Sabtu, 30 Juli 2016

Tambun

TAMBUN(Kontemplasi  Peradaban)

“Exeat aula, qui vult esse pius” – Yang ingin menjadi orang baik, hendaknya meninggalkan istana.

Belum lama ini, kita sering mendengarkan kata-kata seperti, “Rekening gendut”. Tak dapat disangkal bahwa dunia politik mudah sekali memunculkan kata-kata baru. Memang dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), gendut juga memiliki makna “menguntungkan” misalnya, “Jangan bertingkah yang menggedutkan diri pribadi dalam dunia politik”.

Belum lama ini pula,  kita mendengar istilah baru yaitu  “koalisi tambun”.  Koalisi berasal dari bahasa Latin,  coalescere. Co = bersama-sama dan alere = tumbuh subur. Dalam bahasa politik diartikan sebagai: gabungan beberapa partai untuk tujuan khusus. Dikatakan tambun, sebab partai-partai yang dulunya bergabung dalam KMP (Koalisi Merah Putih) kini merapatkan barisan  sebagai pendukung pemerintahan Jokowi-JK. Itulah sebabnya, KIH (Koalisi Indonesia Hebat) menjadi tambun.

Dengan hijrahnya beberapa partai ke pemerintahan Jokowi-JK, maka program-pogram yang dicanangkan akan berjalan dengan mulus. Pemerintah tidak begitu cemas lagi. Kritikan yang bertubi-tubi bahkan vulgar dari oposisinya kini hanya akan menjadi kenangan belaka. Yang terdengar dalam  parlement  hanyalah monotone. Setiap kali palu diketok, mereka akan berteriak, “Setuju!” 

Para pengamat politik mengkuatirkan pemerintahan seperti itu. Dengan berkurangnya tantangan, kritikan, kontrol dan evaluasi dari pihak oposisi maka pemerintah akan “terlena” atau hidup dalam“comfort zone”.  Kenyamanan itu akan membuat orang “tertidur”.  Ini mirip dengan kisah monyet yang tertidur dan terlena karena diterpa oleh  angin sepoi-sepoi basah (Bdk. “Kisah Monyet di Tahun Monyet 2016”). 

Oleh Buddha Gautama (563 – 480 seb.M), orang yang sedang mengalami keterlenaan itu perlu “disadarkan” kembali.

Pemerintahan yang kuat dan solid perlu adanya tantangan. Bung Karno (1901 – 1970) pernah mengkirik  sebuah negara dalam kisah pewayangan yang namanya negeri Uttarakuru. Negeri itu  tenang damai dan tidak ada pergolakan apa pun. Atau dalam bukunya yang berjudul, “Mengganyang Malaysia”,  Bung Karno pernah berkata, “Saya lebih senang dilahirkan di bawah terik matahari yang  panas dan bukan di bawah sinar bulan purnama.” Ingatlah kita akan kata mutiara ini, “Gelombang yang mengamuk akan membuat pelaut trampil?”

Demikian pula yang pernah dialami oleh Pandawa (Bdk.  “Kisah Mahabharatha” tulisan C. Rajagopalachari). Ketika para Pandawa hidup dalam tekanan dan berperang melawan kebatilan, mereka menjadi kuat dan kompak. Siang malam mereka berupaya bagaimana menyusun strategi perang yang jitu. Mereka bekerja keras dan selalu waspada dan tidak pernah istirahat sedetikpun.

Namun, setelah mengalami kejayaan,  Pandawa hidup tenang dan damai serta hidup dalam zona nyaman.  Dan pada akhir kisah, mereka mati satu per satu – bukan karena perang – melainkan  karena kelelahan naik Gunung Semeru.  Hidup dalam situasi  “nyaman” membuat orang terlena dan mati.

Dalam bekerja perlu adanya peyeimbang, sebagaimana didengung-dengungkan yaitu  balance and check.  Penyeimbang juga berfungsi sebagai kontrol, agar pemerintah dalam melakukan pekerjaannya tidak mengalami disorientasi. Tak heranlah kalau  Prabawa Subianto ketika berpidato pada HUT Partai Gerindra yang ke-9, ia berpesan bahwa demokrasi itu butuh keseimbangan. Dia berkata, “Gerindra akan tetap mendukung kebijakan pemerintahan yang berpihak pada rakyat. Namun jika tidak, Gerindra akan mengkritiknya.”  Saya pun berani berkata, “Terima kasih Pak Prabowo, Salut!”

Rabu, 10 Februari 2016  
Markus Marlon

Rabu, 27 Juli 2016

Kebenaran

KEBENARAN (Kontemplasi  Peradaban)

Dicit ei Pilatus, “Quid est veritas?” – Kata Pilatus kepada-Nya, “Apakah kebenaran itu” (Yoh18: 38) 

Pernah suatu kali, saya  diomongin  orang bahwa saya ini bla-bla-bla. Dalam hati saya berkata, “Setiap orang berhak berbicara dan nanti kebenaran yang akan berbicara!” Orang Jawa memiliki pepatah,  “Becik ketitik ala ketara” – yang baik kelihatan dan yang buruk pun akan kelihatan. Setelah berjalannya waktu, orang yang memfitnahku pun datang dan meminta maaf, “Nihil est veritatis luce dulcius” –  Tak ada yang lebih manis daripada sinar kebenaran.

Di mana-mana, kebenaran akan menang, meskipun untuk mencapainya banyak sekali halangan. Apalagi jika upaya untuk mencapai kebenaran itu bersangkut paut dengan kehormatan. Selang beberapa waktu ternyata  kebenaranlah yang “menang”. Memang,  “Veritas premitur non opprimitur” – kebenaran dapat ditekan tetapi dia tidak akan dapat dihancurkan.

Mungkin kita pernah mendengar tokoh sosok yang bernama Copernicus (1473 – 1543) seorang ilmuwan, astronom dan ahli matematika. Masterpiece-nya yang berjudul,  “Revolutions of Heavenly Bodies” menghebohkan dunia khususnya gereja.  Pada abad ke -16, ia menemukan teori bahwa bumi bukanlah pusat alam semesta. Bumilah yang mengelilingi matahari.  Dan setelah itu, astronom itu pun wafat.

Teori itu diakui oleh Galileo Galilei  (1564 – 1642) astronom kelahiran Italia. Bahkan ia mengakui di depan umum. Pada 1616, ia dipanggil untuk diperiksa di Roma dan keyakinannya pun dikutuk.  Lantas, apa yang disampaikan Copernicus dan Galileo pun disanggah.

Sanggahan itu bunyinya demikian : “Dalil pertama  bahwa matahari adalah pusat dan tidak mengitari bumi adalah bodoh, tidak masuk akal, secara teologis keliru dan sesat karena bertentangan dengan Kitab Suci. Dalil kedua, bahwa bumi bukan pusat tetapi mengitari matahari adalah tidak masuk akal, secara filosofis keliru dan paling tidak dari sudut pandang teologi bertentangan dengan iman yang benar.”

Galileo mengalah. Lebih mudah menyesuaikan diri daripada mati dan selama bertahun-tahun ia tetap diam.  Ternyata Copernicus dan Galileo  lah yang benar. Namun – konon – gereja baru minta maaf setelah 200 tahun kemudian.

Orang-orang dan lembaga, bahkan gereja bisa saja membungkam kebenaran bahkan memenjarakan orang yang membawa kebenaran itu. Andrew Melville (1545 – 1662) , teolog Skotlandia  mengatakan, “Anda tidak berkuasa mengasingkan kebenaran.”  Tidak ada orang  yang menderita hukuman karena gagasannya.

Orang-orang yang memiliki hati lurus, ditakuti banyak orang. Ia difitnah tetap tenang. Ia dipenjarakan, tetap teguh dan ketika  digiring ke pembantaian pun, ia pun  tidak melawan.  “Quo res cumque cadunt, semper stat linea recta” – apa pun yang terjadi, senantiasa berdiri di garis lurus. 

Setelah mengontemplasikan makna kebenaran, saya menjadi ingat akan  orang yang memfitnah saya beberapa tahun yang lalu. Kebenaran itu dapat saja diserang, ditunda, ditekan dan diolok-olok, tetapi ingat bahwa waktu akan membuat perhitungan pembalasannya dan akhirnya kebenaran akan menang.  Orang harus berhati-hati agar ia tidak berperang melawan kebenaran, “Vincit Omnia veritas”  – kebenaran menaklukkan semuanya.

Jumat, 12 Februari  2016  
Markus Marlon

Senin, 25 Juli 2016

Ajal

AJAL (Kontemplasi  Peradaban)

“Matiya kanthi mati patitis” – matilah dengan kematian yang sempurna (Peribahasa Jawa).

Belum lama ini saya layat ke orang yang sudah sekarat. Tiba-tiba salah seorang ponakan berkata, “Tante sudah di ambang ajal”.

Dalam situasi demikian, seorang yang sekarat tidak bisa berbuat apa-apa – dalam istilah Jawa –  disebut sebagai, “Nawa angga lupa” – kesembilan berhias lupa. Manusia yang memasuki masa menjelang ajal, mencapai angkal nol, kosong, tidak berangan-angan lagi kecuali maut.

Kami mengelilingi seorang ibu yang lunglai terbujur di pembaringan. Kami melihat nafasnya satu – satu. Tidak lama kemudian, ajal pun menjemputnya. Mengharukan, “ “Requiescat In Pace” – Semoga ia beristirahat dalam damai (Mzm 4: 9).

Kata ajal berasal dari kata Arab, “ajalu” yang berarti kematian. Allah Swt berfirman, “Tiap-tiap umat memunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun tidak dapat (pula) memajukannya” (QS al-A’raf [7]: 34).

“Death is the great leveller”  – kematian menciptakan kesetaraan. Ketika mati, manusia melepaskan semua atribut duniawinya: pangkat, derajat, jabatan, harta dan kedudukan.

Kehidupan dan kematian memang rahasia Allah, tak seorang pun yang tahu apa yang dilahirkan kehidupan dan tak satu pun mengira siapa yang menjemput kematian dan ajal memang tak ubahnya seperti tagihan utang. Ajal datang tak bilang-bilang.

Peribahasa Indonesia mengajarkan, “Sebelum ajal, berpantang mati” maknanya: jangan takut mati karena ajal adanya di tangan Tuhan, bertobatlah sebelum ajal menjemput. Peribahasa Inggris mengajarkan,  “Cowards die many times before their deaths” –  Penakut mati berulang kali sebelum kematiannya. Penakut selalu membayangkan dirinya berada pada titik kematiannya saat menghadapi bahaya. Mereka berulang kali merasa mau mati.

Ada raja yang tidak takut mati yaitu Raja Louis IX (1214 – 1270). Sang Raja Prancis yang saleh ini mendapat gelar Santo (orang kudus) dan sangat disayangi rakyatnya.  Pada suatu hari, ia menceriterakan rahasia keberhasilannya sebagai raja yakni bahwa sebagai seorang Kristen ia tidak takut terhadap apa pun dan siapa pun, termasuk kematian. Hal itu dialaminya setelah ia mendirikan sebuah bangunan di tengah-tengah istananya, tempat ia menguburkan jasad-jasad leluhurnya. Tempat itu begitu strategis sehingga ia bisa melihat dari tempat tidur. Dia juga telah membangun bagi dirinya sebuah makam tempat dirinya akan dibaringkan apabila ia wafat. Dengan demikian setiap hari ia berhadapan dengan kematian.

Selasa, 16 Februari 2016  
Markus Marlon

Sabtu, 23 Juli 2016

Menghormati

MENGHORMATI (Kontemplasi  Peradaban)

“Speak well of the dead” – bicaralah hal-hal yang baik saja jika menyangkut orang yang sudah meninggal (Peribahasa Inggris)

Pernah suatu kali saya layat pada seorang bapak yang sudah meninggal. Ketika jenazah akan diberangkatkan ke peristirahatan terakhir, seseorang memberikan kata sambutan. Dan semua orang tahu bahwa orang yang meninggal ini dikenal sebagai pribadi yang tidak disukai oleh masyarakat sekitar. Tapi aneh bin ajaib, ternyata  yang dipidatokan untuk almarhum ini semuanya yang baik-baik. Dan tidak ada satu patah kata pun muncul keburukan atau cacat cela dalam diri orang yang sedang terbujur kaku tersebut. 

Memang benar kata Pepatah Latin, “De mortuis nil nisi bene” – bagi orang yang sudah meninggal hanya yang baik-baik saja yang dikatakan. Peribahasa Inggris menulis, “Of the dead all things are good” – mengenai orang yang meninggal, segala sesuatunya hanya baik adanya. Orang yang sudah meninggal tidak bisa bicara lagi dan tidak bisa membela dirinya. Maka, kita perlu menghormatinya dengan mengenang kebaikannya dan memaafkan kesalahannya, “Dead men tell no tales” – Orang mati tidak dapat bercerita lagi.  Dan jika kita mendengarkan “Riwayat Hidup” dari orang yang meninggal, maka semua menunjukkan keberhasilan dan penghargaan-penghargaan yang telah diterimanya. Atau  Obituary  (Bhs. Latin: “Obiit” yang berarti dia telah meninggal)  terpampang di media massa merupakan ungkapan bela sungkawa atau duka cita. Bahkan  barangkali orang yang memberi ucapan itu tidak kenal. Namun  karena yang meninggal itu adalah mama dari bos-nya, maka ia pun memberi ucapan “berduka cita”. 

Saya menjadi ingat tulisan Goenawaan Muhamad yang tertuang dalam bukunya yang berjudul, “Kata, Waktu: Esai-esai  Goenawan Muhamad 1960 - 2001”. Ia menulis demikian. Ada sebuah iringan jenazah dari jauh dan Nabi  Muhammad SAW berdiri untuk menghormatinya. Ketika prosesi itu mendekat, seorang sahabat tiba-tiba menyadari sesuatu, ia berkata, “Tetapi jenazah itu orang Yahudi”  tetapi sang nabi tetap tegak dan berkata, “Jika ada iringan jenazah lewat, berdirilah!”

Ketika ada orang yang  meninggal,  pernahkan kita bertanya, “Agamanya apa?”. Yang pasti kita ingin layat dan menghormati sang  almarhum atau almarhumah.

Kamis, 18 Februari 2016  
Markus Marlon

Senin, 18 Juli 2016

KONTROL (Kontemplasi Peradaban)

“Vincit qui se vincit” – Pemenang adalah orang yang dapat mengalahkan dirinya sendiri.

Medio Februari 2016, saya jalan-jalan di Kutai Kartanegara – Kalimantan Timur, sebuah kota yang indah dan memesona. Sang sopir, sekaligus tour leader selalu mengontrol mobil yang mengangkut kami. Di sela-sela perjalanan, ia menerangkan bahwa dalam hidup kita ini harus senantiasa dikontrol. Katanya, “Kontrol kesehatan, kontrol penggunaan keuangan, sampai pada kontrol emosi.”

Sejarah telah membuktikan bahwa karena tidak adanya kualitas hidup yang baik atau terkontrol, maka Alexander Agung (356 – 323 seb.M) “jatuh”. Di tengah-tengah kemabukan dan percabulan, Alexander tidak dapat mengontrol dirinya. Ia mencabut tombaknya dan membunuh temannya yang paling akrab. Alexander Agung memang agung karena di usia yang sangat muda, ia sudah memiliki kekuasaan yang luar biasa. Hanya patut disayangkan bahwa dirinya pada saat tertentu tidak bisa menguasai dirinya.

Kitab Amsal menulis, “A man who controls his temper than one who takes a city” – orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota (Ams 16: 32 b). “Compesce mentem” – Kuasailah nafsumu. Dalam arti ini, Rasulullah SAW mengajarkan, “Orang kuat itu bukan orang yang menang gulat, tetapi orang yang  kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya pada saat (yang memungkinkan) ia marah” (HR Bukahri-Muslim). 

Setiap saat kita berusaha untuk hidup harmonis dengan sesama. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa itu tidak mudah. Dalam bukunya yang berjudul, “Sermon”  Agustinus (354 – 430) berkata, “Pertentangan berjalan terus di dalam dirimu sendiri. Engkau tidak memerlukan musuh di luar. Kalahkan dirimu sendiri dan engkau telah mengalahkan dunia.” 

Dus, kita menjadi percaya bahwa setiap detik, kita berhadapan dengan kontrol diri. Kata-kata emas bahasa Jawa menulis,  “Lauwamah amarah supiyah muthmainah” –  makanan, amarah, seksual, kesucian. Perlambang empat nafsu manusia. Tiga nafsu pertama yakni suka makanan enak, suka marah dan suka kenikmatan dan seksual jika sudah berhasil dikendalikan maka manusia baru akan mencapai ketenangan dan kesucian diri.

Mungkin kita masih ingat kisah pewayangan dengan judul,  “Begawan Ciptaning  menerima senjata pasopati”. Paso atau phasu memikili makna hewan. Selanjutnya pati berarti mati. Dengan demikian, pasopati bermakna nafsu hewani yang telah binasa di dalam jiwa manusia. Sebab itu, Begawan Ciptaning yang telah mendapat anugerah panah pasopati itu bisa menaklukkan lima sifat hewani yang berada di dalam jiwanya.  Kita juga memiliki kelima nafsu itu dalam diri. Tidak mudah mematikan nafsu-nafsu tersebut.

Dan akhirnya, kontrol diri itu  pertama-tama seharusnya dimiliki oleh para pemimpin, karena mereka yang memegang tampuk pemerintahan. Oleh karena itu, calon pemimpin harus bisa berpuasa (menahan diri) dari godaan nafsu al-takâstur (menimbun dan menguasai) yang tidak ada hasilnya, hingga masuk ke liang lahat. 

Tidak heranlah jika seorang pemimpin sangat rentan dengan godaan, maka tidak salah jika orang-orang Jawa menulis, “Ya marani nira maya” – dalam mendekati hal-hal yang maya perlu hati-hati.  Hal yang maya, termasuk di dalamnya setan yang sering menggoda pemimpin amat berbahaya.

Manakala pemimpin mampu menaklukkan setan berarti mampu menguasai hawa nafsunya. Baik setan maupun hawa nafsu adalah musuh tersamar seorang pemimpin. 

Jumat, 26 Februari 2016   
Markus Marlon

Jumat, 15 Juli 2016

ALTRUIS

ALTRUIS(Kontemplasi Peradaban)

“Kabeh tindakanmu tepakna karo awakmu dhewe” – Semua tindakanmu sesuaikanlah  dengan dirimu ( Pepatah Jawa).

Pernah suatu kali saya jalan-jalan di pasar – sebut saja – blusukan. Di pinggir jalan, ada orang buta yang mau membeli sesuatu, tetapi sejak tadi tidak ada yang menghantar. Saya ingin sekali membantu bapak tua yang buta itu.
Lantas, bapak itu saya gandeng dengan jarak tempuh yang cukup jauh dan rumit karena melewati jalan setapak. Sesampai di tempat yang dituju, saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Dalam hati saya berguman, “Hidupku berarti bagi orang lain”.

Tentu dalam hidup, kita berharap bahwa hidup kita tidak hanya berguna bagi orang lain, melainkan lebih dari itu yaitu menjadi berkat bagi sesama. Ini yang sudah dikatakan Isiah Berlin (1909 – 1997), “Manusia tidaklah hidup sekadar untuk memerangi keburukan. Mereka hidup dengan tujuan yang positif untuk menghadirkan kebaikan, 'Mercy for the mankind' atau rahmat lil-alamin".  

Ternyata, tidak hanya yang menerima yang merasa bahagia dalam memberi. Yang memberi – ternyata – lebih bahagia. Barangkali kisah tentang seorang yang bernama Monobaz bisa mengajak kita menyadari pentingnya “hidup bagi orang lain” dengan cara memberi dan  memberi itu mempunyai nilai rohani.

Monobaz mewarisi kekayaan yang besar dari leluhurnya.  Ia seorang yang baik dan peduli terhadp orang lain dan murah hati. Pada masa kelaparan ia memberikan seluruh hartanya untuk membantu orang miskin. Saudara-saudaranya datang kepadanya dan berkata, “Para leluhurmu mengumpulkan harta dan itu ditambahkan pada harta yang mereka warisi dari leluhur-leluhur mereka dan kamu bermaksud menyia-nyiakan semua?” 

Ia menjawab, “Para leluhurku mengumpulkan harta di bawah; aku telah mengumpulkan harta di atas sana. Para leluhurku mengumpulkan kekayaan mammon; aku mengumpulkan kekayaan bagi dunia yang akan datang".

Itulah sebabnya, Yohanes Krisostomus (349 – 407), yang sering disebut juga si mulut emas berkata,  “Orang yang hidup sesungguhnya hidup untuk orang lain. Sebaliknya orang yang hidup untuk dirinya sendiri dan tidak menghargai serta tidak memerhatikan orang lain adalah orang yang tidak berguna".  

Kontemplasi ini akan saya tutup dengan sebuah tulisan karya Pius Pandor dalam bukunya yang berjudul, “Seni Merawat Jiwa” yang salah satunya mengisahkan  tentang perekrutan yang dilakukan  Sokrates (470/469 – 399 seb. M ). Katanya, “Ketika seorang pemuda datang kepada saya dan menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang murid, saya menyuruh dia melihat ke dalam sebuah kolam untuk mengetahui apakah yang dilihatnya di dalam kolam itu. Jika dia kembali dan kemudian mengatakan kepada saya bahwa dia melihat ikan yang sedang berenang, maka saya menerimanya sebagai seorang murid. Tetapi sebaliknya, jika dia kembali kepada saya dan kemudian mengatakan bahwa dia hanya melihat bayangan wajahnya sendiri, maka saya tidak akan menerimanya sebagai seorang murid. Dia lebih menaruh perhatian pada dirinya sendiri daripada orang lain (altruist).”

Kamis, 17 Maret 2016  
Markus Marlon

Rabu, 13 Juli 2016

Tuntas

TUNTAS (Kontemplasi Peradaban)

“Regard your work as the place where God does His Work” - Pandanglah pekerjaanmu sebagai tempatödi mana Tuhan melakukan pekerjaan-Nya (Max Lucado)

Pernah suatu kali, ketika saya masih kecil (± Tahun 1975-an), diminta menyapu halaman rumah. Ketika menyapu, memang saya bersungut-sungut, sehingga kotoran masih ada di sana-sini. Lantas, ibu saya pun berkata, “Kalau menyapu halaman rumah  seperti ini, maka namanya  mindhon gaweni. Nanti disapu ulang ya le” 

Mindhon gaweni  artinya bekerja dua kali karena tidak tuntas dikerjakan. Sebaliknya, jika seseorang  bekerja sungguh-sungguh, ada rasa puas tak terkira.  Bila seseorang mampu menuntaskan apa yang sedang dikerjakan ada rasa bangga di dada. Bahasa mentereng-nya adalah “sense of accomplishment” – naluri untuk menuntaskan pekerjaan.

Ingatkah kita, akan penulis buku dengan judul,  Harry Potter ?  Buku ini ditulis oleh Joanne Kathleen Rowling (Lahir di Yate tahun 31 Juli 1965) atau sering disingkat menjadi JK Rowling. Sebelum buku-bukunya  –  Harry Potter  – itu laris manis, apa yang dikerjakan itu tidak tanpa perjuangan.  Ia datang dari penerbit ke penerbit supaya “bakal buku” itu diterbitkan namun selalu saja ditolak. 

Dengan semangat yang membara serta punya keyakinan bahwa apa yang dikerjakan itu tidak sia-sia,  Rowling tidak pernah mau mundur setapak pun, “success is walking from failure to failure with no loss of enthusiasm” – sukses adalah menjalani kegagalan  demi kegagalah tanpa kehilangan antusiasme.

Saya jadi teringat akan seorang penulis kandidat peraih Nobel, Pramoedya Ananta Toer (1925 – 2006). Ia tetap menulis,  meskipun mengalami penolakan dan penyingkiran serta penyanderaan yang keji atas dirinya. Namun, siapa sangka bahwa akhirnya  apa yang diperjuangkan itu membuahkan hasil.

Dalam hal ini barangkali benar apa yang dikatakan Eleanor Roosevelt (1884 – 1962), “People grow through experience if they meet like honestly and caurageously. This is now character  is built” – Manusia bertumbuh melalui pengalaman jika mereka menghadapi kehidupan dengan kejujuran dan keberanian. Inilah bagaimana caranya karakter itu dibangun.

Orang-orang yang sedang mengerjakan karya agung atau mahakarya atau masterpiece, dimulai dari mengerjakan hal-hal kecil terlebih dahulu.  Ini seperti pepatah china, “The man who removes a mountain begin by carrying away small stones” – seseorang yang akan memindahkan gunung harus pertama-tama membawa batu-batu kecil terlebih dahulu. Hal-hal kecil dirampungkan sehingga mudah merampungkan hal-hal yang besar. Di sini diperlukan orang-orang yang kuat, yang menurut Erasmus (1466 – 1536) disebut sebagai “Omnium horarum homo” – manusia segala waktu.

Rabu, 23 Maret 2016  
Markus Marlon

Selasa, 12 Juli 2016

Maki-maki

MAKI-MAKI (Kontemplasi  Peradaban)

Jika kita mamaki-maki badai, maka jangan berharap bisa berlayar dengan mulus (P.D. Sullivan).

Ketika saya sedang berjalan-jalan dengan mobil sewa menuju Bontang dari Samarinda (Kalimantan Timur)  beberapa bulan yang lalu, tiba-tiba seorang tukang parkir  di depan tempat penginapan, memaki-maki  driver yang saya tumpangi, “Bodoh, tidak tahu peraturan lalu-lintas. Babi lu!”

Sekilas saya  memandang wajah sang driver, namun  nampaknya dia tenang-tenang saja. Lantas saya bertanya, “Bapak tidak marah, dikata-katai seperti itu?” Dia pun menjawab, “Untuk apa marah, karena saya tidak tahu siapa dia. Anggap  aja angin lalu!”

Kemudian driver itu pun menambahkan, “Jika saya kenal orang itu, maka apa yang dikatakan orang itu terhadap saya merupakan “kekerasan verbal” yang tentu akan menusuk hatiku.  Dalam hati saya berkata,  “Kalau saya dimaki-maki orang – entah kenal maupun tidak kenal – akan terasa di hati, “Sakitnya  tuh di sini!”

Di mana pun juga, memaki-maki adalah tindakan tercela. Christine Huda Dodge  dalam bukunya yang berjudul, “Memahami  Segalanya  tentang Islam” melukiskan bahwa mengumpat atau memaki-maki sesama itu  tidak disukai oleh Allah. Ada seseorang yang memberi laporan kepada sang Nabi bahwa ada orang yang memaki karena orang tersebut sangat jengkel.  Nabi Muhammad berkata, “Jika yang kalian katakan tentang seseorang itu memang benar, maka itu berarti kalian telah mengumpatnya dan jika tidak benar, maka kalian telah memfitnahnya.”

Maki-makian yang dilontarkan bisa membuat hati ciut.  Dalam novelnya yang berjudul, “David Copperfield”  Mark Twain (1835 – 1910) sengaja  melukiskan bagaimana maki-maki yang ditujukan kepada sang tokoh utama tersebut sangat berpengaruh. Copperfield  pada akhirnya menjadi anak yang tidak percaya diri dan pribadinya pun tidak seimbang.  Benar, jika kita memaki-maki orang, ternyata tidak semua yang berlapang dada. Ada yang cuek bebek, ada yang jadi pikiran terus-menerus sampai dibawa di tempat tidur.  Ya, karena makian tadi.

Kahlil Gibran (1883  – 1931)  dalam bukunya yang berjudul, “Renungan tentang Jalan Jiwa” menulis, “Olok-olok itu lebih kejam daripada pembunuhan”. Atau dalam buku yang lain dengan judul, “Tears and laughter”  Gibran berpuisi, “Para pengikut Yesus dari Nazaret dan dan para murid Socrates adalah orang-orang yang tahan bantingan dengan cercaan, olok-olokan dan fintah. Pribadi-pribadi yang matang jika diolok-olok, dimaki-maki – meskipun katanya lebih pahit daripada pembunuhan –  tidak akan goyah dan kecut hati.”

Rabu, 30 Maret 2016  
Markus Marlon

Senin, 11 Juli 2016

TELATEN

TELATEN (Kontemplasi Peradaban)

Gutta cavat lapidem, non vi sed saepe cadendo” – tetesan air melubangi batu bukan karena kekuatannya tetapi karena tetesan-tetesannya yang terus-menerus.

Waktu jalan-jalan di Fort Rotterdam –  Makassar, saya sempat melihat penjara yang dulu digunakan untuk memenjarakan Pangeran Diponegoro (1785 – 1855). Saya mengulik tempat sang pahlawan itu disiksa dalam bui. Dari sana pula, pikiran saya “terbang” ke negeri menara Eiffel, Prancis pada  zaman Napoleon.

Dalam anganku, teringat dengan jelas kisah seorang narapidana yang bernama Charney. Ia dituduh sebagai penjahat kelas kakap dan berdarah dingin. Namun dikisahkan bahwa Charney di dalam penjara sangat telaten merawat bunga. Ia sangat care.

Kabar mengenai hal ini sampai ke telinga Yosephine, istri Napoleon. Lantas dia berkomentar, “Orang yang begitu telaten dan penuh kasih memelihara bunga, tak mungkin bahwa  orang tersebut adalah penjahat kelas kakap”.  Napi itu akhirnya dibebaskan dengan syarat.

Cerita di atas tadi, sebenarnya kisah tentang “ketlatenan”.  Kata tlaten yang di dalamnya mengandung arti aten itu juga berarti: hati atau perhatian. Tlaten juga mengandung arti: teliti. Dari sana pula, kita bisa membayangkan, betapa hebatnya  makna “telaten” itu.

Itulah sebabnya, dalam perusahaan – ketika rekrutment – seorang yang telaten lebih dipilih daripada karyawan yang smart.  Tidak heranlah  jika  Ibu Teresa Calcutta (1910 – 1997 )  berkata, “Kita mungkin tidak bisa melakukan hal besar. Tetapi kita bisa melakukan hal kecil dengan cinta yang besar”.  Ketelatenan seorang karyawan mampu membesarkan perusahaan.
Hal yang sama – barangkali – diucapkan oleh Paulo Coelho (Lahir di Rio de Janeiro 24 Agustus 1947) dalam bukunya yang berjudul, Manuskrip yang ditemukan di Accra, “Pahlawan sejati bukanlah orang yang terlahir untuk melakukan perbuatan-perbuatan besar, melainkan dia yang berhasil membangun tameng kesetiaan di sekitarnya dari sekian banyak hal kecil yang demikian. Sewaktu dia menyelamatkan musuhnya dari kematian atau pengkhianatan, pertolongannya tidak akan dilupakan sampai kapan pun.”

Siapa pun orangnya lebih senang bersahabat dengan orang yang telaten. Mereka lebih teruji jika menghadapi masalah maupun tantangan. Kasus ini pula lah yang dialami oleh Paulus.

Titus adalah kawan di waktu yang tidak menyenangkan dan sulit. Ketika Paulus memenuhi kunjungannya ke Yerusalem, ke Gereja yang mencurigainya dan siap untuk tidak memercayai dan tidak menyukainya, maka Tituslah yang diajaknya besama-sama dengan Barnabas (Gal 2: 1). Seperti itulah Titus. Ketika Paulus berusaha mengatasi suatu masalah, Titus ada di sampingnya.
 
Rabu, 6 Juli  2016  
Markus  Marlon

Jumat, 01 Juli 2016

WANITA

WANITA (Kontemplasi Peradaban)

Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
Namun ada kala pria tak berdaya
Tekuk lutut di sudut kerling wanita
(Ismail Marzuki 1941 – 1958).

    pSepenggal syair lagu itu mengingatkan kita bahwa wanita itu ditakdirkan untuk “melayani” pria dan wanita hanya sebagai  “kanca wingking” – teman di belakang. Tak heranlah jika ada ungkapan, “Swarga nunut, neraka katut” – Surga ikut dan ke neraka pun terbawa. Pandangan Jawa ini sudah ditolak oleh R.A Kartini (1879 – 1904) karena konsep kultural Jawa itu menjadikan kaum wanita hanya berkutat di sumur, dapur dan kasur.

    Kita lupa bahwa banyak wanita perkasa di muka bumi persada ini. Lihat saja Cut Nyak Dien (1850 – 1908) seorang tokoh yang mrantasi atau mumpuni (buku dengan judul, “Dien” tulisan Sayf Muhammad Isa).  Atau kisah Ratu Shima. Kisah ini bersumber dari berita China yang menyebutkan adanya ratu His-Mo yang memerintah kerajaan Ho-Ling. Berita China ini menyebutkan Ratu His-Mo yang dinobatkan tahun 674 itu penerintahannya amat baik, keras dan adil. Barang-barang yang terjatuh di jalan pun tidak ada yang berani menyentuhnya. Kaki putranya sendiri dipotong karena secara tidak sengaja menyentuh harta orang yang terjatuh di jalan.

     Dien dan Ratu Shima ini hanyalah beberapa pribadi yang mau berkorban bagi orang lain. Dan kita pun menyadari bahwa banyak wanita yang berkiprah dengan baik di kancah pelbagai bidang. Dan para wanita yang “perkasa” itu biasa digambarkan seperti sosok Srikandi.

    Ketika menyaksikan wayang orang dengan judul, “Srikandi Meguru Manah” – Srikandi Belajar Memanah, kita menjadi sadar bahwa Srikandi adalah pribadi yang suka terlibat dalam kehidupan nyata dan ada pesan emansipasi.

     Para wanita perkasa dalam Kitab Suci juga tak terbilang jumlahnya. Tokoh-tokoh iman seperti Debora (Bdk. Hak 5: 1 – 7) misalnya dipakai oleh Tuhan untuk menunjukkan kebesaran-Nya. Bukankah lebih terhormat jika Debora menerima tugas “keibuan” atas Israel daripada mengizinkan bangsanya diperlakukan sebagaip budak. Kedahsyatan Debora itu bagaikan Srikandi berani angkat senjata.

    Kita juga mengenal Ester (Est 5: 1 – 8) yang tidak hanya cantik, menarik dan patriot sejati, tetapi disiplin. Ia mampu menahan diri ketika raja memersilakan meminta apa saja yang ia mau. Dan ketika raja mendesak agar Ester menyampaikan permintaannya. Allah mulai melaksanakan pekerjaan pelepasan-Nya yang mengherankan itu.

    Namun tidak jarang bahwa kedudukan para wanita dianggap rendah atau dipandang sebelah mata.  Di bawah bayang-bayang budaya  patrilineal, para wanita tidak diperhitungkan, seperti misalnya dalam Alkitab ditulis, “Belum termasuk perempuan dan anak-anak” (Mat 15: 38).  Bahkan Lukas pernah melaporkan bahwa kelahiran anak-anak berjenis kelamin wanita bisa disebut sebagai “bencana”.  Willian Barclay dalam bukunya yang berjudul, “Injil Lukas” menulis, “Dalam doa pagi, seorang pria Yahudi bersyukur kepada Allah karena tidak diciptakan sebagai:  seorang kafir, seorang budak atau seorang wanita”.

Berhadapan dengan para wanita, Yesus berbeda sekali dengan orang-orang sezaman-Nya, sebab Ia bersikap luwes terhadap kaum wanita. Ia tidak ragu-ragu mengunjungi wanita, biarpun hal itu diketahui umum dan menyembuhkan mereka. Ia mengizinkan para wanita mengikuti-Nya. Ia menyerahkan tugas tertentu kepada Maria dari Magdala (Yoh 20: 17).

Dari kisah-kisah tersebut di atas, saat ini dunia tidak bisa lagi memandang rendah peran wanita. Dalam bukunya yang berjudul, “Bagaimana Jika Yesus Tidak Pernah Lahir?” tulisan James Kennedy dilukiskan bagaimana Yesus berperan dalam emansipasi para wanita untuk bangkit dan tampil. Dari sana pula para wanita perkasa yang lahir sebagai “pengubah dunia”.

Jumat, 1 April 2016 
Markus Marlon

Senin, 27 Juni 2016

BERTAHAN

BERTAHAN(Kontemplasi  Peradaban)

Banyak orang hidup seperti  gyroscop yang berputar dengan kecepatan luar biasa, tetapi tidak pernah beranjak.

Suatu hari pada suatu masa (Februari 2016), saya mengadakan  refreshing di Kutai Kartanegara (KalTim). Lantas saya menginap di rumah teman lamaku. Ketika saya masih males untuk  wake up dari tempat tidur, terdengar suara samar-samar, orang menyanyikan sebuah lagu:
Kucoba bertahan mendampingi dirimu
Walau kadangkala tak seiring jalan
Kucari dan selalu kucari jalan…

  Inti dari lagu tersebut ialah supaya kita menjadi pribadi yang mampu bertahan di tengah badai dan gelombang. Benar kata orang-orang bahwa bertahan itu lebih berat daripada memulai usaha. Lihat saja biaya maintenance pada setiap pembangunan.

Orang mampu bertahan karena memiliki daya adaptasi yang tinggi. Binatang purba seperti cicak bisa bertahan karena mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Dinosaurus binatang besar itu sudah punah karena tidak mampu bertahan melawan perubahan yang merupakan  suatu keniscayaan.

Novel yang berjudul, Gulliver’s Travels  tulisan Jonathan Swift (1667 – 1745) mengisahkan bagaimana  Gulliver tetap bertahan karena apa yang dialami itu benar. Ia telah melihat  “liliput”. Dokter dan beberapa orang menuduh Gulliver itu gila, karena sebenarnya dalam hatinya sang dokter ingin memperistri Merry,  istri Gulliver itu. Ia  tetap bertahan, sehingga menemukan kembali Merry dan putranya semata wayang, heppy ending.

     Atau dalam Mitologi Yunani, kita kenal dengan kisah  “Pencarian Bulu Domba Emas”.  Untuk menemukan bulu domba emas itu, Jason dan para argonot berjuang menghadapi cobaan dan tantangan dan cobaan silih berganti.  Namun, yang sukses adalah mereka yang bertahan.

      Atau mungkin kita pernah menonton film yang berjudul A Beatiful Mind  yang menceriterakan kisah hidup John Nash dan Alicia Lopez-Harrison de Lardé. Film ini mengisahkan kegigihan, ketelatenan dan daya tahan dari seorang Alcia. Meskipun banyak mengalami guncangan hidup dalam hidup berumah tangga, ia tetap menjaga martabanya, “bertahan”.

   Orang bisa bertahan karena dalam hidup ini memunyai tujuan. Tujuan yang kita miliki akan memusatkan usaha dan energi kita pada hal yang penting. Namun tidak jarang kita terjebak dalam hidup – sepertinya – tidak memiliki tujuan.  Aktor Amerika, Henry David Thoreau  (1817 – 1862)  mengamati bahwa banyak orang menjalani kehidupan dengan putus asa secara diam-diam. Seolah-olah dalam hidup ini kita bermain  trivial pursuit (mengejar hal-hal sepele) sehingga kita kelelahan dan tak mampu bertahan. Yok, kita bertahan dengan hidup mempunyai tujuan.

Senin, 11 April 2016  
Markus Marlon

MUDIK (Kontemplasi Peradaban)

  “Ubi bene ibi patria” – di mana aku merasa enak di situlah tanah airku (Cicero).

Ketika  ngangsu kawruh di Kawah Condrodimuka Seminari Mertoyudan – Magelang (sekitar tahun 1082-n),  setiap sore hari saya merasa rindu kampung halaman. Suara  adzan itulah yang mengingatkanku atas surau di samping rumahku. Inilah yang membuatku menjadi rindu mudik, “homesick”. Kata bijak menulis, “Suavis laborum est praeteritorum memoria” – mengenang masa-masa yang lalu itu menyenangkan.

  Menurut orang Spanyol, kata rindu mudik disebut sebagai “el mal de coras” yang artinya sakit hati. Kita teringat akan kampung halaman,  teringat orang tua dan terkenang  masa-masa yang indah waktu kecil. Tetapi jujur, kita tentu rindu, “Waoou fantastic, It’s wonderfull. If we wanna to remember our childhood”.

  Kebanyakan orang tentu  ingin bernostalgia. Memang, arti dari nostalgia itu sendiri adalah rindu masa lampau. Notos = kembali dan algos = sakit atau rindu. Homesick itu dalam bahasa Inggris, Jermannya heimweh. Weh = sakit dan Heim = rumah, heimat = tanah air. Kata Heim itu sendiri diserap dari bahasa  Jerman Kuno Heimoti artinya surga.

  Jadi memang benar kata orang bahwa “rumahku, istanaku!”  atau “Rumahku, surgaku!” Saya jadi ingat lirik lagu “Rumah Kita” dari God  Bless :Hanya bilik bambuTempat tinggal kitaTanpa hiasan, tanpa lukisanBeratap jerami …

    Intinya adalah bahwa kampung halaman itu sungguh indah, meskipun – barangkali – di tempat kelahiran kita serba terbatas, namun semuanya menyenangkan hati. Pepatah Latin menulis demikian, “Rusticus exspectat dum defluat amnis” – orang desa menantikan sungai mengalir. Maknanya adalah orang itu akan selalu merindukan rumahnya sendiri.

   Memang benar bahwa mudik itu menyenangkan. Mudik dipahami sebagai perjalanan ke hulu. Oleh karena wilayah hulu itu jauh di pedalaman, terpelosok di lereng-lereng perbukitan, maka istilah udik mengacu pada daerah pedesaan atau perdusunan. “Yok kita mudik!” 

Senin, 11  April 2016  
Markus Marlon

Sabtu, 25 Juni 2016

PRAKTEK

PRAKTEK(Kontemplasi  Peradaban)

“Experience is the best teacher” – Pengalamanadalah guru yang terbaik (Pepatah Inggris)

Awal April 2016, saya sireng-sireng (Bhs. Jawa, artinya: jalan-jalan) ke Singkawang, kota  amoy. Saya sempatkan diri untuk melihat cara membuat chai kue, yakni snack  khas Pontianak itu.  Saya ingin melihat on the spot  lokasi pembuatan  snack itu pada sebuah keluarga.

  Keluarga Tionghoa sederhana yang saya kunjungi itu katanya sudah turun-temurun membuat chai kue ini. Lantas saya bertanya, “Bagaimana saudara-saudari memertahanan cita rasa nyamikan (Bhs. Jawa, artinya: makanan ringan) ini hingga rasanya tetap sedap dan lezat?”  Seorang ibu yang sederhana itu menjawab, “Dari pengalamanlah keluarga membuat kue ini dan tetap bertahan dengan rasa seperti ini, bahkan lebih enak dari hari ke hari”. Kata-kata Latin berbunyi, “Age si quid agis” – Jika engkau mengerjakan sesuatu, kerjakanlah itu dengan baik.

Dalam hati saya berpikir, Practice makes perfect – latihan menjadikan sempurna. Jika kita ingin mahir  dan terampil dalam suatu bidang kita harus rajin berlatih. Semakin banyak latihan, kita akan semakin terampil dan mahir. All things are difficult before they are easy. Ketika awal-awal membuat sesuatu memang tidak mudah. Tetapi nanti lama kelamaan menjadi mudah dan mahir tentunya.

Dengan kata lain, kita menjadi sadar bahwa ilmu itu memang harus diterapkan.  Ki Ageng Suryomentaram (1892 – 1962) menerapkan prinsip keilmuan yang berkembang di Jawa bahwa  “ngelmu iku kalakone kanthi laku”  yang artinya puncak dari ilmu adalah laku atau praktek. Praktek yang kita buat itu tentunya akan memunculkan keahlian-keahlian yang “baru”. Itulah sebabnya Swami Vivekananda (1862 – 1902) menulis, “Don’t make your head a library. Put your knowledge into action” –  Jangan membuat kepalamu sebagai perpustakaan. Tetapi dengan pengetahuan yang kita miliki bertindaklah.

  Pengetahuan bukanlah “menara gading” yang membuat pemiliknya merasa puas atau tinggal dalam  comfort zone (zona nyaman). Dan sebenarnya,  semua yang kita hadapi itu merupakan “ladang” untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.  Education is practical  – Kita bisa belajar dari rekan kerja kompetitor, bahkan mungkin orang-orang di sekitar kita yang tidak ada hubungannya sekalipun dengan kita.

  Dan akhirnya, tatkala menikmati chai kue, dari kejauhan saya menyaksikan ibu meramu bumbu-bumbu itu di atas panci untuk segera dikukus. Ibu penjual chai kue itu bekerja dengan sukacita. Lantas saya dalam hati berkata – seperti apa yang ditulis dalam motto pemenang Nobel – “Rerum omnium magister usus” – pelaksanaan nyata adalah guru dari segalanya. Keberhasilan hanya dapat diukur melalui praktek.

Selasa, 19 April 2016
Markus Marlon

Sabtu, 18 Juni 2016

Perbuatan

PERBUATAN(Kontemplasi  Peradaban)

“Setiap orang tergoda untuk mengubahorang lain tanpa mengubah diri sendiriterlebih dahulu (Tolstoy).

Waktu mencicipi snack  tradisional di Pasar Terapung Kuin – Banjarmasin (Medio April 2016), saya sempat terharu dengan seorang pengemis yang tidak memiliki kaki yang  nglendhot di tepian sungai. Orang-orang lalu-lalang dan anehnya tidak satupun orang menghiraukan keberadaannya.

Tidak tega melihatnya, saya dekati dia dan saya ajak makan “ikan saluwang” di tengah keramaian Pasar Terapung tersebut. Sambil “sarapan pagi”, seolah-olah di seberang sungai terdengar suara orang yang bersenandung, “Whatever you did not do for one of the least of these, you did not do for me” – Sesungguhnya segala yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini kamu tidak melakukannya juga untuk Aku” (Mat 25: 45).

Pengemis itu memang tidak berbicara (voiceless), namun sebenarnya di balik itu, ia sangat membutuhkan bantuan. Peribahasa Jawa menulis, “Lir cintaka minta warih” – seperti burung meminta air yang bermakna:  Seseorang yang sangat membutuhkan sesuatu hal atau  seseorang yang meminta dengan sungguh-sungguh. Gambaran ini memberikan pengertian bahwa janganlah menolak atau menghardik orang yang benar-benar membutuhkan tetapi tolonglah dia dan berilah dia sesuatu yang bermanfaat.

Cicero (106 – 43 seb. M) berkata, “Animus hominis semper appetite agere aliquid” – Jiwa manusia selalu ingin melakukan sesuatu. Dan sudah menjadi kodratnya bahwa setiap pribadi ingin mengaktualisasikan dirinya (self actualization). Dan dalam berelasi, seseorang tidak ingin dianggap enteng oleh orang lain. Dari situ pula muncullah kata-kata yang dicetuskan oleh Lampiridius,  “Quod tibi fieri non vis, alteri ne faceris” – Apa yang tidak kau inginkan terjadi padamu, janganlah kau lakukan kepada orang lain. Inilah yang disebut oleh Sidharta Budda Gautama (563 – 483 seb.M)  sebagai golden rule atau kaidah emas.  “Yen emoh dijiwit ya aja njiwit” – Jikalau tidak mau dicubit ya jangan mencubit.

Setiap orang ingin dihargai lewat perbuatan-perbuatan sesamanya. Seperti hukum alam, orang yang kita hargai akan menghargai kita. Marilah kita baca yang ditulis oleh Ralph Waldo Emerson (1803 – 1882), “Percayalah kepada orang lain dan mereka akan tulus kepadamu. Perlakukanlah mereka seperti orang besar dan mereka akan memperlihatkan dirinya sebagai orang besar”

Penghargaan yang tulus itu muncul dalam kata-kata bahasa Jawa, “Aja sira deksura, ngaku luwih pinter ketimbang sejene” – janganlah congkak, merasa lebih pandai dari yang lain. Sebab di atas langit masih ada langit.

Selasa, 3 Mei 2016   Markus Marlon

Merawat

MERAWAT(Kontemplasi  Peradaban)

“curae piidiis sunt” – mereka yang saleh ada dalam perawatan para dewa

Awal Februari  2016, saya  mengadakan perjalan dari Samarinda ke Balikpapan dengan  travel Kangaroo, sebuah bus mini-nya cekli dan bersih. Di dalam perjalanan saya mendengar sebuah lagu nostalgia yang dipilih oleh driver sendiri: Aku berpisah di teras Saint  CarolusAir mataku jatuh berlinangBetapa sedih dan duka hatikuS’lama ini yang merawat sakitku….Sejenak lamunanku teringat pada seseorang yang merawat ketika saya sakit. Jadi klop-lah pengalaman dirawat dengan syair lagu tersebut. Lantas kita berpikir, memang sungguh tidak terbantahkan jika kita sakit, kebutuhan dasar si pasien adalah perawatan dari si kerudung putih tersebut.

Kita menyetujui bahwa keramahtamahan (hospitality) dari sang perawat itu menjadi hal yang penting. Dan pasien merasa “tenang” jika dirawat dengan “sentuhan-sentuhan hati”. Kata Inggris  maintain yang sering kita gunakan untuk pemeliharan gedung itu sebenarnya dari bahasa Prancis Kuno, maintenir  dan itu merupakan turunan dari Bahasa Latin, “manūs”  (tangan) + “tenēre” (sentuhan): disentuh dengan tangan.

Dalam bukunya yang berjudul, “Seni Merawat Jiwa – Tinjauan Filosofis” Pius Pandor CP melukiskan betapa pentingnya kita ini selalu merawat jiwa kita.  Bagi orang sakit, perawatan dan perhatian bisa mempercepat proses kesembuhan. Barangkali dalam bahasa Latin, kata  “cura animarum” – perawatan jiwa-jiwa,  itulah yang dimaksudkan.

Memahami makna perawatan, kita bisa mengacu pada sabda Yesus sendiri, “Infirmus, et visitastis me” – Ketika Aku sakit, kamu melawat Aku (Mat 25: 34 – 36). Kata “melawat” dalam bahasa Latin, “visitare” berarti: memelihara, menjaga, mendatangi, merawat.  Orang yang memiliki sikap suka merawat  – tentunya – diandaikan sebagai pribadi yang murah hati.

Kemurahan hati, itulah dasar dari semua pelayanan perawatan. Tak heranlah, ketika Florence Nightingale (1820 – 1910) – ibu perawat dunia – mendapat kehormatan dari kerajaan Inggris, ia menerima dari Ratu Victoria, sebuah bross yang bertuliskan “berbahagialah orang yang murah hatinya.”

Jumat, 22 April 2016   Markus Marlon

Jumat, 17 Juni 2016

Hari jadi

Hari jadi

Beberapa bulan yang lalu saya sering membaca ucapan “Hari Ulang Tahun” atau “Dies Natalis” atau “Mauludan” namun sekarang yang sering saya dengar adalah “Selamat Hari Jadi.” Hari Jadi ini adalah terjemahan dari  birthday.  Memang bayi yang lahir itu jadi – menjadi – manusia. Dan lagu yang kita nyanyikan biasanya “Happy birthday to you…Happy birthday to you!”  Lagu tersebut (Happy birthday to you)  pertama kali didengungkan pada tahun 1893 itu,  ternyata judul aslinya  “Good morning to all.” Setelah 30 tahun, lagu tersebut mulai berkembang menjadi “Good morning to you” dan tahun 1935 dipatenkan oleh Jessica Hill dengan judul  “Happy Birthday” –  “Salamat hari jadi, salamat hari jadi…” 

Peristiwa kelahiran perlu disyukuri dan diberi makna, “Untuk apa aku dilahirkan di dunia ini.” Jangan seperti Ayub yang mengutuki hari jadinya (Bdk. Ayb 3:1). Namun, ada juga seorang ibu yang sedih merayakan hari jadi dari putrinya. Setiap kali  ketambahan  umur, ibu itu menangis – sesenggukan –  di kamar, sebab putrinya pada usia yang tidak muda lagi belum juga menemukan jodoh.

Sebuah buku yang berjudul  “Life Begins at Forty” bahkan menjadi semboyan hidup merupakan kepustakaan yang pantas untuk dibaca.  Tetapi saya juga pernah mendengar syair yang dinyanyikan oleh  The Beatles dengan judul, “Life begins forty four!”  Mungkin karena secara biologis dan psikologis, usia 40 tahun dianggap sebagai tolok ukur kedewasaan. Bahkan pada zaman dulu, ukuran biologis (misalnya: seperti jenggot) sangat berpengaruh.  Maka tidak mengherankan jika Brian Cavanaugh pernah bercerita demikian. Raja Spanyol mengirim seorang pemuda yang bijaksana untuk mengunjungi raja di negeri tetangga. Sesampai di istana yang menerima pemuda tersebut itu pun mencela, “Apakah kerajaan Spanyol telah kehabisan orang, sehingga memutuskan untuk mengirim seseorang yang belum tumbuh jenggotnya?” (Bdk.  Barbarosa  sampai Barbershop).

Namun kita tidak boleh menutup mata bahwa Isaac Newton (1642 – 1727) memerkenalkan hukum gravitasi ketika berusia 24 tahun. Victor Hugo (1802 – 1885) menulis kisah  tragedy  pertamanya ketika berusia 15 tahun, Johannes Calvin (1509 – 1564) bergabung dengan gerakan Reformasi ketika berusia 21 tahun dan menulis karyanya yang terkenal “Institutio Christianae Religionis” ketika berusia 27 tahun.  Bagi orang Yahudi umur 50 tahun merupakan umur yang matang. Lalu orang-orang Yahudi berkata kepada Yesus, “Umurmu belum ada lima puluh tahun dan Engkau sudah melihat Abraham?” (Yoh 8: 57).

Berapa pun umur manusia, perlu kita mensyukurinya.  Umur manusia itu memang di tangan Tuhan. Ada orang yang mati muda dan – katanya – belum banyak mengabdikan dirinya kepada sesama. Soe Hok Gie (1942 – 1969)  pernah menulis, “Nasib terbaik  adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda.”  Barangkali tafsiran dari Gie adalah supaya kita memaknai hidup setiap waktu secara penuh  (fully human – fully alive).  Maka tepatlah kata-kata Salomo yang tidak meminta umur panjang atau kekayaan tetapi kebijaksanaan” (1 Raj 3: 11). 

Akhirnya,  dalam kesempatan ini saya mengucapkan selamat merayakan Hari Jadi (happy birthday), Dirgahayu (Bhs. Skt:  dirghaayus.  Dirgham = Panjang dan  Ayus = Umur),  Ad multos annos,  selengkapnya: Vivat ad multos annos, ad summam senectutem – Semoga ia hidup panjang umur mencapai usia tertua. Pakatuan  wo pakalawiren – Semoga lanjut usia dan tetap lestari. Pakatuan   berasal dari kata dasar  tu’a  artinya: tua atau lanjut usia dan Pakalawiren berasal dari  lawir yang maknanya lestari atau abadi. Semoga Panjang umur dan sehat selalu!!

Kamis, 21 April 2016   Markus Marlon

Kamis, 16 Juni 2016

Terlalu Risau

TERLALU RISAU(Kontemplasi  Peradaban)

“Haud timet mortem qui vitamsperat” – yang berharaphidup tidak akan takut mati.

Bulan lalu, 29 April 2016 saya naik  speed  “CB Limex Permai” dari Tarakan ke Tanjung Selor.  Saya duduk satu deretan kursi dengan seseorang yang mengaku  diri orang Nunukan (Kaltara) asli. Selama dalam perjalanan, ia bercerita banyak tentang menjaga kesehatan. Di bercerita bahwa dirinya sakit. Ia membawa payung agar tidak kena titik-titik air, di sakunya ada minyak wangi “cap lang” dan dia senantiasa membawa menu yang harus dimakan setiap harinya.  Dia berkata, “Kita harus sehat, maka setiap detik kita harus menjaga hidup kita sedetail mungkin!”

Lantas saya berpikir, “Orang ini terlalu hati-hati”. Yang namanya “terlalu” itu tidaklah baik.  Misalnya seperti, terlalu rajin, terlalu suci, terlalu baik dan “terlalu-terlalu” lainnya. Orang tadi sungguh-sungguh menjaga kesehatannya sampai terlalu risau.  Ia terlalu strict dengan diet dan karena hidupnya tidak tenang maka tidur pun tidak nyaman.

Pepatah Latin berbunyi, “Non curator  qui curat” – yang selalu risau (justru) tidak mudah sembuh.  Peribahasa Inggris Sehari-hari menulis, “Laugh and grow fat” – tertawalah, Anda akan sehat dan gemuk. Peribahasa ini menasihatkan agar orang selalu gembira, banyak tertawa dan tidak selalu serius. Atau Amsal menulis, “A cheerful heart is good medicine” – Hati yang gembira adalah obat yang manjur” (Ams 17: 22).

Kisah tersebut di atas, mengingatkan saya akan seorang pemuda galau,  seperti yang dikisahkan oleh Dale Carnegie (1888 – 1955) dalam bukunya yang berjudul, “Petunjuk Hidup Tentram Dan Bahagia”.  Pemuda itu divonis dokter bahwa umurnya tidak panjang. Dalam waktu tiga bulan, akhirnya memutuskan untuk hidup “hura-hura” karena  toh hidupnya tidak terlalu lama lagi. Dia mulai tidak risau dengan apa yang dimakan. 

Dia pergi dengan kapal pasiar dan tidak risau dengan angin malam. Dan ternyata, seturut berlalunya waktu, pemuda itu pelan-pelan malah sembuh, “miracle!” Pemuda itu – seperti yang dikisahkan Carnegie – menjadi pribadi yang periang dan tidak pernah risau lagi. Itulah yang menyembuhkan.

Kata “risau” sendiri berasal dari bahasa Minangkabau, “rěsau” yang berarti: gundah. Kerisauan memang sering kita alami. Kita risau menghadapi sesuatu yang belum pasti. Hati menjadi “ciut” jika berhadapan dengan sesuatu yang belum pasti. Dan seolah-olah “sesuatu” itu lebih besar daripada diri kita. Ibarat, bayangan kita sendiri ketika jam 15.00 sore. Bayangan itu besar sekali, sebesar kerisauan kita. Hati menjadi gundah.

Senin, 9 Mei 2016  Markus Marlon

Senin, 13 Juni 2016

Perjumpaan

PERJUMPAAN  (Kontemplasi Peradaban)

Akhir April 2016, saya menginap di Biara OMI (Oblati Mariae Immaculatae) di Tarakan (Kaltara). Biara yang indah bak rumah dalam film Harry Potter. Banyak orang datang untuk sekedar foto atau bahkan untuk pre-wedding.
Waktu itu ketika menunggu makan pagi, seusai merayakan Ekaristi di biara, saya membaca booklet yang diterbitkan Komisi KOMSOS KWI dengan tema: “Perjumpaan yang Memerdekan”. Sejenak saya membaca booklet kecil yang mewah itu dengan cover yang penuh inspirasi.  Dari sana pula, saya mencoba merefleksikan apa itu “Perjumpaan”.
Suatu hari pada suatu masa, saya berjumpa dengan seseorang yang mengeluh demikian, “Mengapa yah saya ini kalau berjumpa dengan orang itu rasa muak, seperti tidak ada cemestry-nya gitu! Tetapi kalau ngomong-omong dengan orang lain, rasanya nyaman gitu!” 
Memang sebagai makhluk sosial, kita setiap saat mengadakan perjumpaan dengan pelbagai kalangan. Ada yang menyebalkan, ada pula yang  biasa-biasa saja, ada yang membuat hati sejuk dan akhirnya ada yang menghidupkan, symbiosis mutualism. Ini yang oleh John Powel  dalam Betapa Indah Hidup Ini, dikatakan sebagai self-giving relationship, sebuah relasi yang saling memberikan. Dalam perjumpaan yang disertai dengan berbagi pengalaman (sharing), masing-masing pribadi merasa dikuatkan untuk melangkah.  Perjumpaan yang menghidupkan ini nyata dalam diri Maria dan Elisabet (Luk 1: 39 – 45). Roh bertemu dengan roh. Maria berseru dengan suara nyaring dalam Magnificat!  Dalam kidung tersebut, masing-masing orang  mengungkapkan apa yang menjadi keunggulan atau kelebihan dari sahabat berbagi rasanya dan akhirnya tertuju kepada Tuhan, “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” (Luk 1: 46). BJ Habibie dalam Habibie & Ainun menulis, “Memang benar di belakang seorang pria yang berhasil berperan selalu seorang wanita, dalam hal ini isteri saya Ainun, yang lebih berhasil” (hlm. 153). Kita menjadi ingat akan kata-kata yang disampaikan oleh Albert Einstein (1879 – 1955), “Orang-orang yang dangkal membicarakan tentang orang-orang, orang-orang biasa membicarakan tentang peristiwa-peristiwa dan orang-orang luar yang dalam, membicarakan tentang ide-ide.”  Di sini kita bisa melihat bagaimana orang yang memiliki sikap hidup yang negatif (negative thingking) dan sikap hidup yang positif  (positive  thingking). Mereka yang pikirannya dipenuhi dengan hal-hal negatif akan banyak memunculkan kata-kata: ketidakpuasan, keluhan-keluhan, dan masalah-masalah yang dihadapi. Sedangkan mereka yang pikirannya dipenuhi dengan hal-hal positif akan banyak memunculkan kata-kata: konstruktif, puji-pujian dan pemecahan masalah, solution.Dalam perjumpaan yang menghidupkan itu, seseorang akan merasa terdukung. Ignatius Loyola (1491 – 1556)  dalam “masa-masa gelapnya” amat bersyukur memiliki teman bicara yang amat mendukung yaitu kakaknya sendiri, Martin. August Darleth dalam Pahlawan dari Loyola menulis, “Terima kasih Martin. Engkau dan isterimu yang baik budi telah merawatku dengan baik, lebih dari apa yang dapat diharapkan setiap orang. Aku bukan seorang pasien yang baik, tetapi banyak hal yang membuat aku sangat berterima kasih, tetapi yang terutama, di samping kebaikan budimu, adalah kesempatan membaca kedua buku itu yang telah membuka mataku ke arah dunia yang lebih luas” (hlm. 25).
Di sini pula, kita bisa merefleksikan oleh  Cicero (106 – 43 seb. M), nama lengkapnya: Marcus Tullius Cicero  dalam De Amicitia  menulis, “Vera amicitia est inter bono” – persahabatan sejati hanya terjadi di antara orang-orang yang tulus.  Perjumpaan-perjumpaan yang menghidupkan ini, hanya dapat terjadi jika satu sama lain, memiliki ketulusan hati. Jika salah seorang berbuat salah, maka ditegur empat mata, “Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia” (Luk 17: 3). Publilius (penulis Latin yang berasal dari Syria dibawa ke Italy sebagai budak , tetapi dihargai karena kecakapannya dalam bidang sastra) menulis, “secreto amicos admone, lauda palam” – tegorlah sahabat-sahabatmu di bawah empat mata (secara diam-diam), namun pujilah mereka secara terbuka.  Tentu saja ini suatu perjumpaan yang menyejukkan dan menghidupkan. Dalam masing-masing pribadi ada “self-giving love” – sebuah pemberian diri yang dijiwai oleh cinta. Suatu pemberian diri atau pengabdian total semacam ini tidak dapat dibeli dengan uang atau ditukar dengan kekuasaan.

Jumat, 6 Mei 2016  Markus Marlon

Minggu, 12 Juni 2016

PENDAPAT (Kontemplasi  Peradaban)

“Frangas  non flectes - engkau dapat menindasku, tetapi tidak untuk mengubah pendirianku, keyakinanku.

Pernah suatu kali saya menginap di sebuah keluarga di bilangan kota Samarinda (Kalimantan Timur). Istri mau mengobrol, suami diam saja. Istri ingin menghadiri pesta di rumah keponakan, suami sebal pada keponakan itu. Suaminya juga tidak suka pada abang dari istrinya.  Di pihak lain, istri membenci teman-teman kantor suaminya. Akibatnya hubungan mereka menjadi tegang. Untuk mencegah pertengkaran,  suami  membisu dan istri memendam. Kedua orang itu melakukan supresi yaitu menekan apa yang hendak diungkapkan. Suami istri itu takut untuk mengemukakan pendapatnya.

Sebenarnya, pendapat seseorang itu bagi yang lain itu merupakan kontribusi yang tak terkira manfaatnya. Tidak gampang menyatukan pendapat atau opini. Masing-masing orang bersikeras bahwa pendapatnya itulah yang paling baik dan sempurna. Kadang orang tidak mau menerima second opinion.

Sebenarnya kita harus ingat bahwa setiap pemain professional itu memiliki pelatih. Kisah pegolf Tiger Wood (terlahir: 30 Desember 1975) memberikan pelajaran untuk kita. Wood memiliki pelatih yang jika bertanding dengan dirinya, tentu pelatihnya akan kalah. Tetapi yang perlu diingat bahwa sang pelatih bisa mengetahui yang tidak dilihat oleh pegolf dunia ini. Pemain professional itu  mau menerima pendapat dari orang lain.

Dalam hidup ini sebenarnya saling melengkapi. Ibaratnya, “saling mengisi kekosongan”. Ada film bagus dengan judul, “Rocky”. Tatkala Sylvester Stallone berkata tentang tunangannya Adrian, dia berkata, “Saya punya cela, dia punya cela, jadi bersama-sama kami tidak punya cela”.  Di sini Kitab Amsal menulis, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya” (Ams 27: 17).

Memang benar bahwa barang yang tidak dipakai itu lama-lama akan aus, demikian pula dengan pengetahuan yang dimiliki seseorang. Pikiran akan menjadi aus jika tidak pernah diasah dengan cara: diskusi, berdebat dan adu pendapat.  Di sinilah Pepatah Latin mendapatkan pengetrapannya, “Ingenium longa robigine laesum torpet” – Pikiran menjadi tumpul karena tidak pernah dipakai.  

Di lain pihak, kita harus menjadi sadar bahwa dengan “masuk dalam ranah” saling adu pendapat, kita harus ikhlas untuk lelah, “lelah pikiran”. Lelah, karena masing-masing orang tidak pernah mau mengalah dengan apa yang menjadi pendapatnya, “Quot capito, tot sensus” – sebanyak kepala sebanyak pula pikirannya.

Senin, 23 Mei 2016   Markus Marlon