Kamis, 20 November 2008

Baju-baju yang menipu

Baju-Baju Yang Menipu

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang
berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan
berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University.
Mereka ingin bertemu Pimpinan.

Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka
adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard
dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

"Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard", kata sang pria lembut.

"Beliau hari ini sibuk," sahut sang Sekretaris cepat.

"Kami akan menunggu," jawab sang Wanita.

Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa
pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi
nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan
untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.

"Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan
pergi," katanya pada sang Pimpinan Harvard.

Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang
sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia
melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar
kantornya,  rasa tidak senangnya sudah muncul.

Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.
Sang wanita berkata padanya, "Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun
pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini.
Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin
mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. Bolehkan ?",
tanyanya dengan mata yang menjeritkan harap.

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia
tampak terkejut. "Nyonya," katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa
mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal.
Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan."

"Oh, bukan," Sang wanita menjelaskan dengan cepat, "Kami tidak ingin
mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk
Harvard."

Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju
pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah
gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung ?! Kami memiliki
lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard."

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard
senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita
menoleh pada suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya sebesar itu biaya
untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja ?"
Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.

Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan
perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah
Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk
seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard. Universitas
tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas
atas di AS.

Kita, seperti pimpinan Hardvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai.
Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat
tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju, acap
menipu.

Rabu, 19 November 2008

Melampaui Suka Dan Duka

Rekan-rekan Alumni Pika yang budiman,
Ada pepatah mengatakan : Kehidupan itu seperti roda berputar, kadang naik kadang turun. Suatu siklus yang tidak terelakkan. Kalau sedang jaya, kita tertawa. Kalau sedang jatuh kita sedih. Gede Prama di bawah ini menuturkan : seharusnya baik jaya maupun jatuh kita bisa tetap tertawa. Bagaimana kiatnya ? Simak penuturannya berikut ini.

Melampaui Suka Dan Duka
Oleh: Gede Prama

Kalau sejarah manusia, dibentangkan dalam kurun waktu yang panjang dan lama, bisa jadi kebanyakan ditandai oleh siklus menaik dan menurun. Dalam spekulasi fikiran saya, mungkin tidak ada sejarah yang tidak ditandai siklus naik turun.

Coba perhatikan, kebanyakan manusia lahir sebagai anak-anak lengkap dengan sifat kekanak-kanakannya. Kemudian tumbuh dewasa - sebagian malah amat berkuasa, namun bagaimanapun hebat kekuasaannya, toh harus melewati masa-masa senja yang kekanan-kanakan lagi..

Demikian juga kisah banyak bangsa. Jepang, sebagai contoh, runtuh oleh kekalahan perang, kemudian pelan-pelan bangkit sebagai perekonomian yang berbasiskan barang murah dan kualitas rendah. Sekarang, sebagaimana kita tahu bersama, ia menjadi kekuatan ekonomi yang menentukan.

Di tengah-tengah sejarah yang by nature ditandai oleh siklus naik turun ini, kebanyakan orang hanya menjadi 'korban tidak berdaya'. Tatkala sejarah bergerak naik, tawa, bahagia yang kerap disertai kesombongan dan kecongkakanlah sahabatnya. Ketika sejarah bergerak turun, kesedihan dan air mata bergelimang di mana-mana. Jarang bahkan teramat jarang terjadi, ada manusia yang berhasil keluar dari perangkap naik turun ini.

Ini yang bisa menjelaskan, kenapa banyak bintang film/sinetron demikian cantik dan bersinar ketika masih jaya. Namun, jangankan kecantikan, yang lebih dalam dari penampilan fisikpun ikut pudar bersama ketidakterkenalannya. Atau, mereka yang demikian cepat meninggal ketika memasuki usia pensiun. Intinya cuma satu, ketika kehidupan bergerak naik, jarang ada orang yang sudah mempersiapkan diri - terutama secara kejiwaan - bahwa cepat atau lambat sang kehidupan pasti bergerak turun.

Dari seluruh ilustrasi ini, tampak jelas bahwa betapa lama kita manusia membiarkan diri menjadi korban tidak berdaya dari siklus suka dan duka. Hampir semua energi kita terkuras habis untuk naik turun bersama siklus tadi. Tidak sedikit persoalan manusia, justru berakar dari sini : hanya siap ketika naik, tidak siap tatkala turun.

Tidak hanya Anda, sebagai manusia biasa saya pun masih 'dipermainkan' oleh siklus tadi - kendati lewat meningkatnya kedewasaan dampak negatifnya semakin berkurang dan berkurang. Ada semacam kemanjaan untuk hanya menerima pujian, dan menolak kritikan orang lain. Ada sejenis kemaruk untuk hanya menerima kesenangan, dan menolak kesedihan. Ada dorongan dari dalam, agar keluarga menerima segala kelemahan saya, dan tidak siap menghadapi kenyataan bahwa ada segi hidup saya yang ditolak mereka.

Setelah lama dibuat amat lelah dengan siklus naik turun ini, saya sedang mempelajari hidup yang melampui suka dan duka. Banyak rekan yang ragu, kalau saya bisa melakukannya. Belum sepenuhnya berhasil memang - karena kadang masih dipermainkan siklus tadi, namun ada banyak sekali yang berubah dalam kehidupan saya, setelah jalan melampaui suka dan duka mulai ditempuh. Dengan niat hanya untuk berbagi - tidak ada niat lain, dan bahkan kalau ada yang mau melengkapi it's more than welcome - izinkan saya berbagi cerita bagaimana jalan melampaui suka dan duka saya buka dan jalani.

Pertama, penting sekali menyadari secara amat dalam, kalau suka dan duka itu pasti - sekali lagi pasti - datang silih berganti. Hanya persoalan waktu saja. Ketika Anda berpelukan dengan rasa suka, sadari dan ingatkan diri kalau dia akan diganti duka. Demikian juga sebaliknya. Tidak ada satupun mahluk Tuhan yang bisa membantahnya. Dengan kesadaran dan kesiapan seperti ini, pengaruh siklus suka-duka bisa dikurangi dalam kadar yang cukup menentukan. Di tingkatan yang lebih tinggi, belajarlah untuk berpelukan sama mesranya, antara berpelukan dengan suka maupun duka.

Kedua, meminjam logika dalam Roots of Wisdom yang ditulis Hong Yingming, manusia hidup seperti pemain teater. Ketika berpentas, aktor memiliki martabat dan rasa bangga - lebih-lebih kalau dia dipuja. Aktingnya mungkin bagus. Namun, ketika pertunjukan selesai, ia hanyalah orang biasa. Demikian juga kehidupan setiap orang. Berawal dari orang biasa dan berakhir sebagai orang biasa. Dengan menyadari akar dalam bentuk orang biasa, sehebat apapun siklus suka-duka, dia tidak akan bisa menghempaskan kita. Sebab, bagaimana bisa terhempas, kalau setiap saat kita mengingatkan diri akan asal muasal kita sebagai orang biasa.

Ketiga, baik suka dan duka sebenarnya tidak ada pada jabatan, uang maupun kejadian. Semuanya adalah hasil produksi fikiran. Fikiranlah yang membuatnya demikian. Nah, melampaui suka-duka berarti melampaui fikiran. Ada banyak rekan yang tidak percaya kalau fikiran bisa dilampaui. Seolah-olah, tidak ada dunia di luar fikiran. Dalam kesederhanaan ingin saya bertutur ke Anda, dengan mendalami bahwa ada suka dalam duka, dan ada duka dalam setiap suka, maka kita sudah membuat langkah pertama menuju melampaui sang fikiran.

Kalau kehidupan diibaratkan dengan perjalanan. Dalam kehidupan yang telah melampaui fikiran, di mana-mana tersedia 'petunjuk jalan'. Pada banyak kejadian terbukti, ada saja kekuatan yang membuat kehidupan mengalir tanpa paksaan. Ada memang orang yang menyebut kehidupan seperti ini seperti kaos kaki (baca : selalu diinjak). Ada juga orang yang bahkan menyebut kehidupan seperti ini dengan kehidupan yang tercerahkan. Saya sendiri kurang menyukai sebutan, karena dia juga output fikiran.

Selasa, 18 November 2008

Matematika Cinta

Matematika Cinta
Oleh: Gede Prama

Entah cerita ini benar atau tidak, dan saya tidak bisa mempertanggungjawabkannya, pada sebuah kelas pendidikan pemberantasan buta huruf yang diisi berbagai macam orang dewasa dengan beragam latar belakang di sebuah pojokan kota Jakarta, pernah terjadi sebuah dialog menarik. Ketika guru bertanya satu tambah satu sama dengan berapa, jawaban siswanya amat beragam.

Yang pertama langsung menjawab adalah murid dari Batak, dengan jawaban jelas dan tegas : dua! Murid-murid asli Jawa yang terkenal santun dan luwes, setelah mengerutkan dahi tanda serius dan menghargai gurunya, mereka sepakat menjawab : bisa tiga kurang satu, bisa juga empat dikurangi dua. Sahabat dari Sunda juga menjawab sopan : kumaha Bapa Wae.
Dan yang memperoleh perhatian paling banyak adalah jawaban rekan dari Padang. Mereka menyebut bahwa satu tambah satu sama dengan tiga. Ketika ditanya balik alasannya, serempak mereka menjawab : kalau satu tambah satu sama dengan dua, artinya pulang modal. Jadi, mesti ada untung sekurang-kurangnya satu!

Itulah matematika realita yang penuh dinamika. Bukan matematika ala sekolahan yang membuat semuanya serba steril, serta kurang dinamika. Dan Andapun bebas memilih matematika yang mana, entah matematika realita, atau matematika sekolahan. Tidak ada pilihan yang selalu lebih baik, selalu tepat, apa lagi selalu benar. Semuanya senantiasa dibingkai keterbatasan seperti ruang dan waktu.

Serupa dengan matematika realita tadi, ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) kalau boleh jujur sebenarnya juga penuh dinamika. Ada juga yang mensterilkan iptek, namun sebagai sebuah kendaraan kehidupan, sulit diingkari kalau manusia tidak saja mengelola iptek, tetapi iptek juga mengelola kita manusia. Seperti berada dalam lingkaran dialektis yang tidak mengenal henti, demikianlah nasib manusia dan iptek. Studi-studi bagaimana manusia mempengaruhi iptek ada segudang. Sayangnya, studi-studi sebaliknya, bagaimana teknologi juga sedang membuat manusia secara meyakinkan, hanya tersedia dalam bentuk
terbatas. Dalam keadaan demikian, bisa dimaklumi kalau sering kali kita hanya bisa terkejut, terbengong-bengong tidak mengerti kenapa kita bisa sampai di sini.

Sebut saja teknologi SMS sebagai sebuah contoh, hampir seluruh interaksi manusia - bahkan sampai ke orang desa yang mengenal HP - berubah karena teknologi terakhir. Rapat melalui SMS, bukankah tidak terbayangkan sebelumnya? Revolusi menjatuhkan sebuah rezim di Pilipina juga bersenjatakan SMS. Bahkan orang selingkuhpun sekarang banyak menggunakan SMS. Kalau logis tidaknya sebuah perkembangan dicarikan basis legitimasinya di masa lalu (baca: empirical basis sebagai
satu-satunya basis logika manusia modern) maka tentu saja teknologi SMS ini tidak logis. Namun seberapa tidak logispun dia, tetap sedang menghadirkan perubahan revolusioner.

Dalam cahaya kejernihan seperti ini, mungkin sudah saatnya memikirkan konstruksi iptek yang hanya berdiri di atas fundamen-fundamen empirik semata. Ada fundamen lain yang juga layak untuk direnungkan kembali. Dalam proses pencaharian fundamen-fundamen lain ini, tiba-tiba saja saya dan sebagian publik dihentakkan oleh kisah film Beautiful Mind
yang memperoleh delapan academy award - kalau tidak salah.

Film ini memang berkisah tentang seorang matematikawan brilian yang bernama John Nash. Demikian cintanya ia akan matematika, sampai-sampai kehidupan sosialnya terbengkalaikan. Dan jadilah ia manusia yang aneh dalam ukuran kebanyakan orang. Teorinya yang disebut governing dynamics memang menghebohkan dan amat berpengaruh. Tetapi sebagaimana karya besar yang kerap juga menuntut harga besar, hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan John Nash.

Ia mengalami kehidupan yang amat berbeda dengan orang kebanyakan. Bahkan terpaksa harus dibawa ke rumah sakit gangguan jiwa. Bertahun-tahun harus mengalami perawatan yang membuat keluarganya demikian menderita. Penyembuhannyapun melalui pengorbanan keluarga dan kerabat dekat yang biayanya tidak kecil. Namun, cerita ini berakhir
mengagumkan. John Nash memperoleh hadiah nobel karena teori governing dynamics-nya. Dan dalam pidatonya yang mengagumkan, ia menyebut kalimat yang kurang lebih berbunyi begini: "Di luar realita fisika dan metafisika, ada keseimbangan misterius cinta."

Ya sekali lagi, keseimbangan misterius cinta, istilah asli John Nash adalah the mysterious balance of love. Saya mencoba menyebutnya dengan matematika cinta. Agak berbeda dengan banyak orang yang menyebut cinta sebatas dalam ruangan perasaan, ada ruangan cinta lain yang terlupakan : cinta juga sebuah kekuatan. Cinta istri John Nash adalah kekuatan besar
yang ada di balik hidupnya yang mengagumkan.

Contoh lain yang kerap saya pakai adalah sejarah India. Di tahun 1940-an salah satu tentara terkuat di dunia ketika itu adalah tentara Inggris. Namun, kendatipun memiliki jumlah tentara besar lengkap dengan persenjataannya yang juga besar, tentara Inggris harus ditarik mundur karena kekuatan cinta seorang manusia kurus kering, berbaju seadanya yang bernama Mahatma Gandhi. Ibu Theresa juga serupa, kendati setiap hari bergelut dengan orang-orang yang berpenyakit kusta, tidak pernah terdengar kalau beliau tertular penyakit yang sama.

Ini menghadirkan pemahaman, cinta juga meningkatkan kekebalan tubuh. Buku Bernie Siegel (seorang dokter ahli bedah asli Amerika) dengan judul Love, Medicine and Miracle bercerita banyak sekali di ruangan cinta sebagai kekuatan. Sekaligus memberikan basis logika yang cukup meyakinkan. Dan masih ada lagi bukti lainnya.

Aswin Wiryadi - seorang sahabat dekat yang menjadi direktur BCA - suatu hari mengirimkan SMS yang berbunyi begini. Pria pintar bertemu wanita pintar, kemungkinan hasilnya adalah romantika. Pria pintar bertemu wanita bodoh, hasilnya adalah selingkuh. Pria bodoh bertemu wanita pintar, ujung-ujungnya adalah pernikahan. Pria goblok bertemu wanita goblok, apa lagi akhir ceritanya kalau bukan kehamilan?

Saya tidak tahu suasana psikologis Pak Aswin ketika mengirimkan SMS ini ke saya. Apakah ia sedang merangkai matematika cinta, atau ia sedang melucu, atau sedang menceritakan pengalamannya sendiri, sampai hari ini saya tidak pernah melakukan konfirmasi. Dan Andapun boleh menyimpulkan bebas, apakah matematika cinta yang menjadi judul tulisan ini ada kaitannya dengan SMS tadi, atau SMS tadi hanya mengada-ada, atau tulisan ini yang diada-adakan. Yang jelas, seorang sahabat dekat menyimpulkannya dengan sebuah senyuman : ada-ada saja!


Senin, 17 November 2008

Pengakuan

Pengakuan

Seorang pengemis duduk mengulurkan tangannya di sudut jalan. Tolstoy,
penulis besar Rusia yang kebetulan lewat di depannya, langsung berhenti dan
mencoba mencari uang logam di sakunya. Ternyata tak ada. Dengan amat sedih
ia berkata, "Janganlah marah kepadaku, hai Saudaraku. Aku tidak bawa uang."

Mendengar kata-kata itu, wajah pengemis berbinar-binar, dan ia menjawab,
"Tak apa-apa Tuan. Saya gembira sekali, karena Anda menyebut saya saudara.
Ini pemberian yang sangat besar bagi saya."

Setiap manusia, apapun latar belakangnya, memiliki kesamaan yang mendasar:
ingin dipuji, diakui, didengarkan dan dihormati.

Kebutuhan ini sering terlupakan begitu saja. Banyak manajer yang masih
beranggapan bahwa orang hanya termotivasi uang. Mereka lupa, nilai uang
hanya bertahan sampai uang itu habis dibelanjakan. Ini sesuai dengan teori
Herzberg yang mengatakan bahwa uang tak akan pernah mendatangkan kepuasan
dalam bekerja.

Manusia bukan sekadar makhluk fisik, tapi juga makhluk spiritual yang
membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bernilai. Mereka butuh penghargaan dan
pengakuan atas kontribusi mereka. Tak perlu sesuatu yang sulit atau mahal,
ini bisa sesederhana pujian yang tulus.

Namun, memberikan pujian ternyata bukan mudah.

Jauh lebih mudah mengritik orang lain.

Seorang kawan pernah mengatakan, "Bukannya saya tak mau memuji bawahan, tapi
saya benar-benar tak tahu apa yang perlu saya puji. Kinerjanya begitu
buruk." "Tahukah Anda kenapa kinerjanya begitu buruk?" saya balik bertanya.
"Karena Anda sama sekali tak pernah memujinya!"

Persoalannya, mengapa kita begitu sulit memberi pujian pada orang lain?

Menurut saya, ada tiga hal penyebabnya, dan kesemuanya berakar pada cara
kita memandang orang lain.

Pertama, kita tidak tulus mencintai mereka. Cinta kita bukanlah
unconditional love, tetapi cinta bersyarat. Kita mencintai pasangan kita
karena ia mengikuti kemauan kita, kita mencintai anak-anak kita karena
mereka berprestasi di sekolah, kita mengasihi bawahan kita karena mereka
memenuhi target pekerjaan yang telah ditetapkan.

Perhatikanlah kata-kata di atas: cinta bersyarat. Artinya, kalau
syarat-syarat tidak terpenuhi, cinta kita pun memudar. Padahal, cinta yang
tulus seperti pepatah Perancis: L`amour n`est pas parce que mais malgre.
Cinta adalah bukan "cinta karena", tetapi "cinta walaupun". Inilah cinta
yang tulus, yang tanpa kondisi dan persyaratan apapun.

Cinta tanpa syarat adalah penjelmaan sikap Tuhan yang memberikan rahmatNya
tanpa pilih kasih. Cinta Tuhan adalah "cinta walaupun". Walaupun Anda
mengingkari nikmatNya, Dia tetap memberikan kepada Anda. Lihatlah bagaimana
Dia menumbuhkan bunga-bunga yang indah untuk dapat dinikmati siapa saja tak
peduli si baik atau si jahat. Dengan paradigma ini, Anda akan menjadi
manusia yang tulus, yang senantiasa melihat sisi positif orang lain. Ini
bisa memudahkan Anda memberi pujian.

Kesalahan kedua, kita lupa bahwa setiap manusia itu unik. Ada cerita
mengenai seorang turis yang masuk toko barang unik dan antik. Ia berkata,
"Tunjukkan pada saya barang paling unik dari semua yang ada di sini!"
Pemilik toko memeriksa ratusan barang: binatang kering berisi kapuk,
tengkorak, burung yang diawetkan, kepala rusa, lalu berpaling ke turis dan
berkata, "Barang yang paling unik di toko ini tak dapat disangkal adalah
saya sendiri!"

Setiap manusia adalah unik, tak ada dua orang yang persis sama. Kita sering
menyamaratakan orang, sehingga membuat kita tak tertarik pada orang lain.
Padahal, dengan menyadari bahwa tiap orang berbeda, kita akan berusaha
mencari daya tarik dan inner beauty setiap orang. Dengan demikian, kita akan
mudah sekali memberi pujian.

Kesalahan ketiga  disebut paradigm paralysis. Kita sering gagal melihat
orang lain secara apa adanya, karena kita terperangkap dalam paradigma yang
kita buat sendiri mengenai orang itu. Tanpa disadari kita sering
mengotak-ngotakkan orang. Kita menempatkan mereka dalam label-label: orang
ini membosankan, orang itu menyebalkan, orang ini egois, orang itu mau
menang sendiri. Inilah persoalannya: kita gagal melihat setiap orang sebagai
manusia yang "segar dan baru". Padahal, pasangan, anak, kawan, dan bawahan
kita yang sekarang bukanlah mereka yang kita lihat kemarin. Mereka berubah
dan senantiasa baru dan segar setiap saat.

Penyakit yang kita alami, apalagi menghadapi orang yang sudah bertahun-tahun
berinteraksi dengan kita adalah 4 L (Lu Lagi, Lu Lagi -- bahasa Jakarta).
Kita sudah merasa tahu, paham dan hafal mengenai orang itu. Kita menganggap
tak ada lagi sesuatu yang baru dari mereka. Maka, di hadapan kita mereka
telah kehilangan daya tariknya.

Sewaktu membuat tulisan ini, istri saya pun menyindir saya dengan mengatakan
bahwa saya tak terlalu sering lagi memujinya setelah kami menikah. Sebelum
menikah dulu, saya tak pernah kehabisan bahan untuk memujinya. Sindiran ini,
tentu, membuat saya tersipu-sipu dan benar-benar mati kutu.

Pujian yang tulus merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha
Penyayang. Maka, ia mengandung energi positif yang amat dahsyat. Saya telah
mencoba menerapkan pujian dan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang
saya jumpai: istri, pembantu yang membukakan pagar setiap pagi, bawahan di
kantor, resepsionis di kantor klien, tukang parkir, satpam, penjaga toko
maupun petugas di jalan tol.

Efeknya ternyata luar biasa. Pembantu bahkan menjawab ucapan terima kasih
saya dengan doa, "Hati-hati di jalan Pak!" Orang-orang yang saya jumpai juga
senantiasa memberi senyuman yang membahagiakan. Sepertinya mereka terbebas
dari rutinitas pekerjaan yang menjemukan.

Pujian memang mengandung energi yang bisa mencerahkan, memotivasi, membuat
orang bahagia dan bersyukur. Yang lebih penting, membuat orang merasa
dimanusiakan.

Penulis adalah dosen FISIP Universitas Indonesia dan konsultan di
Dunamis-Franklincovey Indonesia

Oleh: Arvan Pardiansyah

Rabu, 12 November 2008

Standford

Standford

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar dan suaminya yang berpakaian
sederhana dan terlihat usang, turun dari kereta api di Boston, dan ber-
jalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University dan meminta
janji temu. Sang sekretaris langsung mendapat kesan bahwa orang kampung,
udik seperti ini, tidak ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak
pantas berada di Cambridge.

"Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard", kata sang Pria lembut.
"Beliau hari ini sibuk," sahut sang Sekretaris cepat.
"Kami akan menunggu," jawab sang Wanita.

Selama 4 jam Sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa
pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi ternyata
tidak, dan sang sekretaris mulai frustrasi dan akhirnya memutuskan untuk
melaporkan kepada sang Pimpinan.

"Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,"
katanya pada sang Pimpinan Harvard.

Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting
dia pasti tidak punya waktu untuk mereka, tetapi dia tidak menyukai ada
orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya. Sang
Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.

Sang wanita berkata padanya, "Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun
pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi
setahun yang lalu, dia me-ninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan
peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini."

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh... dia bahkan terkejut. "Nyonya,"
katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang
yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini akan
seperti kuburan."

"Oh, bukan," Sang wanita menjelaskan dengan cepat,
"Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah
gedung untuk Harvard."

Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar
dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah gedung! Apakah
kalian tahu berapa harga sebuah gedung?! Kami memerlukan lebih dari 7,5 juta
dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard."

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang.
Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada
suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai
sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?" Suaminya
mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.

Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan
perjalanan ke Palo Alto, California, dimana mereka mendirikan sebuah
Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang
anak yang tidak lagi diperdu-likan oleh Harvard.

Anda bisa dengan gampang menilai karakter orang lain dengan melihat
bagaimana mereka memperlakukan orang-orang yang mereka pikir tidak dapat
berbuat apa-apa untuk mereka.

-- by Malcolm Forbes.

Kamis, 06 November 2008

Blessing In Disguise

Blessing In Disguise

Adalah sepasang suami-istri yang sudah lama tidak mempunyai anak. Suatu hari
sang istri ternyata hamil lalu melahirkan seorang anak laki-laki. Semua
tetangga mengatakan mereka adalah pasangan yang beruntung. Anaknya laki-laki
lagi. Kalau nanti sudah dewasa, bukankah dia bisa bekerja keras dan merawat
orang tuanya? Sungguh beruntung mereka punya anak laki-laki.

Ternyata anak tersebut sangat senang kuda. Dia sangat ingin memiliki seekor
kuda. Tapi mereka miskin sehingga tidak bisa membeli hewan tersebut. Semua
orang mengatakan bahwa mereka benar-benar sial karena miskin, sehingga
tidak bisa membeli kuda. Kalau mereka kaya, kan bisa beli kuda? Sial benar.

Suatu hari ayahnya diberi seekor anak kuda oleh pelanggannya yang sering
membeli kayu bakarnya. Jadilah anak itu punya seekor kuda. Semua orang
mengatakan mereka sangat beruntung. Ingin punya kuda, eh ada yang memberi
kuda. Beruntung sekali.

Anak itu pun belajar berkuda. Dia sering berkuda ke mana-mana. Suatu Hari,
ketika sedang berkuda. ternyata kuda tersebut mengamuk, sehingga anak itu
terjatuh dan kakinya patah. Sejak kejadian itu dia menjadi pincang apabila
berjalan.

Semua orang menyesali mengapa dia berkuda. Kalau dulu tidak punya kuda, kan
dia tidak akan jatuh. Dan kakinya tidak akan pincang. Sial. Mengapa punya
kuda? Lebih baik tidak usah punya kuda. Sial sekali.

Setelah anak tersebut menginjak dewasa, ternyata di negara tersebut pecah
perang dengan negara lain. Semua pemuda harus menjadi serdadu. Anak pasangan
suami-istri itu juga harus mendaftar. Orangtuanya khawatir kalau anak
satu-satunya ikut berperang. Semua tetangga merasa kasihan dan menyesali
mengapa dulu tidak lahir anak perempuan saja. Kalau anak perempuan kan tidak
harus berangkat berperang. Aduh, sial benar, mengapa pasangan itu dulu
melahirkan anak laki-laki?

Ketika dilakukan pemeriksaan kesehatan ternyata anak itu yang kini sudah
tumbuh menjadi seorang pemuda, tidak diterima sebagai serdadu karena kakinya
cacat. Semua orang mengatakan, beruntung sekali dia tidak harus berperang.
Coba kalau dulu tidak jatuh dari kuda, dia pasti harus ikut berperang.
Untung dulu dia punya kuda. Untung dulu dia jatuh dari kuda. Untung kakinya
pincang. Sungguh beruntung dia.

Dari cerita ini, sebenarnya untung dan sial itu apa sih? Kapan seorang
disebut beruntung dan kapan kurang beruntung? Ketika anak laki-laki yang
lahir, katanya beruntung, tapi ketika dia harus berperang, orang-orang
mengatakan mengapa dulu tidak lahir anak perempuan saja?

Ketika dia mendapat kuda, katanya beruntung, tapi ketika dia pincang karena
jatuh dari kuda, katanya sial. Orang-orang menyesali mengapa punya kuda.
Lalu ketika dia tidak jadi berperang karena pincang, kata orang dia
beruntung karena dulu pernah jatuh dari kuda. Untung dulu punya kuda. Untung
dia pincang.

Jadi, sebenarnya kapan seseorang sial dan kapan seseorang beruntung? Apakah
karena tidak sesuai dengan yang kita harapkan lalu kita katakan sial atau
kita anggap musibah? Apakah ketika sesuai dengan keinginan kita, lalu
musibah tersebut bisa berubah menjadi keberuntungan? Kapan kita menyesali
sesuatu? Kapan kita mensyukuri sesuatu? Mungkin saja apa yang dianggap sial
atau musibah hari ini, mungkin bisa berubah menjadi keberuntungan di masa
depan. Mengapa? Mungkin karena kita belum bisa melihat blessings in
disguise. Kita tidak bisa melihat berkah dibalik musibah. Apa yang dilihat
sebagai musibah hari ini, ternyata di kemudian hari baru kita sadari bahwa
hal itu mengandung berkah.

Kisah berikut ini juga mengambarkan adanya berkah terselubung. Sekali waktu
ada seorang pria buta huruf yang bekerja sebagai penjaga sebuah sekolah di
Amerika Serikat. Sudah sekitar 20 tahun dia bekerja di sana. Suatu hari
pemimpin sekolah itu dipindahkan ke tempat lain dan digantikan oleh pemimpin
baru.

Pemimpin baru ini menerapkan aturan baru. Semua pekerja harus bisa membaca
dan menulis agar mereka bisa mengerti pengumuman yang ditempel di papan
pengumuman. Penjaga yang buta huruf itu terpaksa tidak bisa bekerja lagi.

Dia sangat sedih dan berjalan pulang dengan lemas. Dia tidak berani langsung
pulang ke rumah, tidak berani langsung memberitahu isterinya. Dengan sedih
dia berjalan pelan menelusuri jalanan.

Setelah hari gelap sampailah dia di sekitar pelabuhan. Dia pun ingin membeli
tembakau. Tapi setelah mencari kemana-mana, setelah mengelilingi beberapa
blok, tidak ada satu toko pun yang menjual tembakau. Tiba-tiba, dia berfikir
"Tembakau sangat perlu. Tapi di sekitar sini tak ada yang jual tembakau. Aku
ingin jualan tembakau saja ah."

Dia pun pulang, lalu dengan penuh semangat menceritakan idenya untuk
berjualan tembakau kepada isterinya. Dia tidak lagi menyesali nasibnya yang
baru saja kehilangan pekerjaan. Kemudian dia pun membuka kios tembakau.
Ternyata tembakaunya laku keras.

Tak berapa lama, dia bisa membuka toko tembakau. Beberapa tahun kemudian dia
bisa membuka beberapa cabang toko tembakau di tempat lain. Jadilah dia
pedagang tembakau sukses.

Ketika sudah jadi orang kaya, dia pun pergi ke bank untuk membuka rekening.
Tapi karena buta huruf, maka dia tidak bisa mengisi formulir. Karyawan bank
berkata "Wah, Bapak yang buta huruf saja bisa punya uang sebanyak ini,
apalagi kalau Bapak bisa membaca dan menulis, Bapak pasti lebih kaya lagi."
Dengan tersenyum dia berkata "Kalau saya bisa membaca dan menulis, saya
pasti masih menjadi penjaga sekolah."

Waktu dia dipecat, dia merasa sedih, putus asa, dan mungkin menyesali
kejadian itu. Peristiwa itu merupakan musibah. Tapi kini, dia bisa melihat
bahwa mungkin nasibnya tidak akan berubah menjadi seperti sekarang kalau
dulu dia tidak dipecat.
Apa yang dulu merupakan musibah, ternyata kini mendatangkan keberuntungan,
menjadi berkah. Mari kita mencoba bersabar dan tabah dalam menghadapi
apapun. Berdoa supaya bisa melihat berkah di balik musibah dan selalu
bersyukur terhadap apa yang sudah diberikan DIA untuk kita.

Do not give up! See the blessings in disguise!

.

Rabu, 05 November 2008

Dilema sang ibu yang bekerja

Dilema sang ibu yang bekerja

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM

Principal of Yemayo – Advance Education Center

Sebutlah ibu Arni namanya, seorang wanita berpenampilan rapi yang selalu kelihatan sibuk dengan segala macam urusannya. Ia terlihat tidak bisa diam, ada saja selalu yang diurusnya. Telepon genggamnya dari tadi berbunyi; kesibukan ibu Arni sungguh tidak terlihat dibuat-buat. Akhirnya ia mendapatkan waktu juga untuk berbicara dengan saya.

"Maaf nih, dari tadi telepon saya bunyi terus yah. Ya beginilah, urusan kantor saya memang banyak, sampai beberapa kali saya ingkar janji dengan anak saya karena waktu itu saya ada deadline sehingga pulang larut malam", kata ibu Arni yang terlihat begitu salah tingkah. Terlihat ia sangat antusias dan gembira mengatakan dirinya sebagai seorang wanita yang sibuk, namun mukanya pun terlihat tidak nyaman dan tersirat rasa bersalah saat mengatakan bahwa ia harus ingkar janji dengan buah hatinya.

"Duh! Saya salah yah? Gimana ya, saya lupa diri terus kalau bekerja. Tapi gimana yah, saya sangat menyukai pekerjaan saya, tapi saya sadar sih, seharusnya saya lebih menyediakan waktu bagi anak saya", terdengar suara ibu Arni meneruskan kata-katanya terdahulu. Saya yang diajaknya bicara belum mengemukakan apa-apa, tapi tampaknya ibu Arni yang berparas manis ini seperti ingin mengakukan dosa-dosa yang dilakukan terhadap anaknya.

Curhat ibu Dina lain lagi, ia merasa sangat bersalah karena harus kembali bekerja lagi setelah mengambil 3 bulan cuti melahirkannya. "Saya merasa sangat tidak tenang meninggalkan anak saya. Saya sedih kalau mengingat bahwa kemungkinan bukan saya yang akan mendengarkan anak saya mengucapkan 'ma' pertama kali. Saya sering merasa cemburu dengan pengasuh saya karena dia justru bisa dekat dengan anak saya di rumah", nadanya terdengar sangat sedih. Saya dapat merasakan kekacauan hatinya.

Cerita ibu Rima berbeda lagi, ia harus mendapat surat peringatan dari perusahaan tempat bekerjanya karena ia terlalu sering memakai telepon perusahaan untuk menelpon pengasuh anaknya di rumah. Inilah dilema-dilema para ibu yang bekerja. Banyak di antara mereka yang bertanya kepada saya : "Salahkah saya bekerja dan meninggalkan anak-anak saya?"

Saya agak kurang setuju dengan pertanyaan ini, sebab kalau dijawab 'salah', maka perasaan sang ibu akan semakin tertekan, pekerjaannya semakin kacau dan anaknya pun semakin tidak nyaman memiliki ibu berhati kacau, tetapi kalau dijawab 'tidak salah', bisa jadi anak-anak akan tidak pernah merasakan sosok peran ibu yang normal di rumah. Yang sangat menular dan dapat dirasakan oleh anak adalah 'emosi'. Jika seorang ibu bekerja dengan gembira dan mampu membawa kegembiraannya ke rumah, maka emosi positif akan tertular pada anaknya. Masalahnya, untuk ibu yang 'doyan' kerja, ia hanya senang di tempat kerja, tetapi yang dibawa pulang hanyalah emosi kelelahan, tentu saja ini tidak baik dan tidak adil untuk anak.

Sementara untuk ibu yang terpaksa harus bekerja untuk memiliki double income dalam rumah tangga; juga sama kacaunya, di dalam pekerjaan ia tidak tenang, bertemu dengan anaknya pun terasa menjadi sangat berlebihan menumpahkan kasih sayang sebagai kompensasi rasa bersalahnya.

Di dunia ideal memang sebaiknya kaum ibu tinggal di rumah dan kaum bapak sajalah yang mencari nafkah, sehingga urusan rumah dan urusan mencari uang tidak tumpang tindih. Sayangnya permasalahannya tidaklah sederhana.

Jaman sekarang ini, bekerja bagi kaum wanita tidak melulu hanya untuk mencari uang, namun justru seringnya sebagai sarana aktualisasi diri berkarya dan berkreasi dan menambah luasnya wawasan.

Seorang ibu lain yang saya kenal mempunyai masalah lain lagi, saat ia telah memutuskan berhenti bekerja, ternyata anaknya merasa tertekan karena kehadiran sang ibu yang terlalu mendikte. Lalu, apa permasalahan yang sebenarnya? Yang terutama adalah kemampuan anda mengolah emosi. Para ibu yang sangat mencintai pekerjaannya, perlu menjaga kestabilan emosi anda untuk senang bekerja dan senang kembali ke rumah. Untuk ibu yang merasa 'terpaksa' bekerja, perlu juga menjaga kestabilan emosi untuk tetap bekerja dengan tenang dan mengatur emosi sedemikian rupa agar tidak terlalu meluap-luap di depan anak sehingga anak membaca anda sebagai ibu yang labil.

Tips untuk para ibu yang bekerja:

 - Siapkan mental anda bukan mental 'eight to five', tetapi lebih dari itu, 'eight to sleeping time'. Ingatlah bahwa setelah pekerjaan selesai, ada tugas mulia lain yang menunggu anda, yaitu berinteraksi dengan putra-putri yang rindu pada anda.

- Pulanglah dengan gembira, jika anda terlalu lelah, segeralah masuk ke dalam kamar dan tenangkan diri anda 10 hingga 15 menit; anda bisa merendam kaki dengan air panas, tiduran sebentar, namun, ingatlah bahwa putra-putri anda memerlukan anda, keluarlah dari kamar tidur dengan senyuman.

- Bawalah anak anda sesekali ke tempat kerja dan perlihatkanlah kesibukan anda. Anda bisa meminta anak anda membantu pekerjaan sederhana, seperti melipat amplop, menjepret kertas, dll; bila dilibatkan, anak bisa belajar mengerti kesibukan anda. Berikan pandangan positif dan gembira tentang pekerjaan anda, maka anak anda akan turut gembira juga mengetahui bahwa anda gembira melakukan pekerjaan anda.

Tidak seorangpun yang pernah memberikan

yang terbaik itu menyesalinya

= George Halas