Senin, 25 Mei 2015

Peka

PEKA
(Sebuah Catatan Perjalanan)  

Tahun 80-an,  saya sering menggunakan jasa omnibus vehiculum (kendaraan umum)  – yang kemudian orang menyebutnya sebagai  bus – dari Jogya ke Magelang, tepatnya di Mertoyudan. Di dalam perjalanan, kami duduk di kursi masing-masing. Di tengah perjalanan, kadang ada penumpang baru yang naik. Tidak terelakkan bahwa penumpang yang baru itu adalah seorang ibu yang sudah hamil tua.  Dengan kepekaan yang tinggi dan gentleman, seorang pemuda tentu akan berdiri dan mempersilakan ibu itu untuk menempati tempat duduknya.  
 Sikap pemuda tadi sungguh terpuji. Sikap peka bisa dilatih sejak anak usia dini. Kahlil Gibran (1883 - 1931)  dalam bukunya yang berjudul,  "Suara Sang Guru"  menulis bahwa  seorang anak yang dididik dengan  penuh kasih, akan menjadi pribadi yang  yang mengasihi. Sejak usia dini, anak dilatih untuk keluar dari diri membantu orang lain.  Dari sini pula,  kita mengenal sebuah syair, "Sympathy for the suffering of others¸often including a desire to help" – rasa simpati terhadap penderitaan sesamanya yang dinyatakan dengan keinginan untuk menolong. Bagi Ä–mmanuel Lévinas (1906 – 1995), pengalaman  dasar manusia adalah perjumpaan dengan orang lain. Oleh karena itu, seseorang bertanggung jawab total atas keselamatan sesamanya. Di sinilah muncul istilah effect of care (kepekaan dan kepedulian).
Kepekaan zaman sekarang sungguh-sungguh diuji. Apa yang diramalkan oleh Jayabaya dalam "zamam edan" kini terwujud (Bdk.  Buku dengan judul "Jangka Jayabaya"  tulisan Anan Krishna). Kesopanan mulai pudar, tatakrama hampir lenyap dan unggah-ungguh tinggal kenangan. Ia menulis, "Jaran doyan mangan sambel" – kuda  suka makan sambal. Seekor kuda bila diberi makan sambal akan mengamuk. Ia akan lepas kendali karena kepedasan. Manusia zaman sekarang kini menjadi pemberang, mudah terpancing isu dan  tidak bisa bersikap sabar dalam berkendaraan.  

Selasa, 26 Mei 2015  Markus Marlon

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Senin, 18 Mei 2015

Kuda Hitam

KUDA  HITAM
(Kontemplasi  Peradaban)
 
       Sambil minum kopi hitam,  saya bermain catur dengan seseorang di Tanjung Bira – Bulukumba – Sulawesi  Utara (Minggu, 18 Mei 2015). Buah-buah catur yang saya mainkan kebetulan berwarna putih. Pada akhir permainan, seorang penonton mengomentari permainanku, "Wah bahaya tuh, kuda warna putih itu bisa menjadi kuda hitam!" Dalam hati saya berkata, "Masa buah-buah catur bisa berubah warna!"
          Dalam permainan catur, di antara semua perwira yang berdiri di belakang para prajurit, kuda adalah yang paling berbahaya. Meski langkahnya terbatas, namun ia menjadi sangat mengancam karena punya kemampuan melompati posisi lawan dan kawan sekaligus. Hal yang sama, tidak bisa dilakukan oleh perwira manapun termasuk perdana menteri yang memegang kendali tertinggi. Keistimewaan itu membuat kuda menjadi senjata yang sangat mematikan terutama dalam kondisi terakhir dan terjepit. Ia menjadi ancaman yang sulit diperhitungkan.
          Lalu, "Bagaimana dengan kuda hitam?"  Kuda hitam atau dark horse memiliki sejarah singkat. Kata dark  atau hitam  mengesankan sifat yang misterius dan serba tidak terduga. Sedangkan horse mengingatkan kita pada pacuan kuda. Dark horse adalah competitor yang sepak terjangnya serba gelap dan misterius, namun orang ini menyimpan bakat dan potensi yang luar biasa sehingga berkemampuan untuk menang secara tak terduga.
          Dalam dunia politik, kuda hitam adalah sebutan bagi seorang calon yang tidak dikenal sebelumnya dan tidak memiliki prestasi yang menonjol, namun tiba-tiba namanya mencuat, melejit dan meroket sebagai salah seorang calon dan di luar dugaan,  ia mampu memenangi suatu pemilihan. Seorang calon yang sebelumnya sama sekali tidak diperhitungkan, tiba-tiba menyodok di akhir perhitungan suara atau tiba-tiba punya hasil survey yang bagus.
          Lalu kita bertanya,  "Apa yang membuat posisinya di mata pemilih melejit?"  Seorang calon pintar memanfaatkan opini publik yang menganggapnya bersih, lugu dan dianggap "tertindas" serta  terpinggirkan. Tatkala blusukan,  ia bisa meramu gaya kepemimpinan yang menimbulkan kesan "kasihan" dan bersih, tentu ia bakal menjadi kuda hitam bagi calon lainnya. Kuda hitam memang misterius, "Bagaimana dengan politikus?"
 
Selasa, 19 Mei 2015   Markus Marlon
         
      
Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Rabu, 13 Mei 2015

Berubah

BERUBAH
(Kontemplasi Peradaban)
 
       "Naya genggong, sabdo palon" –
 Wajah yang teguh, sabda yang menjadi kunci.
 Pralambang kesetiaan kepada kata-kata
 dan keyakinan serta konsisten
 dengan yang diucapkan.
      
Suatu kali ada seseorang yang berkata kepada saya, "Duh saya senang sekali, ada orang yang akan memberiku hadiah yang sangat besar." Lantas saya berkata kepadanya, "Saudara jangan senang dulu, sifat manusia itu cepat berubah. Hari ini mungkin dia baik kepadamu tetapi besok siapa yang tahu!" Memang,  tiada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri.
Dari sini pula, orang menjadi tidak suka dengan sifat hidup manusia yang suka berubah, modo sic  modo sic – sebentar begini, sebentar begitu. Orang Jawa mengatakannya dengan ungkapan, "Esok dhêlé, soré témpé" – pagi bicaranya kedelai namun sore ternyata tempe. Kata-katanya tidak bisa dipegang. Kalau Ovidius (43 seb.M – 18 M), penyair Romawi Kuno lebih ekstrim berkata, "Modo vir, modo femina"  – kali ini seperti laki-laki, kali lain seperti perempuan. Pepatah ini hanya akan mengatakan bahwa manusia itu –pada dasarnya – mudah dan  cepat berubah.
Dalam dunia politik kita tahu persis bagaimana para politisi berdebat. Hari ini mereka saling mengata-ngatai, namun esok harinya ternyata mereka minum kopi bersama-sama di café. Bahkan dalam dunianya terkenal dengan adagium yang pernah ditulis oleh Lord Palmerstone (1784 – 1865) negarawan Inggris, "Tidak ada musuh abadi, demikian juga tidak ada kawan abadi yang ada hanyalah kepentingan abadi."  Namun, berabad-abad lalu sudah  ada dictum yang sangat tersohor, "Hostis aut amicus non est in aeternum; commoda sua sunt in aeternum" – lawan atau kawan itu tidak ada yang abadi; yang abadi hanyalah kepentingan. Yang namanya kepentingan memang bisa menyatukan. Orang atau lembaga yang memiliki kepentingan sama, misalnya kuasa atau harta, tentu saja akan menjadi kawan. Namun yang tadinya kawan akan menjadi lawan tatkala kepentingannya berbeda.
Dunia politik memang tidak bisa diprediksi. Mungkin hari ini, seorang tokoh partai mengatakan begini tetapi besoknya dengan mudah mengatakan begitu.  Otto van Bismark (1815 – 1898)  dalam suatu kesempatan mengatakan, "Politik bukanlah ilmu pasti" – politics is no an exact science dan pada kesempatan lain ia juga berkata, "Politik adalah seni dari kemungkinan" – politics is the art of the possible.  
Orang yang tidak konsisten tidak disukai. Kebudayaan Jawa mengenal ungkapan, "Sabda pandhita ratu tan kena wola-wali" dan "Berbudi bawalaksana" artinya ucapan raja tidak boleh diulang dan seorang raja harus teguh memang janji. Kalau dalam Kitab Suci agama Kristen dikatakan, "Jika ya, hendaklah katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakah: tidak..." (Mat 5: 37).  Dalam bahasa sekarang dikatakan sebagai wilayah  "abu-abu" atau "grey area." Hitam tidak putih pun tidak. Plin-plan kependekan dari  plintat-plintut.

Kamis, 14 Mei 2015  Markus Marlon

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Senin, 11 Mei 2015

Pengharapan

PENGHARAPAN
(Kontemplasi Peradaban)
 
"Aegroto dum anima est, spes est"  –
Meskipun sakit, tetapi selama masih ada jiwa, harapan tetap masih ada.
 
Sembari membaca drama komedi, "The Tempest" tulisan Shakespeare (1564 – 1616) pikiran saya melayang-layang pada suatu pertanyaan tentang makna pengharapan. Drama The Tempest ini mengisahkan tentang tenggelamnya sebuah kapal. Dari sana saya bertanya dalam hati,  "Mengapa seorang pelaut yang kapalnya karam bisa perpegang erat pada sepotong papan selama beberapa hari di samodra?" Dan jawabannya, "Karena ia berpengharapan".  

Pengharapan adalah pra-syarat yang membuat kita hidup. Tanpa makan, pelaut yang kapalnya karam bisa tahan hidup beberapa hari. Namun tanpa harapan ia hanya akan tahan beberapa menit saja. Begitu ia putus harapan, ia mulai mengendurkan pelukannya pada papan pengapung, melepaskan papan itu lalu tenggelam.

Biarpun orang -barangkali- hidupnya terseok-seok dan menderita, namun harapan itu yang membuat seseorang kuat, seperti apa yang ditulis oleh Yesaya, "Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya.." (Yes 42: 3). Dan contoh yang tepat untuk menggambarkan makna pengharapan itu ada dalam diri Anne Frank (1929 – 1945), seorang gadis Yahudi yang baru berusia 14 tahun.

Pada waktu perang dunia kedua, ia bersembunyi selama 4 tahun di loteng rumahnya supaya jangan ditangkap dan dibunuh tentara Jerman. Namun akhirnya toh ditangkap dan dibunuh. Selama bersembunyi, ia tidak pernah putus asa. Ia tetap memunyai harapan bahwa sekali waktu kebaikan akan menang, "Sed vince in bono malum" – Tetapi kalahkan  kejahatan dengan kebaikan (Rm. 12: 21). Ia menulis dalam buku hariannya, The Diary of Anne Frank, "Saya melihat bumi dihanguskan dan  saya mendengar bagaimana bunyi pesawat-pesawat yang membawa bencana. Dari sana saya menyadari bahwa semuanya itu akan berakhir dan perdamaian pun akan diraih  kembali."

Pengharapan akan selalu ada meskipun kadangkala nampak samar-samar. Pencobaan datang bertubi-tubi,  meskipun demikian, hidup sepertinya terpelihara. Seolah-olah ada  invisible hand yang menopangnya ketika mengalami kejatuhan dan kekelaman. Pengalaman ini seperti apa yang ditulis oleh Phil Pringle (Lahir 21 Mei 1952), seorang pendeta dan penulis  dari Australia, "The best thing about hope is that we can get up again, if we fall 100 times but get 101"  – Hal yang terbaik mengenai harapan adalah kita bisa bangkit kembali, jika kita jatuh 100 kali bangkit 101 kali.

Senin, 11 Mei 2015   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Kamis, 07 Mei 2015

Dendam

DENDAM
(Kontemplasi Peradaban)
 
"Immortale  odium 
 et  numquam 
 sanabile vulnus"  -
 kebencian yang abadi
 dan luka yang tidak pernah
 dapat disembuhkan. 
Dendam, memang sungguh mengerikan. Tidak ada suatu sikap yang lebih mengerikan daripada dendam. Buku yang berjudul "The death of Adolf Hitler" memberikan pelukisan yang jelas  tentang apa yang dirasakan oleh Hitler. Hitler (1889-1945)  pada masa mudanya pernah hidup sangat melarat. Ia bekerja serabutan. Dengan terus-terang, dia mengatakan bahwa dirinya amat menderita. Penderitaan itu membangkitkan dendam dalam dirinya. Rasa marah karena derita yang dialaminya, akhirnya tertuju pada orang-orang kaya keturunan Yahudi, yang dianggapnya sebagai penyebab kemelaratannya.
Pada awal karier politiknya, Hitler adalah seorang pemuja Benito Mussolini (1883 – 1945). Dalam Mein Kampf, (sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Narasi) Hitler menyebut Benito Mussolini sebagai seorang manusia agung (a great man) berkelas dunia. Tetapi Hitler juga memiliki pengalaman baru yang dianggapnya sebagai penghinaan. Ketika ia menulis surat kepada Mussolini untuk memohon potretnya yang bertanda tangan pribadi, diktator  Italia itu memandang hina permintaan itu dan menjawab melalui Kedutaan Besar Italia, "Il Duce  tidak merasa pantas mengabulkan permintaan Anda."  Merasa dipermalukan, maka Hitler tidak pernah akan melupakan peristiwa tersebut. Ia menjadi  pribadi pendendam.
Kata  "dendam" itu berasal dari bahasa Jawa, "rêndhêm"  yang artinya ditutupi air. Maka kalau orang mencuci pakaian sebelumnya harus direndam dulu. Kini dendam berarti kemarahan yang ditutupi. Kemudian kita pernah mendengar kata "menaruh dendam" yang dalam bahasa Inggris ditulis,  to be bitter  misalnya, "She was still bitter toward her ex-husband" – ia masih mendendam terhadap mantan suaminya. Kata  bitter melukiskan rasa pahit dan pedih. Bitter berasal dari bahasa Inggris kuno biter dan bahasa Norse kuno bitr yang artinya tajam menusuk. Kata ini melukiskan rasa sakit dan penderitaan, seperti halnya orang yang menyimpan dendam akan terus merasakan  kesakitan dan penderitaan batin. Untuk itulah kita bisa merasakan betapa sakitnya itu orang-orang yang dendam, iri hati, dan curiga.      
          Dendam merupakan pengalaman batin yang universal dan abadi. Tidak heranlah jika ada  banyak sekali tema dendam dalam film-film. Film yang berjudul, "Revenge" dan  "Vendetta" misalnya, memberikan pelajaran yang berharga tentang makna dendam.  Dengan saling mendendam, akhirnya dua-duanya tewas dalam perkelahian.
Dalam film persilatan  atau Kung Fu,  ketika hendak beradu jurus-jurus,  seseorang menyediakan dua galian kubur.  Satu untuk lawan dan satunya untuk dirinya sendiri. Hal ini hendak menunjukkan bahwa dendamnya dibawa sampai mati.  Lebih jauh lagi kita menyaksikan adegan dendam dalam diri Sun-Tzu.  Sun Tzu, panglima perang dalam film "Sun Tzu" melukiskan  bahwa strategi perang yang termasyur  itu akhirnya membuat dirinya mundur dari panglima dari negeri Wu. Dia pun akhirnya  menyadari bahwa dalam perang tersebut yang ditemukan adalah dendam. Orang yang menang perang sine qua non  harus berjaga-jaga  perlawanan dari orang yang dikalahkan. Dan yang kalah mencari waktu yang tepat untuk membalas dendam supaya amarahnya bisa terbalaskan.  Saling membalas dendam yang tidak berujung itu, kita sebut sebagai lingkaran setan  (vicious circle).
          Yesus Kristus memberikan ajaran baru tentang dendam yang – barangkali – tidak ada dalam kamus orang-orang Yahudi, "Berikanlah pipi kirimu,  jika ditampar pipi kananmu" (Bdk. Mat 5: 38 – 42) yang pada waktu itu dalam hukum Yahudi terkenal, "Mata ganti mata, gigi ganti gigi…" (Kel 21: 31 - 42) lex talionis (hukum pembalasan setimpal).  Memang, memberi maaf itu  bukan perkara gampang. Mohandas Karamchand Gandhi atau yang  dikenal sebagai Mahatma Gandhi (1869 – 1948) berkata,  "Mereka yang berjiwa lemah tak akan mampu memberi seuntai maaf tulus. Pemaaf sejati hanya melekat bagi mereka yang berjiwa tangguh."  
          Dalam minggu-minggu ini di media elektronik dan media cetak banyak diberitakan tentang – katanya – pribadi atau lembaga yang saling balas dendam. Kisruh dalam partai-partai, keributan dalam KPK vs Kapolri serta saling menuding  dalam tubuh DPR-Gubernur menunjukkan bahwa – kemungkinan – ada balas dendam di dalamnya. Hanya Tuhanlah yang tahu.

Kamis, 7 Mei 2015  Markus Marlon
 
 
Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Kamis, 30 April 2015

Gosip

GOSIP
(Kontemplasi  Peradaban)
 
"Bad news travels fast" – kabar buruk cepat menyebar.
 
       Ketika saya berolah raga pagi melewati sebuah lorong di kota Manado, ada sekelompok ibu-ibu muda  bergosip, sambil menunggu anak-anak mereka bermain dan belajar di sekolah TK. Lantas seorang sopir taxi  berkata, "Pagi-pagi koq sudah menggosip sich?" Kemudian salah seorang ibu itu berkata, "Gosip itu artinya makin digosok makin sip!"
 
          Sejenak, saya sempat termenung dengan apa yang dikatakan ibu-ibu itu, "kata orang…" atau "dengar-dengar sich".  Ini berarti si pembawa berita sendiri pun kurang yakin akan kebenaran kabar tersebut. Inilah yang -barangkali- dalam bahasa Inggris disebut sebagai  hearsay yang punya makna kabar burung atau kabar angin.

          Jujur saja bahwa ada keasyikan tersendiri menggosipkan orang lain. Dalam perkembanannya gosip sering dimanfaatkan untuk menyebarkan fitnah dan berita bohong. Kita tahu bahwa  Kaum muslimin diperintahkan untuk tidak membicarakan orang lain di belakang-belakang atau membicarakan keburukan orang bukan di hadapan yang bersangkutan. Dalam Al-Quran surat 49: 12 diterangkan sebagai berikut, "Hai, orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah mempergunjingkan …" (Bdk. Buku tulisan Christine Huda Dodge dengan judul, "Memahami segalanya tentang Islam").
 
          Menggosipkan orang lain adalah orang yang berpikiran kecil. Ada seorang penulis besar yang melukiskan tentang tiga "jenis" pikiran manusia (pikiran kecil, pikiran sedang dan pikiran besar). Pikiran kecil lebih suka membicarakan tentang "orang" dan pikiran besar berfokus pada "gagasan". Akibatnya, pikiran kecil menghasilkan gosip dan pikiran besar menghasilkan solusi.
 
          Mungkin kita ingat akan hukum gravitasi yang ditemukan Sir Isaac Newton (1642 – 1727). Ketika buah apel jatuh dari pohon maka orang yang berpikiran kecil akan berkata, "Siapa sich kemarin yang kejatuhan buah apel?" Sementara orang yang berpikiran besar akan bertanya, "Kenapa buah apel itu jatuh ke bawah, bukan ke atas?"  Di sini sebuah peristiwa disikapi dengan pikiran besar.

          Menilik keterangan gosip di atas, seolah-olah gosip itu senantiasa bermakna negatif. Tetapi sesungguhnya gosip tidak selamanya bersifat jahat, bahkan jika dilihat dari asal katanya, gosip malah melekat dengan makna religious (kekristenan). Kata "the gossip"  itu diambil dari bahasa Inggris kuno goddsibb yang artinya orangtua baptis (God, Tuhan + sibb, kerabat). Seorang godsibb atau orangtua baptis biasanya merupakan sahabat baik dari orangtua si anak yang dibaptis. Tentunya dua orang yang bersahabat dekat akan sering menghabiskan waktu untuk berbincang dan bertukar cerita. Lama-kelamaan aktivitas mengobrol ringan ini diistilahkan sebagai gossip.

Kamis, 30 April 2015  Markus Marlon

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Minggu, 26 April 2015

Fokus

FOKUS
(Kontemplasi Peradaban)
 
"Hati orang yang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya
selalu berpesta." (Raja Salomo).
 
      
       Saya berteman dengan seseorang yang sering disebut sebagai pribadi yang multi-talent atau all-round.  Ketika bekerja pada salah satu perusahaan dia suka pindah-pindah pekerjaan. Sampai akhirnya – yang seharusnya dia sudah di puncak karier – dia tetap menjadi karyawan biasa. Barangkali ungkapan bahasa Inggris, "Jack of all trades, and  master of none" – orang suka mengerjakan bermacam-macam hal dan sering berganti-ganti pekerjaan tidak akan pernah menguasai satu keahlian pun dengan baik.  Intinya yaitu bahwa teman saya ini tidak fokus.
Fokus, memang bagaikan kata-kata mantra dalam buku-buku motivasi.  Jika ingin berhasil, orang perlu fokus. Mungkin kita pernah mendengar kiprah pesebakbola Leonel Messi (Lahir: 24 Juni 1987). Ia pernah ditolak klub besar Argentina River Plate karena tinggi badannya hanya 169 cm.  Teman-temannya mengejek dan berkata bahwa dirinya  tidak akan pernah menjadi pesepakbola professional. Bukannya patah semangat, ia malah terpacu untuk terus berlatih. Akhirnya seorang pencari bakat dari tim Barcelona melihat kecakapannya dan mengajaknya berlatih di Akademi Barcelona. Hingga saat ini, bersama tim Barcelona, Messi memegang rekor meraih Ballon d'Or, penghargaan pemain sepakbola terbaik paling bergengsi di Eropa, sebanyak empat kali berturut-turut. Barangkali Messi memiliki mental baja seperti yang dikatakan Alexander Graham Bell (1847 – 1922), "Ada satu pintu tertutup di antara banyak pintu lain yang terbuka; sayangnya kita lebih sering terlalu lama menyesali satu pintu yang tertutup dibanding melihat banyak pintu lain  terbuka." Messi tidak menyesali pintu yang tertutup itu. Ia fokus pada  pintu yang terbuka.  
Kalau kita cermati, ada yang menarik dalam adegan gerombolan singa yang memburu mangsa seperti yang sering kita lihat di saluran  National Geographic. Meski di situ ada banyak mangsa, ketika singa sudah memutuskan untuk mengejar satu, maka mangsa-mangsa lainnya tidak ia pedulikan. Mereka semua kompak mengikuti naluri pemimpin. Fokus pada buruan yang sama. Ketika gagal memburu mangsa yang tadi menjadi targetnya, sang singa tidak lantas  ngawur memburu sembarang mangsa yang ada di sekitarnya. Maka dia tidak malanjutkan perburuannya. Singa itu tidak malas, melainkan mengumpulkan tenaga sambil – barangkali – mengevaluasi mengapa gagal menangkap mangsanya. Intinya,  ia tetap fokus!
Senin, 27 April 2015  Markus Marlon
           

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com