Minggu, 14 Desember 2014

Mata

MATA
(Kontemplasi Peradaban) 

"Tujuh kota berperang memperebutkan Homerus,
 yang sudah wafat, yang ketika  hidup,
tidak punya atap untuk menidurkan kepalanya"
 (Thomas Heywood, penyair Inggris: 1575 - 1641).
 
          Kita tahu bahwa Homerus (800 – 750 seb.M) adalah pendongeng ulung yang buta. Saya membayangkan sosok Homerus yang buta itu mirip dengan Prabu Drestarasta, raja Astina istri  Gendari, yang juga buta. Sang permaisuri  – dalam kisah Mahabharata itu – digambarkan sebagai ibu dari para Kurawa yang solider dengan penderitaan suaminya.  Ia sengaja menutup matanya dengan kain hitam supaya senasib dan sepenangungan dengan Sang Prabu.
          Kita tentu tidak tahu apa motivasi Gendari itu menutup mata. Lantas kita bertanya, "Apakah ketertutupan mata Gendari itu sama dengan Dewi Iustitia?"  Dewi Iustitia  atau dewi Keadilan, merupakan simbol kebanggaan orang-orang Romawi.  Kedua matanya ditutup dengan sehelai kain. Ia memegang sebuah neraca di tangan kirinya dan sebilah pedang di tangan kanannya. Mata yang tertutup menampilkan gagasan keadilan. Mata yang tertutup menunjukkan sikap netral, tidak memihak pihak-pihak yang bertikai.  Memang untuk menjadi adil, orang harus melihat dengan  "mata hati" seperti yang ditulis oleh Antoine de Saint-Exupéry (1900 – 1944),  "Hanya dengan hati seseorang dapat melihat  dengan benar, apa yang penting tidak terlihat mata."
          Kita sering mendengar kata-kata, "anak semata wayang" yang berarti anak satu-satunya. Disebut semata wayang karena wayang hanya memiliki satu mata (arti kiasan). Atau kita pernah mendengar kisah "Pendekar bermata satu"  dan juga film yang berjudul "Si Buta dari Gua Hantu."  Kalau dalam "Mitologi Yunani"  kita mendapatkan sebuah cerita dari Homerus yang buta itu tentang ras manusia purba raksasa yang memunyai satu mata di tengah-tengah dahinya, namanya Cyclops. Dan akhirnya kisah "Rusa Betina Bermata Satu" tulisan Aesop (620 – 560 seb.M).  Dalam kisah itu, Rusa yang bermata satu jika merumput di pantai, mata yang buta diarahkan kepada laut. Ia beranggapan bahwa dari laut tidak mungkin ada predator yang mengancam. Namun dalam kisah ini, Rusa terbunuh karena tidak menggunakan mata sebelah yang tidak buta (Bdk. David Noonan dalam bukunya yang berjudul,  "The Turtle Becomes a CEO" hlm. 159).
          "Mata adalah jendela hati disitulah bentuk cermin jiwa" demikian kata pepatah. Namun pepatah tersebut kini dipatahkan oleh "suara rakyat" yang mendambakan para pejabat yang melihat dengan "mata hati".  Sukardi Rinakit dalam  analisis politik-nya menulis, "Para pejabat tidak hanya melihat perikehidupan rakyat dengan mata terbuka, tetapi juga dengan mata hati. Mata terbuka justru harus ditutup karena semu dan sering menipu" (Kompas, 9 Desember  2014). Lantas, kita melirik kembali apa yang terjadi pada  sebuah padepokan Roemah Petroek di desa Karang Klethak, Sleman, Yogyakarta (Selasa 25 November 2014). Di sana "Mata Presiden Jokowi Ditutup Kain Hitam."  Dalam teater ini, sebelum meninggalkan panggung, Ferry menutup mata patung Jokowi dengan kain hitam, "Supaya presiden ketujuh ini tidak hanya bisa melihat realitas di negeri ini dengan mata fisiknya, tapi harus bisa membaca dengan mata hatinya seperti Gus Dur" (Kompas, Selala, 2 Desember 2014).
          Yesus pernah bersabda, "Jika matamu menyesatkan engkau cungkilah...." (Mrk 9: 47).  Memang, dari mata muncul banyak keinginan, dari mata tumbuh iri hati dan  dari mata……….. (isi sendiri). Dari sana pula, saya teringat drama  "Oedipus Rex" – Oedipus sang Raja,  tulisan Sophokles (497/ 496 – 406/405 seb.M). Dalam akhir drama, Jacosta pun sadar dengan tragedi yang menyakitkan.  Ia telah menikahi anak kandungnya sendiri, juga yang telah membunuh suaminya. Dengan hati yang pedih dan hancur, Oedipus pun menyadari hal ini dan mengutuk dirinya. Oedipus kemudian menemukan Jocasta telah tewas gantung diri. Dengan menggunakan tusuk konde dari Jocasta, Oedipus melukai kedua matanya sendiri hingga buta.

Rabu, 10 Desember 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Tidak ada komentar: