Selasa, 24 Februari 2015

Warisan

WARISAN
(Kontemplasi Peradaban)
 
"Daripada gentar terhadap
angin badai dan hujan yang terjadi,
mereka belajar untuk berlayar
dengan mengarungi badai"
(Bangsa Axum kuno)
 
          Ada seorang pengusaha muda yang sukses dalam meneruskan perusahaan keluarganya. Lantas, pengusaha muda itu saya tanya demikian, "Mengapa usaha saudara makin meningkat ?" Jawabannya begitu mengejutkan, "Karena setiap saat saya selalu komunikasi dengan  papa saya, meskipun  papa sekarang sudah duduk di kursi roda!"
          Pengusaha muda ini menyadari bahwa papa-nya telah mewarisi  etos kerja,  passion dan semangatnya dalam mengelola perusahaan tersebut. Maka, ia senantiasa menjaganya dengan komunikasi dengan sang pemberi warisan tersebut. Sang ayah telah memberi warisan ang nilainya tak terhingga. Ini seperti yang sering kita dengar, "kalau warisanmu akan bertahan beberapa bulan tanamlah uang, kalau warisanmu boleh bertahan beberapa tahun tanamlah pohon dan jika warisanmu bisa bertahan seumur hidup tanamlah inspirasi: semangat, etos kerja dan passion."
          Kesadaran akan  "sangkan paraning dumadi" – asal dan tujuan manusia, menumbuhkan dalam dirin kita suatu tekad untuk tidak menyia-nyiakan hidup ini. Ketika Ratu Victoria (1840 - 1901)  masih kecil ia dipanggil  Putri Victoria.   Ia tidak menyadari bahwa di kemudian hari ia akan mewarisi takhta kerajaan Inggris. Itulah sebabnya, ia tidak mau belajar sungguh-sungguh dan ini membuat para guru frustasi. Namun, pada akhirnya para guru memutuskan untuk memberitahu bahwa suatu hari nanti, ia akan menjadi Ratu Inggris. Setelah mendengar hal itu, Victoria kemudian dengan tenang berkata, "Kalau begitu, saya akan menjadi anak yang baik!"
          Memang benar, menyia-nyiakan hidup berarti tidak menghargai "warisan". Dalam buku yang berjudul, "Papillon" sang tokoh utama diadili. Hakim mendakwanya bahwa ia melakukan kejahatan yang paling mengerikan. Saat Papillon menanyakan kejahatan apa yang dilakukannya, sang hakim memberitahu bahwa kejahatan itu adalah "tragedi menyia-nyiakan hidup."
          Ada lagi orang yang menyia-nyiakan hidup karena rasa bersalah yang berkepanjangan. Pasalnya, ia tidak sabar menanti datangnya warisan "mahkota" yang akan ia terima. Karena ketidaksabarannya itu, maka warisan itu pun direbutnya dengan darah. "Lady Macbeth" itulah judul drama tragedi karya William Shakespeare (1564 – 1616). Setelah mendengar suaminya akan menjadi raja, maka ia meyakinkan suaminya untuk membunuh raja yang pada saat itu sedang berkuasa. Ketika pembunuhan berdarah itu benar-benar telah dilakukan, Macbeth pun dikejar-kejar rasa bersalah. Namun, sang istri malah mengomeli ketakutan calon raja, yang notabene  suaminya sendiri dan membantu untuk menutupi kejahatan itu. Sampai pada akhirnya Macbeth dilantik menjadi raja. Namun, ketetapan hati Lady Macbeth akhirnya berubah menjadi penyesalan. Ia pun menjadi tidak stabil secara mental dan tidak pernah berhenti mencuci tangannya, "Apakah tangan ini akan kotor selamanya?" Akhir rasa bersalah itu membuat Lady Macbeth bunuh diri. Ia menyia-nyiakan warisan dan hidupnya.
          Sejak manusia "menangis untuk yang pertama kali" sebenarnya sudah diberi warisan menjadi pemenang. Ingat kata-kata Zig Ziglar (1926 – 2012), "You were born to win, but to  be a winner you must plan to win, prepare to win and expect to win" – Anda dilahirkan untuk menang, tetapi menjadi pemenang harus merencanakan untuk menang, menyiapkan untuk menang dan berharap untuk menang.

Rabu, 25 Februari 2015 
Markus Marlon         
         

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Senin, 09 Februari 2015

Paripurna

PARIPURNA
(Kontemplasi Peradaban)
 
       Saya pernah tinggal beberapa hari di sebuah biara yang khusus untuk para biarawan tua. Saya mendapatkan kehormatan boleh makan dan rekreasi bersama-sama para mantan. Ada mantan provinsial, ada mantan ketua yayasan dan ada mantan kepala sekolah dan tentunya ada beberapa orang yang dulu sebagai pastor paroki.
          Selama makan, masing-masing orang tua itu berbicara masa lalunya. Yang sering terdengar adalah kata-kata, "Dulu, ketika saya menjabat sebagai…." Dan dari situ, munculah kisah-kisah triumvalistis yang heroik. Lantas ketika kami rekreasi bersama pada malam hari, ada mantan ketua yayasan yang marah-marah kepada mantan guru. Sengaja guru itu diundang untuk dimarahi. Mantan ketua yayasan itu lupa bahwa sekarang dia sudah "tidak punya pengaruh apa-apa lagi."
          Saya melihat sebagian kecil  soca para biarawan tua itu terdapat guratan-guratan kesedihan, kecemasan, kepiluan dalam wajahnya. Teringat dalam benakku akan drama tragedi tulisan Shakespeare (1564 – 1616) dengan judul, "King Lear". Secara tersirat, Shakespeare menuliskan bahwa orang-orang yang mengalami  post power syndrome bagaikan menelan pil pahit di mulutnya dan tidak kuasa untuk membuangnya.
          Menjadi tua itu suatu keharusan, namun menjadi dewasa itu pilihan. Seorang ketua atau pemimpin atau karyawan yang merasa bahwa diri mereka akan pensiun, tentu sudah menyiapkan segala-galanya dan dalam hati berkata, "Suatu saat nanti saya akan menjadi nothing." Namun "nothing"  yang berkualitas dengan cara "lengser keprabon madeg pandhito" – mengundurkan diri secara suka rela dari kedudukan atau selesai bertugas dan "mundur diri" dari dunia keramaian untuk "bertapa" di pertapaan. Ia bekerja secara sempurna dan saved by the bell ring.
          Ada sebuah tradisi dalam dunia penerbangan yang patut kita renungkan. Ketika sebuah pesawat landing, ada tepuk tangan meriah yang muncul dari antara sekelompok keryawan perusahaan maskapai. Saya merasa bahwa peristiwa ini agak tidak biasa. Saya mencari tahu informasi dari seorang pramugari bahwa pilot yang memegang navigasi dalam  flight kali ini,  baru saja menyelesaikan penerbangan yang terakhir dalam kariernya. Ia akan pensiun besok dan rekan-rekannya mengucapkan salam kebahagiaan untuknya.
          Baik jika sejenak kita menengok sejenak pada mitologi kuno tentang  "nyanyian seekor angsa".  Swan song atau nyanyian angsa adalah sebuah idiom bahasa Inggris yang menggambarkan suatu karya terakhir yang dipersembahkan seseorang ke hadapan publik. Istilah ini biasanya digunakan dalam dunia politik, olah raga maupun seni.  Ia sudah menyadari bahwa penampilannya ini adalah yang terakhir kalinya sebelum ia pensiun dan menarik diri (madeg pandhito), sehingga ia terdorong untuk menampilkan karyanya yang terbaik dan sempurna. Dalam mitologi ini, seekor angsa akan menyanyi dengan sangat indah tatkala sekarat menjelang ajal dan nyanyian inilah yang pertama dan terakhir kali dalam hidupnya.
          Memang sudah selayaknya bahwa setiap jabatan dan posisi mau tidak mau harus dilepaskan pada waktunya. Untuk  "melepaskan"  jabatan dan posisi itu kadang tidak gampang, maka dibutuhkan persiapan (Masa Persiapan Pensiun). Dan ketika waktunya tiba ia boleh mengatakan, "Paripurna" – telah usai dan telah penuh.

Senin, 9 Februari 2015   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Selasa, 23 Desember 2014

Tongkat

TONGKAT
(Kontemplasi  Peradaban)
 
"Tongkat ini adalah tanda otoritas Musa"
(Scott Hahn,  dalam bukunya yang berjudul,
 "Seorang Bapa yang Setia pada Janji-Nya" hlm. 153).
 
          Dunia perfilman Indonesia  saat ini, sedang di-geger-kan oleh Ifa Isfansyah (Lahir di Yogyakarta, 16 Desember 1979)  sutradara yang menciptakan film  berjudul,  "Pendekar Tongkat Emas". Sinopsis film ini dibuka dengan pergulatan perasaan guru Cempaka yang merasa bahwa sudah saatnya mewariskan ilmu andalannya,  "tongkat emas melingkar  bumi" kepada anak asuhannya. Tidak berbeda dengan cara estafet kepemimpian di sebuah lembaga, pikiran kita pun cenderung mengatakan bahwa orang yang akan menerima tongkat estafet haruslah mereka yang terhebat, mumpuni dan kompeten.
          Tongkat adalah kata-kata yang biasa. Ada tongsis (tongkat narsis), tongkat gembala, tongkat Musa, tongkat mayoret dan  tongkat komando. Tongkat dalam dunia pewayangan (Ramayana dan Mahabharata) dipakai untuk perang tanding. Tongkat tersebut  bentuknya "menggembung".  Perang tanding antara Doryudana dan Bima yang melegenda itu,  dua-duanya menggunakan "tongkat" dengan nama masing-masing: gada wesi kuning dan gada rujak polo  (Bdk. Kitab Mazmur 23: 4,  "Gada-Mu dan tongkat-Mu yang menghibur aku…"). Konon juga pernah diceriterakan ada tongkat komando dari sang Jendral yang sering patah karena sering digunakan untuk memukul para prajuritnya.
          Sebuah tongkat baru  memiliki makna tatkala dipegang  oleh orang yang memiliki otoritas. "Tongkat emas"  milik guru Cempaka, jika dipegang oleh orang yang tidak memiliki jurus "tongkat emas melingkar bumi" tentu akan menjadi tongkat biasa saja. Atau seperti  tongkat komando yang sering dipegang sang jendral sewaktu  upacara – (ketika dipegang oleh istrinya di rumah)  – maka, ia  tidak memunyai  bobot apa-apa. Tongkat atau  stick conductor  baru memiliki makna jika digunakan di depan para pemain orkes (pemegang alat music dan partiture)  yang telah dilatihnya.
          Tongkat, bagaikan  barang magis yang mampu menyihir orang-orang untuk mengikuti aba-abanya. Tidak heranlah jika setiap bawahan  "bermimpi" dan bercita-cita  untuk  mendapatkan "tongkat kepemimpinan" dari sang boss. Itulah sebabnya,  – konon –  Napoleon Bonaparte (1769 – 1821)  setiap latihan perang selalu berkata, "Hai para prajurit, simpanlah dalam setiap ranselmu sebuah tongkat komando, sebagai motivasi, bahwa suatu saat nanti kalian juga akan memegangnya!"  Setiap prajurit  atau  kroco sekalipun, berpotensi menjadi  comandant  karena pegang tongkat komando.
          Para raja – ketika duduk di singgasana – senantiasa memegang tongkat.  Zeus sebagai penguasa langit  dilukiskan sebagai raja yang memegang tongkat petir. Kristus Raja Semesta Alam  dilukiskan Yesus dengan mahkota dan tangan kiri-Nya memegang tongkat komando. Namun dalam  lukisan "Yesus gembala yang baik,"  Yesus dilukiskan  memegang  tongkat gembala dengan tangan kanan dan tangan kirinya adalah domba kecil atau lemah.
Akhirnya, "tongkat estafet" memiliki sejarahnya sendiri. Awalnya tongkat estafet dimulai dari bangsa Aztec, Inka dan Maya yang bertujuan untuk meneruskan berita yang telah diketahui supaya berita itu menyebar seantero  negeri. Lantas, di Yunani kuno, istilah  estafet yang kemudian dinamakan "estafet obor"  diselenggarakan dalam hubungannya dengan pemujaan leluhur serta untuk meneruskan api keramat ke jajahan-jajahan baru. Selanjutnya, tongkat estafet diterapkan dalam regenerasi pada kepemiminan (succession).  Ketika Yesus berkata kepada Petrus, "Gembalakanlah domba-domba-Ku"  – barangkali – sebagai tanda bahwa Petrus akan menerima "tongkat estafet" dari Yesus (Bdk. Yoh 21: 16).  Alexander Agung (356 – 323 seb. M) sewaktu sekarat, ditanya oleh para jendralnya, "Siapa yang menggantikan tongkat estafet sang Raja" Dia berkata,  "Orang yang terkuatlah yang akan memegang tongkat komandoku."
Dalam kepramukaan, jika  mengadakan kegiatan  "mencari jejak"  atau "jurit malam"  diwajibkan menggunakan tongkat.  Namun, orang tua yang sudah kesulitan berjalan dihimbau untuk  menggunakan tongkat. Di pihak lain, tongkat juga dipakai oleh mereka yang suka berziarah. Tetapi ingatlah bahwa hidup itu sendiri adalah  suatu  peziarahan, "Karena iman, maka Yakub,  ketika hampir waktunya akan mati, memberkati kedua anak Yusuf,  lalu menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya"  (Ibr 11: 21). Sampai hembusan nafas yang terakhir pun seorang musafir tua masih memiliki tongkat di tangannya. Menjelang akhir hidupnya, ia masih saja siap untuk berziarah. Jika kita benar-benar mau menghadapi tantangan hidup, kita harus mempertahankan pikiran yang senang menjelajah, "Mari kita siapkan tongkat!"

Senin, 22 Desember 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

15 Penyakit Rohani

15 "Penyakit Rohani" yang disebut Paus Fransiskus.

(RP. Albertus Sujoko MSC)
 
Refleksi ini ditujukan oleh Paus bagi anggota Curia Roma, namun berlaku untuk setiap orang katolik, siapa pun kita dan di mana pun kita berada.

Kalau menyimak isinya, memang Paus mengunakan kata "Para Rasul" (the Apostles) untuk menyebut orang-orang yang dimaksudkannya, yang mungkin maksudnya para anggota Kuria Roma yang adalah para Uskup. Namun nama itu berlaku juga untuk setiap orang katolik yang disapanya.

1. The disease of feeling 'immortal' or 'essential' (Merasa "abadi" dan "penting")

Anggota Kuria yang tidak melakukan kritik-diri, tidak berusaha untuk up to date, dan tidak berusaha untuk memperbaiki diri, adalah seperti "badan yang sakit". Paus mengatakan bahwa berkunjung ke tempat pemakaman dapat membantu kita untuk melihat nama-nama yang mungkin mereka waktu hidup berfikir bahwa mereka abadi dan penting, namun kini sudah dikubur.  Mereka yang mengidap penyakit ini adalah orang yang merasa diri "tuan" dan "atasan" dari pada merasa diri sebagai pelayan. Penyakit ini disebabkan oleh patologi kekuasaan, semacam "mesianik kompleks" dan narsistik.

2. The disease of excessive activity (Penyakit Super Sibuk)

Ini penyakit orang yang seperti Marta dalam Injil, menenggelamkan diri dalam aktivitas, dengan akibat mengabaikan apa yang lebih penting: duduk di kaki Yesus.  Paus mengingatkan Yesus yang berkata kepada para murid: "beristirahatlah sejenak. Mengabaikan apa yang lebih penting akan membuat kita cemas dan stress.
 
3. The diseases of mental and spiritual 'petrification' (Penyakit rohani dan mental yang disebut: memetruskan diri).

Penyakit ini diderita oleh anggota kuria yang kehilangan "kedamaian hati", semangat hidup (vitalitas) dan keteguhan (audacitas); mereka menyembunyikan diri di balik kertas-kertas dokumen dan menjadi "mesin prosedur" dan bukan lagi Men of God; mereka tidak bisa lagi "menangis dengan orang yang menangis; dan tertawa dengan orang yang tertawa. Mereka menjadi dingin dan kaku, seperti robot-robot.

4. The disease of overplanning (Penyakit: penuh rencana)

Jika para rasul (the apostles) merencanakan segalanya dengan cermat dan percaya bahwa dengan itu semuanya akan maju dengan efektif, maka mereka menjadi akuntan publik. Perencanaan yang baik memang perlu, namun jangan jatuh ke dalam pencobaan untuk mengekang dan membatasi kebebasan Roh Kudus…Selalu lebih mudah dan lebih nyaman untuk kembali kepada data statistik yang sudah ada dan posisi semula yang mapan.

5. The disease of bad coordination (penyakit: koordinasi yang buruk)

Penyakit ini menghinggapi anggota kuria yang kehilangan hidup komunitas dan "Tubuh" itu kehilangan  fungsinya yang harmonis sehingga menghasilkan bunyi orchestra yang fals karena para anggotanya tidak bekerjasama dan tidak hidup dalam komunalitas dan semangat team yang baik. 

6. The disease of spiritual Alzheimer's (penyakit "kelumpuhan otak" Rohani)

Penyakit ini adalah kemunduran kemampuan rohani yang semakin akut ( a 'progressive decline of spiritual faculties)  yang menimbulkan akibat-akibat buruk dan merugikan bagi umat,. Penyakit ini membuat orang-orang itu hidup dalam ketergantungan pada pandangan dan pendapat sendiri, yang sering hanya imaginasi atau ilusi saja. Kita dapat menyaksikan penyakit itu dalam diri mereka yang kehilangan "kenangan" (memory) akan pengalaman perjumpaan dengan Allah; Mereka tergantung pada obsesi dan pikiran-pikiran mereka sendiri.

7. Penyakit persaingan dan kemuliaan yang fana (The disease of rivalry and vainglory)
Ketika penampilan, model dan warna pakaian jabatan  dan kehormatan menjadi tujuan utama dalam hidup…itulah penyakit yang menjerumuskan mereka untuk menjadi orang-orang (pria dan wanita) yang palsu; mereka hidup dalam kesalehan yang palsu.

8. Penyakit kepribadian terbelah (The disease of existential schizophrenia)

Penyakit ini diderita oleh mereka yang menjalani "hidup ganda" akibat dari sikap hipokrit yang khas dari orang-orang yang mengalami kokosongan rohani. Kita sering terkejut bahwa seseorang meninggalkan karya pelayanan pastoral dan membatasi kegiatan mereka hanya pada urusan administrasi, dan mereka kehilangan kontak dengan realitas dan umat yang nyata.  Dengan cara itu, mereka menciptakan dunia mereka sendiri dan mereka mengabaikan apa pun yang dinasehatkan oleh orang lain.
 
9. Penyakit: Nggosip dan "karlotta"  (The disease of gossip and chatter)

Penyakit ini membuat seseorang menjadi "penabur kekacauan" (bahasa Yunani: diabolos = membuang ke segala arah; lawan dari dialogos (berbicara dua arah). Dan dalam banyak kasus penggosip itu adalah "pembunuh berdarah dingin" terhadap reputasi atau nama baik dari saudaranya atau koleganya sendiri. Penyakit penggosip ini diderita oleh orang-orang penakut, yang beraninya bicara di belakang, tidak berani terus terang…waspadalah terhadap terrorisme gossip!

10. Penyakit mendewakan (mentuhankan) pemimpin (The disease of deifying the leaders)
Penyakit ini menghinggapi mereka yang "menyogok para atasan mereka", mereka menjadi budak karierisme dan oportunisme; mereka menghidupi panggilan dengan berfikir apa yang  dapat saya peroleh dan bukan apa yang dapat saya berikan.  Para atasan juga mengidap penyakit yang sama jika ia menyuap para bawahannya untuk mendapatkan loyalitas dan kepatuhan mereka.
 
11. Penyakit cuek bebek (The disease of indifference to others)
Gejala penyakit ini adalah bila orang yang berfikir tentang dirinya sendiri dan kehilangan ketulusan dan kehangatan dalam relasi dengan sesamanya. Jika orang yang sudah pengalaman tidak mau menularkan pengetahuan itu kepada rekan kerja dan penerusnya. Dan jika karena iri hati, maka kita gembira bila melihat teman jatuh, dari pada ingin mengangkat dan memberikan peneguhan kepada mereka.
 
12. Penyakit "muka asam" (The disease of the funeral face)

Penyakit ini menghinggapi orang-orang yang merasa diri supaya nampak serius, maka mereka harus menunjukkan wajah yang asam, cemberut, dan dingin seperti kuburan. Padahal itu disebabkan oleh rasa minder atau rendah diri. Pada kenyataanya, kekakuan teatrikal dan pesimisme yang mandul itu adalah gejala dari rasa takut dan rasa tidak aman terhadap diri sendiri. Kita anggota kuria harus berusaha untuk menjadi orang yang sopan, tenang, bersemangat dan penuh kegembiraan…Paus mengajak kita untuk bisa "menertawakan diri sendiri" dan betapa bermanfaatnya kalau hal itu bisa kita lakukan.

13.  Penyakit untuk "mengamankan diri" (The disease of hoarding)
 
Penyakit ini kambuh jika murid Yesus mencari untuk memenuhi kebutuhan yang ia rasakan dengan menumpuk harta milik, bukan karena diperlukan untuk pelayanan, melainkan hanya demi rasa aman.

14. Penyakit "merasa diri lingkaran dalam" (The disease of closed circles)

Penyakit ini dialami oleh orang yang merasa bahwa menjadi bagian dari "lingkaran dalam" itu lebih penting dari pada menjadi bagian dari Tubuh Mistik Gereja, atau lain kali bahkan menjadi bagian dari Kristus sendiri. Penyakit ini bahkan muncul pula dari kemauan baik, namun lama kelamaan menjalar ke seluruh anggota kuria roma dan seluruh Gereja dan menjadi penyakit kanker ganas.

15. Penyakit "keuntungan duniawi dan pamer diri  (The disease of worldly profit and exhibitionism)

Penyakit ini terjadi jika kita mengganti pelayanan dengan kekuasaan, dan kekuasaan diubah menjadi komoditi yang menghasilkan keuntungan duniawi, dan bahkan menghasilan kekuasaan yang lebih besar lagi. Dan untuk mencapai hal itu, ia menghalalkan segala cara, termasuk mendiskreditkan orang lain bahkan melalui Koran dan majalah. Tentu saja hal itu ia lakukan untuk memaperkan superioritasnya di atas orang lain. Penyakit ini sangat berbahaya, karena bisa menghancurkan Gereja karena hal ini dapat mengarah pada pendapat bahwa orang dapat menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya.
 
Paus memberikan nasehat kepada para imam: Imam itu seperti pesawat terbang. Ia menjadi berita ketika ia jatuh. Banyak pesawat terbang dan imam yang tidak jauh, dan mereka tidak menjadi berita. Lebih banyak orang mengkritiknya, dan sedikit yang mendoakannya. Perumpamaan ini sangat penting karena menggarisbawahi dua hal: pertama, betapa pelayanan imam itu "gampang-gampang susah" dan kedua, betapa jatuhnya imam itu menimbulkan dampak yang sangat buruk bagi Gereja.
 
Diterjemahkan dengan bebas oleh Sujoko
Dari Vatican Insider


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Kamis, 18 Desember 2014

Maaf

MAAF
(M   o   t    i   v   a   s   i)

Kebencian tidak pernah dipadamkan oleh kebencian. Hanya cinta kasih yang dapat memadamkan kebencian. Inilah Hukum yang abadi (Dhammapada: 3,4,5).
   
       Ketika membaca novel tulisan Paulo Coelho (Lahir, 1947 di Rio de Janerio – Brasil) dengan judul,  "Manuskrip yang ditemukan di Accra"  saya terkesima dengan kata-kata singkat, "Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin yang menerpanya." Memaafkan orang yang pernah berbuat salah kepada kita, memang tidak mudah. Dan sepertinya tidak mungkin.  
          Ada baiknya kita  "mengintip sejenak"  orang-orang besar yang telah mencapai level  memaafkan. Nelson Mandela (1918 – 2013) mengatakan bahwa  memaafkan tidak akan mengubah masa lampau, tetapi memaafkan akan mengubah masa depan. Ia telah membuktikan  dengan tidak membalas  dendam tatkala harus mendekam di penjara selama 27 tahun.  Ann Landers (1918 – 2002) –  seorang  columnist, berkata,  "One of the secret of longevity and meaningful is to forgive any mistakes every person every night before going to bed" – Salah satu rahasia umur panjang dan bermakna adalah memaafkan kesalahan setiap orang setiap malam sebelum tidur.
          Eknath Easwaran, penulis tentang meditasi dan kematian  dalam bukunya yang berjudul, "Menyelami Misteri Kematian"  menguraikan tentang  pemberian maaf yang membuat hidup menjadi ringan. Ternyata kalau kita memaafkan, seluruh beban pun hilang. Tidak hanya beban kesalahan orang lain. Barangkali inilah arti memaafkan yang sesungguhnya. Fransiskus dari Asisi pun berkata, "Ketika  memaafkan orang lain, sebenarnya  kita sendiri juga dimaafkan."  Kita – orang awam – tentu akan berkata, "Memaafkan itu tidak semudah membalik telapak tangan!" Inilah kata-kata pesimistis dan  kedengarannya tidak mungkin.  Tetapi Thérèsa dari Liseux (1873 – 1897), Mahatma Gandhi (1869 – 1948) dan tokoh lain telah memberikan kesaksian dengan rendah hati dan jujur. Seolah-olah – dalam kebisuan –  mereka berkata,  "Kami sudah melakukannya. Oleh karena itu, kalian juga bisa melakukannya."
          Lain cerita!  Di belahan dunia yan lain, ada tumbuhan yang berbunga ungu, namanya Natnitnole. Tumbuhan ini selalu tumbuh di sela-sela kerikil, terutama di jalan menuju rumah. Setiap pagi, di sekitar rumah  tersebut selalu menyebar keharuman sehingga sang kerikil yang ada di sela-selanya bertanya kepada sang tumbuhan, "Mengapa engkau selalu tersenyum setiap pagi dan berharum ria?"
Bunga Natnitnole menjawab "Saya bersyukur setiap pagi, tuan rumah berjalan melalui jalan kita ini dan setiap pagi pula saya mengeluarkan bunga yang baru. Hal ini terjadi karena, setiap jejak kaki yang diinjakkan oleh sang empunya rumah telah meremukkan mahkota dan kerena itulah saya mengeluarkan aroma yang wangi (Buku tulisan Parlindungan  Marpaung  dengan judul  "Setengah Isi-Setengah Kosong"  hlm.182).
Ilustrasi singkat di atas hendak mengatakan kepada kita betapa luhur bunga  Natnitnole itu. Meskipun diinjak-injak dan  diperlakukan tidak adil, ia mampu memaafkan.
      
Jumat, 19 Desember 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Selasa, 16 Desember 2014

Kata

KATA
(M   o   t    i   v   a   s   i)
 
"Mala aurea in lectis argenteis Qui loquitur verbum in tempore suo" – Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak (Ams 25: 1).
 
       Pernah suatu kali saya membaca sebuah kata mutiara yang ditulis oleh Marie-Louise de la Ramée (1839 – 1908) - novelis, "Persahabatan bisa berakhir hanya karena satu kata yang tidak bijaksana."  Sering kita jumpai ada orang-orang yang dulu akrab sekali, tiba-tiba mereka menjadi benci satu sama lainnya. Hal itu hanya  gara-gara salah ngomong. 
          "Memang lidah tak bertulang" kata sebuah syair dari sebuah lagu yang berjudul,  "Tinggi Gunung Seribu Janji."  Karena tidak bertulang, maka ia bisa lentur dan kadang-kadang berkelit. Lidah yang tidak terkendali amat berbahaya dan bisa menimbulkan  perang mulut dan adu argument.  Dan kadang-kadang bisa menguras energi dan melelahkan.
"Lidah" merupakan sepenggal daging, namun memiliki peran yang besar bagi kehidupan kita. Bahkan Paulo Coelho (Lahir, 1947 di Rio de Janerio – Brasil) sempat menorehkan  makna "lidah" untuk  novelnya yang berjudul, "Manuskrip yang Ditemukan di Accra."  Tulisnya, "Senjata yang paling merusak bukanlah lembing ataupun  meriam yang bisa melukai badan dan merobohkan tembok. Senjata yang paling berbahaya adalah kata-kata yang bisa menghancurkan kehidupan tanpa meninggalkan jejak darah dan luka-luka yang ditimbulkannya tak pernah bisa sembuh. Karenanya marilah kita menahan  lidah kita dan tidak menjadi budak ucapan-ucapan kita sendiri."  
Kita harus menjadi pribadi yang  "bebas dan bertanggung jawab" dengan apa yang kita ucapkan. Confusius (551 – 479 seb. M) memberikan pengajaran tentang kata-kata yang keluar dari bibir kita. Ajarannya,  "Not to converse with a man worthy of conversation is to waste the man. To converse with a man not worthy of conversation is to waste words. The wise waste neither men or words" – Tidak berbicara dengan orang yang layak diajak berbicara berarti mensia-siakan orang. Berbicara dengan orang yang tidak layak diajak berbicara berarti mensia-siakan kata-kata. Orang bijak tidak mensia-siakan orang maupun kata-kata.
Sungguh benar, di sini kita diajak untuk menjadi orang yang "hemat" dengan kata yang kita ucapkan. Amat disayangkan jika kita menjadi orang yang mudah "obral" kata, sehingga kata-kata kita hilang percuma, karena  "menguap" entah ke mana. Pepatah China menulis,  "Jika kata-kata diucapkan terlalu banyak, terkadang kata-kata  tersebut sudah  kehilangan maknanya dan sulit dinilai bobot kebenarannya."

Rabu, 17 Desember 2014   Markus Marlon

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Minggu, 14 Desember 2014

Putih

PUTIH
(Kontemplasi  Peradaban)
                                                                  Putih indah berseri
Mekar harum mewangi
Melati suntingan hati
 
Kau lambang kesucian
Cinta yang abadi
Yang selalu kurindukan

       Sepenggal syair lagu lawas dengan judul, "melati putih"  besutan Bimbo  di atas, tersirat sebuah makna kesucian dalam  warna putih.  Memang, dalam psikologi warna, warna putih melambangkan kemurnian dan kepolosan, memberikan perlindungan, ketentraman, kenyamanan dan memudahkan refleksi.
          Bagaimana kita memandang warna putih sungguh amat istimewa dibandingkan dengan warna hitam yang memiliki konotasi yang – maaf – kurang elok, misalnya: black campaign , noda hitam atau  black pope –  paus hitam.  
          Jika kita menengok ke belakang yakni  berabad-abad yang lalu, hari gembira penuh sukacita itu  dinamakan hari putih. Plutarch (45 – 120) sejarawan, pembuat biografi dan esais,  menceriterakan bahwa Pericles (495 – 429 seb. M) negarawan, orator dan Jendral Athena,  ketika menyerbu Samos, sadar  bahwa penyerbuan itu akan berlangsung lama. Ia tidak ingin pasukannya keletihan dan bosa, maka dibagilah pasukannya menjadi delapan. Setiap hari kedelapan pasukan itu mengambil undian. Lantas, tatkala diundi dan pasukan yang mendapat biji putih itu  terbebas dari tugas hari itu dan mereka dapat menikmati hari itu sesuka hati mereka (William  Barclay, dalam bukunya yang berjudul, Kitab Wahyu 1- 5  hlm. 143).
Tidak heranlah, jika pengaruh warna putih itu tersebar ke mana-mana. White  (putih) itu berasal dari Inggris kuno, hwit yang berarti: bright, brilliant  dan radiant. Dalam  warna putih terkandung suatu keceriahan, sukacita dan sinar yang berkilau indah, "As he prayed, the aspect of his face was changed and his clothing become brilliant as lightning" – sementara Yesus berdoa di situ, muka-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilauan (Luk 9: 29).
          Para calon itu kadang nampaknya jujur dan polos. Mereka  disebut sebagai  candidate. Dan  candidate  itu sendiri berasal dari bahasa Latin, candĭdātus yang berarti berpakaian putih. Mereka berusaha memperoleh jabatan karena ia mengenakan  pakaian putih. Dan tentu saja dalam bersikap harus menunjukkan kejujuran. Para candidati  itu dalam bertindak pun bagaikan anak domba yang tulus,  "Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya" (Yes 53: 7).
          Orang yang muram, sedih, murung-murung dan  berduka akan menjadi sempurna jika mengenakan  pakaian hitam. Kita, ketika melayat untuk melihat keranda hitam, tidak terbayangkan jika tidak mengenakan pakaian hitam. Sang Nabi Muhammad SAW melarang bagi masyarakat Arab dalam hadis-nya, "mencelupkan pakaian dengan warna merah karena itu termasuk ke dalam pakaian keindahan yang tidak cocok dengan suasana berkabung."  Namun, masyarakat China dan negara-negara Asia lainnya pun cenderung memilih warna putih sebagai warna berkabung. Perhatikanlah  film-film seperti: Red Cliff, The Three Kingdoms, Sun Tzu Art of War, yang ketika sedang berkabung menggunakan warna putih. Benar kata pepatah,  "Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya."    
          Dalam pelbagai kebudayaan,  seperti Jawa (Kesultanan  Yogyakarta dan Kasuhunan Surakarta) warna putih memiliki simbol tersendiri. Kraton Surakarta menggunakan warna putih sebagai bentuk penolakan terhadap yang jahat, tidak baik dan merusak. Oleh karenanya warna putih sering menjadi warna sunan dan ksatria. Pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I  (1717 – 1792) di Yogyakarta  warna putih dijadikan warna dasar ageman (pakaian) para ksatria. Terutama pasukan Wirabraja mengenakan warna putih sebagai lambang keteguhan hati membela kebenaran.  Dari kebudayaan Jogjakarta dan Surakarta itu, muncullah seorang Satria yang juga Raja Pandawa yang bernama Puntadewa atau Yudistira.  Puntadewa dilukiskan sebagai raja yang memiliki  getih putih – darah putih. Ia tidak pernah berbohong dan berjiwa tulus. Darah putih akan melakukan segala hal tanpa pamrih, ikhlas dan tidak mengambil keuntungan untuk diri sendiri.  
          Setelah mengontemplasikan makna warna putih ini, sepertinya, ada kaitan antara suci dan putih. Sejenak  marilah kita senandungkan lagu, "Melati Suci" syair  Guruh Sukarno Putra. Konon lagu itu dipersembahkan untuk ibu Fatmawati, yang nama aslinya Fatimah (1923 – 1980):
Putih-putih melati
Mekar di taman sari
Semerbak wangi penjuru bumi.
 Suci-suci melati
Suntingan 'bu Pertiwi
Lambang nan luhur budi pekerti.
 
Saya menjadi ingat akan para pemimpin agama yang ketika menjadi  pontifex  yang bukan  maximus (pembuat jembatan  antara Tuhan dan Manusia) mengenakan  alba (Bhs. Latin, alba = pakaian putih), kecuali pendeta Buddha  yang mengenakan warna orange.  Tentu saja hatinya suci, murni, tulus  seperti jubah, toga, alba yang dipakainya.  Wallahu a'lam!  Dan Allah Mahatahu!

Senin, 15 Desember 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com