Selasa, 28 Desember 2010

Pencari Bayi Yesus yang Tertinggal : Artaban

PENCARI BAYI YESUS YANG TERTINGGAL : ARTABAN
(Sebuah Percikan Permenungan)

Jujur saja, barangkali kita familiar dengan nama ketiga Raja yang
mengunjungi Yesus sewaktu masih bayi. Nama ketiga Raja itu adalah Melchior,
Kaspar dan Balthasar. Namun kita belum begitu akrab bahkan asing dengan
nama Artaban.

Berdasarkan novel karya klasik Henry van Dyke, "The Story of The Other
Wise Man", Artaban adalah orang yang ketinggalan atau mungkin - kita tidak
tahu - "ditinggal" oleh ketiga Raja tersebut. Namun dalam ketertinggalannya
itu, Artaban tidak putus asa, melainkan menggunakan seluruh hidupnya untuk
servitudo (pelayanan). Bersama budaknya yang bernama Orentes yang kemudian
menjadi sahabatnya. Artaban tinggal di daerah kumuh, menjadi sahabat bagi
yang sakit dan pembela kaum marginal. Sepanjang perjalanan, Artaban
menggunakan hadiahnya untuk membantu orang yang memerlukannya, sampai
dirinya tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan kepada Mesias, sang
bayi Yesus. Klimaks dari kisah ini adalah pada hari Minggu Paskah, Artaban
yang sudah tua dan sekarat akhirnya berjumpa dengan Raja yang kemudian
memberikan kedamaian pada saat-saat akhir hidupnya. Artaban mewakili
sosok-pribadi yang tidak menonjol dalam tugas pelayanan. Kalau kisah ini
diterapkan dalam hidup kita, maka seorang Artaban itu tidak menonjol dalam
sepak terjangnya.

"Kerja di belakang layar", itulah istilah yang tepat untuk karya-karya
seperti ini. Dalam sejarah, orang-orang yang bekerja di belakang layar
memainkan peranan yang amat istimewa, bahkan mengubah masa depan umat
manusia. Helen Keller (1880 -1966), yang meskipun secara fisik adalah
cacat, tetapi telah memberikan inspirasi bagi jutaan umat manusia. Helen
Adam Keller lahir di Tuscumbia, Amerika adalah seorang putri ningrat yang
memiliki banyak budak. Ia terlahir bisu, tuki dan buta namun akhirnya
menjadi lentera dunia bagi orang-orang yang mengalami nasib sama. Berkat
gurunya, Annie Sullivan, yang dengan ketekunan, kesabaran dan pantang
menyerah mendidik Helen seumur hidup. Kini, betapa harum nama Helen Keller
bagi dunia. Nama Sullivan bahkan tidak pernah kita dengar. Atau Alexander
Agung (356 - 323 B.C) yang namanya besar, agung dan mulia adalah Raja
Macedonia dan jendral terbesar pada zamannya. Ia dikagumu oleh Julius
Caesar (100 - 44 B.C), salah seorang dari orang-orang terkenal yang adalah
diktator Romawi, jendral termasyur dan hebat. Makam Alexander Agung selalu
dikunjungi Markus Antonius (82 - 30 B.C), seorang jendral dan dewan
triumvirat Romawi. Setiap bersujud di makam Alexander Agung, dirinya selalu
disertai oleh istrinya Cleopatra. Tak heranlah, jika anak sulung mereka
dinamakan Alexander, kembarannya, Selena dan si bungsu Ptolomy. Tetapi,
apakah kita menyadari bahwa sejak masa remajanya, Alexander Agung
dibimbing, dituntun dan menjadi murid kesayangn Aristoteles (384 - 322),
filsuf dan cendekiawan besar Yunani kuno. Sullivan dan Aristoteles adalah
hanya sekadar contoh saja yang memiliki semangat pelayanan total. Mereka
berani hidup dalam kesendirian, bahkan mungkin kesepian demi pelyanan tanpa
dikenal dan tidak populer.

Mencari Yesus memang tidak dilalui dengan keglamoran maupun popularitas.
Mungkin kita ingat St. Kristoforus. Ia disebut sebagai pelindung dalam
perjalanan. Legenda yang berkembang pada zamannya hampir sama dengan
kisah-kisah para kudus. Tetapi dirinya tidak diketahui secara pasti. Arti
nama Kristoforus sendiri adalah pembawa Kristus (Christ - bearer) yang
dilukiskan sebgai manusia perkasa yang setelah bertobat menjadi penjaga
sungai untuk menolong orang yang mau menyeberng di sungai di pundaknya.
Sungguh, dia pencari Kristus sejati yang hidup dalam kesendirian dan sepi.

Akhir dari kisah klasik, "The Story of The Other Wise Man" itu melukiskaan
perjupaan antara Yesus dengan Artaban. Artaban merasa menyesal, karena
dirinya tidak bisa mempersembahkan hadiah bagi Sang Raja. Namun dengan
tegas, Yesus bersabda, "Yang kau perbuat bagi saudara-Ku yang paling
hina, telah kau buat bagi-Ku"


Merauke, 24 Desember 2012

"Selamat Hari Natal"

Markus Marlon MSC

JALAN KEHIDUPAN

JALAN KEHIDUPAN
(Sebuah Percikan Permenungan)

Akhir dari sebuah film yang berjudul Quo Vadis yang dikisahkan dari Novel,
karya Henryk Sienkiewicz, begitu menyentak hati. (Hanya kadang-kadang ada
rasa sedikit kecewa, sebab dalam novel lebih seru daripada melihat
filmnya). Sebelum kata The End, tertulis kata-kata, "Akulah Jalan dan
Kebenaran dan Hidup" (Yoh 14:6). Kata-kata itu sebagai rangkuman, bagaimana
sang tokoh utama: Lygia dan Marcus Vinicius mempertahankan imannya di
bawah kekejaman Kaisar Nero, pembunuh ibunya dan pembunuh istrinya serta
pembakar kota Roma.

Di akhir cerita tersebut, di Jalan Appia, Petrus hendak meninggalkan kota
Roma disertai Nazarius. Namun di tengah jalan, ia melihat sinar dan Petrus
berkata, "Quo vadis Domine?". Jawab-Nya, "Aku hendak ke Roma untuk
disalibkan yang kedua kalinya." Dengan penuh kesadaran dan penyesalan,
Petrus kembali ke Roma ( Ad Roman) dan - atas kehendaknya sendiri - dirinya
tidak layak disalibkan seperti Kristus, maka ia disalibkan dengan kepala di
bawah. Inilah jalan kehidupan yang harus dilalui oleh Petrus. Sebagai
kenangan, tidak jauh dari Porta Capena kuno, sampai sekarang masih berdiri
sebuah gereja kecil berisi tulisan dengan huruf setengah timbul: Quo vadis,
Domine?

Jalan kehidupan manusia memang berbeda-beda dan tidak terduga. Sewaktu
sekolah, mungkin kita memiliki teman yang pendiam bahkan cenderung tidak
menonjol, tetapi 20 tahun kemudian, teman kita tersebut menjadi orang yang
sukses dan pembicara ulung, seperti Demosthenes. The Beatles dalam lagunya
yang berjudul "The Long and Winding Road", mengajak untuk bermenung bahwa
jalan hidup kita ini panjang dan berliku, namun penuh dengan keindahan,
kadang mengalami suka dan tidak jarang mengalami duka. Para penakluk dunia,
seperti Gengis Khan, (1162 - 1227) Alexander Agung (356 -323 BC) dan
Napoleon Bonaparte (1769 - 1821) dalam tulisan-tulisan sejarah
kadang-kadang mereka dilukiskan sebagai setengah dewa dan sejak bayi
diramalkan akan menguasai dunia. Tapi harus diingat bahwa jalan kehidupan
mereka dilalui dengan perjuangan yang dahsyat. Jalan menuju ke puncak
dilalui dengan bersimbah darah. Orang-orang besar juga mengalami "the long
and winding road"-nya sendiri-sendiri.

Paulus menemukan jalan kehidupannya, ketika menganiaya pengikut Kristus
dan mengalami kebutaan setelah melihat Kristus di Jalan Lurus (Kis 9:11).
Jules Chevalier, pendiri Tarekat MSC, juga mengalami suatu pengalaman
terindah dalam hidupnya dan dan menghayati untuk memberikan dirinya
lebih untuk berdevosi kepada Hati Kudus Yesus. Orang-orang, seperti St.
Ignatius dari Loyola, pendiri Ordo Sarekat Yesus, dengan "Latihan
Rohaninya" dan St. Agustinus (354-430) dengan "Pengakuan-Pengakuannya"
telah memberikan kontribusi kepada dunia, setelah menemukan jalan
kehidupannya.

Jalan yang baik adalah lurus. Di Amerika - menurut cerita - kebanyakan
jalan adalah lurus. Ketika hendak membuat jalan tersebut banyak yang harus
dikorbankan. Tanah-tanah yang berbukit-bukit, harus diratakan, desa-desa
yang dilalui proyek jalan itu harus dimutasikan, untuk membuat jalan lurus,
sehingga nantinya mudah untuk dilalui oleh para pengendara. Semua memang
harus berkorban jika hendak mencapai nilai yang lebih tinggi. Jalan
kehidupan kita kadang berliku, tapi ingatlah bahwa dalam diri kita ada
kesadaran untuk hidup lurus. Di Eropa - menurut cerita juga - banyak
ditemui trowongan, dengan cara melubangi gunung-gunung, supaya lebih cepat
dalam berlalu lintas dan juga untuk keamanan. Dengan jalan yang lurus,
tidak melewati tebing-tebing yang curam, kecelakaan bisa dihindari.

Kita jadi ingat orang yang lurus hati yaitu St. Yosef. Dia disebut sebagai
sincere (bhs Inggris artinya tulus dan lurus hati). Kata itu dari dua kata
yaitu sine (tanpa) dan cere (lilin). Dulu, para tukang kayu biasa melapisi
akhir perabot yang hendak dijual. Jika ada lubang dan cacat harus ditutupi
dengan lilin. Namun, lama-lama lilin-lilin itu akan meleleh dan nampaklah
kondisi aslinya. Oleh sebab itu untuk menjaga mutu produksinya akan diberi
tanda sine - cere (tanpa lilin) untuk menjamin produk buatannya itu asli,
lurus dan jujur. Tidak ada kepalsuan. Saya jadi malu, karena semua yang
kutulis tidak ada dalam diriku.

Merauke, 19 Desember 2010
(Adven IV)

Markus Marlon MSC

Selasa, 21 Desember 2010

Melampaui rasa takut

MELAMPAUI RASA TAKUT
(Sebuah Percikan Permenungan)

Pada abad 49 BC (Before Christ), sekelompok senator Romawi, yang bersekutu
dengan Pompey, mengkuatirkan kekuasaan Julius Caesar (100 - 44 BC) yang
semakin besar. Ketika Caesar mendengar rumor tersebut, sang Kaisar sedang
berada di Gaul Selatan (sekarang Prancis) dengan hanya berpasukan yang
berjumlah lima ribu orang. Tantangan tersebut bagaikan "uji nyali" bagi
dirinya. Dengan kata-katanya yang penuh motivasi, Julius Caesar berkata,
"Mari kita melintasi sungai Rubicon" untuk meraih masa depan kita. Memimpin
pasukan ke wilayah Italia berarti perang dengan Roma. Sekarang tidak lagi
jalan kembali. Berjuang atau mati. Caesar terpaksa mengonsentrasikan
kekuatannya serta tidak menyia-nyiakan satu orang pun, bertindak dengan
cepat dan bersikap sekreatif mungkin. Ia menyerbu Roma. Dengan mengambil
inisitif, ia menjadikan para senator ketakutan, memaksa Pompey melarikan
diri.

Istilah "melintasi sungai Rubicon" amat tepat untuk mengatasi rasa takut
dan kekerdilan hati dalam diri kita. Setiap hari tentu kita melewati
masa-masa yang tidak mengenakkan jiwa. Ada keraguan dalam hati jika
berhadapan dengan problema. Keraguan bagaikan penghalang intern yang
mempersulit diri kita untuk mencapai masa depan. Untuk mencapai keputusan
yang pelik tersebut, tentunya ada motivasi yang kuat. Tidak bisa
dibayangkan, jika rasa kuatir itu menguasai diri Sang Kaisar. Rasa takut
dan kuatir itu bagaikan melihat bayangannya sendiri ketika kena sinar
matahari pada pagi atau sore hari. Bayangan itu amat besar sekali. Demikian
pula, sering, apa yang kita kuatirkan itu amat besar dan ternyata apa yang
dikuatirkan tidak terjadi sama sekali. Selama "penantian" kehidupan menjadi
tidak nyaman, gelisah dan resah. Maka tak mengherankan jika dari pengalaman
rasa takut dan kuatir itu, Julius Caesar berujar, "Penakut mati
berkali-kali, sedangkan pahlawan hanya mati satu kali dalam hidupnya." Rasa
takut tersebut membuat orang tidak mudah untuk mengambil keputusan dengan
cepat. Ini pula yang sering terjadi dalam pertikaian para pandukung calon
pemegang kekuasaan.

Untuk memimpin sebuah bangsa yang besar, dibutuhkan seorang negarawan yang
memimpin bangsa yang berani, tegas, berwibawa dan "mumpuni". Pardi Suratno
dalam bukunya yang berjudul "Sang Pemimpin" menawarkan cara memimpin yang
mengayomi (melindungi) dan memberikan kesejahteran kepada rakyatnya. Ajaran
Asthabrata, Wulang Reh, Tripomo dan Dasa Darma Raja termaktub begitu banyak
hak dan kewajiban pemimpin. Hal ini amat berbeda dengan apa yang ditulis
oleh Nicholo Machiavelli (1469 - 1527) ataupun Sun Tzu, penulis strategi
perang. Oleh Anand Krishna dalam bukunya yang berjudul, "Gita of The
Management" dipaparkan gaya kepemimpinan Sun Tzu dengan Krishna dalam
"Bagawat Gita". Dalam ajaran tersebut, Arjuna harus "melintasi sungai
Rubicon." Arjuna mengalami keraguan yang luar biasa untuk berperang melawan
para Kurawa. Untuk membenarkan ketakutannya, dia membuat alasan-alasan yang
masuk akal dan "saleh". Inti dari wejangan Bagawat Gita tersebut adalah
bahwa melaksanakan dharma untuk memerangi kebatilan dalam masing-masing
jiwa. Tubuh kita ini bagaikan ajang pertempuran antara kebaikan dan
kejahatan yang tiada henti.

Kita dalam mengambil keputusan untuk melangkah ke hidup yang lebih baik,
sering mengalami kendala. Salah satu kendalanya adalah ketakutan untuk
"melintasi sungai Rubicon". William Shakespeare (1564 - 1616) dalam HAMLET
mengangkat istilah to be or not to be untuk mengambil keputusan yang sangat
genting. Situasi bathin yang dialami oleh Hamlet penuh dengan keragu-raguan
dan penuh kebimbangan. Dia salah mengambil keputusan dan ini berakibat
fatal, yakni kematian ayah tirinya. Thomas Aquinas menulis, "Timeo hominem
unius libri" (bahasa Latin), yang berarti aku bimbang terhadap orang yang
hanya membaca satu buku saja. Dalam menulis artikel ini, aku juga bimbang
dan ragu dengan diriku sendiri, karena yang kubaca hanya satu buku. Mohon
dimaafkan.


Merauke 21 Desember 2010


Markus Marlon MSC

Senin, 20 Desember 2010

Menjadi Orang Sukses dan Berarti

Menjadi Orang Sukses dan Berarti

"Don't look to become a person of success, look instead to become a person
of Value! - Jangan berkeinginan untuk menjadi orang sukses, berusahalah
untuk menjadi orang yang berarti."
Albert Einstein

Setiap tahun sebuah majalah terkenal di dunia merilis daftar orang-orang
terkaya dan berpengaruh di dunia. Sering pula digelar acara penghargaan
untuk mengapresiasi para pengusaha dan CEO sukses dan ternama. Tentu sangat
membanggakan jika Anda mendapatkan penghargaan bergengsi kelas dunia,
dihormati, dan bergelimang kemewahan harta, sebab hal-hal semacam itu
menjadi dambaan sebagian besar manusia di dunia.

Tak heran jika banyak orang berlomba mencari jabatan, mengumpulkan kekayaan
dan meraih kesuksesan besar. Mereka juga mengejar standar gaya hidup
orang-orang berkelas, misalnya menunggangi mobil mewah, menggunakan
perhiasan dan pakaian super mahal, dan gaya hidup serba wah lainnya.
Sebenarnya tak ada yang salah jika ingin menjadi kaya, sukses dan bahagia,
sejauh usaha yang dilakukan tidak melanggar hukum, moral spiritual, dan
norma-norma lainnya.

Namun ironis jika tujuan menjadi berpengaruh, terkenal, kaya, dan hidup
serba mewah itu menjadikan seseorang menghalalkan segala cara termasuk
menggunakan cara-cara negatif. Akhir-akhir ini saya sedih menyaksikan
berita di televisi yang menayangkan begitu banyak orang memilih cara instan
untuk cepat kaya dan terkenal, dan memiliki jabatan tinggi. Memang benar
uang mereka bertumpuk konon kabarnya sampai dimakan rayap, memiliki jabatan
tinggi, tetapi mereka lebih terkenal sekarang ketika terseret kasus
korupsi, suap, penggelapan pajak, praktek bisnis ilegal, dan lain
sebagainya.

Nasib mereka kini sungguh menyedihkan dan terhina. Sebab mereka mengabaikan
nilai-nilai spiritual, moralitas, dan kemanusiaan yang seharusnya dijunjung
tinggi dalam proses pencapaian kesuksesan. Patut menjadi pelajaran bagi
kita semua untuk berpikir bahwa menjadi kaya raya, terkenal dan sukses
belumlah cukup, dan berusaha menjadi manusia yang sukses dan berarti itu
lebih penting.

"The major value in life is not what you get. The major value in life is
what you become. - Nilai utama dalam hidup itu bukan apa yang Anda dapatkan
melainkan seberapa baik (karakter) Anda," kata Jim Rohn, motivator USA
ternama.

Menjadi orang sukses dan berarti memberi kita banyak sekali manfaat.
Beberapa diantaranya adalah memudahkan kita menciptakan tujuan hidup, fokus
pada pekerjaan, pintar membuat keputusan penting, memahami prioritas hidup
sehingga langkah-langkah yang ditempuh menjadi lebih terarah. Beberapa tips
berikut akan membantu Anda segera menyongsong sukses sekaligus menjadi
manusia yang lebih berarti.

Pertama adalah memiliki visi yang mulia, yaitu berpikir lebih jauh dan
mempertimbangkan segala hal untuk senantiasa menciptakan kebaikan bagi
semua orang. Visi tersebut akan mendorong Anda bekerja penuh komitmen dan
dedikasi untuk meraih keberhasilan, bukan hanya menunggu belas kasihan
orang lain dan menghindari diri berbuat curang. Memiliki visi mulia
merupakan langkah penting untuk meraih sukses dan berarti bagi orang lain.

Kedua adalah memiliki integritas, yaitu kejujuran dalam setiap tindak
tanduk dan perbuatan. Kejujuran pasti memberi kemudahan, sebab kejujuran
pasti menang dalam persaingan memperebutkan kepercayaan orang lain. Nilai
kejujuran sudah pasti menuntun Anda pada kemajuan dan meraih kesuksesan
yang lebih berharga.

Ketiga adalah menyukai pekerjaan yang Anda lakukan, mencintai keluarga dan
sesama di sekitar Anda. Kecintaan pada keluarga dan pekerjaan serta sesama
akan membuat pikiran lebih positif dan berfungsi lebih baik, karena tidak
ada kebencian pada siapapun. Bila kinerja Anda lebih baik, Anda tentu lebih
mudah menciptakan kemajuan dan mencapai kesuksesan yang Anda dambakan.

Keempat adalah berempati kepada orang lain, yaitu usaha meringankan beban
orang lain tanpa pamrih dan tanpa pandang bulu. Berempati pada orang lain
dapat berbentuk materi, dukungan motivasi, pikiran atau tenaga. Empati
dapat menjadi semangat dalam berusaha meraih kesuksesan, sekaligus
menjadikan kesuksesan Anda lebih berarti bagi orang lain.

Kelima adalah meningkatkan kekuatan iman dan rasa syukur atas segala
karunia-Nya. Keduanya akan mencegah Anda dari perbuatan negatif atau upaya
tercela hanya untuk mencapai target tertentu. Dengan iman dan syukur,
kesuksesan sekecil apapun akan memberi nilai yang besar.

Keenam adalah mengasah bakat dan kemampuan yang dapat menunjang pekerjaan,
serta terus belajar dari berbagai hal termasuk dari kesalahan terdahulu.
Membuka diri dengan terus belajar akan membantu Anda terhindar dari
kesulitan dan habis waktu sia-sia. Langkah ini akan membantu Anda menemukan
berbagai alternatif untuk membangkitkan bisnis atau menyelesaikan pekerjaan
dengan hasil terbaik.

Ketujuh adalah semangat dalam mengerjakan setiap tanggung jawab. Semangat
yang Anda tunjukkan akan mengalirkan energi positif kepada orang lain.
Antusiame kerja Anda akan memberikan nilai yang luar biasa terhadap apapun
yang Anda lakukan.

Setelah memahami tips di atas, tidak begitu sulit bukan menjadi orang yang
sukses dan berarti? Yang jelas menjadi orang sukses itu membanggakan, dan
akan lebih membahagiakan jika kita juga dapat memberikan kontribusi
terhadap orang lain. Dengan keteguhan, kesungguhan dari dalam diri Anda,
dan cara yang positif semua hal yang Anda upayakan untuk meraih sukses dan
menjadi manusia berarti pasti akan terwujud.

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku
best-seller.Kunjungi websitenya di: www.andrewho-uol.com

Jumat, 17 Desember 2010

Sirsak Bisa Obati Kanker

Sirsak Bisa Obati Kanker

** Kanker bisa diobati dengan mengonsumsi herbal atau buah-buahan. Dari
banyak herbal tersebut, sirsak punya keunggulan dibandingkan buah lain.

Sirsak diketahui bisa mencegah dan juga ampuh untuk mengobati beberapa
jenis
kanker. "Untuk sirsak sendiri telah diteliti dapat mengobati kanker usus
besar (kolon), kanker paru-paru, kanker pankreas, kanker prostat, dan juga
kanker buah dada (payudara)," ucap dr Hardhi Pranata, SpS, selaku Ketua
Umum
Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI).

Bagian sirsak yang bermanfaat untuk obat kanker adalah batang, daun, dan
juga buahnya atau dalam bentuk jus. Buahnya bisa dimakan langsung, dibikin
jus, atau daunnya direbus kemudian hasil rebusannya diminum.

"Bisa dengan cara minum jus buah sirsak atau dengan cara merebus 9 lembar
daun sirsak dan minum air rebusan tersebut lalu dimonitor keadaannya.
Biasanya nafsu makan akan meningkat dan pertumbuhan sel-sel kankernya akan
terhambat," ungkap dr Hardhi.

Dia juga menjelaskan, sirsak mengandung senyawa saponin, polifenol, dan
juga
*bioflavonoid *yang memiliki khasiat sebagai antioksidan. Nah, cara
membunuh
sel kanker oleh sirsak inilah yang berbeda dengan herbal lainnya. Sirsak
hanya membunuh sel-sel yang tumbuhnya abnormal atau sel-sel spesifik
seperti
radikal bebas yang ada sel-sel kankernya. Tapi sirsak tidak merusak sel-sel
yang sehat.

Selain memiliki rasa yang enak, buah sirsak ini juga membantu memelihara
kesehatan, mencegah penyakit, dan mengobati penyakit. Hal ini karena buah
sirsak juga bisa menurunkan tekanan darah, anti-parasit, obat penenang yang
berfungsi meningkatkan kekebalan tubuh serta mengatasi depresi, radang
sendi, dan juga untuk asam urat.

"Konsumsi buah sirsak ini harus digalakkan lagi agar tidak punah karena
banyak manfaat yang bisa didapatkan dengan mengonsumsi buah ini," ujar
dokter yang praktik di RSPAD Gatot Subroto ini.

Untuk di Indonesia, penelitian mengenai khasiat sirsak dan tanaman obat
lainnya ini akan dilakukan dalam waktu dekat. Dalam studi ini, RS Kanker
Dharmais akan bekerja sama dengan Nanjing University of Chinese Medicine
yang difasilitasi PDHMI. Dalam penelitian ini akan dilakukan terapi
kombinasi antara obat-obatan dan juga herbal.

"MoU kerja sama ini sudah ditandatangani dan diperkirakan mulai bulan
Desember sudah mulai dilakukan penelitian di Indonesia," imbuh dr Hardhi.

Dia menuturkan bahwa di Nanjing University, terapi kombinasi ini sudah
dilakukan. Pasien-pasien kanker di sana tidak mengalami mual, rambut
rontok,
berat badan menurun, dan bisa tetap berjalan-jalan seperti biasa.

Terapi kombinasi ini diharapkan bisa mengurangi efek samping dari terapi
standar kanker yang dilakukan, seperti kemoterapi, radiasi atau operasi,
serta dapat mengurangi jumlah kemoterapi yang seharusnya dilakukan oleh si
pasien.

Tumbuhan dan buah-buahan yang diketahui memiliki efek anti-kanker, seperti:

1. Tomat diketahui dapat mengobati kanker prostat, dengan cara mengonsumsi
tomat yang sudah direbus.
2. Cabe merah diketahui dapat mencegah kanker usus besar jika dikonsumsi
dalam jangka waktu lama.
3. Biji anggur juga diketahui memiliki senyawa anti-kanker. Oleh karenanya,
kalau mengonsumsi anggur, cari yang memiliki biji dan makan bersama
kulitnya.
4. Daun sirih merah diketahui sebagai anti-kanker payudara dengan cara
direbus.
5. Temulawak diketahui memiliki zat aktif *cursil *yang bersifat sebagai
anti-inflamasi dan juga anti-kanker.

"Sebagian tumbuhan obat di Indonesia mengandung obat anti-kanker, seperti
sitotoksin yang memiliki kemampuan untuk membunuh dan mendeteksi sel-sel
yang tumbuhnya tidak normal. Senyawa-senyawa di dalam tumbuhan ini bisa
berfungsi dalam bentuk gabungan, tapi ada juga yang *single*," ujarnya.

Kamis, 16 Desember 2010

Memenangkan perjuangan hidup

Memenangkan Perjuangan Hidup

"Life is struggle. The one who enjoys this struggle is the real winner. -
Hidup adalah perjuangan. Siapapun yang menikmati perjuangan tersebut adalah
pemenang sejati."
Anupama Kamble

Pada bulan November 2007, saya kembali mengunjungi kota Banda Aceh untuk
meresmikan kantor cabang yang baru dan menyelenggarakan kegiatan sosial
pada sebuah yayasan anak yatim piatu. Saat berjalan-jalan di kota tersebut,
saya teringat kedahsyatan tsunami meluluh lantakkan semuanya, termasuk
korban jiwa lebih dari 200 ribu. Kedahsyatan kekuatan tsunami nampak jelas
dari kapal PLN seberat 2600 ton yang terseret sepanjang 7 kilo meter ke
tengah kota dan menindih lebih dari 30 orang.

Saat itu empati masyarakat di Indonesia maupun manca negara sangat besar
untuk membantu korban bencana. Semua orang peduli dan ingin menolong, tanpa
membedakan ras, agama, warna kulit, dan latar belakang, dan lain
sebagainya. Saya dapat merasakan begitu besar kepedulian dan cinta kasih
masyarakat negri ini kepada orang lain.

Walaupun masyarakat belum sepenuhnya terlepas dari trauma pasca bencana,
saya meilhat masyarakat disana sudah bangkit. Banyak proyek pembangunan
dilaksanakan. Diantaranya adalah proyek pembangunan Perkampungan
Persahabatan Tiongkok - Indonesia, berupa 765 rumah sederhana bantuan dari
Tiongkok yang berlokasi di atas bukit. Kegiatan ekonomi disana melaju
cepat, bahkan jalanan di Banda Aceh mulai macet.

Saya terpana menyaksikan kemajuan Aceh yang sangat pesat tersebut. Saya
kagum pada ketangguhan mental masyarakat menghadapi tantangan hidup
sedahsyat tsunami Desember 2004. Itulah salah satu 'badai' yang menjadi
bagian tak terpisahkan dari perjuangan hidup manusia. Tetapi sebenarnya
manusia juga mempunyai potensi yang super hebat untuk memenangkan
perjuangan hidup tersebut dengan berbagai cara.

Salah satu cara memenangkan perjuangan hidup adalah memperkuat mental,
dengan menjadikan tantangan hidup sebagai latihan mental. Semakin tinggi
kesulitan hidup yang berhasil kita lewati, maka mental kita juga semakin
kuat. "Problems are to the mind is what exercise to the muscles, they
toughen and make strong. - Masalah-masalah merupakan latihan otot-otot
pikiran agar mereka menjadi lebih kuat," Norman Vincent Peale. Mental yang
kuat lebih dapat diandalkan untuk memenangkan perjuangan hidup.

Memiliki visi yang benar dan jelas sangatlah penting untuk memenangkan
perjuangan hidup. Banyak orang tidak berhasil menggunakan potensi yang
sangat besar dalam dirinya, karena mereka mengabaikan visi atau impian.
Sebaliknya, semangat kita untuk bangkit dan maju akan jauh lebih besar
setelah mempunyai visi yang benar dan jelas.

Dalam setiap medan perjuangan, kemenangan hanya dapat diperoleh jika kita
mempunyai peta kemenangan berdasarkan visi yang jelas. Perencanaan tersebut
akan sangat membantu memperhitungkan setiap tindakan yang akan ditempuh.
Jika kita konsisten melaksanakan rencana tersebut pasti kita berhasil
menjadi pemenang dengan prestasi-prestasi atau karya-karya terbaik.

Keyakinan yang kuat adalah bagian penting lainnya setelah menciptakan visi.
Karena keyakinan yang kuat dapat meraih kemenangan akan membuat seseorang
mampu memetik pelajaran berharga dan bertindak lebih hati-hati, ketika
harus berhadapan dengan kegagalan. Cara seperti ini memperbesar kemungkinan
kemenangan segera tercapai.

Keyakinan juga sangat penting untuk membantu kita berpikir jernih dan
positif. Misalnya kita tidak meratapi kekurangan atau sombong dengan
kelebihan. Sebaliknya, kita menjadikan kekurangan maupun kelebihan tersebut
sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas diri dan bekerja lebih giat
agar segera memenangkan perjuangan hidup.

Entah apa visi rakyat di Aceh sehingga mereka begitu optimis, karena saya
melihat mereka tidak berlama-lama meratapi kemalangan dan kepedihan akibat
tsunami. Sebagian besar masyarakat sudah aktif membangun kehidupan mereka
kembali. Ini nampak dari antusiasme mereka mengerjakan masing-masing peran
dan tanggung jawab.

Selain kerja keras, kita juga perlu bekerja cerdas dan ikhlas. Sementara
itu dibutuhkan pula landasan keimanan dan kejujuran. Etos kerja semacam itu
merupakan salah satu cara jitu memenangkan perjuangan hidup.

Guna memenangkan perjuangan hidup dibutuhkan pula empati atau kepedulian
terhadap manusia lain maupun lingkungan. NAD dan Sumatra Utara terpuruk
akibat bencana alam, dan saat itu banyak orang berduyun-duyun memberikan
pertolongan dalam aneka rupa bentuk. Perlahan-lahan masyarakat korban
bencana bangkit, dan semua itu tak lepas dari dukungan dari orang lain.
Begitupun empati kita terhadap orang lain akan mempererat hubungan sosial
sehingga saling mensinergi satu sama lain diantara kita untuk meraih
kemenangan bersama.

Layaknya pertandingan, memenangkan perjuangan hidup butuh persiapan, yaitu
melakukan perubahan positif sedari sekarang. Misalnya menggunakan waktu
lebih efektif, sehingga masih tersisa beberapa jam untuk berlatih
meningkatkan kemampuan dan memperluas wawasan dengan ilmu pengetahuan.
Berbenah diri terus menerus, sekalipun dalam skala kecil, merupakan salah
satu cara penyempurnaan agar menang melawan tantangan hidup.

Sangat banyak yang bisa kita lakukan untuk memenangkan perjuangan hidup.
Kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan adalah satu hal yang pasti kita
dapatkan jika berhasil. Kemajuan pesat di Aceh adalah salah satu contohnya,
maka pastikan Anda ada di urutan berikutnya. Jadi tetaplah bersemangat dan
menikmati perjuangan hidup Anda.

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best
seller.Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com

Rabu, 15 Desember 2010

Miskin tapi bahagia

Miskin Tapi Bahagia

Orang termiskin yang aku ketahui adalah
orang yang tidak mempunyai apa-apa kecuali uang.
- John D. Rockefeller JR

Dalam rubrik Kilasan Kawat Sedunia, Harian KOMPAS pernah memuat ringkasan
hasil survei yang menarik perhatian saya. Ia menceritakan hubungan antara
uang-indikator utama yang sering dipergunakan untuk mengukur seberapa kaya
atau seberapa miskin seorang anak manusia itu-dengan kebahagiaan. Survei
yang unik dan jarang dilakukan ini-setahu saya belum pernah ada survei
semacam ini di Indonesia-mungkin dapat memberi pelajaran tertentu pada
kita. Berikut petikannya:

Pemeo "uang tak bisa membeli kebahagiaan" ternyata memang benar. Sebuah
survei di Australia menunjukkan, kaum kelas menengah di Sydney masuk
kategori warga yang paling menderita di Australia. Sebaliknya, tingkat
kebahagiaan warga yang hidup di beberapa daerah pemukiman paling miskin
malah lebih tinggi.

"Pengaruh uang pada kebahagiaan nyatanya hanya terasa pada golongan yang
luar biasa kaya," kata Liz Eckerman, peneliti dari Universitas Deakin,
seperti dikutip kantor berita AFP, Senin (13/2).

"Uang tak bisa membeli kebahagiaan. Ini jelas terbukti dalam jajak pendapat
yang kami lakukan pada 23.000 warga yang sudah kami wawancarai," kata
Eckerman kepada Radio Australia, ABC.

Temuan-temuan yang disusun sejak tahun 2001 menunjukkan bahwa di Australia,
negara dimana tak ada kesenjangan kemakmuran yang ekstrem, mereka yang
hidup paling bahagia ada di lapisan bawah. Mereka yang happy juga lebih
banyak berada dalam kategori usia 55 tahun atau lebih, lebih banyak di
antara kaum perempuan, dan kebanyakan pula ada di antara mereka yang
menikah alias yang tak men-jomblo.

Survei ditujukan untuk mengungkap kepuasan seseorang terkait dengan
berbagai hal, seperti standar hidup, kesehatan, pencapaian dalam hidup, dan
keamanan. Di antara 150 daerah sasaran survei, salah satu daerah termiskin
di Australia, yakni Wide Bay di pedalaman Queensland, penduduknya ternyata
termasuk yang paling bahagia di negeri kangguru itu.

Terus terang, saya tidak tahu seberapa banyak uang yang harus dimiliki
seseorang untuk bisa masuk dalam kategori kelas menengah di Sydney. Juga
tidak terlalu jelas bagi saya berapa jumlah uang yang dimiliki oleh
rata-rata penduduk Wide bay di pedalaman Queensland, sehingga mereka
disebut daerah termiskin di negara tersebut. Lalu, berapa pula harta yang
dimiliki seseorang agar bisa disebut Eckerman sebagai "luar biasa kaya"?
Datanya tidak disebutkan oleh KOMPAS.

Namun, terlepas dari minimnya data yang bisa kita peroleh, tetaplah menarik
ketika Eckerman, peneliti itu, membuat kesimpulan bahwa yang hidup paling
bahagia di Australia adalah penduduk di lapisan bawah (miskin); kebanyakan
berusia 55 tahun atau lebih; kebanyakan perempuan; dan kebanyakan menikah.
Mereka inilah yang paling merasa puas dengan standar hidup mereka, puas
dengan kesehatan mereka, puas dengan pencapaian dalam hidup mereka, dan
puas dengan keamanan di lingkungannya. Mereka inilah orang-orang yang
miskin, tetapi kaya. Miskin dalam harta benda, tetapi kaya dalam kepuasan
hidup. Sungguh sebuah realitas yang memesona.

Ada beberapa pelajaran yang saya pulung dari survei di atas. Pertama, saya
menduga penelitian tersebut menempatkan rasa puas-atas standar hidup; atas
kesehatan; atas pencapaian dalam hidup; dan atas keamanan di
lingkungannya-sebagai indikator utama kebahagiaan. Dan jika hal itu kita
gunakan untuk bercermin, maka kita bisa mencoba menjawab empat pertanyaan
berikut:
1. Apakah saya puas dengan standar hidup kita sejauh ini?
2. Apakah saya puas dengan kesehatan saya sejauh ini?
3. Apakah saya puas dengan apa yang sudah saya capai dalam hidup sejauh
ini?
4. Apakah saya puas dengan keamanan di lingkungan saya sejauh ini?

Bisakah kita menjawab YA dengan mantap untuk keempat pertanyaan sederhana
semacam itu? Atau mungkin jawaban kita perlu diberi bobot tertentu,
katakanlah untuk tiap jawaban menggunakan skala 1-5. Angka 1 berarti TIDAK
PUAS SAMA SEKALI, angka 2 berarti TIDAK PUAS; angka 3 berarti CUKUP PUAS;
angka 4 berarti PUAS; dan angka 5 berarti SANGAT PUAS. Sehingga, total
nilai 12 berarti CUKUP PUAS dan total nilai 20 berarti SANGAT PUAS. Mereka
yang bisa mengumpulkan nilai mendekati angka 20-lah yang pantas kita anggap
bahagia. Nah, dengan demikian kita bisa mengukur seberapa bahagia diri kita
masing-masing, setidaknya untuk saat ini. Lalu kita juga bisa menyadari
pada bagian mana dari keempat hal tersebut yang kita rasa paling meresahkan
dan mengurangi kebahagiaan hidup kita sejauh ini. Dari sini kita kemudian
bisa memikirkan cara-cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan
kebahagiaan kita.

Pelajaran kedua yang saya petik adalah soal hubungan antara uang/kekayaan
dengan kebahagiaan. Sudah lama saya mengetahui bahwa uang dan kebahagiaan
adalah dua hal yang tidak selalu berkaitan. Setidaknya saya mengenal
sejumlah kawan yang punya uang miliaran rupiah dan kadang mengaku bahwa
hidupnya tidak bahagia. Sementara itu sejumlah kawan lain yang uangnya
tidak sampai miliaran tak pernah saya dengar mengeluhkan soal apakah
dirinya bahagia atau tidak. Jadi saya sering bingung jika melihat sebagian
kawan berjuang mati-matian untuk bisa kaya karena percaya kalau kekayaan
bisa membuat mereka pasti bahagia. Sementara yang sudah jauh lebih kaya,
mengaku tidak bahagia. Nah, atas kebingungan inilah survei Eckerman tadi
bisa memberi sedikit penjelasan. Hanya pada orang atau golongan yang "luar
biasa kaya", ada hubungan antara uang mereka dengan kebahagiaan mereka.
Seakan-akan ada semacam ambang batas kekayaan yang bisa membuat kekayaan
itu berdampak langsung pada kebahagiaan. Ambang batas itu tidak disebut,
mungkin satu juta dolar Amerika, atau jumlah yang lebih besar.

Pelajaran ketiga, dan buat saya paling mengesankan, adalah kesimpulan
survei tersebut yang menunjuk sebuah daerah termiskin di pedalaman
Queensland memiliki penduduk yang paling bahagia. Kesimpulan ini sungguh
membesarkan hati. Sebab ini membuka kemungkinan bahwa kawan-kawan saya di
pelosok-pelosok yang sulit terjangkau sarana transportasi modern-seperti di
Papua, misalnya-amat boleh jadi adalah orang-orang yang paling bahagia
hidupnya.

Nah, apakah Anda kaya atau Anda bahagia?

Andrias Harefa
Penulis 30 Buku Best-Seller dan Pendiri WRITERSCHOOL