Senin, 29 September 2014

Kerja

KERJA
(Kontemplasi  Peradaban)
 
          Suatu kali, saya mengunjungi sahabat lama  yang  "Sudah menjadi orang." Saya kaget bukan kepalang, ternyata sahabat saya ini di rumah sendiri sudah dianggap raja, karena status yang disandangnya. Dia sudah  emoh lagi mencuci piring atau menyapu ataupun mencuci pakaiannya sendiri. Padahal waktu masih kecil, semua dikerjakannya sendiri. Dia bilang, "Ini  mah pekerjaan  pembantu!"  Lewat percakapan singkat itu, saya diajak untuk merenungkan makna sebuah  kerja.
          Tidak diragukan lagi bahwa umur pekerjaan itu seusia dengan peradaban manusia itu sendiri. Jika kita menilik lebih jauh lagi – khususnya dalam Kitab Suci – di sana kita bisa merenungkannya. Pada waktu Adam dan Hawa hidup di Taman Eden, mereka bahagia dan tampaknya mereka memunyai waktu penuh untuk perkara-perkara rohani. Mereka "memelihara dan mengusahakan taman itu." Dengan demikian, sejak awal mula, kerja merupakan usaha yang mendatangkan kekayaan rohani. Kemudian "pasutri" (pasangan suami-istri) itu melakukan kesalahan. Mereka dibuang dari Eden dan sejak saat ini kerja menjadi sesuatu yang harus mencucurkan keringat (Kej 3: 17).
          Memahami makna kerja tersebut, seolah-olah kita bekerja hanya karena untuk hidup. Inilah yang membuat manusia – kadang-kadang – menjadi obyek. Maka tidak heranlah jika kita sering mendengar ungkapan, "diperbudak oleh pekerjaannya sendiri."
Pekerjaan Tidak Menurunkan Martabat
          Orang beranggapan bahwa pekerjaan kasar itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang berpendidikan rendah.  Mereka menggunakan  okol untuk bekerja kasar  dan mereka yang berstatus tinggi menggunakan  akal.  Seolah-olah mereka yang  "berstatus tinggi" itu adalah malaikat yang kerjanya hanya berdoa.
Ada sebuah lukisan dengan judul, "The Angel."  Dilukiskan bahwa ada  seorang malaikat sedang menimba air. Wajahnya cerah pertanda sukacita saat melakukan tugas. Keringat masih membekas di wajahnya dan ini menjadi bukti bahwa ia serius menjalankan tugasnya. Mungkin kita bertanya, "Bukankah malaikat bertugas melayani, bukan mengerjakan hal-hal yang tempaknya duniawi seperti menimba air."
Acapkali kita membeda-bedakan hal-hal yang  akal dan  okol. Dan tugas yang menggunakan  akal  itu bagaikan tugas rohani, seperti para direktur, para pastor atau para biarawan-wati. Sedangkan yang menggunakan kekuatan  okol  itu adalah para tukang kebun, tukang sapu serta para pekerja kasar lainnya.
Inilah yang menyebabkan seolah-olah seorang majikan tidak pantas bekerja mencuci piringnya sendiri.  Mereka akan dengan  enteng mengatakan, "Ini  khan  tugas pembantu." Mereka lupa lukisan  "The Angel" yang wajahnya  berkeringat karena bekerja. Itulah sebabnya Paulus tidak segan-segan bekerja dengan tangannya sendiri, "Kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya kami sabar" (I Kor 4: 12).
Bekerja Menjadi Suatu Panggilan
          Tidak dapat kita pungkiri bahwa ada orang yang bekerja karena ingin mendapatkan nafkah. Ada pula yang bekerja untuk mendapatkan jenjang tertentu dalam karier. Namun ada juga orang yang bekerja karena panggilan (calling  atau vocation).
          Orang yang bekerja karena panggilan dalam jiwanya ada passion  atau gairah.  Bekerja bukanlah suatu beban yang berat, melainkan ia  "bermain-main" dengan pekerjaan itu. Ada anthusiasm yang tinggi dalam menekuni pekerjaan itu.  
 
          Ketika Michaelangelo (1475 – 1564) hendak memahat patung Pieta, ia membawa bongkahan marmer dari perbukitan. Sementara menarik-narik bongkahan marmer yang begitu besar itu, seorang temannya menegur, "Michaelangelo, untuk apa kamu membawa marmer yang berat itu?"   Sang  maestro itu dengan tegas mengatakan, "Sebab di dalam marmer ini ada malaikatnya. Maka saya bekerja dengan penuh semangat."  Di sini Michaelangelo meyakin bahwa pekerjaan yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh menghasilkan kebahagiaan dan  kemuliaan, "Gloria sine labore nulla" – tanpa ada kerja, tidak ada kemuliaan.
          Kita pun sudah layak dan sepantasnya meyakini bahwa setiap pekerjaan yang kita kerjakan itu ada malaikatnya. Setiap pekerjaan memiliki nilai rohani. Bahkan dalam bekerja kita ini sebagai kawan sekerja Allah (co-creation). Paulus dan Barnabas tidak pernah berpikir bahwa karena kekuatan merekalah semua tercapai. Mereka mengatakan Allah-lah yang "bekerja." Mereka menganggap diri mereka hanya sebagai kawan sekerja Allah (Kis 14: 21 – 28).
Bekerja Sebagai Aktualisasi Diri
          Pernah suatu kali saya berjumpa dengan orang yang sudah  mapan hidupnya. Boleh dikatakan orang tersebut "bebas secara finansial." Kalau dalam bahasa Motivasi, dikatakan bahwa uang mengejar dirinya atau uang bekerja untuknya karena ia memiliki "pabrik uang."
          Namun yang membuat saya heran yaitu bapak tersebut tetap bekerja dan mengaku bahwa gaji bukanlah yang utama, melainkan sebagai  self-actualization. Teori ini ditulis oleh Abraham Maslow (1908 – 1970) yang mengatakan bahwa setiap manusia ingin dirinya berarti dan berharga dengan "bekerja."  Maka benarlah kata-kata dari Mahatma Gandhi (1869 – 1948), "Kebahagiaan seseorang tergantung pada apa yang dapat diberikan, bukan apa yang dia peroleh."  Marcus Valerius Martialis (38 – 104   ) Penulis puisi Romawi berkata, "juvat ipse labor" – kerja itu sendiri adalah sesuatu yang menyenangkan.
Ora et Labora    
          Amat sering kita membaca pepatah Latin yang berbunyi,  "Ora et Labora" – Bekerjalah dan berdoalah. Pepatah itu sudah amat biasa kita baca di mana-mana, bahkan anak kecil pun sudah tahu sepenggal kata tersebut.
          Namun jika kita menelusuri lebih dalam, kata labora  tidak perlu dipahami sebagai kerja yang "ngoyo" (Bhs. Jawa. bekerja mati-matian sampai  membanting tulang).  Ungkapan  "ora et labora" ini diciptakan oleh tokoh spiritualis besar abad IV yaitu St. Benediktus dari Nursia (± 480  –  ± 547). Bagi Benediktus, kata  labora digunakan untuk mengungkapkan "kerja tangan" atau  "opus manuale" yang sebenarnya untuk mengimbangi  "opus Dei" (Kerja atau karya Allah) yang berarti: berdoa, meditasi dan membaca. Jadi antara bekerja dan berdoa tidak ada pemisahan.
Penutup
          Quintus Horatius (65 – 8 seb. M) – penyair Romawi  pernah berkata, "Nihil sine labore" – tidak ada sesuatu yang tanpa kerja. Bahkan Yesus sendiri bersabda, "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga" (Yoh 5: 17). Yesus hidup di keluarga Nasaret bersama Yosef, seorang tukang kayu dan bersama dengan Maria. Yesus mencela perilaku hamba yang tidak berguna yang menyembuyikan talentanya di dalam tanah (Bdk. Mat 25: 14 – 30).
          Marilah kita memulai suatu pekerjaan dan meyakini bahwa pekerjaan itu akan menghasilkan sesuatu yang indah, seperti dikatakan Publius Vergilius Maro (70 – 20 seb.M),  "Aspirat primo fortuna labori" – nasib baik memberi angin pada permulaan pekerjaan.
 
Senin, 29 September 2014  Markus Marlon
 
       
Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Jumat, 26 September 2014

Sombong

SOMBONG
(Kontemplasi  Peradaban)
                   Pagi ini,  saya tertegun dengan bacaan pertama pada 25 September 2014 (Kamis, Hari Biasa Pekan Biasa XXV). Pengkhotbah menulis, "Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada. Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. …" (Pkh 1: 4 – 5). Membaca kitab Pengkhotbah,  seolah-olah kita dibawa oleh "sang pemikir" untuk merenungkan secara mendalam betapa singkatnya hidup manusia yang penuh dengan pertentangan, ketidakadilan dan hal-hal yang sulit dimengerti. Hidup ini seolah-olah  "kesia-siaan belaka." Pemazmur menulis, "Manusia seperti angin, hari-harinya laksana bayang-bayang berlalu" (Mzm 144: 4).  Penyair Romawi Kuno berucap, "Tempus fugit" – waku berlari dengan cepatnya.  Lantas dalam hati saya berkata, "Lantas kalau begitu, untuk apa manusia menyombongkan diri?"  
Kemenangan dalam perang, kehebatan pengetahuan dan jabatan yang kita miliki bukan menjadi alasan untuk menyombongkan diri. Peradaban Romawi Kuno memiliki kisah yang menarik. Ketika Jendral Romawi mendapatkan kemenangan, dibuatlah yel-yel negatif supaya  sang jendral itu tidak menjadi  sombong. Pertama, selagi ia menaiki kereta dengan mahkota di atas kepalanya, para penduduk tidak hanya berteriak memberikan sambutan, namun mereka juga terus-menerus berteriak, "Lihat di belakangmu dan ingatlah bahwa engkau akan mati" (memento mori!). Kedua, pada akhir bagian dari prosesinya, datanglah para tentaranya yang melakukan dua hal selagi sang jendral dan para tentaranya tetap berbaris. Mereka menyanyikan lagu-lagu pujian bagi sang Jendral, tetapi mereka juga meneriakkan lelucon-lelucon kotor dan cacian untuk mencegah sang jendral menjadi terlalu sombong. 
 
Kesombongan kadang muncul tidak disadari. Aesop (620 – 564 seb. M), pendongeng binatang Yunani kuno telah menulisnya dengan judul,  "Kura-Kura Yang Sombong."  Dikisahkan bahwa kura-kura dijanjikan oleh dua burung untuk "terbang" melihat  dunia dari awan  dengan menggigit kayu yang hendak ditahan oleh kedua burung tersebut. Namun kura-kura dilarang untuk membuka mulut, sebab kalau membuka mulut pasti akan binasa.
 
Kura-kura sangat senang dan saat burung gagak terbang melintasinya, dia sangat kagum dengan apa yang dilihatnya dan berkata, "Kamu pastilah raja dari kura-kura di dunia ini?" Dengan segera, kura-kura itu pun menjawab, "Pastilah, akulah raja!" Dengan membuka mulutnya, kura-kura lepas dari gigitan kayu itu. Pepatah Latin menulis, "Sequitur superbos ultor a tergo deus" – dewa pembalas akan mengejar mereka yang sombong dari belakang (Orang sombong pasti akan jatuh).
Ada juga orang yang sombong karena kecantikan atau ketampanannya. Dalam mitologi Yunani kita kenal Narsisius. Lelaki tampan itu akhirnya binasa karena mengagumi dirinya sendiri. Bagi mereka yang sombong karena keindahan tubuhnya,  mereka lupa akan kata-kata Sopocles ( meninggal 406 seb. M), penyair Yunani kuno, "Kecantikan masa muda akan memudar dan kemuliaan manusia pun akan sirna." Kalau kita gunakan bahasa kekristenan, "Tubuh sekarang dapat rusak, tubuh yang akan datang tidak dapat rusak. Dalam dunia segala sesuatu dapat berubah dan menjadi busuk."  Di sana pula kita ingat akan kata-kata Ovidius (43 seb. M – 17 M), "Festus inest pulchris sequiturque superbia forman" – bila keangkuhan memasuki mereka yang cantik, maka yang akan tampak kemudian adalah sosok yang sombong.
Untuk mencegah menjadi sombong, kuncinya ialah kerendahan hati. Kita tahu bahwa kerendahan hati adalah watak dari orang-orang besar. Ketika Thomas Hardy (1840 – 1928) novelis Inggris yang  masyur itu menulis artikel  ke  surat kabar, pihak redaksi  akan dengan gembira membayar sejumlah uang bagi karya-karyanya. Namun   ia senantiasa menyertakan perangko dan amplop yang sudah diberi alamat untuk menjaga kemungkinan apabila manuscript-nya itu dikembalikan. Johnstone Jeffry menceriterakan mengenai seorang besar yang sama sekali menolak  menuliskan riwayat hidupnya sebelum ia meninggal dunia, "Saya telah melihat" demikian ia mengatakan, "begitu banyak orang yang jatuh pada saat-saat terakhir." Dan supaya hidup tidak sombong, John Bunyam  (1628 – 1688) penulis buku  Pilgrim's Progress  yang kesohor  itu,  dalam mimpinya bahkan melihat dari gerbang-gerbang sorgawipun ada jalan yang menuju neraka (William Barclay dalam bukunya yang berjudul, "Pemahaman Alkitab Setiap Hari – Surat-Surat Yohanes dan Yudas,"  hlm. 299 – 300).
 
Orang-orang kudus dan penulis rohani beberapa abad silam,  telah memberikan warisan ilahi kepada kita agar  hidup rendah hati. Philipus Neri (1515 – 1595)  yang dikenal sebagai "Rasul dari Roma" misalnya memberikan wejangan kepada para muridnya supaya menjadi orang yang tidak dikenal. Thomas à Kempis (1380 – 1471)  dalam bukunya yang berjudul, "Imitatio Christi" menulis, "Allah melindungi dan membebaskan orang yang rendah hati, mengasihi dan menghibur yang rendah hati dan melimpahi berkat bagi yang rendah hati…."

Kamis, 25 September 2014    Markus Marlon
         
 


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Rabu, 24 September 2014

Melintasi Rute Menuju Kebaikan

Melintasi Rute Menuju Kebaikan
 
Anugerah hidup kadang tampil melalui rute yang tidak diinginkan. Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh dayang-dayang nan rupawan. Anugerah hidup itu tidak disegarkan oleh wewangian harum.
Seorang sahabat mengatakan, di saat seperti itu ia merasa mulai dipermainkan oleh keadaan. Ia merasa terombang-ambing oleh waktu. Apakah ia mesti menunggu untuk melakukan sesuatu tepat pada waktunya? Atau ia mesti segera melaksanakan keinginannya? Ia menjadi bingung.
Ia mengatakan, ia persis seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan sementara. Hujan yang sedang dinanti-nantikan anak katak itu.
 "Sering kali saya seperti anak katak tersebut. Saya tidak menyadari bahwa hal yang tidak menyenangkan adalah rute menuju kebaikan. Ternyata kepekaan, kesadaran, kesabaran dan perjuangn saja tidaklah cukup! Untuk melewati rute itu perlu keberanian dan komitmen agar saya sampai pada titik kehendak Tuhan," katanya.
Sahabat, banyak orang mengalami kebingungan dalam hidup ini. Ketika berada dalam kondisi demikian, orang lalu mulai kehilangan pegangan hidup. Orang kemudian berjalan tidak tahu arah yang pasti. Orang menjadi terombang-ambing. Apa yang semestinya diputuskan untuk dilakukan?
Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tetap bertahan pada komitmen yang telah kita buat di saat kita berada dalam situasi terombang-ambing itu. Hal ini mengandaikan suatu konsitensi dalam hidup. Orang tidak plin-plan dalam mengelola hidupnya. Orang mesti berusaha untuk merasa mantap dalam perjalanan hidupnya.
Untuk itu, orang mesti setia dalam hidupnya. Orang mesti membangun kesetiaan itu tahap demi tahap, langkah demi langkah. Orang tidak bisa mau meraih kesetiaan itu dalam sekejap. Menjadi orang yang setia pada komitmen itu suatu proses yang berjalan terus-menerus dalam kehidupan manusia.
Rute menuju kebaikan mesti dijalani dengan penuh kesabaran dan kesetiaan. Orang yang tergesa-gesa melewati rute kebaikan hanya meraih kekosongan dalam hidupnya. Ada damai yang dialami, namun hanyalah damai yang semu. Damai yang tidak sepenuhya dialami dalam hidup yang nyata.
Karena itu, orang beriman mesti membuka hatinya terhadap rahmat Tuhan. Mengapa? Karena rahmat Tuhan itu membantu manusia untuk menjadi kuat dan bertahan dalam perjalanan hidupnya. Tuhan memberikan semangat dalam rute menuju kebaikan yang dijalani dengan penuh perjuangan. Tuhan tidak pernah mengabaikan setiap perjuangan manusia. Justru Tuhan senantiasa menghargai setiap usaha manusia melintasi rute menuju kebaikan itu.
Mari kita terus-menerus berusaha untuk meraih hidup yang lebih baik. Dengan demikian, kita menjadi orang yang penuh sukacita menjalani hidup ini. Tuhan memberkati.**
 
Frans de Sales SCJ
Tabloid KOMUNIO/http://inspirasi-renunganpagiblogspot.com
 
Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Senin, 22 September 2014

Khianat

KHIANAT
(Kontemplasi  Peradaban)
 
       Dalam minggu-minggu ini, berita di media elektronik maupun media massa, banyak dicuatkan tentang "pilkada langsung atau pada  tingkat DPRD). Polemik ini sangat  alot sehingga tidak heranlah jika berita-berita ini menjadi titik perhatian (high-light). Dan topik-topik yang diberitakan  biasanya berkisar, "Jangan main-main dengan Suara Rakyat" atau "Jangan Rebut Hak Rakyat – Ubah pilkada langsung ke DPRD bukan solusi tepat."  Dan topik-topik senada lainnya seperti, "Jangan khianati suara rakyat!"  Karena rakyatlah yang "mengusung" mereka ke "kursi empuk."
          Kata "berkhianat" atau "mengkhianati" bagi kita adalah kata-kata  pemali untuk diucapkan. Kata "khianat" berasal dari bahasa Arab yang berarti: tidak setia, tipu daya dan ingkar.
          Ada sebuah kisah yang mungkin bisa menghantar kita untuk mengontemplasikan makna khianat. Pada zaman Nazi (Nationalsozialismus), ada seorang Jerman yang ditawan. Ia diperiksa dan disiksa serta dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi. Ia menghadapi semuanya itu dengan keberanian dan ia tetap bertahan dengan tegap tak tergoyahkan. Lantas secara kebetulan ia mengetahui bahwa yang sebenarnya memberikan keterangan-keterangan yang merugikan dirinya itu adalah anaknya sendiri. Pengetahuan inilah yang menghancurkan hatinya dan menyebabkan ia meninggal. Ternyata serangan olah musuh masih sanggup ditahan, namun serangan oleh orang yang dikasihinya itu  "membunuhnya" dengan segera.
          Dari situ dapat dipahami bahwa orang yang mengkhianati itu adalah mereka yang dikasihi dan memiliki relasi dekat (kekasih, sahabat dekat atau pengikut setia, constituent). Dan jika relasi itu terjadi pengkhianatan (tidak setia, tipu daya dan ingkar) maka sakit hati akan menusuk amat dalam. Dalam kisah-kisah romans ada ungkapan, "Amor medicabilis nullis herbis"  dan kalimat itu tertulis di tembok sebuah apotik tua di Kota Luzern-Swiss yang berarti: tidak ada obat yang dapat menyembuhkan orang yang patah hati.
          Kisah pengkhianatan yang terkenal – barangkali – adalah kisah dari Julius Caesar (100 – 44 seb. M). Waktu Caesar hendak dihukum mati, ia memandang para pembunuhnya dengan keberanian seakan-akan ia merendahkan martabat mereka. Tetapi waktu ia melihat tangan orang yang dikasihinya yaitu Brutus (85 – 42 Seb. M) yang  teracung-acung untuk membunuhnya, ia menutup matanya dengan mantel dan tewas (Bisa dicermati  dalam film yang berjudul, "Julius Caesar"). Dari sana pula muncul kata-kata masyur, "Et tu, Brute" – dan engkau juga Brutus. Kata-kata itu diucapkan Caesar kepada Brutus, anak angkatnya yang ikut persengkolan membunuh dirinya. Marcus Junius Brutus – hingga kini – menjadi lambang dari orang yang tidak tahu terima kasih dan pengkhianat. Dari situ kita menjadi ingat akan Yudas, sang murid yang mengkhianatai gurunya, Yesus (Bdk. DSA III, "Sebab pada malam Ia dikhianati…")
          Khianat juga terjadi dalam negara yang disebut dengan pembelot.  Kita bisa baca kisah kekejaman Mussolini (1883 –1945) terhadap para pengkhianat. Setelah angkatan perang Italia berhasil menduduki Etiopia pada 1935, tokoh-tokoh negeri Afrika Timur yang telah membantu kemenangan diundang  Generalisimo untuk naik pesawat terbang. Setelah terbang di atas Laut Merah, Mussolini memerintahkan supaya semua tokoh Etiopia itu dibuang ke luar pesawat tanpa parasut. Dia berkata, "Kepada negerinya sendiri mereka berkhianat, apalagi kelak kepada Italia." Dan kita ingat juga bahwa dalam kisah  "Ramayana" ada seorang pengkhianat yang bernama Gunawan Wibisana.
          Semoga di negeri kita ini terhindar dari para pengkhianat dan para pemimpin sungguh-sungguh setia dengan amanah  Rakyat. Rakyat amat  amat mencintai para pemimpin dan wakil-wakilnya di DPR, "Jangan dikhianati!"

Senin, 22 September 2014   Markus Marlon  

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Kamis, 18 September 2014

Ancaman

ANCAMAN
(Kontemplasi  Peradaban)
                  Tidak sengaja saya membaca sebuah kata-kata mutiara di sebuah warung makan di Kilo Lima – Luwuk Banggai (Sulawesi Tengah) beberapa bulan yang lalu.  Kata-kata itu tulisan Abraham Lincoln (1809 – 1865), "If you want to test a man's character, give him power" – Kalau Anda ingin mencobai karakter seseorang, berilah dia kekuasaan.
 
          Usia "Kekuasaan" memang  setua peradaban bangsa manusia. Dan hingga detik ini, kekuasaan amat sering diperbincangkan dalam percaturan politik di mana pun juga. Bahkan tidak jarang orang yang berseberangan dengan partainya dianggap sebagai ancaman. Ancaman yang merongrong kekuasaan itu tidak hanya dalam bidang politik tetapi juga bisa dalam dunia usaha, bisnis, bahkan lembaga yang suci yakni agama. Tidak heranlah jika pernah ada yang namanya "Paus Tandingan" pada awal  abad XV. Kemudian, dalam pewayangan, yang namanya perebutan kekuasaan terus-menerus akan menjadi pokok permasalahan misalnya:  Kisah  "Matahari Kembar di Mandura."  Novel ini berkisah tentang seorang raja yang tega menebas musuh karena dianggap sebagai ancaman.  Kisah yang lain yaitu Lakon  pewayangan,  "Karno Tanding" yang  pada akhir cerita, Doryudana berkata, "Urip iki yen ora mukti ya mati" – Hidup ini, jika tidak mulia ya mati saja. Atau dalam Pepatah-Pepatah Lain berbunyi, "vincere aut mori" – menang atau mati atau  "kalau tidak untung ya buntung!"
          Ancaman itu – sebenarnya – sudah sering kita pelajari dari para tokoh-tokoh penakluk dunia, conquistadores atau conquerors. Konon, ketika Alexander (356 – 323 seb. M) diajak jalan-jalan ayahnya, Filipus II (382 – 336 seb. M)  di padang gurun, di kiri-kanan jalan yang dilaluinya tumbuh ilalang yang menghampar. Rata-rata ketinggiannya hampir sama. Jika ada satu atau dua ilalang yang tumbuh lebih tinggi, maka dikebaskannya pedang itu. Alexander pun belajar dari ayahnya supaya setiap kali ada tokoh yang muncul mencuat, segera tokoh itu pun ditebas dan dilenyapkan.
Kisah Herodes Agung lain lagi. Ia adalah seorang raja lalim. Disuruhnya orang membunuh istrinya sendiri: Mariamne dan  membunuh tiga orang anak kandungnya sendiri dan banyak lagi keluarganya yang dekat. Caranya memerintah atas bangsa Israel sangat kejam dan barangsiapa berani mengatakan tidak setuju, segera ditebasnya. Selama hidupnya ia cemas kehilangan kekuasaannya.
Orang yang terancam itu berpikir jika nantinya tidak berkuasa akan menjadi  "nothing"  sehingga takut kehilangan  "something"  yang dalam bahasa psikologi disebut  post power syndrome. Mungkin baik jika kita bercermin pada syair yang ditulis Paulo Coelho (Lahir: 24 Agustus 1947)  dalam bukunya yang berjudul, "Manuskrip Yang Ditemukan di Accra." Tulisnya, "Apakah daun yang gugur di pohon di musim salju merasa dikalahkan oleh hawa dingin?" Kata pohon kepada daun, "Demikianlah siklus kehidupan. Kaupikir dirimu akan mati, tetapi nyatanya kau tetap hidup di dalamku…" (hlm. 25). Lewat syair singkat ini hendak mengatakan bahwa kehidupan ini silih-berganti. Tidak perlu bersedih hati, jika suatu waktu kalah dan terhempas. Dan tidak perlu takut akan ancaman.
          Kekuasaan cuma titipan atau  amanah  yang suatu saat nanti akan diambil atau beralih ke orang lain. Sudah layak dan sepantasnya, bahwa seorang raja itu menjadi  pengayom (melindungi)  dan  pengayem (pemberi rasa damai). Ia harus tahan  terhadap godaan previlese. Ia harus keras terhadap dirinya sendiri. Ia harus menjadi orang pertama yang mengalah. Orang Jawa punya kata untuk ini, "Aja dumeh" dan orang Prancis juga punya kata, "noblesse  oblige" – seseorang yang punya posisi lebih tinggi harus mengabdi lebih banyak.  

Jumat, 19 September 2014    Markus Marlon



Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Senin, 15 September 2014

Kaya

KAYA
(Kontemplasi  Peradaban)
 
            Saya terkesima dengan tulisan yang terpampang pada sebuah bus malam dalam perjalanan ke Surabaya dari Jogjakarta (beberapa bulan yang lalu),  "Siapa yang kaya? Ia adalah orang yang merasa cukup dengan apa yang dimilikinya." Lalu saya minta bantuan mbah Goggle, ternyata pepatah tersebut  berasal dari para  rabi Yahudi.  Kemudian dalam hati, saya pun berkata, "Orang-orang besar selalu merasa cukup dengan sesuatu yang sedikit." Kadang, orang menunjuk pada orang bijak demikian,  "Dictum sapienti sat est" – bagi orang bijak, sebuah kata sudah cukup. Pepatah Latin ini merupakan warisan  dari Plautus (254 – 184 seb. M).
 
          Merasa kaya atau merasa cukup berasal dari sikap batin. Jika kita membaca drama karya Shakespeare (1564 – 1616) dengan judul  Henry VI, di sana dilukiskan seorang raja yang berkelana di daerah pedalaman yang tidak dikenalnya (incognito). Ia bertemu dengan dua orang pengawas binatang buruan dan berkata kepada mereka berdua bahwa dirinya adalah raja. Kemudian, salah seorang dari mereka bertanya kepadanya, "Kalau engkau seorang raja, mana mahkotamu?"  Lalu raja itu memberi jawaban yang luar biasa, "Mahkotaku ada di dalam hatiku, bukan di atas kepalaku; tidak bertatahkan intan dan permata, pun tidak terlihat, mahkotaku adalah rasa cukup." 
 
          Orang kadang-kadang melihat kekayaan dari apa yang terlihat di luar seperti: harta benda yang dia miliki. Namun di pihak lain ada orang yang berkata, "He is rich that has few wants" – ia yang keinginannya tidak berlebihan adalah orang kaya. Orang yang puas dengan apa yang dimilikinya dan tidak berkeinginan macam-macam lebih berasa kaya daripada orang kaya yang keinginannya terlalu banyak sehingga tidak dapat terpenuhi. Dalam hal ini, Epikuros (341 – 270 seb. M) pernah berkata kepada dirinya sendiri, "Berikanlah aku sepotong roti gandum dan segelas air, maka aku siap bersaing dengan Zeus dalam hal kebahagiaan."  Dan orang jawa memiliki kata-kata filosofi,  "nrima ing pandum" – menerima dan cukup puas dengan rejeki yang "dibagikan" oleh Tuhan.

          Mengenai makna "Rasa cukup" juga dikisahkan oleh Johannes Tauler (Strassburg, 1300 – 1361). Ia adalah seorang anggota serikat Dominikan. Pemikirannya banyak mendapat pengaruh dari Eckhart Meister (1260 – 1328). Pada suatu hari Tauler bertemu dengan seorang pengemis. Tauler memberi salam, "Tuhan kiranya memberimu hari baik, kawan." Jawab si pengemis itu, "Aku bersyukur kepada Tuhan, karena aku tidak pernah tidak bahagia!" dengan penuh heran Tauler berkata lagi "Apa maksudmu?" Si pengemis menjawab, "Ya, kalau keadaanku  baik, aku bersyukur kepada Tuhan, kalau hujan aku bersyukur kepada Tuhan, kalau aku mendapat banyak, aku bersyukur kepada Tuhan bla-bla-bla!"  Kemudian Tauler berkata lagi, "Siapakah engkau ini sebenarnya?" Si pengemis menjawab dengan tenang, "Aku ini raja!" Tauler bertanya lebih lanjut, "Di mana kerajaanmu?" Dan pengemis itu pun menjawb dengan tenang, "Di dalam hatiku!"

          Memang dalam hidup ini, ada yang beruntung memiliki harta banyak (kata kaya itu dari bahasa Jawa, "kaya" yang berarti  harta). Keberuntungannya itu membuat seseorang suka untuk menumpuk harta dan bisa-bisa tidak pernah akan cukup. Dalam hal ini, Publilius Syrus (46 – 29 seb.M) pernah berkata, "Fortuna nimium quem fovet stultum facit" – terlalu banyak keberuntungan membuat orang kurang hati-hati.

Senin, 15 September 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Selasa, 09 September 2014

Dendam

DENDAM
(Kontemplasi  Peradaban)

       Beberapa bulan yang lalu (Rabu, 22 Januari  2014), ada orang yang  ngudarasa  demikian, "Saya menyayangkan  sekali sikap pemimpinku, kalau berjabat tangan tidak memandang wajahku. Saya memang pernah bersalah tetapi dia belum memaafkanku." Kemudian teman sebelahnya berkata, "Kasihan pemimpin kantormu       itu, ia menyimpan dendam terhadapmu."   Kalau boleh mengutip tulisan Ovidius (lahir di Sulmona – Italia), "Summa petit livor" – kedengkian telah menusuk-nusuk dirinya secara sangat dalam sehingga menyiksa dirinya,"  barangkali seperti itulah perasaan hati orang yang sedang memiliki dendam.
          Dendam itu sebenarnya berasal dari bahasa Jawa, rêndhêm yang berarti ditutupi air. Kini, dendam memiliki makna kemarahan yang ditutupi. Orang ini marah, tetapi seolah-olah tidak marah, karena suatu saat nanti – jika ada kesempatan – akan membalasnya. Maka, tidak heranlah ketika berjabat tangan, mukanya masam dan tidak memandang yang memberi "salam" dengan berjabat tangan.
          Dendam dalam arti ini juga bermakna "menyimpan" kesalahan  orang lain. Seorang penulis menceriterakan bahwa penduduk asli Polinesia biasanya menghabiskan waktu-waktu mereka untuk bertarung dan berpesta pora. Setiap pria menyimpan sejumlah tanda mata untuk mengingatkan akan rasa benci dan dendamnya. Berbagai jenis tulisan digantung di atas gubuk mereka untuk mengenang kesalahan-kesalahan mereka – yang nyata ataupun khayalan saja – agar tetap hidup. Ini yang dalam bahasa harian kita, "Dendam koq dipelihara!"
          Dendam-mendendam banyak diceriterakan dalam kisah-kisah kerajaan Jawa dan  dalam pewayangan. Cerita,  "Kisah Tragis Roro Hoyi"  menyuratkan, betapa seorang anak yang tega meracuni ayahnya karena dendamnya (Bdk. Buku berjudul "Kearifan, Cerita, Wejangan dan Keheningan,"  tulisan FX. Kamari, hlm. 37). 
          "Memaafkan" itulah tindakan yang tepat untuk menghilangkan rasa dendan. Memaafkan ini merupakan  tindakan manusiawi tetapi dijiwai semangat ilahi. Memang, Maaf merupakan kata magis, apalagi jika maaf diucapkan dengan sepenuh hati, "By forgiving one to another, we are all becoming more human." Orang yang enggan atau bahkan tidak pernah meminta maaf pada orang lain pasti jiwanya tidak sehat. Komaruddin Hidayat (lahir di Magelang, 18 Oktober 1953) pernah menulis dalam bukunya yang berjudul,  Jejak-Jejak Kehidupan, "Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin banyak teman dan anak buah, maka semakin banyak pula ia  berbuat salah, sehingga semestinya semakin banyak pula hendaknya meminta maaf" (hlm. 76).
          Ada orang yang berkata demikian kepada saya, "Jika engkau ingin menghapus dendam, doakan mereka!" Nasihatnya berat. Namun sebenarnya praktek itu sudah dibuat. Mungkin kita pernah mendengar kamp Auschwitz di Polandia. Di tempat itu, pernah terjadi kekejaman kaum Nazi di bawah pimpinan Hitler (1889 – 1945). Namun, setelah Perang Dunia berakhir, di sebagian bekas kamp tersebut didirikan sebuah biara. Maksudnya supaya orang-orang tidak hanya mengenang kejahatan kaum Nazi, tetapi juga berdoa untuk memohon ampunan bagi para pelaku eksekusi yang sangat kejam. Bukankah Yesus mengajak para pengikut-Nya untuk mendoakan musuh-musuh   (Mat 5: 44 ) atau "berdamai dengan saudara lebih penting daripada persembahan" (Bdk. Mat 5: 23 – 24).

Senin, 8 September 2014   Markus Marlon

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com