Selasa, 28 Desember 2010

Pencari Bayi Yesus yang Tertinggal : Artaban

PENCARI BAYI YESUS YANG TERTINGGAL : ARTABAN
(Sebuah Percikan Permenungan)

Jujur saja, barangkali kita familiar dengan nama ketiga Raja yang
mengunjungi Yesus sewaktu masih bayi. Nama ketiga Raja itu adalah Melchior,
Kaspar dan Balthasar. Namun kita belum begitu akrab bahkan asing dengan
nama Artaban.

Berdasarkan novel karya klasik Henry van Dyke, "The Story of The Other
Wise Man", Artaban adalah orang yang ketinggalan atau mungkin - kita tidak
tahu - "ditinggal" oleh ketiga Raja tersebut. Namun dalam ketertinggalannya
itu, Artaban tidak putus asa, melainkan menggunakan seluruh hidupnya untuk
servitudo (pelayanan). Bersama budaknya yang bernama Orentes yang kemudian
menjadi sahabatnya. Artaban tinggal di daerah kumuh, menjadi sahabat bagi
yang sakit dan pembela kaum marginal. Sepanjang perjalanan, Artaban
menggunakan hadiahnya untuk membantu orang yang memerlukannya, sampai
dirinya tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan kepada Mesias, sang
bayi Yesus. Klimaks dari kisah ini adalah pada hari Minggu Paskah, Artaban
yang sudah tua dan sekarat akhirnya berjumpa dengan Raja yang kemudian
memberikan kedamaian pada saat-saat akhir hidupnya. Artaban mewakili
sosok-pribadi yang tidak menonjol dalam tugas pelayanan. Kalau kisah ini
diterapkan dalam hidup kita, maka seorang Artaban itu tidak menonjol dalam
sepak terjangnya.

"Kerja di belakang layar", itulah istilah yang tepat untuk karya-karya
seperti ini. Dalam sejarah, orang-orang yang bekerja di belakang layar
memainkan peranan yang amat istimewa, bahkan mengubah masa depan umat
manusia. Helen Keller (1880 -1966), yang meskipun secara fisik adalah
cacat, tetapi telah memberikan inspirasi bagi jutaan umat manusia. Helen
Adam Keller lahir di Tuscumbia, Amerika adalah seorang putri ningrat yang
memiliki banyak budak. Ia terlahir bisu, tuki dan buta namun akhirnya
menjadi lentera dunia bagi orang-orang yang mengalami nasib sama. Berkat
gurunya, Annie Sullivan, yang dengan ketekunan, kesabaran dan pantang
menyerah mendidik Helen seumur hidup. Kini, betapa harum nama Helen Keller
bagi dunia. Nama Sullivan bahkan tidak pernah kita dengar. Atau Alexander
Agung (356 - 323 B.C) yang namanya besar, agung dan mulia adalah Raja
Macedonia dan jendral terbesar pada zamannya. Ia dikagumu oleh Julius
Caesar (100 - 44 B.C), salah seorang dari orang-orang terkenal yang adalah
diktator Romawi, jendral termasyur dan hebat. Makam Alexander Agung selalu
dikunjungi Markus Antonius (82 - 30 B.C), seorang jendral dan dewan
triumvirat Romawi. Setiap bersujud di makam Alexander Agung, dirinya selalu
disertai oleh istrinya Cleopatra. Tak heranlah, jika anak sulung mereka
dinamakan Alexander, kembarannya, Selena dan si bungsu Ptolomy. Tetapi,
apakah kita menyadari bahwa sejak masa remajanya, Alexander Agung
dibimbing, dituntun dan menjadi murid kesayangn Aristoteles (384 - 322),
filsuf dan cendekiawan besar Yunani kuno. Sullivan dan Aristoteles adalah
hanya sekadar contoh saja yang memiliki semangat pelayanan total. Mereka
berani hidup dalam kesendirian, bahkan mungkin kesepian demi pelyanan tanpa
dikenal dan tidak populer.

Mencari Yesus memang tidak dilalui dengan keglamoran maupun popularitas.
Mungkin kita ingat St. Kristoforus. Ia disebut sebagai pelindung dalam
perjalanan. Legenda yang berkembang pada zamannya hampir sama dengan
kisah-kisah para kudus. Tetapi dirinya tidak diketahui secara pasti. Arti
nama Kristoforus sendiri adalah pembawa Kristus (Christ - bearer) yang
dilukiskan sebgai manusia perkasa yang setelah bertobat menjadi penjaga
sungai untuk menolong orang yang mau menyeberng di sungai di pundaknya.
Sungguh, dia pencari Kristus sejati yang hidup dalam kesendirian dan sepi.

Akhir dari kisah klasik, "The Story of The Other Wise Man" itu melukiskaan
perjupaan antara Yesus dengan Artaban. Artaban merasa menyesal, karena
dirinya tidak bisa mempersembahkan hadiah bagi Sang Raja. Namun dengan
tegas, Yesus bersabda, "Yang kau perbuat bagi saudara-Ku yang paling
hina, telah kau buat bagi-Ku"


Merauke, 24 Desember 2012

"Selamat Hari Natal"

Markus Marlon MSC

JALAN KEHIDUPAN

JALAN KEHIDUPAN
(Sebuah Percikan Permenungan)

Akhir dari sebuah film yang berjudul Quo Vadis yang dikisahkan dari Novel,
karya Henryk Sienkiewicz, begitu menyentak hati. (Hanya kadang-kadang ada
rasa sedikit kecewa, sebab dalam novel lebih seru daripada melihat
filmnya). Sebelum kata The End, tertulis kata-kata, "Akulah Jalan dan
Kebenaran dan Hidup" (Yoh 14:6). Kata-kata itu sebagai rangkuman, bagaimana
sang tokoh utama: Lygia dan Marcus Vinicius mempertahankan imannya di
bawah kekejaman Kaisar Nero, pembunuh ibunya dan pembunuh istrinya serta
pembakar kota Roma.

Di akhir cerita tersebut, di Jalan Appia, Petrus hendak meninggalkan kota
Roma disertai Nazarius. Namun di tengah jalan, ia melihat sinar dan Petrus
berkata, "Quo vadis Domine?". Jawab-Nya, "Aku hendak ke Roma untuk
disalibkan yang kedua kalinya." Dengan penuh kesadaran dan penyesalan,
Petrus kembali ke Roma ( Ad Roman) dan - atas kehendaknya sendiri - dirinya
tidak layak disalibkan seperti Kristus, maka ia disalibkan dengan kepala di
bawah. Inilah jalan kehidupan yang harus dilalui oleh Petrus. Sebagai
kenangan, tidak jauh dari Porta Capena kuno, sampai sekarang masih berdiri
sebuah gereja kecil berisi tulisan dengan huruf setengah timbul: Quo vadis,
Domine?

Jalan kehidupan manusia memang berbeda-beda dan tidak terduga. Sewaktu
sekolah, mungkin kita memiliki teman yang pendiam bahkan cenderung tidak
menonjol, tetapi 20 tahun kemudian, teman kita tersebut menjadi orang yang
sukses dan pembicara ulung, seperti Demosthenes. The Beatles dalam lagunya
yang berjudul "The Long and Winding Road", mengajak untuk bermenung bahwa
jalan hidup kita ini panjang dan berliku, namun penuh dengan keindahan,
kadang mengalami suka dan tidak jarang mengalami duka. Para penakluk dunia,
seperti Gengis Khan, (1162 - 1227) Alexander Agung (356 -323 BC) dan
Napoleon Bonaparte (1769 - 1821) dalam tulisan-tulisan sejarah
kadang-kadang mereka dilukiskan sebagai setengah dewa dan sejak bayi
diramalkan akan menguasai dunia. Tapi harus diingat bahwa jalan kehidupan
mereka dilalui dengan perjuangan yang dahsyat. Jalan menuju ke puncak
dilalui dengan bersimbah darah. Orang-orang besar juga mengalami "the long
and winding road"-nya sendiri-sendiri.

Paulus menemukan jalan kehidupannya, ketika menganiaya pengikut Kristus
dan mengalami kebutaan setelah melihat Kristus di Jalan Lurus (Kis 9:11).
Jules Chevalier, pendiri Tarekat MSC, juga mengalami suatu pengalaman
terindah dalam hidupnya dan dan menghayati untuk memberikan dirinya
lebih untuk berdevosi kepada Hati Kudus Yesus. Orang-orang, seperti St.
Ignatius dari Loyola, pendiri Ordo Sarekat Yesus, dengan "Latihan
Rohaninya" dan St. Agustinus (354-430) dengan "Pengakuan-Pengakuannya"
telah memberikan kontribusi kepada dunia, setelah menemukan jalan
kehidupannya.

Jalan yang baik adalah lurus. Di Amerika - menurut cerita - kebanyakan
jalan adalah lurus. Ketika hendak membuat jalan tersebut banyak yang harus
dikorbankan. Tanah-tanah yang berbukit-bukit, harus diratakan, desa-desa
yang dilalui proyek jalan itu harus dimutasikan, untuk membuat jalan lurus,
sehingga nantinya mudah untuk dilalui oleh para pengendara. Semua memang
harus berkorban jika hendak mencapai nilai yang lebih tinggi. Jalan
kehidupan kita kadang berliku, tapi ingatlah bahwa dalam diri kita ada
kesadaran untuk hidup lurus. Di Eropa - menurut cerita juga - banyak
ditemui trowongan, dengan cara melubangi gunung-gunung, supaya lebih cepat
dalam berlalu lintas dan juga untuk keamanan. Dengan jalan yang lurus,
tidak melewati tebing-tebing yang curam, kecelakaan bisa dihindari.

Kita jadi ingat orang yang lurus hati yaitu St. Yosef. Dia disebut sebagai
sincere (bhs Inggris artinya tulus dan lurus hati). Kata itu dari dua kata
yaitu sine (tanpa) dan cere (lilin). Dulu, para tukang kayu biasa melapisi
akhir perabot yang hendak dijual. Jika ada lubang dan cacat harus ditutupi
dengan lilin. Namun, lama-lama lilin-lilin itu akan meleleh dan nampaklah
kondisi aslinya. Oleh sebab itu untuk menjaga mutu produksinya akan diberi
tanda sine - cere (tanpa lilin) untuk menjamin produk buatannya itu asli,
lurus dan jujur. Tidak ada kepalsuan. Saya jadi malu, karena semua yang
kutulis tidak ada dalam diriku.

Merauke, 19 Desember 2010
(Adven IV)

Markus Marlon MSC

Selasa, 21 Desember 2010

Melampaui rasa takut

MELAMPAUI RASA TAKUT
(Sebuah Percikan Permenungan)

Pada abad 49 BC (Before Christ), sekelompok senator Romawi, yang bersekutu
dengan Pompey, mengkuatirkan kekuasaan Julius Caesar (100 - 44 BC) yang
semakin besar. Ketika Caesar mendengar rumor tersebut, sang Kaisar sedang
berada di Gaul Selatan (sekarang Prancis) dengan hanya berpasukan yang
berjumlah lima ribu orang. Tantangan tersebut bagaikan "uji nyali" bagi
dirinya. Dengan kata-katanya yang penuh motivasi, Julius Caesar berkata,
"Mari kita melintasi sungai Rubicon" untuk meraih masa depan kita. Memimpin
pasukan ke wilayah Italia berarti perang dengan Roma. Sekarang tidak lagi
jalan kembali. Berjuang atau mati. Caesar terpaksa mengonsentrasikan
kekuatannya serta tidak menyia-nyiakan satu orang pun, bertindak dengan
cepat dan bersikap sekreatif mungkin. Ia menyerbu Roma. Dengan mengambil
inisitif, ia menjadikan para senator ketakutan, memaksa Pompey melarikan
diri.

Istilah "melintasi sungai Rubicon" amat tepat untuk mengatasi rasa takut
dan kekerdilan hati dalam diri kita. Setiap hari tentu kita melewati
masa-masa yang tidak mengenakkan jiwa. Ada keraguan dalam hati jika
berhadapan dengan problema. Keraguan bagaikan penghalang intern yang
mempersulit diri kita untuk mencapai masa depan. Untuk mencapai keputusan
yang pelik tersebut, tentunya ada motivasi yang kuat. Tidak bisa
dibayangkan, jika rasa kuatir itu menguasai diri Sang Kaisar. Rasa takut
dan kuatir itu bagaikan melihat bayangannya sendiri ketika kena sinar
matahari pada pagi atau sore hari. Bayangan itu amat besar sekali. Demikian
pula, sering, apa yang kita kuatirkan itu amat besar dan ternyata apa yang
dikuatirkan tidak terjadi sama sekali. Selama "penantian" kehidupan menjadi
tidak nyaman, gelisah dan resah. Maka tak mengherankan jika dari pengalaman
rasa takut dan kuatir itu, Julius Caesar berujar, "Penakut mati
berkali-kali, sedangkan pahlawan hanya mati satu kali dalam hidupnya." Rasa
takut tersebut membuat orang tidak mudah untuk mengambil keputusan dengan
cepat. Ini pula yang sering terjadi dalam pertikaian para pandukung calon
pemegang kekuasaan.

Untuk memimpin sebuah bangsa yang besar, dibutuhkan seorang negarawan yang
memimpin bangsa yang berani, tegas, berwibawa dan "mumpuni". Pardi Suratno
dalam bukunya yang berjudul "Sang Pemimpin" menawarkan cara memimpin yang
mengayomi (melindungi) dan memberikan kesejahteran kepada rakyatnya. Ajaran
Asthabrata, Wulang Reh, Tripomo dan Dasa Darma Raja termaktub begitu banyak
hak dan kewajiban pemimpin. Hal ini amat berbeda dengan apa yang ditulis
oleh Nicholo Machiavelli (1469 - 1527) ataupun Sun Tzu, penulis strategi
perang. Oleh Anand Krishna dalam bukunya yang berjudul, "Gita of The
Management" dipaparkan gaya kepemimpinan Sun Tzu dengan Krishna dalam
"Bagawat Gita". Dalam ajaran tersebut, Arjuna harus "melintasi sungai
Rubicon." Arjuna mengalami keraguan yang luar biasa untuk berperang melawan
para Kurawa. Untuk membenarkan ketakutannya, dia membuat alasan-alasan yang
masuk akal dan "saleh". Inti dari wejangan Bagawat Gita tersebut adalah
bahwa melaksanakan dharma untuk memerangi kebatilan dalam masing-masing
jiwa. Tubuh kita ini bagaikan ajang pertempuran antara kebaikan dan
kejahatan yang tiada henti.

Kita dalam mengambil keputusan untuk melangkah ke hidup yang lebih baik,
sering mengalami kendala. Salah satu kendalanya adalah ketakutan untuk
"melintasi sungai Rubicon". William Shakespeare (1564 - 1616) dalam HAMLET
mengangkat istilah to be or not to be untuk mengambil keputusan yang sangat
genting. Situasi bathin yang dialami oleh Hamlet penuh dengan keragu-raguan
dan penuh kebimbangan. Dia salah mengambil keputusan dan ini berakibat
fatal, yakni kematian ayah tirinya. Thomas Aquinas menulis, "Timeo hominem
unius libri" (bahasa Latin), yang berarti aku bimbang terhadap orang yang
hanya membaca satu buku saja. Dalam menulis artikel ini, aku juga bimbang
dan ragu dengan diriku sendiri, karena yang kubaca hanya satu buku. Mohon
dimaafkan.


Merauke 21 Desember 2010


Markus Marlon MSC

Senin, 20 Desember 2010

Menjadi Orang Sukses dan Berarti

Menjadi Orang Sukses dan Berarti

"Don't look to become a person of success, look instead to become a person
of Value! - Jangan berkeinginan untuk menjadi orang sukses, berusahalah
untuk menjadi orang yang berarti."
Albert Einstein

Setiap tahun sebuah majalah terkenal di dunia merilis daftar orang-orang
terkaya dan berpengaruh di dunia. Sering pula digelar acara penghargaan
untuk mengapresiasi para pengusaha dan CEO sukses dan ternama. Tentu sangat
membanggakan jika Anda mendapatkan penghargaan bergengsi kelas dunia,
dihormati, dan bergelimang kemewahan harta, sebab hal-hal semacam itu
menjadi dambaan sebagian besar manusia di dunia.

Tak heran jika banyak orang berlomba mencari jabatan, mengumpulkan kekayaan
dan meraih kesuksesan besar. Mereka juga mengejar standar gaya hidup
orang-orang berkelas, misalnya menunggangi mobil mewah, menggunakan
perhiasan dan pakaian super mahal, dan gaya hidup serba wah lainnya.
Sebenarnya tak ada yang salah jika ingin menjadi kaya, sukses dan bahagia,
sejauh usaha yang dilakukan tidak melanggar hukum, moral spiritual, dan
norma-norma lainnya.

Namun ironis jika tujuan menjadi berpengaruh, terkenal, kaya, dan hidup
serba mewah itu menjadikan seseorang menghalalkan segala cara termasuk
menggunakan cara-cara negatif. Akhir-akhir ini saya sedih menyaksikan
berita di televisi yang menayangkan begitu banyak orang memilih cara instan
untuk cepat kaya dan terkenal, dan memiliki jabatan tinggi. Memang benar
uang mereka bertumpuk konon kabarnya sampai dimakan rayap, memiliki jabatan
tinggi, tetapi mereka lebih terkenal sekarang ketika terseret kasus
korupsi, suap, penggelapan pajak, praktek bisnis ilegal, dan lain
sebagainya.

Nasib mereka kini sungguh menyedihkan dan terhina. Sebab mereka mengabaikan
nilai-nilai spiritual, moralitas, dan kemanusiaan yang seharusnya dijunjung
tinggi dalam proses pencapaian kesuksesan. Patut menjadi pelajaran bagi
kita semua untuk berpikir bahwa menjadi kaya raya, terkenal dan sukses
belumlah cukup, dan berusaha menjadi manusia yang sukses dan berarti itu
lebih penting.

"The major value in life is not what you get. The major value in life is
what you become. - Nilai utama dalam hidup itu bukan apa yang Anda dapatkan
melainkan seberapa baik (karakter) Anda," kata Jim Rohn, motivator USA
ternama.

Menjadi orang sukses dan berarti memberi kita banyak sekali manfaat.
Beberapa diantaranya adalah memudahkan kita menciptakan tujuan hidup, fokus
pada pekerjaan, pintar membuat keputusan penting, memahami prioritas hidup
sehingga langkah-langkah yang ditempuh menjadi lebih terarah. Beberapa tips
berikut akan membantu Anda segera menyongsong sukses sekaligus menjadi
manusia yang lebih berarti.

Pertama adalah memiliki visi yang mulia, yaitu berpikir lebih jauh dan
mempertimbangkan segala hal untuk senantiasa menciptakan kebaikan bagi
semua orang. Visi tersebut akan mendorong Anda bekerja penuh komitmen dan
dedikasi untuk meraih keberhasilan, bukan hanya menunggu belas kasihan
orang lain dan menghindari diri berbuat curang. Memiliki visi mulia
merupakan langkah penting untuk meraih sukses dan berarti bagi orang lain.

Kedua adalah memiliki integritas, yaitu kejujuran dalam setiap tindak
tanduk dan perbuatan. Kejujuran pasti memberi kemudahan, sebab kejujuran
pasti menang dalam persaingan memperebutkan kepercayaan orang lain. Nilai
kejujuran sudah pasti menuntun Anda pada kemajuan dan meraih kesuksesan
yang lebih berharga.

Ketiga adalah menyukai pekerjaan yang Anda lakukan, mencintai keluarga dan
sesama di sekitar Anda. Kecintaan pada keluarga dan pekerjaan serta sesama
akan membuat pikiran lebih positif dan berfungsi lebih baik, karena tidak
ada kebencian pada siapapun. Bila kinerja Anda lebih baik, Anda tentu lebih
mudah menciptakan kemajuan dan mencapai kesuksesan yang Anda dambakan.

Keempat adalah berempati kepada orang lain, yaitu usaha meringankan beban
orang lain tanpa pamrih dan tanpa pandang bulu. Berempati pada orang lain
dapat berbentuk materi, dukungan motivasi, pikiran atau tenaga. Empati
dapat menjadi semangat dalam berusaha meraih kesuksesan, sekaligus
menjadikan kesuksesan Anda lebih berarti bagi orang lain.

Kelima adalah meningkatkan kekuatan iman dan rasa syukur atas segala
karunia-Nya. Keduanya akan mencegah Anda dari perbuatan negatif atau upaya
tercela hanya untuk mencapai target tertentu. Dengan iman dan syukur,
kesuksesan sekecil apapun akan memberi nilai yang besar.

Keenam adalah mengasah bakat dan kemampuan yang dapat menunjang pekerjaan,
serta terus belajar dari berbagai hal termasuk dari kesalahan terdahulu.
Membuka diri dengan terus belajar akan membantu Anda terhindar dari
kesulitan dan habis waktu sia-sia. Langkah ini akan membantu Anda menemukan
berbagai alternatif untuk membangkitkan bisnis atau menyelesaikan pekerjaan
dengan hasil terbaik.

Ketujuh adalah semangat dalam mengerjakan setiap tanggung jawab. Semangat
yang Anda tunjukkan akan mengalirkan energi positif kepada orang lain.
Antusiame kerja Anda akan memberikan nilai yang luar biasa terhadap apapun
yang Anda lakukan.

Setelah memahami tips di atas, tidak begitu sulit bukan menjadi orang yang
sukses dan berarti? Yang jelas menjadi orang sukses itu membanggakan, dan
akan lebih membahagiakan jika kita juga dapat memberikan kontribusi
terhadap orang lain. Dengan keteguhan, kesungguhan dari dalam diri Anda,
dan cara yang positif semua hal yang Anda upayakan untuk meraih sukses dan
menjadi manusia berarti pasti akan terwujud.

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku
best-seller.Kunjungi websitenya di: www.andrewho-uol.com

Jumat, 17 Desember 2010

Sirsak Bisa Obati Kanker

Sirsak Bisa Obati Kanker

** Kanker bisa diobati dengan mengonsumsi herbal atau buah-buahan. Dari
banyak herbal tersebut, sirsak punya keunggulan dibandingkan buah lain.

Sirsak diketahui bisa mencegah dan juga ampuh untuk mengobati beberapa
jenis
kanker. "Untuk sirsak sendiri telah diteliti dapat mengobati kanker usus
besar (kolon), kanker paru-paru, kanker pankreas, kanker prostat, dan juga
kanker buah dada (payudara)," ucap dr Hardhi Pranata, SpS, selaku Ketua
Umum
Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI).

Bagian sirsak yang bermanfaat untuk obat kanker adalah batang, daun, dan
juga buahnya atau dalam bentuk jus. Buahnya bisa dimakan langsung, dibikin
jus, atau daunnya direbus kemudian hasil rebusannya diminum.

"Bisa dengan cara minum jus buah sirsak atau dengan cara merebus 9 lembar
daun sirsak dan minum air rebusan tersebut lalu dimonitor keadaannya.
Biasanya nafsu makan akan meningkat dan pertumbuhan sel-sel kankernya akan
terhambat," ungkap dr Hardhi.

Dia juga menjelaskan, sirsak mengandung senyawa saponin, polifenol, dan
juga
*bioflavonoid *yang memiliki khasiat sebagai antioksidan. Nah, cara
membunuh
sel kanker oleh sirsak inilah yang berbeda dengan herbal lainnya. Sirsak
hanya membunuh sel-sel yang tumbuhnya abnormal atau sel-sel spesifik
seperti
radikal bebas yang ada sel-sel kankernya. Tapi sirsak tidak merusak sel-sel
yang sehat.

Selain memiliki rasa yang enak, buah sirsak ini juga membantu memelihara
kesehatan, mencegah penyakit, dan mengobati penyakit. Hal ini karena buah
sirsak juga bisa menurunkan tekanan darah, anti-parasit, obat penenang yang
berfungsi meningkatkan kekebalan tubuh serta mengatasi depresi, radang
sendi, dan juga untuk asam urat.

"Konsumsi buah sirsak ini harus digalakkan lagi agar tidak punah karena
banyak manfaat yang bisa didapatkan dengan mengonsumsi buah ini," ujar
dokter yang praktik di RSPAD Gatot Subroto ini.

Untuk di Indonesia, penelitian mengenai khasiat sirsak dan tanaman obat
lainnya ini akan dilakukan dalam waktu dekat. Dalam studi ini, RS Kanker
Dharmais akan bekerja sama dengan Nanjing University of Chinese Medicine
yang difasilitasi PDHMI. Dalam penelitian ini akan dilakukan terapi
kombinasi antara obat-obatan dan juga herbal.

"MoU kerja sama ini sudah ditandatangani dan diperkirakan mulai bulan
Desember sudah mulai dilakukan penelitian di Indonesia," imbuh dr Hardhi.

Dia menuturkan bahwa di Nanjing University, terapi kombinasi ini sudah
dilakukan. Pasien-pasien kanker di sana tidak mengalami mual, rambut
rontok,
berat badan menurun, dan bisa tetap berjalan-jalan seperti biasa.

Terapi kombinasi ini diharapkan bisa mengurangi efek samping dari terapi
standar kanker yang dilakukan, seperti kemoterapi, radiasi atau operasi,
serta dapat mengurangi jumlah kemoterapi yang seharusnya dilakukan oleh si
pasien.

Tumbuhan dan buah-buahan yang diketahui memiliki efek anti-kanker, seperti:

1. Tomat diketahui dapat mengobati kanker prostat, dengan cara mengonsumsi
tomat yang sudah direbus.
2. Cabe merah diketahui dapat mencegah kanker usus besar jika dikonsumsi
dalam jangka waktu lama.
3. Biji anggur juga diketahui memiliki senyawa anti-kanker. Oleh karenanya,
kalau mengonsumsi anggur, cari yang memiliki biji dan makan bersama
kulitnya.
4. Daun sirih merah diketahui sebagai anti-kanker payudara dengan cara
direbus.
5. Temulawak diketahui memiliki zat aktif *cursil *yang bersifat sebagai
anti-inflamasi dan juga anti-kanker.

"Sebagian tumbuhan obat di Indonesia mengandung obat anti-kanker, seperti
sitotoksin yang memiliki kemampuan untuk membunuh dan mendeteksi sel-sel
yang tumbuhnya tidak normal. Senyawa-senyawa di dalam tumbuhan ini bisa
berfungsi dalam bentuk gabungan, tapi ada juga yang *single*," ujarnya.

Kamis, 16 Desember 2010

Memenangkan perjuangan hidup

Memenangkan Perjuangan Hidup

"Life is struggle. The one who enjoys this struggle is the real winner. -
Hidup adalah perjuangan. Siapapun yang menikmati perjuangan tersebut adalah
pemenang sejati."
Anupama Kamble

Pada bulan November 2007, saya kembali mengunjungi kota Banda Aceh untuk
meresmikan kantor cabang yang baru dan menyelenggarakan kegiatan sosial
pada sebuah yayasan anak yatim piatu. Saat berjalan-jalan di kota tersebut,
saya teringat kedahsyatan tsunami meluluh lantakkan semuanya, termasuk
korban jiwa lebih dari 200 ribu. Kedahsyatan kekuatan tsunami nampak jelas
dari kapal PLN seberat 2600 ton yang terseret sepanjang 7 kilo meter ke
tengah kota dan menindih lebih dari 30 orang.

Saat itu empati masyarakat di Indonesia maupun manca negara sangat besar
untuk membantu korban bencana. Semua orang peduli dan ingin menolong, tanpa
membedakan ras, agama, warna kulit, dan latar belakang, dan lain
sebagainya. Saya dapat merasakan begitu besar kepedulian dan cinta kasih
masyarakat negri ini kepada orang lain.

Walaupun masyarakat belum sepenuhnya terlepas dari trauma pasca bencana,
saya meilhat masyarakat disana sudah bangkit. Banyak proyek pembangunan
dilaksanakan. Diantaranya adalah proyek pembangunan Perkampungan
Persahabatan Tiongkok - Indonesia, berupa 765 rumah sederhana bantuan dari
Tiongkok yang berlokasi di atas bukit. Kegiatan ekonomi disana melaju
cepat, bahkan jalanan di Banda Aceh mulai macet.

Saya terpana menyaksikan kemajuan Aceh yang sangat pesat tersebut. Saya
kagum pada ketangguhan mental masyarakat menghadapi tantangan hidup
sedahsyat tsunami Desember 2004. Itulah salah satu 'badai' yang menjadi
bagian tak terpisahkan dari perjuangan hidup manusia. Tetapi sebenarnya
manusia juga mempunyai potensi yang super hebat untuk memenangkan
perjuangan hidup tersebut dengan berbagai cara.

Salah satu cara memenangkan perjuangan hidup adalah memperkuat mental,
dengan menjadikan tantangan hidup sebagai latihan mental. Semakin tinggi
kesulitan hidup yang berhasil kita lewati, maka mental kita juga semakin
kuat. "Problems are to the mind is what exercise to the muscles, they
toughen and make strong. - Masalah-masalah merupakan latihan otot-otot
pikiran agar mereka menjadi lebih kuat," Norman Vincent Peale. Mental yang
kuat lebih dapat diandalkan untuk memenangkan perjuangan hidup.

Memiliki visi yang benar dan jelas sangatlah penting untuk memenangkan
perjuangan hidup. Banyak orang tidak berhasil menggunakan potensi yang
sangat besar dalam dirinya, karena mereka mengabaikan visi atau impian.
Sebaliknya, semangat kita untuk bangkit dan maju akan jauh lebih besar
setelah mempunyai visi yang benar dan jelas.

Dalam setiap medan perjuangan, kemenangan hanya dapat diperoleh jika kita
mempunyai peta kemenangan berdasarkan visi yang jelas. Perencanaan tersebut
akan sangat membantu memperhitungkan setiap tindakan yang akan ditempuh.
Jika kita konsisten melaksanakan rencana tersebut pasti kita berhasil
menjadi pemenang dengan prestasi-prestasi atau karya-karya terbaik.

Keyakinan yang kuat adalah bagian penting lainnya setelah menciptakan visi.
Karena keyakinan yang kuat dapat meraih kemenangan akan membuat seseorang
mampu memetik pelajaran berharga dan bertindak lebih hati-hati, ketika
harus berhadapan dengan kegagalan. Cara seperti ini memperbesar kemungkinan
kemenangan segera tercapai.

Keyakinan juga sangat penting untuk membantu kita berpikir jernih dan
positif. Misalnya kita tidak meratapi kekurangan atau sombong dengan
kelebihan. Sebaliknya, kita menjadikan kekurangan maupun kelebihan tersebut
sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas diri dan bekerja lebih giat
agar segera memenangkan perjuangan hidup.

Entah apa visi rakyat di Aceh sehingga mereka begitu optimis, karena saya
melihat mereka tidak berlama-lama meratapi kemalangan dan kepedihan akibat
tsunami. Sebagian besar masyarakat sudah aktif membangun kehidupan mereka
kembali. Ini nampak dari antusiasme mereka mengerjakan masing-masing peran
dan tanggung jawab.

Selain kerja keras, kita juga perlu bekerja cerdas dan ikhlas. Sementara
itu dibutuhkan pula landasan keimanan dan kejujuran. Etos kerja semacam itu
merupakan salah satu cara jitu memenangkan perjuangan hidup.

Guna memenangkan perjuangan hidup dibutuhkan pula empati atau kepedulian
terhadap manusia lain maupun lingkungan. NAD dan Sumatra Utara terpuruk
akibat bencana alam, dan saat itu banyak orang berduyun-duyun memberikan
pertolongan dalam aneka rupa bentuk. Perlahan-lahan masyarakat korban
bencana bangkit, dan semua itu tak lepas dari dukungan dari orang lain.
Begitupun empati kita terhadap orang lain akan mempererat hubungan sosial
sehingga saling mensinergi satu sama lain diantara kita untuk meraih
kemenangan bersama.

Layaknya pertandingan, memenangkan perjuangan hidup butuh persiapan, yaitu
melakukan perubahan positif sedari sekarang. Misalnya menggunakan waktu
lebih efektif, sehingga masih tersisa beberapa jam untuk berlatih
meningkatkan kemampuan dan memperluas wawasan dengan ilmu pengetahuan.
Berbenah diri terus menerus, sekalipun dalam skala kecil, merupakan salah
satu cara penyempurnaan agar menang melawan tantangan hidup.

Sangat banyak yang bisa kita lakukan untuk memenangkan perjuangan hidup.
Kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan adalah satu hal yang pasti kita
dapatkan jika berhasil. Kemajuan pesat di Aceh adalah salah satu contohnya,
maka pastikan Anda ada di urutan berikutnya. Jadi tetaplah bersemangat dan
menikmati perjuangan hidup Anda.

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best
seller.Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com

Rabu, 15 Desember 2010

Miskin tapi bahagia

Miskin Tapi Bahagia

Orang termiskin yang aku ketahui adalah
orang yang tidak mempunyai apa-apa kecuali uang.
- John D. Rockefeller JR

Dalam rubrik Kilasan Kawat Sedunia, Harian KOMPAS pernah memuat ringkasan
hasil survei yang menarik perhatian saya. Ia menceritakan hubungan antara
uang-indikator utama yang sering dipergunakan untuk mengukur seberapa kaya
atau seberapa miskin seorang anak manusia itu-dengan kebahagiaan. Survei
yang unik dan jarang dilakukan ini-setahu saya belum pernah ada survei
semacam ini di Indonesia-mungkin dapat memberi pelajaran tertentu pada
kita. Berikut petikannya:

Pemeo "uang tak bisa membeli kebahagiaan" ternyata memang benar. Sebuah
survei di Australia menunjukkan, kaum kelas menengah di Sydney masuk
kategori warga yang paling menderita di Australia. Sebaliknya, tingkat
kebahagiaan warga yang hidup di beberapa daerah pemukiman paling miskin
malah lebih tinggi.

"Pengaruh uang pada kebahagiaan nyatanya hanya terasa pada golongan yang
luar biasa kaya," kata Liz Eckerman, peneliti dari Universitas Deakin,
seperti dikutip kantor berita AFP, Senin (13/2).

"Uang tak bisa membeli kebahagiaan. Ini jelas terbukti dalam jajak pendapat
yang kami lakukan pada 23.000 warga yang sudah kami wawancarai," kata
Eckerman kepada Radio Australia, ABC.

Temuan-temuan yang disusun sejak tahun 2001 menunjukkan bahwa di Australia,
negara dimana tak ada kesenjangan kemakmuran yang ekstrem, mereka yang
hidup paling bahagia ada di lapisan bawah. Mereka yang happy juga lebih
banyak berada dalam kategori usia 55 tahun atau lebih, lebih banyak di
antara kaum perempuan, dan kebanyakan pula ada di antara mereka yang
menikah alias yang tak men-jomblo.

Survei ditujukan untuk mengungkap kepuasan seseorang terkait dengan
berbagai hal, seperti standar hidup, kesehatan, pencapaian dalam hidup, dan
keamanan. Di antara 150 daerah sasaran survei, salah satu daerah termiskin
di Australia, yakni Wide Bay di pedalaman Queensland, penduduknya ternyata
termasuk yang paling bahagia di negeri kangguru itu.

Terus terang, saya tidak tahu seberapa banyak uang yang harus dimiliki
seseorang untuk bisa masuk dalam kategori kelas menengah di Sydney. Juga
tidak terlalu jelas bagi saya berapa jumlah uang yang dimiliki oleh
rata-rata penduduk Wide bay di pedalaman Queensland, sehingga mereka
disebut daerah termiskin di negara tersebut. Lalu, berapa pula harta yang
dimiliki seseorang agar bisa disebut Eckerman sebagai "luar biasa kaya"?
Datanya tidak disebutkan oleh KOMPAS.

Namun, terlepas dari minimnya data yang bisa kita peroleh, tetaplah menarik
ketika Eckerman, peneliti itu, membuat kesimpulan bahwa yang hidup paling
bahagia di Australia adalah penduduk di lapisan bawah (miskin); kebanyakan
berusia 55 tahun atau lebih; kebanyakan perempuan; dan kebanyakan menikah.
Mereka inilah yang paling merasa puas dengan standar hidup mereka, puas
dengan kesehatan mereka, puas dengan pencapaian dalam hidup mereka, dan
puas dengan keamanan di lingkungannya. Mereka inilah orang-orang yang
miskin, tetapi kaya. Miskin dalam harta benda, tetapi kaya dalam kepuasan
hidup. Sungguh sebuah realitas yang memesona.

Ada beberapa pelajaran yang saya pulung dari survei di atas. Pertama, saya
menduga penelitian tersebut menempatkan rasa puas-atas standar hidup; atas
kesehatan; atas pencapaian dalam hidup; dan atas keamanan di
lingkungannya-sebagai indikator utama kebahagiaan. Dan jika hal itu kita
gunakan untuk bercermin, maka kita bisa mencoba menjawab empat pertanyaan
berikut:
1. Apakah saya puas dengan standar hidup kita sejauh ini?
2. Apakah saya puas dengan kesehatan saya sejauh ini?
3. Apakah saya puas dengan apa yang sudah saya capai dalam hidup sejauh
ini?
4. Apakah saya puas dengan keamanan di lingkungan saya sejauh ini?

Bisakah kita menjawab YA dengan mantap untuk keempat pertanyaan sederhana
semacam itu? Atau mungkin jawaban kita perlu diberi bobot tertentu,
katakanlah untuk tiap jawaban menggunakan skala 1-5. Angka 1 berarti TIDAK
PUAS SAMA SEKALI, angka 2 berarti TIDAK PUAS; angka 3 berarti CUKUP PUAS;
angka 4 berarti PUAS; dan angka 5 berarti SANGAT PUAS. Sehingga, total
nilai 12 berarti CUKUP PUAS dan total nilai 20 berarti SANGAT PUAS. Mereka
yang bisa mengumpulkan nilai mendekati angka 20-lah yang pantas kita anggap
bahagia. Nah, dengan demikian kita bisa mengukur seberapa bahagia diri kita
masing-masing, setidaknya untuk saat ini. Lalu kita juga bisa menyadari
pada bagian mana dari keempat hal tersebut yang kita rasa paling meresahkan
dan mengurangi kebahagiaan hidup kita sejauh ini. Dari sini kita kemudian
bisa memikirkan cara-cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan
kebahagiaan kita.

Pelajaran kedua yang saya petik adalah soal hubungan antara uang/kekayaan
dengan kebahagiaan. Sudah lama saya mengetahui bahwa uang dan kebahagiaan
adalah dua hal yang tidak selalu berkaitan. Setidaknya saya mengenal
sejumlah kawan yang punya uang miliaran rupiah dan kadang mengaku bahwa
hidupnya tidak bahagia. Sementara itu sejumlah kawan lain yang uangnya
tidak sampai miliaran tak pernah saya dengar mengeluhkan soal apakah
dirinya bahagia atau tidak. Jadi saya sering bingung jika melihat sebagian
kawan berjuang mati-matian untuk bisa kaya karena percaya kalau kekayaan
bisa membuat mereka pasti bahagia. Sementara yang sudah jauh lebih kaya,
mengaku tidak bahagia. Nah, atas kebingungan inilah survei Eckerman tadi
bisa memberi sedikit penjelasan. Hanya pada orang atau golongan yang "luar
biasa kaya", ada hubungan antara uang mereka dengan kebahagiaan mereka.
Seakan-akan ada semacam ambang batas kekayaan yang bisa membuat kekayaan
itu berdampak langsung pada kebahagiaan. Ambang batas itu tidak disebut,
mungkin satu juta dolar Amerika, atau jumlah yang lebih besar.

Pelajaran ketiga, dan buat saya paling mengesankan, adalah kesimpulan
survei tersebut yang menunjuk sebuah daerah termiskin di pedalaman
Queensland memiliki penduduk yang paling bahagia. Kesimpulan ini sungguh
membesarkan hati. Sebab ini membuka kemungkinan bahwa kawan-kawan saya di
pelosok-pelosok yang sulit terjangkau sarana transportasi modern-seperti di
Papua, misalnya-amat boleh jadi adalah orang-orang yang paling bahagia
hidupnya.

Nah, apakah Anda kaya atau Anda bahagia?

Andrias Harefa
Penulis 30 Buku Best-Seller dan Pendiri WRITERSCHOOL

Selasa, 14 Desember 2010

Paradoks kekayaan

Paradoks Kekayaan
Oleh: Eko Supriyatno

Richard Branson pendiri Virgin berucap: "sejujurnya saya katakan, saya
tidak pernah terjun dalam bisnis untuk menghasilkan uang. Kalau itu
satu-satunya motif Anda, saya rasa Anda lebih baik tidak melakukan
apa-apa".
Bagi Branson uang hanyalah soal angka. Ini tidak berarti ia menafikan
eksistensi uang. Uang hanyalah alat mencapai tujuan. Buatnya dalam bekerja
yang terpenting bagaimana ia melakukan penggalian makna hidup atau uang.

Ray Kroc Bos MC Donalds (1902 - 1984) menyatakan bahwa jika anda bekerja
hanya untuk uang. Anda takan pernah sukses, Tetapi jika Anda mencintai apa
yang Anda kerjakan dan selalu mengutamakan kepentingan pelanggan,
kesuksesan akan Anda di tangan Anda. Ingatlah, bahwa masyarakat adalah
pelanggan Anda. Berbagi pada pelanggan adalah solusi.

Hamilton berulang kali menyatakan bahwa semakin banyak uang yang anda
miliki, semakin besar kemungkinan anda akan kehilangan uang itu. Hamilton
menyebutkan bahwa kekayaan bukanlah soal seberapa banyak uang yang anda
miliki. Kekayaan adalah apa yang masih Anda miliki bila anda telah
kehilangan semua.

Kehilangan uang bukanlah masalah bila anda tidak memilikinya sama sekali,
tetapi saat anda memiliki kelebihan penghasilan, banyak kesempatan baru
yang muncul. Sungguh menggoda untuk membelanjakannya atau
menginvestasikannya di bidang yang belum pernah anda lakukan sebelumnya dan
di bidang yang hanya sedikit anda ketahui kelemahannya di masa depan.
Kepercayaan diri anda jauh melebihi kompetensi anda dan uangnyapun hilang.

Trump pernah membangun bisnis propertinya pada tahun 1980-an dimana
sebagian besar usahanya dibangun dengan utang yang jumlahnya sangat besar.
Ketika pasar berubah di tahun 1990. Ia tidak lagi mampu membayar bunganya.
Sehingga ia memiliki utang perusahaan sebesar $3,5 juta dan sebesar $900
juta utang pribadi. Berarti Anda sekitar $900 juta lebih kaya daripada
Trump pada tahun 1990. Kendati demikian Trump membali situasi itu dan tahun
2005 ia memperoleh net profit sebesar $2,7 milliar dan masuk dalam daftar
400 orang terkaya di AMerika versi majalah Forbes.

Setelah menyelami falsafah bekerja, saya harap Anda menyimpulkan, dunia
kerja yang kita bicarakan ini, demikian agung. Bekerja, not just for money.
Bekerja, dalam konteks bahasan kita, demikian memerdekakan kita mempersepsi
dan mendekonstruksinya kembali sesuai perkembangan kemapanan spiritual
kita. Spiritual? Kita mau bicara "bekerja" atau mau "mengaji". Dua-duanya,
atau kalau kita bawa satu urusan, otomatis urusan lainnya terbawa serta.
Karena - sebagai penegasan di bagian sebelumnya - saya tempatkan bekerja
itu sebagai ibadah.

Keyakinan konvensional tentang zona nyaman, terlalu ajeg dipersepsikan,
sehingga seolah-olah di luar itu, bukan zona nyaman. Ketika digali lebih
dalam, dalam, dan kian dalam sampai ke dasarnya, nyata, tak terjumpai
kenyamanan yang disebutkan sebagai tema zona kerja itu. Kenyamanan, tidak
dibangun semata-mata oleh tantangan "duniawi" manusia, melainkan juga oleh
sebuah keinginan mendalam menghubungkan semua perbuatan, jauh, jauh ke
lubuk hati kita sebagai niat ibadah tadi.

Dengan memperdalam penggalian kita akan makna kenyamanan, sampai tersua
kenyamanan sejati, kita menjadi maklum, adanya kenyamanan semu dan
menepisnya agar tak terjebak untuk menggilainya, mempertahankannya
mati-matian, lebih-lebih, sampai kita benar-benar mati. Jangan, jangan
habiskan umur anda untuk memeluk kenyamanan bekerja di zona nyaman yang
semu.

Salah seorang anggota DPR tertangkap tangan melakukan tindak pidana
korupsi. Kemudian dinyatakan bersalah dan dimasukkan dalam bui. Apakah
nyaman. Seorang pebisnis besar melakukan kongkalikong dengan penguasa,
kemudian ia tertangkap. Apakah ia merasa nyaman.

Kalaulah kekayaan itu memang membuat nyaman mengapa kekayaan seseorang
justru membuat banyak orang iri padanya. Mengapa sering terjadi banyak
pembunuhan karena kekayaan. Membuat adik Willy "Bud" pemenang lotere
dipenjara, karena mengincar harta kakaknya. Betulkah itu zona nyaman?

Lalu bagaimana dong? Tidak bolehkah kita menjadi kaya? Tentu boleh, bahkan
sangat dianjurkan. Bukankah agama mengajarkan bahwa kemiskinan cenderung
pada kekufuran. Yang menjadi pangkal adalah bagaimana kita
mendistribusikannya dengan benar. Bukankah sebaik-baik manusia adalah orang
yang bermanfaat bagi banyak orang.

*) Penulis adalah Master Terapi Bisnis, Kolumnis dan Trainer berbagai
pelatihan. Alumni "Cara Cerdas Menulis Buku Best-Seller" Batch IX. Alumnus
PPM. Email: eko_supriyatno2007@yahoo.co.id atau eko@terapibisnis.com
Website: www.terapibisnis.com

Mengejar kebanggaan

Mengejar Kebanggaan

"Pride is personal commitment. It is an attitude which separates excellence
from mediocrity. - Kebanggaan merupakan komitmen personal. Itu merupakan
sikap yang memisahkan antara yang sempurna dan tidak."
Paul Bryan

Mempunyai sesuatu yang dapat dibanggakan merupakan dambaan semua orang. Tak
jarang mereka mengerahkan segala daya dan upaya demi mewujudkan sesuatu
yang dapat dibanggakan. Sehingga terwujudlah banyak hal spektakuler di
dunia dan membanggakan pemiliknya.

Contohnya Afrika Selatan tentu bangga telah berhasil menyelenggarakan pesta
piala dunia beberapa waktu yang lalu. Dengan segala upaya pemerintah negara
tersebut berusaha membangun sebuah stadion yang megah. Pemerintah juga
membangun infrastuktur yang canggih dan modern untuk mendukung kelancaran
perayaan piala dunia 2010.

Usaha Afrika Selatan mengejar kebanggaan sebagai negara penyelenggara juga
telah menjadikan negri tersebut semakin dikenal di dunia. Terlebih acara
tersebut juga membawa 'soccernomic' atau efek ekonomi positif bagi
restoran-restoran atau para pedagang di sekitar stadion. Para pedagang
dikabarkan mendapatkan omset berkali lipat.

Namun disisi lain, sebagian besar rakyat di negri tersebut merasa
dirugikan. Para pemilik lahan pertanian yang digusur hidup menderita,
karena pemerintah tidak memberikan ganti rugi sedikitpun sebagai kompensasi
atas lahan mereka. Sementara pemerintah menghabiskan biaya cukup besar
untuk membangun sarana maupun proses penyelenggaraan pesta bola dunia yang
begitu mewah, sebagian besar rakyat disana hidup sangat miskin.

"Sebenarnya kami sangat malu dan hidup tertekan dengan kemelaratan kami,"
cetus salah seorang pemuda yang tinggal di salah satu kampung kumuh di
Afrika Selatan kepada salah seorang pewarta yang ikut meliput ajang
perayaan spektakuler tersebut.

Tak hanya Afrika Selatan, masih banyak negara atau mungkin perorangan yang
mengejar kebanggaan dengan segala daya dan upaya, tetapi lupa untuk
menghitung seberapa besar manfaat dari kebanggaan yang diperoleh. Contohnya
Malaysia membangun ikon kemegahan seperti Twin Tower atau Taiwan dengan
Taipei 101. Contoh lain adalah Dubai membangun Burj Dubai yang konon
merupakan bangunan tertinggi dan termegah di dunia.

Seberapa besar manfaat yang diperoleh pemerintah dan rakyat dari
produk-produk kebanggaan itu? Kabarnya, keuntungan yang diperoleh tidaklah
signifikan. Artinya, apa yang sudah dikeluarkan tidak sebanding dengan
manfaat positif yang dapat diraih.

Mengejar kebanggaan memang dapat mendatangkan kerugian jika tidak
diperhitungkan dengan cermat atau hanya sekedar untuk unjuk gaya. Tetapi
jika semangat mengejar kebanggaan ini didasari dengan perhitungan yang
cermat pasti akan mendatangkan keuntungan. Sehingga, mengejar kebanggaan
itu memiliki arti serta manfaat positif, dan beberapa diantaranya adalah
sebagai berikut.

Mengejar kebanggaan menjadikan kita memiliki kemauan keras dan ego. Hal itu
menyalakan api motivasi dalam mengejar suatu target atau impian. Ini juga
akan membuat kita berusaha mempertahankan harga diri dengan tetap berjuang
dan sampai target tercapai, walaupun tak banyak dukungan dan situasi juga
tidak menguntungkan.

Mengejar kebanggaan juga dapat membebaskan kita dari belenggu rasa tak
percaya diri. Kita menjadi sadar memiliki potensi yang lebih besar dan
lebih kuat daripada tantangan. Kemudian rasa percaya diri tersebut akan
membantu kita melakukan tindakan-tindakan untuk mewujudkan hal-hal yang
kita inginkan.

Memiliki kebanggaan itu berarti merasa puas terhadap diri sendiri dan
prestasi Anda. Kepuasan terhadap diri sendiri akan memotivasi untuk terus
berdaya kreasi dan melakukan pekerjaan sebaik mungkin. Dengan begitu,
lambat laun Anda dapat membangun reputasi yang semakin positif dan mencapai
hal-hal besar yang lebih membangggakan.

Mengejar kebanggaan berarti kita memiliki tujuan. Hal itu menjadikan
tindakan-tindakan kita lebih terarah. Pada akhirnya mengejar kebanggaan itu
akan memandu kita untuk menciptakan serangkaian keberhasilan.

Kita dapat dikatakan berhasil mencapai sesuatu yang membanggakan jika orang
lain juga menaruh rasa hormat dan penghargaan. Orang lain akan memberikan 2
hal tersebut (rasa hormat dan penghargaan) jika kita mencapai kebanggaan
itu dengan jujur. Sebab kebanggaan itu merupakan penghargaan dari orang
lain atas potensi dan integritas yang kita miliki.

Apakah para koruptor yang memiliki harta ratusan milyar itu patut
berbangga? Tentu saja tidak, karena apa yang mereka capai tidak dengan cara
yang jujur. Itulah mengapa kita juga harus tetap waspada dalam mengejar
kebanggaan untuk tetap mengedepankan integritas atau kejujuran.

Melihat sisi positif dari kebanggaan itu, tak ada salahnya jika kita
mengejar kebanggaan. Lagipula masing-masing diantara kita juga memiliki
potensi yang luar biasa untuk menciptakan sesuatu yang membanggakan. Jangan
takut untuk mengejar kebanggaan, sebab kebanggaan itu sendiri juga
mencerminkan gairah hidup penuh semangat.

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku
bestseller.
Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com

Minggu, 12 Desember 2010

Buat hidup ini menarik

Buat Hidup ini Menarik
Oleh: Toni Tio

Menjadikan hidup bagaikan air yang mengalir dengan tenang dan damai

Saya punya dua orang sahabat karib sejak mahasiswa sampai tulisan ini
ditulis dan berharap persahabatan kami akan terus langgeng. Karakter kami
bertiga sangat berbeda. Sahabat yang satu selalu menggunakan otaknya untuk
berpikir, berani dan menatap hari dengan pasti, yang satu lagi cuek,
hura-hura dan hidup dijalani dengan enteng. Baginya hidup untuk dinikmati
bukan untuk susah, jadi pasrah saja karena Dia yang memberi hidup pasti
bertanggung jawab atas kehidupan ini. Sebaliknya saya lebih menutup diri,
membatasi diri dalam bergaul, menghabiskan waktu untuk belajar dan
merenung. Diam-diam saya kagum dan iri terhadap dua kawan saya itu, mereka
bisa menjalani hidup ini dengan indah. Cuek, santai, tanpa beban dan
membuat hidup ini menarik, sementara saya takut menghadapi masa depan yang
tak tahu apa bentuknya. Hidup terasa berat, rutin, bosan, jenuh, menakutkan
dan tidak menarik.

Hal ini terus berlangsung sampai pada suatu hari salah seorang sahabat saya
bertanya, "apa elu nggak bosan dengan dunia yang elu jalani? Apa enaknya
hidup kalo hanya begitu?"

Mungkin benar apa yang ditanyakan sahabat saya. Apa menariknya hidup ini,
bila panggung hanya ada satu aktor? Panggung akan kehilangan daya tarik
bila tanpa cahaya yang gemerlap-warna warni. Langit akan terasa menarik
bila dihiasi pelanggi disiang hari, dan malam terasa indah bila bulan
ditemani bintang, laut tak tampak perkasa bila tanpa hempasan ombak. Satu
nada tidak mungkin menciptakan harmoni yang merdu.

Akhirnya saya sadar terhadap apa yang sedang terjadi pada diri saya, tapi
tidak gampang merubah pandangan yang sudah sekian lama bersarang dalan
jiwa. Dari kecil saya dididik dan dituntut untuk bertanggungjawab terhadap
apapun yang saya lakukan. Sebagai anak laki-laki paling besar, kebesaran
nama keluarga/ marga ada dipundak saya. Saya selalu diingatkan harus
bertanggung jawab, melindungi, peduli, berkorban dan tampil didepan menjadi
panutan keluarga. Tidak ada kata salah. Kesalahan sekecil apapun tidak
boleh terjadi karena apapun tindakan saya ada berpuluh-puluh pasang mata
keluarga mengintainya. Om, tante, sepupuh, paman, bibi, kakak dan adik.
Semua sudah siap memangsa, pelatuk siap ditarik, bom komentar dan kritikan
siap diledakan. Semua ini kian menambah beban, belum lagi beban lainnya
(kuliah, pekerjaan, kehidupan pribadi dan lain-lainnya). Ini semua kian
menggambarkan hidup adalah derita, tidak ada sesuatu yang indah dan enak
dalam hidup ini. Semua ini membuat pikiran saya tidak bebas, tetapi malah
memberi beban pada diri sendiri yang berefek pada kehidupan saya.

Menyadari ini semua, saya mencoba memperhatikan dan belajar dari dua sobat
saya bagaimana cara mereka memandang dan membuat hidup mereka menarik. Yang
pada akhirnya memberi saya kesadaran dan sampai pada kesimpulan sebagai
berikut.

1. Hidup ini menjadi menarik atau sebaliknya tergantung bagaimana cara kita
melihat hidup ini.
Ketika hidup dilihat tidak menarik dan terus-menerus ditanamkan dalam
pikiran bahwa "hidup tidak menarik" maka jadilah hidup ini tidak menarik
menurut keyakianan kita itu. Begitu juga sebaliknya, bila dilihat menarik
maka hidup menjadi menarik.

2. Agar hidup ini bisa menarik, maka pikiran kita dibebaskan dari semua
beban.
Orang yang berjalan dengan beban dipunggungnya pasti terasa berat dan
pelan, tetapi ketika beban itu diturunkan maka akan terasa ringan dan dapat
berjalan cepat. Demikain juga dalam hidup ini ketika beban yang ada
dilepaskan maka hidup akan terasa lebih indah, mudah dan ringan.

3. Membuka hati.
Belajar apapun tidak akan berhasil apa bila kita tidak mau membuka hati
untuk menerima pelajaran itu. Sama halnya, bagaimana bisa masuk kedalam
rumah bila pintu masih dalam keadaan terkunci, saat gembok terlepas dan
pintu terbuka maka jalan masuk terbuka lebar. Jadi bukalah hati dan
persilakan hidup yang menarik masuk ke dalan kehidupan kita. Karena tanpa
pernah membuka hati sama juga tidak memberi kesempatan kepada hati itu
sendiri untuk mengenal apa itu kehidupan yang menarik dan indah. Untuk itu
kita perlu bersikap terbuka dan siap menerima segala perubahan yang ada.

4. Awali hari dengan mengucap syukur.
Sikap yang baik adalah permulaan yang tepat dalam mencapai sebuah tujuan.
Mengawali hari dengan berdoa dan mengucap syukur sebagai ungkapan
terimakasih kepada Sang pencipta atas kesempatan hidup, kesehatan yang
sudah diberikan, pemeliharaanNya dan memohon rahmat, perlindungan serta
menjadi orang bijak untuk hari yang akan dilalui akan memberi kekuatan dan
motivasi pada kita sepanjang hari.

5. Tunjukkan sikap bersahabat kepada semua orang
Mencari seorang teman lebih sulit dari pada mencari seratus musuh. Bersikap
ramah, saling menghormati, sopan santun, murah senyum dan empati kepada
orang akan membuat kita diterima dimana kita ada, dan memberi kita
bersemangat menjalani hari-hari.

6. Bersikap positif terhadap semua tantangan/ masalah.
Buku The Secret mengajar kepada kita, bahwa pikiran bagaikan sebuah magnet
yang menarik sesuatu seperti yang kita pikirkan. Pikiran yang baik akan
menarik hal-hal baik datang, begitu pula pikiran buruk akan menarik hal-hal
buruk yang terjadi. Lalu mana yang dipilih?

Walau sering kali masalah dan tantangan berat sedang terjadi, dan kita
terbawa dalam emosi (marah, sedih, kesel dan kecewa) ini sah-sah saja, tapi
ingat jangan larut dan berlama-lama. Hadapi dengan sikap positif, niscaya
ada solusi yang menunggu, tetapi bila bersikap negatif maka tidak ada jalan
keluar terbaik yang tersedia karena pada saat emosi (pikiran negatif) kita
tidak bisa berpikir dengan baik, seperti nasehat orang bijak "jangan
mengambil keputusan disaat emosi"

7. Beri motivasi untuk hari yang akan dilalui
Maksudnya memberi nama yang bersifat motivasi pada diri kita untuk hari
yang akan dilalui. Misalnya hari senin kita kasih nama motivasi "tersenyum"
maka perbanyaklah senyum tulus kepada diri sendiri maupun orang lain. Tapi
ingat, harus proposional (kalau tidak bisa di anggap gila) dengan demikian
setiap hari kita belajar sesuatu yang baru dan bisa merasakan hidup ini
sungguh menarik. Lalu hari Selasa, misalnya nama motivasinya sopan-santun,
rabu= berbuat baik, kamis= tidak sombong, jumat= hati-hati berbicara,
sabtu= menjadi ayah dan suami yang penuh kasih, minggu= semangat dan
seterusnya dan seterusnya. Yang penting nama motivasi itu logis dalam arti
mudah dilakukan dan masuk akal, sehingga bisa membuat kita termotivasi,
merasa nyaman, lebih baik dan tentunya bahagia. Menarik bukan?

8. Lakukan aktivitas yang menyenangkan pada waktu luang.
Jangan menjalankan hidup ini dengan sangat serius, apa lagi stress. Nikmati
saja. Isi waktu luang dengan hobi, misalnya baca buku, jalan-jalan bersama
keluarga, olahraga, mengunjungi saudara atau sabahat, nonton, main bersama
anak dan lain-lain. Tubuh kita perlu refresing untuk melemeskan kekakuan
otot dan menambah kesegaran.

9. Akhiri aktivitas hari ini dengan rasa syukur.
Kita tidak pernah tahu dengan pasti kapan perjalanan hidup kita akan tutup
buku. Bisa saat ini, besok atau lusa. Namun untuk hari yang sudah kita
jalani dengan segala rahmat, rejeki dan perlindungan yang sudah berikan,
sepantasnyalah kita mensyukurinya. Dengan satu kata "terimakasih" kita
boleh terlelap dalam mimpi untuk kembali menatap hari esok penuh bahagia

Di hari ini, ke dua sobat saya menduduki jabatan pimpinan diperusahaan dan
mempunyai karier yang bagus. Mereka menikmati pekerjaannya dan terbang
bebas seperti burung diudara sedang saya masih terus berziarah mencari
makna dan belajar untuk hidup yang menarik.

Indah, menarik atau tidaknya hidup ini, semua tergantung bagaimana sikap
kita menjalaninya. Kitalah aktor utamanya. Walau persepsi masing-masing
orang boleh berbeda mengenai hidup yang menarik tetapi tetap dibutuhkan
kesabaran, ketekunan dan tekat yang kuat untuk mewujudkannya. Ke dua sobat
saya bisa menikmati hidup ini dengan indah karena membebaskan pikiran dan
mampu memberi warna dalam kehidupan mereka sehingga hidup dijalani dengan
penuh gairah. Setiap masalah dibuat sebagai tantangan, dan dihadapi
bagaikan sebuah permainan.

Pembaca yang mulia, ijinkan saya bertanya. Seberapa menarikah kehidupan
kita? Kalau masih belum menarik (saya katakan "belum", bukan "tidak". Beda
lho) mari kita sama-sama belajar menciptakan kehidupan yang menarik, agar
kebahagiaan bukan lagi mimpi tapi segera menjadi kenyataan.

Hidup yang menarik akan memacu semangat untuk menciptakan kreativitas yang
mendatangkan kesuksesan maka bahagia hanya soal waktu saja.

Saya berdoa agar kita semua dapat menjalani hidup ini dengan menarik dan
indah selamanya.

Salam Mulia

*) Tony Haniel; Alumni Writer Schoolen "Cara Cerdas Menulis Artikel Menarik
Batch XIV" dapat dihubungi di tony.haniel@gmail.com

Kamis, 09 Desember 2010

Menentukan tujuan hidup

Menentukan Tujuan Hidup

"Life is a promise; fulfill it. - Kehidupan ini adalah sebuah janji; Penuhi
janji itu."
Mother Teresa

Tujuan hidup adalah keyakinan, moral, atau standar yang akan mengendalikan
hidup kita, sebab ia (tujuan hidup) memandu pola pikir dan perilaku kita.
Contoh seorang ayah ingin meluangkan waktu bersama anak lelakinya. Ia
merencanakan nonton pertandingan sepak bola. Tetapi ia kecewa karena
mobilnya terjebak macet parah.

Sesaat kemudian ia segera melupakan rasa kecewa dan kembali ceria, sebab ia
ingat tujuannya adalah meluangkan waktu bersama anak tersayang. Nonton bola
hanya sarana untuk mencapai tujuan dan bisa diganti dengan cara lain. Lalu
ia mampir ke sebuah kafe di pinggir jalan dan ia merasa senang karena
benar-benar mencapai tujuannya yaitu menghabiskan waktu berdua dengan
anaknya sepanjang hari.

Contoh lain misalnya dulu menikah tujuannya untuk mencari kebahagiaan
berdua. Tetapi setelah dalam proses beberapa tahun, justru masing-masing
mencari kesenangan sendiri-sendiri. Proses yang berat atau bahkan sangat
mudah terkadang membuat kita lupa pada tujuan semula, sehingga menimbulkan
kehancuran, kecewa, kesedihan, dan hal negatif lainnya.

Itulah mengapa tujuan hidup begitu penting, sebab tujuan hidup menjadikan
sikap, perkataan, dan perbuatan kita tetap fokus dan kosisten. Tak jarang
segala macam kejadian yang kita alami mempengaruhi emosi dan pengambilan
keputusan, sehingga kondisi dan tujuan ikut berubah. Dengan kembali
memikirkan tujuan hidup maka kita dapat menemukan makna dan kepuasan dari
segala sesuatu yang kita lakukan.

Memiliki tujuan hidup juga dapat membangkitkan seluruh potensi dan membantu
kita menemukan kekayaan sejati. Sebab tak jarang, tujuan hidup itu
menggerakkan kita secara aktif, kreatif, dan disiplin dalam melakukan
langkah-langkah ekspansi. Dengan kata lain, tujuan hidup itu menjadikan
energi dan vitalitas kita meningkat dalam upaya mencapai sesuatu yang jauh
lebih bermakna.

Tujuan hidup juga akan membantu kita menggunakan waktu dan kesempatan
dengan sebaik mungkin, sebab kita mengetahui kemana akan menuju. Coba
bayangkan jika setiap bangun tidur kita tak mengerti apa yang harus
dilakukan? Tanpa tujuan hidup yang jelas akan membuat kita cenderung
menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, tidak mampu bertindak cepat dan senang
menunda-nunda pekerjaan.

Memiliki tujuan hidup merupakan hal yang menakjubkan. Oleh sebab itu, maka
langkah pertama dan terpenting dalam mengarungi kehidupan adalah menentukan
tujuan hidup. Beberapa hal berikut mungkin dapat membantu Anda segera
menemukannya (tujuan hidup).

Langkah pertama dalam menentukan tujuan hidup adalah mengenali diri
sendiri; apa kekurangan dan kelebihan, apa yang Anda sukai dan inginkan.
Keinginan hati yang terdalam seringkali menjadi motivasi yang kuat untuk
melakukan langkah-langkah pencapaian. Orang-orang yang terkenal di dunia
karena prestasi mereka umumnya memiliki tujuan hidup yang berkaitan erat
dengan apa yang ada dalam diri mereka, terutama keahlian dan apa yang
mereka sukai.

Tujuan hidup haruslah baik. Leo Nikolaevich Tolstoy (1828-1910), seorang
pemikir dan novelis Rusia, mengatakan, "Satu-satunya arti kehidupan adalah
mengabdi pada kemanusiaan." Maka pastikan tujuan hidup Anda berkaitan erat
dengan kebaikan dunia sekitar & semua orang, memberi kebahagiaan dan
ketenangan; tidak menimbulkan kekesalan, kecurigaan, amarah, kesengsaraan
apalagi peperangan, serta hal-hal negatif lainnya.

Dalam menentukan tujuan hidup, Anda harus memikirkan kemana akhir
perjalanan hidup Anda. Langkah ini hampir sama dengan memikirkan bagaimana
tipe pekerjaan yang Anda inginkan, tipe rumah yang Anda sukai, dan lain
sebagainya. Terlebih dahulu deskripsikan kehidupan ideal itu, yang membuat
Anda benar-benar merasa senang, sehingga dengan senang hati pula Anda
menciptakan kemajuan-kemajuan serta menikmati sensasi tantangannya.

Untuk menentukan tujuan hidup, Anda juga harus menggunakan akal sekaligus
hati nurani. Sebab kehidupan yang terbaik adalah selaras dengan pikiran dan
hati. Banyak orang lebih bahagia dan sukses, karena mereka hidup dalam
keseimbangan; dalam arti menjalankan moral-spiritual, mendapatkan
ketenangan dan kepuasan batin, memiliki bisnis, karir dan keuangan yang
baik, keharmonisan keluarga, kebugaran fisik, kehidupan sosial
menyenangkan, dan lain sebagainya.

Menentukan tujuan hidup adalah langkah hidup terbesar yang akan membuat
Anda mencapai kepuasan dan kebahagiaan. Sebab tujuan hidup yang jelas
menjadi sebuah peta untuk membimbing Anda tiba tepat pada tujuan. Jadi
jangan tunda lagi, segera tentukan tujuan hidup Anda, sekarang!

*) Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku
Bestseller. Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com

Orang yang tepat

Orang yang Tepat

Pemimpin baru membawa atau membentuk tim kerja yang baru. Galibnya begitu.
Sebab salah satu tugas awal seorang pemimpin adalah melakukan perekrutan
untuk memastikan bahwa posisi-posisi penting ditempati oleh orang yang
tepat. Mengisi posisi-posisi penting secara serampangan bisa berakibat
fatal. Risiko untuk berhasil perlu diperbesar dengan memastikan
posisi-posisi penting diisi oleh orang yang tepat.

Ketika Susilo Bambang Yudhoyono memilih berpasangan dengan Jusuf Kalla
dalam pemilihan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres)
Republik Indonesia secara langsung tahun 2004 silam, tidak banyak yang
optimis bahwa mereka akan menang. Namun, makin dekat dengan waktu pemilihan
umum, popularitas mereka makin mantap, dan akhirnya mereka benar-benar
memenangkan pemilihan umum yang bersejarah itu.

Lalu, ketika pemilihan langsung Capres dan Cawapres Republik Indonesia
periode 2009-2014 akan berlangsung, banyak pihak menjagokan duet incumbent
SBY-JK yang dinilai cukup ideal untuk dipertahankan. Ternyata, dengan modal
suara Partai Demokrat sebagai partai pemenang pemilihan umum legislatif,
SBY punya pendirian tersendiri dan memilih untuk menggandeng Boediono
sebagai Cawapres. Berbagai spekulasi kembali merebak, tetapi masyarakat
luas agaknya memang masih pro-SBY.

Masalahnya kemudian adalah bagaimana dengan formasi anggota kabinet
pemerintah periode 2009-2014? Akankah SBY-Boediono berani memberikan porsi
cukup besar kepada kaum teknokrat dan profesional untuk mengisi kursi
departemen strategis? Akankah posisi menteri yang memimpin departemen
teknis diserahkan kepada orang-orang partai pendukungnya? Apapun pilihan
SBY-Boediono, stabilitas dan instabilitas pemerintahannya akan juga
ditentukan oleh penempatan orang-orang didalam kabinet tersebut.

Dalam konteks mikro, para pemimpin perusahaannya juga mengalami hal yang
senada seirama. Jika pemilik perusahaan berganti, maka boleh jadi sebuah
tim eksekutif baru perlu segera dibentuk menggantikan yang lama. Dan jika
pemimpin baru menawarkan visi perubahan untuk meningkatkan kinerja
perusahaan, maka umumnya ia akan memastikan lebih dulu bahwa posisi-posisi
strategis dipegang oleh orang-orang yang sejalan dengan dirinya.

Terkadang, untuk menyelamatkan muka sejumlah orang, struktur organisasi
diubah untuk memberikan tempat kepada orang-orang baru, tanpa harus
menyingkirkan orang-orang lama; setidaknya untuk sementara waktu.

Selanjutnya, jika orang-orang sudah direkrut dan ditempatkan, bagaimana
seorang pemimpin dapat tahu bahwa ia telah memilih orang yang tepat untuk
tiap posisi strategis? Indikator apa saja yang bisa dipergunakan untuk
menjawab soal "tepat dan tidak tepat" ini?

Tidak ada jawaban yang definitif dan mutlak. Namun, studi Jim Collins,
dalam karya terbarunya bertajuk How The Mighty Fall: And Why Some Companies
Never Give In (2009), mungkin dapat dijadikan rujukan awal.

Menurut Collins, yang sebelumnya kondang sebagai pengarang buku Good to
Great: Why Some Companies Make the Leap..and Others Don't (2001),
sedikitnya ada enam sifat penting yang menunjukkan bahwa suatu posisi
penting sudah ditempati oleh "orang yang tepat".

Pertama, orang yang tepat cocok dengan nilai-nilai inti perusahaan.
Perusahaan-perusahaan yang hebat membangun budaya dimana mereka yang tidak
memiliki nilai-nilai institusi yang sama dikelilingi antibodi dan ditolak
seperti virus. Orang bertanya: Bagaimana caranya agar orang memiliki nilai
inti yang sama?" Jawabnya: rekrut orang yang sudah memiliki kecenderungan
ke arah itu-dan pertahankan mereka.

Kedua, orang yang tepat tidak perlu diatur dengan ketat. Ketika Anda merasa
perlu mengatur seseorang dengan ketat, Anda mungkin telah melakukan
kesalahan rekrutmen. Anda tak perlu menghabiskan banyak waktu "memotivasi"
dan "mengatur" orang yang tepat. Dalam diri mereka sudah tertanam konsep
bahwa mereka akan mati-matian produktif, termotivasi sendiri, mampu
mendisiplin diri, dan sangat terpacu untuk unggul dibanding yang lain.

Ketiga, orang tepat mengerti bahwa mereka tidak punya "pekerjaan"-tapi
tanggung jawab. Mereka paham perbedaan antara daftar tugas dan tanggung
jawab mereka yang sesungguhnya. Orang yang tepat bisa berkata, "Saya
satu-satunya orang yang memanggul tanggung jawab final untuk .".

Keempat, orang yang tepat memenuhi komitmen mereka. Dalam sebuah kultur
disiplin, orang menganggap komitmen sebagai sesuatu yang sakral-mereka
melakukan apa yang mereka katakan akan mereka lakukan, tanpa mengeluh. Sama
halnya, ini berarti mereka sangat berhati-hati dalam mengatakan apa yang
akan mereka lakukan, berhati-hari untuk tidak pernah over-committed atau
menjanjikan sesuatu yang tidak bisa mereka penuhi.

Kelima, orang yang tepat antusias dengan perusahaan dan pekerjaan
perusahaan. Mereka menunjukkan intensitas antusiasme yang luar biasa.

Keenam, orang yang tepat menunjukkan kematangan jendela-dan-cermin. Ketika
sesuatu berjalan lancar, orang yang tepat menunjuk keluar jendela, memuji
faktor-faktor selain diri sendiri. Mereka menyoroti pihak-pihak lain yang
memberikan kontribusi. Namun, ketika segala sesuatu berjalan tidak
sebagaimana mestinya, mereka tidak menyalahkan situasi dan orang lain.
Mereka memandang ke cermin dan berkata, "Saya yang bertanggung jawab".

Jika para pemimpin dan eksekutif puncak organisasi belum memiliki perangkat
yang lebih baik untuk mengukur tepat tidaknya orang-orang yang
ditempatkannya pada posisi penting, maka keenam sifat penting yang
diusulkan Collins bisa dipergunakan untuk sementara. Namun lebih dari itu,
para pengamat dan konstituen pemimpin tertentu dapat menggunakan hal yang
sama untuk memberikan penilaian apakah pemimpin mereka (kita) sudah
menempatkan orang-orang yang tepat pada posisi-posisi strategis. Semoga.

*) ANDRIAS HAREFA; Penggagas Visi Indonesia 2045; Trainer Coach
Berpengalaman 20 Tahun; Penulis 35 Buku Best-seller; Beralamat di
www.andriasharefa.com dan aharefa@gmail.com. Artikel ini juga dimuat di
Bisnis Indonesia Minggu rubrik Spiritual Leadership Edisi 26 Juli 2009.

Selasa, 07 Desember 2010

Membangun Karisma

Membangun Karisma

"Charisma is a sparkle in people that money can't buy. It's an invisible
energy with visible effects. - Karisma adalah cahaya seseorang yang tak
ternilai dengan materi. Karisma adalah energi yang tak terlihat tetapi
memberi dampak nyata." Marianne Williamson aktifis spiritual, penulis,
dosen dan pendiri The Peace Alliance di Amerika Serikat.

Pasti kita pernah mendengar istilah orang yang penuh karisma, yaitu orang
yang memiliki daya tarik luar biasa. Aura kehadiran maupun kata-katanya
begitu berpengaruh dan menarik. Orang-orang berkarisma itu ada di berbagai
bidang, contohnya Soekarno (politik), Dalai Lama (spiritual), Bunda
Theresia (spiritual & kemanusiaan), Warren Buffet (bisnis), Leonardo Da
Vinci (seni dan budaya), dan masih banyak lagi.

Orang yang berkarisma seperti itu mampu menjadi pusat perhatian yang begitu
dikagumi banyak orang, padahal penampilan mereka tak berbeda dengan
kebanyakan orang. Ada sebagian orang mengatakan bahwa karisma itu merupakan
bakat alamiah. Namun sebenarnya siapapun dapat membangun karisma, yaitu
dengan memperbarui beberapa hal diantaranya adalah moral dan spiritual,
kesan keseluruhan postur tubuh, sorot mata, kepercayaan diri, kemampuan dan
kematangan sikap. Beberapa langkah berikut ini akan dapat membantu Anda
membangun karisma.

Pertama adalah memiliki visi dan misi yang jelas dan berjuang keras
mewujudkannya. Lihat saja pemimpin besar seperti Soekarno memiliki visi
yang jelas & betul-betul memperjuangkan kemerdekaan RI. Lalu Martin Luther
King, Jr., yang mempunyai impian tentang masa depan Amerika sehingga rakyat
Amerika mendukung dia sepenuhnya, begitu pula dengan John F. Kennedy.

Visi menjadikan seseorang memiliki daya tarik, sebab kejelasan visi mampu
mengisi kekosongan atau harapan orang lain. Selain itu, visi juga dapat
mengarahkan seseorang melakukan tindakan-tindakan konstruktif dan nyata.
Niccolo Machiavelli mengatakan, "Make no small plans, for they have no
power to stir the soul. - Mereka tidak akan memiliki kekuatan untuk
mengarahkan jiwa mereka jika tidak memiliki sedikitpun perencanaan."

Bila saya perhatikan mayoritas orang-orang yang karismatik memiliki visi
yang besar dan mulia. Untuk memperjuangkan visi tersebut mereka sangat
menghargai waktu, kehidupan dan diri mereka sendiri serta memiliki tanggung
jawab yang tinggi untuk menjadikan dunia lebih baik. Intergritas dan
kepercayaan diri mereka juga luar biasa dalam upaya mewujudkan visi mereka.

Langkah lain yang perlu ditempuh untuk menumbuhkan karisma adalah memupuk
rasa percaya diri. Rasa percaya diri nampak dari postur, sorot mata dan
sikap yang baik dan alamiah. Kepercayaan diri yang tinggi juga tercermin
dari kalimat-kalimat yang penuh optimisme, positif dan memotivasi.
Kalimat-kalimat seperti itu juga terdengar lebih menarik. Jika Anda tekun
mengembangkan kemampuan tersebut, pasti Anda akan terlihat menonjol
dibandingkan yang lain.

Yang ketiga adalah menghargai orang lain atau berusaha menjadikan orang
lain merasa berarti. Misalnya dengan meluangkan waktu untuk menyapa dan
berusaha mengerti apa yang dirasakan orang lain. Termasuk diantaranya
adalah menunjukkan empati yang tulus, sehingga terbangun interaksi positif
dengan orang lain sebanyak mungkin.

Orang terlihat lebih karismatik ketika ia tidak mementingkan diri sendiri,
keluarga maupun golongan. Karismanya terpancar dari sikap yang setia dan
tulus dalam melayani serta kesediaannya maju di depan justru ketika situasi
genting dan benar-benar membuntutkan seorang pemimpin. Mereka menjadi
karismatik karena memberi harapan di tengah keputusasaan dan bersedia
menjadi penerang dalam kegelapan.

Seseorang menjadi karismatik bukan dikarenakan pandai mendeskripsikan sosok
ideal melalui kata-kata, melainkan menampilkan sosok ideal dalam setiap
perbuatannya sehari-hari. Aura karismatik seseorang terpancar dari teladan
sikapnya yang positif, misalnya ketekunannya berusaha, kejujuran,
komitmennya menegakkan kebenaran, dan kasih sayangnya kepada orang lain.
Jika Anda selalu berusaha memperlihatkan teladan sikap positif, pasti Anda
juga bisa menarik banyak perhatian dan dukungan banyak orang.

Selain itu berusahalah untuk selalu bersyukur dan meningkatkan kekuatan
spiritual. Seseorang yang memiliki keteduhan iman dan selalu bersyukur
lebih mudah mengontrol sikap atau perbuatannya, sehingga cenderung mampu
bersikap menyenangkan. Penampilan sosok yang memiliki keteduhan iman,
syukur dan rendah hati pasti terlihat lebih menarik bagi orang lain.

Meningkatkan ilmu pengetahuan dan berlatih berpikir kreatif merupakan
langkah lain untuk terlihat menarik. Beberapa orang mengatakan bahwa ilmu
pengetahuan itu seksi. Berusahalah untuk terus meningkatkan ilmu
pengetahuan lambat laun pasti membuat Anda menjadi lebih karismatik.

Humor dan senyum merupakan 2 hal penting untuk meningkatkan karisma dan
mempererat hubungan sosial. Senyuman dan humor dapat menghancurkan kebekuan
sehingga suasana menjadi lebih akrab dan menyenangkan. Semua orang menyukai
orang yang dapat membuat mereka tertawa. Agar Anda lebih berkarisma,
pelajarilah cara menciptakan humor dan gunakan sesering mungkin pada
situasi yang tepat.

Berusaha memperbaiki kekurangan dan berpenampilan menarik merupakan langkah
penting agar lebih berkarisma. Untuk menjaga penampilan tetap menarik tak
harus berpakaian serba mahal dan bermerek terkenal, walaupun sederhana
asalkan rapi, bersih dan sopan. Menghormati diri sendiri dengan menjaga
penampilan sama halnya Anda membantu orang lain menghargai Anda.

Seseorang yang berkarisma berpotensi menjadi pemimpin ideal. Penulis "The
Purpose-Driven Life" Rick Warren merumuskan seorang pemimpin ideal adalah
mereka yang memiliki kepedulian dan belas kasih pada orang lain, terus
membangun kekuatan spiritual, intelektual, dan moralitas sikapnya. Rick
Warren juga memaparkan bahwa seorang pemimpin karismatik juga mampu fokus
pada persoalan kritis dan tidak sibuk dengan masalah-masalah sekunder,
memiliki integritas serta berani melaksanakan solusi terbaik walaupun tidak
populer. Semua kualitas pemimpin ideal tersebut pasti Anda miliki jika Anda
serius dan aktif membangun karisma.

Bila Anda tertarik untuk menumbuhkan karisma, lakukan beberapa hal yang
telah saya uraikan di atas. Ketekunan membangunnya (karisma) pasti membuat
Anda menjadi magnet yang kuat, terutama untuk meraih perhatian dan kekuatan
massa. Yang terpenting bahwasanya siapapun yang membangun karismanya akan
mendapatkan banyak kemudahan dalam mengatasi tantangan-tantangan hidup.

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku
best-seller. Kunjungi websitenya di: www.andrewho-uol.com

Keseimbangan Hidup

Keseimbangan Hidup

Dikisahkan, suatu hari ada seorang anak muda yang tengah menanjak karirnya
tapi merasa hidupnya tidak bahagia. Istrinya sering mengomel karena merasa
keluarga tidak lagi mendapat waktu dan perhatian yang cukup dari si suami.
Orang tua dan keluarga besar, bahkan menganggapnya sombong dan tidak lagi
peduli kepada keluarga besar. Tuntutan pekerjaan membuatnya kehilangan
waktu untuk keluarga, teman-teman lama, bahkan saat merenung bagi dirinya
sendiri.

Hingga suatu hari, karena ada masalah, si pemuda harus mendatangi salah
seorang petinggi perusahaan di rumahnya. Setibanya di sana, dia sempat
terpukau saat melewati taman yang tertata rapi dan begitu indah.

"Hai anak muda. Tunggulah di dalam. Masih ada beberapa hal yang harus Bapak
selesaikan," seru tuan rumah. Bukannya masuk, si pemuda menghampiri dan
bertanya, "Maaf, Pak. Bagaimana Bapak bisa merawat taman yang begitu indah
sambil tetap bekerja dan bisa membuat keputusan-keputusan hebat di
perusahaan kita?"

Tanpa mengalihkan perhatian dari pekerjaan yang sedang dikerjakan, si bapak
menjawab ramah, "Anak muda, mau lihat keindahan yang lain? Kamu boleh
kelilingi rumah ini. Tetapi, sambil berkeliling, bawalah mangkok susu ini.
Jangan tumpah ya. Setelah itu kembalilah kemari".

Dengan sedikit heran, namun senang hati, diikutinya perintah itu. Tak lama
kemudian, dia kembali dengan lega karena mangkok susu tidak tumpah sedikit
pun. Si bapak bertanya, "Anak muda. Kamu sudah lihat koleksi batu-batuanku?
Atau bertemu dengan burung kesayanganku?"

Sambil tersipu malu, si pemuda menjawab, "Maaf Pak, saya belum melihat apa
pun karena konsentrasi saya pada mangkok susu ini. Baiklah, saya akan pergi
melihatnya."

Saat kembali lagi dari mengelilingi rumah, dengan nada gembira dan kagum
dia berkata, "Rumah Bapak sungguh indah sekali, asri, dan nyaman." tanpa
diminta, dia menceritakan apa saja yang telah dilihatnya. Si Bapak
mendengar sambil tersenyum puas sambil mata tuanya melirik susu di dalam
mangkok yang hampir habis.

Menyadari lirikan si bapak ke arah mangkoknya, si pemuda berkata, "Maaf
Pak, keasyikan menikmati indahnya rumah Bapak, susunya tumpah semua".

"Hahaha! Anak muda. Apa yang kita pelajari hari ini? Jika susu di mangkok
itu utuh, maka rumahku yang indah tidak tampak olehmu. Jika rumahku
terlihat indah di matamu, maka susunya tumpah semua. Sama seperti itulah
kehidupan, harus seimbang. Seimbang menjaga agar susu tidak tumpah
sekaligus rumah ini juga indah di matamu. Seimbang membagi waktu untuk
pekerjaan dan keluarga. Semua kembali ke kita, bagaimana membagi dan
memanfaatkannya. Jika kita mampu menyeimbangkan dengan bijak, maka pasti
kehidupan kita akan harmonis".

Seketika itu si pemuda tersenyum gembira, "Terima kasih, Pak. Tidak diduga
saya telah menemukan jawaban kegelisahan saya selama ini. Sekarang saya
tahu, kenapa orang-orang menjuluki Bapak sebagai orang yang bijak dan baik
hati".

Teman-teman yang luar biasa,
Dapat membuat kehidupan seimbang tentu akan mendatangkan keharmonisan dan
kebahagiaan. Namun bisa membuat kehidupan menjadi seimbang, itulah yang
tidak mudah.

Saya kira, kita membutuhkan proses pematangan pikiran dan mental. Butuh
pengorbanan, perjuangan, dan pembelajaran terus menerus. Dan yang pasti,
untuk menjaga supaya tetap bisa hidup seimbang dan harmonis, ini bukan
urusan 1 atau 2 bulan, bukan masalah 5 tahun atau 10 tahun, tetapi kita
butuh selama hidup. Selamat berjuang!

Demikian dari saya, Andrie Wongso - action and wisdom motivation training.
Success is my right, sukses adalah hak saya!

Salam sukses luar biasa!!
Andre Wongso

Minggu, 05 Desember 2010

Pesan Ibu

Pesan Ibu

Suatu hari, tampak seorang pemuda tergesa-gesa memasuki sebuah restoran
karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makanan, seorang
anak penjaja kue menghampirinya, "Om, beli kue Om, masih hangat dan enak
rasanya!"

"Tidak Dik, saya mau makan nasi saja," kata si pemuda menolak.

Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran.

Melihat si pemuda telah selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri
lagi dan menyodorkan kuenya. Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak
membayar makanan berkata, "Tidak Dik, saya sudah kenyang."

Sambil berkukuh mengikuti si pemuda, si anak berkata, "Kuenya bisa dibuat
oleh-oleh pulang, Om."

Dompet yang belum sempat dimasukkan ke kantong pun dibukanya kembali.
Dikeluarkannya dua lembar ribuan dan ia mengangsurkan ke anak penjual kue.
"Saya tidak mau kuenya. Uang ini anggap saja sedekah dari saya."

Dengan senang hati diterimanya uang itu. Lalu, dia bergegas ke luar
restoran, dan memberikan uang pemberian tadi kepada pengemis yang berada di
depan restoran.

Si pemuda memperhatikan dengan seksama. Dia merasa heran dan sedikit
tersinggung. Ia langsung menegur, "Hai adik kecil, kenapa uangnya kamu
berikan kepada orang lain? Kamu berjualan kan untuk mendapatkan uang.
Kenapa setelah uang ada di tanganmu, malah kamu berikan ke si pengemis
itu?"

"Om, saya mohon maaf. Jangan marah ya. Ibu saya mengajarkan kepada saya
untuk mendapatkan uang dari usaha berjualan atas jerih payah sendiri, bukan
dari mengemis. Kue-kue ini dibuat oleh ibu saya sendiri dan ibu pasti
kecewa, marah, dan sedih, jika saya menerima uang dari Om bukan hasil dari
menjual kue. Tadi Om bilang, uang sedekah, maka uangnya saya berikan kepada
pengemis itu."

Si pemuda merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti. "Baiklah,
berapa banyak kue yang kamu bawa? Saya borong semua untuk oleh-oleh." Si
anak pun segera menghitung dengan gembira.

Sambil menyerahkan uang si pemuda berkata, "Terima kasih Dik, atas
pelajaran hari ini. Sampaikan salam saya kepada ibumu."

Walaupun tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan si pemuda,
dengan gembira diterimanya uang itu sambil berucap, "Terima kasih, Om. Ibu
saya pasti akan gembira sekali, hasil kerja kerasnya dihargai dan itu
sangat berarti bagi kehidupan kami."

Teman-teman yang luar biasa,

Ini sebuah ilustrasi tentang sikap perjuangan hidup yang POSITIF dan
TERHORMAT. Walaupun mereka miskin harta, tetapi mereka kaya mental!
Menyikapi kemiskinan bukan dengan mengemis dan minta belas kasihan dari
orang lain. Tapi dengan bekerja keras, jujur, dan membanting tulang.

Jika setiap manusia mau melatih dan mengembangkan kekayaan mental di dalam
menjalani kehidupan ini, lambat atau cepat kekayaan mental yang telah kita
miliki itu akan mengkristal menjadi karakter, dan karakter itulah yang akan
menjadi embrio dari kesuksesan sejati yang mampu kita ukir dengan gemilang.

Salam sukses luar biasa!
Andrie Wongso

Bersyukur dan Bahagia

Bersyukur dan Bahagia

Alkisah, ada seorang pedagang kaya yang merasa dirinya tidak bahagia. Dari
pagi-pagi buta, dia telah bangun dan mulai bekerja. Siang hari bertemu
dengan orang-orang untuk membeli atau menjual barang. Hingga malam hari,
dia masih sibuk dengan buku catatan dan mesin hitungnya. Menjelang tidur,
dia masih memikirkan rencana kerja untuk keesokan harinya. Begitu hari-hari
berlalu.

Suatu pagi sehabis mandi, saat berkaca, tiba-tiba dia kaget saat menyadari
rambutnya mulai menipis dan berwarna abu-abu. "Akh. Aku sudah menua. Setiap
hari aku bekerja, telah menghasilkan kekayaan begitu besar! Tetapi kenapa
aku tidak bahagia? Ke mana saja aku selama ini?"

Setelah menimbang, si pedagang memutuskan untuk pergi meninggalkan semua
kesibukannya dan melihat kehidupan di luar sana. Dia berpakaian layaknya
rakyat biasa dan membaur ke tempat keramaian.

"Duh, hidup begitu susah, begitu tidak adil! Kita telah bekerja dari pagi
hingga sore, tetapi tetap saja miskin dan kurang," terdengar sebagian
penduduk berkeluh kesah.

Di tempat lain, dia mendengar seorang saudagar kaya; walaupun harta
berkecukupan, tetapi tampak sedang sibuk berkata-kata kotor dan memaki
dengan garang. Tampaknya dia juga tidak bahagia.

Si pedagang meneruskan perjalanannya hingga tiba di tepi sebuah hutan. Saat
dia berniat untuk beristirahat sejenak di situ, tiba-tiba telinganya
menangkap gerak langkah seseorang dan teriakan lantang, "Huah! Tuhan,
terima kasih. Hari ini aku telah mampu menyelesaikan tugasku dengan baik.
Hari ini aku telah pula makan dengan kenyang dan nikmat. Terima kasih
Tuhan, Engkau telah menyertaiku dalam setiap langkahku. Dan sekarang,
saatnya hambamu hendak beristirahat."

Setelah tertegun beberapa saat dan menyimak suara lantang itu, si pedagang
bergegas mendatangi asal suara tadi. Terlihat seorang pemuda berbaju lusuh
telentang di rerumputan. Matanya terpejam. Wajahnya begitu bersahaja.

Mendengar suara di sekitarnya, dia terbangun. Dengan tersenyum dia menyapa
ramah, "Hai, Pak Tua. Silahkan beristirahat di sini."

"Terima kasih, Anak Muda. Boleh bapak bertanya?" tanya si pedagang.
"Silakan."

"Apakah kerjamu setiap hari seperti ini?"
"Tidak, Pak Tua. Menurutku, tak peduli apapun pekerjaan itu, asalkan setiap
hari aku bisa bekerja dengan sebaik2nya dan pastinya aku tidak harus
mengerjakan hal sama setiap hari. Aku senang, orang yang kubantu senang,
orang yang membantuku juga senang, pasti Tuhan juga senang di atas sana. Ya
kan? Dan akhirnya, aku perlu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan
atas semua pemberiannya ini".

Teman-teman yang luar biasa,
Kenyataan di kehidupan ini, kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan sebesar
apapun tidak menjamin rasa bahagia. Bisa kita baca kisah hidup seorang maha
bintang Michael Jackson yang meninggal belum lama ini, yang berhutang di
antara kelimpahan kekayaannya. Dia hidup menyendiri dan kesepian di tengah
keramaian penggemarnya; tidak bahagia di tengah hiruk pikuk bumi yang
diperjuangkannya.

Entah seberapa kontroversial kehidupan Jacko. Tetapi, yah. setidaknya, dia
telah berusaha berbuat yang terbaik dari dirinya untuk umat manusia
lainnya.

Mari, jangan menjadi budaknya materi. Mampu bersyukur merupakan kebutuhan
manusia. Mari kita berusaha memberikan yang terbaik bagi diri kita sendiri,
lingkungan kita, dan bagi manusia-manusia lainnya. Sehingga, kita
senantiasa bisa menikmati hidup ini penuh dengan sukacita, syukur, dan
bahagia.

Salam sukses luar biasa!!!
Andrie Wongso

Jumat, 03 Desember 2010

Personal Winning Alphabet

Personal Winning Alphabet

Menurut pakarnya, manusia sukses tidak cuma dari IQ saja. Peran EQ
(Emotional Intelligence) pada kesuksesan bahkan melebihi porsi IQ. Seorang
pakar EQ bernama Patricia Patton memberikan tips bagaimana kita menemukan
dan memupuk harga diri, yang disebutnya alfabet keberhasilan pribadi.

Yuk kita lihat apa maksudnya :

A : Accept.
Terimalah diri anda sebagaimana adanya.

B : Believe.
Percayalah terhadap kemampuan anda untuk meraih apa yang anda inginkan
dalam
hidup.

C : Care.
Pedulilah pada kemampuan anda meraih apa yang anda inginkan dalam hidup.

D : Direct.
Arahkan pikiran pada hal-hal positif yang meningkatkan kepercayaan diri.

E : Earn.
Terimalah penghargaan yang diberi orang lain dengan tetap berusaha menjadi
yang terbaik.

F : Face.
Hadapi masalah dengan benar dan yakin.

G : Go.
Berangkatlah dari kebenaran.

H : Homework.
Pekerjaan rumah adalah langkah penting untuk mengumpukan informasi.

I : Ignore.
Abaikan celaan orang yang menghalangi jalan anda mencapai tujuan.

J : Jealously.
Rasa iri dapat membuat anda tidak menghargai kelebihan anda sendiri.

K : Keep.
Terus berusaha walaupun beberapa kali gagal.

L : Learn.
Belajar dari kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya.

M : Mind.
Perhatikan urusan sendiri dan tidak menyebar gosip tentang orang lain.


N : Never.
Jangan terlibat skandal seks, obat terlarang, dan alkohol.

O : Observe.
Amatilah segala hal di sekeliling anda.Perhatikan, dengarkan dan belajar
dari orang lain.

P : Patience.
Sabar adalah kekuatan tak ternilai yang membuat anda terus berusaha.

Q : Question.
Pertanyaan perlu untuk mencari jawaban yang benar dan menambah ilmu.

R : Respect.
Hargai diri sendiri dan juga orang lain.

S : Self confidence, self esteem, self respect.
Percaya diri, harga diri, citra diri, penghormatan diri akan membebaskan
kita dari saat-saat tegang.

T : Take.
Bertanggung jawab pada setiap tindakan anda.

U : Understand.
Pahami bahwa hidup itu naik turun, namun tak ada yang dapat mengalahkan
anda.

V : Value.
Nilai diri sendiri dan orang lain, berusahalah melakukan yang terbaik.

W : Work.
Bekerja dengan giat, jangan lupa berdoa.

X : X'tra.
Usaha lebih keras membawa keberhasilan.

Y : You.
Anda dapat membuat suatu yang berbeda.

Z : Zero.
Usaha nol membawa hasil nol pula.

Kamis, 02 Desember 2010

Nilai Kehidupan

Nilai Kehidupan

Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah,
hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya.
Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati
kesehariannya dengan baik.

Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak
mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di
ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu
kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki
arti.

"Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik
aku mengakhiri saja kehidupan ini," katanya dalam hati. Disiapkannya seutas
tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.

Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela
lembut. "Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung
diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal
setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk
menghibur siapapun yang berada di sekitar sini."

Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang
lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara
lirih si pohon, "Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon
yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin.
Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah
dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati
hasilnya."

Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari
pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, "Anak muda,
karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk
sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati
di sini."

Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir,
"Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka
menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap
rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain".

Segera timbul kesadaran baru. "Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat.
Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus
punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat
bagi makhluk lain".

Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.

Teman-teman yang luar biasa,

Kalau kita mengisi kehidupan ini dengan menggerutu, mengeluh, dan pesimis,
tentu kita menjalani hidup ini (dengan) terasa terbeban dan saat tidak
mampu lagi menahan akan memungkinkan kita mengambil jalan pintas yaitu
bunuh diri.

Sebaliknya, kalau kita mampu menyadari sebenarnya kehidupan ini begitu
indah dan menggairahkan, tentu kita akan menghargai kehidupan ini. Kita
akan mengisi kehidupan kita, setiap hari penuh dengan optimisme, penuh
harapan dan cita-cita yang diperjuangkan, serta mampu bergaul dengan
manusia-manusia lainnya.

Maka, jangan melayani perasaan negatif. Usir segera. Biasakan memelihara
pikiran positif, sikap positif, dan tindakan positif. Dengan demikian kita
akan menjalani kehidupan ini penuh dengan syukur, semangat, dan sukses luar
biasa!

Salam sukses luar biasa!!!
-Andrie Wongso

Senin, 22 November 2010

Rahasia Pensiun Muda, Kaya Raya, Dan Bahagia

Rahasia Pensiun Muda, Kaya Raya, Dan Bahagia

Pensiun muda, kaya raya, dan bahagia adalah idaman setiap orang. Siapa yang
mau kerja sampai tua tapi tetap miskin dan menderita? Ada orang yang
setelah menetapkan goal mereka dapat mencapai goal itu dengan cukup mudah.
Ada yang perlu kerja sedikit lebih keras. dan akhirnya berhasil. Namun ada
juga yang telah bekerja sangat keras tetap belum bisa berhasil.

Sebenarnya apakah sulit untuk bisa pensiun muda, kaya raya, dan bahagia?
Ah, nggak. Justru sangat mudah.

Jika memang sangat mudah mengapa banyak orang tidak bisa mencapainya? Nah,
inilah alasannya saya menulis artikel ini.

Jawaban singkatnya sederhana sekali. Ini semua bergantung pada definisi
sukses yang mereka tetapkan untuk diri mereka.

Lho, maksudnya?

Begini ya. Banyak orang tidak menetapkan secara sadar arti sukses bagi diri
mereka. Umumnya orang, termasuk saya juga dulunya, mengadopsi sukses
berdasarkan definisi atau kriteria orang lain. Itulah sebabnya bila kita
bertanya kepada orang, "Apa yang ingin anda capai dalam hidup?", mereka
akan menjawab, "Sukses". Kalau kita kejar lagi, "Sukses seperti apa?", maka
umumnya mereka akan menjawab, "Mencapai kebebasan waktu dan uang" atau
"Pensiun dini". Yang paling keren adalah jawaban, "Muda kaya raya, tua
foya-foya, mati masuk surga".

Dulu saya juga ingin sukses seperti di atas. Namun sekarang saya mengerti.
Sukses bukanlah seperti yang didefinisikan kebanyakan orang. Kita harus
menetapkan sendiri definisi sukses. Saya mendefinisikan sukses sebagai
perjalan diri berdasar peta sukses yang kita rencanakan sendiri dengan
kesadaran kita saat itu.

Di sini ada dua komponen penting. Pertama, sukses adalah perjalanan yang
dilakukan berdasarkan peta sukses. Kedua, peta sukses ini kita rencanakan
sendiri dengan kesadaran kita saat itu.

Peta sukses ini adalah impian-impian yang ingin kita capai dalam hidup.
Impian harus memenuhi dua syarat utama yaitu harus bersifat personal dan
bermakna. Dan yang lebih penting lagi adalah kita menetapkan impian dengan
menggunakan kesadaran kita pada saat itu.

Hal ini berarti seiring dengan berkembang dan meningkatnya kesadaran diri
maka kita perlu melakukan update impian-impian kita. Ada yang perlu kita
tambah dan ada yang perlu kita hapus dari daftar.

Mengapa sampai perlu dihapus dan ditambah? Karena seringkali apa yang dulu
kita anggap penting ternyata sekarang sudah tidak penting lagi. Apa yang
dulu kita anggap personal dan bermakna ternyata sekarang sudah tidak
bermakna lagi karena level kesadaran kita telah berkembang. Sebaliknya apa
yang dulu tidak terpikirkan oleh kita, eh. sekarang malah sangat penting
untuk kita capai.

Impian harus ditetapkan dengan mengacu pada nilai-nilai hidup (value)
tertinggi kita. Tidak asal ditetapkan seperti yang dilakukan oleh
kebanyakan orang. Saat impian sejalan dengan value maka impian ini berisi
muatan emosi positif yang tinggi. Emosi positif ini selanjutnya akan
menjadi pendorong, motivator, dan sekaligus provokator sehingga kita akan
selalu semangat melakukan kerja atau upaya untuk mencapainya.
Pencerahan lain yang saya dapatkan adalah kita perlu hati-hati menetapkan
makna kata "pensiun". Mengapa? Karena ada begitu banyak orang sulit
mencapai kebebasan waktu dan uang yang mereka impikan karena mereka
dihambat oleh kata "pensiun".

Lho, kok bisa begitu?

Begini ya. Manusia berpikir dengan menggunakan dua pikiran yaitu pikiran
sadar dan bawah sadar. Pensiun diartikan sebagai sesuatu yang indah,
kebebasan uang dan waktu, ini kan baru kita dapatkan setelah kita dewasa.
Apalagi setelah membaca bukunya Robert Kiyosaki Cashflow Quadrant.

Pensiun menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) artinya: 1) tidak
bekerja lagi karena masa tugasnya telah selesai, dan 2) uang tunjangan yang
diterima tiap-tiap bulan oleh karyawan sesudah ia berhenti bekerja atau
oleh istri (suami) dan anak-anaknya yang belum dewasa kalau ia meninggal
dunia. Definisi pensiun di atas nggak terlalu bagus, kan?

Nah, bagaimana dengan makna "pensiun" menurut orang di sekitar kita?
Berbeda dengan definisi KBBI di atas, dari hasil programming saat kita
masih kecil umumnya kata "pensiun" mempunyai arti "berhenti bekerja", "uang
pas-pasan", "nganggur karena sudah nggak ada kerjaan", "tidak punya
kekuasaan", "tidak dihargai orang", "tua dan lemah", atau "melewati
hari-hari yang membosankan". Hal ini ditambah lagi ada banyak contoh orang
yang pensiun dari jabatan tertentu eh.. dua tahun kemudian meninggal.

Jadi, tanpa kita sadari ada muatan emosi negatif yang cukup tinggi yang
melekat pada kata "pensiun". Emosi negatif ini bekerja di level pikiran
bawah sadar dan tanpa kita sadari justru menjadi mental block yang
menghambat upaya kita.

Langkah awal untuk pensiun adalah melakukan definisi ulang makna kata
"pensiun". Dan pastikan makna ini benar-benar masuk dan tertanam dengan
kuat di pikiran bawah sadar kita.

Anda mungkin tidak percaya dengan apa yang saya jelaskan di atas, bahwa apa
yang kita pikirkan secara sadar belum tentu sejalan dengan pikiran bawah
sadar. Bila sampai terjadi konflik antara pikiran sadar dan bawah sadar
maka yang selalu menang adalah pikiran bawah sadar.

Ini saya beri contoh nyata. Seorang kawan, sebut saja Budi, adalah anak
muda yang sangat aktif dan percaya diri. Budi punya impian besar. Ia ingin
jadi orang sukses. Budi menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Ia serius
mengembangkan dirinya dengan membaca sangat banyak buku pengembangan diri,
bisnis, keuangan, ekonomi, dan mengikuti berbagai seminar di dalam dan luar
negeri. Budi telah mengikuti pelatihan semua pembicara top Indonesia. Di
luar negeri Budi, antara lain, mengikuti pelatihan Anthony Robbins dan
Robert Kiyosaki.

Setelah dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh Budi akhirnya memilih fast
track menjadi orang kaya dengan menjadi pengusaha properti. Budi sadar
sesadar-sadarnya bahwa, seperti ilmu yang ia dapatkan dari berbagai
pelatihan yang ia ikuti, untuk bisa sukses finansial tidak perlu modal
besar. "You don' need a lot of money to make a lot of money", ini mantra
yang selalu ia sampaikan pada saya, " Yang penting sikap, keyakinan diri,
dan antusiasme". Namun setelah mencoba sekian lama Budi masih tetap belum
bisa berhasil. So, what's wrong? Some thong wring. eh.. salah. some thing
wrong.

Apa yang menjadi penghambat Budi?

Pikiran sadar Budi yakin bahwa tidak perlu uang banyak untuk sukes secara
finansial. Namun pikiran bawah sadarnya berkata sebaliknya. Budi belum bisa
sukses karena, menurut pikiran bawah sadarnya, tidak punya modal banyak.
Hal ini semakin diperparah lagi dengan satu program pikiran yang ia
dapatkan dari ayahnya yaitu kalau berbisnis tidak boleh mengambil untung
banyak karena pelanggan bisa lari ke orang lain.

Saat keluar dari kondisi relaksasi pikiran dan diajak berdiskusi mengenai
mental blocknya Budi sempat bingung. Ia berkata, "Ini benar-benar nggak
masuk akal. Saya sudah yakin seyakin-yakinnya kalau mau sukses nggak perlu
modal besar, eh. pikiran bawah sadar saya berkata sebaliknya. Makanya susah
sekali untuk sukses. Rupanya saya disabotase pikiran saya sendiri. Padahal
saya yakin sekali lho dengan apa yang diajarkan Kiyosaki."

Nah, pembaca, anda jelas sekarang?

Kembali ke definisi kata "pensiun", saya mendefinisikan pensiun bukan dari
ukuran kebebasan waktu dan uang yang saya capai. Saya mendefinisikan
pensiun sebagai melakukan sesuatu dengan pikiran tenang dan hati yang
damai.

Nah, untuk bisa mencapai pikiran yang tenang dan hati yang damai, saat
melakukan suatu kegiatan,pekerjaan, atau bisnis, maka saya perlu menetapkan
syarat-syarat yang spesifik. Istilah teknisnya "rule" atau aturan.

Saya menetapkan syarat antara lain: 1) saya suka melakukan pekerjaan itu,
2) semakin saya melakukannya maka semakin diri saya bertumbuh dan
berkembang ke arah yang lebih baik, 3) apa yang saya lakukan mempengaruhi
hidup orang banyak secara positif, 4) saya menentukan harganya, 5) saya
bisa melakukannya di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja, 6) tidak
perlu banyak karyawan, 7) gudangnya ada di otak dan komputer saya, saya
bersedia tidak dibayar melakukan apa yang saya lakukan, 9) sejalan dengan
tujuan hidup saya, 10) bisa diwariskan atau diteruskan oleh anak.

Jika anda baca dengan saksama maka syarat yang saya tetapkan di atas
sebenarnya menjelaskan satu hal yaitu passion. Namun juga jangan salah
mengerti ya. Jika hanya berbekal passion saja tidak cukup untuk sukses.
Passion harus didukung oleh strategi yang jitu dan terarah.

Ada klien saya yang hanya mengandalkan passion saja, walaupun saya tahu ia
orang yang sangat kompeten di bidangnya, ternyata harus mengalami kegagalan
beruntun di dalam bisnisnya. Waktu saya tanya, "Strategi apa yang akan anda
gunakan dalam memasarkan produk anda?", jawabnya enteng, "Nggak usah pake
strategi macam-macam. Pokoknya saya senang melakukan apa yang saya lakukan.
Hasilnya pasti akan bagus. Nanti akan sukses dengan sendirinya".

Apa yang terjadi? Benar di awal bisnisnya pesanan sangat banyak. Namun
karena tidak didukung dengan perencanaan yang matang, klien ini harus
kalang kabut untuk memenuhi pesanan produknya. Akibatnya, quality control
terabaikan. Dan ending-nya, bisnisnya bubar karena banyak klien kecewa dan
menolak melanjutkan kerjasama.

Defisi lain yang perlu kita tetapkan dengan sangat hati-hati adalah makna
kata "kaya". Apa ukurannya sehingga seseorang disebut sebagai orang kaya?

Masyarakat umumnya mengukur dari jumlah rupiah yang dimiliki seseorang.
Semakin banyak rupiahnya maka semakin kaya orang itu. Apakah benar seperti
ini?

Jawaban ini benar, untuk ukuran kebanyakan orang. Namun untuk diri kita
sendiri, kita perlu menetapkan definisi yang personal. Kaya sebenarnya
tidak ada hubungannya dengan jumlah rupiah. Kaya sebenarnya lebih
ditentukan oleh perasaan cukup.

Apa maksudnya?

Begini, ada banyak orang yang sangat kaya (uangnya banyak sekali) namun
sebenarnya ia hidup dalam kemiskinan. Juga ada sangat banyak orang yang
miskin (uangnya sedikit sekali) namun mereka sangat kaya.

Seorang kawan dengan sangat bijak pernah berkata, "Orang kaya itu adalah
orang miskin yang kebetulan uangnya banyak. Sedangkan orang miskin itu
adalah orang kaya yang kebetulan uangnya sedikit."

Lho, kok dibolak-balik?

Kaya atau miskin ini lebih ditentukan oleh perasaan cukup. Saat kita merasa
cukup, kita puas dengan apa yang kita miliki, maka pada saat itu kita telah
menjadi orang kaya.
Kita bisa kaya tanpa harus punya uang sangat banyak. Sebaliknya, walaupun
kita punya isi seluruh dunia, namun bila kita masih tetap saja merasa
kurang maka sebenarnya kita adalah orang miskin. Bahkan John D. Rockefeller
JR., berkata, "Orang termiskin yang aku ketahui adalah orang yang tidak
mempunyai apa-apa kecuali uang".

Kaya raya ukurannya semata-mata hanyalah suatu perasaan. Dan karena
parameternya adalah perasaan maka hal ini sangatlah subjektif. Setiap orang
punya takaran sendiri. Kita tidak boleh menggunakan takaran orang lain
untuk mengukur diri kita. Demikian pula sebaliknya kita tidak boleh
menggunakan takaran kita untuk mengukur orang lain.

Nah, sekarang bagaimana menjadi bahagia?

Jika kita melakukan pekerjaan atau bisnis dengan hati gembira, karena
sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan hidup kita, dan menjadi kaya
berdasarkan perasaan cukup yang kita tetapkan sendiri, dengan penuh
kesadaran, maka hasil akhirnya kita pasti bahagia.

Saya pernah ditanya seorang peserta seminar, "Pak Adi, kalau memang Bapak
sedemikian hebat, mengerti otak-atik pikiran, bisa membantu seseorang
berubah dan sukses, mengapa Bapak tidak mendirikan banyak perusahaan dan
menjadi milyuner? Atau mengapa Bapak tidak mencoba menjadi presiden RI?".

Menjawab pertanyaan peserta ini saya menjelaskan dua hal. Pertama, saya
tidak pernah mengklaim diri saya sebagai orang hebat. Saya hanyalah seorang
pembelajar di Universitas Kehidupan yang kebetulan mengambil spesialisasi
jurusan teknologi pikiran. Saya belajar dan praktik lebih dulu dari peserta
itu. Jika kita sama-sama belajar, bisa jadi peserta itu jauh lebih pintar
dari saya.

Kedua, saya tidak akan mau mendirikan perusahaan besar ataupun jadi
presiden RI. Sebenarnya sekarang pun saya adalah seorang presiden, Presiden
Direktur di perusahaan Kehidupan saya sendiri. Alasan lainnya saya telah
menentukan tujuan hidup saya, yang didasarkan pada nilai-nilai hidup saya.
Saya punya parameter yang sangat subjektif yang digunakan untuk mengukur
keberhasilan hidup saya. Salah satunya adalah ketenangan pikiran dan
kedamaian hati.

Nah pembaca, nggak susah kan untuk bisa pensiun muda, kaya raya, dan
bahagia?
Kalau mati masuk surga, wah ini urusannya sama Tuhan. Saya nggak berani
komentar.

Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator. Adi
dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com dan
www.adiwgunawan.com , www.QLTI.com