghasilan, aku pada dasarnya sulit memutlakkan jawaban itu. Boleh jadi
sebagian orang akan bilang bahwa yang paling penting dalam perkawinan
itu ialah cinta, kasih sayang. Ha.. ha.., dalam rumah tangga kasih sayang
menurutku sudah jadi terlalu basi. Cinta dan kasih sayang sudah harus
selesai sejak jauh-jauh hari sebelum pasangan menikah dan membangun
rumah tangga. Tanpa itu, rumah tangga dan perkawinan berarti sia-sia.

Dulu, rasanya heroik dan menakjubkan kalau kita mendengar bahwa ada
orang yang bisa hidup dengan cinta. Bisakah orang hidup dengan cinta ?
Nggak. Orang hanya bisa hidup dengan makanan. Tapi entah kenapa kita kok
merasa agak yakin bahwa cinta bisa menyelesaikan segala-galanya. Boleh
jadi memang begitu, sebenarnya, terutama orang yang terbutakan oleh
cinta. Perhatikanlah perceraian suami-istri atau perpisahan sepasang
kekasih, terlebih bila perpisahan itu disertai keributan, termasuk
sekalian dengan kekerasan dan kemarahan yang kadang-kadang terlalu sulit
dipadamkan. Kalau kita menyaksikan hal seperti itu, entahlah ada di mana
cinta yang pernah tumbuh di dalam diri mereka berdua itu. Cinta jadi
terasa sebagai omong kosong. Dari perceraian, ribut-ribut, cekcok, dan
pertengkaran, kita tahu bahwa cinta adakalanya gagal berfungsi untuk
menyelesaikan segala-galanya, dan yang tersisa hanyalah rasa sebal,
jengkel, atau kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan.

Di dalam perkawinan, cinta melebur ke dalam segala sesuatu, hingga ia
menyelimuti atau membentengi kehidupan pasangan; tapi karena itu pula ia
menjadi gaib, dan kadang kala bila sedang diperlukan ternyata ia tak
segera menampakkan diri. Akibatnya, pasangan jadi kehilangan kesabaran
dan menuduh dia tak lagi punya cinta. Perhatikanlah konsultasi
perkawinan di media massa. Dari sana kita belajar bahwa persoalan
perkawinan bisa diakibatkan hal yang sangat sederhana (misalnya
kebiasaan pasangan yang ternyata lama-lama sulit diterima) maupun hal
yang berat (misalnya pasangan melakukan tindak kriminal, selingkuh,
berbohong, berubah orientasi seksual, atau sakit jiwa.) Kita tahu dalam
perkawinan bobot masalah "sederhana" dan "berat" ternyata sama saja.
Masalah adalah masalah, dan ia harus diperhatikan, sebab kalau tidak
akibatnya bisa fatal.

Begitu juga dengan penghasilan. Bisakah Anda mencari contoh pasangan
yang kehidupan perkawinannya baik-baik saja meski tanpa penghasilan atau
tak punya nafkah ? Mungkin itu akan bisa mematahkan pendapat awal. Tapi
mungkin sedikit lain soalnya bila pasangan itu punya warisan atau diberi
kekayaan yang terus tersedia cukup meskipun dia sekadar menghabiskan dan
tak perlu kerja. Tapi dengan perilaku begitu pun bisa jadi pasangannya
mengeluh, sebab kerjanya hanya "menghabiskan harta orangtua" dan
terkesan malas-malasan. Boleh jadi pasangan tanpa mata pencaharian itu
merupakan aib. Bayangkanlah Anda melamar seorang gadis dalam keadaan
nganggur atau bila suatu hari yang akan datang anak gadis Anda dipinang
pemuda pengangguran. Beranikah Anda mengizinkan anak gadis Anda kepada
pemuda itu ? Sehina apa pun pekerjaan Anda, Anda menolak bila mereka
meremehkan pekerjaan Anda. Pekerjaan itu sesuatu yang mulia.

Demi penghasilan, sepasang suami-istri rela berpisah, mau menjalani jadi
weekend husband/wife, atau bahkan merantau ke luar negeri. Dulu, aku
sendiri pernah menjadi seorang weekend husband. Bila weekend
husband/wife sudah dianggap lazim dalam kehidupan modern, kini tanyalah
pasangan yang hanya ketemu sebulan sekali, tiga bulan sekali, atau
bahkan setahun sekali. Jelas karena tidak mengalami, rasanya aku sulit
berempati kepada pasangan yang hanya ketemu sebulan, tiga bulan, atau
setahun sekali. Buat apa dong mereka dulu memutuskan menikah ? Bukankah
mereka menikah untuk "bersatu", berdekat-dekatan ? Wajarkah pasangan
mengorbankan kebersamaan demi mendapat nafkah, meskipun aku menyatakan
penghasilan merupakan hal paling penting dalam perkawinan? Rasanya
absurd. Tapi sekali lagi, bayangkanlah bila tanpa itu semua mereka tak
punya penghasilan, atau itulah satu-satunya cara mereka mendapat nafkah.
Kalau sudah begitu, apa boleh buat. Kita hanya bisa maklum dan
ikut berdoa supaya mereka selamat. Daripada bersatu tanpa penghasilan ?

Orang menempuh berbagai mode untuk mendapat nafkah. Ada yang normal dan
abnormal. Ada kalanya seseorang tak tahu persis apa pekerjaan
pasangannya; tapi selama ada penghasilan, aku berani bertaruh itu akan
baik-baik saja. Tanyalah pada istri para kriminal, koruptor, atau
pembunuh bayaran. Mereka tentu bakal terkejut bila dibenturkan pada
fakta bahwa nafkah yang selama ini mereka terima ternyata hasil dari
kejahatan atau uang haram, lantas mereka bersikap tak mau tahu atau
malah ingin cuci tangan secepatnya. Tapi selama tak tahu, mereka akan
baik-baik saja, dan yakin sebagaimana pasangan normal lain, nafkah itu
berasal dari cara yang baik.

Bila menyangkut penghasilan, orang bisa begitu emosional dan irasional.
Kita sulit mengira-ngira sampai sejauh apa orang merasa bangga,
baik-baik saja, terpaksa, atau rela menjalani profesinya. Boleh jadi
orang bangga dengan profesi sebagai pembunuh bayaran. Siapa tahu.
Bintang porno di AS bangga kok dengan profesinya. Apa sebab ? Karena
mereka juga bayar pajak, berpartisipasi dalam pembangunan sosial. Itu
mulia. Kita yang tak mengalami mungkin bisa menertawakan atau menganggap
hina kerja sebagai bandar judi, pembuat narkoba, direktur klub malam,
tukang sampah, mucikari, atau bandar narkoba. Tapi kalau penghasilannya
melimpah ruah, Anda mau apa ? Pendapatan itu nyata. Lihatlah di jalanan,
lihatlah di tempat kerja, di lapangan. Begitu menyangkut pendapatan,
nyawa taruhannya. Kadang-kadang orang masih merasa kurang dengan sekadar
mengandalkan kekuatan fisik. Perhatikanlah cara kerja debt collector
atau tukang sita.

Pasangan pengangguran tentu sulit diterima. Jangankan penganggur,
pasangan dengan penghasilan setara, tampak kurang motivasi, atau kurang
berkenan saja bisa bermasalah. Dunia adalah tempat yang sulit dan keras.
Nggak ada tempat buat pemalas, atau kalau tidak berubahlah jadi orang
ikhlas, yang bisa bersyukur dan menerima segala keadaan. Kita dituntut
menghasilkan nafkah dengan memanfaatkan segala kemampuan dan kesempatan
yang memungkinkan. Dengan itulah kita memelihara perkawinan,
kebersamaan, menjalankan roda kehidupan, memastikan bahwa dua puluh
empat ke depan---atau beberapa tahun ke depan---keadaan cukup bisa
dipastikan kesejahteraannya.

Tapi kenapa pasangan dengan nafkah berkecukupan pun kehidupan perkawinan
mereka bisa hancur-hancuran ? Tentu ada faktor lain entah apa lagi. Aku
juga bukan ahli perkawinan. Itu menunjukkan walaubagaimanapun
penghasilan ternyata bukan satu-satunya faktor paling penting dalam
perkawinan. Jadi apa dong ?

Kamis, 21 Mei 2009

Rumahku di Sorga

~Rumahku di Sorga~

Berada di sekitar orang-orang terkasih, mungkin
merupakan suatu momen yang paling membahagiakan. Kita
merasa aman, tenteram, nyaman, lega, merasa cukup, dan
penuh canda-ria dan suka-cita. Itu hanyalah sebagian
kecil kata saja untuk menggambarkan rasa dari momen
yang nyaris tiada terkatakan itu. Kalaupun momen itu
kita anggap sebagai suatu tempat, maka tempat itulah
yang sekiranya paling layak untuk kita sebut sebagai
"rumah kita"; ke tempat yang paling kita rindukan
inilah kita ingin kembali "pulang" setelah sekian lama
berkelana.

"Rumah kita" tidaklah mesti di suatu tempat tertentu,
dengan bangunan berarsitek tertentu, luas areal
tertentu serta dengan spesifikasi-spesifikasi fisikal
tertentu lainnya. Ia bisa dimana saja, dengan kondisi
fisikal yang bagaimana saja, asalkan bisa memberi
suasana mental-psikologis seperti itu. Dimana saja dan
kapan saja Anda bisa merasakan kwalitas mental itu,
Anda sudah ada di "rumah". Dan segera setelah kwalitas
itu sirna dari tataran mental Anda, walaupun Anda
masih di tempat yang sama, maka Anda sudah tidak di
"rumah" lagi, Anda telah terhempas keluar —apapun yang
menyebabkannya.

Coba ingat-ingat lagi —Kapan dan dimana Anda pernah
merasakan itu? Umumnya suasana penuh bahagia itu kita
rasakan semasih balita bukan? Tak peduli dimanapun
kita bertempat-tinggal masa-masa itu, kita selalu ada
di sekitar orang-orang terkasih —yang mengasihi dan
menyayangi kita, yang selalu siap mengulurkan tangan
bantuan dan perlindungannya kepada kita. Kalaupun ada
masa-masa dimana kita ada di dan merasakan "sorga" itu
di dalam kehidupan ini, maka masa-masa balita-lah masa
itu.

Menyadari semua ini, jangan renggut "sorga" putra-putri
kita dengan mengobarkan api neraka di rumah —melalui
pertengkaran, perselisihan, apalagi perceraian. Bahkan
bila perlu dan ada kemampuan untuk itu,
bagi-bagikanlah "sorga" yang serupa kepada anak-anak
malang yang tak terhitung banyaknya di sekitar kita.
Seberapa kecilpun kemampuan material kita untuk itu,
kalau kita punya kepedulian, punya rasa simpati dan
welas-asih di hati ini, kita bisa senantiasa
menebarkan "sorga" ke sekeliling kita, kita bisa
selalu ada di "rumah" dimanapun kita berada. Dan kalau
memang demikian adanya, Anda sesungguhnya adalah
"makhluk sorga", "utusan sorga" yang diturunkan ke
muka bumi ini.

Bali, 26 Nopember 2005.
Ngestoe Rahardjo

Senin, 18 Mei 2009

Buku harian ayah

*BUKU HARIAN AYAH*

*Ayah dan ibu telah menikah lebih dari 30 tahun, saya sama sekali tidak
pernah melihat mereka bertengkar.*

*Di dalam hati saya, perkawinan ayah dan ibu ini selalu menjadi teladan bagi
saya, juga selalu berusaha keras agar diri saya bisa menjadi seorang pria
yang baik, seorang suami yang baik seperti ayah saya. Namun harapan
tinggallah harapan, sementara penerapannya sangatlah sulit.*

*Tak lama setelah menikah, saya dan istri mulai sering bertengkar hanya
akibat hal-hal kecil dalam rumah tangga. Malam minggu saya pulang ke kampung
halaman, saya tidak kuasa menahan diri hingga menuturkan segala keluhan
tersebut pada ayah.*

*Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ayah mendengarkan segala keluhan saya,
dan setelah beliau berdiri dan masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, ayah
mengusung keluar belasan buku catatan dan ditumpuknya begitu saja di hadapan
saya. Sebagian besar buku tersebut halamannya telah menguning, kelihatannya
buku-buku tersebut telah disimpan selama puluhan tahun.

Ayah saya tidak banyak mengenyam pendidikan, apa bisa beliau menulis buku
harian? Dengan penuh rasa ingin tahu saya mengambil salah satu dari
buku-buku itu. Tulisannya memang adalah tulisan tangan ayah, agak miring dan
sangat aneh sekali, ada yang sangat jelas, ada juga yang semrawut, bahkan
ada yang tulisannya sampai menembus beberapa halaman kertas. Saya segera
tertarik dengan hal tersebut, mulailah saya baca dengan seksama halaman demi
halaman isi buku itu..

Semuanya merupakan catatan hal-hal sepele, "Suhu udara mulai berubah menjadi
dingin, ia sudah mulai merajut baju wol untuk saya."

"Anak-anak terlalu berisik, untung ada dia."

Sedikit demi sedikit tercatat, semua itu adalah catatan mengenai berbagai
macam kebaikan dan cinta ibu kepada ayah, mengenai cinta ibu terhadap
anak-anak dan terhadap keluarga ini. Dalam sekejap saya sudah membaca habis
beberapa buku, arus hangat mengalir di dalam hati saya, mata saya berlinang
air mata. Saya mengangkat kepala, dengan penuh rasa haru saya berkata pada
ayah "Ayah, saya sangat mengagumi ayah dan ibu."

Ayah menggelengkan kepalanyadan berkata, "Tidak perlu kagum, kamu juga
bisa."

Ayah berkata lagi, "Menjadi suami istri selama puluhan tahun lamanya, tidak
mungkin sama sekali tidak terjadi pertengkaran dan benturan?

Intinya adalah harus bisa belajar untuk saling pengertian dan toleran.
Setiap orang memiliki masa emosional, ibumu terkadang kalau sedang kesal,
juga suka mencari gara-gara, melampiaskan kemarahannya pada ayah, mengomel.
Waktu itu saya bersembunyi di depan rumah, di dalam buku catatan saya
tuliskan segala hal yang telah ibumu lakukan demi rumah tangga ini. Sering
kali dalam hati saya penuh dengan amarah waktu menulis kertasnya sobek
akibat tembus oleh pena. Tapi saya masih saja terus menulis satu demi satu
kebaikannya, saya renungkan bolak balik dan akhirnya emosinya juga tidak ada
lagi, yang tinggal semuanya adalah kebaikan dari ibumu."

Dengan terpesona saya mendengarkannya. Lalu saya bertanya pada ayah, "Ayah,
apakah ibuku pernah melihat catatan-catatan ini?"

Ayah hanya tertawa dan berkata, "Ibumu juga memiliki buku catatan. Dalam
buku catatannya itu semua isinya adalah tentang kebaikan diriku. Kadang kala
di malam hari, menjelang tidur, kami saling bertukar buku catatan, dan
saling menertawakan pihak lain. ha. ha. ha."

Memandang wajah ayah yang dipenuhi senyuman dan setumpuk buku catatan yang
berada di atas meja, tiba-tiba saya sadar akan rahasia dari suatu pernikahan
:*

*

**"Cinta itu sebenarnya sangat sederhana…ingat dan catat kebaikan dari orang
lain…Lupakan segala kesalahan dari pihak lain."*



Selasa, 12 Mei 2009

A MOUNTAIN TOP VIEW

A MOUNTAIN TOP VIEW

A police car pulled up in front of an older woman's house, and her
husband climbed out. The polite policeman explained that "this elderly
gentleman" said that he was lost in the park and couldn't find his way
home.

"How could it happen?" asked his wife. "You've been going to that park
for over 30 years! How could you get lost?"

Leaning close to her ear so that the policeman couldn't hear, he
whispered, "I wasn't lost - I was just too tired to walk home."

These bodies become less cooperative as we age. For some, work becomes
less fun and fun becomes more work. One older friend commented, "I've
reached the age where the warranty has expired on my remaining teeth
and internal organs."

But I like the spirit of Charles Marowitz. "Old age is like climbing a
mountain," he says. "The higher you get, the more tired and breathless
you become. But your view becomes much more extensive."

Atop the mountain, one has a better view of the world. One can see
above the differences that divide people. One can better see beyond
petty hurts and human fragility. Atop the mountain, one has a longer
view of the past and can therefore understand the future with more
clarity. Atop the mountain, one looks down on dark clouds of gloom and
despair and fear and notices that they are neither as large nor as
ominous as those beneath them would believe. It is also clearer that
however dark they may appear, they too, are fleeting and will someday
pass.

George Bernard Shaw said, "Some are younger at seventy than most at
seventeen." I think it is because they have a broader outlook.

It will take a lifetime to climb the mountain, but, for me, the view
will be worth the journey.

-- Steve Goodier

Kamis, 07 Mei 2009

Perjalanan Ke Dalam Hati

Perjalanan Ke Dalam Hati

Hati adalah tempat bertanya. Hati adalah cermin. Apa yang kita lakukan
terus-menerus akan berpengaruh dan berbekas pada hati. Hal-hal terpuji akan
membuat hati mengkilap dan cemerlang. Sementara hal-hal tercela akan
membentuk asap hitam kelam yang menumpuk sedikit demi sedikit dan membuat
hati menjadi gelap-gulita.

Lama-lama hati yang gelap akan menebal dan terkunci. Ini menghalangi kita
melihat kebenaran. Karena itu kita perlu membersihkan hati kita dari
benih-benih penyakit hati. Ada tiga penyakit yang paling sering
menghinggapi
hati kita. Ini juga adalah tiga dosa paling awal sejak keberadaan manusia.

Pertama, sombong dan arogan. Ini adalah penyakit iblis yang menolak ketika
diperintahkan bersujud pada Adam. ''Ia diciptakan dari tanah, sedangkan aku
dari api,'' ujar Iblis. Ini sikap rasialis seperti yang ditunjukkan oleh
Hitler maupun rezim Apharteid di Afrika Selatan.

Tanpa sadar kita pun sering merasa lebih mulia dari orang lain semata-mata
karena faktor SARA. Penyakit sombong sering muncul dalam bentuk merasa
lebih
penting, lebih tahu, lebih benar, dan lebih taat, dari orang lain. Perasaan
paling tahu dan paling benar membuat kita menutup telinga. Kita tak merasa
perlu mendengarkan orang lain. Kita justru sibuk memaksakan ''agenda'' kita
pada orang lain.

Akar dari sombong adalah kebiasaan membanding-bandingkan diri kita
(comparing) dengan orang lain. Membanding-bandingkan akan membuat kita
terombang-ambing. Kita merasa super kalau berhadapan dengan orang yang ada
di bawah kita, tapi ironisnya kita akan merasa rendah diri di saat yang
sebaliknya. Padahal satu-satunya perbandingan yang baik adalah
membandingkan
diri Anda terhadap potensi Anda sendiri.

Kedua, serakah. Ini penyakit Adam yang tetap memakan pohon yang dilarang
Tuhan. Padahal ada berjuta-juta pohon yang disediakan dan hanya satu pohon
itu yang dilarang.

Akar serakah adalah scarcity mentality (mentalitas kelangkaan), yaitu
perasaan bahwa segala sesuatu sangat terbatas, sehingga berprinsip 'Saya
akan mengambil bagian saya dulu sebelum kehabisan.'

Orang serakah menganggap dunia seperti sepotong kue. ''Kalau Anda
mendapatkan potongan besar, sisanya tinggal sedikit untuk saya.'' Karena
itu, saya akan mengambilnya dulu. Semua persoalan yang kita hadapi di
negara
ini, baik KKN, upah minimum yang tak cukup untuk hidup layak, atau
persoalan
tarik-ulur otonomi daerah, sebenarnya berakar dari keserakahan, yaitu
keinginan menguasai dan tiadanya keinginan untuk berbagi dengan pihak lain.

Ketiga, penyakit iri dan dengki. Ini penyakitnya Qabil yang merasa iri
terhadap Habil yang mendapatkan istri lebih cantik. Akar penyakit ini
adalah
kecenderungan kita untuk selalu bersaing (competing) dengan orang lain.
Kita
memandang dunia sebagai medan pertempuran. Kita memandang setiap orang
sebagai pesaing kita. Karena itu kita berjuang mengalahkan mereka. Kita
ingin lebih pandai, lebih hebat, dan lebih populer. Kita berduka melihat
orang lain sukses. Kita sedih melihat kawan naik pangkat. Kita pusing
melihat tetangga membeli mobil baru. Orang yang bermental seperti ini tak
perduli dengan prestasinya sendiri. Yang penting, , ia lebih tinggi dari
orang lain.

Bangsa kita dipenuhi manusia-manusia yang mengidap penyakit ini. Saya biasa
menyingkatnya dengan AIDS (Arogan, Iri, Dengki, Serakah). Itu sebabnya
masalah kita tak kunjung usai. Tapi daripada melihat orang lain, marilah
kita melihat diri kita sendiri. Karena, bukan mustahil kita pun
''terinfeksi'' penyakit AIDS ini.

Jangan lupa, kepemimpinan selalu dimulai dari diri sendiri. Karena itu,
mulai lah melakukan perjalanan ke dalam. Yaitu, menyelami hati kita
masing-masing dan mendeteksi adanya benih-benih AIDS ini dalam hati kita.

Awalnya pasti sulit. Saya teringat kata-kata mantan Sekjen PBB, Dag
Hammersjold, yang banyak melakukan perjalanan antarnegara dan antarbenua.
''Perjalanan yang paling panjang dan paling melelahkan adalah perjalanan
masuk ke dalam diri kita sendiri.''

Oleh: Arvan P.

Rabu, 06 Mei 2009

Mari Kita Bersyukur

Mari Kita Bersyukur

Aku tak selalu mendapatkan apa yang kusukai, oleh karena itu aku selalu
menyukai apapun yang kudapatkan.

Kata-kata di atas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati
yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai,
tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa
membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.
Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur. Pertama : Kita sering
memfokuskan diri ada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita
miliki. Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan
tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran
anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh
rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan
lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita
terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya
menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas,
kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita
miliki, kita tak pernah menjadi "KAYA" dalam arti yang sesungguhnya. Mari
kita luruskan pengertian kita mengenai orang "kaya". Orang yang "kaya"
bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati
apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki
keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak
tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang
sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang
Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.

Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan
orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Seorang
pengarang pernah mengatakan, "Menikahlah dengan orang yang Anda cintai,
setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi". Ini perwujudan rasa syukur.

Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat
membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat
seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek
berhenti mengeluh dan mulai bersyukur. Hal kedua yang sering membuat kita
tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan
orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi,
selalu ada orang yang lebih pandai,lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya
diri, dan lebih kaya dari kita.

Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan
saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan
gelisah. Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah
setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di
atas saya. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi
saya. Saya menjadi gemar berganta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi
rekan-rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang
penting gajinya lebih besar. Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak
akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya
dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya.

Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di
pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa.
Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, "Lulu, Lulu".
Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang
ini. Si dokter menjawab : "Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh
Lulu." Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut
melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan
berteriak : "Lulu, Lulu". "Orang ini juga punya masalah dengan Lulu ?",
tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab : "Ya, dialah yang akhirnya
menikah dengan Lulu."

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki.
Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi. Saya ingin
mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang
terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika
ditanya kenapa demikian, ia menjawab, "Saya mempunyai dua anak laki-laki.
Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau
berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua
saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya
akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.

Sumber : Internet

Tabir Kebahagiaan

Dari milis tetangga

----- Original Message -----
From: "RAHMADSYAH" <rahmad_aceh@yahoo.com>
To: <airputih@yahoogroups.com>
Cc: <aceh_institute@yahoogroups.com>
Sent: 07 Mei 2009 9:11
Subject: [4W4RENESS] Tabir Kebahagiaan


Assalamu'alaikum wr.wb

Salam
kebahagian untukmu shahabat. Semoga dihari yang indah penuh dengan
semangat baru. Harapan besar kita kepada Allah, agar kita selalu
mendapatkan Cinta dan Kasih Sayang Nya. Mudah-mudahan kecemerlangan,
kesuksesan dan keberhasilan menjadi pencapaian bagi kita.

Kebahagiaan
adalah sebuah rasa yang amat dalam. Ia terkadang sulit untuk dilukiskan
dan dijelaskan. Selain ia berbentuk relatif, terkadang menjelaskan
dengan nada-nada indahpun, bukan begitu bunyinya. Karena ia terpatri
dalam sanubari...dan hanya dirasakan bagi mereka menginginkan.

Suatu
siang, digubuk sawah yang kecil. istirahatlah sepasang suami - istri
disana. Istrinya yang setia, sedang menyiapkan makanan untuk suami
tercinta. Satu persatu dikeluarkan makanan telah disiapkan. Begitu
selesai, diajaklah suaminya untuk makan bersama. Sungguh
mesra...sembari makan, lewatlah mobil sedan BMW ditengah jalan, yang
ditemani oleh sawah dan gubuk kecil Sang suami bertutur kepada
istrinya; "
Istriku, alangkah bahagianya bila kita dapat berada dalam mobil itu.
Setiap hari engkau bisa aku ajak jalan-jalan, tanpa kuizinkan matahari
menyengat tubuhmu"...

Dimobil BMW mewahpun,
didalamnya ada suami dan istri, Sedang jalan-jalan kesudut desa. Untuk
menghilangkan penat dikepala akibat kerja dan hiruk pikuk kesibukan
kota. Tatkala mereka melewati gubuk kecil. Ia melihat dua insan penuh
mesra, makan siang bersama. Tiba-tiba terucap olehnya "Istriku...
perhatikanlah mereka yang disana...betapa indah dan bahagia bila kita
dapat duduk dan makan bersama, ditemani oleh padi yang terus
menari-menari bersama angin. Kita dapat merasakan hembusan nafas
alam"...

Shahabatku yang baik...
Barangkali engkau pernah mengeluh, "Mengapa ini terjadi kepadaku"...mungkin
juga engkau berucap, "mengapa aku terus sengsara seperti ini, sampai kapan
?" atau bisa jadi kau mendengar kata-kata mu sendiri"Mengapa hidupku tak
Bahagia ?"...

Shahabat...aku merasakan yang kau alami. Bisa
jadi karena sedikitnya alat tukar belanja ditanganmu, atau mungkin
tempat peristirahatanmu belum senyaman kau harapkan. Atasan dan bawahan
dikantor, tidak semua mendukung pendapatmu. Langkah-langkah besar kau
jalani,belum membuahkan hasil sebagaimana inginmu. Kendaraan yang kau
gunakan masih beroda dua. Mungkin juga engkau ingin melihat tubuhmu,
lebih ideal. Dan masih ada hal lain . Mungkin kalimat-kalimat ini
belumlah cukup mewakili apa yang kau rasakan...

Mari kita sadari bersama. Kekeliruan yang kita lakukan dalam hidup.
Seringkali Karena memFOKUSkan kepada hal-hal yang tak kita miliki. Sehingga
kenikmatan yang kita punya, tak pernah meRASAkanya.

Bukankah
uang Rp.100.000 masih cukup buat kita makan bersama istri, suami dan
anak dirumah? Rumah yang kita tinggali masih bisa melindungi dari
sengatan matahari dan terpaan angin malam? Apakah tatkala pendapatmu
belum diterima dan disetujui, menghalangimu untuk bekerja? Bukankah
hasil yang belum sempurna itu, telah menghasilkan sesuatu bagimu?
Bukankah kendaraan roda dua, masih bisa mengantarkan istrimu belanja,
membawamu kekantor dan mengantar anak-anakmu kesekolah? Sisi yang
manakah lagi ingin kau sempurnakan? Bukankah teman, suami dan anak-anak
mu masih sangat sayang dan bangga akan dirimu?


"Dan
ingatlah tatkala tuhanmu memaklumatkan,"Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, Pasti akan menambahkan (nikmat) kepadamu ; dan jika kamu
mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azabKu sangat pedih". (Ibrahim
; 7)

Shahabatku yang baik...
Kita
diberikan kekuatan oleh Yang Maha Bijaksana untuk memilih. Dari
pilihan-pilihan inilah kita memutuskan. Apakah menjadi Bahagia ataukah
Sedih ? Dan Tuhan tak pernah melarang kita untuk berkeinginan lebih. Karena
salah satu pencapaian dan keberhasil Berkeinginan Besar. Semua kembali
kepada diri kita masing-masing. Doaku untukmu semoga engkau selalu bahagia
...


Kekeliruan yang kita lakukan dalam hidup (Tidak bahagia). Seringkali Karena
memFOKUSkan kepada hal-hal yang tak kita miliki. Sehingga kenikmatan yang
kita punya, tak pernah meRASAkanya.

________________________________
Rahmadsyah
Motivator & Trauma Therapist I081511448147 I Practitioner NLP
www.rahmadsyah.co.cc I YM ; rahmad_aceh

Selasa, 05 Mei 2009

Kalau Anda Punya Masalah, Berbahagialah!

Kalau Anda Punya Masalah, Berbahagialah!

Membaca judul di atas mungkin Anda bertanya-tanya, apakah saya tak salah
tulis. Anda mungkin berkata, ''Bukankah akan lebih berbahagia kalau kita
sama sekali tak punya masalah?'' Kalau demikian, Anda salah besar! Di mana
ada kehidupan, di situ pasti ada permasalahan. Namun, tahukah Anda bahwa di
balik setiap masalah terkandung suatu peluang emas dan kesempatan yang besar
untuk maju?

Ada kata-kata bijak dari Norman V Peale yang patut Anda renungkan. Dalam
bukunya You Can If You Think You Can, ia mengatakan, ''Apabila Tuhan ingin
menghadiahkan sesuatu yang berharga, bagaimanakah Ia memberikannya kepada
Anda? Apakah Ia menyampaikan dalam bentuk suatu kiriman yang indah dalam
nampan perak? Tidak! Sebaliknya Tuhan membungkusnya dalam suatu masalah yang
pelik, lalu melihat dari jauh apakah Anda sanggup membuka bungkusan yang
ruwet itu, dan menemukan isinya yang sangat berharga, bagaikan sebutir
mutiara yang mahal harganya yang tersembunyi dalam kulit kerang.''

Pernyataan di atas bukan sekadar kata-kata indah untuk menghibur Anda yang
sedang kalut menghadapi suatu masalah. Ini adalah perubahan paradigma dan
cara berpikir. Keadaan apa pun yang kita hadapi sebenarnya bersifat netral.
Kitalah yang memberikan label positif atau negatif terhadapnya. Seperti yang
dikatakan filsuf Cina, I Ching, ''Peristiwanya sendiri tidak penting, tapi
respons terhadap peristiwa itu adalah segala-galanya.''

Berikut ini contoh sederhana. Sebagai seorang fasilitator yang memberikan
pelatihan di berbagai perusahaan, saya pernah menghadapi penolakan dari
klien semata-mata karena usia saya yang dianggap terlalu muda. Saya pernah
menganggap ini masalah besar. Bagaimana tidak? Ini menyangkut kredibilitas
saya. Saya kemudian memikirkannya berhari-hari. Kepercayaan diri saya mulai
terganggu.

Lama-kelamaan saya sadar bahwa penolakan semacam ini adalah hal biasa.
Justru ini adalah kesempatan untuk berkembang. Karena itu, saya segera
menggali kebutuhan klien dan mencari pendekatan yang lebih dapat diterima.
Saya terus meningkatkan kompetensi, sampai akhirnya saya dapat diterima oleh
perusahaan tersebut. Kalau demikian, penolakan awal itu sama sekali bukan
sebuah masalah, tapi sebuah peluang yang sangat berharga.

Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk
tumbuh. Sayang, lebih banyak orang yang menganggap masalah sebagai sesuatu
yang harus dihindari. Mereka tak mampu melihat betapa mahalnya mutiara yang
terkandung dalam setiap masalah. Ibarat mendaki gunung, ada orang yang
bertipe Quitters. Mereka mundur teratur dan menolak kesempatan yang
diberikan oleh gunung.

Ada orang yang bertipe Campers, yang mendaki sampai ketinggian tertentu
kemudian mengakhiri pendakiannya dan mencari tempat yang datar dan nyaman
untuk berkemah. Mereka hanya mencapai sedikit kesuksesan tapi sudah merasa
puas dengan hal itu.

Tipe ketiga adalah Climbers yaitu orang yang seumur hidupnya melakukan
pendakian, dan tak pernah membiarkan apapun menghalangi pendakiannya. Orang
seperti ini senantiasa melihat hidup ini sebagai ujian dan tantangan. Ia
dapat mencapai puncak gunung karena memiliki mentalitas yang jauh lebih
tinggi, mengalahkan tingginya gunung. Orang dengan tipe ini benar-benar
meyakini apa yang pernah dikatakan Dag Hammarskjold, ''Jangan pernah
mengukur tinggi sebuah gunung sebelum Anda mencapai puncaknya. Karena begitu
ada di puncak, Anda akan melihat betapa rendahnya gunung itu.''

Semua masalah sebenarnya adalah rahmat terselubung bagi kita. Mereka
''berjasa'' karena dapat membuat kita lebih baik, lebih arif, lebih
bijaksana, dan lebih sabar. Anda baru dapat disebut manajer yang baik kalau
Anda mampu memimpin seorang bawahan yang sulit, yang membuat para manajer
lain angkat tangan. Anda baru menjadi orang tua yang baik kalau Anda dapat
menangani anak yang bermasalah, atau pun menantu yang keras kepala, yang
melakukan sesuatu melebihi batas kesabaran Anda. Anda baru dapat disebut
profesional kalau Anda mampu menangani pelanggan yang cerewet yang sering
mengeluh dan banyak maunya.

Untuk mencapai kesuksesan, Anda perlu memiliki adversity quotient, yaitu
kecerdasan dan daya tahan yang tinggi untuk menghadapi masalah. Kecerdasan
tersebut dimulai dari mengubah pola pikir dan paradigma Anda sendiri.
Mulailah melihat semua masalah yang Anda hadapi sebagai peluang, kesempatan,
dan rahmat. Anda akan merasa tertantang, namun tetap mampu menjalani hidup
yang tenang dan damai.

Berbahagialah jika Anda memiliki masalah. Itu artinya Anda sedang hidup dan
berkembang. Justru bila Anda tak punya masalah sama sekali, saya sarankan
Anda segera berdoa, ''Ya Tuhan. Apakah Kau tak percaya lagi padaku, sehingga
Kau tak mempercayakan satu pun kesulitan hidup untuk saya atasi?'' Dengan
berdoa demikian Anda tak perlu khawatir. Tuhan amat mengetahui kemampuan
kita masing-masing. Ia tak akan pernah memberikan suatu beban yang kita tak
sanggup memikulnya.

Oleh: Arvan Pradiansyah

Senin, 04 Mei 2009

Merenung sampai mati

Merenung sampai mati

Aku sering memandangi rumahku berlama-lama. Kadang dari dekat, kadang dari
kejauhan. Bukan untuk menganggumi keindahannya, karena rumahku kecil saja,
berantakan pula. Tapi semua tentang rumahku, aku menyukainya.

Karena memandang rumahku, aku jadi memandang diriku sendiri dan kekayaanku.
Sebagai diriku, ia menggambarkan betul watakku, kebaikanku dan keburukanku.
Rumah itu serba gelap, tak pernah kucat, tak pernah kurampungkan secara
semestinya, dan banyak ketidaksempurnaan di sana-sini.

Ada lantai yang tidak rata, ada lantai dari marmer perca, ada tembok yang
tidak simetris, ada tanaman-tanaman yang tidak rapi, dan penuh kesalahan
tata ruang di sana-sini. Rumah ini benar-benar bukan hasil karya seni, tapi
hasil spekulasi. Spekulasi dari realitas hidup yang cuma bisa kujalankan
dengan cara merambat. Setindak demi setindak. Dan rumahku adalah dari tindak
demi tindak itu. Bukan sebuah kesatuan. Makanya di banyak sudut cuma berisi
kesalahan.

Tapi begitulah hidupku, lengkap dengan keslahan yang kuperbuat, adalah
kenyataan yang menggembirakan hatiku. Hidup, lengkap dengan kesalahan,
sungguh merupakan kesempurnaan. Maka memandangi keslahan itu setiap kali,
sungguh sebuah kegembiraan.

Padahal di dalam rumahku, tidak cuma ada kesalahan-kesalahan hidupku, tapi
juga ada anak istriku. Di dalam rumah itulah aku dan keluarga tumbuh,
menyejarah dan menjalani hidup ini dengan segenap cobaan dan
berkah-berkahnya. Memandang anak-anak tertidur, sering melelehkan air
mataku. Mulia sekali rasanya kualitasku saat itu, saat terharu seperti itu.
Tapi begitu anak-anak itu terbangun, mengobrak-abrik apa saja, membuat
kegaduhan, menjadi anak-anak yang menjengkelkan, betapa terlihat kualitas
kelakuanku. Aku ternyata tak lebih bapak-bapak kebanyakan, yang gampang
didikte oleh kemarahan jika kenyamanan dirinya terganggu.

Aku jelas bukan orang kaya. Tapi semua simbol-simbol orang kaya telah
kulengkapi hampir secara keseluruhan. Butuh apa saja, di rumahku ada,
sepanjang kebutuhan itu seperti kebutuhanku. Mau makan apa saja yang menjadi
kesukaanku tersedia: pisang goreng, kacang rebus hingga jadah bakar. Istriku
telah pintar membuatnya.

Mau jajan apa saja terlaksana karena di depan rumah mangkir tanpa henti
jajanan kelilingan. Ada yang generik model mi ayam, mi kopyok, siomay, ada
pula yang baru dan aneh-aneh seperti telur grandong dan upil macan, jenis
makanan yang tak hendak aku jelaskan di sini karena anehnya. Ada pula
jajanan kuno yang masih sesekali bisa ditemui seperti arum manis dan gulali.

Di rumahku juga tersedia kolam renang meskipun bukan untuk manusia,
melainkan untuk renang ikan-ikan. Ikan pun bukan louhan dan arwana tapi
cukup jenis spat dan mujahir yang tak perlu dirawat pun lama hidupnya. Mau
mendengar semua aksi kicau burung piaraan juga ada sepanjang ia adalah jenis
tekukur, kutilang dan puter. Aku juga memelihara burung gereja di sela-sela
atap rumahku.

Mau bersantai dan menghibur diri juga tak perlu bingung. Televisiku,
meskipun kecil dan kuno, masih kuat menyala sehari-semalaman. Mau nonton
konser apa saja, film apa saja, dialog apa saja, semua ada. Mau sekadar
mendengar musik, malah cukup mendengarkan tetangga yang biasa menyetel tape
dengan kerasnya.

Aku kaget sendiri ketika di rumahku semuanya ada. Ternyata kaya sekali aku
karena kekayaan itu ada di kepalaku sendiri. Jika kamu memiliki tingkat
kebutuhan sepertiku, dan memiliki aset sepertiku, marilah kita merasa
menjadi orang kaya bersama-sama.- Prie GS -