Minggu, 14 Desember 2014

Putih

PUTIH
(Kontemplasi  Peradaban)
                                                                  Putih indah berseri
Mekar harum mewangi
Melati suntingan hati
 
Kau lambang kesucian
Cinta yang abadi
Yang selalu kurindukan

       Sepenggal syair lagu lawas dengan judul, "melati putih"  besutan Bimbo  di atas, tersirat sebuah makna kesucian dalam  warna putih.  Memang, dalam psikologi warna, warna putih melambangkan kemurnian dan kepolosan, memberikan perlindungan, ketentraman, kenyamanan dan memudahkan refleksi.
          Bagaimana kita memandang warna putih sungguh amat istimewa dibandingkan dengan warna hitam yang memiliki konotasi yang – maaf – kurang elok, misalnya: black campaign , noda hitam atau  black pope –  paus hitam.  
          Jika kita menengok ke belakang yakni  berabad-abad yang lalu, hari gembira penuh sukacita itu  dinamakan hari putih. Plutarch (45 – 120) sejarawan, pembuat biografi dan esais,  menceriterakan bahwa Pericles (495 – 429 seb. M) negarawan, orator dan Jendral Athena,  ketika menyerbu Samos, sadar  bahwa penyerbuan itu akan berlangsung lama. Ia tidak ingin pasukannya keletihan dan bosa, maka dibagilah pasukannya menjadi delapan. Setiap hari kedelapan pasukan itu mengambil undian. Lantas, tatkala diundi dan pasukan yang mendapat biji putih itu  terbebas dari tugas hari itu dan mereka dapat menikmati hari itu sesuka hati mereka (William  Barclay, dalam bukunya yang berjudul, Kitab Wahyu 1- 5  hlm. 143).
Tidak heranlah, jika pengaruh warna putih itu tersebar ke mana-mana. White  (putih) itu berasal dari Inggris kuno, hwit yang berarti: bright, brilliant  dan radiant. Dalam  warna putih terkandung suatu keceriahan, sukacita dan sinar yang berkilau indah, "As he prayed, the aspect of his face was changed and his clothing become brilliant as lightning" – sementara Yesus berdoa di situ, muka-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilauan (Luk 9: 29).
          Para calon itu kadang nampaknya jujur dan polos. Mereka  disebut sebagai  candidate. Dan  candidate  itu sendiri berasal dari bahasa Latin, candĭdātus yang berarti berpakaian putih. Mereka berusaha memperoleh jabatan karena ia mengenakan  pakaian putih. Dan tentu saja dalam bersikap harus menunjukkan kejujuran. Para candidati  itu dalam bertindak pun bagaikan anak domba yang tulus,  "Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya" (Yes 53: 7).
          Orang yang muram, sedih, murung-murung dan  berduka akan menjadi sempurna jika mengenakan  pakaian hitam. Kita, ketika melayat untuk melihat keranda hitam, tidak terbayangkan jika tidak mengenakan pakaian hitam. Sang Nabi Muhammad SAW melarang bagi masyarakat Arab dalam hadis-nya, "mencelupkan pakaian dengan warna merah karena itu termasuk ke dalam pakaian keindahan yang tidak cocok dengan suasana berkabung."  Namun, masyarakat China dan negara-negara Asia lainnya pun cenderung memilih warna putih sebagai warna berkabung. Perhatikanlah  film-film seperti: Red Cliff, The Three Kingdoms, Sun Tzu Art of War, yang ketika sedang berkabung menggunakan warna putih. Benar kata pepatah,  "Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya."    
          Dalam pelbagai kebudayaan,  seperti Jawa (Kesultanan  Yogyakarta dan Kasuhunan Surakarta) warna putih memiliki simbol tersendiri. Kraton Surakarta menggunakan warna putih sebagai bentuk penolakan terhadap yang jahat, tidak baik dan merusak. Oleh karenanya warna putih sering menjadi warna sunan dan ksatria. Pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I  (1717 – 1792) di Yogyakarta  warna putih dijadikan warna dasar ageman (pakaian) para ksatria. Terutama pasukan Wirabraja mengenakan warna putih sebagai lambang keteguhan hati membela kebenaran.  Dari kebudayaan Jogjakarta dan Surakarta itu, muncullah seorang Satria yang juga Raja Pandawa yang bernama Puntadewa atau Yudistira.  Puntadewa dilukiskan sebagai raja yang memiliki  getih putih – darah putih. Ia tidak pernah berbohong dan berjiwa tulus. Darah putih akan melakukan segala hal tanpa pamrih, ikhlas dan tidak mengambil keuntungan untuk diri sendiri.  
          Setelah mengontemplasikan makna warna putih ini, sepertinya, ada kaitan antara suci dan putih. Sejenak  marilah kita senandungkan lagu, "Melati Suci" syair  Guruh Sukarno Putra. Konon lagu itu dipersembahkan untuk ibu Fatmawati, yang nama aslinya Fatimah (1923 – 1980):
Putih-putih melati
Mekar di taman sari
Semerbak wangi penjuru bumi.
 Suci-suci melati
Suntingan 'bu Pertiwi
Lambang nan luhur budi pekerti.
 
Saya menjadi ingat akan para pemimpin agama yang ketika menjadi  pontifex  yang bukan  maximus (pembuat jembatan  antara Tuhan dan Manusia) mengenakan  alba (Bhs. Latin, alba = pakaian putih), kecuali pendeta Buddha  yang mengenakan warna orange.  Tentu saja hatinya suci, murni, tulus  seperti jubah, toga, alba yang dipakainya.  Wallahu a'lam!  Dan Allah Mahatahu!

Senin, 15 Desember 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Mata

MATA
(Kontemplasi Peradaban) 

"Tujuh kota berperang memperebutkan Homerus,
 yang sudah wafat, yang ketika  hidup,
tidak punya atap untuk menidurkan kepalanya"
 (Thomas Heywood, penyair Inggris: 1575 - 1641).
 
          Kita tahu bahwa Homerus (800 – 750 seb.M) adalah pendongeng ulung yang buta. Saya membayangkan sosok Homerus yang buta itu mirip dengan Prabu Drestarasta, raja Astina istri  Gendari, yang juga buta. Sang permaisuri  – dalam kisah Mahabharata itu – digambarkan sebagai ibu dari para Kurawa yang solider dengan penderitaan suaminya.  Ia sengaja menutup matanya dengan kain hitam supaya senasib dan sepenangungan dengan Sang Prabu.
          Kita tentu tidak tahu apa motivasi Gendari itu menutup mata. Lantas kita bertanya, "Apakah ketertutupan mata Gendari itu sama dengan Dewi Iustitia?"  Dewi Iustitia  atau dewi Keadilan, merupakan simbol kebanggaan orang-orang Romawi.  Kedua matanya ditutup dengan sehelai kain. Ia memegang sebuah neraca di tangan kirinya dan sebilah pedang di tangan kanannya. Mata yang tertutup menampilkan gagasan keadilan. Mata yang tertutup menunjukkan sikap netral, tidak memihak pihak-pihak yang bertikai.  Memang untuk menjadi adil, orang harus melihat dengan  "mata hati" seperti yang ditulis oleh Antoine de Saint-Exupéry (1900 – 1944),  "Hanya dengan hati seseorang dapat melihat  dengan benar, apa yang penting tidak terlihat mata."
          Kita sering mendengar kata-kata, "anak semata wayang" yang berarti anak satu-satunya. Disebut semata wayang karena wayang hanya memiliki satu mata (arti kiasan). Atau kita pernah mendengar kisah "Pendekar bermata satu"  dan juga film yang berjudul "Si Buta dari Gua Hantu."  Kalau dalam "Mitologi Yunani"  kita mendapatkan sebuah cerita dari Homerus yang buta itu tentang ras manusia purba raksasa yang memunyai satu mata di tengah-tengah dahinya, namanya Cyclops. Dan akhirnya kisah "Rusa Betina Bermata Satu" tulisan Aesop (620 – 560 seb.M).  Dalam kisah itu, Rusa yang bermata satu jika merumput di pantai, mata yang buta diarahkan kepada laut. Ia beranggapan bahwa dari laut tidak mungkin ada predator yang mengancam. Namun dalam kisah ini, Rusa terbunuh karena tidak menggunakan mata sebelah yang tidak buta (Bdk. David Noonan dalam bukunya yang berjudul,  "The Turtle Becomes a CEO" hlm. 159).
          "Mata adalah jendela hati disitulah bentuk cermin jiwa" demikian kata pepatah. Namun pepatah tersebut kini dipatahkan oleh "suara rakyat" yang mendambakan para pejabat yang melihat dengan "mata hati".  Sukardi Rinakit dalam  analisis politik-nya menulis, "Para pejabat tidak hanya melihat perikehidupan rakyat dengan mata terbuka, tetapi juga dengan mata hati. Mata terbuka justru harus ditutup karena semu dan sering menipu" (Kompas, 9 Desember  2014). Lantas, kita melirik kembali apa yang terjadi pada  sebuah padepokan Roemah Petroek di desa Karang Klethak, Sleman, Yogyakarta (Selasa 25 November 2014). Di sana "Mata Presiden Jokowi Ditutup Kain Hitam."  Dalam teater ini, sebelum meninggalkan panggung, Ferry menutup mata patung Jokowi dengan kain hitam, "Supaya presiden ketujuh ini tidak hanya bisa melihat realitas di negeri ini dengan mata fisiknya, tapi harus bisa membaca dengan mata hatinya seperti Gus Dur" (Kompas, Selala, 2 Desember 2014).
          Yesus pernah bersabda, "Jika matamu menyesatkan engkau cungkilah...." (Mrk 9: 47).  Memang, dari mata muncul banyak keinginan, dari mata tumbuh iri hati dan  dari mata……….. (isi sendiri). Dari sana pula, saya teringat drama  "Oedipus Rex" – Oedipus sang Raja,  tulisan Sophokles (497/ 496 – 406/405 seb.M). Dalam akhir drama, Jacosta pun sadar dengan tragedi yang menyakitkan.  Ia telah menikahi anak kandungnya sendiri, juga yang telah membunuh suaminya. Dengan hati yang pedih dan hancur, Oedipus pun menyadari hal ini dan mengutuk dirinya. Oedipus kemudian menemukan Jocasta telah tewas gantung diri. Dengan menggunakan tusuk konde dari Jocasta, Oedipus melukai kedua matanya sendiri hingga buta.

Rabu, 10 Desember 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Senin, 08 Desember 2014

Wafat

WAFAT
(Kontemplasi Peradaban)
 
Dalam keranda hitam tubuhmu terbujur
Ada misteri yang tak pernah terungkap
Alis matamu tebal menyimpan rahasia
Adakah waktu akan mampu mengurai?
Kematian ini memisahkan kita,
Selamat jalan
 
(Ebiet G. Ade dalam sebuah lagunya yang berjudul, "Dua Menit ini Misteri")
Pastor Ronny Raditya Rotinsulu Pr  sudah  wafāt (Bhs. Arab yang berarti tutup usia). Perjalanan panjangnya dalam derita sakit sudah berakhir.  Memang benar ungkapan  yang dikatakan Horatius (65 – 8 seb. M) penulis sastra Romawi bahwa  "Mors ultima linea rerum est" – kematian adalah garis batas terakhir dari segalanya. Kini ia sudah  almarhūm  (Bhs. Arab yang berarti sudah dirahmati oleh Tuhan). Maka pantaslah kita mengucapkan sebuah salam, "Ad vitam aeternam" – selamat memasuki hidup abadi.  Dan akhirnya kami yang masih berziarah di dunia ini,  hendak mengumandangkan sebuah lagu, "in paradisum deducant te angeli" – para malaikat mengantarmu ke firdaus.
Sering kali kita "protes" kepada Tuhan, "Mengapa orang yang masih muda dan masih dibutuhkan cepat-cepat Engkau panggil?"  Untuk menjawab pertanyaan itu kita pun sering mendengar ungkapan, "Virtuous people die at an early age, because the gods want those people to be with them in the afterlife."  Atau dalam pepatah Latin berbunyi, "Quem dii diligunt adulescens moritur" – yang disayang oleh para dewa, mati muda. Ungkapan tersebut ditulis oleh  Plautus ( 254 – 184 seb.M). Lantas, kita bertanya seperti  apa yang ditulis  oleh Soe Hok Gie (1942 – 1969)  dalam bukunya yang berjudul, "Catatan seorang Demonstran" yang berbunyi,  "Seorang filsuf  Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan yang kedua dilahirkan tapi mati muda."
Pastor Ronny tidak sendiri.  Banyak tokoh dunia yang umurnya pendek.  Wolter Monginsidi  wafat dalam usia: 24 tahun, RA Kartini: 25 tahun, Alexander Agung: 32 tahun, Van Gogh: 37 tahun, Martin Luther King: 39 tahun dan Che Guevara: 39 dan akhirnya Yesus Kristus : 33 tahun.  Di sini berlaku pepatah Latin seperti  apa yang dikatakan oleh Seneca (4 – 65 M) filsuf, negarawan dan dramawan Romawi, "Quam bene vivas non quam diu refert"  – yang penting bukan lama engkau hidup, tapi bagaimana engkau hidup dengan baik.
Menurut kesaksian sahabatnya yakni Pastor Steven Lalu Pr  (sedang study di Roma),  setiap kali ditanya oleh orang lain, Pastor Ronny selalu menjawab, "Sekarang sudah lebih baik!"  Sebuah kesaksian iman yang luar biasa. Menurut saya, Ronny telah memelihara iman, "Aku telah memelihara iman."  Memang,  memulai sesuatu itu mudah tetapi mengakhirinya tidaklah mudah. Seseseorang yang sangat  terkenal pernah mendapat saran untuk menulis  biografinya ketika ia masih hidup. Namun ia sama sekali menolaknya dengan alasan, "Aku  telah melihat banyak orang gagal di putaran terakhir."
Paulus berkata, "Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garus akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan" (2 Tim 4: 6 – 8).  Bahkan John Bunyan (1628 – 1688) dalam bukunya yang berjudul, "The Pilgrim's Progress"  menulis,  "Sebelum jalan menuju surga ternyata ada lorong turun ke neraka."
          "Mengenai diriku," kata Paulus, "Darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan." Kata Yunani untuk "persembahan" adalah  spendhesthai yang secara harfiah berarti menuangkan anggur sebagai persembahan untuk para dewa. Setiap kali orang Romawi makan selalu diakhiri dengan semacam korban. Secawan anggur diambil dan dituangkan (spendhesthai) bagi para dewa. Seolah-olah di sini Paulus  berkata, "Hari sudah berakhir, inilah waktunya untuk bangkit dan pergi; dan hidupku harus dituangkan sebagai kurban bagi Allah" (Willian Barclay dalam bukunya yang berjudul, "Memahami Alkitab Setiap hari – Surat 1 & 2 Timotius, Titus, Filemon"  hlm. 323).
Kita juga percaya bahwa mungkin selama masa sakitnya Pastor Ronny, memberi banyak kesaksian tentang hidupnya yang berani menghadapi kematian dan kehidupannya telah menjadi persembahan terbaik bagi Tuhan.  Kadang-kadang sejarah terulang secara aneh. William Tyndale (1494 – 1536) berada di penjara di Vilvoorde menunggu kematian karena ia berani menyebarkan Al-kitab kepada masyarakat dalam bahasa mereka. Saat itu adalah musim dingin yang lembab. Ia menulis surat kepada temannya, "Demi Yesus , kirimkan kepadaku topi hangat, sesuatu untuk menambal pembalut kakiku, baju wool dan di atas semua itu Alkitab Ibrani."  Tyndale berani menghadap Tuhan dengan "kelakar"
 Julius Caesar (100 – 44 seb.M)  pernah berkata,  "pengecut mati berkali-kali sebelum nafas penghabisan, pemberani mati hanya satu kali" dan pepatah Latin yang berbunyi, "Haud timet mortem qui vitam sperat – yang berharap hidup tidak akan takut mati, sebagai ucapan selamat jalan saya kepada Pastor Ronny Raditya Rotinsulu Pr  (28 April 1981 – 07 Desember 2014).

Senin, 08 Desember 2014  Markus Marlon   


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Senin, 24 November 2014

Menilai

MENILAI
(Kontemplasi Peradaban)
 
"Jangan menilai seseorang berdasarkan masa silamnya, karena setiap orang mampu berubah,  malah (mungkin) jauh lebih baik dari apa yang kita sangka" (Markus Marlon).
 
Saya pernah bertanya kepada seorang pembina yang mengurusi para subyek binaannya. Pertanyaan saya itu  tentang saat-saat mana baginya yang paling rawan dalam proses pembinaan. Dengan tenang dia berkata, "Situasi yang paling rawan bagi saya adalah ketika harus mengevaluasi atau menilai para subyek bina." Dia berkata lagi, "Kadang saya melihat ada orang yang memiliki prospek yang baik, tetapi dari segi intelek  kayaknya  berat. Terpaksa dia  harus keluar!"  Dari pengakuannya sendiri, kadangkala dirinya tidak bisa tidur nyenyak ketika harus memberitahu kepada yang bersangkutan tentang penilaiannya itu,  esok hari.  

Menilai seseorang itu bagaikan "memotret individu" yang sering muncul dalam wawancara-wawancara. Pewawancara bisa saja terjebak dalam gejala-gejala  "hallo effect" yaitu terpengaruhnya pewawancara oleh kesan pertama. Dan hallo effect ini sangat memengaruhi penilaian seseorang.  Proses pembinaan pun pada hakikatnya sebuah "wawancara" yang terus-menerus.  Subyek bina seharusnya dikenali secara mendalam. Pepatah kuno mengatakan, "Don't judge a book by its cover"  – jangan menilai buku dari sampulnya. Jangan menilai seseorang atau sesuatu berdasarkan penampilannya. Penampilan kadang menyesatkan. Kenalilah lebih dalam sebelum kita memberikan penilaian.

Memang benar, menilai atau mengevaluasi seseorang itu tidak mudah. Karena yang dinilai adalah manusia yang memiliki: perasaan, pikiran, kehendak dan cita-cita.  Marilah kita ikuti kisah  "kristal labrador" untuk memudahkan memahami makna penilaian terhadap seseorang.

Sekilas pintas, kristal  labrador  itu tidak menarik. Tetapi kalau kristal tersebut diputar-putar secara pelan-pelan sambil digoyang ke sana dan ke mari, maka ia akan sampai dalam kedudukan tertentu di mana sinar  matahari masuk dan tiba-tiba kristal tersebut akan memancarkan sinar yang sangat indah dan luar biasa.

Manusia kira-kira seperti kristal itu. Mereka mungkin kelihatan tidak baik hati,  hanya karena kita tidak mengenal secara utuh dan mendalam. Di dalam setiap pribadi selalu ada sesuatu yang baik. Dalam hal ini, tugas kita bukanlah menilai atau menghakimi berdasarkan penampilannya yang mungkin tidak menarik kala itu.  Sekali lagi kukatakan, "Jangan menilai seseorang berdasarkan masa silamnya, karena setiap orang mampu berubah,  malah (mungkin) jauh lebih baik dari apa yang kita sangka."

Senin, 24 November 2014  Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Rabu, 12 November 2014

Laba-laba

LABA-LABA
(Kontemplasi  Peradaban)
 
"Sebuah kamar dinilai bersih kalau tidak ada sarang laba-laba" kata sebuah ungkapan.  Coba saja jika kita menginap pada sebuah "Hotel Melati"  misalnya  dan ternyata ada sarang laba-laba, tentu saja kita akan mengurungkan niat untuk menginap di sana.
          Memang, laba-laba  kadang-kadang menjijikkan untuk beberapa orang, apalagi ketika laba-laba itu menggunakan jaringnya untuk  menjerat mangsa. Sadis bener!  Melihatnya kita menjadi tidak simpati kepadanya.  Bahkan ada pepatah Latin, "plenus sacculus est aranearum" – kantong uang itu penuh laba-laba. Ungkapan yang dicetuskan oleh Catullus (84 – 54 seb. M) memiliki makna: dompetnya kosong.
  Arānea  yang dalam bahasa Latin  berarti laba-laba itu dalam Mitologi Yunani memiliki nama yang tidak harum. Tulisan Sukartini Silitonga – Djojohadikusuma dalam bukunya yang berjudul,  "Mitologi Yunani"  mengajak kita untuk menimbang asal-usul si laba-laba itu.  Pada waktu itu, hiduplah seorang wanita muda bernama Arakhne. Ia dinilai sombong, terlebih karena kepandaiannya menggunakan jarum. Bahkan dia tidak ragu-ragu mengukur kepandaiannya dengan Athena. Padahal Dewi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan ini luar biasa  pandai menggunakan jarum.
Athena mengajak lomba Arakhne untuk berlomba menenun dan ia kalah. Karena malu, maka Arakhne ingin lari dan menggantung diri. Namun Athena tidak ingin Arakhne secepat itu hilang dari gelanggang, maka  dengan cepat pula sang Dewi mengubahnya menjadi laba-laba. Arakhne dihukum untuk tidak henti-hentinya menenun dan  "membuat jaring".
Setelah menyimak kisah-kisah di atas, seolah-olah tidak ada kebaikan dalam diri laba-laba itu. Tetapi jangan berprasangka buruk terlebih dahulu, karena ada  laba-laba yang menjadi dewa penolong, "spider-man" contohnya. Kisah fiksi ini sudah difilmkan dengan berbagai versi.  Dan meskipun memiliki rekam jejak yang negatif, laba-laba atau sering juga disebut  tarantula itu memiliki kisah yang menarik dalam menyelamatkan nabi-nabi besar: Nabi Isa Al-Masih 'alaihissalam  dan Nabi Muhammad  Shallallahu 'alaihi wa sallam.
          Tatkala laba-laba itu melihat bayi Isa as yang digendong ibunya dan  ingin bersembunyi dari pengejaran, ia memutuskan untuk menyelamatkan-Nya. Hal yang ia lakukan adalah menenun jaring di pintu masuk gua, sehingga jaring itu menjadi semacam kain pelindung yang menghangatkan lubang di dalamnya.
          Di luar gua terdengar derap sepatu tentara-tentara yang dikirim oleh Herodes mencari bayi untuk dibunuh. Ketika rombongan tentara itu tiba di depan gua, mereka ingin segera menerobos masuk ke dalam gua dan mencari bayi Isa as. Ketika kapten melihat adanya jaring yang dibuat oleh laba-laba, ia pun berkata, "Lihat jaring laba-laba ini. Jaring ini sama sekali tidak rusak, sehingga tidak mungkin ada orang di dalamnya."  Berkat sang laba-laba, selamatlah Nabi Isa as.
          Nabi Muhammad pun berhutang nyawa kepada laba-laba. Pada saat Muhammad meninggalkan Mekkah bersama sahabat karibnya Abu Bakar, kemarahan orang-orang suku  Quraisy sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan membiarkan kedua orang yang akan berpindah tempat itu sampai di Madinah dengan tenang. Namun Allah melindungi mereka dengan mengirimkan seekor laba-laba yang menenun  jaring  melintang di mulut gua dan sepasang merpati yang membuat sarang dekat jalan masuk gua. Ketika para pencari tiba di gua, mereka dengan segera melupakannya karena tempat tersebut tidak pernah didatangi orang seperti terbukti dari  sarang  laba-laba dan merpati. Kanjeng  Nabi dan Abu Bakar pun selamat, kemudian melanjutkan perjalanan kepindahan mereka ke Medinah (Bdk.  Buku dengan judul "The Everything Koran Book" tulisan Duaa Anwar. Hlm. 35).
          Tuh khan, "Kalau tidak ada laba-laba pada waktu itu, bagaimana yang akan terjadi dunia ini?"  Jaringan yang saling ber-connect itu aslinya mirip jaring yang dibuat laba-laba. Dunia zaman sekarang ini,  manusia saling terhubung dan dari sana muncullah istilah www, World Wide Web atau JJJ, Jejaring Jagat Jembar.  Akhirnya, laba-laba, "terima kasih atas jasamu!"
 
Rabu, 12 November 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Jumat, 07 November 2014

Boros

BOROS
(Kontemplasi  Peradaban)
   
"Orang bijaksana bukanlah orang yang memperbanyak kebutuhan, tetapi mereka yang mampu membatasi kebutuhan. Dengan cara membatasi diri, ia akan mencapai kepuasan. Ia menghindari tindakan yang berlebihan" (Epikuros, 342 – 270 seb. M).
 
          Dalam dunia Islam kita mengenal Syaikh As Sa'di  rahimahullah  (1889 – 1956) seorang ahli bahasa Arab dan ahli fiqih serta ahli tafsir yang mengatakan bahwa orang yang boros disebut temannya setan karena setan tidaklah mengajak selain pada sesuatu yang tercela. Setan mengajak manusia untuk pelit dan hidup boros atau berlebih-lebihan. Padahal Allah memerintahkan kita untuk bersikap sederhana dan pertengahan (tidak boros dan tidak terlalu pelit).
          Dalam situasi politik yang mengerucut seperti saat ini, serta berita-berita miring tentang para pejabat yang korupsi, perlulah "dihadirkannya" sebuah  "pemerintahan yang bersih."  Konsekuensi logis dari itu adalah bahwa pemerintah harus menjadi pionir untuk hidup ugahari dan tidak boros. Tjahyo Kumolo (Mendagri) meminta supaya seluruh Pemda harus mengurangi pemborosan. Hal-hal yang tidak perlu dibelanjakan lebih baik diarahkan untuk petani, nelayan dan buruh…" (Luwuk Post, 4 November  2014).  Dana Kementrian – Presiden meminta kabinet transparan dan tidak boros (Kompas, 4 November 2014).
          Maria Antoinette (1770 – 1793) permaisuri dari Louis XVI (1754 – 1793) memiliki banyak julukan namun sayang bahwa  sebagian besar julukan itu negatif.  Ia sering merayakan pesta di istana, membelanjakan barang-barang perhiasan yang mahal-mahal, bahkan ketika negeri Prancis mengalami kesulitan keuangan, "Ia berfoya-foya di atas penderitaan rakyat."  Seneca (4 seb. M – 65 M), filsuf-negarawan-dramawan  mengatakan, "Invisa nunquam imperia retinentur diu" – pemerintahan yang dibenci tidak pernah dapat bertahan lama.  Dan akibatnya dapat kita ketahui, ia dan suaminya dihukum pancung dengan hukuman  guillotine.  Memang, "gula plures interemit quam gladius" – kerakusan itu (dapat) membinasakan lebih banyak hal dibandingkan dengan pedang.

          Keinginan manusia itu tidak terbatas. Mahatma Gandhi (1869 – 1948)  pernah berkata, "Seluruh isi bumi ini tidak cukup bagi orang yang serakah" dan kata-kata itu benar adanya. Tidak jarang kita melihat para ibu yang suka belanja dan kebanyakan yang dibeli itu bukan yang dibutuhkan tetapi yang diinginkan (Bdk. Buku dengan judul  "Miss Jinjing – banjir diskon").  Lantas, dalam dunia pewayangan kita kenal tokoh, Petruk yang bergelar  "kanthong bolong" – sakunya berlubang, sehingga uang terus-menerus keluar.  Ia membelanjakan – barangkali –  hal-hal yang tidak berguna, useless expenditure. Orang semacam itu dalam kitab Amsal dikatakan, "Harta yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak tetapi orang bebal memboroskan hartanya" (Ams 21: 20). 

Kamis, 06 November 2014   Markus Marlon

__._,_.___
Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Senin, 03 November 2014

Rileks

RILEKS
(Kontemplasi  Peradaban)
 
Waktu saya menikmati pemandian santai di  "Relax Spa" – Cirebon beberapa tahun yang lalu, sejenak saya terkesima dengan tulisan ruangan spa  tersebut, "Santai adalah Rileks."   Spa sendiri – sejauh saya tidak salah ingat – merupakan akronim dari  "Sanitas per Aquam"  atau  "Salus per aquam"  – Kesehatan melalui Air.
          Kadangkala, orang menyamakan antara "santai" dengan "rileks," padahal kedua kata tersebut tidak sama. Kata "santai" itu berasal dari bahasa Palembang yang berarti: seenaknya atau  tidak bersungguh-sungguh. Ada juga yang mengatakan bahwa santai itu kependekan dari santap sambil melantai, makan-makan sambil duduk di lantai dan mendengarkan lagu.  "Uenak tenan" – enak sekali.  Sedangkan  "rileks" dari bahasa Latin, "relaxare" yakni: re, ke awal, lagi + laxare,  menjadi kendor. "Rileks"  yang dalam bahasa Inggris  relax berarti tidak tegang atau kendor.  Mungkin setelah berjam-jam bekerja kepala menjadi tegang, seseorang perlu untuk  refreshing,  relaxing dan itu bisa didapat dengan rekreasi.
          Pernah ada sebuah  pertanyaan yang ditujukan kepadaku, "Percayakah kamu bahwa pada saat rileks, banyak  masterpiece  – karya agung yang tercipta?"   Cicero (106 – 43 seb. M) ahli pidato, pengacara, politikus dan filsuf  Romawi pernah berkata,  "Homo relaxus"  – orang yang rileks memiliki daya cipta dan ide-ide yang tak terduga. Dalam suasana rileks, ide-ide yang terkurung menjadi "liar". Bahkan Albert Einstein (1879 – 1955) pernah berkata,  "thinking will onl get you from A to B, but imagination is able to take you from A to wherever" – nalar hanya akan membawa Anda dari A menuju B, tetapi imaginasi membawa Anda dari A ke mana pun.
          Seringkali kita mendengar  joke seperti ini, "Kantornya dipindahkan ke lapangan  golf"  Lelucon itu muncul bukan tidak tanpa alasan. Para bos dan para pemimpin tinggi dalam pemerintahan atau para direktur utama,  adalah pemegang kebijakan, stakeholder  atau pembuat   keputusan, decision maker.  Biasanya mereka tidak mengambil keputusan pada saat yang  otot dan suasana tegang. Tidak heranlah jika lobby, makan siang di restoran yang memberi suasana nyaman dan tenang acapkali dijadikan tempat pertemuan  – yang bisa jadi – menentukan nasib orang banyak.
          "Mungkin kita ingat pencipta lagu  masyur Beethoven?"  Ludwig van Beethoven (1770 – 1827)  adalah seorang komponis musik  klasik dari Jerman dan karyanya yang terkenal adalah "Simfoni ke-5"  dan "Simfoni ke-9" dan "Für Elise."  Ternyata beberapa simfoni itu dihasilkan dari kreasi mengubah yang enteng dan remeh-temah menjadi berbobot.  Yok, kita rileks jika otot tegang. Namun jangan seperti yang dinyanyikan Rhoma Irama, "Yok  kita santai agar otot tidak tegang!"

Senin, 03 November 2014   Markus Marlon
 
Website :
http://pds-artikel.blogspot.com