Kamis, 26 Maret 2015

Debu

DEBU
(Kontemplasi Peradaban)
                                                                 
"Hanya debulah aku" sebuah lagu yang ditulis oleh Cosmas Margono (1980)  adalah sebuah lagu yang sering dinyanyikan umat Kristen Katolik pada masa Prapaskah. "Debu" juga sering digunakan oleh para rakyat jelata ataupun para punggawa kerajaan yang menyebut diri mereka  sebagai duli, "Duli paduka raja"  berarti: debu sepatu raja – kata-kata untuk meluhurkan perintah raja.

Demikianlah, manusia hanya setitik debu. Tetapi jika kita membayangkan para astronot yang berkecimpung di  ruang luar angkasa, kita bisa menyaksikan apa sebenarnya planet Bumi ini.  Pesawat voyager 1 yang diluncurkan pada 1977 kini berada pada lingkar luar dari sistem tata surya kita yang berjarak lebih dari 16 miliar KM jauhnya. Pada Februari 1990, ketika voyager 1 hampir  berjarak 6 miliar KM jauhnya,  para ilmuwan mengambil beberapa foto planet Bumi yang memerlihatkan planet kita seperti titik biru yang hampir tak terlihat di tengah kekosongan ruang angkasa yang sangat luas.

Dalam alam semesta kita yang sangat luas planet Bumi hanyalah satu titik kecil. Planet yang tampak hanya seperti sebongkah kerikil yang tidak berarti di antara lautan benda-benda angkasa. Barangkali  lagu  yang berjudul, "How great Thou art" ciptaan Carl Gustav Boberg (1859 – 1940) ini sesuai  dengan foto yang dibuat Voyager 1.  Dan setitik debu ini sekarang menjadi "rumah" bagi tujuh miliar umat manusia. 

Mengontemplasikan "rumah" umat manusia yang bagaikan setitik debu, baik jika sejenak kita membaca kutipan Mazmur, "Cum video caelos tuos, opus digitorum tuorum, lunam et stellas quae tu gundasti: Quid est homo, quod memo res eius? Aut filius hominis, quod curas de eo?"  - Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: Apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya? Apakah manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? (Mzm 8: 4 – 5). Memang kita hanya mampu berdecak kagum. Tidak ada ungkapan lain.

Buku  "Biografi Joseph Haydn" (1732 – 1809) salah satunya adalah mengisahkan tentang perasaannya sebagai debu. Ketika Salah satu karya musik klasiknya yang terkenal,  "Die Schöpfung" – "Penciptaan" didengungkan, semua pendengar memberikan standing ovation. Lantas, tatkala syair yang berbunyi ""es werde licht" – maka jadilah terang, semua orang di ruangan gedung kesenian itu berdiri dan memberikan aplaus yang panjang sambil menghormati sang  maestro. Haydn berusaha sekuat tenaga untuk berdiri dari kursi rodanya, menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Jangan kepada saya, tetapi kepada Dia yang di atas!"  
         
Orang sehebat Haydn menyadari bahwa dirinya adalah sangat kecil di hadapan Sang Pencipta. Kehebatan, kegeniusan, kedahsyatan dan kekuatan manusia hanyalah setitip debu saja di hadapan sang Pencita. Dari sini pula,  kita boleh bermazmur,  "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kuat delapan puluh tahun dan kebanggannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru dan kami melayang lenyap" (Mzm 90: 10).

Rabu, 25 Maret 2015  Markus Marlon

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Jumat, 20 Maret 2015

Sumpah

SUMPAH
(Kontemplasi Peradaban)

          Setiap kali kita menghadiri suatu sumpah (jabatan baru, kaul-kaul kebiaraan, pernikahan) maka terbersit dalam pikiran kita, apakah orang ini mampu menepati sumpahnya. Semua orang menyadari bahwa yang namanya sumpah itu "tidak main-main."

          Waktu  emeritus Paus Benediktus XVI (Lahir: 16 April 1927) membacakan pidato pengunduran dirinya sebagai Paus – dikabarkan – bahwa ada petir menyambar di Gereja St. Petrus – Vatikan. Kejadian ini dimuat bahkan menjadi cover story  pada bulletin Catholic Life. Untuk orang Jawa, jika mendengar orang mengucapkan sumpah, mereka akan berkidung, "Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap katon lir kincanging alis…"

          Janji, sumpah, kaul,  commitment, niat tulus adalah ungkapan yang – barangkali – dianggap sakral. Apalagi, jika sumpah itu dilakukan dan disaksikan oleh banyak orang (votum publicum) maka, dia akan terikat dengan sumpahnya itu. Kita menjadi ingat akan kata-kata yang disampaikan Zhu Rong Li, Perdana Mentri China dalam suatu kesempatan, "Sediakan sepuluh peti mati bagi saya kelak, Jika ternyata saya di akhir jabatan melakukan korupsi." Kata-kata ini bagaikan wewaler bagi dirinya sendiri. Ini pula yang diucapkan oleh orang-orang yang sekarang mendekam di penjara, "Gantung saya di tugu monas jika terbukti korupsi satu sen saja!" atau "potong tangan saya, jika terbukti korupsi!" Di sini kita perlu meneladan  Sang Nabi dalam hadis-nya yang ditulis oleh HR. Bukhari, "Apabila Fatimah, mencuri  maka aku pun akan memotong tangannya." (Fatimah adalah putri Muhammad).

          Sumpah itu sakral, demikian pula, orang yang disumpahi kadang kala berpikir panjang pula,"Jangan-jangan sumpahnya terjadi pada diriku!" Dan kadangkala kita merasa bahwa kata-kata itu bertuah. Resi Gotama dalam lakon wayang  yang berjudul,  "Telaga Modirdo Cupu Manik" menyumpahi istrinya Dewi Windradi menjadi batu dan ketiga anaknya menjadi kera (Sugriwa-Subali-Dewi Anjani). Kisah "Malin Kundang, Si Anak Durhaka" merupakan  sebuah legenda dari Sumatra yang amat termasyur. Akhir dari cerita tersebut sangat tragis, ibunya berkata, "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu!" Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kudang perlahan-lahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berubah menjadi batu karang.

          Ingat "Sumpah Palapa?" Tentu saja lamunan kita langsung ke Majapahit. Agus Soerono dalam bukunya yang berjudul "Jayaning Majapahit"  mengilustrasikan makna sumpah palapa. Pada awalnya Gajah Mada mengucapkan sumpah sukla brahmacari – sumpah untuk tidak menikah atau menyentuh wanita, sebelum mewujudkan dan menyatukan kepulauan Nusantara di bawah panji-panji kebesaraan Kerajaan Majapahit. Namun, sumpah itu – katanya – berbau  religious, maka digantilah  Sumpah Amukti Palapa, yang sebenarnya maknanya sama yakni tidak akan menikmati segala sesuatu kesenangan hidup, termasuk makanan, kekayaan, kemewahan termasuk wanita.

          Sumpah yang agung dan mulia juga diucapkan oleh Dewabrata yang berhak menjadi raja, namun ia menolak demi cintanya kepada ayahnya, Raja Sentanu dalam Mahabharata.   Dewabrata bersumpah di hadapan sang ayahanda dan calon ibunya, "Aku berjanji tidak akan kawin. Dengan demikian, aku takkan pernah punya anak. Seluruh hidupku akan kupersembahkan untuk berbakti pada rakyat dan kerajaan dan untuk kesucian." Ketika Dewabrata mengucapkan sumpah sucinya, bergemuruhlah kembang-kembang suci menaburi kepalanya, sementara di angkasa bergema suara merdu, "Bhisma…bhisma…bhisma" Kata bhisma menyatakan bahwa seseorang telah mengucapkan sumpah yang berat dan suci dan berjanji akan benar-benar melaksanakannya.

Jumat, 20 Maret 2015   Markus Marlon

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Selasa, 10 Maret 2015

Membaca

MEMBACA
(Kontemplasi Peradaban)

          Pernahkah Anda menonton film Inggris atau Amerika dan melihat ada rak buku yang terletak di ruang tamu atau ruang keluarga? Saya sering melihatnya. Dan pernahkan Anda menonton sinetron Indonesia – yang umumnya bercerita tentang keluarga-keluarga super kaya – dan melihat ada rak buku di ruang tamu atau ruang keluarga? Saya belum pernah melihatnya!

Kegiatan Membaca Mulai Memudar 

          Sudah menjadi pemandangan umum bahwa di Ruang Tunggu seperti di Stasiun, Bandara maupun Rumah Sakit tersedia pesawat Televisi. Bahkan di rumah-rumah, pesawat Televisi bagaikan sahabat yang setia "menemani"  seorang ibu atau pembantu rumah tangga dalam memasak atau menyeterika dan mencuci pakaian. Anak-anak kecil pun sejak bayi sudah diperkenalkan dengan pesawat Televisi sebagai "teman" –nya. Dengan adanya pesawat Televisi atau yang disebut juga kotak ajaib maupun box idiot, sebenarnya seorang bayi "kurang berkenalan" dengan buku.      

          Kegiatan membaca seharusnya dipupuk sejak dini, karena di kemudian hari, ternyata kebiasaan  membaca yang pernah dibuat tersebut itu memiliki kekuatan yang  dahsyat. Tetapi kita harus mengakui bahwa anak yang sekarang ini adalah anak zamannya. Mereka tidak bisa kita jadikan anak maupun remaja tahun 70-an, yang pada waktu tehnologi tidak semaju seperti sekarang ini. Pada zaman ini, buku memiliki "saingan" yang sangat berat. Pada zaman dulu, kegiatan membaca sungguh mendapatkan tempat yang sangat istimewa. Bahkan Thomas à Kempis (1379 – 1471), penulis buku terkenal  "De imitatione Christi" (Mengikuti jejak Kristus),  pernah berucap, "In omnibus requiem quaesivi et nusquam inveni, nisi in angelo cum libello" yang artinya aku telah mencari ketenangan di mana-mana dan tidak di suatu tempat pun aku menemukannya kecuali di sebuah sudut kecil dengan (membaca) sebuah buku.  

Kedahsyatan Kegiatan Membaca

          Pengaruh  buku   sungguh luar biasa. Banyak orang yang setelah "menjadi orang" berkata bahwa dirinya menjadi seperti sekarang  ini  karena buku. Sebagai contoh, Pater  Franz Magnis-Suseno SJ berkata demikian, "Kisah-kisah seperti The Last of the Mohicans karangan Cooper, Winnetou-nya Karl May  membuat daya imaginasiku berkembang." Atau kita lihat buku terkenal yang berjudul "Don Quixote"  karangan Miguel de Cervantes.  Cervantes, penulis Spanyol  (1547-1616) adalah seorang petualang buku. Pelbagai buku telah dilalapnya habis.  Ia menguasai  bacaan-bacaan Latin Klasik. Ia mendalami bacaan-bacaan sejarah bangsa-bangsa. Don Quixote adalah buku terkenal yang mengisahkan tentang seorang yang bernama Don Quixote de la Mancha yang tergila-gila dengan membaca. Lewat buku yang dibacanya, ia berpetualangan dengan ide-idenya sendiri, sehingga dia menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Pantas bila dunia menyebut Don Quixote sebagai the ambassador of readings.

 Kalau kita mundur   lagi ke zaman Yunani  kuno,  kita akan berjumpa dengan Alexander Agung (356-323 s.M dari Macedonia. Oleh gurunya yakni Aristoteles (384-322 s.M), Alexander Agung diberi bacaan wajib yang berjudul "The Illiad" karangan Homerus (lahir abad ke-8 s.M). Dengan membaca karya sastra tersebut, pikiran Alexander Agung menjulang tinggi – bahkan mungkin "liar"  –  dan mengidolai sang pahlawan yakni Achilles dan akhirnya ia mampu menguasai dunia pada usia mudanya.  Konon, buku "The Illiad" dijadikan bantal bagi  Alexander Agung, tatkala dirinya  tidur.  Dalam film Troy, tokoh Achilles ini memang sungguh luar biasa. Dan bukankah tokoh-tokoh para kudus juga mengalami pertobatan ketika membaca buku? St. Ignatius dari Loyola (1491-1556) misalnya, ketika dia sakit karena luka parah dan tidak bisa berbuat apa-apa, "terpaksa" membaca buku Kisah Santo-Santa dan akhirnya bertobat dan menulis buku yang sangat kesohor,  "Latihan Rohani."  St. Agustinus (354-430) mengakui bahwa dirinya seorang pendosa berat. Pada suatu hari ia mendengar suara. Suara itu datang dengan nada berulang-ulang, "Tole, lege, tole, lege" (Ambil dan bacalah,  ambil dan bacalah). Sambil membendung air matanya,  ia segera membuka Kitab Suci. Di sana ia membaca teks yang memperingatkan, agar ia tidak hidup dalam ketidakbenaran. Karena pengaruh buku yang ia baca, ia menjadi orang kudus dan gagasan-gagasan teologisnya hingga sekarang masih dipelajari oleh banyak orang.

Menumbuhkan Daya Refleksif 
          Perasaan yang didapat lewat membaca berbeda dengan menonton Televisi atau film. Keunikan membaca adalah orang diajak untuk membayangkan hal-hal yang diceriterakan di dalam buku. Berbeda dengan  menonton yang secara visual sudah bisa ditangkap oleh mata. Oleh sebab itu, seringkali menonton sebuah film yang diangkat dari buku mengecewakan karena apa yang dibayangkan berbeda dengan yang divisualisasikan. Ketika saya membaca buku "Gone with the Wind"  peran Scharlet Ohara begitu dahsyat. Sebagai tokoh utama ia membuat orang yang membacanya menjadi gemas. Tetapi, setelah melihat filmnya,  bayangan kelincahan dan kecantikannya menjadi pudar.  Tokoh  yang bernama Yuri dalam "Dokter Zhivago" karangan Boris Pasternak sungguh memilukan bagi yang membaca. Tetapi setelah menonton  filmnya,   rasa kasihan terhadap tokoh itu mulai menghilang. Membaca novel "Memoirs of Geisha" karya Arthur Golden, hati saya menjadi miris karena Sayuri sebagai tokoh utama diperlakukan semena-mena dan tidak adil. Tetapi setelah menyaksikan filmnya   yang berdurasi 90 menit itu,  rasa miris itu pun lenyap. 

          Setiap buku atau majalah  yang kita baca itu pada akhirnya mengajak kita untuk mengkonfrontasikan dengan kehidupan kita. Misalnya,  buku tulisan Hans-Peter Grosshans yang berjudul  "Luther" dapat memberikan pencerahan kepada kita.  Buah pena dan gagasan-gagasannya tentang  "Reformasi" menyadarkan Gereja Katolik untuk lebih bercermin diri karena sudah menyimpang jauh dari ajaran Kitab Suci. Bacaan Rohani tulisan Wilfrid McGreal berjudul  "Yohanes Salib" yang adalah seorang penyair dan tokoh mistik menginginkan agar orang yang tengah mencari kesatuan dengan Tuhan mendapatkan bimbingan atau pembimbing rohani yang baik dalam perjalanan mereka. Dari sana pula, kita kita merenungkan kembali, apakah sebagai pribadi yang ingin maju dan berkembang dalam pengetahuan, masih senantiasa "rindu" membaca buku?  Petrarca (1304 – 1374)   –   seorang penyair dan humanis Italy   –   berkata, "Libris satiari nequeo" yang berarti aku tidak pernah dipuaskan oleh buku. Setelah buku yang satu dilalap habis, ada kerinduan lagi melahap buku berikutnya.  Kata-kata, "Lebih baik menjadi kutu buku daripada mati kutu," mendapatkan penerapannya.

Penutup: Mari Mencintai Buku
Sahabat yang paling tidak pernah mengecewakan adalah buku. Buku bisa kita bawa ke manapun pergi dan dia senantiasa setia menjadi "teman dialog."  Kebiasaan membaca buku tentu akan mengembangkan diri sendiri karena dengan membaca dapat membuka cakrawala atau wawasan. Bukankah buku adalah "Jendela dunia"?

Selasa, 10 Maret 2015   Markus Marlon
 
Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Selasa, 24 Februari 2015

Warisan

WARISAN
(Kontemplasi Peradaban)
 
"Daripada gentar terhadap
angin badai dan hujan yang terjadi,
mereka belajar untuk berlayar
dengan mengarungi badai"
(Bangsa Axum kuno)
 
          Ada seorang pengusaha muda yang sukses dalam meneruskan perusahaan keluarganya. Lantas, pengusaha muda itu saya tanya demikian, "Mengapa usaha saudara makin meningkat ?" Jawabannya begitu mengejutkan, "Karena setiap saat saya selalu komunikasi dengan  papa saya, meskipun  papa sekarang sudah duduk di kursi roda!"
          Pengusaha muda ini menyadari bahwa papa-nya telah mewarisi  etos kerja,  passion dan semangatnya dalam mengelola perusahaan tersebut. Maka, ia senantiasa menjaganya dengan komunikasi dengan sang pemberi warisan tersebut. Sang ayah telah memberi warisan ang nilainya tak terhingga. Ini seperti yang sering kita dengar, "kalau warisanmu akan bertahan beberapa bulan tanamlah uang, kalau warisanmu boleh bertahan beberapa tahun tanamlah pohon dan jika warisanmu bisa bertahan seumur hidup tanamlah inspirasi: semangat, etos kerja dan passion."
          Kesadaran akan  "sangkan paraning dumadi" – asal dan tujuan manusia, menumbuhkan dalam dirin kita suatu tekad untuk tidak menyia-nyiakan hidup ini. Ketika Ratu Victoria (1840 - 1901)  masih kecil ia dipanggil  Putri Victoria.   Ia tidak menyadari bahwa di kemudian hari ia akan mewarisi takhta kerajaan Inggris. Itulah sebabnya, ia tidak mau belajar sungguh-sungguh dan ini membuat para guru frustasi. Namun, pada akhirnya para guru memutuskan untuk memberitahu bahwa suatu hari nanti, ia akan menjadi Ratu Inggris. Setelah mendengar hal itu, Victoria kemudian dengan tenang berkata, "Kalau begitu, saya akan menjadi anak yang baik!"
          Memang benar, menyia-nyiakan hidup berarti tidak menghargai "warisan". Dalam buku yang berjudul, "Papillon" sang tokoh utama diadili. Hakim mendakwanya bahwa ia melakukan kejahatan yang paling mengerikan. Saat Papillon menanyakan kejahatan apa yang dilakukannya, sang hakim memberitahu bahwa kejahatan itu adalah "tragedi menyia-nyiakan hidup."
          Ada lagi orang yang menyia-nyiakan hidup karena rasa bersalah yang berkepanjangan. Pasalnya, ia tidak sabar menanti datangnya warisan "mahkota" yang akan ia terima. Karena ketidaksabarannya itu, maka warisan itu pun direbutnya dengan darah. "Lady Macbeth" itulah judul drama tragedi karya William Shakespeare (1564 – 1616). Setelah mendengar suaminya akan menjadi raja, maka ia meyakinkan suaminya untuk membunuh raja yang pada saat itu sedang berkuasa. Ketika pembunuhan berdarah itu benar-benar telah dilakukan, Macbeth pun dikejar-kejar rasa bersalah. Namun, sang istri malah mengomeli ketakutan calon raja, yang notabene  suaminya sendiri dan membantu untuk menutupi kejahatan itu. Sampai pada akhirnya Macbeth dilantik menjadi raja. Namun, ketetapan hati Lady Macbeth akhirnya berubah menjadi penyesalan. Ia pun menjadi tidak stabil secara mental dan tidak pernah berhenti mencuci tangannya, "Apakah tangan ini akan kotor selamanya?" Akhir rasa bersalah itu membuat Lady Macbeth bunuh diri. Ia menyia-nyiakan warisan dan hidupnya.
          Sejak manusia "menangis untuk yang pertama kali" sebenarnya sudah diberi warisan menjadi pemenang. Ingat kata-kata Zig Ziglar (1926 – 2012), "You were born to win, but to  be a winner you must plan to win, prepare to win and expect to win" – Anda dilahirkan untuk menang, tetapi menjadi pemenang harus merencanakan untuk menang, menyiapkan untuk menang dan berharap untuk menang.

Rabu, 25 Februari 2015 
Markus Marlon         
         

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Senin, 09 Februari 2015

Paripurna

PARIPURNA
(Kontemplasi Peradaban)
 
       Saya pernah tinggal beberapa hari di sebuah biara yang khusus untuk para biarawan tua. Saya mendapatkan kehormatan boleh makan dan rekreasi bersama-sama para mantan. Ada mantan provinsial, ada mantan ketua yayasan dan ada mantan kepala sekolah dan tentunya ada beberapa orang yang dulu sebagai pastor paroki.
          Selama makan, masing-masing orang tua itu berbicara masa lalunya. Yang sering terdengar adalah kata-kata, "Dulu, ketika saya menjabat sebagai…." Dan dari situ, munculah kisah-kisah triumvalistis yang heroik. Lantas ketika kami rekreasi bersama pada malam hari, ada mantan ketua yayasan yang marah-marah kepada mantan guru. Sengaja guru itu diundang untuk dimarahi. Mantan ketua yayasan itu lupa bahwa sekarang dia sudah "tidak punya pengaruh apa-apa lagi."
          Saya melihat sebagian kecil  soca para biarawan tua itu terdapat guratan-guratan kesedihan, kecemasan, kepiluan dalam wajahnya. Teringat dalam benakku akan drama tragedi tulisan Shakespeare (1564 – 1616) dengan judul, "King Lear". Secara tersirat, Shakespeare menuliskan bahwa orang-orang yang mengalami  post power syndrome bagaikan menelan pil pahit di mulutnya dan tidak kuasa untuk membuangnya.
          Menjadi tua itu suatu keharusan, namun menjadi dewasa itu pilihan. Seorang ketua atau pemimpin atau karyawan yang merasa bahwa diri mereka akan pensiun, tentu sudah menyiapkan segala-galanya dan dalam hati berkata, "Suatu saat nanti saya akan menjadi nothing." Namun "nothing"  yang berkualitas dengan cara "lengser keprabon madeg pandhito" – mengundurkan diri secara suka rela dari kedudukan atau selesai bertugas dan "mundur diri" dari dunia keramaian untuk "bertapa" di pertapaan. Ia bekerja secara sempurna dan saved by the bell ring.
          Ada sebuah tradisi dalam dunia penerbangan yang patut kita renungkan. Ketika sebuah pesawat landing, ada tepuk tangan meriah yang muncul dari antara sekelompok keryawan perusahaan maskapai. Saya merasa bahwa peristiwa ini agak tidak biasa. Saya mencari tahu informasi dari seorang pramugari bahwa pilot yang memegang navigasi dalam  flight kali ini,  baru saja menyelesaikan penerbangan yang terakhir dalam kariernya. Ia akan pensiun besok dan rekan-rekannya mengucapkan salam kebahagiaan untuknya.
          Baik jika sejenak kita menengok sejenak pada mitologi kuno tentang  "nyanyian seekor angsa".  Swan song atau nyanyian angsa adalah sebuah idiom bahasa Inggris yang menggambarkan suatu karya terakhir yang dipersembahkan seseorang ke hadapan publik. Istilah ini biasanya digunakan dalam dunia politik, olah raga maupun seni.  Ia sudah menyadari bahwa penampilannya ini adalah yang terakhir kalinya sebelum ia pensiun dan menarik diri (madeg pandhito), sehingga ia terdorong untuk menampilkan karyanya yang terbaik dan sempurna. Dalam mitologi ini, seekor angsa akan menyanyi dengan sangat indah tatkala sekarat menjelang ajal dan nyanyian inilah yang pertama dan terakhir kali dalam hidupnya.
          Memang sudah selayaknya bahwa setiap jabatan dan posisi mau tidak mau harus dilepaskan pada waktunya. Untuk  "melepaskan"  jabatan dan posisi itu kadang tidak gampang, maka dibutuhkan persiapan (Masa Persiapan Pensiun). Dan ketika waktunya tiba ia boleh mengatakan, "Paripurna" – telah usai dan telah penuh.

Senin, 9 Februari 2015   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Selasa, 23 Desember 2014

Tongkat

TONGKAT
(Kontemplasi  Peradaban)
 
"Tongkat ini adalah tanda otoritas Musa"
(Scott Hahn,  dalam bukunya yang berjudul,
 "Seorang Bapa yang Setia pada Janji-Nya" hlm. 153).
 
          Dunia perfilman Indonesia  saat ini, sedang di-geger-kan oleh Ifa Isfansyah (Lahir di Yogyakarta, 16 Desember 1979)  sutradara yang menciptakan film  berjudul,  "Pendekar Tongkat Emas". Sinopsis film ini dibuka dengan pergulatan perasaan guru Cempaka yang merasa bahwa sudah saatnya mewariskan ilmu andalannya,  "tongkat emas melingkar  bumi" kepada anak asuhannya. Tidak berbeda dengan cara estafet kepemimpian di sebuah lembaga, pikiran kita pun cenderung mengatakan bahwa orang yang akan menerima tongkat estafet haruslah mereka yang terhebat, mumpuni dan kompeten.
          Tongkat adalah kata-kata yang biasa. Ada tongsis (tongkat narsis), tongkat gembala, tongkat Musa, tongkat mayoret dan  tongkat komando. Tongkat dalam dunia pewayangan (Ramayana dan Mahabharata) dipakai untuk perang tanding. Tongkat tersebut  bentuknya "menggembung".  Perang tanding antara Doryudana dan Bima yang melegenda itu,  dua-duanya menggunakan "tongkat" dengan nama masing-masing: gada wesi kuning dan gada rujak polo  (Bdk. Kitab Mazmur 23: 4,  "Gada-Mu dan tongkat-Mu yang menghibur aku…"). Konon juga pernah diceriterakan ada tongkat komando dari sang Jendral yang sering patah karena sering digunakan untuk memukul para prajuritnya.
          Sebuah tongkat baru  memiliki makna tatkala dipegang  oleh orang yang memiliki otoritas. "Tongkat emas"  milik guru Cempaka, jika dipegang oleh orang yang tidak memiliki jurus "tongkat emas melingkar bumi" tentu akan menjadi tongkat biasa saja. Atau seperti  tongkat komando yang sering dipegang sang jendral sewaktu  upacara – (ketika dipegang oleh istrinya di rumah)  – maka, ia  tidak memunyai  bobot apa-apa. Tongkat atau  stick conductor  baru memiliki makna jika digunakan di depan para pemain orkes (pemegang alat music dan partiture)  yang telah dilatihnya.
          Tongkat, bagaikan  barang magis yang mampu menyihir orang-orang untuk mengikuti aba-abanya. Tidak heranlah jika setiap bawahan  "bermimpi" dan bercita-cita  untuk  mendapatkan "tongkat kepemimpinan" dari sang boss. Itulah sebabnya,  – konon –  Napoleon Bonaparte (1769 – 1821)  setiap latihan perang selalu berkata, "Hai para prajurit, simpanlah dalam setiap ranselmu sebuah tongkat komando, sebagai motivasi, bahwa suatu saat nanti kalian juga akan memegangnya!"  Setiap prajurit  atau  kroco sekalipun, berpotensi menjadi  comandant  karena pegang tongkat komando.
          Para raja – ketika duduk di singgasana – senantiasa memegang tongkat.  Zeus sebagai penguasa langit  dilukiskan sebagai raja yang memegang tongkat petir. Kristus Raja Semesta Alam  dilukiskan Yesus dengan mahkota dan tangan kiri-Nya memegang tongkat komando. Namun dalam  lukisan "Yesus gembala yang baik,"  Yesus dilukiskan  memegang  tongkat gembala dengan tangan kanan dan tangan kirinya adalah domba kecil atau lemah.
Akhirnya, "tongkat estafet" memiliki sejarahnya sendiri. Awalnya tongkat estafet dimulai dari bangsa Aztec, Inka dan Maya yang bertujuan untuk meneruskan berita yang telah diketahui supaya berita itu menyebar seantero  negeri. Lantas, di Yunani kuno, istilah  estafet yang kemudian dinamakan "estafet obor"  diselenggarakan dalam hubungannya dengan pemujaan leluhur serta untuk meneruskan api keramat ke jajahan-jajahan baru. Selanjutnya, tongkat estafet diterapkan dalam regenerasi pada kepemiminan (succession).  Ketika Yesus berkata kepada Petrus, "Gembalakanlah domba-domba-Ku"  – barangkali – sebagai tanda bahwa Petrus akan menerima "tongkat estafet" dari Yesus (Bdk. Yoh 21: 16).  Alexander Agung (356 – 323 seb. M) sewaktu sekarat, ditanya oleh para jendralnya, "Siapa yang menggantikan tongkat estafet sang Raja" Dia berkata,  "Orang yang terkuatlah yang akan memegang tongkat komandoku."
Dalam kepramukaan, jika  mengadakan kegiatan  "mencari jejak"  atau "jurit malam"  diwajibkan menggunakan tongkat.  Namun, orang tua yang sudah kesulitan berjalan dihimbau untuk  menggunakan tongkat. Di pihak lain, tongkat juga dipakai oleh mereka yang suka berziarah. Tetapi ingatlah bahwa hidup itu sendiri adalah  suatu  peziarahan, "Karena iman, maka Yakub,  ketika hampir waktunya akan mati, memberkati kedua anak Yusuf,  lalu menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya"  (Ibr 11: 21). Sampai hembusan nafas yang terakhir pun seorang musafir tua masih memiliki tongkat di tangannya. Menjelang akhir hidupnya, ia masih saja siap untuk berziarah. Jika kita benar-benar mau menghadapi tantangan hidup, kita harus mempertahankan pikiran yang senang menjelajah, "Mari kita siapkan tongkat!"

Senin, 22 Desember 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

15 Penyakit Rohani

15 "Penyakit Rohani" yang disebut Paus Fransiskus.

(RP. Albertus Sujoko MSC)
 
Refleksi ini ditujukan oleh Paus bagi anggota Curia Roma, namun berlaku untuk setiap orang katolik, siapa pun kita dan di mana pun kita berada.

Kalau menyimak isinya, memang Paus mengunakan kata "Para Rasul" (the Apostles) untuk menyebut orang-orang yang dimaksudkannya, yang mungkin maksudnya para anggota Kuria Roma yang adalah para Uskup. Namun nama itu berlaku juga untuk setiap orang katolik yang disapanya.

1. The disease of feeling 'immortal' or 'essential' (Merasa "abadi" dan "penting")

Anggota Kuria yang tidak melakukan kritik-diri, tidak berusaha untuk up to date, dan tidak berusaha untuk memperbaiki diri, adalah seperti "badan yang sakit". Paus mengatakan bahwa berkunjung ke tempat pemakaman dapat membantu kita untuk melihat nama-nama yang mungkin mereka waktu hidup berfikir bahwa mereka abadi dan penting, namun kini sudah dikubur.  Mereka yang mengidap penyakit ini adalah orang yang merasa diri "tuan" dan "atasan" dari pada merasa diri sebagai pelayan. Penyakit ini disebabkan oleh patologi kekuasaan, semacam "mesianik kompleks" dan narsistik.

2. The disease of excessive activity (Penyakit Super Sibuk)

Ini penyakit orang yang seperti Marta dalam Injil, menenggelamkan diri dalam aktivitas, dengan akibat mengabaikan apa yang lebih penting: duduk di kaki Yesus.  Paus mengingatkan Yesus yang berkata kepada para murid: "beristirahatlah sejenak. Mengabaikan apa yang lebih penting akan membuat kita cemas dan stress.
 
3. The diseases of mental and spiritual 'petrification' (Penyakit rohani dan mental yang disebut: memetruskan diri).

Penyakit ini diderita oleh anggota kuria yang kehilangan "kedamaian hati", semangat hidup (vitalitas) dan keteguhan (audacitas); mereka menyembunyikan diri di balik kertas-kertas dokumen dan menjadi "mesin prosedur" dan bukan lagi Men of God; mereka tidak bisa lagi "menangis dengan orang yang menangis; dan tertawa dengan orang yang tertawa. Mereka menjadi dingin dan kaku, seperti robot-robot.

4. The disease of overplanning (Penyakit: penuh rencana)

Jika para rasul (the apostles) merencanakan segalanya dengan cermat dan percaya bahwa dengan itu semuanya akan maju dengan efektif, maka mereka menjadi akuntan publik. Perencanaan yang baik memang perlu, namun jangan jatuh ke dalam pencobaan untuk mengekang dan membatasi kebebasan Roh Kudus…Selalu lebih mudah dan lebih nyaman untuk kembali kepada data statistik yang sudah ada dan posisi semula yang mapan.

5. The disease of bad coordination (penyakit: koordinasi yang buruk)

Penyakit ini menghinggapi anggota kuria yang kehilangan hidup komunitas dan "Tubuh" itu kehilangan  fungsinya yang harmonis sehingga menghasilkan bunyi orchestra yang fals karena para anggotanya tidak bekerjasama dan tidak hidup dalam komunalitas dan semangat team yang baik. 

6. The disease of spiritual Alzheimer's (penyakit "kelumpuhan otak" Rohani)

Penyakit ini adalah kemunduran kemampuan rohani yang semakin akut ( a 'progressive decline of spiritual faculties)  yang menimbulkan akibat-akibat buruk dan merugikan bagi umat,. Penyakit ini membuat orang-orang itu hidup dalam ketergantungan pada pandangan dan pendapat sendiri, yang sering hanya imaginasi atau ilusi saja. Kita dapat menyaksikan penyakit itu dalam diri mereka yang kehilangan "kenangan" (memory) akan pengalaman perjumpaan dengan Allah; Mereka tergantung pada obsesi dan pikiran-pikiran mereka sendiri.

7. Penyakit persaingan dan kemuliaan yang fana (The disease of rivalry and vainglory)
Ketika penampilan, model dan warna pakaian jabatan  dan kehormatan menjadi tujuan utama dalam hidup…itulah penyakit yang menjerumuskan mereka untuk menjadi orang-orang (pria dan wanita) yang palsu; mereka hidup dalam kesalehan yang palsu.

8. Penyakit kepribadian terbelah (The disease of existential schizophrenia)

Penyakit ini diderita oleh mereka yang menjalani "hidup ganda" akibat dari sikap hipokrit yang khas dari orang-orang yang mengalami kokosongan rohani. Kita sering terkejut bahwa seseorang meninggalkan karya pelayanan pastoral dan membatasi kegiatan mereka hanya pada urusan administrasi, dan mereka kehilangan kontak dengan realitas dan umat yang nyata.  Dengan cara itu, mereka menciptakan dunia mereka sendiri dan mereka mengabaikan apa pun yang dinasehatkan oleh orang lain.
 
9. Penyakit: Nggosip dan "karlotta"  (The disease of gossip and chatter)

Penyakit ini membuat seseorang menjadi "penabur kekacauan" (bahasa Yunani: diabolos = membuang ke segala arah; lawan dari dialogos (berbicara dua arah). Dan dalam banyak kasus penggosip itu adalah "pembunuh berdarah dingin" terhadap reputasi atau nama baik dari saudaranya atau koleganya sendiri. Penyakit penggosip ini diderita oleh orang-orang penakut, yang beraninya bicara di belakang, tidak berani terus terang…waspadalah terhadap terrorisme gossip!

10. Penyakit mendewakan (mentuhankan) pemimpin (The disease of deifying the leaders)
Penyakit ini menghinggapi mereka yang "menyogok para atasan mereka", mereka menjadi budak karierisme dan oportunisme; mereka menghidupi panggilan dengan berfikir apa yang  dapat saya peroleh dan bukan apa yang dapat saya berikan.  Para atasan juga mengidap penyakit yang sama jika ia menyuap para bawahannya untuk mendapatkan loyalitas dan kepatuhan mereka.
 
11. Penyakit cuek bebek (The disease of indifference to others)
Gejala penyakit ini adalah bila orang yang berfikir tentang dirinya sendiri dan kehilangan ketulusan dan kehangatan dalam relasi dengan sesamanya. Jika orang yang sudah pengalaman tidak mau menularkan pengetahuan itu kepada rekan kerja dan penerusnya. Dan jika karena iri hati, maka kita gembira bila melihat teman jatuh, dari pada ingin mengangkat dan memberikan peneguhan kepada mereka.
 
12. Penyakit "muka asam" (The disease of the funeral face)

Penyakit ini menghinggapi orang-orang yang merasa diri supaya nampak serius, maka mereka harus menunjukkan wajah yang asam, cemberut, dan dingin seperti kuburan. Padahal itu disebabkan oleh rasa minder atau rendah diri. Pada kenyataanya, kekakuan teatrikal dan pesimisme yang mandul itu adalah gejala dari rasa takut dan rasa tidak aman terhadap diri sendiri. Kita anggota kuria harus berusaha untuk menjadi orang yang sopan, tenang, bersemangat dan penuh kegembiraan…Paus mengajak kita untuk bisa "menertawakan diri sendiri" dan betapa bermanfaatnya kalau hal itu bisa kita lakukan.

13.  Penyakit untuk "mengamankan diri" (The disease of hoarding)
 
Penyakit ini kambuh jika murid Yesus mencari untuk memenuhi kebutuhan yang ia rasakan dengan menumpuk harta milik, bukan karena diperlukan untuk pelayanan, melainkan hanya demi rasa aman.

14. Penyakit "merasa diri lingkaran dalam" (The disease of closed circles)

Penyakit ini dialami oleh orang yang merasa bahwa menjadi bagian dari "lingkaran dalam" itu lebih penting dari pada menjadi bagian dari Tubuh Mistik Gereja, atau lain kali bahkan menjadi bagian dari Kristus sendiri. Penyakit ini bahkan muncul pula dari kemauan baik, namun lama kelamaan menjalar ke seluruh anggota kuria roma dan seluruh Gereja dan menjadi penyakit kanker ganas.

15. Penyakit "keuntungan duniawi dan pamer diri  (The disease of worldly profit and exhibitionism)

Penyakit ini terjadi jika kita mengganti pelayanan dengan kekuasaan, dan kekuasaan diubah menjadi komoditi yang menghasilkan keuntungan duniawi, dan bahkan menghasilan kekuasaan yang lebih besar lagi. Dan untuk mencapai hal itu, ia menghalalkan segala cara, termasuk mendiskreditkan orang lain bahkan melalui Koran dan majalah. Tentu saja hal itu ia lakukan untuk memaperkan superioritasnya di atas orang lain. Penyakit ini sangat berbahaya, karena bisa menghancurkan Gereja karena hal ini dapat mengarah pada pendapat bahwa orang dapat menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya.
 
Paus memberikan nasehat kepada para imam: Imam itu seperti pesawat terbang. Ia menjadi berita ketika ia jatuh. Banyak pesawat terbang dan imam yang tidak jauh, dan mereka tidak menjadi berita. Lebih banyak orang mengkritiknya, dan sedikit yang mendoakannya. Perumpamaan ini sangat penting karena menggarisbawahi dua hal: pertama, betapa pelayanan imam itu "gampang-gampang susah" dan kedua, betapa jatuhnya imam itu menimbulkan dampak yang sangat buruk bagi Gereja.
 
Diterjemahkan dengan bebas oleh Sujoko
Dari Vatican Insider


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com