Senin, 22 September 2014

Khianat

KHIANAT
(Kontemplasi  Peradaban)
 
       Dalam minggu-minggu ini, berita di media elektronik maupun media massa, banyak dicuatkan tentang "pilkada langsung atau pada  tingkat DPRD). Polemik ini sangat  alot sehingga tidak heranlah jika berita-berita ini menjadi titik perhatian (high-light). Dan topik-topik yang diberitakan  biasanya berkisar, "Jangan main-main dengan Suara Rakyat" atau "Jangan Rebut Hak Rakyat – Ubah pilkada langsung ke DPRD bukan solusi tepat."  Dan topik-topik senada lainnya seperti, "Jangan khianati suara rakyat!"  Karena rakyatlah yang "mengusung" mereka ke "kursi empuk."
          Kata "berkhianat" atau "mengkhianati" bagi kita adalah kata-kata  pemali untuk diucapkan. Kata "khianat" berasal dari bahasa Arab yang berarti: tidak setia, tipu daya dan ingkar.
          Ada sebuah kisah yang mungkin bisa menghantar kita untuk mengontemplasikan makna khianat. Pada zaman Nazi (Nationalsozialismus), ada seorang Jerman yang ditawan. Ia diperiksa dan disiksa serta dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi. Ia menghadapi semuanya itu dengan keberanian dan ia tetap bertahan dengan tegap tak tergoyahkan. Lantas secara kebetulan ia mengetahui bahwa yang sebenarnya memberikan keterangan-keterangan yang merugikan dirinya itu adalah anaknya sendiri. Pengetahuan inilah yang menghancurkan hatinya dan menyebabkan ia meninggal. Ternyata serangan olah musuh masih sanggup ditahan, namun serangan oleh orang yang dikasihinya itu  "membunuhnya" dengan segera.
          Dari situ dapat dipahami bahwa orang yang mengkhianati itu adalah mereka yang dikasihi dan memiliki relasi dekat (kekasih, sahabat dekat atau pengikut setia, constituent). Dan jika relasi itu terjadi pengkhianatan (tidak setia, tipu daya dan ingkar) maka sakit hati akan menusuk amat dalam. Dalam kisah-kisah romans ada ungkapan, "Amor medicabilis nullis herbis"  dan kalimat itu tertulis di tembok sebuah apotik tua di Kota Luzern-Swiss yang berarti: tidak ada obat yang dapat menyembuhkan orang yang patah hati.
          Kisah pengkhianatan yang terkenal – barangkali – adalah kisah dari Julius Caesar (100 – 44 seb. M). Waktu Caesar hendak dihukum mati, ia memandang para pembunuhnya dengan keberanian seakan-akan ia merendahkan martabat mereka. Tetapi waktu ia melihat tangan orang yang dikasihinya yaitu Brutus (85 – 42 Seb. M) yang  teracung-acung untuk membunuhnya, ia menutup matanya dengan mantel dan tewas (Bisa dicermati  dalam film yang berjudul, "Julius Caesar"). Dari sana pula muncul kata-kata masyur, "Et tu, Brute" – dan engkau juga Brutus. Kata-kata itu diucapkan Caesar kepada Brutus, anak angkatnya yang ikut persengkolan membunuh dirinya. Marcus Junius Brutus – hingga kini – menjadi lambang dari orang yang tidak tahu terima kasih dan pengkhianat. Dari situ kita menjadi ingat akan Yudas, sang murid yang mengkhianatai gurunya, Yesus (Bdk. DSA III, "Sebab pada malam Ia dikhianati…")
          Khianat juga terjadi dalam negara yang disebut dengan pembelot.  Kita bisa baca kisah kekejaman Mussolini (1883 –1945) terhadap para pengkhianat. Setelah angkatan perang Italia berhasil menduduki Etiopia pada 1935, tokoh-tokoh negeri Afrika Timur yang telah membantu kemenangan diundang  Generalisimo untuk naik pesawat terbang. Setelah terbang di atas Laut Merah, Mussolini memerintahkan supaya semua tokoh Etiopia itu dibuang ke luar pesawat tanpa parasut. Dia berkata, "Kepada negerinya sendiri mereka berkhianat, apalagi kelak kepada Italia." Dan kita ingat juga bahwa dalam kisah  "Ramayana" ada seorang pengkhianat yang bernama Gunawan Wibisana.
          Semoga di negeri kita ini terhindar dari para pengkhianat dan para pemimpin sungguh-sungguh setia dengan amanah  Rakyat. Rakyat amat  amat mencintai para pemimpin dan wakil-wakilnya di DPR, "Jangan dikhianati!"

Senin, 22 September 2014   Markus Marlon  

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Kamis, 18 September 2014

Ancaman

ANCAMAN
(Kontemplasi  Peradaban)
                  Tidak sengaja saya membaca sebuah kata-kata mutiara di sebuah warung makan di Kilo Lima – Luwuk Banggai (Sulawesi Tengah) beberapa bulan yang lalu.  Kata-kata itu tulisan Abraham Lincoln (1809 – 1865), "If you want to test a man's character, give him power" – Kalau Anda ingin mencobai karakter seseorang, berilah dia kekuasaan.
 
          Usia "Kekuasaan" memang  setua peradaban bangsa manusia. Dan hingga detik ini, kekuasaan amat sering diperbincangkan dalam percaturan politik di mana pun juga. Bahkan tidak jarang orang yang berseberangan dengan partainya dianggap sebagai ancaman. Ancaman yang merongrong kekuasaan itu tidak hanya dalam bidang politik tetapi juga bisa dalam dunia usaha, bisnis, bahkan lembaga yang suci yakni agama. Tidak heranlah jika pernah ada yang namanya "Paus Tandingan" pada awal  abad XV. Kemudian, dalam pewayangan, yang namanya perebutan kekuasaan terus-menerus akan menjadi pokok permasalahan misalnya:  Kisah  "Matahari Kembar di Mandura."  Novel ini berkisah tentang seorang raja yang tega menebas musuh karena dianggap sebagai ancaman.  Kisah yang lain yaitu Lakon  pewayangan,  "Karno Tanding" yang  pada akhir cerita, Doryudana berkata, "Urip iki yen ora mukti ya mati" – Hidup ini, jika tidak mulia ya mati saja. Atau dalam Pepatah-Pepatah Lain berbunyi, "vincere aut mori" – menang atau mati atau  "kalau tidak untung ya buntung!"
          Ancaman itu – sebenarnya – sudah sering kita pelajari dari para tokoh-tokoh penakluk dunia, conquistadores atau conquerors. Konon, ketika Alexander (356 – 323 seb. M) diajak jalan-jalan ayahnya, Filipus II (382 – 336 seb. M)  di padang gurun, di kiri-kanan jalan yang dilaluinya tumbuh ilalang yang menghampar. Rata-rata ketinggiannya hampir sama. Jika ada satu atau dua ilalang yang tumbuh lebih tinggi, maka dikebaskannya pedang itu. Alexander pun belajar dari ayahnya supaya setiap kali ada tokoh yang muncul mencuat, segera tokoh itu pun ditebas dan dilenyapkan.
Kisah Herodes Agung lain lagi. Ia adalah seorang raja lalim. Disuruhnya orang membunuh istrinya sendiri: Mariamne dan  membunuh tiga orang anak kandungnya sendiri dan banyak lagi keluarganya yang dekat. Caranya memerintah atas bangsa Israel sangat kejam dan barangsiapa berani mengatakan tidak setuju, segera ditebasnya. Selama hidupnya ia cemas kehilangan kekuasaannya.
Orang yang terancam itu berpikir jika nantinya tidak berkuasa akan menjadi  "nothing"  sehingga takut kehilangan  "something"  yang dalam bahasa psikologi disebut  post power syndrome. Mungkin baik jika kita bercermin pada syair yang ditulis Paulo Coelho (Lahir: 24 Agustus 1947)  dalam bukunya yang berjudul, "Manuskrip Yang Ditemukan di Accra." Tulisnya, "Apakah daun yang gugur di pohon di musim salju merasa dikalahkan oleh hawa dingin?" Kata pohon kepada daun, "Demikianlah siklus kehidupan. Kaupikir dirimu akan mati, tetapi nyatanya kau tetap hidup di dalamku…" (hlm. 25). Lewat syair singkat ini hendak mengatakan bahwa kehidupan ini silih-berganti. Tidak perlu bersedih hati, jika suatu waktu kalah dan terhempas. Dan tidak perlu takut akan ancaman.
          Kekuasaan cuma titipan atau  amanah  yang suatu saat nanti akan diambil atau beralih ke orang lain. Sudah layak dan sepantasnya, bahwa seorang raja itu menjadi  pengayom (melindungi)  dan  pengayem (pemberi rasa damai). Ia harus tahan  terhadap godaan previlese. Ia harus keras terhadap dirinya sendiri. Ia harus menjadi orang pertama yang mengalah. Orang Jawa punya kata untuk ini, "Aja dumeh" dan orang Prancis juga punya kata, "noblesse  oblige" – seseorang yang punya posisi lebih tinggi harus mengabdi lebih banyak.  

Jumat, 19 September 2014    Markus Marlon



Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Senin, 15 September 2014

Kaya

KAYA
(Kontemplasi  Peradaban)
 
            Saya terkesima dengan tulisan yang terpampang pada sebuah bus malam dalam perjalanan ke Surabaya dari Jogjakarta (beberapa bulan yang lalu),  "Siapa yang kaya? Ia adalah orang yang merasa cukup dengan apa yang dimilikinya." Lalu saya minta bantuan mbah Goggle, ternyata pepatah tersebut  berasal dari para  rabi Yahudi.  Kemudian dalam hati, saya pun berkata, "Orang-orang besar selalu merasa cukup dengan sesuatu yang sedikit." Kadang, orang menunjuk pada orang bijak demikian,  "Dictum sapienti sat est" – bagi orang bijak, sebuah kata sudah cukup. Pepatah Latin ini merupakan warisan  dari Plautus (254 – 184 seb. M).
 
          Merasa kaya atau merasa cukup berasal dari sikap batin. Jika kita membaca drama karya Shakespeare (1564 – 1616) dengan judul  Henry VI, di sana dilukiskan seorang raja yang berkelana di daerah pedalaman yang tidak dikenalnya (incognito). Ia bertemu dengan dua orang pengawas binatang buruan dan berkata kepada mereka berdua bahwa dirinya adalah raja. Kemudian, salah seorang dari mereka bertanya kepadanya, "Kalau engkau seorang raja, mana mahkotamu?"  Lalu raja itu memberi jawaban yang luar biasa, "Mahkotaku ada di dalam hatiku, bukan di atas kepalaku; tidak bertatahkan intan dan permata, pun tidak terlihat, mahkotaku adalah rasa cukup." 
 
          Orang kadang-kadang melihat kekayaan dari apa yang terlihat di luar seperti: harta benda yang dia miliki. Namun di pihak lain ada orang yang berkata, "He is rich that has few wants" – ia yang keinginannya tidak berlebihan adalah orang kaya. Orang yang puas dengan apa yang dimilikinya dan tidak berkeinginan macam-macam lebih berasa kaya daripada orang kaya yang keinginannya terlalu banyak sehingga tidak dapat terpenuhi. Dalam hal ini, Epikuros (341 – 270 seb. M) pernah berkata kepada dirinya sendiri, "Berikanlah aku sepotong roti gandum dan segelas air, maka aku siap bersaing dengan Zeus dalam hal kebahagiaan."  Dan orang jawa memiliki kata-kata filosofi,  "nrima ing pandum" – menerima dan cukup puas dengan rejeki yang "dibagikan" oleh Tuhan.

          Mengenai makna "Rasa cukup" juga dikisahkan oleh Johannes Tauler (Strassburg, 1300 – 1361). Ia adalah seorang anggota serikat Dominikan. Pemikirannya banyak mendapat pengaruh dari Eckhart Meister (1260 – 1328). Pada suatu hari Tauler bertemu dengan seorang pengemis. Tauler memberi salam, "Tuhan kiranya memberimu hari baik, kawan." Jawab si pengemis itu, "Aku bersyukur kepada Tuhan, karena aku tidak pernah tidak bahagia!" dengan penuh heran Tauler berkata lagi "Apa maksudmu?" Si pengemis menjawab, "Ya, kalau keadaanku  baik, aku bersyukur kepada Tuhan, kalau hujan aku bersyukur kepada Tuhan, kalau aku mendapat banyak, aku bersyukur kepada Tuhan bla-bla-bla!"  Kemudian Tauler berkata lagi, "Siapakah engkau ini sebenarnya?" Si pengemis menjawab dengan tenang, "Aku ini raja!" Tauler bertanya lebih lanjut, "Di mana kerajaanmu?" Dan pengemis itu pun menjawb dengan tenang, "Di dalam hatiku!"

          Memang dalam hidup ini, ada yang beruntung memiliki harta banyak (kata kaya itu dari bahasa Jawa, "kaya" yang berarti  harta). Keberuntungannya itu membuat seseorang suka untuk menumpuk harta dan bisa-bisa tidak pernah akan cukup. Dalam hal ini, Publilius Syrus (46 – 29 seb.M) pernah berkata, "Fortuna nimium quem fovet stultum facit" – terlalu banyak keberuntungan membuat orang kurang hati-hati.

Senin, 15 September 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Selasa, 09 September 2014

Dendam

DENDAM
(Kontemplasi  Peradaban)

       Beberapa bulan yang lalu (Rabu, 22 Januari  2014), ada orang yang  ngudarasa  demikian, "Saya menyayangkan  sekali sikap pemimpinku, kalau berjabat tangan tidak memandang wajahku. Saya memang pernah bersalah tetapi dia belum memaafkanku." Kemudian teman sebelahnya berkata, "Kasihan pemimpin kantormu       itu, ia menyimpan dendam terhadapmu."   Kalau boleh mengutip tulisan Ovidius (lahir di Sulmona – Italia), "Summa petit livor" – kedengkian telah menusuk-nusuk dirinya secara sangat dalam sehingga menyiksa dirinya,"  barangkali seperti itulah perasaan hati orang yang sedang memiliki dendam.
          Dendam itu sebenarnya berasal dari bahasa Jawa, rêndhêm yang berarti ditutupi air. Kini, dendam memiliki makna kemarahan yang ditutupi. Orang ini marah, tetapi seolah-olah tidak marah, karena suatu saat nanti – jika ada kesempatan – akan membalasnya. Maka, tidak heranlah ketika berjabat tangan, mukanya masam dan tidak memandang yang memberi "salam" dengan berjabat tangan.
          Dendam dalam arti ini juga bermakna "menyimpan" kesalahan  orang lain. Seorang penulis menceriterakan bahwa penduduk asli Polinesia biasanya menghabiskan waktu-waktu mereka untuk bertarung dan berpesta pora. Setiap pria menyimpan sejumlah tanda mata untuk mengingatkan akan rasa benci dan dendamnya. Berbagai jenis tulisan digantung di atas gubuk mereka untuk mengenang kesalahan-kesalahan mereka – yang nyata ataupun khayalan saja – agar tetap hidup. Ini yang dalam bahasa harian kita, "Dendam koq dipelihara!"
          Dendam-mendendam banyak diceriterakan dalam kisah-kisah kerajaan Jawa dan  dalam pewayangan. Cerita,  "Kisah Tragis Roro Hoyi"  menyuratkan, betapa seorang anak yang tega meracuni ayahnya karena dendamnya (Bdk. Buku berjudul "Kearifan, Cerita, Wejangan dan Keheningan,"  tulisan FX. Kamari, hlm. 37). 
          "Memaafkan" itulah tindakan yang tepat untuk menghilangkan rasa dendan. Memaafkan ini merupakan  tindakan manusiawi tetapi dijiwai semangat ilahi. Memang, Maaf merupakan kata magis, apalagi jika maaf diucapkan dengan sepenuh hati, "By forgiving one to another, we are all becoming more human." Orang yang enggan atau bahkan tidak pernah meminta maaf pada orang lain pasti jiwanya tidak sehat. Komaruddin Hidayat (lahir di Magelang, 18 Oktober 1953) pernah menulis dalam bukunya yang berjudul,  Jejak-Jejak Kehidupan, "Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin banyak teman dan anak buah, maka semakin banyak pula ia  berbuat salah, sehingga semestinya semakin banyak pula hendaknya meminta maaf" (hlm. 76).
          Ada orang yang berkata demikian kepada saya, "Jika engkau ingin menghapus dendam, doakan mereka!" Nasihatnya berat. Namun sebenarnya praktek itu sudah dibuat. Mungkin kita pernah mendengar kamp Auschwitz di Polandia. Di tempat itu, pernah terjadi kekejaman kaum Nazi di bawah pimpinan Hitler (1889 – 1945). Namun, setelah Perang Dunia berakhir, di sebagian bekas kamp tersebut didirikan sebuah biara. Maksudnya supaya orang-orang tidak hanya mengenang kejahatan kaum Nazi, tetapi juga berdoa untuk memohon ampunan bagi para pelaku eksekusi yang sangat kejam. Bukankah Yesus mengajak para pengikut-Nya untuk mendoakan musuh-musuh   (Mat 5: 44 ) atau "berdamai dengan saudara lebih penting daripada persembahan" (Bdk. Mat 5: 23 – 24).

Senin, 8 September 2014   Markus Marlon

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Senin, 08 September 2014

Wajah

WAJAH
(Mencari Makna sebuah Peristiwa)

Belum lama ini (Kamis, 26 Juni 2014), saya mengunjungi Gua Pindul (cave
tubbing) - daerah Bejiharjo - Gunung Kidul - Jogjakarta. Dengan menggunakan ban dan berpakaian pelampung serta dipandu oleh seorang guide, kami melewati sungai di bawah gua yang memiliki tiga zona (terang-samar-samar dan gelap abadi) sungguh menakjubkan.

Yang lebih menakjubkan lagi adalah bapak muda yang memandu kami. Dia berkata, "Dulu saya tidak bekerja dan wajah saya muram,
tetapi sejak wisata Gua Pindul ini dikenal luas, wajah saya ceria dan berseri-seri, apalagi harus mendampingi para turis mancanegara dan domestik!" Kami semua mengiyakan, "Memang senyum dan tawa dapat mengubah wajah seseorang."

Coba sekarang kita bayangkan, bagaimana orang yang tugas sehari-harinya adalah
menghantar jenazah, seperti apa yang dikerjakan oleh David Copperfield semasa
kecilnya. Setiap genta gereja berbunyi, ia harus mengenakan pakaian hitam, topi hitam mengiringi peti mati yang serba hitam. Atau dalam mitologi Yunani kita kenal dengan Dewa Hefaistos sebagai Dewa yang pincang dan bertugas di bengkel untuk membuat alat-alat perang. Ia dilukiskan sebagai dewa yang muram atau Dewa Atlas yang tugasnya hanya memanggul bumi dari kekal sampai kekal. Pekerjaan yang seperti itu tentu akan membuat wajahnya nampak tua dan lelah.

Dalam dunia pewayangan, ada tokoh yang bernama Dasamuka yang berarti sepuluh wajah. Sindhunata dalam bukunya yang berjudul, "Anak Bajang Menggiring Angin"
melukiskan jika Rahwana sedang murka, maka wajahnya berubah menjadi sepuluh.
Wajah sepuluh itu menampilkan: watak-watak angkara mura dari manusia.

Dalam Mahabaratha tulisan Walmiki, ada
Baladewa yang memiliki wajah merah jika marah. Kemudian Fauzi Rachman dalam bukunya yang berjudul "Rahasia dan Makna Huruf Hijaiyyah" melukiskan bahwa marah itu berasal dari api dan harus dipadamkan dengan air wudlu.

Kenyataan bahwa wajah dapat dilihat dari hati nyatadalam patung Pieta yang adalah karya agung, masterpiece dari Michelangelo (1475 - 1564). Patung itu melukiskan tubuh Yesus yang baru saja diturunkan dari kayu
salib "terkapar" di pangkuan Bunda Maria.
Ketika para pengunjung menyaksikan patung yang kesohor itu banyak kritik yang dilontarkan terhadap tampilnya Bunda Maria yang jauh lebih muda daripada puteranya sendiri. Jawab pemahat Renaissance yang
terkenal itu adalah, "Jiwa yang suci, benar dan indah tidak pernah menjadi tua dan wajahnya selalu cantik."

Orang Jawa menyebut wajah itu pasuryan. Pasuryan itu berasal dari bahasa Jawa (krama Inggil) yang berarti raut atau air muka atau wajah. Keadaan wajah seseorang berkait dengan keadaan jiwa dan hatinya, bahkan ada
yang mengatakan bahwa pasuryan adalah bayangan hati. Lalu, "Bagaimana hal itu dapat kita pahami?" Ketika Leonardo da Vinci (1452 - 1519) hampir selesai melukis Last Supper, ia tidak menemukan model untuk Yudas. Berbulan-bulan, ia mencari-cari sang
model di penjuru kota dan akhirnya menemukan seseorang yang memiliki
wajah sangar dan bermuram durja. Sesampai di studio, sang model berkata, "Da Vinci, apakah engkau lupa denganku?" Model
itu pun berkata, "Saya adalah orang yang dulu sebagai model Yesus. Kemudian saya hidup tidak teratur, mabuk-mabukan, mengganggu masyarakat setempat dan kadang-kadang merampok serta mencuri."

Ketika hidupnya baik, damai dan sejahtera wajah seseorang bisa jadi klimis, bersih, cantik dan manis. Sebaliknya jika hidupnya tidak baik, tidak teratur, tidak sejahtera -
mungkin - wajahnya suram. Sekali lagi, "Mungkin!"

Sabtu, 28 Juni 2014 Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Minggu, 31 Agustus 2014

Pujian

PUJIAN
(Kontemplasi Peradaban)
                  Beberapa minggu yang lalu, saya ikut upacara wisuda lulusan D3. Di sebelah saya duduk seorang bapak yang dengan bangganya berkata sendiri, "Duh  anakku, aku bangga denganmu, sebab engkau lulus dengan nilai   kemlaut"  Sementara menyaksikan upacara wisuda yang bertele-tele, saya berpikir dalam hati, "Apa itu  kemlaut?" Tetapi akhirnya setelah saya pikir-pikir  sendiri, ternyata bapak itu sebenarnya berbicara dalam bahasa Latin, "cum laude" yang berarti dengan pujian.
          Pujian dalam bidang akademik memang sangat penting. Bahkan Stevie Wonder (Lahir, 13 Mei 1950) menjadi tersohor karena pujian dari gurunya yang bernama Beneduci. Kisah ini ditulis oleh Dale Carnegie (1888 – 1955) dalam bukunya yang berjudul "How  to  Win  Friends And  Influence People." Pada waktu itu, sang guru memuji Wonder yang berhasil menemukan seekor tikus dengan menggunakan pendengarannya. Wonder menganggap tindakan gurunya untuk menghargai dirinya itu sebagai titik balik di dalam hidupnya.  Maka benarlah apa yang dikatakan John Dewey (1859 – 1952), filsuf Amerika, "Dorongan terdalam dari sifat dasar manusia adalah dorongan untuk menjadi orang penting."
          Mungkin kita pernah mendengar ungkapan, "Hati-hati dengan hadiah dari orang Yunani" maka saya pun boleh berkata, "Hati-hati dengan pujian!"
          Winston Churchill (1874 – 1965), mantan Perdana Mentri Inggris, pernah ditanya, "Tidakkah Anda merasa tersanjung, setiap Anda berpidato,  orang-orang  datang berbondong-bondong sampai tidak kebagian tempat. Mereka sangat memuji dan menyanjung Anda!"  Sang Perdana Mentri itu pun berkata "Tiap kali ingin berbangga, saya ingat satu hal ini. Seandainya saya kelak dihukum gantung, maka jumlah orang yang hadir pasti melonjak dua kali lipat."  Dari perkataan Churchill tersebut di atas, kita bisa membayangkan bagaimana orang-orang yang akan  nyalon sebagai anggota  caleg atau kepala daerah bahkan presiden yang dikelilingi oleh  timses (Team Sukses). Barangkali para timses itu memberikan banyak pujian kepada "jago"nya dan dielus-elus. Jika, sang "jago" menang, maka  timses dan sang calon akan berpesta pora, tetapi jika sang "jago" menjadi pecundang, maka  – kata orang, konon  – sudah disediakan "kamar" di Rumah Sakit Jiwa. Tentu saja, timses tidak  stress bahkan mendapatkan dana, biar pun "jago"nya kalah. Ini yang tidak adil!!
          Sebenarnya, bahaya pujian itu sudah diprediksi oleh Aesop (620 – 560 seb. M) pendongeng binatang (fable story) Yunani kuno. Dalam kisahnya yang berjudul, "Rubah dan Gagak" ia memberikan pesan moral,  supaya kita hati-hati terhadap pujian.
          Gagak – seperti yang kita tahu – adalah binatang yang paling jelek suaranya. Suatu hari ia mendapatkan sepotong keju dan terbang ke pucuk pohon yang tinggi. Seekor rubah melihat burung gagak yang tengah menikmati keju tersebut dan berkata, "Kurasa aku tahu cara untuk mendapatkan keju itu."
          Rubah berdiri di bawah pohon dan berteriak ke arah burung gagak, "Hari yang indah, gagak sahabatku. Kamu tampak sehat hari ini. Sayap-sayapmu berkilauan, bulu-bulumu halus sehalus bulu elang dan cakar-cakarmu tampak setajam silet. Aku belum pernah mendengar suaramu bernyanyi, tapi aku yakin suaramu sangat merdu."
          Burung gagak memercayai dan menyukai setiap kata yang diucapkan rubah. Ia memutuskan untuk membuktikan kepada rubah bahwa kata-katanya memang benar. Tetapi begitu ia membuka paruhnya untuk bernyanyi, keju yang tengah di makannya terjatuh.

Senin, 01 September 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Selasa, 26 Agustus 2014

Nyaman

NYAMAN
(Kontemplasi  Peradaban)
       Beberapa minggu yang lalu, (Senin, 04 Agustus 2014) saya membaca Majalah KUSUMA (Media Komunikasi Iman Umat Keuskupan Manado, Tahun VII Agustus 2014).  Di sana ada tulisan menarik dari P. Albertus Sujoko MSC yaitu ole-ole Retret MSC di Panti Samadi – Tomohon yang dibimbing oleh P. Yance Mangkey MSC.
          Dalam sharing-nya, Pastor senior yakni P. Albert Smith MSC menggarisbawahi makna kata, "duc in altum" – pergi atau bertolak ke tempat yang lebih dalam. Dikatakan bahwa pergi ke tengah laut berarti harus berani meninggalkan daratan yang enak,  mapan dan nyaman untuk menuju ke laut yang dalam yang penuh bahaya dan  risiko serta  ketidakpastian (hlm. 13).
          Memang, kenyamanan hidup boleh dikatakan sebagai "musuh" dari sebuah kemajuan. Tommy Siawira dalam bukunya yang berjudul,  "Blueprint Kesuksesan"   menulis bahwa kenyamanan diartikan sebagai comfort zone.  Dan kenyamanan bisa melemahkan urat saraf dan kita  tidak mau dan mampu lagi bergerak serta  melangkah untuk "maju" dan berkembang. Rasa nyaman itu bisa terjadi karena orang   dininabobokan oleh hiburan yang pada gilirannya  membuat orang lupa daratan. Buku berjudul "Mitologi Yunani" tulisan Sukartini Silitonga memberikan pencerahan tentang makna kenyamanan dalam diri Ulysses. Tulisnya, "Ketika Ulysses dan para awak kapalnya tiba di sebuah pulau bernama Circe, mereka tiba di negeri yang penuh bunga teratai. Orang yang memakan bunga itu lupa akan rumahnya dan orang-orang yang dicintai serta berharap untuk tinggal selamanya di negeri  senja hari  itu."
 
          Contoh klasik mengenai kenyamanan ini ialah apa yang dialami oleh  Hannibal Barca (247 – 183 seb.M) dan tentaranya (Sudah difilmkan dengan amat memukau dengan judul, "Hannibal The Conqueror"). Hannibal dari Kartago adalah satu-satunya jendral yang pernah mengejar bala tentara Romawi. Tetapi musim salju datang dan gerakan mereka harus ditunda. Selama musim salju itu, Hannibal mengistirahatkan pasukannya di Kapua, sebuah kota mewah yang telah direbutnya. Sebaliknya tentara Romawi tidak pernah melakukan istirahat pada musim salju seperti itu. Kemewahan begitu melemahkan moral pasukan Kartago sehingga waktu musim semi datang dan gerakan militer dimulai lagi mereka tidak dapat bertahan melawan tentara Romawi (Baca  "Pemahaman Alkitab Setiap Hari – Surat Ibrani"  tulisan William Barclay hlm. 170).
 
          Confucius (551 – 478 seb.M) pernah memberi nasihat, "Orang yang unggul,  berpikir tentang kebajikan sedangkan orang yang lemah berpikir tentang kenyamanan hidup." Menurut Joel Osteen penulis buku laris, "Your Best Life Now"  menulis, "Tanpa perlawanan udara, seekor elang tidak dapat naik membubung tinggi, tanpa penentangan gravitasi, kita tidak dapat berjalan" (hlm. 238). Lantas, menurut Eknath Easwaran dalam bukunya yang berjudul, "Climbing The Mountain", "Tetapi ketika tiba saatnya bagi anak-anak burung penguin itu bertumbuh-kembang, sang induk serta merta meninggalkan mereka" (hlm. 2).  Tentu kita bisa membayangkan betapa iba rasa hati kita melihat pemandangan anak-anak penguin itu mencari jalan untuk – sekali lagi – mencari makan. Tetapi itulah hidup! "That's life!"
  
Selasa, 26 Agustus 2014   Markus Marlon

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com