Rabu, 16 April 2014

Memperkaya Perkawinan

Memperkaya Keintiman Suami – Istri

Keluarga adalah berkat besar dan terindah. Pemberian Tuhan teristimewa dalam hidup kita. Kelahiran kita tidak kebetulan. Bahkan kita dilahirkan dalam keluarga tertentu juga bukan kebetulan. Ada rencana-Nya yang istimewa.
Sebagian kita sudah menikah. Sebagian lain akan menikah. Kawan, Menjadi Ayah atau Suami dan menjadi ibu atau Istri adalah jabatan super istimewa dan tak tergantikan. Ya, tidak tergantikan. Pekerjaan saya mengajar sebagai dosen misalnya, banyak yang bisa menggantikan. Tapi menjadi suami dan ayah bagi putra saya tidak. Selain tidak tergantikan, pernikahan adalah warisan "kekal". Kelak akan diwariskan kepada anak-anak. Teladan perkawinan dicontoh oleh anak, lalu cucu, dst.
Namun survei media, dan pengalaman sebagai terapis di ruang konseling kami menemukan sebagian orang ternyata pernikahan mereka tidak mulus. Banyak konflik bahkan berujung perpisahan. Pernikahan penulis juga bermasalah di awal lima tahun pertama.
Dari pengalaman dan bacaan pribadi tersebut ijinkan saya berbagi tips, bagaimana meramu hubungan dengan pasangan agar menjadi harmonis lagi. Meramu artinya, menggabungkan semua unsur di bawah ini dengan baik. Tidak bisa hanya dengan satu atau dua cara, juga tidak ada yang instan dan mudah. Perlu kemauan, tekad dan kerja sama yang baik. Ingat, Jika pernikahan anda tidak sehat, akan mempengaruhi cara hidup termasuk karir dan kesehatan.
Sepuluh hal di bawah ini adalah hal-hal yang kami bagikan dalam konseling pernikahan, untuk memperkaya keintiman dengan pasangan:
Bangun ulang visi pernikahan. Camkan ulang bagaimana anda dulu jatuh cinta dengan pasangan. Apa sih motivasi anda dulu menikah? Ingat, tujuan pernikahan bukanlah kebahagiaan tapi pertumbuhan. Jadi kalau masalah, kekurangan, sakit, susah dan kerugian, semua itu bisa jadi sarana pertumbuhan. Baik juga mengIngat kembali janji nikah kalian.
Pernikahan yang sehat dan bertumbuh diperoleh dengan dua cara: (a) berjiwa lentur, mudah beradaptasi dengan pelbagai perubahan, termasuk menerima situasi-situasi sulit; (b) juga mudah memaafkan kesalahan pasangan. Menyelesaikan luka hati setiap hari, alias tidak menyimpan kemarahan. Lambat untuk marah dan memiliki hati yang besar untuk memaaafkan. Ingat, dalam pernikahan kita dipanggil menjadi advokat alias pembela pasangan.
Ingat dan ucapkan dlm doa sepuluh kelebihan pasanganmu. Sampaikan Terima kasih pada Tuhan untuk keistimewaannya. Fokus pada kelebihan dan bukan kekurangan pasangan. Saran, lakukan ini setidaknya tiga bulan.
Tulis dan berikan kesepuluh daftar tadi pada istri/suamimu. Lalu ucapkan padanya, katakan betapa engkau bangga kepadanya. Jika perlu, tempelkan kertas itu di dinding kamar kalian.
Sebaliknya, Sadari dan mohon ampun pada Tuhan untuk sepuluh kekuranganmu pada pasangan selama ini. Ambil waktu untuk sampaikan itu pada pasanganmu dan minta maaf dengan tulus. Sebaliknya anda sebagai pasangan, berilah maaf, dan bantu pasangan Anda mengatasi kekurangannya, terima apa yang blm bisa diubah.
Kenali bahasa cinta utama pasangan, apa yang paling dia suka dan berikan sesering mungkin. Coba lihat dari lima bahasa cinta ini, mana yang dia sukai: (a) pujian, (b) sentuhan fisik dan kebutuhan seksual, (c) waktu dan kebersamaan, (d) pelayanan, (e) pemberian. Rencanakan dan berikan padanya dengan sukacita. Kalau belum tahu, silahkan diskusi dengan si doi.
Rajin mengucapkan Terima kasih pada pasanganmu bahkan untuk kebaikan terkecil pasanganmu. Misal, ketika diberikan minuman di pagi hari. Saat pasangan mengantar engkau belanja, dsb.
Bangun "kekitaan" dalam perkawinan. Misal saat berkata tentang anak bilanglah "anak kita". Demikian juga dengan uang katakan "uang kita", "ortu kita", "adik kita", dll. Kikis keakuan, rela berkorban demi pasangan. Pernikahan adalah sebuah sistem yang dibangun dengan kekitaan, punya rasa memiliki yang besar.
Sediakanlah waktu istimewa sesering mungkin untuk makan bersama dan ngobrol sebebas dan sepuasnya. Terkadang menonton bersama. Paling baik, ngobrollah bentar sebelum tidur, dan sampaikan perasaan-perasaanmu. Kebahagiaanmu. Hindari bawa pekerjaan lembur ke rumah.
Rancang waktu libur dan rekreasi, menikmati waktu santai bersama. setidaknya pada waktu libur panjang. Kalau tidak mungkin ke tempat yang jauh, cari pusat rekreasi terdekat tapi asyik dinikmati berdua. Seru, kan?
Jika Anda meramu dengan baik, setiap hari dan setiap saat hal-hal di atas semoga keintiman makin meningkat dengan pasangan. Orang pertama yang akan menikmati keindahan itu adalah anak-anak di rumah.
Semoga bermanfaat.
 
Julianto Simanjuntak


Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com

Minggu, 13 April 2014

Tukang Omong

TUKANG  OMONG
(Serpihan-Serpihan Kisah Yang Tercecer)
     
          Belum lama ini (Minggu, 06 April 2014) saya berjalan-jalan di Minahasa Tenggara (Mitra) dan ketika hendak kembali ke Manado, saya menyempatkan diri  untuk singgah  membeli buah salak di sebuah kios. Sejenak saya tertegun membaca tulisan pada dinding warung itu, "Jangan percaya kepada tukang omong."  Dalam hati saya berkata, "Oh menjelang Pemilu biasanya banyak tukang omong."
          John Bunyan (1628 – 1688) penulis buku legendaris, "The pilgrim's Progress" menceriterakan kepada kita mengenai  makna  talkative (tukang omong). Tulisnya,  "Dia adalah orang suci di negeri asing dan iblis dalam rumah." Banyak orang berbicara dengan sopan kepada orang asing dan mengotbahkan kasih serta kelemahlembutan, tetapi membentak dengan rasa tak sabar dan jengkel dalam rumahnya sendiri. Kita tahu bahwa ada seseorang yang berbicara dengan sikap murah hati pada suatu pertemuan keagamaan, tetapi kemudian ke luar menghancurkan reputasi orang lain dengan lidahnya dengan rasa kebencian.
          Bagi orang Jawa, "tukang omong" disebut   sebagai mitro nggedebus  atau  kakehan cangkem. Kalau orang Manado menyebutnya sebagai  mulut  babusa atau  mulut karlota. Memang, "tukang omong"  tidak menduduki  "tempat yang terhormat" dalam masyarakat.
          Maka tidak mengherankan jika peribahasa, "tong kosong berbunyi nyaring" atau " Air beriak tanda tak dalam" sangat popular untuk menyudutkan si  "tukang omong" yang kadang-kadang hanyalah omong kosong.  Dan pada gilirannya, kebanyakan masyarakat memuji orang-orang yang diam, "Silent is golden!" Lantas kita bertanya, "Apakah sikap diam itu benar-benar emas?"
 
Kamis, 10 April 2014   Markus Marlon



Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com

Senin, 07 April 2014

Capek Dech

CAPEK  DECH!!
(Serpihan-Serpihan Kisah Yang Tercecer)
     
          Beberapa tahun yang lalu (± 1996-an), saya pernah menjadi pastor bantu – memang  sih kalau salah ucap jadi pembantu pastor  –  (sekarang istilahnya lebih  keren yakni pastor rekan) di sebuah paroki. Waktu itu saya didhapuk atau  ketiban sampur untuk menangani Media Paroki. Tentu saja dengan semangat yang berkobar-kobar saya menerima tugas itu. Edisi pertama, luar biasa tanggapan dari kalangan umat. Mereka mengagumi  Media yang berbentuk majalah bulanan itu. Ini yang membuat  crew makin bersemangat. Crew  ini juga makin kompak. Runtang-runtung  kesana-kemari meliput kegiatan paroki.
          Edisi kedua, ketiga masih semangat. Tetapi ketika memasuki edisi ke empat, pujian atas  Media paroki mulai menghilang. Yang dulu dipandang sebagai hal luar biasa, kini menjadi hal yang biasa. Apalagi ketika saya berkunjung ke keluarga-keluarga,  ternyata Media Paroki yang kami buat masih menumpuk di meja ruang tamu,  bahkan belum dibuka plastiknya. Kami menjadi loyo!
          Akhirnya crew mulai kadang muncul lagi di "Kantor  Media Paroki."  Deadline  mulai tidak diindahkan dan terbitnya pun mulai tidak tepat waktu. Bahkan salah seorang  crew berkata, "Masak kerja berbulan-bulan cuma kerja bhakti. Capek dech!!"  Dugaan saya, paroki-paroki yang dulu pernah memiliki Media – barangkali – kini tinggal kenangan saja.
          Memang benar kata pepatah, "Yang baru selalu indah dan menyenangkan,"  misalnya,   mahasiswa baru, pengantin baru, karyawan  yang baru diangkat menjadi pegawai tetap. "Nil novi sub sole" – tidak ada yang baru di bawah matahari, demikian kata pengkhotbah (Pkh 1: 9). Dan peristiwa-peristiwa semacam itu tentunya berulang dalam sejarah. Ketika Alexander  The Great (235 – 323 seb. M  ) raja Macedonia itu ingin menguasai dunia, setiap kali menduduki satu negeri ia disanjung dan dipuji (misalnya di kota Alexandria). Tetapi setelah beberapa bulan pujian mulai menghilang, Sang Penakluk akhirnya pergi lagi mencari koloni baru dan seterusnya. Selang beberapa tahunm dia mati bukan karena berperang namun karena kelelahan,  "Capek dech!!" (Bdk. Cerita wayang dengan judul, "Pandawa Swarga"). Sejarah memang berulang,  "L'histoire se répète"
          Mengelola sebuah Media untuk zaman muthakhir memang  gampang-gampang susah atau susah-susah gampang.  Sang pengelola harus bermental baja. Awalnya suatu pekerjaan itu dilihat sebagai  job, yang tentunya seperti tugas dan kewajiban. Kemudian, pekerjaan atau tugas menjadi suatu  career yang tentu melaluinya orang dapat naik pangkat dan dipromosikan. Lantas, mengelola  Media (apalagi – maaf – milik paroki, tarekat maupun Keuskupan) perlu didasarkan pada vocation atau calling (panggilan).  Dari situlah seseorang yang mengelola  Media akan merasa bahagia dan ada passion.  Meskipun tidak ada yang memuji atau pun tidak ada yang membaca serta melihat YouTube yang dibuat, ia akan mengerjakan dengan suka cita dan penuh gairah, passion. Ia akan mengerjakan seperti apa yang pernah dikatakan Mother  Teresa (1910  – 1997), "In this life, we cannot do great things. We can only do small things with great love."
          Usul saya, ketika seseorang mengelola media seperti: bulletin, majalah bulanan atau media elektronik seperti: renungan harian, YouTube, film-film singkat perlu memiliki  "hati yang lapang".  Ia sudah layak dan sepantasnya rela untuk tidak dihargai dan  ikhlas jika hasil karyanya ternyata   tidak dibaca atau pun dilihat. Dengan mental seperti ini, maka kalau kita tidak  dianggep,  maka tidak akan muncul kata-kata, "Capek dech!!"
 
Jumat, 04 April 2014   Markus Marlon

Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com

Minggu, 06 April 2014

Kejutan-kejutan cinta

Kejutan-kejutan Cinta

Tujuh tahun lalu, di jalan tol usai pulang dari sebuah acara, Witha dengan suara bergetar berkata: "Pa, thanks ya di acara tadi, kau rangkul aku di depan orang banyak... seperti di Sorga rasanya.." Ha ha ha, saya merasa geli dengan ungkapan istri saya, tapi yah.. begitulah cara istri saya menghargai wujud cinta sederhana. Dia sangat pandai menghargaiku. Maklum, saya bukan tipe suami yang romantis. Sesekali menunjukkan wujud cinta, menjadi super istimewa bagi istri. Teman, bagi kekasih kita banyak hal biasa menjadi sebuah kejutan cinta. Pasangan kita terutama istri tak cukup ungkapan cinta, tapi wujud cinta yang nyata.

Ada beberapa wujud cinta lain yang bisa menjadi kejutan cinta bagi pasangan:

Pertama, tulislah sepenggal puisi saat ulangtahun pasangan tercinta. Ungkapan cinta seperti dulu masih pacaran, bahkan ungkapan perasaan cinta yang lebih dalam.

Kedua, transferlah sejumlah uang yang dibutuhkan istri tapi dia belum memintanya. Atau memberikan uang lebih dari yang ia harapkan. Tentu jika kita bisa melakukannya.

Ketiga, bagi istri, bersiaplah melayani kebutuhan seks suamimu. Ready meski tak diminta. Dengan pakaian yang khusus atau berinisiatif lebih dulu. Sesuatu yang tidak biasa, akan terasa istimewa.

Keempat, ajaklah pasanganmu berlibur ke tempat yang istimewa. Tak harus jauh atau mahal, tetapi pasanganmu tahu benar anda jarang mau bepergian berdua.

Kelima, menyiapkan makanan kesukaan suami pada saat anda sedang sangat sibuk. Tapi menyempatkan memasak buat pasangan. Bisa juga membelikan oleh-oleh kesukaan pasangan usai pulang dari satu tempat.

Keenam, rela menunda kesibukan atau siap cuti saat pasangan kita sakit dan sedang membutuhkan kehadiran kita di rumah atau di rumah sakit.

Ada banyak wujud cinta lainnya yang menjadi kejutan istimewa bagi pasangan, seperti memuji pasangan pas kita berbicara di depan banyak orang. Dengan kejutan-kejutan cinta ini akan membangun hubungan kita lebih intim. Perasaan memiliki akan semakin kuat. Perasaan dicinta akan membangun harga diri yang sehat dan menjadi benteng stres yang positif.

Akhirnya, kejutan-kejutan dari wujud cinta Anda membuat pasangan merasa bahagia dan membantunya lebih produktif dalam pekerjaannya.
 
Julianto Simanjuntak


Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com

Kamis, 03 April 2014

Kebersamaan Yang Hilang

Kebersamaan yang hilang

Masyarakat kita makin lama, makin sakit. Komunikasi yang bermakna menjadi sulit ditemui. Padahal kebersamaan adalah sarana menikmati indahnya keluarga. Kini itu meluntur seiring hadirnya "permainan" dan sarana komunikasi baru yang canggih: ponsel, Blackberry, facebook, e-mail, twitter, televisi, dan sebagainya. Semua ini dapat menggoda kita meninggalkan wadah  komunikasi tradisional seperti main ular tangga atau ngobrol. Kita juga kehilangan suasana yang membuat ayah dan anak, suami dan istri bisa berkomunikasi, sembari minum teh hangat dan makan pisang goreng.

Tak ada yang salah dengan semua alat komunikasi tersebut. Bahkan terkadang kita amat membutuhkannya untuk mempercepat komunikasi. Yang bermasalah adalah cara, waktu dan sikap kita dalam menggunakannya.
Dari beberapa percakapan dengan klien dan teman, ada fenomena menarik. Di antaranya anak-anak merasa makin tidak didengarkan orangtua. "Mamaku nggak bisa lepas dari blackberry-nya," kata seorang anak usia 7 tahun kepada kami. "Mama itu kalau sudah BBM-an dengan Tante Santi.. wah, jangan diganggu, deh. Konsentrasinya bisa terganggu dan kita dapat marah besar!"

"Papaku lain lagi," celetuk Danny. "Kalau papa sudah ngobrol di webcam dengan Om Bobby ... aku sama Ita disuruh jauh-jauh. Kami tidak boleh bersuara. Kata papa, Om Bobby di Amerika itu teman bisnis papa. Kalau kami ribut, suara Om Bobby nggak kedengaran dengan baik. Padahal, papa kan sudah seharian kerja di kantor. Kami juga mau cerita-cerita dengan dia, seperti temanku Kevin dengan papanya. Tapi.. yah.. papaku sibuk terus.."

Tanpa sadar orangtua telah kehilangan kesempatan  asyiknya memandang wajah anak. Lebih enak memandang wajah politisi yang sedang membahas masalah negara di televisi atau menonton sinetron favorit. Beberapa anak mengeluh karena ayahnya sibuk sekali jika diminta main gelutan, petak umpet, bercanda atau cerita. Tentu ini hanya beberapa fenomena yang terekam di ruang konseling.

Relasi Orangtua-Anak

Bagaimana cara membangun hubungan harnomis antara orangtua dan anak sudah sangat banyak dibahas. Tulisan ini bermaksud menolong ayah dan ibu yang semasa menjadi anak merasa diabaikan orangtuanya juga. Akibatnya dia tidak punya pengalaman dan cara untuk membuat anak-anaknya nyaman di dekatnya. Ketrampilannya berkomunikasi dengan anak menjadi miskin. Sayangnya itu cenderung diadopsi juga oleh anak-anaknya. Demikian seterusnya.

Tidak ada lagi hal yang mudah jika segala suatunya sudah telanjur, termasuk memperbaiki relasi yang pernah dirusak oleh sakit hati dan pengabaian. Karena itu, sebelum pengalaman pahit ini berlanjut ke anak-cucu, orangtua perlu menetapkan hati: biar sampai di saya saja; jangan dialami lagi oleh anak-anakku.

Membuka Perasaan

Bagaimana memperbaiki perasaan yang pernah terluka oleh perlakuan orangtua?

Pertama kita perlu mengakui perasaan kita secara jujur. Jika di sekitar kita ada profesional helper (misalnya konselor), tentu sangat baik. Jika tidak, baiklah kita mengatakan sakit hati itu kepada Tuhan lewat self talk. Jangan dipendam atau dimanipulasi dengan mengatakan, "Sudah mengampuni" atau kata-kata semacamnya - padahal masih terasa sakit. Belajarlah mengungkapkan perasaan Anda dengan jujur.

Saat ini, tidak mudah menggali dan mengenali perasaan terdalam kita. Jika beberapa waktu lalu kita terbiasa mengirim pesan kepada anggota keluarga lewat catatan di pintu kulkas atau whiteboard, belakangan ini orang makin terbiasa berkomunikasi di dunia maya. Pesan diungkapkan dengan singkat lewat SMS atau BBM, tidak perlu bertemu, tidak perlu tatap muka. Tetapi ungkapan rasa dalam kata menjadi terbatas.

Memang dunia maya  mengajak kita menulis apa yang kita pikirkan dalam status di facebook, twitter, atau blackberry messenger. Tapi tanpa disadari kita komunikasi itu dangkal, tidak lebih dari sekedar katarsis. Agar mampu menggali perasaan terdalam kita perlu waktu untuk "berenang" di kedalaman hati kita.

Kedua, kita perlu memahami bahwa kesulitan kita berkomunikasi dengan anak-anak yang kita cintai bisa jadi disebabkan kita pun dulu kehilangan kesempatan mempelajari hal-hal ini dari ayah-ibu kita. Padahal, kehadiran orang yang mendengarkan kita akan membuat kita merasa berarti dan dihargai. Inilah yang diinginkan anak-anak kita dari orangtua mereka. Karena itu orangtua mesti waspada jangan sampai mengabaikan anak-anak.

Kekayaan Jiwa

Bagaimana cara kita memahami bahwa kita memiliki kekayaan ini? Indikasinya adalah munculnya gairah dan sukacita saat bersama. Komunikasi yang sehat menularkan optimisme dan harapan. Ada kesediaan mendengarkan aktif dan pandangan mata yang bermakna. Anak-anak merasakan bahwa papa-mamanya benar hadir dan peduli pada mereka. Mereka merasa aman, nyaman, dan berarti. Orangtua pun merasakan hal yang sama.

Kesukaan ini akan terbawa dalam pekerjaan dan pelayanan kita. Anda makin kreatif, produktif dan menjadi berkat. Tentu di akhir tahun yang baru lalu kita sudah melakukan evaluasi bersama. Apa yang kita temukan? Apakah anak dan pasangan kita merasakan indahnya kebersamaan di dalam keluarga? Jika tidak maka belum terlambat untuk mengambil tekad untuk kembali kepada keluarga kita. Kita perlu mengutamakan anak-anak dan pernikahan kita. Sebab Tuhan menyelamatkan kita di dalam dan melalui keluarga. Di sanalah anak-anak pertama-tama merasakan dan mengenal kasih Tuhan.

Julianto Simanjuntak
Penulis "Mencinta Hingga Terluka" (Gramedia)


Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com

Rabu, 02 April 2014

Munafik

MUNAFIK
(Serpihan-Serpihan Kisah Yang Tercecer)
         
          Belum lama ini (Minggu, 30 April 2014), saya mendengar celotehan orang-orang yang sedang bertengkar di mikro (sebutan untuk angkutan umum di Minahasa, mungkin seperti mikrolet atau  opelet), "Eh ngana jang munafik, pura-pura suci" – eh, kamu jangan munafik, berpura-pura saleh.
          Kata munafik itu berasal dari bahasa Arab  munāfiq yang berarti  "lain mulut lain di hati."   Di depan memuji tetapi ternyata menusuk dari belakang. Itulah sebabnya dalam bahasa Inggris,  kata  "hypocrite"  berarti bermuka dua atau lidah biawak. Ngeri amat  sich!  Kemunafikan dalam penerapannya terdapat dalam pepatah-petitih yang berbunyi, "wolf  in sheep's clothing" – serigala  berbulu domba.
          Kata Munafik aslinya dari kata Yunani  hupokritēs  yang berarti: orang yang menjawab.  Kemudian hari berubah menjadi kata yang terkait secara khusus dengan pernyataan dan jawaban dalam dialog di atas panggung dan ini merupakan kata Yunani yang umum, yang artinya seorang  actor  (Bdk.  William Barclay dalam bukunya yang berjudul,  "Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Injil Matius ps. 1 – 10"  hlm. 457).
          Kemudian, artinya berubah lagi yaitu seorang  actor yang maknanya sangat buruk yakni  seorang yang berpura-pura atau orang yang bermain sandirwara atau orang yang memakai topeng atau kedok untuk menutupi perasaan hatinya yang sebenarnya.  Maka tidak heranlah, jika ada orang yang munafik akan ditegur temannya, "Kamu jangan memakai kedok yah!  Terus-terang saja jangan  plin-plan."  Atau saat ini banyak  badut politik – yang ber-pantomim  –  artinya memberi janji-janji ketika kapanye. Apa yang dikatakan – mungkin – tidak sama dengan apa yang ada di hatinya.
          Dalam syair lagu yang berjudul,  "Panggung Sandiwara"  dilukiskan bahwa setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan.  Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura.  Barangkali peran  "yang berpura-pura" itu menurut Achmat Albar adalah orang yang  munafik.
 
Rabu, 02 April 2014   Markus  Marlon
        

Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com

Jumat, 28 Maret 2014

Jabatan Istimewa

Jabatan Istimewa dan Tak Tergantikan

Seorang penulis kenamaan, James Dobson mengatakan, "Dari semua gelar yang pernah diberikan kepada saya, gelar yang paling saya sukai hanyalah Ayah." Penegasan Dobson ini menarik untuk diperhatikan, khususnya kita para orang tua.

Ada begitu banyak gelar dan jabatan yang memikat hati kita. Untuk jabatan dan gelar seperti sarjana hingga doktor kita berani menginvestasikan waktu, uang, tenaga, dan emosi. Namun untuk keluarga, anak-anak dan pasangan, sering tenaga dan emosi kita sudah habis. Kita hanya bisa menyisakan dan bukan menyediakan waktu (terbaik) kita.

Seorang Ibu dengan enam belas anak, pernah mengatakan, "Saya memberikan satu jam waktu terbaik saya untuk setiap anak setiap minggunya. Pada waktu-waktu itu saya mengajak mereka ngobrol, curhat dan berdoa untuk mereka." Ibu tersebut bernama Susana Wesley yang melahirkan tokoh besar seperti John dan Charles Wesley.

Keluarga, Sumber Sukacita
Keluarga dan anak-anak sesungguhnya suatu mukjizat. Anak-anak adalah milik pusaka dan istri kasih karunia. Anak-anak tidak hadir secara kebetulan. Di dalam dan melalui mereka, kita boleh menikmati anugerah Tuhan berupa kekuatan, sukacita dan penghiburan Ilahi.

Keluarga adalah mukjizat yang bisa kita rasakan setiap hari. Kita bisa menikmati senyuman, candaan, sapaan, pujian hingga kritikan membangun. Kita juga merasakan pelukan, ciuman, pangkuan hingga suasana makan bersama penuh kekeluargaan. Suasana ini sungguh istimewa dan tak tergantikan.
Pekerjaan kita lainnya, apakah sebagai guru, pejabat, hingga menteri atau presiden sekalipun banyak yang bisa menggantikan. Namun jabatan kita sebagai Ayah dan atau Ibu, Suami dan atau Istri tak tergantikan.

Sungguh, tidak tergantikan.
Kehadiran Tuhan terasa banget dalam relasi kita dengan anggota-anggota keluarga. Lihat saja, setiap bertemu kenalan baru atau lama, biasanya yang pertama-tama yang akan mereka tanyakan kepada kita adalah, tentang anggota keluarga kita. Apakah kita sudah menikah; berapa anak kita; berapa cucu, dsb. Mereka tidak akan pertama-tama menanyakan, berapa banyak uang atau berapa tinggi gelar atau jabatan kita. No!

Karena istimewanya keluarga, anak dan pasangan layaklah kita menjadikannya sumber sukacita dan kebahagiaan. Merka membantu kita bersyukur dan mengagumi Tuhan setiap hari. Lewat pengalaman bersama keluarga, baik positif atau negatif, suka atau duka, cukup atau kurang, sering kita mendengar suara dan teguran Ilahi. Di dalam keluargalah kita menikmati pertumbuhan hidup, makin mengenal kemanusiaan kita dan rencana Tuhan untuk masa depan pribadi dan keluarga kita.

Lagi pula, di dalam dan melalui keluargalah dilahirkan dan dibesarkan orang-orang besar dan berguna. Para tokoh, pejuang, pahlawan, pemimpin dan pelayan masyarakat juga lahir dari sebuah keluarga.

Saudara, kita boleh saja menjadi orang biasa-biasa saja saat ini. Tapi kita belum tahu bagaimana kelak keadaan anak-cucu kita. Seratus, empat ratus tahun mendatang, mungkin saja dari keturunan kita akan lahir orang besar yang Dia pakai memberkati bangsa. Lihat Obama, mungkin sekali nenek moyangnya tidak menduga akan ada generasi mereka menjadi Presiden Amerika Serikat.

Oleh karena itu mari kita investasikan waktu dan energi serta emosi terbaik bagi pasangan dan anak-anak. Jadikan mereka sebagai poros dari semua aktifitas kita lainnya. Jangan biarkan satu kegiatan atau jabatan apapun, termasuk pelayanan rohani, merusak atau merugikan keluarga kita. Jangan demi uang kita korbankan masa depan anak-anak dengan mengabaikan mereka.

Terlalu mahal anak-anak untuk kita sia-siakan. Terlalu berharga jika keluarga kita korbankan demi gengsi dan materi. Apalagi mengingat, hanya keluargalah yang kelak akan kita "bawa bersama" dalam kekekalan. Menghadap pengadilan Tahta Ilahi. Semua lainnya, uang, rumah, jabatan, pangkat, gelar, tanah, emas, dsb akan kita tinggalkan di bumi. Sadarkah kita akan hal ini?

Oke, mulailah dengan merancang kelender keluarga. Kapan Anda akan menghabiskan waktu bersama pasangan dan anak-anak setiap minggunya, meski hanya 10 hingga 15 menit. Rencanakan kapan ada waktu lebih banyak, misalnyadi akhir pekan, usahakan makan bersama dll. Juga menyusun kalender liburan keluarga, seperti masa liburan sekolah atau hari raya nasional. Kenali dengan baik bahasa cinta pasangan dan anak-anak Anda. Rancanglah memberikannya secara rutin, agar mereka merasa dicintai dan tanki cinta mereka penuh terisi.

Anugerah-Nya Melampaui Kegagalan Kita
Namun andaikata saat ini perkawinan kita pernah atau sedang gagal atau bermasalah; atau anda merasa kecewa dengan kondisi anak-anak dan pasangan, janganlah berkecil hati. Carilah bantuan, dan belajarlah dari pengalaman.

Kita boleh gagal, tetapi rencana Tuhan untuk anak-anak dan keturunan kita tidak bisa digagalkan siapa pun. Dia akan terus mengerjakan rencana-Nya yang indah dan masa depan yang penuh harapan. Ini bukan janji kosong. Ada beberapa orang besar dan berguna lahir dari keluarga broken home.
Ini semua menyadarkan kita, bahwa anugerah Tuhan melampaui kelemahan, kesalahan, kegagalan dan ketidak sempurnaan kita, baik sebagai Ayah atau Ibu, juga sebagai pasangan bagi suami/istri kita.

Apapun keadaan keluarga kita saat ini, izinkanlah Sang Pembentuk lembaga keluarga, terlibat dan campur tangan. Dia sanggup memulihkan keluarga kita yang retak dan rusak. Kita memang tidak berdaya mengubah generasi yang di atas kita, tetapi kita bisa mempengaruhi (secara positif) generasi yang di bawah kita.

Jadikan kegagalan perkawinan orangtua kita sebagai pengalaman berharga. Sebab kita tahu, Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang percaya akan rencana kasih-Nya.
Semoga refleksi ini memberkati kita semua.
 
Julianto Simanjuntak
Sumber Buku "Ketrampilan Perkawinan"
Follow segera @JuliantoWita untuk mendapatkan FREE E-Book "Seni Pemulihan Diri", sarana self-healing


Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com