Senin, 18 Agustus 2014

Diinjak-injak

MENGINJAK-INJAK
(Mencari Makna Sebuah Peristiwa)
 
          Ketika saya melihat TIFF (Tomohon International Flower Festival) di Tomohon – Sulawesi Utara  (Jumat, 8 Agustus 2014), saya dikejutkan oleh kata-kata seorang pemuda, "Lihat  tuh!  pejabat yang berdiri di sana itu saya junjung tinggi, tetapi pribadinya ada di bawah telapak kaki saya, bahkan saya injak-injak."
          Kata-kata tersebut mengandung suatu "pelecehan" tetapi memang begitulah yang pemuda  alami dan rasakan. Barangkali orang  – yang dikata-katai itu – memiliki jabatan yang tinggi, tetapi sikapnya atau kelakuannya yang tidak terpuji, sehingga pantas untuk diinjak-injak. Menginjak-injak memiliki makna "merendahkan, meremehkan dan menghina" seperti asal-usul katanya yang dari bahasa Sansekerta, inyak.
          Telapak kaki  dalam beberapa cerita, legenda atau dongeng,  memiliki makna yang beraneka ragam. Adagium  mengatakan, "Surga terletak di telapak kaki ibu."  Orang India kalau menghormati seseorang  memegang kakinya dan dalam "Kisah Mahabharata" versi Wayang Purwa Yogyakarta – bukan India – bisa kita dengar  sesumbar (berjanji sambil berkoar-koar dan biasanya ingkar janji) dari Dursasana yang mengatakan, "Kakang mbok  Banowati, kalau Astina kalah dalam perang baratayuda jayabinangun  akan saya sembah dlamakan kakang mbok!"  artinya: telapak kaki Banowati. Ini berarti Dursasana rela dan mau dianggap hina dan diinjak-injak oleh iparnya sendiri. Kita menjadi ingat akan abdi dalem atau rakyat jelata yang jika berhadapan dengan sang Raja akan berkata, "Duli Tuanku!" Duli adalah setitip debu yang menempel di kaki sang Raja.
          Orang yang kalah perang kalau tidak menjadi tawanan, budak juga pantas untuk diinjak-injak. Bukti ini dapat kita baca dalam buku yang berjudul, "Kristus" tulisan Fulton Sheen(1895 – 1979). Ia menulis demikian, "Pada piring-piring marmer kuno dari orang Asyria dan Babilonia, pada ukiran-ukiran tembok orang Mesir, pada batu-batu nisan orang Persia dan pada tugu-tugu Romawi, orang dapat melihat lukisan arak-arakan kemenangan  raja-raja dan orang tercengang akan kemahamuliaan raja-raja ini yang menunggang  kuda atau kereta kemenangan berjalan di depan pawai kemenangan. Bahkan terkadang berjalan di atas tubuh musuh-muduh mereka ang berbaring di tanah" (hlm. 273).  Kasihan sekali orang yang kalah perang, "sudah malu, dipermalukan dan diinjak-injak, lagi!"  Post verba verbera – sesudah dikata-katai (kemudian) digebuki atau dipukuli. "Sudah jatuh, tertimpa tangga lagi!"
          Jika di atas tadi bercerita tentang musuh yang kalah perang, injak-menginjak juga terjadi bagi mereka yang telah murtad. Ini terjadi dalam diri orang yang beragama Yahudi. Kalau ada seorang Yahudi yang murtad, tetapi kemudian kembali bertobat, maka sebelum ia bisa diterima kembali ke dalam pesekutuan, ia harus melakukan hal berikut ini. Dengan penyesalan yang mendalam, ia harus tidur melintang di pintu masuk sinagoga dan mempersilakan setiap orang yang akan masuk sinagoga untuki menginjakkan kakiknya pada tubuhnya. Di tempat-tempat tertentu, Gereja purba mengambil alih kebiasaan sinagoga itu. Orang Kristen yang terkena "hukuman"  sebelum bisa diterima kembali harus tidur melintang di pintu Gereja dan setiap orang yang akan masuk Gereja dipersilakan untuk menginjkkan kakiknya pada tubuh orang tersebut. Orang yang bertobat tersebut mengatakan, "Injaklah aku, karena aku adalah garam yang telah kehilangan rasa asisnnya" (buku "Pemahaman Akitab setiap hari – Injil Matius"  hlm. 203 – 204).
          Memang, pribadi atau sesuatu bisa saja diinjak-injak jika tidak berharga lagi, seperti yang dikatakan Yesus, "Vos estis sal terrae. Quod si sal evanuerit, in quo salietur? ad nihilum valet ultra, nisi ut mittatur, foras et conculcetur ab hominibus" – Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dad diinjak orang  (Mat 5: 13).  Perkataan ini sulit dipahami, sebab garam sebenarnya tidak akan pernah kehilangan rasa asin.
          Untuk memahai hal tersebut di atas, mungkin baik kalau kita mendengar cerita yang berikut. Di tanah Kanaan kuno, rumah tangga selalu memunyai dapur yang terletak di luar rumah. Tungku itu dibuat dari batu dengan alas tanah liat seperti batu bata. Untuk memperoleh dan mempertahankan panas, maka di bawah alas batu bata tersebut biasanya diletakkan garam yang cukup tebal. Setelah beberapa waktu garam tersebut akan hilang. Kalau garam tersebut telah hilang, maka batu bata tersebut harus dibongkar dan tanah dan bersama garamnya harus ke jalan dan diinjak-injak oleh orang yang lewat di situ. Dalam hati saya hanya bisa berkata, "Kacian dech!"
Kamis, 14 Agustus 2014    Markus Marlon

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Minggu, 10 Agustus 2014

Mendidik dengan teladan

Mendidik dengan Contoh dan Teladan
 
Kepada seorang anak tidak sekedar diberikan materi. Ternyata banyak hal yang mesti ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh dan teladan yang baik merupakan cara mendidik yang tepat.
Supermodel asal Illinois, Amerika Serikat, Cindy Crawford (47), memilih tidak tampil dengan pose seksi untuk sebuah majalah. Pada saat banyak model yang telah mempunyai anak tetap tampil seksi, Crawford tidak melakukannya.
"Saya tidak mau tampil di muka majalah, karena sudah mempunyai anak laki-laki berusia 14 tahun dan tak ingin dia merasa tak nyaman," kata Crawford.
Ungkapan itu disampaikan Crawford saat menghadiri Art Miami yang menampilkan karya fotografer Marco Glaviano. Pada acara itu, sebuah foto hitam putih Crawford karya Glaviano yang dicetak di atas kanvas ditampilkan dengan taburan berlian. Ia ditawari untuk tampil tanpa busana di sebuah majalah dewasa.
Pasangan Crawford dan Rande Gerber telah menikah selama 15 tahun dan dikaruniai dua anak, Presley (14) dan Kaia (11). "Mungkin saya bisa tampil tanpa busana, tetapi konotasi Playboy yang terlalu "keras" untuk anak-anak membuat saya berpikir. Saya tidak mau anak-anak merasa malu akibat pose ibunya," tutur Crawford.
Perhatian pada anak-anak memang sering diperlihatkan Crawford. Salah satunya dengan membawa Kaia ke acara One Direction's 1D Day saat Crawford mengajarkan Harry Styles dan Liam Payne berjalan di atas catwalk.
Crawford berkata, "Banyak yang bertanya mengapa saya mengajak Kaia. Sepertinya Harry Styles menarik dan Kaia pasti suka bertemu dengan mereka."
Sahabat, dunia kita semakin maju. Media massa selalu menawarkan hal-hal yang sensasional. Namun yang mesti diingat adalah ada generasi muda yang mesti dilindungi dari bahaya tawaran-tawaran yang membuat manusia berkembang secara tidak baik. Karena itu, menjadi pekerjaan semua orangtua untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.
Pengalaman Cindy Crawford memberi kita inspirasi untuk senantiasa memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anak kita. Orangtua mesti tahu dan mau mendidik anak-anaknya untuk berkembang ke arah yang lebih baik dan benar.
Sayang, banyak orangtua kurang peduli terhadap pendidikan anak-anak mereka. Mereka mengira bahwa anak-anak cukup mendapatkan pendidikan di sekolah saja. Padahal pendidikan itu mesti dilanjutkan di rumah dan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan budipekerti dan sopan santun mesti diberikan oleh orangtua bagi anak-anak.
Banyak peristiwa kenakalan remaja terjadi, karena kurangnya pendidikan yang didapatkan oleh kaum remaja kita. Orangtua yang sibuk dengan pekerjaan sering menjadi alasan untuk menelantarkan pendidikan bagi anak-anak. Akibatnya fatal. Banyak anak remaja yang mesti hidup tanpa arah.
Sebagai orang beriman, tentu kita ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita. Mengapa? Karena anak-anak kita adalah masa depan bangsa dan Negara. Mereka melanjutkan dan mengembangkan kehidupan orangtua mereka.
Karena itu, mereka mesti memiliki hidup yang berkualitas. Hidup seperti ini mesti ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Nah, orangtua punya tanggungjawab bagi anak-anak untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Mari kita bantu anak-anak kita untuk bertumbuh menjadi lebih berkualitas. Dengan demikian, hidup mereka menjadi lebih baik dan benar. Tuhan memberkati. **
 
Frans de Sales SCJ
Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Jumat, 08 Agustus 2014

Rumah

RUMAH
(Mencari Makna sebuah Peristiwa)
 
          Bulan Juli 2014, saya sempat beberapa hari berada di Woloan – Tomohon Barat – Sulawesi Utara. Di sana saya melihat Rumah Woloan yang sudah termasyur di mana-mana, bahkan ke manca negara.  Sejak pagi-pagi, para tukang bangunan sudah mulai bekerja. Melewati Kalurahan Woloan Satu, saya hanya mengiyakan  dan berkata dalam hati, "Memang rumah-rumah itu sungguh indah."  Rumah Woloan.
          Rumah, memang tempat yang selalu dikenang. Dan "halaman"  rumah  yang dulu pernah menjadi tempat bermain masa kanak-kanak,  amat sangat dirindukan. Kita menjadi ingat akan lagu, "Desaku yang kucintai pujaan hatiku…" dan jika kita menyenandungkan lagu tersebut  - apalagi – di tanah rantau,  kadang membuat bulu kuduk berdiri.
          Mangunwijaya (1929 – 1999)  dalam bukunya yang berjudul, "Burung-burung Manyar" mengingatkan kita bahwa burung manyar berusaha membuat  "rumah" yang indah supaya burung betina berkenan "singgah" di rumahnya.  Dan seandainya, calon pasangannya tidak mau masuk ke dalam "rumah"-nya, maka segera dibongkarlah "rumah" tersebut untuk membangun "rumah" yang baru lagi. Thérèse dari Lisieux (1873 – 1897) pernah sakit dan ternyata setelah diselidiki, ia rindu akan rumah masa kecilnya yakni di Buissonnets. Henry Nouwen (1932 – 1996) menuliskan bagaimana para misionaris yang telah menghabiskan waktu pada masa mudanya di tanah misi, pada  usia tuanya – di negeri asalnya –  merindukan  "rumah" masa lalunya (Bdk. Pelayanan Yang Kreatif, hlm. 103).  Belum lama ini pula – Idul Fitri – orang berbondong-bondong mudikke kampung halaman demi melihat  "rumah" dan tentu untuk bersilaturahmi dengan sahabat dan kerabat dekat.  Ini yang dikisahkan oleh Umar Kayam (1932 – 2002)  dalam  "Burung-burung Rantau"  bahwa pada akhirnya manusia meskipun merantau tetap ingin kembali ke rumahnya sendiri-sendiri. Bahkan dikatakan pula bahwa seorang penulis memiliki "rumah"nya sendiri. Isaac Bashevis Singer (1902 – 1991) menulis, "Every writer has an address."
          Rumah dalam bahasa Latin diartikan sebagai  Domus. Maka di seminari-seminari ada tempat yang namanya  Domus Patrum yang berarti Rumah para pastor, pater atau rama. Kita juga pernah mendengar kata  Domus Dominiyang artinya Bait Allah. 
          Kalau kita mencermati kata  domus (=rumah),  pikiran kita tertuju kepada Dominus yang berarti Tuhan, "Dominus dedit, Dominus abstulit; sit nomen Domini benedictum – Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil; terpujilah nama Tuhan (Ayb 1: 21). Dominus juga bisa diartikan sebagai Tuan, "Quo Vadis Domine?" – Where are you going, Lord – Hendak pergi ke manakah  Tuan?"  Novel dengan judul, "Quo Vadis" karya Henryk Sienkiewicz ini hendak memerlihatkan kisah Petrus yang menyapa seseorang yang tidak dikenal – di Jalan Appia (Via Appia)  dengan sebutan Tuan. Dan ternyata Dia itu adalah Yesus yang hendak ke Roma untuk disalibkan yang kedua kalianya.
          Tentu saja seorang dominus (Tuan) adalah mereka yang memiliki rumah sebagai tempat orang-orang berlindung. Ia memberikan tempat berteduh. Namun sebenarnya jika kita runut ke belakang,  seorang tukang kayu memukul kayu untuk membuat rumah akan terdengar ketukan, "tom, dom, tom, dom," dan dari sana, kata bertukang mendapatkan asalnya dari tiruan banyi tersebut. Dominus, si tukang kayu itu merencanakan, menyusun batu-batu bangunan dan memergunakan papan untuk atap, "Nisi Dominus aedificaverit domum, in vanum laboraverunt qui aedificant eam" – Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Bahkan kita bisa berseru kepada Tuhan, "Engkau adalah Rumah kami!"
          Sementara menulis "Rumah"  di kejauhan terdengar samar-samar nyanyian dari God Bless dengan judul, "Rumah Kita"
Hanya bilik bambu tempat tinggal kita
Tanpa hiasan, tanpa lukisan
Beratap jerami, beralaskan tanah
Namun semua ini punya kita
Memang semua ini milik kita, sendiri
Hanya alang alang pagar rumah kita
Tanya anyelir, tanpa melati
Hanya bunga bakung tumbuh di halaman
Namun semua itu punya kita
Memang semua itu milik kita
Haruskah kita beranjak ke kota
Yang penuh dengan tanya
Lebih baik di sini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa
Semuanya ada di sini
Rumah kita
Lebih baik di sini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa
Semuanya ada di sini
Rumah kita
Lebih baik di sini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa
Semuanya ada di sini
Rumah kita
Rumah kita
Ada di sini
 
 
Jumat, 08 Agustus 2014  Markus Marlon
 
Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Minggu, 03 Agustus 2014

Derita

DERITA
(Mencari Makna sebuah Peristiwa)
 
       Ketika mengadakan perjalanan menuju  danau Tondano, saya terkesima dengan  view  yang indah di sepanjang jalan. Di sepanjang jalan kulihat pohon-pohon dan kadang-kadang sawah terhampar bagaikan permandani  (Minggu, 03 Agustus 2014).   Setelah sampai tujuan,  saya hanya berdecak kagum dengan indahnya danau tersebut dan dalam hati saya berpikir, memang pantas dikatakan bahwa Danau ini menjadi  tujuan wisata yang terkenal di Provinsi Sulawesi Utara.
          Sementara   asyik-asyiknya menikmati pemandangan yang indah itu, suasana hati saya berubah, ketika mendengar lagu yang dilantumkan oleh Eddy Silitonga, "Hidupku yang sengsara, penuh dengan penderitaan. Oh Tuhan tolong tunjukkan jalan kehidupan jauhkan cobaan…"  Buku tulisan Arifin Surya Nugroho  dengan judul,  "Biografi Hartini-Sukarno" menulis, "Bapak pernah mengatakan kepada saya, ketika dipenjara oleh Belanda, ia merasa kuat dan tabah. Namun ketika merasa dikhianati oleh bangsanya sendiri dan kemudian ditahan di Wisma Yaso, bapak merasa amat sangat menderita." (hlm. 231).
Derita berasal dari bahasa Sansekerta "dhra" yang berarti  menahan atau menanggung sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan semakin berat apabila dialami secara batiniah. Dalam  buku yang berjudul, "Ramayana"  tulisan Nyoman Pendit, misalnya di sana kita bisa melihat   penderitaan   Sinta  di Taman Asoka dalam cengkeraman Rahwana.  Pikiran, jiwa dan hatinya  terus-menerus memikirkan kekasihnya,  Rama. Ibarat seorang gadis yang sedang jatuh cinta, "thinking of you."  Tentu saja Sinta menderita yang amat sangat.
Di sekitar kita banyak orang yang menderita. Dan seolah-olah – jika bisa berkata  – mereka ingin diringkankan penderitaannya. Motto R.S. PGI Cikini – Jakarta, "Sedare dolorem opus divinum est" – meringankan penderitaan adalah pekerjaan ilahi, tentunya tepat untuk melukiskan orang-orang yang berhati mulia. Raoul Follereau (1903 – 1977) – penulis Prancis mencoba melukiskan bagaimana seseorang meringankan penderitaan orang lain. Tulisnya, "Ada istri seorang kusta tinggal di sebuah perkampungan. Dia tidak kusta. Setiap pagi, suami-istri itu bertemu, dari jauh saja. Mereka saling bertatap muka dan tersenyum beberapa detik."  Si kusta itu berkata, "Ketika saya melihat istri saya setiap hari hanya dari dialah saya tahu bahwa saya masih hidup dan hanya untuk dialah saya masih mau hidup."
Penderitaan juga sering dialami oleh mereka yang memohon kepada Dewa Zeus. Permohonannya terkabul, namun kemudian menyesal karena ada "kekilafan" dan akhirnya mengakibatkan penderitaan. Aurora adalah dewi fajar. Ia jatuh cinta kepada Tithonus, manusia yang hidup di jagad ini. Aurora, bermohon agar kekasihnya memiliki hidup kekal seperti dirinya. Mereka berdua hidup bahagia sementara waktu, namun  Aurora lupa minta bagi kekasihnya  "awet muda." Dan pada gilirannya, Tithonus menjadi orang yang paling menderita, ia "awet tua" dan tidak pernah bisa mati. Aurora cantik jelita, sedangkan pada akhirnya kekasihnya tua-opong-peyot.   
Ternyata, derita itu ada pelbagai macam dan beraneka ragam. Hanya bagaimana cara kita meresponnya. Itu saja!
 
Senin, 04 Agustus 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Rabu, 30 Juli 2014

Bening

BENING
(Mencari Makna sebuah Peristiwa)
 
                Pernah suatu kali saya terperanjat dengan dengan kata-kata polos seorang bocah, "Kemarin ikan-ikan di  aquarium ini tidak kelihatan dan sekarang ikan-ikan itu  berenang dengan penuh kegembiraan." Kemudian bocah ini berkata lagi, "Beningnya air, membuat ikan-ikan kelihatan dari luar."
          Bening, jernih, polos, jujur dan transparan serta ketulusan adalah sikap hidup yang seharusnya kita miliki. Sikap tulus dalam Injil muncul dalam diri St. Yosef, suami Maria sebagai pribadi yang sincere (Bhs Inggris: tulus hati). Kata sincere itu berasal dari bahasa Latin, sine +cere yang berarti tanpa lilin. Zaman dulu jika seseorang menjual meubel maka untuk memperhalus  furniture digunakan lilin dan divernis. Kayu yang cacat menjadi halus. Namun ada pembuat dan penjual meja-kursi-lemari tanpa lilin, sehingga disebut sebagai sincere atau tulus. Orang yang tulus itu hatinya bening dan tidak ada kepalsuan pada dirinya.
          Pribadi yang bening juga memiliki wajah yang ceria bahkan awet muda, young forever. Kenyataan bahwa wajah dapat dilihat dari hati nyata dalam patung  Pieta yang adalah karya agung, masterpiece dari Michelangelo (1475 – 1564). Patung itu melukiskan tubuh Yesus yang baru saja diturunkan dari kayu salib "terkapar"  di pangkuan Bunda Maria. Ketika para pengunjung menyaksikan patung yang kesohor itu banyak kritik yang dilontarkan terhadap tampilnya Bunda Maria yang jauh lebih muda daripada puteranya sendiri. Jawab pemahat Renaissance yang terkenal itu adalah, "Jiwa yang tulus, jujur dan indah tidak pernah menjadi tua dan wajahnya selalu cantik." 
          Ketidakbeningan hati juga muncul dalam sikap orang yang memiliki agenda tersembunyi, hidden agenda. Dalam arti ini, ia berjuang untuk kepentingan diri sendiri atau kelompoknya.
          Dalam Injil kita sering mendengar sabda Yesus, "Berbahagilah orang yang …" Yang bersih hatinya  merupakan terjemahan dari bahasa Yunani, katharos. Kata ini dipakai dalam berbagai hal. Aslinya katharos berarti bersih yang dapat dipakai umpamanya untuk baju yang kotor yang dicuci sehigga bersih.  Bunda Maria memiliki hati yang bersih (Bhs. Jawa, "Rahayu wong kang resik atine"  – Berbahagialah orang yang bersih hatinya).  Dan kekayaan orang-orang yang bersih hatinya  adalah kepolosan manusia yang digambarkan sebagai orang-orang miskin. Kisahnya dapat dilihat dalam pengalaman iman Laurentius (225 – 258) adalah pembantu Paus Pius Paus Sixtus II (257-258). Ia dipaksa untuk mengumpulkan harta-kekayaan Gereja. Selama hidupnya, Laurentius adalah dekat dengan orang miskin. Pimpinan Roma bertanya lagi, "Mana harta gereja yang engkau janjikan?" Dengan tenang dan polos, Laurentius berkata, "Bapa yang mulia, inilah harta benda gereja" – sambil membawa orang-orang miskin tersebut.
          Orang-orang yang bersih hatinya memiliki wajah yang bersih dan berseri-seri. Dalam dirinya tidak ada kepalsuan.  "Bagaimana hal ini dapat dipahami?" Ketika Leonardo da Vinci (1452 – 1519)  hampir selesai melukis  Last  Supper, ia tidak menemukan model untuk Yudas. Berbulan-bulan, ia mencari-cari sang model di penjuru kota dan akhirnya menemukan seseorang yang memiliki wajah  sangar dan bermuram durja.  Sesampai di  studio, sang model berkata, "Da Vinci, apakah engkau lupa denganku?"  Model itu pun berkata, "Saya adalah orang yang dulu sebagai model Yesus. Kemudian saya hidup tidak teratur, mabuk-mabukan,  mengganggu masyarakat setempat dan kadang-kadang merampok serta mencuri."
          Setelah kita melihat orang-orang yang dekat  dengan Tuhan, dapat kita pahami mengapa mereka hidup dalam kedamaian. Hal ini dikarenakan hatinya bening. Berjumpa dengan seseorang yang memiliki hati yang bening, hendak mengatakan kepada kita bahwa sesama kita bisa melihat apa yang ada dalam diri kita (transparan). Jalan orang jujur dan bening  itu lurus. Dia mengatakan kalau "ya" akan mengatakan "ya" dan jika "tidak" dia pun akan mengatakan  "tidak" (Bdk Mat 5: 33 – 37).
          Memaknai kata  "bening"  saya menjadi ingat lagu ciptaan Ebiet G. Ade dengan judul, Cinta Sebening Embun – "Kasih pun  mulai deras mengalir cemerlang sebening embun."  Sambil menikmati lagu yang indah itu, di depan mejaku  terjadi minuman bukan teh atau kopi tetapi segelas air bening.
 
Kamis, 31 Juli 2014   Markus  Marlon

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Jumat, 25 Juli 2014

Pasien

PASIEN
(Mencari Makna sebuah Peristiwa)
 
 
          Bulan yang lalu (19 Juni  2014) di RS Panti Rapih – Yogyakarta, saya melihat ada beberapa pasien sedang menunggu giliran ketemu dokter. Dari air muka yang saya lihat, semua murung-murung namun mereka semua sabar menunggu. Kemudian saya bertanya mengapa pasien itu sabar menunggu berjam-jam di ruang tunggu. Suster itu yang namanya Sr. Paulina CB (9 September 1963 – sekarang) berkata, "Pasien khan artinya sabar. Lihat saja apa arti  be patient,  bersabarlah!"  
          Untuk beberapa saat, saya belum begitu puas dengan jawaban suster itu. Pikiran saya kemudian melayang-layang  pada peristiwa penderitaan (paskhein, bahasa Yunani yang berarti menderita) Kristus menjelang Paskah. Memang Pesta Paskah adalah peringatan bangsa Yahudi lepas dari perbudakan di Mesir (exodus).  Dan dari sana Tuhan lewat (Paskah) karena melihat pintu yang sudah menjadi tanda. Di sana tidak ada kematian.
 Tiga hari menjelang Paskah, Yesus mengalami penderitaan secara sempuna. Ia dikhianati dan ditinggalkan para murid dalam kesendirian, bahkan merasa ditinggalkan oleh Bapa-Nya di taman Getsemani. Yesus disesah dan melakukan jalan salib,  via dolorosa dan akhirnya disalib. Gregorius Agung, penulis Regula Pastoralis memberi arti baru pada sakitnya kaum beriman berdasarkan penderitaan Kristus. Orang yang sakit dimohon untuk menjadi sabar (be patient) dengan memandang Yesus yang telah menderita banyak.
Di sini dapat kita pahami bahwa seorang pasien yang antri – dengan sabar – atau yang sedang rawat inap adalah orang-orang yang menderita (paskhein). Untuk itu, para pasien itu memiliki keinginan untuk dikunjungi dari sana saudara atau kerabat dekat bersimpati terhadap sang pasien. Secara harfiah simpati berasal dari kata Yunani, syn yang berarti bersama dengan dan  paskhein berarti menderita. Jadi simpati memiliki makna mengalami hal-hal bersama dengan orang lain (Willian Barclay dalam bukunya yang berjudul  "Memahami Alkitab Setiap hari Injil Matius"  hlm. 171).
 Mereka yang sakit (paskhein, pasien) itu belum tentu sabar (be patient). Mereka ingin segera cepat-cepat sembuh, bahkan mungkin sudah bosan dengan penyakitnya (tidak sabar). Namun karena diri mereka sakit (paskhein), mau tidak mau harus sabar (be patient)  antri dipanggil untuk diperiksa oleh dokter. Semoga dengan menjadi pasien yang sabar itu, ia lekas sembuh!
 
Jumat, 25 Juli 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Jumat, 18 Juli 2014

Beda

BEDA
(Mencari Makna sebuah Peristiwa)
 
 
          Ketika hendak "nyekar" (menabur bunga atau  kembang atau sekar) di makam ayah yang terletak di Pegunungan Gunungkidul, Yogyakarta ( 23 Juni 2014), kami sekeluarga meluncur dengan  Innova rental. Rupanya penumpang satu  mobil itu sudah memiliki calon presiden masing-masing. Namun ternyata di  dalam mobil itu semua adalah fanatik Jokowi-JK. Dalam perjalanan, kami semua diam. Kadang-kadang  nyeletuk  kata-kata pujian untuk Jokowi. Hanya itu.
         
          Tetapi setelah kembali dari makam menuju Yogjakarta menumpanglah  ipar saya yang adalah  pengagum berat Prabowo-Hatta. Ipar saya ini mulai membicarakan visi-misi capres no urut 1. Nah dalam suasana seperti ini, perjalanan kami menjadi "hidup" dan semangat. Dua kubu yang tidak seimbang – satu dikeroyok tujuh orang – itu semakin memanas. Perjalanan yang panjang menjadi begitu singkat karena ada perbedaan. Dan ternyata, perbedaan itu indah.
 
          Perbedaan itu tidak selamanya berbahaya.  Bahkan keanekaragaman sangat memperkaya orang. Coba bayangkan jika dalam setiap pertemuan, diskusi atau  meeting tidak ada perbedaan pendapat atau tidak ada oposisi, maka sidang, diskusi atau meeting pun  akan mati. "Berlainan pendapat akan selalu ada." Bung Karno (1901 – 1970)  pernah mengatakan bahwa masalah perbedaan pendapat itulah yang membawa kita kemajuan, "Du choc des opinions jaillit la veritte" kata orang Prancis yang berarti: dari pergesekan berlainan pendapat inilah timbul kebenaran.
 
          Jika kita mundur ke belakang lebih jauh, pada masa sebelum Renaissance, kita mengenal seorang  ningrat  bernama Medici di Italia. Ia justru mengumpulkan para pemikir dari berbagai bidang ilmu dengan pandangan yang berbeda-beda agar dapat menemukan berbagai solusi tajam atas permasalahan yang kompleks yang sudah terjadi menjadi masalah klasik.  Selain itu ada F. Scott Fitsgerald  yang pernah menulis bahwa individu yang berpegang pada dua ide bertentangan, mempertahankan  bahkan menahan ketegangan dari konfliknya, kemudian menjalankan fungsinya dengan efektif adalah orang yang benar-benar intelek. Merangkul ide-ide yang berbeda membutuhkan perjuangan yang tidak mudah.
 
          "Berani berbeda" adalah ungkapan yang sering kita dengar. Kita menginginkan sesuatu yang berbeda, yang lain dalam hidup ini. Orang bisa sukses karena berbeda, sebagai contoh adalah  Tukul Arwana, yang memiliki ciri khas dan tiada duanya. Kini ia menjadi pembawa acara entertainment papan atas dan katanya seorang bintang, belum merasa lengkap kalau belum diwawancarai olehnya dalam Acara "Bukan Empat Mata." Dan jika lebih jauh lagi mencari makna "beda" dapat kita lihat  kata  hagios dalam bahasa Yunani. Kata "kudus" dalam bahasa Yunani ialah hagios yang akar katanya berarti "berbeda." Bait Allah itu  hagios karena berbeda dari bangunan lain. Hari sabat itu hagios karena berbeda dari hari-hari lain.
 
          Memang sejak awal mula, kita ini dilahirkan berbeda. Sebelum kita lahir dan sesudah kita, tidak akan ada yang sama persis  dengan diri kia.  Diri kita adalah unicus, yang berarti satu-satunya dan dengan "sesuatu" yang berbeda itu, kita berkontribusi terhadap alam sekitar.
 
Jumat, 18 Juli 2014   Markus Marlon
         
Website :
http://pds-artikel.blogspot.com