Selasa, 08 Januari 2013

Impian

IMPIAN
(Kontemplasi Peradaban)
 
          Pernah suatu hari, saya makan bersama dengan salah satu keluarga di  Restoran City Extra – Manado.  Keluarga itu membawa dua anak-anaknya  yang masih kecil. Sebelum hidangan disajikan, saya bertanya kepada salah seorang anak, "Adik, kalau besar nanti akan menjadi apa?"  Anak itu dengan penuh keyakinan berkata, "Saya ingin menjadi ahli masak dan bekerja di hotel berbintang, chef."  Mendengar cita-cita sang anak, ibu itu langsung marah, "Tidak boleh! Anak-anaku  harus menjadi dokter, insinyur atau pilot!"
 
          Anak-anak, sejak kecil sudah  diindoktrinasi supaya memiliki pekerjaan yang bergengsi.Tetapi para orang tua lupa bahwa mereka itu memiliki hidupnya sendiri, seperti yang ditulis oleh Kahlil Gibran (1883 – 1931) dalam Sang Nabi, "Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah putra dan putri dari kehidupan itu sendiri."  Impian itu muncul, ketika seorang anak sudah mengalami sendiri betapa indahnya kalau dirinya menjadi seperti yang diinginkan. Paulo Coelho dalam The Zahir memberikan pengertian bahwa ada passion, semangat,  gairah dan  zahir, sehingga seseorang tidak boleh tidak memikirkannya. Mungkin anak yang saya tanya tadi,  melihat betapa bahagianya bekerja sebagai  chef tersebut. Sartono Kartodirdjo ( 1921 – 2007) adalah pribadi yang concern dengan ilmu sejarah. Djoko Suryo, guru besar ilmu Sejarah UGM berkata, "Bapak Sartono memiliki kecintaan pada ilmu sejarah yang luar biasa."  R.A. Kartini (1879 – 1904) dalam Habis Gelap Terbitlah Terang atau Door duisternis tot licht, juga melukiskan betapa besar impiannya menjadi wanita yang "bebas". Kartini menulis suratnya kepada Ny. Abendanon pada tahun 1902, "Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi. Bila tiada mimpi, apakah jadinya hidup!"  Mimpi itu gratis dan Bung Karno (1901 – 1970) juga pernah berkata, "Gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit".
 
          Namun impian yang tidak disertai dengan niat dan juga tidak  bertindak bagaikan mimpi di siang bolong.  Di saat yang lain, Kartini menulis surat kepada Ny. Van Kol, "Saya teringat akan kata nyonya, supaya tercapai cita-cita, banyaklah angan-angan yang  harus dilepaskan. Karena ada bunga mati maka, banyaklah buah yang tumbuh".  Sehubungan itu, Ada kutipan Inggris yang bagus untuk disimak, "Dreamer without action or doer without a dream".  Kutipan tersebut mengandung maksud supaya kita berani mimpi yang tinggi, tetapi begitu bangun dari tidur,  take action-lah.

          Keinginan yang kuat  menumbuhkan seseorang untuk terlibat di dalamnya. Orang menjadi berani karena ada impian. Ferdinand Magellan (1480 – 1521) bermimpi untuk keliling dunia dengan berlayar. Keinginan Magellan hanya satu yaitu menjadi pelaut. Atau ada orang yang bernama Zeppelin (1838 – 1917)  – nama lengkapnya: Ferdinand Adolf  Heinrich August Graf von Zeppeplin  –  yang melihat burung terbang. Dalam benaknya ingin dia bisa terbang seperti burung, maka ia menciptakan balon udara panas.  Ini semua bermula dari impian. Memang benar apa kata Kartini, "Bagaimana jadinya jika dunia ini tidak ada impian?"

          Zaman sekarang ini, impian dapat kita lihat dalam  lagu Gangnam Style.  Sang penyanyi, Park Jae Sang (34 th),  kini sudah menjadi penyanyi top dunia. Lagu itu mengisahkan sebuah impian. Impian setiap warga Korea Selatan yang mendambakan kehidupan mewah a la Gangnam. Gangnam adalah daerah elite di Korea Selatan, bahkan kelasnya setara dengan Beverly Hills di California – Amerika. Di dalam lagunya Psy (panggilan penyanyi itu) berpura-pura menjadi seorang pemuda Gangnam yang bergelimang harta dan ia mencoba merayu wanita pujaannya.  Karena keyakinan atas  impiannya itu, dalam dirinya ada  passion, semangat,  gairah dan  zahir  untuk mewujudkannya (070113). Markus Marlon

 
Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com

Rabu, 26 Desember 2012

MESTAKUNG
(Kontemplasi Peradaban)

Belum lama berselang, saya diundang makan malam bersama beberapa keluarga di swiss-belHoteL – Merauke.  Dalam benak saya ada rasa enggan, karena nanti harus duduk berlama-lama dengan beberapa orang yang – mungkin – tidak saya kenal dan ini akan membuatku salah tingkah.  Saya ingin mencari alasan untuk tidak hadir, namun belum  saya dapatkan. Tiba-tiba  mak brês, hujan deras menyelimuti kota Merauke.  Dalam hati saya berseru, "Syukur kepada Allah!"  Di sinilah,  alam semesta mendukung apa yang saya pikirkan. Mestakung.

Yohanes Surya dalam Mestakung, mengajak para pembaca untuk tidak ragu-ragu terhadap apa yang diinginkan.  Dalam hal ini seperti apa yang dikatakan oleh  Cicero (106 – 43 seb.M),   "Animus hominis semper appetit agere aliquid" – jiwa manusia selalu ingin melakukan sesuatu.  Kalau seseorang  memiliki cita-cita yang baik, maka alam semesta tentu akan mendukung kita.

Tommy Siawira dalam Blueprint Kepribadian, mengedepankan tujuan dari visualisasi. Tulisnya, "Kalau kamu berharap memiliki rumah mewah di bilangan Jakarta Pusat, maka fotolah gedung-gedung itu dan tempelkan picture itu di kamar tidur, di toilet dan  di meja kerjamu. Cepat atau lambat, sebuah rumah mewah akan menjadi milikmu!"  Apa yang dikatakan Tommy itu tidak tanpa alasan. Kesungguhan seseorang dalam menggapai cita-cita akan didukung oleh niat dan  kegigihan. Inilah yang menurut Rhonda Byrne dalam The Secret sebagai kekuatan dalam diri untuk mendapatkan sesuatu seperti yang diimpikannya. Paulo Coelho dalam The Alkemis juga memberikan alasan yang sama bahwa  apa yang dibuat oleh Santiago  mantan seminaris itu "berkeliling dunia" dengan domba-dombanya dan akhirnya mendapatkan apa yang diimpikannya, termasuk mendapatkan Fatima tentunya.

Ungkapan Latin, "Fortuna favet fortibus"  – nasib baik menyertai orang yang berani,  rupanya tepat untuk mereka yang sedang mengejar cita-cita.  Astuti Ananta Toer (penyunting) dalam 100 wajah Pram dalam Kata dan Sketsa, membeberkan betapa keberanian sang sastrawan kandidat  penerima Nobel itu dalam mewujudkan cita-citanya. Ia hidup dalam tiga masa (Belanda, Orla dan Orba). Ia keluar-masuk penjara dan pada masa Orba, selama 14 tahun diasingkan di Pulau Buru. Namun di tempat yang "tidak bersahabat" itulah tetralogi (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca)  itu  terbit. Dari tangannya pula terlahir novel-novel yang jumlahnya puluhan. Karena impiannya dan keberaniannya, sastrawan besar kelahiran Blora 1925 ini dapat  disejajarkan dengan  Gunters Grass (Jerman), Albert Camus, Jean-Paul Sartre (Prancis), Multatuli (Belanda),  Rabindranath Tagore (India), Gao Xinjian (Cina),  Gabriel Garcia Marquez (Kolombia), maupun Jose Saramago (Portugis).  Alam semesta mendukung Pram, meskipun ia ditekan oleh  pelbagai pihak. 

Kahlil Gibran (1883 – 1931)  dalam Sang Nabi telah menulis, "Bila cinta mendatangaimu, ikuti dia, walaupun jalannya sulit dan terjal. Dan ketika sayapnya mengembang mengundangmu. Walaupun pedang yang tersembunyi di antara ujung sayapnya dapat melukaimu." Penyair dari Lebanon itu  benar. Sebagai contoh, Seorang ibu memiliki keberanian makantar-kantar, ketika memperjuangkan kehidupan bagi anak-anaknya – orang-orang yang dicintainya.  Nyalinya tidak mengecil ketika ada tantangan yang hendak mencelakai anak-anaknya.  Ibu itu  tidak akan merasakan susah-derita, ketika orang-orang yang dikasihi membutuhkan dirinya. Cita-citanya hanya satu: kebahagiaan orang-orang yang dikasihi. Ternyata jauh sebelum itu, Johann Wolfgang Goethe (1749 – 1832),  sastrawan asal Jerman pernah berkata, "Apa  yang dapat engkau lakukan atau impikan dapat engkau lakukan, lakukanlah itu! Keberanian itu punya kuasa, kejajaiban  serta kejeniusan di dalamnya." Alam semesta akan mendukung jika seseorang berbuat untuk kebaikan sesama. Mestakung!!!

(261212). Markus Marlon


Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com

Kamis, 20 Desember 2012

IBU
(Kontemplasi Peradaban)
 
          Kasih ibu kepada beta
          Tak terhingga sepanjang masa
          Hanya memberi, tak harap kembali
          Bagai sang surya menyinari dunia
 
          Syair tersebut di atas sungguh  familiar dengan telinga kita. Seorang ibu adalah pribadi terdekat dari  anak-anak yang dilahirkan dari rahimnya.  Maxim Gorki dalam Mother  – sudah diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer (1925 – 2006)  menuliskan bahwa seorang ibu itu amat mencintai anaknya melebihi segalanya, bahkan nyawanya sendiri.

          Pengorbanan seorang ibu yang dilukiskan dalam syair di atas nampak dalam kisah-kisah menyedihkan sekaligus membanggakan. Robin Maxwell dalam Signora da Vinci, melukiskan perjuangan Caterina, ibu dari Leonardo da Vinci (1452 – 1519) dalam menapaki kariernya.  Sang ibu rela meninggalkan kampung halamannya dan ayahnya, Ernesto untuk pergi ke Florence. Di sana Caterina menyamar sebagai lelaki, untuk mendampingi anaknya yang sedang belajar melukis. Keberuntungan bepihak pada Leonardo muda karena dia dilindungi oleh keluarga kaya yakni: Keluarga Medici.  Ia memotong rambutnya yang panjang dan memakai kemben yang ketat serta  berganti nama menjadi Cato, "meminjam" nama  penyair Romawi yang terkenal itu. (Membayangkan penyamaran yang dibuat oleh Caterina, saya jadi ingat akan novel yang berjudul Pope Joan, yang sudah di-film-kan.  Novel dan film-nya tidak jauh berbeda. Paus Joan mengungkapkan kefeminitasannya karena melahirkan secara tak diharapkan dalam sebuah prosesi. Bdk. Rahasia-rahasia Vatikan, hlm 89.  Ini adalah  kisah fiksi tentang  Paus wanita). Berkat pengorbanan sang ibu, Leonardo da Vinci akhirnya menjadi seniman multi-talent yang belum ada tandingannya hingga detik ini. 

Pengorbanan seorang ibu itu sebenarnya sudah bisa kita lihat dalam tradisi Gereja abad pertengahan yakni burung pelican.  Dalam  mozaik-mozaik gereja, sering ada lukisan seekor burung yang temboloknya berwarna merah. Itulah darah. Ketika sang induk  tidak dapat memberikan makanan bagi anak-anaknya, maka ia mencucukkan temboloknya sendiri  dan mengambil makanan itu untuk diberikan kepada piyék-piyék-nya (anak burung). Tentu saja sang induk merasa kesakitan. Oleh para biarawan MSC, kisah ini disenandungkan dengan syair, "Pelikan yang kudus, Yesus Tuhanku."

          Kisah-kisah kerajaan maupun kekaisaran sering menampilkan para ibu suri, garwa padmi, permaisuri yang berambisi untuk  mengangkat putranya sendiri untuk  menjadi putra mahkota atau pangeran.  Pearl S.  Buck dalam Maharani mengisahkan seorang ibu yang berkorban mati-matian supaya anaknya menjadi Kaisar – kekaisaran Manchu di Cina. Namun sayang bahwa perjuangan sang Maharani – nama kecilnya Yehonala – itu tidak terwujud, sebab sang Kaisar, putranya  itu mati muda. Ada juga permaisuri bernama Olympia, yang  berambisi supaya anaknya, Alexander Agung dari Makedonia (356 – 323 seb.M) itu nantinya sebagai Raja bagaikan dewa. Maka, ketika mengandung, ia rela "ditemani tidur"  bersama ular-ular berbisa  (Bdk. Alexander the Great). Atau, Ibu dari Fransiska dalam Badai Pasti Berlalu tulisan Marga T,  memiliki keinginan supaya sang putri yang mengalami patah hati itu bisa hidup normal lagi. Ada tiga pria dalam kehidupan Fransiska yaitu: Kris, Helmy dan Edo. Atau kisah dari   Meggy Cleary,  seorang ibu yang luar biasa tegar. Colleen McCullough dalam The Thorn Birds mengisahkan pengorbanannya dalam membesarkan  putranya yang bernama Dane O'Neill yang bercita-cita menjadi pastor. Anak ini terlahir dari  hubungan gelap antara Meggy dengan seorang pastor dan akhirnya menjadi Kardinal.  Kardinal itu bernama Ralp de Bricassart. Akhir dari kisah ini yaitu, kematian Dane dan atas pertolongan sang Kardinal di Vatikan mengembalikan jenasah Dane ke kampung halaman di Drogheda  – Australia. Sedih memang!

          Lebih sedih lagi, ketika kita mengontemplasikan Ibu Kunthi, seorang  ibu dari Pandawa Lima (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa). Nyoman S. Pendit dalam Mahabharata melukiskan kesedihan Ibu Kunthi ketika hendak menyaksikan dengan kepala sendiri perang tanding antara Arjuna dan Karna. Mereka berdua dalah anak kandung sendiri. Ibu Kunthi menangis dengan air mata berlinang supaya peperangan itu dibatalkan. Namun kedua satria itu harus menjalankan dharma-nya masing-masing dan keberuntungan diraih pada pihak Arjuna (Bdk. Lakon wayang berjudul Karno Tanding dengan dalang Hadi Sugita).  Kita bisa juga melihat kesedihan seorang ibu dalam kisah Sangkuriang maupun kesedihan Yocaste dalam Oidipus Rex, kesedihan seorang janda dalam Malin Kundang dan penderitaan Penelope yang menunggu suaminya Odysius yang selama sepuluh tahun mengadakan perjalanan panjang dan penuh tantangan – the long  and winding road – dari  Troya menuju Itacha.  Maaf  kepada yang mulia:  Helene dari Troya (Tokoh ini ada dalam Iliad  karya  Homerus ± abad VIII seb. M) dan Cleopatra  dari Mesir (69  –  30 seb. M), sebab nama kalian tidak masuk dalam daftar ini.

          Seorang ibu itu bagikan pribadi yang memiliki kekuatan seperti baja namun lembut bagaikan bunga. Jung Chang dalam Angsa-Angsa Liar mengisahkan "keperkasaan" tiga generasi wanita hidup dalam tekanan dan penderitaan pada masa kekuasaan Mao Tse-Tung (1893 – 1976). Dalam suasana yang chaos, mereka bisa bertahan. Tidak ada pengeluhan, tidak ada penyesalan dan tidak ada rasa putus asa. Sebaliknya yang ada adalah harapan dan kegembiraan untuk menyambut hari esok yang membahagiakan. Barangkali ini yang sering didengung-dengungkan oleh orang-orang Kristiani, "Dia membuat segala sesuatu indah pada waktunya" (Pkh 3: 11).

          Kekuatan seorang ibu terletak pada kelembutannya. Tidak heranlah jika banyak  nama-nama yang disematkan untuk menghormati nama ibu, seperti:  Ibu pertiwi, Ibu kota, alma mater, rumah induk dan induk semang. Saya menjadi  ingat dan rindu kepada ibu saya yang tinggal di desa Playen – Gunungkidul. Saya memanggilnya simbok. Setiap pagi, simbok saya ndhodhok sambil mbopong (membawa) tenggok. Simbok  bekerja dari subuh hingga maghrib dan tidak pernah mengeluh, meskipun sakit boyok, yah karena menggendong  tenggok  tadi. Itulah ibuku.

221212.  
Markus Marlon

         
Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com

Minggu, 16 Desember 2012

HASUT
(Kontemplasi  Peradaban)
 
          Belum lama ini saya mengunjungi kampung yang bernama  Matara, sebuah kampung di Wendu – Merauke (16 Desember 2012). Sesampai di  kampung tersebut pikiran saya teringat pada sebuah kota yang bernama Tara, tempat tinggal dari tokoh utama novel Gone with The Wind yang bernama Scarlett O'Hara. Dalam perjalanan itu saya juga membaca buku Ramayana tulisan Nyoman S. Pendit. Tanpa sadar, saya terpukau dengan seorang wanita tengah baya yang bernama Mantara.  Ceritanya hampir sama dengan Anak Bajang Menggiring Angin tulisan Sindhunata.  Kedua novel tersebut menyinggung Dewi Tara yang jadi rebutan antara Sugriwa dan Subali.

          Di sini, saya hendak mengontemplasikan bahwa nama Tara, Matara dan Mantara  – mungkin juga Tara-tara, sebuah kampung di Minahasa –itu memiliki kisah yang menarik. Dikisahkan bahwa Dasaratha sudah menyiapkan Rama untuk menjadi raja di Ayodya. Ketiga permaisuri itu adalah: Sumitra, Kausalya dan Kaikeyi. Mereka bertiga hidup tentram, rukun dan damai. Tidak ada rasa iri, dendam dan mementingkan diri sendiri. Namun kerukunan itu sirna, tatkala Mantara  seorang wanita – maaf – mirip mak lampir itu menghasut Kaikeyi bahwa yang berhak menjadi Raja adalah Bharata putranya. Sudah berkali-kali, Kaikeyi tidak mau mendengar apa yang dikatakan Mantara. Tetapi karena "diilikithik" (digoda terus-menerus), maka menyerahlah Kaikeyi dan menghadap  Dasaratha supaya pemahkotaan Rama  atau Rajasuya  dibatalkan. Bahkan Dasaratha harus membuang Rama di hutan Dandaka yang terkenal angker dan menobatkan Bharata menjadi Raja. Mantara, si penghasut itu pernah mendengar janji Dasaratha kepada permaisuri tercantik, Kaikeyi bahwa di kemudian hari anaknya akan diangkat sebagai putra mahkota.

          Karena hasutan itulah, sebuah rencana bisa gagal. Karena hasutan sebuah impian menjadi mimpi buruk di tengah bolong. Karena hasutan sebuah kehidupan yang indah jadi berantakan. Marga. T dalam Sepagi itu Kita Berpisah menggambarkan sosok Odi Bobadila sebagai penghasut Keluarga Deni dan Triska Omega.  Orang yang menghasut itu bermain di luar. Ia berusaha supaya suasana yang teratur-rapi menjadi amburadul. Dalam permainan kartu, orang yang  ngasut adalah orang yang mengocok kartu dan membagikan kartu-kartu itu kepada para pemain.   Jadi dialah yang menjadi dhalang ataupun sutradara.

          Hasutan baru terjadi jika diwujudnyatakan, entah itu dalam kata-kata maupun perbuatan. Pembunuhan Julius Caesar  (100 – 44 seb.M) yang terjadi pada pertengahan Maret 44 karena ditusuk hingga mati oleh Marcus Junius Brutus (85 – 42 seb.M). Peristiwa ini terjadi karena adanya kata-kata yang mengarah pada perundingan (conspiration) dari Marcus Brutus, Cassius, Casca, Trebonius, Ligarius, Decius Brutus dan Mettelus Cimmber. Akan lebih mendalam  jika kita membaca kisah-kisah konspirasi dari para Mafioso dan Godfather serta  Sherlock Holmes tulisan Sir Arther Conan Doyle.

          Pikiran  menjadi ladang empuk untuk terjadinya penghasutan. Beberapa kaisar Romawi ada yang mentahbiskan  dirinya sebagai Dewa. Para Firaun mendirikan Piramida untuk makamnya. Kaisar-kaisar di Cina membangun makam-makan mewah untuk dirinya sendiri,  seperti yang terlihat dalam  terra cota. Itu karena dalam dirinya terobsesi   – mungkin – terhasut untuk menjadi abadi. Sidik Nugroho dalam 366 Reflections of Life, menulis hasutan yang terjadi dalam diri Adolf  Hitler. Hitler menganggap dirinya sebagai "Penerus tugas-tugas Martin Luther yang belum selesai." Ia menebarkan ajaran bahwa semua orang Yahudi perlu dibasmi karena merekalah yang membunuh Yesus. Ia menghasut dirinya sendiri terus-menerus, sehingga tidak kurang dari 6.000.000 orang Yahudi tewas dalam kamp konsentrasi.

          Zaman sekarang ini, hasutan-menghasut ada di mana-mana.  Karyawan kantor menghasut kepala kantor, tukang cukur menghasut para pelanggannya, sopir pribadi menghasut majikannya, tukang pijat menghasut orang yang keseleo, pembantu Rumah Tangga menghasut tuannya, koster menghasut Dewan Paroki, Umat menghasut pastor paroki dan masih banyak lagi hasutan-hasutan. Mbuh ra weruh!!  artinya, entah saya tidak tahu lagi (16 Desember 2012). 

 

Rm. Markus Marlon MSC

Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com

Jumat, 19 Oktober 2012

Lebah dan Lalat.

Mengapa lebah cepat menemukan bunga?
Mengapa lalat cepat menemukan Kotoran?

Karena didalam pikiran lebah hanyalah madu dan madu saja, sedangkan didalam pikiran lalat hanyalah kotoran dan kotoran saja.

Alhasil susah bagi lebah untuk menemukan kotoran, tapi mudah dan cepat bagi lebah untuk menemukan bunga dimanapun.

Sebaliknya,susah bagi lalat untuk menemukan bunga, tapi mudah dan cepat bagi lalat untuk menemukan kotoran dimanapun.

Apa hasil akhirnya?

Lebah menghasilkan madu yang sangat bermanfaat, sedangkan lalat menyebarkan kuman penyakit.

PESAN MORAL.

Apa yang kita pikirkan akan menghasilkan apa yang kita lihat dan apa yang kita lihat akan menghasilkan apa yang akan kita peroleh.

Hidup kita sangat tergantung dengan hati dan pikiran kita.

Kalau hati dan pikiran kita selalu negatif, maka apa saja yang kita lihat akan selalu menjadi negatif dan hasil akhirnya adalah sebuah kehidupan negatif yang penuh permasalahan.

Kalau hati dan pikiran selalu positif, maka apa saja yang kita lihat akan selalu menjadi positif dan hasil akhirnya adalah kehidupan positif yang penuh kebahagiaan.

Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com

Selasa, 18 September 2012

KEMBALI*
(Sebuah Percikan Permenungan)
 
          Ketika saya mengadakan perjalanan ke  Jakarta ada rasa gembira. Di ibu kota itu, segala macam hal dapat kita dapatkan. Bahkan saya boleh berkata, "Tidak ada hal yang tidak ada di Jakarta." Gedung-gedung mewah dengan segala fasilitasnya untuk sementara waktu menyenangkan. Namun tidak lama kemudian, saya ingin kembali ke rumah, apalagi ingat film yang berjudul "Home, Sweet Home,"  sebuah film tentang kehidupan John Howard Payne (1791 – 1852).

          Rumah, bagaikan rahim yang menerima kita apa adanya. Anand Krisnha dalam  99 Nama Allah bagi Orang Modern menunjuk  pada makna  Ar-Rahim yang berarti Maha Penyayang.  Allah begitu menyayangi umat dan Allah rindu para umatnya untuk kembali ke dalam fitrah-nya. Henri J.M. Nowen (1932 – 1966)  dalam The Return of The Prodigal Son,  melukiskan betapa bahagianya, jika ada seorang anak yang kembali ke pelukan bapanya  (Luk. 15:  11 –  32).  Perjalanan kembali ke rumah yang dipenuhi dengan keraguan serta rasa malu yang tinggi, akhirnya disambut dengan tangan terbuka. Cover dari buku tersebut  tersebut memberikan inspirasi kepada kita tentang pengampunan. Dalam lukisan tersebut, Rembrant (1606 – 1669) mengajak kita  untuk merenungkan arti rangkulan seorang bapa  terhadap  anaknya. Tangan kanan bapa, kuat dan legam, sedangkan tangan kirinya halus dan indah. Ini melukiskan bahwa kebapakan dan keibuan telah menerima anak yang hilang tanpa syarat.

Sebuah lagu yang dipopulerkan kembali oleh  Marcello Tahitoe yang nama pop-nya Ello, berjudul "Pergi untuk Kembali"  memiliki makna bahwa setiap kita memiliki tugas untuk pergi: mencari kehidupan.  Edith Hamilton dalam Mitologi Yunani, memaparkan  seorang pahlawan bernama  Herkules.   Selama hidupnya, ia berpetualang dan  diberi pelbagai tugas,  yang terkenal dengan sebutan The twelve labours of Hercules. Bertahun-tahun "anak Dewa Zeus" ini sibuk dengan tugas-kewajibannya. Namun pada akhirnya, ia kembali ke rumahnya hidup bersama istrinya, Deianeira dan anak laki-lakinya.  E.V. Rieu dalam Odyssey juga mengisahkan tentang petualangan Odiseus yang setelah perang Troya berakhir ia ingin kembali ke Itacha. Selama sepuluh tahun ia berpetualangan dalam pelbagai pengalaman. Betapa bahagianya ketika akhirnya ia kembali ke istananya dan berjumpa dengan Penelope, istrinya dan Telemachus, anaknya. Dalam keluarga itu Odiseus menemukan dirinya sendiri. Home sweet home. 

Mungkin orang pada masa mudanya memiliki aneka macam pekerjaan. Ada pekerjaan yang merupakan tugas, ada pekerjaan lain sebagai kewajiban. Namun ada pekerjaan yang sungguh-sungguh ia senangi. Setiap kali mengerjakan tugas itu ia mendapatkan gairah, semangat dan passion. Pekerjaan inilah yang dianggap sebagai vocation atau calling  (panggilan jiwanya).  Ia pergi ke mana-mana, akhirnya kembali ke dalam dirinya yang sungguh-sungguh membuatnya bahagia, yaitu panggilan jiwanya.

Kembali sangat memiliki makna spiritual. Prosesi lilin  Tuan Ma  yang diadakan setiap pekan suci (Paskah) di Larantuka – Flores,  memiliki makna spiritual yang mendalam. Pada malam itu setiap nisan diberi lilin menyala. Di beberapa daerah seantero negeri ini, setiap hendak memasuki bulan Ramadhan masyarakat mengadakan bersih-bersih makam. Selain mensyukuri kedatangan bulan Ramadhan, juga untuk menghormati arwah kaum kerabat yang sudah meninggal dunia, seraya menziarahi dan mendoakannya. Kemudian di makam-makam Katolik yang sering  disebut dengan nama  kerkoff,  tertulis pada gapura "Memento Mori" yang berarti Ingatlah akan kematian.   Filosofi  Jawa menulis, "Sangkan paraning dumadi" yang berarti dari mana kita berasal dan akan ke mana setelah hidup kita di dunia ini.

Tatkala kita kembali ke kampung halaman,  ada rasa nyês bila berjumpa dengan sahabat  dan handai taulan.  Kembali ke tempat kelahiran sungguh memiliki makna yang mendalam. Tiada pengalaman yang semendalam, ketika kembali melihat dan mengenang kembali masa-masa kecil. Sapaan-sapaan dari sahabat dan handai taulan yang setia "menunggu" kampung halaman membuat ingat kembali masa lalu. Dari sana pula, saling memaafkan dan kembali kepada fitrah. Dalam filsafat kita kenal istilah tabula rasa  (bahasa Latin), terjemahan bebasnya  berarti papan tulis yang masih bersih. Seorang bayi itu suci dan kudus, belum terkontaminasi dengan dunia luar. Dalam kekristenan, kita mengenal "dilahirkan kembali" atau dibaptis (Yoh. 3: 3).

Inilah pertanyaan dalam diriku, setiap kali merenungkan hidup ini, "Ke manakah aku bakal kembali?  Di mana tempat hinggap- ku,  andai melesat terbang  dari kurungan (badan jasmani) di dunia ini? Ke manakah aku  hendak kembali setelah aku pergi bertandang di dunia ini?" (17 September 2012).

*Sudah dipublikasikan di Suara Pembaharuan Minggu, 13 – 19 September 2012

Markus Marlon
"Biara Hati Kudus"

Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com

Minggu, 09 September 2012

Sabar

SABAR
(Sebuah Percikan Permenungan)
 
          Film yang  berjudul The Vow garapan Michael Sucsy,  mengisahkan dua sejoli: Leo (Channing Tatum) dan Paige  (Rachel McAdams) sebagai  sepasang suami istri yang amat  harmonis. Karena sebuah kecelakaan yang fatal, mengakibatkan istrinya menderita amnesia (hilang ingatan). Bahkan dia juga tidak ingat bahwa dirinya adalah suami Leo. Berbulan-bulan, Leo "membimbing" Paige untuk menemukan dirinya kembali. Tentu saja yang dibutuhkan Leo adalah kesabaran, kesabaran dan kesabaran. Pepatah Latin yang berbunyi, "patientia vincit omnia"  (kesabaran mengalahkan segalanya),  tepat jika disandangkan kepada Leo. Akhir dari kisah nyata tersebut, Leo bisa mengajak kembali istrinya di rumahnya dan memiliki dua orang anak.

          Sikap-sikap hidup manusia yang  tidak sabar rupanya sering kita jumpai dalam hidup sehari-hari.  Ketika sedang mengendarai mobil kemudian dilambung oleh yang lain,  kadang terdengar makian karena tersinggung. Gara-gara uang Rp. 10.000,00 orang bisa baku bunuh. Orang salah bicara sedikit, terjadi salah paham dan menimbulkan konflik yang berkepanjangan. Orang Jawa memiliki ungkapan  "dowo ususe"  yang artinya panjang ususnya, panjang sabar.  Orang yang kurang sabar atau mudah marah itu diistilahkan sebagai orang yang pendhek ususe atau pendhek sumbune.  Seseorang yang memiliki sumbu pendek, tentu saja mudah tersulut  oleh api. Orang bisa mengamuk jika harapannya tidak dipenuhi dengan merusak fasilitas-fasilitas publik. Rupanya orang Inggris terkesan dengan istilah amuk ini, sehingga kata amuk itu dimasukkan dalam perbendaharaan kata ( vocabularium) . Bangsa Indonesia menyumbangkan kata amok itu ke dalam kancah internasional.

          Bahkan budaya antri atau mengurus adminstrasi di kantor-kantor, juga tidak ada kesabaran. Mereka ingin segera mendapatkan KTP atau SIM misalnya,  dengan cara "menembak".  Menurut Koentjaraningrat (1923 – 1999),  mental menerabas adalah nafsu untuk mencapai tujuan secepat-cepatnya tanpa banyak berusaha secara bertahap dari awal hingga akhir. "Sikap mental ini diikuti pula oleh sifat-sifat buruk lainnya, seperti tidak berdisiplin, suka mengabaikan tugas yang diberikan dan meremehkan kualitas serta tidak peduli pada aturan-aturan yang berlaku," tuturnya.

          Aesop (± 620 – 564 seb. M), pendongeng fable dari Yunani Kuno, ratusan tahun lalu  menulis dongeng yang berjudul, The goose and the golden eggs. Kisah ini  merupakan permenungan bagi manusia yang tidak sabar menunggu angsa yang bertelur emas setiap hari. Karena tidak sabar  menunggu, disembelihlah angsa tersebut. Pemilik angsa itu berpikir bahwa di dalam tubuh angsa itu terdapat banyak telur. Tetapi yang ditemui adalah ketiadakaan telur emas-telur emas tersebut. Orang ini telah membunuh modal utama, karena tidak sabar menunggu "bunga" yang didapat setiap bulannya.

          Kesabaran Tuhan  dapat kita lihat pada perumpamaan lalang di antara gandum. Pada waktu itu, kebun gandum dipenuhi dengan lalang. Tuan tanah berkata, "Biarkanlah keduanya tumbuh bersama-sama sampai waktu menuai" (Mat. 13: 30).  Tuhan begitu sabar terhadap umat-Nya. Dan akhirnya, kita bisa  belajar bersabar dari Rasullulah.  Alkisah, ketika Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya, Ali berjalan bersama-sama, ada seorang pria yang kemudian menghina Ali dengan kata-kata kasar. Ali yang bernama asli Haydar bin Abu Thalib itu tidak tahan kemudian membalas perlakuannya.  Namun sang Nabi meninggalkan dia.

          Kemudian, ketika Ali berjumpa sang Nabi, ia menggerutu, "Mengapa Rasullulah pergi dan meninggalkan saya sendirian menghadapi penghinaan tadi?" Nabi Muhammad pun menjawab, "Sahabatku, ketika orang berwatak kasar itu menghina engkau dan engkau diam, ada sepuluh malaikat melindungi engkau dan berpihak padamu. Tetapi ketika engkau mulai berbalik dan menghina, malaikat-malaikat itu meninggalkan engkau dan begitu juga Saya memutuskan untuk meninggalkan engkau" (10 September 2012).

Markus Marlon
"Biara Hati Kudus"
Jl. Raya Pineleng KM. 9
PINELENG – MANADO
95361
 
Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com