Senin, 24 November 2014

Menilai

MENILAI
(Kontemplasi Peradaban)
 
"Jangan menilai seseorang berdasarkan masa silamnya, karena setiap orang mampu berubah,  malah (mungkin) jauh lebih baik dari apa yang kita sangka" (Markus Marlon).
 
Saya pernah bertanya kepada seorang pembina yang mengurusi para subyek binaannya. Pertanyaan saya itu  tentang saat-saat mana baginya yang paling rawan dalam proses pembinaan. Dengan tenang dia berkata, "Situasi yang paling rawan bagi saya adalah ketika harus mengevaluasi atau menilai para subyek bina." Dia berkata lagi, "Kadang saya melihat ada orang yang memiliki prospek yang baik, tetapi dari segi intelek  kayaknya  berat. Terpaksa dia  harus keluar!"  Dari pengakuannya sendiri, kadangkala dirinya tidak bisa tidur nyenyak ketika harus memberitahu kepada yang bersangkutan tentang penilaiannya itu,  esok hari.  

Menilai seseorang itu bagaikan "memotret individu" yang sering muncul dalam wawancara-wawancara. Pewawancara bisa saja terjebak dalam gejala-gejala  "hallo effect" yaitu terpengaruhnya pewawancara oleh kesan pertama. Dan hallo effect ini sangat memengaruhi penilaian seseorang.  Proses pembinaan pun pada hakikatnya sebuah "wawancara" yang terus-menerus.  Subyek bina seharusnya dikenali secara mendalam. Pepatah kuno mengatakan, "Don't judge a book by its cover"  – jangan menilai buku dari sampulnya. Jangan menilai seseorang atau sesuatu berdasarkan penampilannya. Penampilan kadang menyesatkan. Kenalilah lebih dalam sebelum kita memberikan penilaian.

Memang benar, menilai atau mengevaluasi seseorang itu tidak mudah. Karena yang dinilai adalah manusia yang memiliki: perasaan, pikiran, kehendak dan cita-cita.  Marilah kita ikuti kisah  "kristal labrador" untuk memudahkan memahami makna penilaian terhadap seseorang.

Sekilas pintas, kristal  labrador  itu tidak menarik. Tetapi kalau kristal tersebut diputar-putar secara pelan-pelan sambil digoyang ke sana dan ke mari, maka ia akan sampai dalam kedudukan tertentu di mana sinar  matahari masuk dan tiba-tiba kristal tersebut akan memancarkan sinar yang sangat indah dan luar biasa.

Manusia kira-kira seperti kristal itu. Mereka mungkin kelihatan tidak baik hati,  hanya karena kita tidak mengenal secara utuh dan mendalam. Di dalam setiap pribadi selalu ada sesuatu yang baik. Dalam hal ini, tugas kita bukanlah menilai atau menghakimi berdasarkan penampilannya yang mungkin tidak menarik kala itu.  Sekali lagi kukatakan, "Jangan menilai seseorang berdasarkan masa silamnya, karena setiap orang mampu berubah,  malah (mungkin) jauh lebih baik dari apa yang kita sangka."

Senin, 24 November 2014  Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Rabu, 12 November 2014

Laba-laba

LABA-LABA
(Kontemplasi  Peradaban)
 
"Sebuah kamar dinilai bersih kalau tidak ada sarang laba-laba" kata sebuah ungkapan.  Coba saja jika kita menginap pada sebuah "Hotel Melati"  misalnya  dan ternyata ada sarang laba-laba, tentu saja kita akan mengurungkan niat untuk menginap di sana.
          Memang, laba-laba  kadang-kadang menjijikkan untuk beberapa orang, apalagi ketika laba-laba itu menggunakan jaringnya untuk  menjerat mangsa. Sadis bener!  Melihatnya kita menjadi tidak simpati kepadanya.  Bahkan ada pepatah Latin, "plenus sacculus est aranearum" – kantong uang itu penuh laba-laba. Ungkapan yang dicetuskan oleh Catullus (84 – 54 seb. M) memiliki makna: dompetnya kosong.
  Arānea  yang dalam bahasa Latin  berarti laba-laba itu dalam Mitologi Yunani memiliki nama yang tidak harum. Tulisan Sukartini Silitonga – Djojohadikusuma dalam bukunya yang berjudul,  "Mitologi Yunani"  mengajak kita untuk menimbang asal-usul si laba-laba itu.  Pada waktu itu, hiduplah seorang wanita muda bernama Arakhne. Ia dinilai sombong, terlebih karena kepandaiannya menggunakan jarum. Bahkan dia tidak ragu-ragu mengukur kepandaiannya dengan Athena. Padahal Dewi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan ini luar biasa  pandai menggunakan jarum.
Athena mengajak lomba Arakhne untuk berlomba menenun dan ia kalah. Karena malu, maka Arakhne ingin lari dan menggantung diri. Namun Athena tidak ingin Arakhne secepat itu hilang dari gelanggang, maka  dengan cepat pula sang Dewi mengubahnya menjadi laba-laba. Arakhne dihukum untuk tidak henti-hentinya menenun dan  "membuat jaring".
Setelah menyimak kisah-kisah di atas, seolah-olah tidak ada kebaikan dalam diri laba-laba itu. Tetapi jangan berprasangka buruk terlebih dahulu, karena ada  laba-laba yang menjadi dewa penolong, "spider-man" contohnya. Kisah fiksi ini sudah difilmkan dengan berbagai versi.  Dan meskipun memiliki rekam jejak yang negatif, laba-laba atau sering juga disebut  tarantula itu memiliki kisah yang menarik dalam menyelamatkan nabi-nabi besar: Nabi Isa Al-Masih 'alaihissalam  dan Nabi Muhammad  Shallallahu 'alaihi wa sallam.
          Tatkala laba-laba itu melihat bayi Isa as yang digendong ibunya dan  ingin bersembunyi dari pengejaran, ia memutuskan untuk menyelamatkan-Nya. Hal yang ia lakukan adalah menenun jaring di pintu masuk gua, sehingga jaring itu menjadi semacam kain pelindung yang menghangatkan lubang di dalamnya.
          Di luar gua terdengar derap sepatu tentara-tentara yang dikirim oleh Herodes mencari bayi untuk dibunuh. Ketika rombongan tentara itu tiba di depan gua, mereka ingin segera menerobos masuk ke dalam gua dan mencari bayi Isa as. Ketika kapten melihat adanya jaring yang dibuat oleh laba-laba, ia pun berkata, "Lihat jaring laba-laba ini. Jaring ini sama sekali tidak rusak, sehingga tidak mungkin ada orang di dalamnya."  Berkat sang laba-laba, selamatlah Nabi Isa as.
          Nabi Muhammad pun berhutang nyawa kepada laba-laba. Pada saat Muhammad meninggalkan Mekkah bersama sahabat karibnya Abu Bakar, kemarahan orang-orang suku  Quraisy sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan membiarkan kedua orang yang akan berpindah tempat itu sampai di Madinah dengan tenang. Namun Allah melindungi mereka dengan mengirimkan seekor laba-laba yang menenun  jaring  melintang di mulut gua dan sepasang merpati yang membuat sarang dekat jalan masuk gua. Ketika para pencari tiba di gua, mereka dengan segera melupakannya karena tempat tersebut tidak pernah didatangi orang seperti terbukti dari  sarang  laba-laba dan merpati. Kanjeng  Nabi dan Abu Bakar pun selamat, kemudian melanjutkan perjalanan kepindahan mereka ke Medinah (Bdk.  Buku dengan judul "The Everything Koran Book" tulisan Duaa Anwar. Hlm. 35).
          Tuh khan, "Kalau tidak ada laba-laba pada waktu itu, bagaimana yang akan terjadi dunia ini?"  Jaringan yang saling ber-connect itu aslinya mirip jaring yang dibuat laba-laba. Dunia zaman sekarang ini,  manusia saling terhubung dan dari sana muncullah istilah www, World Wide Web atau JJJ, Jejaring Jagat Jembar.  Akhirnya, laba-laba, "terima kasih atas jasamu!"
 
Rabu, 12 November 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Jumat, 07 November 2014

Boros

BOROS
(Kontemplasi  Peradaban)
   
"Orang bijaksana bukanlah orang yang memperbanyak kebutuhan, tetapi mereka yang mampu membatasi kebutuhan. Dengan cara membatasi diri, ia akan mencapai kepuasan. Ia menghindari tindakan yang berlebihan" (Epikuros, 342 – 270 seb. M).
 
          Dalam dunia Islam kita mengenal Syaikh As Sa'di  rahimahullah  (1889 – 1956) seorang ahli bahasa Arab dan ahli fiqih serta ahli tafsir yang mengatakan bahwa orang yang boros disebut temannya setan karena setan tidaklah mengajak selain pada sesuatu yang tercela. Setan mengajak manusia untuk pelit dan hidup boros atau berlebih-lebihan. Padahal Allah memerintahkan kita untuk bersikap sederhana dan pertengahan (tidak boros dan tidak terlalu pelit).
          Dalam situasi politik yang mengerucut seperti saat ini, serta berita-berita miring tentang para pejabat yang korupsi, perlulah "dihadirkannya" sebuah  "pemerintahan yang bersih."  Konsekuensi logis dari itu adalah bahwa pemerintah harus menjadi pionir untuk hidup ugahari dan tidak boros. Tjahyo Kumolo (Mendagri) meminta supaya seluruh Pemda harus mengurangi pemborosan. Hal-hal yang tidak perlu dibelanjakan lebih baik diarahkan untuk petani, nelayan dan buruh…" (Luwuk Post, 4 November  2014).  Dana Kementrian – Presiden meminta kabinet transparan dan tidak boros (Kompas, 4 November 2014).
          Maria Antoinette (1770 – 1793) permaisuri dari Louis XVI (1754 – 1793) memiliki banyak julukan namun sayang bahwa  sebagian besar julukan itu negatif.  Ia sering merayakan pesta di istana, membelanjakan barang-barang perhiasan yang mahal-mahal, bahkan ketika negeri Prancis mengalami kesulitan keuangan, "Ia berfoya-foya di atas penderitaan rakyat."  Seneca (4 seb. M – 65 M), filsuf-negarawan-dramawan  mengatakan, "Invisa nunquam imperia retinentur diu" – pemerintahan yang dibenci tidak pernah dapat bertahan lama.  Dan akibatnya dapat kita ketahui, ia dan suaminya dihukum pancung dengan hukuman  guillotine.  Memang, "gula plures interemit quam gladius" – kerakusan itu (dapat) membinasakan lebih banyak hal dibandingkan dengan pedang.

          Keinginan manusia itu tidak terbatas. Mahatma Gandhi (1869 – 1948)  pernah berkata, "Seluruh isi bumi ini tidak cukup bagi orang yang serakah" dan kata-kata itu benar adanya. Tidak jarang kita melihat para ibu yang suka belanja dan kebanyakan yang dibeli itu bukan yang dibutuhkan tetapi yang diinginkan (Bdk. Buku dengan judul  "Miss Jinjing – banjir diskon").  Lantas, dalam dunia pewayangan kita kenal tokoh, Petruk yang bergelar  "kanthong bolong" – sakunya berlubang, sehingga uang terus-menerus keluar.  Ia membelanjakan – barangkali –  hal-hal yang tidak berguna, useless expenditure. Orang semacam itu dalam kitab Amsal dikatakan, "Harta yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak tetapi orang bebal memboroskan hartanya" (Ams 21: 20). 

Kamis, 06 November 2014   Markus Marlon

__._,_.___
Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Senin, 03 November 2014

Rileks

RILEKS
(Kontemplasi  Peradaban)
 
Waktu saya menikmati pemandian santai di  "Relax Spa" – Cirebon beberapa tahun yang lalu, sejenak saya terkesima dengan tulisan ruangan spa  tersebut, "Santai adalah Rileks."   Spa sendiri – sejauh saya tidak salah ingat – merupakan akronim dari  "Sanitas per Aquam"  atau  "Salus per aquam"  – Kesehatan melalui Air.
          Kadangkala, orang menyamakan antara "santai" dengan "rileks," padahal kedua kata tersebut tidak sama. Kata "santai" itu berasal dari bahasa Palembang yang berarti: seenaknya atau  tidak bersungguh-sungguh. Ada juga yang mengatakan bahwa santai itu kependekan dari santap sambil melantai, makan-makan sambil duduk di lantai dan mendengarkan lagu.  "Uenak tenan" – enak sekali.  Sedangkan  "rileks" dari bahasa Latin, "relaxare" yakni: re, ke awal, lagi + laxare,  menjadi kendor. "Rileks"  yang dalam bahasa Inggris  relax berarti tidak tegang atau kendor.  Mungkin setelah berjam-jam bekerja kepala menjadi tegang, seseorang perlu untuk  refreshing,  relaxing dan itu bisa didapat dengan rekreasi.
          Pernah ada sebuah  pertanyaan yang ditujukan kepadaku, "Percayakah kamu bahwa pada saat rileks, banyak  masterpiece  – karya agung yang tercipta?"   Cicero (106 – 43 seb. M) ahli pidato, pengacara, politikus dan filsuf  Romawi pernah berkata,  "Homo relaxus"  – orang yang rileks memiliki daya cipta dan ide-ide yang tak terduga. Dalam suasana rileks, ide-ide yang terkurung menjadi "liar". Bahkan Albert Einstein (1879 – 1955) pernah berkata,  "thinking will onl get you from A to B, but imagination is able to take you from A to wherever" – nalar hanya akan membawa Anda dari A menuju B, tetapi imaginasi membawa Anda dari A ke mana pun.
          Seringkali kita mendengar  joke seperti ini, "Kantornya dipindahkan ke lapangan  golf"  Lelucon itu muncul bukan tidak tanpa alasan. Para bos dan para pemimpin tinggi dalam pemerintahan atau para direktur utama,  adalah pemegang kebijakan, stakeholder  atau pembuat   keputusan, decision maker.  Biasanya mereka tidak mengambil keputusan pada saat yang  otot dan suasana tegang. Tidak heranlah jika lobby, makan siang di restoran yang memberi suasana nyaman dan tenang acapkali dijadikan tempat pertemuan  – yang bisa jadi – menentukan nasib orang banyak.
          "Mungkin kita ingat pencipta lagu  masyur Beethoven?"  Ludwig van Beethoven (1770 – 1827)  adalah seorang komponis musik  klasik dari Jerman dan karyanya yang terkenal adalah "Simfoni ke-5"  dan "Simfoni ke-9" dan "Für Elise."  Ternyata beberapa simfoni itu dihasilkan dari kreasi mengubah yang enteng dan remeh-temah menjadi berbobot.  Yok, kita rileks jika otot tegang. Namun jangan seperti yang dinyanyikan Rhoma Irama, "Yok  kita santai agar otot tidak tegang!"

Senin, 03 November 2014   Markus Marlon
 
Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Jumat, 31 Oktober 2014

Mengendalikan Emosi

Mengendalikan Emosi demi Hidup Damai
 
Apa yang akan terjadi, kalau Anda menjadi bulan-bulanan ejekan? Saya yakin, hati Anda terasa sakit. Mungkin Anda akan marah terhadap orang yang melakukannya.
Berawal dari sakit hati karena diejek, MF alias Al (14) pelajar sebuah SMP di Jakarta Timur tega membacok rekannya Yakobush Lincoln Abraham Yunus (13) siswa kelas VII SMP Advent Ciracas, Jakarta Timur. Di hadapan penyidik Polres Metro Jakarta Timur, MF telah mengakui kejadian yang dilakukannya pada Sabtu (10/5) pukul 20.00 WIB. MF bersama enam temannya menemui Bus, sapaan akrab Yakobush, di sebuah lapangan di dekat rumahnya di Jalan Pule Dinas Kebersihan, Ciracas, Jakarta Timur.
"Hasil pemeriksaan penganiayaan dilatarbelakangi pelaku sakit hati terhadap korban. Korban dianiaya dengan senjata tajam sampai akhirnya meninggal, karena kehabisan darah," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Timur, Ajun Komisaris Besar Didik Sugiarto.
Sebelumnya, MF mengakui telah merencanakan melakukan penganiayan kepada korban. Pasalnya, ketika menemui Bus, MF melalui temannya AS alias M (14), telah menyiapkan sebilah celurit. Sebelum MF menyerang Bus, mereka terlihat sempat adu mulut. Bahkan MF mencekik leher korban dengan tangan kirinya sampai akhirnya terjadi penganiayaan.
Rekan Bus yang juga berada di lokasi kejadian langsung melarikan Bus ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Rebo. Sayang, dalam perjalanan korban kehabisan darah dan langsung meninggal.
Kepala Polisi Sektor Ciracas, Komisaris Suwanda mengatakan, pelaku dendam lantaran kerap diejek oleh korban. "Dia (MF) sering di kata-katain setiap kali bertemu. Kemudian timbul rasa ingin balas dendam," kata Suwanda.
Sahabat, dendam yang dipendam bisa menjadi malapetaka bagi kehidupan. Soalnya, mengapa orang merasa dendam terhadap orang lain? Tentu saja ada banyak alasan orang merasa dendam terhadap orang lain. Namun menghakimi orang lain tetap menjadi suatu perbuatan melawan hukum. Apalagi sampai melakukan perbuatan kriminal terhadap sesama.
Kisah di atas menjadi suatu kisah yang memilukan hati manusia. Memang, tidak enak rasanya menjadi bulan-bulanan ejekan dari orang lain. Namun orang mesti menyadari bahwa menghakimi sendiri orang yang mengejek kita, bukan suatu tindakan yang benar. Ada jalur hukum yang bisa dilakukan untuk meminta keadilan. Sayang, MF tidak mau mengambil jalur hukum. Ia ingin menjadi hakim sendiri. Hasilnya, sangat tragis bagi kehidupan.
Orang beriman mesti memupuk kesabaran dalam hidup. Dengan demikian, orang tidak terbawa emosi yang kemudian berakibat tragis bagi kehidupan orang lain. "Janganlah engkau menghakimi sesamamu manusia, agar Anda tidak dihakimi dengan lebih berat lagi," kata seorang bijaksana.
Ungkapan ini mau mengajak kita untuk selalu berusaha mengendalikan emosi kita. Emosi yang tidak terkendali hanya menimbulkan suasana hidup yang tidak harmonis. "Kalau Anda sedang dalam perjalanan menuju pengadilan bersama lawanmu, sebaiknya Anda mengajak lawanmu itu berdamai. Jangan sampai Anda yang dijebloskan ke dalam penjara," kata Yesus.
Tentu saja orang beriman tidak ingin hidup orang lain mengalami dukacita karena perbuatannya. Justru sebaliknya, orang beriman selalu memperjuangkan kebaikan dalam hidup ini. Mari kita terus-menerus memperjuangkan damai dalam hidup ini. Dengan demikian, hidup kita menjadi berkat bagi orang lain. Tuhan memberkati. **
 
Frans de Sales SCJ
Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Selasa, 21 Oktober 2014

Singgah

SINGGAH
(Kontemplasi Peradaban)
          Budaya Jawa memiliki falsafah hidup  – yang kemungkinan – setiap orang Jawa pernah mendengarnya,  "Urip iku mung mampir ngombé" – hidup itu hanya sekadar singgah untuk minum.  Ungkapan ini semakin bisa dipahami tatkala kita membandingkan usia  jagat raya yang umurnya  4.54 miliar tahun. Seolah-olah, hidup kita di dunia ini hanya sekejab saja. Pemazmur menulis, "Manusia seperti angin, hari-harinya laksana bayang-bayang berlalu" (Mzm 144: 4)Dan tidak dapat disangkal bahwa umur manusia pun terbatas, "Dies annorum nostrorum in ipsis septuaginta anni. Si autem in potentatibus octoginta anni, et amplius eorum labor et dolor" – Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan" (Mzm 90: 10). Penyair Romawi Kuno Vergilius (70  – 19 seb. M)  berucap, "Fugit irreparabile tempus" – Waktu berlalu terus dan tidak akan kembali.
          Yang namanya singgah  itu tentu sifatnya tidak  lama namun hanya sejenak dan singkat.  Dengan singgah di rumah sahabat misalnya, seseorang bisa bicara  ngalor-ngidul  dan kadang bisa menemukan kegembiraan dalam percakapan. Namun yang perlu diingat yaitu bahwa ketika seseorang singgah, ia akan tetap ingat akan tujuan yang sebenarnya yaitu  "rumahnya sendiri". Dalam arti ini, manusia adalah sang peziarah, homo viator  yang senantiasa berjalan dan berjalan. Tidak heranlah ketika dalam perjalanan, ia singgah sana dan singgah sini. Yakub selama hidupnya adalah seorang peziarah atau musafir. Sampai embusan nafas yang terakhir pun, ia adalah  seorang musafir tua yang masih memiliki tongkat perjalanan di tangannya. Menjelang akhir hidupnya, ia masih saja siap untuk berjalan (Bdk. Ibr 11: 21). Dengan demikian, dapat dipahami bahwa makna hidup,  "urip mung mampir ngombé"  itu memiliki korelasi dengan  "ngèlmu sangkan paraning dumadi" – ilmu asal-usul kehidupan manusia. Manusia itu berasal dari sang Pencipta  dan akan kembali pada Sang Pencipta.
          Masing-masing kita diberi  "waktu singgah"  oleh sang Penyelenggara Kehidupan. Seorang  kickboxer dari Amerika,  Joe Lewis (1944 – 2012) berkata, "You only live once, but if you work it right once is enough – Anda hanya diberi waktu hidup sekali, tetapi jika anda hidup dengan benar maka sekali saja sudah cukup.  Memang yang penting bukan seberapa lama kita hidup, tetapi yang penting adalah seberapa bergunanya kita bagi sesama selama kita hidup ini. Benyamin Franklin (1705 – 1790) menulis, "Do you love life? If 'yes' do not squander time, because time does build  a life" – Apakah anda mencintai hidup? Kalau 'ya' jangan menyia-nyiakan waktu, sebab waktulah yang membangun kehidupan.
          Kita bukanlah  "penguasa kehidupan"  dan kita hanya diberi  waktu oleh Sang Pemberi Kehidupan. Suatu saat jiwa kita pun akan diambil, "Hai orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu" (Bdk. Luk 12: 13 – 21). Waktu kita terbatas. Steve Jobs (1955 – 2011) mengingatkan kita dengan menulis, "Your time is limited, so don't waste it living someone else's life" – Waktumu terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain.
          Kadang dalam  nglakoni hidup ini  menuruti kehendak orang sehingga kita kehilangan arah dan tujuan. Kita singgah di tempat yang salah. Kita menjadi orang yang  "diem eximere dicendo" – melewatkan hari dengan omong kosong.  Atau sebuah kata yang pernah ditulis oleh Suetonius (71 – 135 M), "diem perdidi" aku telah kehilangan hari (karena singah sana dan singgah sini, tetapi tidak memiliki makna). Padahal kita menyadari bahwa  "dies diem docet" – hari yang satu mengajar hari yang lain. Hari berikutnya adalah murid dari hari sebelumnya.
          Sekali lagi, persinggahan di dunia ini terlalu singkat, "Tempus fugit" – waktu berlari. Lantas kita berkata dalam hati, "Apa makna hidupku yang singkat ini?"  Mari kita renungkan ungkapan dalam bahasa Prancis ini, "Ce qua nous faisons est à peine une goutte d'eau dans l'ocean, mais si nous ne faisons pas notre goutte d'eau manuqerait à  l'océan"  –  Apa yang kita kerjakan hampir tidak lebih dari sebuah tetes air dalam samodra. Tetapi kalau kita tidak mengerjakannya, maka samodra itu akan berkekurangan satu tetes air kita.

Selasa, 21 Oktober 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Minggu, 19 Oktober 2014

Batas

BATAS*
(Kontemplasi Peradaban)
 
                Beberapa tahun yang lalu (1988 – 1994), ketika saya sebagai skolastik dan Romo Budi sebagai superior, ia pernah berkata kepada saya, dalam bahasa Jawa yang kental,  "Lon, urip iku ana watese" – Lon hidup itu ada batasnya. Kata-kata itu berbunyi merdu dalam hatiku hingga detik ini. Dan ia berkata lagi, "Ada batas untuk popular, ada batas waktu memiliki jabatan, ada batas untuk sehat dan ada batas umur. Semua ada yang atur dan kita hanya  ngaloni saja!"
 
          Selama Romo Budi dirawat di RS Geriyatri, saya beberapa kali  diberi info perkembangan kesehatannya dan akhirnya Tuhan sendiri yang menjemputnya. Dan dalam waktu dekat, nama Romo Budi akan masuk dalam  album necrologium  (Buku Kematian).  Lantas,  saya pun berkata, "Pada suatu waktu, nama saya pun akan tertulis dalam album necrologium. Entah kapan!" Tiap orang ada batasnya.  Terminus  vitae  – tonggak akhir kehidupan.  
          "Batas" sungguh memiliki makna yang mendalam. Saya masih ingat tanggal  9-9-99 ada isu kiamat. Menjelang tanggal tersebut  wartel-wartel  (warung tilpon – waktu itu HP belum  popular),  dipenuhi dengan anak-anak muda yang  "mengaku dosanya" kepada orang tuanya. Kebanyakan mereka adalah pelajar yang menimba ilmu di luar kota. Sempat terdengar kata-kata, "Ma,  minta maaf  yah,  selama ini saya tidak mau dengar  mama. Ma, saya takut mati jauh dari keluarga!"  Dengan adanya waktu yang terbatas, muncullah kualitas kata-kata yang indah untuk  orang-orang yang dicintai.  Bahkan waktu orang hendak mati, dirinya ingin dikelilingi oleh orang-orang tercinta.  Pagi ini (Sabtu, 18 Oktober 2014) sebelum wafatnya, kelompok Legio Mariae dan koster dari Purwosari telah mendoakan "Doa Pembebasan" (Pukul 08.45) dan setelah selesai doa rasario, Amin. Romo Budi wafat (Pukul  09.00), "Consummatum est" – sudah selesai.
          Jonathan  Swift (1667 – 1745) dalam bukunya yang berjudul   Gulliver's  Travels  melukiskan tentang negeri orang-orang Luggnaggi. Di negeri tersebut ada orang yang "ditakdirkan bebas dari bencana universal dan dari kodrat manusiawi,"  yakni kematian. Namun ketika akhirnya berjumpa dengan mereka, Gulliver sadar bahwa sesungguhnya mereka inilah makhluk-makhluk yang paling malang dan patut dikasihani. Mereka menjadi tua renta dan dungu. Di usia senja tubuh mereka mengidap berbagai penyakit dan  mereka menumpuk rasa dendam dan keluh kesah serta  mereka merasa sangat bosan menghadapi perjuangan hidup.  Kita pun menjadi sadar bahwa batas usia menjadikan waktu yang singkat ini menjadi bermakna.
          Dalam hidup ini memang kita berlomba dengan diri sendiri untuk  mencapai garis  finish  atau garis batas seperti yang ditulis oleh Paulus, "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir  dan aku telah memelihara iman" (2 Tim. 4: 7). Menanggapi  tentang batas kehidupan, Horatius (65 – 8 seb.M) nama  lengkapnya: Quintus Horatius Flaccus  menulis sebuah dictum  bunyinya, "Mors ultima linea rerum est" – kematian adalah garis batas terakhir dari segalanya. Kematian yang adalah batas hidup ini mendidik manusia untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan terhadap sesamanya serta Tuhan. Berkaitan dengan ini, Seneca (4 – 65 M) nama lengkapnya: Lucius Annaeus Seneca menulis, "Quam bene vivas, non quam diu refert" – yang penting bukan lamanya engkau hidup, tetapi bagaimana engkau hidup dengan baik.  Memang batas kehidupan sungguh misteri. Tidak seorang pun yang tahu sampai kapan ia sampai pada batas hidupnya. Dalam sebuah kisah, Sang Buddha (563 – 483 seb. M) bertanya kepada seorang gadis penenun tentang batas hidupnya, "Saya tahu, tetapi saya tidak tahu."  Budda tersenyum dan mengetahui kebijaksanaannya.  Seseorang bertanya kepada gadis tersebut, "Apa yang kamu maksud dengan kamu tahu, tetapi kamu tidak tahu?" Gadis itu pun menjawab bahwa dia tahu bahwa dia akan mati, tetapi tidak tahu kapan dia akan mati (Bdk. Ajahn Brahm dalam bukunya yang berjudul,  Hidup Senang Mati Tenang , hlm. 169).
          Tanggal 2 November  beberapa tahun yang lalu saya berdoa di Kerkop (kuburan Eropa) Purworejo – Jawa Tengah. Di Pintu gerbang makam tersebut ada tulisan, "Homo, memento vivere, memento mori" – Hai manusia, ingatlah akan kehidupan dan ingatlah akan kematianmu.  Kemudian saya duduk termangu di depan nisan yang bertuliskan, "Requiescat In Pace" – Rest  In Peace – Beristirahatlah dalam Damai. RIP. Lalu, pikiran saya  menerawang ke negeri antah-berantah  yang memiliki orang-orang hebat yang sudah  meninggal dunia,  namun masih meninggalkan  karya-karya yang belum terselesaikan, unfinished works.  Di atas nisan Johann Sebastian  Bach (1685 – 1750) masih ada  symphoni yang belum selesai. Di atas makam Vincent Willem van Gogh (1853 – 1890), terdapat lukisan-lukisan yang belum purna. Di atas kuburan WS Rendra  (1935 – 2009) nama lengkapnya: Willibordus Surendra Broto Rendra, masih terdapat puisi yang  "bergentayangan."
          Tentu saja kita berharap bahwa Romo Budi masih bisa berkarya di tengah-tengah kita, apalagi hidupnya sungguh-sungguh  menjadi inspirasi bagi banyak orang dan masih banyak  karya-karya yang belum terselesaikan,  unfinished works.  Tetapi kita yakin dan percaya bahwa seperti bacaan kemarin dalam Peringatan  St. Ignatius dari Antiokia (Jumat, 17 Oktober 2014) kita menemukan bacaan yang bagus, "Jika benih gandum mati, ia akan menghasilkan banyak buah" (Bdk. Yoh 12: 24 – 26).  Romo Budi, "Sugeng tindak" – selamat jalan!

*Kontemplasi Peradaban Edisi Khusus

Sabtu, 18 Oktober 2014  Markus  Marlon
 

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com