Jumat, 25 Juli 2014

Pasien

PASIEN
(Mencari Makna sebuah Peristiwa)
 
 
          Bulan yang lalu (19 Juni  2014) di RS Panti Rapih – Yogyakarta, saya melihat ada beberapa pasien sedang menunggu giliran ketemu dokter. Dari air muka yang saya lihat, semua murung-murung namun mereka semua sabar menunggu. Kemudian saya bertanya mengapa pasien itu sabar menunggu berjam-jam di ruang tunggu. Suster itu yang namanya Sr. Paulina CB (9 September 1963 – sekarang) berkata, "Pasien khan artinya sabar. Lihat saja apa arti  be patient,  bersabarlah!"  
          Untuk beberapa saat, saya belum begitu puas dengan jawaban suster itu. Pikiran saya kemudian melayang-layang  pada peristiwa penderitaan (paskhein, bahasa Yunani yang berarti menderita) Kristus menjelang Paskah. Memang Pesta Paskah adalah peringatan bangsa Yahudi lepas dari perbudakan di Mesir (exodus).  Dan dari sana Tuhan lewat (Paskah) karena melihat pintu yang sudah menjadi tanda. Di sana tidak ada kematian.
 Tiga hari menjelang Paskah, Yesus mengalami penderitaan secara sempuna. Ia dikhianati dan ditinggalkan para murid dalam kesendirian, bahkan merasa ditinggalkan oleh Bapa-Nya di taman Getsemani. Yesus disesah dan melakukan jalan salib,  via dolorosa dan akhirnya disalib. Gregorius Agung, penulis Regula Pastoralis memberi arti baru pada sakitnya kaum beriman berdasarkan penderitaan Kristus. Orang yang sakit dimohon untuk menjadi sabar (be patient) dengan memandang Yesus yang telah menderita banyak.
Di sini dapat kita pahami bahwa seorang pasien yang antri – dengan sabar – atau yang sedang rawat inap adalah orang-orang yang menderita (paskhein). Untuk itu, para pasien itu memiliki keinginan untuk dikunjungi dari sana saudara atau kerabat dekat bersimpati terhadap sang pasien. Secara harfiah simpati berasal dari kata Yunani, syn yang berarti bersama dengan dan  paskhein berarti menderita. Jadi simpati memiliki makna mengalami hal-hal bersama dengan orang lain (Willian Barclay dalam bukunya yang berjudul  "Memahami Alkitab Setiap hari Injil Matius"  hlm. 171).
 Mereka yang sakit (paskhein, pasien) itu belum tentu sabar (be patient). Mereka ingin segera cepat-cepat sembuh, bahkan mungkin sudah bosan dengan penyakitnya (tidak sabar). Namun karena diri mereka sakit (paskhein), mau tidak mau harus sabar (be patient)  antri dipanggil untuk diperiksa oleh dokter. Semoga dengan menjadi pasien yang sabar itu, ia lekas sembuh!
 
Jumat, 25 Juli 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Jumat, 18 Juli 2014

Beda

BEDA
(Mencari Makna sebuah Peristiwa)
 
 
          Ketika hendak "nyekar" (menabur bunga atau  kembang atau sekar) di makam ayah yang terletak di Pegunungan Gunungkidul, Yogyakarta ( 23 Juni 2014), kami sekeluarga meluncur dengan  Innova rental. Rupanya penumpang satu  mobil itu sudah memiliki calon presiden masing-masing. Namun ternyata di  dalam mobil itu semua adalah fanatik Jokowi-JK. Dalam perjalanan, kami semua diam. Kadang-kadang  nyeletuk  kata-kata pujian untuk Jokowi. Hanya itu.
         
          Tetapi setelah kembali dari makam menuju Yogjakarta menumpanglah  ipar saya yang adalah  pengagum berat Prabowo-Hatta. Ipar saya ini mulai membicarakan visi-misi capres no urut 1. Nah dalam suasana seperti ini, perjalanan kami menjadi "hidup" dan semangat. Dua kubu yang tidak seimbang – satu dikeroyok tujuh orang – itu semakin memanas. Perjalanan yang panjang menjadi begitu singkat karena ada perbedaan. Dan ternyata, perbedaan itu indah.
 
          Perbedaan itu tidak selamanya berbahaya.  Bahkan keanekaragaman sangat memperkaya orang. Coba bayangkan jika dalam setiap pertemuan, diskusi atau  meeting tidak ada perbedaan pendapat atau tidak ada oposisi, maka sidang, diskusi atau meeting pun  akan mati. "Berlainan pendapat akan selalu ada." Bung Karno (1901 – 1970)  pernah mengatakan bahwa masalah perbedaan pendapat itulah yang membawa kita kemajuan, "Du choc des opinions jaillit la veritte" kata orang Prancis yang berarti: dari pergesekan berlainan pendapat inilah timbul kebenaran.
 
          Jika kita mundur ke belakang lebih jauh, pada masa sebelum Renaissance, kita mengenal seorang  ningrat  bernama Medici di Italia. Ia justru mengumpulkan para pemikir dari berbagai bidang ilmu dengan pandangan yang berbeda-beda agar dapat menemukan berbagai solusi tajam atas permasalahan yang kompleks yang sudah terjadi menjadi masalah klasik.  Selain itu ada F. Scott Fitsgerald  yang pernah menulis bahwa individu yang berpegang pada dua ide bertentangan, mempertahankan  bahkan menahan ketegangan dari konfliknya, kemudian menjalankan fungsinya dengan efektif adalah orang yang benar-benar intelek. Merangkul ide-ide yang berbeda membutuhkan perjuangan yang tidak mudah.
 
          "Berani berbeda" adalah ungkapan yang sering kita dengar. Kita menginginkan sesuatu yang berbeda, yang lain dalam hidup ini. Orang bisa sukses karena berbeda, sebagai contoh adalah  Tukul Arwana, yang memiliki ciri khas dan tiada duanya. Kini ia menjadi pembawa acara entertainment papan atas dan katanya seorang bintang, belum merasa lengkap kalau belum diwawancarai olehnya dalam Acara "Bukan Empat Mata." Dan jika lebih jauh lagi mencari makna "beda" dapat kita lihat  kata  hagios dalam bahasa Yunani. Kata "kudus" dalam bahasa Yunani ialah hagios yang akar katanya berarti "berbeda." Bait Allah itu  hagios karena berbeda dari bangunan lain. Hari sabat itu hagios karena berbeda dari hari-hari lain.
 
          Memang sejak awal mula, kita ini dilahirkan berbeda. Sebelum kita lahir dan sesudah kita, tidak akan ada yang sama persis  dengan diri kia.  Diri kita adalah unicus, yang berarti satu-satunya dan dengan "sesuatu" yang berbeda itu, kita berkontribusi terhadap alam sekitar.
 
Jumat, 18 Juli 2014   Markus Marlon
         
Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Senin, 14 Juli 2014

Pertolongan

PERTOLONGAN
(Mencari Makna sebuah Peristiwa)
 
          Menyaksikan tengkorak-tengkorak dan peti dalam makam Londa – Tana Toraja (Kamis, 05 Juni 2014), bulu kudukku berdiri ketakutan namun menjadi tenang ketika tanganku dipegang oleh sang guide yang  membawa lampu gas atau petromax. 
          Tangan pembawa lampu gas itu bagaikan Roh Keperkasaan, "Semoga kami Kau kuatkan dengan memegang tangan-Mu yang senantiasa menuntun kami." Dalam dunia zaman sekarang, Pertolongan Tuhan itu diungkapkan dalam  lirik sebuah lagu, "S'lalu baru  dan tak pernah terlambat pertolongan-Mu, besar setia-Mu di s'panjang hidupku…" Memang setiap orang yang dalam derita dan down senantiasa membutuhkan pertolongan Tuhan.
          Saya menjadi ingat akan kisah  "Jejak-Jejak Kaki di Tepi Pantai" tulisan Margaret Fishback (1900 – 1985) yang sudah melegenda itu. Kisahnya demikian. Seorang lelaki tengah baya tidak memahami mengapa justru pada saat sangat membutuhkan Tuhan di tepi pantai, ia merasa ditinggalkan. Tetapi Tuhan berkata, "Anak-Ku, Aku mengasihi engkau dan tidak akan pernah meninggalkan engkau pada saat sulit dan penuh bahaya sekalipun. Ketika engkau melihat hanya ada satu pasang jejak kaki, itu adalah kakiku. Aku menggendong engkau" – When you saw only one set of footprints. It was then that I carried you.
          Pertolongan Tuhan kadang terjadi secara tidak terduga. Bahkan di kala jatuh dalam kekelaman, di sana – nampaknya – Tuhan hadir. "The darkest night is just before dawn" – Malam terasa gelap justru tanda fajar hampir datang. Hal ini pula yang menjadi keyakinan John Baptist de La Salle (1651 – 1719) dalam salah satu kata-kata mutiaranya, "Throw yourself in to God's arms. He will carry you when the road is rough."
Senin, 14 Juli 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Kamis, 26 Juni 2014

Berita Menggelegar

BERITA  MENGGELEGAR
(Serpihan-Serpihan Kisah Yang Tercecer)
 
       Tatkala sedang menikmati indahnya panorama persawahan di desa (19 Juni 2014) saya dikejutkan oleh sebuah berita. Membaca berita yang dikirim pertama kali oleh P. Jimmy Tumbelaka Pr tentang meninggalnya P. Made Miasa Pr pada hari Kamis, 19 Juni 2014 pukul 14.20 di RS Gunung Maria - Tomohon, saya teringat lagu dengan judul, “Bing” yang dilantunkan oleh Titiek Puspa: 
         
          Siang itu surya berapi sinarnya
          Tiba-tiba redup langit kelam
          Hati yang bahagia terhempas seketika
          Malapetaka seakan berlinang.
 
          Berita menggelegar aku terima
          Kekasih berpulang ‘tuk selamanya
          Hancur luluh rasa jiwa dan raga
          Tak percaya tapi nyata.
 
          Berita siang kemarin bagi kebanyakan orang merupakan  “berita menggelegar.”  Umat, sahabat, kenalan Pastor Made saling memberikan ucapan belasungkawa, dukacita ataupun RIP (Requiescat in pace atau  rest in peace).
 
          Kita bersyukur hidup pada zaman tehnologi yang semuanya serba cepat. Kita membayangkan bagaimana berita menggelegar zaman dulu kala. Zaman dulu, berita dikirim secara estafet dari puncak bukit yang satu ke puncak bukit lainnya. Pengiriman berita menggelegar ini berdasar pada  cursus publicus – suatu system pos. Kata  “post” dalam bahasa Inggris berasal dari kata Latin, positus yang berarti ditempatkan. Perkataan ini ada hubungannya dengan kuda-kuda yang ditempatkan pada tempat-tempat perhentian tertentu sepanjang jalan-jalan Romawi. Setiap kandang kuda diperkirakan menyediakan empat puluh ekor kuda. Degan begitu banyak kuda yang tersedua, sepucuk surat dapat menempuk jarak 100 mil sehari. Si pembawa berita – seringkali seorang budak dikenal sebagai  tabellarius. Sebagai tanda pengenal, ia memakai sebuah lencana kecil dari perunggu. Berabad-abad sebelum itu, Cyrus (± 576 – 529 seb. M) Raja Persia adalah penemu dari system pengiriman berita secara estafet. (Bdk. Buku tulisan Charles Ludwig dengan judul,  “Kota-kota pada zaman Perjanjian Baru” hlm. 12).  Bangsa Romawi juga memakai burung merpati untuk pengiriman sebuah berita  (par avion)
 
          Rasa ingin tahu akan sebuah berita sudah menjadi kecenderungan umat manusia. Sementara artikel ini ditulis, kebanyakan kita tetap ingin meng-up date berita menggelegar ini.  Tetapi sebenarnya hal ini bukan barang baru. Konon kabarnya, ketika orang-orang Athena saling berjumpa di pasar atau  agora, maka kata pertama yang mereka lontarkan ialah, “Ti kainon?” – masih ada kabar baru?  Kita pun setiap membuka percakapan selalu mengatakan, "Halo apa kabar?” Kita merupakan bangsa yang ingin tahu, well-informed (buku tulisan Dick Hartoko dengan judul, “Tanah Airku dari bulan ke bulan” hlm. 64).
 
          Dengan berita yang mengejutkan serta menggelegar ini, saya dari jauh berdoa bagi sahabat dan kakak kelas saya.  
 
Jumat, 20 Juni 2014   Markus Marlon
         
 


Rabu, 25 Juni 2014

BAGAN
(Serpihan-Serpihan Kisah Yang Tercecer)

Ketika menunggu di Ruang Tunggu pada sebuah kantor di bilangan
perkantoran Palopo (Senin, 09 Juni 2014), saya melihat ada sebuah
bagan yang indah dalam ruang direktur. Bagan itu tertulis rapi, jelas
dan masing-masing kolom dan garis komando serta garis konsultatif
menunjukkan betapa teraturnya mekanisme kantor tersebut.

Tetapi ketika saya mencermati tulisan-tulisan dalam bagan
itu secara seksama, salah seorang staff direksi berkata, "Saudara!!
apa yang saudara baca itu semua hanya teori belaka dan dalam
prakteknya amburadul."

Jika kita memasuki sebuah kantor sekretariat (perusahaan,
sekolah-sekolah maupun Rumah Sakit), di sana terpampang bagan-bagan
yang - mungkin - berisikan: struktur organisasi, personalia, mekanisme
kerja atau statistik. Bahkan sering kita temui ada bagan yang sudah
kadaluwarsa dan entah karena apa belum juga diperbaharui juga. Melihat
itu semua, bagan-bagan tersebut ibarat manusia yang tidak memiliki roh
atau jiwa, zombie.

L'histoire se répète, sejarah berulang. Pada akhir abad ketiga, Kaisar
Diokletianus - lengkapnya Gaius Aurelius Valerius Diokletianus (245 -
312) - ingin menyelamatkan kerajaan Roma dari keruntuhan, maka ia
menciptakan sebuah organisasi baru, system atau bagan baru yang antara
lain untuk mengamankan penggantian tahta. Tetapi ketika ia
mengundurkan diri, mekanisme baru yang seharusnya melancarkan dan
menghaluskan kenaikan seorang kaisar baru ternyata macet dan
berkobarlah kembali perang-perang saudara, perebutan mahkota
kekaisaran (Buku yang berjudul, "Tanah Airku dari Bulan ke Bulan"
tulisan Dick Hartoko hlm. 52).

Dari kisah tersebut di atas, kita bisa memahami betapa pentingnya
semangat pelayanan dari seluruh komponen yang berkarya di tempat
tersebut. Kita sering mendengar adagium tentang leadership dalam
suatu perusahaan atau lembaga bunyinya, "Gauverner c'est prevoir" -
memerintah yakni melihat ke depan atau seperti yang dikatakan
Agustinus (354 -430), "Non tam praeesse quam prodesse" - bukan untuk
memerintah tetapi untuk melayani. "Memerintah" dalam hal ini muncul
dalam "garis komando." Seorang pemimpin yang hanya memerintah dan
memerintah, tentu bukan menjadi "roh" dari bagan tersebut. Bagan
hanya sebuah kulit atau wadah tetapi yang lebih penting adalah isinya.
Tanpa semangat dan jiwa, maka segala bagan dan wadah tersebut tetap
tinggal barang-barang mati saja. Skema-skema menghiasi dinding-dinding
rapat, "Tetapi bagaimana follow up-nya?" Tanpa jiwa dan semangat,
skema-skema itu tinggal kerangka tulang-tulang saja.

Saya terkesima dengan motto R.S. Bintang Laut Jl. K.H. M. Kasim no. 5
Palopo (Sulawesi Selatan) yang berbunyi, "Servire in Caritate" -
Melayani dalam semangat kasih. Setiap bagan yang saya baca dari setiap
unit karya terpampang tertulis suatu semangat: melayani dengan tulus
dan sense of belonging dan hospitality atau keramahtamahan.

"At home" itulah yang - barangkali - yang perlu dialami oleh setiap
staff dan karyawan. Orang merasa dihargai yang menurut orang Jawa,
"Diwongke!" Mekanisme kerja menggunakan pendekatan hati dan ini
merupakan jiwa atau roh dari bagan-bagan tersebut. Jika demikian maka
tempat kerja merupakan tempat yang sangat dirindukan. Orang akan
merasa nyaman dan damai tinggal di dalamnya.

Kamis, 19 Juni 2014 Markus Marlon


--
Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com

Sabtu, 31 Mei 2014

Menjelekkan

MENJELEKKAN
(Serpihan-Serpihan Kisah Yang Tercecer)
         
          Ketika saya sedang berenang di pantai Kilo Lima Luwuk – Sulawesi Tengah (Kamis, 29 Mei 2014), ada seorang anak kecil menangis tersedu-sedu. Kemudian saya bertanya mengapa menangis. Jawabnya adalah karena dirinya dijelek-jelekkan oleh temannya. Mendengar kata-kata anak kecil itu, pikiranku langsung melambung jauh memasuki lorong-lorong waktu beberapa tahun yang lalu, bagaimana nama saya dijelek-jelekkan. Memang menyakitkan!
          Setiap orang tentu pernah dijelek-jelekkan atau difitnah. Dan – sialnya – sasaran kejelekan itu adalah nama diri kita. Kalau orang menjelekkan gigi saya yang tongos atau tangan saya yang ada panunya tidak masalah. Tetapi jika orang lain sudah menjelekkan nama diri, maka akan berakibat lain. "Nomen est omen" – Nama adalah pertanda. Dalam sebuah nama selalu terkandung sebuah harapan baik. Tidak mengherankan jika nama baik itu senantiasa dijunjung tinggi. Lihat saja berapa kasus tentang "pencemaran nama baik" yang sering masuk dalam media.
          Dalam dunia politik, menjelekkan orang lain bisa disamakan dengan black campaign atau kampanye hitam. Kampanye hitam sebenarnya semacam gosip, hanya ini dilontarkan dalam rangka perebutan kedudukan, posisi dan kesempatan serta kepentingan pribadi/ kelompok. Kata-kata (whispering campaign)  yang dilontarkan lawan politiknya mampu menembus benteng atau geladak kapal  yang paling tahan meriam sekalipun. Bahkan Napoléon Bonaparte (1769 – 1821) lebih takut black campaign  daripada moncong meriam.
          "Annus horribilis" – tahun yang dahsyat; tahun yang mengerikan ini orang-orang saling menjelekkan. Yang dulu lawan, kini menjadi kawan dan sebaliknya. Dalam dunia politik muncul suatu pepatah, "Hostis aut amicus non est in aeternum; commoda sua sunt in aeternum" – Lawan atau kawan itu tidak ada yang abadi; yang abadi hanyalah kepentingan. Dulu saling memuji namun saat ini mereka  saling menjelekkan.
          Bahasa Yunani untuk orang yang suka menjelekkan orang disebut  diabolos (bhs. Latin diabolus dan bahasa Inggris: diabolic)  yang juga diterjemahkan dengan "iblis." Iblis adalah teladan bagi orang yang suka menjelekkan orang lain dan baginya iblis adalah pemimpinnya. Dalam arti tertentu, menjelekkan orang lain adalah dosa yang kejam. Kata sifat diabolical   memiliki arti: kejam. Diabolical torture  berarti penyiksaan yang kejam dan diabolical grin  berarti seringai yang menyeramkan, menyeringai seperti iblis. Bila harta benda seseorang dicuri, ia masih dapat mencarinya lagi tetapi jika nama baiknya jatuh, kerusakannya tidak dapat diperbaiki lagi.
          Shakespeare (1564 – 1616)  pernah menulis puisi:
          Nama baik adalah permata indah di dalam jiwa.
          Siapa yang mencuri kantongku hanya mencuri sampah, semua itu tidak berarti. Dulu milikku, kini miliknya dan telah menjadi milik ribuan orang.
          Tetapi siapa yang mencuri nama baikku, merampok sesuatu yang tidak akan membuatnya kaya dan tentu membuat aku menjadi miskin, semiskin-miskinnya.
 
Sabtu, 31 Mei 2014  Markus Marlon  
         

Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com

Senin, 26 Mei 2014

Sapa

SAPA
(Serpihan-Serpihan Kisah Yang Tercecer)
         
          Ketika sedang asyik-masyuk mendengar lagu  lawas  dengan judul  "Aku" beberapa hari yang lalu (Perjalanan dari Baruga ke Luwuk, Senin, 26 Mei 2014), saya terkesima dengan syair dari lagi tersebut. Lagu dengan singer  Christ Kayhatu dan Nunung Wardiman itu  berlirik, "Kau sapa hatiku, sekilas senyum saat kukenal dirimu..."
          Sapaan atau  say hello adalah suatu aktivitas yang mudah, namun sayang bahwa kita tidak mudah melakukannya. Memang, sapaan itu "susah-susah  gampang!" Betapa susahnya menyapa orang yang telah menyakiti hati kita. Di pihak lain, betapa gampang-nya  kita menyapa sahabat-sabahat akrab.
          Zaman mutakhir ini – dengan maraknya dunia maya – manusia seolah-olah bisa  menyapa orang lain tanpa batas. Group milis  dan  broadcast  atau dunia papperless  cepat atau lambat akan  menggantikan mass-media: koran dan majalah atau bulletin .
          Teguran atau  warning lebih  tendency daripada sapaan. Maka tidak mengherankan jika dalam dunia pemerintahan  ada istilah: teguran I, teguran II dan teguran III, yang dalam kepolisian disebut sebagai  "surat panggilan."  Kisah "teguran" ini bisa kita lihat dalam film yang berjudul  "The Mission."  Salah satu adegannya yaitu teguran yang tidak  empan papan (Bhs. Jawa: tidak pada pada tempatnya). Waktu itu Redrigo Mendoza sedang memiliki masalah dengan gadisnya. Tiba-tiba ditegur oleh temannya Filipe. Tanpa  "ba-bi-bu" Mendoza  kill him in a duel.
          Sapaan memiliki makna persahabatan. Zaman dulu Paulus dari Tarsus pun menulis surat (ensiklik) dan menyapa orang-orang seperti: Kloë (1 Kor 1: 11), Akwila dan Priskila (Kis 18)  Titus, Filemon dan masih banyak lagi.  Kemudian itu pun ditiru oleh beberapa orang dengan menyebutnya sebagai: sapaan gembala, "jumpri" – jumpa pribadi dan sapaan saudara  (confratres).
          Setiap orang – pada dasarnya – ingin diperhatikan dan diakui. Untuk itulah, orang ingin disapa secara  personal. Orang akan merasa senang kalau namanya ditulis dalam "sapaan konfrater" karena, "Nomen est noment" – nama adalah tanda. Sebaliknya, orang tidak akan baca short massage pada  smartphone-nya , jika ternyata dikirim secara broadcast. Orang akan marah waktu berjumpa tetapi yang memberi salam atau yang menyapa itu mukanya memandang ke tempat lain (merasa dianggap entheng).  Sapaan secara pribadi  memang dinanti-nantikan.
          Tetapi ingat bahwa siapa yang penyapa  itu memiliki pengaruhnya sendiri:  Kepala dinas menyapa para karyawan, Provinsial menyapa anggotanya dan uskup menyapa para imamnya. Karyawan, anggota Tarekat dan imam yang disapa akan merasa bahwa "sapaan"-nya itu memiliki bobot. Berbobot karena yang menyapa memiliki otoritas dan pengambil kebijakaan, (stakeholder). Sebaliknya, sapaan sahabat yang sederajat itu baik dan perlu, tetapi sekedar menyapa dan membuat orang yang disapa merasa senang dan terhibur, tetapi tidak berdampak  apa-apa.  Tetapi meskipun demikian, "saling menyapalah" sebagai saudara.
 
Selasa, 27 Mei 2014   Markus Marlon
 


Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com