Senin, 27 Juni 2016

MUDIK (Kontemplasi Peradaban)

  “Ubi bene ibi patria” – di mana aku merasa enak di situlah tanah airku (Cicero).

Ketika  ngangsu kawruh di Kawah Condrodimuka Seminari Mertoyudan – Magelang (sekitar tahun 1082-n),  setiap sore hari saya merasa rindu kampung halaman. Suara  adzan itulah yang mengingatkanku atas surau di samping rumahku. Inilah yang membuatku menjadi rindu mudik, “homesick”. Kata bijak menulis, “Suavis laborum est praeteritorum memoria” – mengenang masa-masa yang lalu itu menyenangkan.

  Menurut orang Spanyol, kata rindu mudik disebut sebagai “el mal de coras” yang artinya sakit hati. Kita teringat akan kampung halaman,  teringat orang tua dan terkenang  masa-masa yang indah waktu kecil. Tetapi jujur, kita tentu rindu, “Waoou fantastic, It’s wonderfull. If we wanna to remember our childhood”.

  Kebanyakan orang tentu  ingin bernostalgia. Memang, arti dari nostalgia itu sendiri adalah rindu masa lampau. Notos = kembali dan algos = sakit atau rindu. Homesick itu dalam bahasa Inggris, Jermannya heimweh. Weh = sakit dan Heim = rumah, heimat = tanah air. Kata Heim itu sendiri diserap dari bahasa  Jerman Kuno Heimoti artinya surga.

  Jadi memang benar kata orang bahwa “rumahku, istanaku!”  atau “Rumahku, surgaku!” Saya jadi ingat lirik lagu “Rumah Kita” dari God  Bless :Hanya bilik bambuTempat tinggal kitaTanpa hiasan, tanpa lukisanBeratap jerami …

    Intinya adalah bahwa kampung halaman itu sungguh indah, meskipun – barangkali – di tempat kelahiran kita serba terbatas, namun semuanya menyenangkan hati. Pepatah Latin menulis demikian, “Rusticus exspectat dum defluat amnis” – orang desa menantikan sungai mengalir. Maknanya adalah orang itu akan selalu merindukan rumahnya sendiri.

   Memang benar bahwa mudik itu menyenangkan. Mudik dipahami sebagai perjalanan ke hulu. Oleh karena wilayah hulu itu jauh di pedalaman, terpelosok di lereng-lereng perbukitan, maka istilah udik mengacu pada daerah pedesaan atau perdusunan. “Yok kita mudik!” 

Senin, 11  April 2016  
Markus Marlon

Sabtu, 25 Juni 2016

PRAKTEK

PRAKTEK(Kontemplasi  Peradaban)

“Experience is the best teacher” – Pengalamanadalah guru yang terbaik (Pepatah Inggris)

Awal April 2016, saya sireng-sireng (Bhs. Jawa, artinya: jalan-jalan) ke Singkawang, kota  amoy. Saya sempatkan diri untuk melihat cara membuat chai kue, yakni snack  khas Pontianak itu.  Saya ingin melihat on the spot  lokasi pembuatan  snack itu pada sebuah keluarga.

  Keluarga Tionghoa sederhana yang saya kunjungi itu katanya sudah turun-temurun membuat chai kue ini. Lantas saya bertanya, “Bagaimana saudara-saudari memertahanan cita rasa nyamikan (Bhs. Jawa, artinya: makanan ringan) ini hingga rasanya tetap sedap dan lezat?”  Seorang ibu yang sederhana itu menjawab, “Dari pengalamanlah keluarga membuat kue ini dan tetap bertahan dengan rasa seperti ini, bahkan lebih enak dari hari ke hari”. Kata-kata Latin berbunyi, “Age si quid agis” – Jika engkau mengerjakan sesuatu, kerjakanlah itu dengan baik.

Dalam hati saya berpikir, Practice makes perfect – latihan menjadikan sempurna. Jika kita ingin mahir  dan terampil dalam suatu bidang kita harus rajin berlatih. Semakin banyak latihan, kita akan semakin terampil dan mahir. All things are difficult before they are easy. Ketika awal-awal membuat sesuatu memang tidak mudah. Tetapi nanti lama kelamaan menjadi mudah dan mahir tentunya.

Dengan kata lain, kita menjadi sadar bahwa ilmu itu memang harus diterapkan.  Ki Ageng Suryomentaram (1892 – 1962) menerapkan prinsip keilmuan yang berkembang di Jawa bahwa  “ngelmu iku kalakone kanthi laku”  yang artinya puncak dari ilmu adalah laku atau praktek. Praktek yang kita buat itu tentunya akan memunculkan keahlian-keahlian yang “baru”. Itulah sebabnya Swami Vivekananda (1862 – 1902) menulis, “Don’t make your head a library. Put your knowledge into action” –  Jangan membuat kepalamu sebagai perpustakaan. Tetapi dengan pengetahuan yang kita miliki bertindaklah.

  Pengetahuan bukanlah “menara gading” yang membuat pemiliknya merasa puas atau tinggal dalam  comfort zone (zona nyaman). Dan sebenarnya,  semua yang kita hadapi itu merupakan “ladang” untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.  Education is practical  – Kita bisa belajar dari rekan kerja kompetitor, bahkan mungkin orang-orang di sekitar kita yang tidak ada hubungannya sekalipun dengan kita.

  Dan akhirnya, tatkala menikmati chai kue, dari kejauhan saya menyaksikan ibu meramu bumbu-bumbu itu di atas panci untuk segera dikukus. Ibu penjual chai kue itu bekerja dengan sukacita. Lantas saya dalam hati berkata – seperti apa yang ditulis dalam motto pemenang Nobel – “Rerum omnium magister usus” – pelaksanaan nyata adalah guru dari segalanya. Keberhasilan hanya dapat diukur melalui praktek.

Selasa, 19 April 2016
Markus Marlon

Sabtu, 18 Juni 2016

Perbuatan

PERBUATAN(Kontemplasi  Peradaban)

“Setiap orang tergoda untuk mengubahorang lain tanpa mengubah diri sendiriterlebih dahulu (Tolstoy).

Waktu mencicipi snack  tradisional di Pasar Terapung Kuin – Banjarmasin (Medio April 2016), saya sempat terharu dengan seorang pengemis yang tidak memiliki kaki yang  nglendhot di tepian sungai. Orang-orang lalu-lalang dan anehnya tidak satupun orang menghiraukan keberadaannya.

Tidak tega melihatnya, saya dekati dia dan saya ajak makan “ikan saluwang” di tengah keramaian Pasar Terapung tersebut. Sambil “sarapan pagi”, seolah-olah di seberang sungai terdengar suara orang yang bersenandung, “Whatever you did not do for one of the least of these, you did not do for me” – Sesungguhnya segala yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini kamu tidak melakukannya juga untuk Aku” (Mat 25: 45).

Pengemis itu memang tidak berbicara (voiceless), namun sebenarnya di balik itu, ia sangat membutuhkan bantuan. Peribahasa Jawa menulis, “Lir cintaka minta warih” – seperti burung meminta air yang bermakna:  Seseorang yang sangat membutuhkan sesuatu hal atau  seseorang yang meminta dengan sungguh-sungguh. Gambaran ini memberikan pengertian bahwa janganlah menolak atau menghardik orang yang benar-benar membutuhkan tetapi tolonglah dia dan berilah dia sesuatu yang bermanfaat.

Cicero (106 – 43 seb. M) berkata, “Animus hominis semper appetite agere aliquid” – Jiwa manusia selalu ingin melakukan sesuatu. Dan sudah menjadi kodratnya bahwa setiap pribadi ingin mengaktualisasikan dirinya (self actualization). Dan dalam berelasi, seseorang tidak ingin dianggap enteng oleh orang lain. Dari situ pula muncullah kata-kata yang dicetuskan oleh Lampiridius,  “Quod tibi fieri non vis, alteri ne faceris” – Apa yang tidak kau inginkan terjadi padamu, janganlah kau lakukan kepada orang lain. Inilah yang disebut oleh Sidharta Budda Gautama (563 – 483 seb.M)  sebagai golden rule atau kaidah emas.  “Yen emoh dijiwit ya aja njiwit” – Jikalau tidak mau dicubit ya jangan mencubit.

Setiap orang ingin dihargai lewat perbuatan-perbuatan sesamanya. Seperti hukum alam, orang yang kita hargai akan menghargai kita. Marilah kita baca yang ditulis oleh Ralph Waldo Emerson (1803 – 1882), “Percayalah kepada orang lain dan mereka akan tulus kepadamu. Perlakukanlah mereka seperti orang besar dan mereka akan memperlihatkan dirinya sebagai orang besar”

Penghargaan yang tulus itu muncul dalam kata-kata bahasa Jawa, “Aja sira deksura, ngaku luwih pinter ketimbang sejene” – janganlah congkak, merasa lebih pandai dari yang lain. Sebab di atas langit masih ada langit.

Selasa, 3 Mei 2016   Markus Marlon

Merawat

MERAWAT(Kontemplasi  Peradaban)

“curae piidiis sunt” – mereka yang saleh ada dalam perawatan para dewa

Awal Februari  2016, saya  mengadakan perjalan dari Samarinda ke Balikpapan dengan  travel Kangaroo, sebuah bus mini-nya cekli dan bersih. Di dalam perjalanan saya mendengar sebuah lagu nostalgia yang dipilih oleh driver sendiri: Aku berpisah di teras Saint  CarolusAir mataku jatuh berlinangBetapa sedih dan duka hatikuS’lama ini yang merawat sakitku….Sejenak lamunanku teringat pada seseorang yang merawat ketika saya sakit. Jadi klop-lah pengalaman dirawat dengan syair lagu tersebut. Lantas kita berpikir, memang sungguh tidak terbantahkan jika kita sakit, kebutuhan dasar si pasien adalah perawatan dari si kerudung putih tersebut.

Kita menyetujui bahwa keramahtamahan (hospitality) dari sang perawat itu menjadi hal yang penting. Dan pasien merasa “tenang” jika dirawat dengan “sentuhan-sentuhan hati”. Kata Inggris  maintain yang sering kita gunakan untuk pemeliharan gedung itu sebenarnya dari bahasa Prancis Kuno, maintenir  dan itu merupakan turunan dari Bahasa Latin, “manūs”  (tangan) + “tenēre” (sentuhan): disentuh dengan tangan.

Dalam bukunya yang berjudul, “Seni Merawat Jiwa – Tinjauan Filosofis” Pius Pandor CP melukiskan betapa pentingnya kita ini selalu merawat jiwa kita.  Bagi orang sakit, perawatan dan perhatian bisa mempercepat proses kesembuhan. Barangkali dalam bahasa Latin, kata  “cura animarum” – perawatan jiwa-jiwa,  itulah yang dimaksudkan.

Memahami makna perawatan, kita bisa mengacu pada sabda Yesus sendiri, “Infirmus, et visitastis me” – Ketika Aku sakit, kamu melawat Aku (Mat 25: 34 – 36). Kata “melawat” dalam bahasa Latin, “visitare” berarti: memelihara, menjaga, mendatangi, merawat.  Orang yang memiliki sikap suka merawat  – tentunya – diandaikan sebagai pribadi yang murah hati.

Kemurahan hati, itulah dasar dari semua pelayanan perawatan. Tak heranlah, ketika Florence Nightingale (1820 – 1910) – ibu perawat dunia – mendapat kehormatan dari kerajaan Inggris, ia menerima dari Ratu Victoria, sebuah bross yang bertuliskan “berbahagialah orang yang murah hatinya.”

Jumat, 22 April 2016   Markus Marlon

Jumat, 17 Juni 2016

Hari jadi

Hari jadi

Beberapa bulan yang lalu saya sering membaca ucapan “Hari Ulang Tahun” atau “Dies Natalis” atau “Mauludan” namun sekarang yang sering saya dengar adalah “Selamat Hari Jadi.” Hari Jadi ini adalah terjemahan dari  birthday.  Memang bayi yang lahir itu jadi – menjadi – manusia. Dan lagu yang kita nyanyikan biasanya “Happy birthday to you…Happy birthday to you!”  Lagu tersebut (Happy birthday to you)  pertama kali didengungkan pada tahun 1893 itu,  ternyata judul aslinya  “Good morning to all.” Setelah 30 tahun, lagu tersebut mulai berkembang menjadi “Good morning to you” dan tahun 1935 dipatenkan oleh Jessica Hill dengan judul  “Happy Birthday” –  “Salamat hari jadi, salamat hari jadi…” 

Peristiwa kelahiran perlu disyukuri dan diberi makna, “Untuk apa aku dilahirkan di dunia ini.” Jangan seperti Ayub yang mengutuki hari jadinya (Bdk. Ayb 3:1). Namun, ada juga seorang ibu yang sedih merayakan hari jadi dari putrinya. Setiap kali  ketambahan  umur, ibu itu menangis – sesenggukan –  di kamar, sebab putrinya pada usia yang tidak muda lagi belum juga menemukan jodoh.

Sebuah buku yang berjudul  “Life Begins at Forty” bahkan menjadi semboyan hidup merupakan kepustakaan yang pantas untuk dibaca.  Tetapi saya juga pernah mendengar syair yang dinyanyikan oleh  The Beatles dengan judul, “Life begins forty four!”  Mungkin karena secara biologis dan psikologis, usia 40 tahun dianggap sebagai tolok ukur kedewasaan. Bahkan pada zaman dulu, ukuran biologis (misalnya: seperti jenggot) sangat berpengaruh.  Maka tidak mengherankan jika Brian Cavanaugh pernah bercerita demikian. Raja Spanyol mengirim seorang pemuda yang bijaksana untuk mengunjungi raja di negeri tetangga. Sesampai di istana yang menerima pemuda tersebut itu pun mencela, “Apakah kerajaan Spanyol telah kehabisan orang, sehingga memutuskan untuk mengirim seseorang yang belum tumbuh jenggotnya?” (Bdk.  Barbarosa  sampai Barbershop).

Namun kita tidak boleh menutup mata bahwa Isaac Newton (1642 – 1727) memerkenalkan hukum gravitasi ketika berusia 24 tahun. Victor Hugo (1802 – 1885) menulis kisah  tragedy  pertamanya ketika berusia 15 tahun, Johannes Calvin (1509 – 1564) bergabung dengan gerakan Reformasi ketika berusia 21 tahun dan menulis karyanya yang terkenal “Institutio Christianae Religionis” ketika berusia 27 tahun.  Bagi orang Yahudi umur 50 tahun merupakan umur yang matang. Lalu orang-orang Yahudi berkata kepada Yesus, “Umurmu belum ada lima puluh tahun dan Engkau sudah melihat Abraham?” (Yoh 8: 57).

Berapa pun umur manusia, perlu kita mensyukurinya.  Umur manusia itu memang di tangan Tuhan. Ada orang yang mati muda dan – katanya – belum banyak mengabdikan dirinya kepada sesama. Soe Hok Gie (1942 – 1969)  pernah menulis, “Nasib terbaik  adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda.”  Barangkali tafsiran dari Gie adalah supaya kita memaknai hidup setiap waktu secara penuh  (fully human – fully alive).  Maka tepatlah kata-kata Salomo yang tidak meminta umur panjang atau kekayaan tetapi kebijaksanaan” (1 Raj 3: 11). 

Akhirnya,  dalam kesempatan ini saya mengucapkan selamat merayakan Hari Jadi (happy birthday), Dirgahayu (Bhs. Skt:  dirghaayus.  Dirgham = Panjang dan  Ayus = Umur),  Ad multos annos,  selengkapnya: Vivat ad multos annos, ad summam senectutem – Semoga ia hidup panjang umur mencapai usia tertua. Pakatuan  wo pakalawiren – Semoga lanjut usia dan tetap lestari. Pakatuan   berasal dari kata dasar  tu’a  artinya: tua atau lanjut usia dan Pakalawiren berasal dari  lawir yang maknanya lestari atau abadi. Semoga Panjang umur dan sehat selalu!!

Kamis, 21 April 2016   Markus Marlon

Kamis, 16 Juni 2016

Terlalu Risau

TERLALU RISAU(Kontemplasi  Peradaban)

“Haud timet mortem qui vitamsperat” – yang berharaphidup tidak akan takut mati.

Bulan lalu, 29 April 2016 saya naik  speed  “CB Limex Permai” dari Tarakan ke Tanjung Selor.  Saya duduk satu deretan kursi dengan seseorang yang mengaku  diri orang Nunukan (Kaltara) asli. Selama dalam perjalanan, ia bercerita banyak tentang menjaga kesehatan. Di bercerita bahwa dirinya sakit. Ia membawa payung agar tidak kena titik-titik air, di sakunya ada minyak wangi “cap lang” dan dia senantiasa membawa menu yang harus dimakan setiap harinya.  Dia berkata, “Kita harus sehat, maka setiap detik kita harus menjaga hidup kita sedetail mungkin!”

Lantas saya berpikir, “Orang ini terlalu hati-hati”. Yang namanya “terlalu” itu tidaklah baik.  Misalnya seperti, terlalu rajin, terlalu suci, terlalu baik dan “terlalu-terlalu” lainnya. Orang tadi sungguh-sungguh menjaga kesehatannya sampai terlalu risau.  Ia terlalu strict dengan diet dan karena hidupnya tidak tenang maka tidur pun tidak nyaman.

Pepatah Latin berbunyi, “Non curator  qui curat” – yang selalu risau (justru) tidak mudah sembuh.  Peribahasa Inggris Sehari-hari menulis, “Laugh and grow fat” – tertawalah, Anda akan sehat dan gemuk. Peribahasa ini menasihatkan agar orang selalu gembira, banyak tertawa dan tidak selalu serius. Atau Amsal menulis, “A cheerful heart is good medicine” – Hati yang gembira adalah obat yang manjur” (Ams 17: 22).

Kisah tersebut di atas, mengingatkan saya akan seorang pemuda galau,  seperti yang dikisahkan oleh Dale Carnegie (1888 – 1955) dalam bukunya yang berjudul, “Petunjuk Hidup Tentram Dan Bahagia”.  Pemuda itu divonis dokter bahwa umurnya tidak panjang. Dalam waktu tiga bulan, akhirnya memutuskan untuk hidup “hura-hura” karena  toh hidupnya tidak terlalu lama lagi. Dia mulai tidak risau dengan apa yang dimakan. 

Dia pergi dengan kapal pasiar dan tidak risau dengan angin malam. Dan ternyata, seturut berlalunya waktu, pemuda itu pelan-pelan malah sembuh, “miracle!” Pemuda itu – seperti yang dikisahkan Carnegie – menjadi pribadi yang periang dan tidak pernah risau lagi. Itulah yang menyembuhkan.

Kata “risau” sendiri berasal dari bahasa Minangkabau, “rěsau” yang berarti: gundah. Kerisauan memang sering kita alami. Kita risau menghadapi sesuatu yang belum pasti. Hati menjadi “ciut” jika berhadapan dengan sesuatu yang belum pasti. Dan seolah-olah “sesuatu” itu lebih besar daripada diri kita. Ibarat, bayangan kita sendiri ketika jam 15.00 sore. Bayangan itu besar sekali, sebesar kerisauan kita. Hati menjadi gundah.

Senin, 9 Mei 2016  Markus Marlon

Senin, 13 Juni 2016

Perjumpaan

PERJUMPAAN  (Kontemplasi Peradaban)

Akhir April 2016, saya menginap di Biara OMI (Oblati Mariae Immaculatae) di Tarakan (Kaltara). Biara yang indah bak rumah dalam film Harry Potter. Banyak orang datang untuk sekedar foto atau bahkan untuk pre-wedding.
Waktu itu ketika menunggu makan pagi, seusai merayakan Ekaristi di biara, saya membaca booklet yang diterbitkan Komisi KOMSOS KWI dengan tema: “Perjumpaan yang Memerdekan”. Sejenak saya membaca booklet kecil yang mewah itu dengan cover yang penuh inspirasi.  Dari sana pula, saya mencoba merefleksikan apa itu “Perjumpaan”.
Suatu hari pada suatu masa, saya berjumpa dengan seseorang yang mengeluh demikian, “Mengapa yah saya ini kalau berjumpa dengan orang itu rasa muak, seperti tidak ada cemestry-nya gitu! Tetapi kalau ngomong-omong dengan orang lain, rasanya nyaman gitu!” 
Memang sebagai makhluk sosial, kita setiap saat mengadakan perjumpaan dengan pelbagai kalangan. Ada yang menyebalkan, ada pula yang  biasa-biasa saja, ada yang membuat hati sejuk dan akhirnya ada yang menghidupkan, symbiosis mutualism. Ini yang oleh John Powel  dalam Betapa Indah Hidup Ini, dikatakan sebagai self-giving relationship, sebuah relasi yang saling memberikan. Dalam perjumpaan yang disertai dengan berbagi pengalaman (sharing), masing-masing pribadi merasa dikuatkan untuk melangkah.  Perjumpaan yang menghidupkan ini nyata dalam diri Maria dan Elisabet (Luk 1: 39 – 45). Roh bertemu dengan roh. Maria berseru dengan suara nyaring dalam Magnificat!  Dalam kidung tersebut, masing-masing orang  mengungkapkan apa yang menjadi keunggulan atau kelebihan dari sahabat berbagi rasanya dan akhirnya tertuju kepada Tuhan, “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” (Luk 1: 46). BJ Habibie dalam Habibie & Ainun menulis, “Memang benar di belakang seorang pria yang berhasil berperan selalu seorang wanita, dalam hal ini isteri saya Ainun, yang lebih berhasil” (hlm. 153). Kita menjadi ingat akan kata-kata yang disampaikan oleh Albert Einstein (1879 – 1955), “Orang-orang yang dangkal membicarakan tentang orang-orang, orang-orang biasa membicarakan tentang peristiwa-peristiwa dan orang-orang luar yang dalam, membicarakan tentang ide-ide.”  Di sini kita bisa melihat bagaimana orang yang memiliki sikap hidup yang negatif (negative thingking) dan sikap hidup yang positif  (positive  thingking). Mereka yang pikirannya dipenuhi dengan hal-hal negatif akan banyak memunculkan kata-kata: ketidakpuasan, keluhan-keluhan, dan masalah-masalah yang dihadapi. Sedangkan mereka yang pikirannya dipenuhi dengan hal-hal positif akan banyak memunculkan kata-kata: konstruktif, puji-pujian dan pemecahan masalah, solution.Dalam perjumpaan yang menghidupkan itu, seseorang akan merasa terdukung. Ignatius Loyola (1491 – 1556)  dalam “masa-masa gelapnya” amat bersyukur memiliki teman bicara yang amat mendukung yaitu kakaknya sendiri, Martin. August Darleth dalam Pahlawan dari Loyola menulis, “Terima kasih Martin. Engkau dan isterimu yang baik budi telah merawatku dengan baik, lebih dari apa yang dapat diharapkan setiap orang. Aku bukan seorang pasien yang baik, tetapi banyak hal yang membuat aku sangat berterima kasih, tetapi yang terutama, di samping kebaikan budimu, adalah kesempatan membaca kedua buku itu yang telah membuka mataku ke arah dunia yang lebih luas” (hlm. 25).
Di sini pula, kita bisa merefleksikan oleh  Cicero (106 – 43 seb. M), nama lengkapnya: Marcus Tullius Cicero  dalam De Amicitia  menulis, “Vera amicitia est inter bono” – persahabatan sejati hanya terjadi di antara orang-orang yang tulus.  Perjumpaan-perjumpaan yang menghidupkan ini, hanya dapat terjadi jika satu sama lain, memiliki ketulusan hati. Jika salah seorang berbuat salah, maka ditegur empat mata, “Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia” (Luk 17: 3). Publilius (penulis Latin yang berasal dari Syria dibawa ke Italy sebagai budak , tetapi dihargai karena kecakapannya dalam bidang sastra) menulis, “secreto amicos admone, lauda palam” – tegorlah sahabat-sahabatmu di bawah empat mata (secara diam-diam), namun pujilah mereka secara terbuka.  Tentu saja ini suatu perjumpaan yang menyejukkan dan menghidupkan. Dalam masing-masing pribadi ada “self-giving love” – sebuah pemberian diri yang dijiwai oleh cinta. Suatu pemberian diri atau pengabdian total semacam ini tidak dapat dibeli dengan uang atau ditukar dengan kekuasaan.

Jumat, 6 Mei 2016  Markus Marlon