Minggu, 12 April 2015

Menyembuhkan

MENYEMBUHKAN
(Kontemplasi Peradaban)
                                                                  Otia si tollas, periere cupidinis arcus – Jika engkau membiarkan diri menganggur, busur nafsumu juga akan lunglai (Ovidius).

Sebuah pertanyaan serta-merta muncul, "Pernahkah kita mengalami peristiwa atau kejadian yang luar biasa mencekam dan  bahkan seolah-olah kita jatuh ke dalam tubir yang terdalam? Tetapi ternyata setelah melewati lembah kekelaman itu akhirnya kita menjadi kuat?"  Memang hidup adalah suatu peziarahan yang terkadang penuh dengan ups and downs. Dan ingatlah bahwa manusia sendiri adalah makhluk peziarah, "homo viator!"

Pengalaman jatuh-bangun adalah hal biasa. Ada waktunya untuk sehat dan ada waktu untuk sakit. Ada waktu untuk berjalan mulus, namun ada waktunya berjalan di tengah bukit berliku penuh onak dan duri (Bdk. Pkh 3: 1 – 15). Dan jika ada orang yang sakit atau "berjalan dalam kekelaman," Agustinus  (354 – 430) pernah berkata, "Tempore lenitum est vulnus meum" – Dalam perjalanan waktu, luka-lukaku sembuh. Dan seringkali tidak terduga dan tidak disangka-sangka bahwa ada pertolongan yang tidak kelihatan (invisible hand) yang menolong kita sehingga kita menjadi kuat, seperti yang ditulis oleh Pemazmur Cum cogito: "vacillat pes meus": Gratias tua, Domine, me sustentat" – Waktu aku berpikir bahwa aku akan jatuh, Kasih-Mu Tuhan membuat aku berdiri kukuh (Mzm 94: 18).

Paulo Coelho (Lahir, 24 Agustus 1947) menawarkan sebuah tulisan yang amat bagus dalam novelnya yang berjudul, "Pilgrimage".  Tulisnya, "Kata peccadillo yang bermakna dosa kecil berasal dari pecus yang artinya kaki yang lumpuh yang tidak lagi mampu berjalan. Cara menyembuhkan peccadillo adalah dengan berjalan terus, beradaptasi dengan situasi baru dan menerima ribuan karunia yang ditawarkan hidup kepada orang-orang yang berusaha mendapatkannya. Coelho seolah-olah  hendak mengatakan bahwa orang yang sedang sakit atau terpuruk itu tidak boleh mengeluh dan menyesali diri, melainkan harus bergerak, seperti apa yang dikatakan oleh Vergilius (70 – 19 seb.M), "Mobilitate viget" – dengan bergerak ia menjadi kuat. Atau dalam bahasa Latin kuno dikatakan, solvitur ambulando – persoalan akan menyelesaikan dirinya sendiri selagi persoalan itu berjalan.

Mengontemplasikan kata-kata bijak di atas, kita lantas tidak boleh bersikap cuek dengan hidup itu dengan berkata, "mengalir saja, santai sajalah, semua ada waktunya!"  Sebaliknya kita diminta untuk menghargai waktu yang terbatas itu dengan bijaksana. Orang bijak berkata, "Jangan biarkan hari ini berlalu begitu saja, lakukan sesuatu yang bermakna" (Mzm 90: 12). Nabi Muhammad pernah berkata, "Sebaik-baiknya orang adalah yang bermanfaat." Dalam keadaan sehat maupun sakit, kita tetap bisa menjadi orang bermanfaat. Dalam keadaan terpuruk pun kita bisa bersaksi akan hikmah keterpurukan itu. Proses bangkit dari keterpurukan itulah yang penting, seperti kata Pepatah Latin, "Non quod, sed quomodo" – bukan apanya tetapi bagaimananya. Jangan hanya melihat hasilnya saja, tetapi hendaknya juga melihat prosesnya.

Senin, 13 April 2015  Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Sabtu, 11 April 2015

Omong Doang

OMONG DOANG
(Kontemplasi Peradaban)
       Seringkali kita muak jika dalam rapat mendengar usul dari peserta rapat yang pandai ngomong. Dia membuat rencana, menyusun strategi serta  usul ini dan itu. Tetapi ketika hari H-nya untuk bekerja, orang tersebut tidak nongol. Maka orang-orang pun berteriak, memang bapak itu sukanya omdo (omong doang). Orang yang sukanya omong doang lama-lama akan kehilangan kepercayaan, seperti yang dikatakan seorang politikus Amerika: Lewis Cass (1782 – 1866), "Orang bisa saja tidak percaya dengan kata-kata kita, tetapi mereka akan percaya dengan apa yang kita kerjakan"
          Pepatah Latin, "ora et labora" – berdoa dan bekerja adalah diciptakan oleh Benediktus dari Nursia (480 – 550). Bagi Benediktus, kata labora digunakan untuk mengungkapkan "kerja tangan" atau opus manualis. Ungkapan ini untuk mengimbangi opus Dei (kerja atau karya Allah) yang bagi Benediktus berarti berdoa, meditasi dan membaca Kitab Suci. Nah, untuk itulah kita bisa memahami bahwa berdoa yang juga bisa diartikan, "ngomong dengan Tuhan" harus sesuai dengan tindakan nyata. Maka, tepatlah apa yang dikatakan Yesus, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Surga" (Mat 7: 21).
          Di sini kita sering melihat ada pemisahan antara bekerja dan berdoa. Ada seorang ibu muda berpakaian mewah keluar dari hotel berbintang. Ketika keluar dari hotel di tempat parkiran ada seorang pengemis yang kelaparan dan minta sedikit uang. Namun kata ibu muda itu, "Tadi saya di hotel sudah mengundang para pengusaha untuk membicarakan bagaimana mengentaskan kemiskinan. Sana jangan ganggu aku!"  Ini pula yang dikritik oleh Bertolt Brecht (1898 – 1956), penulis sandiwara kenamaan dunia menulis cerita dengan judul Mutter Courage. Tokoh utama yang bernama Kattrin rela mati ketika mendengar bahwa ada teroris yang hendak menghabisi nyawa seluruh kampung. Si bocah kecil itu tidak hanya berdoa, namun berani mengorbankan nyawanya bagi keselamatan seluruh kampung.
          Sebenarnya apa yang diomongkan itu jika diikuti dengan tindakan nyata akan menjadi penyemangat. Tidak seperti apa yang dikatakan peribahasa, "Tong kosong nyaring bunyinya" atau "Air beriak tanda tak dalam". Omongan menjadi bernas, karena disampaikan oleh orang-orang yang berintegritas tinggi. Mungkin kita masih ingat sepak terjang dari Perdana Menteri Inggris. Pada masa Perang Dunia II, ketika Inggris kehilangan sekutu dan senjatanya,  Winston Churchill (1874 – 1965)  berpidato agar seluruh rakyat berjuang dan seluruh rakyat merespon dengan baik. Atau seperti Alexander Agung dari Macedonia (356 – 323 seb.M) yang sangat kehausan namun tetap tidak mau minum ketika diberi satu tempurung air,  karena para prajuritnya juga kehausan. Ia merasakan apa yang dirasakan para pengikutnya. Ia tidak omong doang!!

Sabtu, 11  April 2015  Markus Marlon

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Rabu, 08 April 2015

Suka Tampil

SUKA TAMPIL
(Kontemplasi Peradaban)
 
       Yang namanya manusia, tentunya suka tampil. Bisa jadi penampilannya itu malah sudah menjadi kebiasaannya. Di mana-mana, ia show. Pada acara pesta pernikahan, ia tampil untuk menunjukkan "suara emas"-nya. Pada acara kematian, ia suka diminta mewakili keluarga untuk mengucapkan "terima kasih" kepada para tamu. Di Gereja, ia suka tampil sebagai lektor ataupun komentator. Namun, "suka tampil" yang ini harap dibedakan dengan kecenderungan lahiriah untuk memamerkan bagian-bagian sensual tubuhnya, yang sering disebut sebagai ekshibisionisme.
          Tidak jarang bahwa orang-orang yang suka tampil itu menjadi pergunjingan.  Apalagi jika cara tampilnya itu nepotisme. Yang menjadi master of ceremony adalah sang ibu, among tamu, penerima tamunya sang ayah, anak-anak mereka menjadi organist dan conductor.   Mereka, para outsider itu  -katanya-  muak menyaksikan pemandangan seperti itu. Tetapi ternyata, kejengkelan serupa itu sudah ada sejak jaman Romawi Kuno. Decimus Junius Juvenalis (60 – 140), penulis satir  pernah menulis, "Ecce iterum Crispinus!" – itu Crispinus lagi. Ungkapan ini dipakai untuk mengungkapkan kejengkelan terhadap seseorang yang selalu ingin terus muncul menjadi tokoh.
          Sebaliknya, ada orang-orang yang memang sukanya di belakang layar. Mereka pendukung acara yang sukses tanpa harus tampil. Dan orang-orang seperti itu malah dikenang sepanjang masa. Ada kisah tentang seorang Sparta yang namanya Paedaretos. Tiga ratus orang akan dipilih untuk memerintah Sparta dan Paedaretos adalah salah seorang calon. Ketika daftar calon diumumkan, ternyata namanya tidak tercantum, salah seorang kawannya berkata, "Saya menyesal karena kamu tidak terpilih. Rakyat semestinya sudah tahu bahwa kamu sudah menunjukkan diri sebagai pejabat negara yang sangat bijaksana." Kata Paedaretos, "Saya senang  bahwa di Sparta ada tiga ratus orang yang lebih baik dibanding saya."
          Jujur saja, dalam hidup ini banyak orang yang suka tampil dan banyak orang yang suka dianggap penting. Paedaretos menjadi legenda, karena ia siap untuk memberikan tempat pertama kepada orang lain dan sama sekali tidak merasa sakit hati.

Kamis, 09 April 2015  Markus Marlon

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Selasa, 07 April 2015

Titik Lemah

TITIK LEMAH
(Kontemplasi  Peradaban) 
       "Rocker juga manusia" adalah sebuah ungkapan yang kini bisa digunakan untuk pelbagai kalangan. Kalau ada seorang yang berbuat salah, maka muncullah kata-kata, "Dia juga manusia!" Seolah-olah, manusia adalah sumber kelemahan, "Itulah manusia!"  
          Memang, yang namanya manusia itu tidak pernah akan luput dari kesalahan. Seneca (4 seb.M – 65) pernah berkata, ""Errare humanum est, perseverare diabolicum" – berbuat salah itu manusiawi (namun) tetap melakukan kesalahan itu iblis.  Orang-orang yang sukses itu pada awalnya banyak berbuat salah, namum mereka tidak pernah mau jatuh dalam kelemahan yang sama. Bahkan keledai pun tidak pernah akan jatuh di lubang yang sama.
          Manusia pada dasarnya memiliki titik lemah. Achilles, dalam Mitologi Yunani dilukiskan sebagai pahlawan yang seluruh badannya kebal dengan senjata, kecuali pada tumitnya (tendon Achilles). Titik lemah itu terjadi ketika anak itu dicelupkan pada sungai Styx: salah satu aliran sungai di Hades, tumitnya dipegang oleh ibunya yang bernama Dewi Thetis, sehingga tidak terkena air. Simson "jatuh" bukan karena dikeroyok oleh orang-orang Filistin tetapi ia "jatuh" karena membuka rahasia titik kelemahannya sendiri kepada Delila yang seharusnya tidak boleh dibuka kepada siapa pun (Bdk. Hak 16: 4 – 22).  Prabu Niwatakawaca raja raksasa sakti dari Kerajaan Manikmantaka itu tewas  karena membeberkan rahasia titik lemahnya (pada langit-langit mulutnya) kepada Betari Supraba yang kecantikannya luar biasa.  (Bdk. Lakon wayang dengan judul, "Supraba yang Bernyali"). Orang yang hanya fokus pada titik lemah, akan menjadi lemah, seperti yang dialami tiga orang kuat dalam contoh di atas.
          Kelemahan itu sebenarnya bisa menjadi kekuatan jika kita bisa mengelolanya, misalnya: seorang karyawan yang hendak melaporkan presentasinya.  Sebelum ia berdiri di hadapan boss dan pimpinan kantor, ia –mungkin-  mengalami yang namanya stress atau distress juga eustress. Karyawan itu takut gagal dan ingin tampil prima akan memandang stress itu secara positif eustress dengan cara menyiapkan materi sebaik dan semaksimal mungin. Kelemahannya yang mudah grogi atau merasa tidak layak itu malah digunakan  sebagai kesempatan untuk tampil secara optimal.
Memang, sedigdaya apa pun yang namanya manusia harus diakui bahwa mereka memiliki kelemahan. Ada orang yang memandang kelemahan sebagai masalah, namun adapula yang memandang bahwa kelemahannya itu adalah sebagai kesempatan. "Kelemahan" dalam bahasa bisnis disebut sebagai krisis. Dan Krisis dalam bahasa China diucapkan dengan  wei-ji dan memiliki dua arti yaitu: bahaya dan peluang.
          Jim Cymbala (lahir 1943) seorang pendeta dan penulis dari Gereja Brooklyn Tabernacle menulis, "Our weakness, in fact, make room His power" – Kelemahan kita, kenyataannya membuka ruang bagi kuasa-Nya. Saat kita "merasa diri amat mampu dan sangat kuat"  justru kuasa-Nya tidak bisa bekerja. Tetapi pada saat kita "merasa lemah"  mujizat-Nya bekerja secara luar biasa.  

Selasa, 7 April 2015  Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Kamis, 26 Maret 2015

Debu

DEBU
(Kontemplasi Peradaban)
                                                                 
"Hanya debulah aku" sebuah lagu yang ditulis oleh Cosmas Margono (1980)  adalah sebuah lagu yang sering dinyanyikan umat Kristen Katolik pada masa Prapaskah. "Debu" juga sering digunakan oleh para rakyat jelata ataupun para punggawa kerajaan yang menyebut diri mereka  sebagai duli, "Duli paduka raja"  berarti: debu sepatu raja – kata-kata untuk meluhurkan perintah raja.

Demikianlah, manusia hanya setitik debu. Tetapi jika kita membayangkan para astronot yang berkecimpung di  ruang luar angkasa, kita bisa menyaksikan apa sebenarnya planet Bumi ini.  Pesawat voyager 1 yang diluncurkan pada 1977 kini berada pada lingkar luar dari sistem tata surya kita yang berjarak lebih dari 16 miliar KM jauhnya. Pada Februari 1990, ketika voyager 1 hampir  berjarak 6 miliar KM jauhnya,  para ilmuwan mengambil beberapa foto planet Bumi yang memerlihatkan planet kita seperti titik biru yang hampir tak terlihat di tengah kekosongan ruang angkasa yang sangat luas.

Dalam alam semesta kita yang sangat luas planet Bumi hanyalah satu titik kecil. Planet yang tampak hanya seperti sebongkah kerikil yang tidak berarti di antara lautan benda-benda angkasa. Barangkali  lagu  yang berjudul, "How great Thou art" ciptaan Carl Gustav Boberg (1859 – 1940) ini sesuai  dengan foto yang dibuat Voyager 1.  Dan setitik debu ini sekarang menjadi "rumah" bagi tujuh miliar umat manusia. 

Mengontemplasikan "rumah" umat manusia yang bagaikan setitik debu, baik jika sejenak kita membaca kutipan Mazmur, "Cum video caelos tuos, opus digitorum tuorum, lunam et stellas quae tu gundasti: Quid est homo, quod memo res eius? Aut filius hominis, quod curas de eo?"  - Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: Apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya? Apakah manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? (Mzm 8: 4 – 5). Memang kita hanya mampu berdecak kagum. Tidak ada ungkapan lain.

Buku  "Biografi Joseph Haydn" (1732 – 1809) salah satunya adalah mengisahkan tentang perasaannya sebagai debu. Ketika Salah satu karya musik klasiknya yang terkenal,  "Die Schöpfung" – "Penciptaan" didengungkan, semua pendengar memberikan standing ovation. Lantas, tatkala syair yang berbunyi ""es werde licht" – maka jadilah terang, semua orang di ruangan gedung kesenian itu berdiri dan memberikan aplaus yang panjang sambil menghormati sang  maestro. Haydn berusaha sekuat tenaga untuk berdiri dari kursi rodanya, menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Jangan kepada saya, tetapi kepada Dia yang di atas!"  
         
Orang sehebat Haydn menyadari bahwa dirinya adalah sangat kecil di hadapan Sang Pencipta. Kehebatan, kegeniusan, kedahsyatan dan kekuatan manusia hanyalah setitip debu saja di hadapan sang Pencita. Dari sini pula,  kita boleh bermazmur,  "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kuat delapan puluh tahun dan kebanggannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru dan kami melayang lenyap" (Mzm 90: 10).

Rabu, 25 Maret 2015  Markus Marlon

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Jumat, 20 Maret 2015

Sumpah

SUMPAH
(Kontemplasi Peradaban)

          Setiap kali kita menghadiri suatu sumpah (jabatan baru, kaul-kaul kebiaraan, pernikahan) maka terbersit dalam pikiran kita, apakah orang ini mampu menepati sumpahnya. Semua orang menyadari bahwa yang namanya sumpah itu "tidak main-main."

          Waktu  emeritus Paus Benediktus XVI (Lahir: 16 April 1927) membacakan pidato pengunduran dirinya sebagai Paus – dikabarkan – bahwa ada petir menyambar di Gereja St. Petrus – Vatikan. Kejadian ini dimuat bahkan menjadi cover story  pada bulletin Catholic Life. Untuk orang Jawa, jika mendengar orang mengucapkan sumpah, mereka akan berkidung, "Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap katon lir kincanging alis…"

          Janji, sumpah, kaul,  commitment, niat tulus adalah ungkapan yang – barangkali – dianggap sakral. Apalagi, jika sumpah itu dilakukan dan disaksikan oleh banyak orang (votum publicum) maka, dia akan terikat dengan sumpahnya itu. Kita menjadi ingat akan kata-kata yang disampaikan Zhu Rong Li, Perdana Mentri China dalam suatu kesempatan, "Sediakan sepuluh peti mati bagi saya kelak, Jika ternyata saya di akhir jabatan melakukan korupsi." Kata-kata ini bagaikan wewaler bagi dirinya sendiri. Ini pula yang diucapkan oleh orang-orang yang sekarang mendekam di penjara, "Gantung saya di tugu monas jika terbukti korupsi satu sen saja!" atau "potong tangan saya, jika terbukti korupsi!" Di sini kita perlu meneladan  Sang Nabi dalam hadis-nya yang ditulis oleh HR. Bukhari, "Apabila Fatimah, mencuri  maka aku pun akan memotong tangannya." (Fatimah adalah putri Muhammad).

          Sumpah itu sakral, demikian pula, orang yang disumpahi kadang kala berpikir panjang pula,"Jangan-jangan sumpahnya terjadi pada diriku!" Dan kadangkala kita merasa bahwa kata-kata itu bertuah. Resi Gotama dalam lakon wayang  yang berjudul,  "Telaga Modirdo Cupu Manik" menyumpahi istrinya Dewi Windradi menjadi batu dan ketiga anaknya menjadi kera (Sugriwa-Subali-Dewi Anjani). Kisah "Malin Kundang, Si Anak Durhaka" merupakan  sebuah legenda dari Sumatra yang amat termasyur. Akhir dari cerita tersebut sangat tragis, ibunya berkata, "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu!" Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kudang perlahan-lahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berubah menjadi batu karang.

          Ingat "Sumpah Palapa?" Tentu saja lamunan kita langsung ke Majapahit. Agus Soerono dalam bukunya yang berjudul "Jayaning Majapahit"  mengilustrasikan makna sumpah palapa. Pada awalnya Gajah Mada mengucapkan sumpah sukla brahmacari – sumpah untuk tidak menikah atau menyentuh wanita, sebelum mewujudkan dan menyatukan kepulauan Nusantara di bawah panji-panji kebesaraan Kerajaan Majapahit. Namun, sumpah itu – katanya – berbau  religious, maka digantilah  Sumpah Amukti Palapa, yang sebenarnya maknanya sama yakni tidak akan menikmati segala sesuatu kesenangan hidup, termasuk makanan, kekayaan, kemewahan termasuk wanita.

          Sumpah yang agung dan mulia juga diucapkan oleh Dewabrata yang berhak menjadi raja, namun ia menolak demi cintanya kepada ayahnya, Raja Sentanu dalam Mahabharata.   Dewabrata bersumpah di hadapan sang ayahanda dan calon ibunya, "Aku berjanji tidak akan kawin. Dengan demikian, aku takkan pernah punya anak. Seluruh hidupku akan kupersembahkan untuk berbakti pada rakyat dan kerajaan dan untuk kesucian." Ketika Dewabrata mengucapkan sumpah sucinya, bergemuruhlah kembang-kembang suci menaburi kepalanya, sementara di angkasa bergema suara merdu, "Bhisma…bhisma…bhisma" Kata bhisma menyatakan bahwa seseorang telah mengucapkan sumpah yang berat dan suci dan berjanji akan benar-benar melaksanakannya.

Jumat, 20 Maret 2015   Markus Marlon

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Selasa, 10 Maret 2015

Membaca

MEMBACA
(Kontemplasi Peradaban)

          Pernahkah Anda menonton film Inggris atau Amerika dan melihat ada rak buku yang terletak di ruang tamu atau ruang keluarga? Saya sering melihatnya. Dan pernahkan Anda menonton sinetron Indonesia – yang umumnya bercerita tentang keluarga-keluarga super kaya – dan melihat ada rak buku di ruang tamu atau ruang keluarga? Saya belum pernah melihatnya!

Kegiatan Membaca Mulai Memudar 

          Sudah menjadi pemandangan umum bahwa di Ruang Tunggu seperti di Stasiun, Bandara maupun Rumah Sakit tersedia pesawat Televisi. Bahkan di rumah-rumah, pesawat Televisi bagaikan sahabat yang setia "menemani"  seorang ibu atau pembantu rumah tangga dalam memasak atau menyeterika dan mencuci pakaian. Anak-anak kecil pun sejak bayi sudah diperkenalkan dengan pesawat Televisi sebagai "teman" –nya. Dengan adanya pesawat Televisi atau yang disebut juga kotak ajaib maupun box idiot, sebenarnya seorang bayi "kurang berkenalan" dengan buku.      

          Kegiatan membaca seharusnya dipupuk sejak dini, karena di kemudian hari, ternyata kebiasaan  membaca yang pernah dibuat tersebut itu memiliki kekuatan yang  dahsyat. Tetapi kita harus mengakui bahwa anak yang sekarang ini adalah anak zamannya. Mereka tidak bisa kita jadikan anak maupun remaja tahun 70-an, yang pada waktu tehnologi tidak semaju seperti sekarang ini. Pada zaman ini, buku memiliki "saingan" yang sangat berat. Pada zaman dulu, kegiatan membaca sungguh mendapatkan tempat yang sangat istimewa. Bahkan Thomas à Kempis (1379 – 1471), penulis buku terkenal  "De imitatione Christi" (Mengikuti jejak Kristus),  pernah berucap, "In omnibus requiem quaesivi et nusquam inveni, nisi in angelo cum libello" yang artinya aku telah mencari ketenangan di mana-mana dan tidak di suatu tempat pun aku menemukannya kecuali di sebuah sudut kecil dengan (membaca) sebuah buku.  

Kedahsyatan Kegiatan Membaca

          Pengaruh  buku   sungguh luar biasa. Banyak orang yang setelah "menjadi orang" berkata bahwa dirinya menjadi seperti sekarang  ini  karena buku. Sebagai contoh, Pater  Franz Magnis-Suseno SJ berkata demikian, "Kisah-kisah seperti The Last of the Mohicans karangan Cooper, Winnetou-nya Karl May  membuat daya imaginasiku berkembang." Atau kita lihat buku terkenal yang berjudul "Don Quixote"  karangan Miguel de Cervantes.  Cervantes, penulis Spanyol  (1547-1616) adalah seorang petualang buku. Pelbagai buku telah dilalapnya habis.  Ia menguasai  bacaan-bacaan Latin Klasik. Ia mendalami bacaan-bacaan sejarah bangsa-bangsa. Don Quixote adalah buku terkenal yang mengisahkan tentang seorang yang bernama Don Quixote de la Mancha yang tergila-gila dengan membaca. Lewat buku yang dibacanya, ia berpetualangan dengan ide-idenya sendiri, sehingga dia menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Pantas bila dunia menyebut Don Quixote sebagai the ambassador of readings.

 Kalau kita mundur   lagi ke zaman Yunani  kuno,  kita akan berjumpa dengan Alexander Agung (356-323 s.M dari Macedonia. Oleh gurunya yakni Aristoteles (384-322 s.M), Alexander Agung diberi bacaan wajib yang berjudul "The Illiad" karangan Homerus (lahir abad ke-8 s.M). Dengan membaca karya sastra tersebut, pikiran Alexander Agung menjulang tinggi – bahkan mungkin "liar"  –  dan mengidolai sang pahlawan yakni Achilles dan akhirnya ia mampu menguasai dunia pada usia mudanya.  Konon, buku "The Illiad" dijadikan bantal bagi  Alexander Agung, tatkala dirinya  tidur.  Dalam film Troy, tokoh Achilles ini memang sungguh luar biasa. Dan bukankah tokoh-tokoh para kudus juga mengalami pertobatan ketika membaca buku? St. Ignatius dari Loyola (1491-1556) misalnya, ketika dia sakit karena luka parah dan tidak bisa berbuat apa-apa, "terpaksa" membaca buku Kisah Santo-Santa dan akhirnya bertobat dan menulis buku yang sangat kesohor,  "Latihan Rohani."  St. Agustinus (354-430) mengakui bahwa dirinya seorang pendosa berat. Pada suatu hari ia mendengar suara. Suara itu datang dengan nada berulang-ulang, "Tole, lege, tole, lege" (Ambil dan bacalah,  ambil dan bacalah). Sambil membendung air matanya,  ia segera membuka Kitab Suci. Di sana ia membaca teks yang memperingatkan, agar ia tidak hidup dalam ketidakbenaran. Karena pengaruh buku yang ia baca, ia menjadi orang kudus dan gagasan-gagasan teologisnya hingga sekarang masih dipelajari oleh banyak orang.

Menumbuhkan Daya Refleksif 
          Perasaan yang didapat lewat membaca berbeda dengan menonton Televisi atau film. Keunikan membaca adalah orang diajak untuk membayangkan hal-hal yang diceriterakan di dalam buku. Berbeda dengan  menonton yang secara visual sudah bisa ditangkap oleh mata. Oleh sebab itu, seringkali menonton sebuah film yang diangkat dari buku mengecewakan karena apa yang dibayangkan berbeda dengan yang divisualisasikan. Ketika saya membaca buku "Gone with the Wind"  peran Scharlet Ohara begitu dahsyat. Sebagai tokoh utama ia membuat orang yang membacanya menjadi gemas. Tetapi, setelah melihat filmnya,  bayangan kelincahan dan kecantikannya menjadi pudar.  Tokoh  yang bernama Yuri dalam "Dokter Zhivago" karangan Boris Pasternak sungguh memilukan bagi yang membaca. Tetapi setelah menonton  filmnya,   rasa kasihan terhadap tokoh itu mulai menghilang. Membaca novel "Memoirs of Geisha" karya Arthur Golden, hati saya menjadi miris karena Sayuri sebagai tokoh utama diperlakukan semena-mena dan tidak adil. Tetapi setelah menyaksikan filmnya   yang berdurasi 90 menit itu,  rasa miris itu pun lenyap. 

          Setiap buku atau majalah  yang kita baca itu pada akhirnya mengajak kita untuk mengkonfrontasikan dengan kehidupan kita. Misalnya,  buku tulisan Hans-Peter Grosshans yang berjudul  "Luther" dapat memberikan pencerahan kepada kita.  Buah pena dan gagasan-gagasannya tentang  "Reformasi" menyadarkan Gereja Katolik untuk lebih bercermin diri karena sudah menyimpang jauh dari ajaran Kitab Suci. Bacaan Rohani tulisan Wilfrid McGreal berjudul  "Yohanes Salib" yang adalah seorang penyair dan tokoh mistik menginginkan agar orang yang tengah mencari kesatuan dengan Tuhan mendapatkan bimbingan atau pembimbing rohani yang baik dalam perjalanan mereka. Dari sana pula, kita kita merenungkan kembali, apakah sebagai pribadi yang ingin maju dan berkembang dalam pengetahuan, masih senantiasa "rindu" membaca buku?  Petrarca (1304 – 1374)   –   seorang penyair dan humanis Italy   –   berkata, "Libris satiari nequeo" yang berarti aku tidak pernah dipuaskan oleh buku. Setelah buku yang satu dilalap habis, ada kerinduan lagi melahap buku berikutnya.  Kata-kata, "Lebih baik menjadi kutu buku daripada mati kutu," mendapatkan penerapannya.

Penutup: Mari Mencintai Buku
Sahabat yang paling tidak pernah mengecewakan adalah buku. Buku bisa kita bawa ke manapun pergi dan dia senantiasa setia menjadi "teman dialog."  Kebiasaan membaca buku tentu akan mengembangkan diri sendiri karena dengan membaca dapat membuka cakrawala atau wawasan. Bukankah buku adalah "Jendela dunia"?

Selasa, 10 Maret 2015   Markus Marlon
 
Website :
http://pds-artikel.blogspot.com