Minggu, 28 Juni 2015

KORUPSI
(Kontemplasi Peradaban)
 
“Manungsa: menus-menus
 kakean dosa” – manusia kelihatannya
 bersih tetapi banyak dosa (Mutiara Kearifan Jawa).
 
Ada sebuah kisah tentang seorang budak yang diangkat menjadi bendaharawan kerajaan. Tentu saja pengangkatan ini membuat iri hati para punggawa istana.
Setiap menjelang malam, bendaharawan itu masuk ruang bawah tanah tempat menyimpan harta karun. Kelakuan ini yang dicurigai oleh para menteri, sehingga menteri terdekat melapor kepada sang raja, “Yang mulia, setiap menjelang malam, bendaharawan itu senantiasa masuk ke ruang harta karun. Baik kalau sang raja mengikutinya!”
Sang  raja pun heran dan mulai menguntit bendaharawan itu. Sang raja mengulik dari lubang kunci pintu dan terkejutlah ia terhadap apa yang dibuat orang kepercayaannya.  Bendaharawan itu mulai duduk dan mengganti baju mewahnya dengan pakaian budak yang disimpannya dekat brangkas, “Tuhan, aku adalah budak dan sekarang diangkat raja menjadi orang kepercayaannya. Setiap menjelang istirahat aku datang kepada-Mu sebagai budak memohon supaya aku tidak gegabah dalam melangkah serta bertindak dengan jujur!” Sang raja pun akhirnya berkata dalam hati, “Engkaulah pilihanku dan aku bersyukur memiliki orang kepercayaan yang tahu siapa dirinya.”
Godaan harta memang sungguh nyata. Mungkin ketika seseorang masih muda, jiwanya masih idealis, ia memiliki cita-cita yang luhur. Tetapi setelah memegang jabatan birokrasi dan mengendalikan proyek, idealismenya itu pun mulai luntur. Radix omnium malorum est cupiditas – akar dari segala kejahatan ialah keserakahan ( 1 Tim 6: 10). Kalau dalam peribahasa Inggris sehari-hari kita mengenalnya dengan ungkapan, “Money is the root of all evil”  – Uang adalah akar segala kejahatan. Sebenarnya bukan uang itu sendiri yang jahat, melainkan kecintaan yang berlebihan pada uang dan nafsu untuk mendapatkannya yang dapat mendorong manusia melakukan tindak kejahatan.
Memang benar bahwa kebutuhan manusia itu tidak ada batasnya. Gaji sebesar apa pun masih kurang dan kurang. Dari sana lah mereka mudah untuk disuap. Erasmus (1466 – 1635) memandang orang yang mudah disuap dengan istilah, “Bos in lingua” – ada sapi dalam mulutnya.  Ungkapan ini berasal dari bahasa Yunani. Pada zaman dulu, pada setiap uang logam selalu ada gambar sapi.
Penyuapan dan korupsi sungguh marak di Indonesia, bahkan sudah dinamakan sebagai patologi sosial (penyakit sosial). Yang jelek lagi ada ungkapan bahwa korupsi itu sudah membudaya dan sangat sulit untuk diberantas. Kebobrokan dari mental para penguasa itu akhirnya yang menanggung rakyat. Ungkapan Latin yang dicetuskan oleh Horatius (65 – 8 seb.M), “Quidquid delirant reges plectuntur Achivi”  – Apa saja perbuatan gila dari para penguasa, maka rakyat Yunani-lah yang tertimpa hukumannya,  artinya rakyatlah yang akan selalu menanggung akibat buruk dari kegilaan penguasa.
Ketika kita mendengar berita tragis tentang penangkapan para koruptor, di sana diberitakan, “Negara mengalami kerugian uang sekian miliar rupiah atau sekian triliun rupiah…” Tentu saja rakyat menjadi geram katas perbuatan para penguasa tersebut. Itulah sebabnya, pembangunan infrastruktur atau dana-dana yang seharusnya diberikan kepada rakyat di-tilep oleh para koruptor. Para koruptor itu berfoya-foya di atas penderitaan orang miskin.  Namun seorang sastrawan yang bernama Juvenalis (60 – 140)  berkata, “Nemo malus felix – tidak ada orang jahat yang bahagia. Kita bisa membayangkan bagaimana sang koruptor dan keluarganya ketika menyaksikan pemberitaan tentang dirinya yang mengenakan rompi orange dengan tulisan, “Tahanan KPK”. Tentu saja dirinya dan keluarganya menjadi sedih dan malu.
Korupsi sudah menjadi patologi sosial yang sudah kronis, istilahnya sulit untuk diberantas. Tugas KPK amat sangat berat, bahkan ada indikasi untuk “melemahkan power  KPK”  misalnya dengan menghilangkan “penyadapan” yang merupakan jantung KPK. Pemberantas korupsi diperlukan “orang-orang yang kuat”, tahan godaan bahkan berani mati.  Ovidius (43 seb.M – 17 M) mengatakan bahwa orang-orang yang memerangi kejahatan seyogianya memiliki jiwa yang berani, “Mens interrita leti” – jiwa yang tidak gentar akan kematian.
Saat ini peran media sangat bagus untuk menjadi kontrol sosial. Tertangkapnya para koruptor dan  yang diberitakan di media massa maupun media elektronik bertutujuan untuk membuat para koruptor jera (efek jera). Para koruptor ini memiliki mental “selalu kurang” yang oleh Horatius (65 – 8 seb.M) dipandang dengan ungkapan, “Multa petentibus desunt multa” – mereka yang banyak menuntut adalah mereka yang kekurangan banyak. Mungkin baik, jika para koruptor itu bersikap seperti kisah budak yang menjadi bendaharawan tadi, “Nihil habendi nihil deest” – yang tidak memiliki apa-apa, tidak akan kekurangan sesuatu.

Sabtu, 27 Juni 2015   Markus Marlon
+ Sudah dipublikasikan di Sinar Harapan – Sabtu, 27 Juni 2015

Rabu, 17 Juni 2015

Badai

BADAI
(Sebuah Catatan Perjalanan)
 
God doesn’t allow
trials in our lives to defeat us,
 but to develop us – Tuhan
 tidak membiarkan ujian dalam hidup
 mengalahkan kita, tetapi untuk
 mengembangkan kita (Charles Stanley).
 
Ketika saya nongkrong di  “Kampoeng Popsa” yang letaknya di depan benteng   Fort  Rotterdam – Makassar, terdengar orang menyanyikan lagu yang pernah dinyanyikan  Chrisye:
 Kini semua bukan milikku,
 musim itu telah berlalu
 matahari segera berganti
 Badai pasti berlalu….
 
Lantas pikiran saya tertuju pada novel tulisan Marga, T dengan judul, “Badai Pasti Berlalu”.  Membaca novel tersebut dijamin air mata yang membacanya akan  berlinang. Memang, setiap orang memiliki  “badai”. Ada yang kencang seperti tornado atau  puting beliung namun juga ada yang  bagaikan angin semilir saja.  Namun jika kita membaca tulisan  Rick Waren (Lahir 28 Januari 1954) dalam bukunya yang berjudul,  ”Purpose Driven Life”,  Every storm is school, each trial is a teacher, every experience is education, every difficulty is for our development” – Setiap badai adalah pelajaran, setiap ujian adalah guru, setiap pengalaman adalah didikan dan setiap kesukaran adalah untuk mengembangkan kita”, maka kita akan mensyukuri “badai tersebut”.
Bahkan  -tidak tanggung-tanggung- ada orang yang mengatakan bahwa “badai” dalam hidup malah menjadi titik-tolak akan hidup yang makin kuat. Kisah James Cook (1728 – 1779) yang legendaris, misalnya.  Cook menulis dalam pelayarannya yang mengerikan karena kapalnya menghantam batu karang dan hampir tenggelam. Peristiwa itu dinamakan  Cape Tribulation (Tanjung Pencobaan) yang malah membuat Cook makin berani mengarungi samodra.
 Memang setiap orang memiliki badainya masing-masing. Bila kita terlanjur kecewa dan frustasi atas kegagalan yang kita alami, maka yang ada hanyalah keluhan dan gerutuan. Dan ini malah akan mengerdilkan diri kita. Padahal dengan badai itu – seperti yang tadi kita baca di atas – malah akan membuat kita kuat. Mari kita simak Film yang berjudul, “Nada untuk Asa” yang bercerita tentang dua wanita positif  HIV untuk tetap hidup di tengah-tengah keluarga dan masyarakat yang tidak menerima penyakit itu. Hidup mereka terasa sangat berat. Dalam episode terakhir, anaknya Asa berkata kepada ibunya, Nada, “Ma, mengapa badai yang keras ini diberikan Tuhan kepada kita?” Ibunya berkata, “Karena kita kuat, nak!”

Rabu, 10  Juni 2015   Markus Marlon

Sent from my Sony Xperia™ smartphone

Jumat, 05 Juni 2015

Mencari Teman

MEMILIH TEMAN
(Sebuah Catatan Perjalanan)
 
"Secreto amicos admone, lauda palam" – Tegurlah sahabat-sahabatmu secara diam-diam, namun pujilah mereka secara terbuka (Publius Syrus).
 
       Tanggal merah, 2 Juni 2015 saya gunakan untuk makan capcay  di Jln. Gunung Lompobattang – Makassar.  Ketika masakan dihidangkan, saya complain  dan menggerutu, karena ada tambahan lauk-pauk yang tercampur dalam sayuran tersebut yang  tidak saya sukai. Lantas, teman saya itu pun berkata, "Mudah saja kalau  you tidak suka. Singkirkan saja udang-udang  kecil itu dari piringmu. Habis perkara!"
          Benar! Pada setiap kesempatan kita harus memilih. Dari memilih hal-hal  yang sederhana hingga memilih sesuatu yang rumit,  seperti apa yang dikatakan Hamlet, dalam drama tulisan Shakespeare (1564 - 1616) to be or not to be.
          Yang paling jelas-jelas adalah memilih teman. Sebagai maklhuk sosial (homo socius), kita membutuhkan teman, namun untuk mendapatkan teman itu, kadang tidak mudah. Orang-orang China mengatakan, "Seribu teman masih kurang namun satu musuh kebanyakan!"  Meskipun mencari teman itu sulit, kita tetap tidak boleh memilih sembarang teman, tetapi harus "diseleksi".  
Orang-orang Jawa memiliki ungkapan yang sering kita dengar, "Wong kang ora ngerti marang trapsila klebu wong kang ora perlu dicedhaki" – Orang yang tidak mengerti tata susila, tergolong orang yang tidak perlu didekati. Atau ungkapan lain, "Sing becik cedhakana, kang ora becik singkirono"  – orang baik dekatilah dan orang yang tidak baik hindarilah. Mungkin kita pernah mendengar ungkapan, "Birds of a feather flock together" – Burung-burung berkelompok menurut jenisnya. Orang cenderung berkelompok dengan mereka yang memiliki selera dan kepentingan sama.
          Dalam pewayangan, kita kenal adanya seorang teman  sejati yakni: punakawan.  Punakawan dalam kisah pewayangan merupakan sosok rakyat jelata yang setia mengabdi dan mendampingi seorang kesatria yang menjadi tuannya. Teman kesatria yang disebut Punakawan  (Semar, Gareng, Petruk dan Bagong) itu dalam melayani tidak ada kepentingan apa pun (Bdk. Kompas – Jumat 5 Juni 2015). Karena tidak ada kepentingan, maka dalam menasihati tuannya  "tanpa tedheng aling-aling" – bicara terus terang, tidak ada yang ditutup-tutupi. Kawan seperti itu memang tidak nyaman, lain dengan para punggawa penjilat. Mereka suka bicara yang manis-manis di depan tuannya, sebagai teman, mereka tidak tulus.
 
Jumat, 5 Juni 2015  Markus Marlon

Sent from my BlackBerry®

Kamis, 04 Juni 2015

Bon Kamu Aku Hapus

BON KAMU AKU HAPUS
(Kisah Nyata)

" Gratis Mbok?? ", heran bertanya si Barjo

"Ya , kenapa ? Makan aja apa yang kamu suka"
"wah ..terimakasih mbok. Terimakasih…"
SI Mbok tersenyun riang ketika memperhatikan Barjo , langganannya yang biasa berhutang diwarungnya. Sekarang menyantap makanan dengan lahapnya. Mungkin kali ini pria itu dapat menikmati makanannya dengan tanpa beban. Keringat meleleh dikeningnya.
"Jo "
"ya Mbok. Ada apa…apa ini hanya guyonan saja Mbok" Barjo melongo kearah si Mbok dengan bingung dan mulut yang masih terisi nasi. 
Tapi si mbok tetap tersenyum.

"Ini Catatan Bon kamu ya?" Tanya si Mbok dengan tersebyum

"ya Mbok. Aku endak ada duit sekarang."

"ya aku tahu. Kamu memang selalu endak ada uang akhir akhir ini. Ya sudah bon kamu aku hapus." jawab simbok dengan senyum.

"Hapus?" teriak Barjo dengan bengong. "wah, lelucon apa lagi ini Mbok. Jangan bikin aku jantungan Mbok. Gratis saja aku sudah bingung…lah sekarang bon ku hapus lagi. "

"ya ..kamu endak perlu jantungan. Terima aja. Aku senang kok" Jawab simbok.

Hari itu ada hampir 40 orang yang datang makan di warung Mbok Mijah. Mereka semua adalah supir bajay, pemulung, pedagang asongan, pengamen jalanan dan tukang minta minta yang biasa nongkrong disudut jalan. Semua menikmati makanan dengan gratis. Bahkan sebagian dari mereka yang punya catatan hutang dinyatakan hapus oleh Simbok. Keceriaan jelas sekali terpancar di wajah si Mbok. Pemandangan tersebut di atas aku saksikan sendiri sambil asik menikmati kopi hangat. Mereka yang datang seakan tidak memperdulikan ku. Tapi tidak ada satupun ekspresi wajah dari mereka yang luput dari perhatianku. 

Hari itu memang aku sengaja datang ke warung si Mbok. Si Mbok hampir tidak percaya ketika aku datang pagi pagi. Sebelum pelanggannya datang.

'Maksud mas ?" Tanya siMbok dengan sedikit terkejut.

"ya Mbok. Aku ingin tahu berapa jumlah penjualan Si mbok bila seluruh makanannya habis terjual." Tanyaku tanpa memperdulikan keterkejutannya.

"Rp400 ribu rupiah Den tapi tidak semua simbok terima karena sebagian dihutangin"

"Ok. Berapa jumlah catatan hutang dari semua pelanggan siMbok " tanyaku lagi.

"Ada Rp. 700 ribu " jawabnya lagi tapi masih bingung.

"Ok. Nah ini saya kasih uang Rp. 1.500.000. " kataku sambil memberikan uang itu kepadanya.

"Ah.Untuk apa ini Mas…" Sekarang benar benar bingung dia.

"Aku hanya ingin memberikan uang ini kepada SiMbok. Karena dalam keadaan sulit siMbok masih bisa berbuat baik sama orang. SImbok bisa ngutangin orang yang butuh makan walau simbok sendiri tidak tahu kapan orang itu akan membayar."

Sambil memperhatikan wajahnya yang berseri dalam kebingungan. Kupegang tangannya dan menyerahkan uang itu. "Nah, apa yang akan siMbok lakukan dengan uang ini" sambung ku.

"SiMbok hanya ingin memberi kesempatan semua langganan makan gratis hari ini. Menghapus semua hutang mereka." Jawabnya

"Mengapa." Sekarang aku yang bingung.

"Simbok orang miskin. Simbok pengen bersedekah tapi endak pernah bisa. Wong hidup juga sulit begini." Katanya.

Ketika senja mulai berangkat malam. Aku melangkah menjauhi sudut jalan itu. Aku termenung. 

Selama ini kita begitu hebatnya menggunakan retorikan bahwa kita peduli dengan simiskin. Kita marah kepada ketidak adilan. 

Tapi kita tidak berbuat banyak. Tapi sebetulnya kehadiran Allah tetap ada di lingkungan si miskin.

Dengan kesehajaan di antara mereka dan cara mereka, mereka berbagi untuk saling peduli. Itu. 

Negeri ini kuat karena rahmat Allah yang meniupkan pesan cinta kehati siapapun untuk saling berbagi. Masalahnya ada yang membaca pesan itu dan ada yang tidak membacanya.

Si Mbok adalah contoh pesan cinta Allah dibacanya dengan baik, walau sedikit yang dia punya itulah yang dia bagi... dan dia bahagia karena itu.

✅ Memang cinta selalu menyehatkan dan menentramkan walau harus memberi sesuatu yang pada waktu bersamaan sangat membutuhkannya.

✔️✔️ sebuah Kisah nyata dari seorang dermawan di penghujung Tahun 2008.
Sent from my BlackBerry®

Selasa, 02 Juni 2015

Kantong Bolong

KANTHONG BOLONG
(Sebuah Catatan Perjalanan)
 
"Mel invenisti: comede quod sufficit tibi.
Ne fore satiates evomas illud" – Kalau engkau mendapat madu, makanlah secukupnya, jangan sampai engkau terlalu kenyang dengan itu, lalu memuntahkannya (Ams 25: 16).
 
       Ketika mengadakan perjalanan di Pantai Galesong – Takalar – Sulawesi Selatan (Sabtu, 30 Mei 2015), ada kisah menarik tentang makna memberi. Saat saya menyewa pakaian renang, dia sendiri malah mengatakan, "Saudara adalah orang yang datang menyewa pertama kali. Jadi kami beri gratis!"  Kemudian saya berkata, "Terima kasih, bapak menggunakan ajaran kanthong bolong!"  Bapak itu pun berkata, "Ya, berenang di siang bolong tidak enak karena panas, lebih baik pagi-pagi selagi matahari masih bersembunyi." Dalam hati saya berkata, "Oh dia bukan orang Jawa, jadi tidak paham makna kanthong bolong!"
 
R.M. Panji Sosrokartono (1877 – 1952) – seorang polyglot –  memberikan ajaran adiluhung dalam kata mutiara Jawa, "Nulung pepadha ora nganggo mikir wayah, wadhuk, kanthong. Yen ana isi lumuntur marang sesami" – membantu sesama tidak perlu memakai pikiran waktu, perut, saku. Jika (saku) berisi mengalir kepada sesama. Ajaran ini mengajarkan kita supaya dalam memberi sesuatu kepada sesama jangan ditunda-tunda, kalau boleh pada kesempatan pertama.  "He gives twice who gives quickly" – dia yang memberi bantuan dengan cepat sama dengan memberi dua kali lipat.
Hidup itu pada akhirnya adalah suatu pemberian. Orang yang enthengan (Bhs. Jawa: cepat tanggap atau mudah menolong sesama) akan merasa sehat dan bahagia. Winston Churchill (1874 – 1965)  pernah menulis, "Kita bertahan hidup dengan mencari nafkah, namun kita mencari makna kehidupan dengan memberi."  Marcus Valerius Martialis (38 – 102) pun dalam Proverbia Latina menulis, "Quas dederis,semper habebis opes" – hanya yang engkau berikan itulah yang selalu memiliki kekuatan. Berbuat baik itu memberi kebahagiaan.
 
Orang yang memiliki sikap hidup "kanthong bolong" itu merasa bahwa hidupnya sebagai saluran berkat. Bahkan Warren Wiersbe (lahir 16 Mei 1929) pembicara publik Amerika mengatakan bahwa manusia bukanlah sebuah bendungan. Orang yang serakah akan berusaha sekuat tenaga menahan agar berkatnya tidak kemana-mana. Ia menyumbatnya dan tidak membiarkan bolong (terbuka).

Senin, 1 Juni 2015  Markus Marlon


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Minggu, 31 Mei 2015

Tenggang Rasa

TENGGANG RASA
(Kontemplasi Peradaban)
 
          Beras plastik dijual, ijazah palsu diributkan, uang palsu setiap saat mengelabuhi kita dan penggunaan formalin. Anak-anak kita di sekolah makan bahan-bahan palsu yang mereka beli dari penjual makanan di sekitar sekolah, begal motor yang pernah marak serta bandar narkoba yang tidak jera-jera. Dari sini kita bisa menamai bahwa tahun ini adalah sebagai  Annus horribilis – tahun yang mengerikan.
          Dengan mata kepala sendiri, kita bisa menyaksikan bagaimana orang-orang berbuat sesuatu tanpa terusik hati nuraninya.  Pelaku kejahatan itu tidak berpikir jauh ke depan bagaimana efek yang dialami oleh konsumen. Bahan baku plastik dalam pembuatan beras merupakan bahan kimia yang tak layak dimakan. Efeknya menimbulkan gangguan pencernaan. Gangguan pencernaan yang terjadi pun jangka pendek maupun jangka panjang. Gangguan jangka pendek yang bisa terjadi di antaranya: diare, mual, kembung dan muntah. Efek jangka panjang adalah kanker (Fajar, Selasa 26 Mei 2015, "Mencermati Beredarnya Beras berbahan Plastik").  
Wolak-waliking zaman. Iki tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman– itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik. Bolak-balik, upside down yang kaya menjadi rakus, padahal  sudah kaya. Yang miskin semakin malas, padahal sudah melarat. Pengusaha menjadi politisi, sebaliknya para politisi malah berdagang. Wakil rakyat  dan pejabat minta dilayani. Rakyat pemberi mandat terpaksa melayani. Para ulama mengejar takhta. Rohaniwan lebih suka main sinetron dan menjadi penyanyi. Dan para penyanyi dan pemain sinetron malah berdakwah (Bdk. Jangka Jayabaya hlm. 33).
Saat ini kehidupan sangat berat. Barang-barang yang ditawarkan menggiurkan calon konsumen. Kalau zaman dulu yang memiliki gadged hanyalah orang-orang tertentu, sekarang ini hampir semua orang memilikinya, bahkan menjadi kebutuhan primer. Dulu orang yang memiliki kendaraan bermotor itu sangat terbatas, sekarang ini kendaraan bermotor dan mobil pribadi berjibun. Itulah sebabnya, orang-orang dituntut untuk "memiliki lebih". Sudah memiliki gaji cukup, masih korupsi, sudah punya usaha maju merasa masih kurang sehingga mempraktekkan usaha supaya cepat kaya (mental instant). Itulah sebabnya, orang menghalalkan cara agar apa yang diimpikan itu terwujud. Praktek semacam ini sebenarnya sudah dibuat oleh Niccolo Machiavelli (1469 – 1527),  "The end justifies the means," –  tujuan menghalalkan cara.
Issudan gossip lebih cepat sampainya, "Bad news travels fast" – orang cenderung senang menyebarkan berita buruk. Dalam strategi perang dikatakan bahwa para perwira lebih takut gossip daripada moncong bedil. Gossip itu bagaikan fitnah yang membunuh karakter seseorang. Dalam pewayangan misalnya kisah Durna meninggal karena diberitakan Aswatama meninggal. Seorang bapak tentu akan menjadi sedih jika anaknya dibunuh. Kabar bohon itulah yang menjadikan Durna kalang kabut.  Pada akhirnya sang guru Pandawa itu pun tewas dibunuh.
Demikian pula apa yang menjadi  hot news akhir-akhir ini. Ditulis dalam Tribun Timur, 24 Mei 2015 bahwa beras plastik merupakan issu untuk reshuffle Menteri Pertanian. Lantas, beberapa hari ini pula diberitakan di media elektronik bahwa Pemerintah menjamin tidak ada beras plastik yang dikatakan langsung oleh Kapolri, Badrodin Haiti. Kemudian dalam minggu ini pula masih ada pembahasan beras plastik dengan judul debat, "Kontroversi beras plastik".  Ini semua hendak menunjukkan bahwa issu beras plastik masih menjadi berita hangat di Indonesia (Dari Sabang sampai Merauke).
Benar tidaknya berita tersebut di atas, hati kita pun menjadi miris, "Mengapa orang begitu tega berbuat demikian kepada orang lain?"  Pengedar narkoba, pemberian formalin untuk panganan dan akhir-akhir ini beras plastik hendak menunjukkan betapa sudah lunturnya perasaan orang terhadap keselamatan orang lain. Barangkali para pelaku kejahatan itu berkata, "Toh bukan keluargaku atau saudaraku yang mengkonsumsi makanan itu!"  Tepo slira dan  tenggang rasa serta rasa belas kasih sudah mulai lenyap.
Hikmat yang dapat kita petik dari peristiwa "beras plastik" ini adalah bahwa  manusia makin egois. Ia hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memedulikan penderitaan sesama. Kekisruhan politik di negeri ini sangat berpengaruh bagi ekonomi masyarakat. Masyarakat Indonesia menjadi manusia pemberang, mudah marah serta tidak sabaran.

Sabtu, 30 Mei 2015    Markus Marlon
 
 

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Jumat, 29 Mei 2015

Ramah

RAMAH
(Sebuah Catatan Perjalanan)
 
"Hospes eram et collegistis me" – waktu aku
 menjadi orang asing, engkau telah memberi tumpangan.
      
Ketika saya masuk sebuah warung untuk memberi sesuatu, para penjaga toko itu tidak ramah. Saya serta-merta meninggalkan toko itu dan pindah ke sebelah. Jujur saja bahwa pada waktu itu saya hanya berharap ingin di-wong-ke, artinya dihargai yang  tentunya dengan keramahtamahan. "A man without a smiling face must not open  a shop"  – Mereka yang tidak bisa tersenyum janganlah membuka toko. Ungkapan ini berasal dari falsafah China. Pelayan toko yang ramah akan memikat pembeli dan membuat dagangan  mereka laris. Bagi penjual  "customer is king"  – pembeli adalah raja, sehingga  harus dilayani dengan ramah.

          Ya! Ramah itu menyembuhkan. Coba kalau kita sakit dan dibawa ke rumah sakit, namun perawat yang menangani kita itu wajahnya mbesengut dan njaprut, artinya mukanya tidak ramah, tentu kita akan menjadi semakin sakit. Namun, jika para perawat di sana  banyak senyum dan ramah, maka sakit pun akan berkurang. Benar sekali bahwa dalam bahasa Inggris untuk Rumah Sakit adalah The Hospital.

Dunia kuno mencintai dan menghormati keramahtamahan. Bangsa Yahudi memunyai ungkapan, "Ada enam hal yang buahnya dapat dinikmati oleh manusia dalam dunia ini dan yang akan menaikkan kehormatannya dalam dunia yang akan datang." Daftarnya mulai dengan "keramahtamahan terhadap orang asing dan perkunjungan kepada mereka yang sakit." Bangsa Yunani menyebut Zeus dengan salah satu gelar kesenangannya yaitu Zeus Xenios – Zeus dewa orang asing. Dengan demikian, para pengembara dan orang asing berada di bawah perlindungan raja dan para dewa. Menurut James Moffatt (1870 – 1944), keramahtamahan itu adalah tugas utama dalam agama zaman kuno.

          Orang Jawa sejak usia balita sudah diajari untuk grapyak dan semanak, artinya ramah. Di pedesaan zaman waktu kecilku, di depan samping pintu rumah selalu ditempatkan sebuah penampung air yang disebut dengan kendhi. Kendhi atau tempayan kecil itu diperuntukkan bagi pejalan kaki yang lewat depan rumah. Itulah "pelajaran pertama"  keramahtamahan di pedesaan (Gunung Kidul – Yogyakarta) pada waktu itu.  

Kamis, 28 Mei 2015  Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com