Minggu, 13 Juli 2008

Temukan cinta anda

Rekans Alumni Pika ytk,
Kalau saya membaca artikel di bawah ini, saya teringat tahun-tahun sekitar
80 an. Pada waktu itu lulusan PIKA masih sedikit sehingga menjadi rebutan.
Karena seringnya berpindah tempat kerja, waktu itu beberapa rekan mendapat
sebutan "kutu loncat".

Sebetulnya apa sih yang mendorong seseorang betah pada pekerjaannya ? Apakah
hanya uang ?

Artikel di bawah ini menarik untuk direnungkan.

------------------------------

TEMUKAN CINTA ANDA

Bila anda tak mencintai pekerjaan anda, maka cintailah orang-orang yang
bekerja di sana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu. Dan, pekerjaan pun
jadi menggembirakan.

Bila anda tak bisa mencintai rekan-rekan kerja anda, maka cintailah suasana
dan gedung kantor anda. Ini mendorong anda untuk bergairah berangkat kerja
dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi.

Bila toh anda juga tidak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang
pergi dari dan ke tempat kerja anda. Perjalanan yang menyenangkan menjadikan
tujuan tampak menyenangkan juga.

Namun, bila anda tak menemukan kesenangan di sana, maka cintai apa pun yang
bisa anda cintai di tempat kerja anda : tanaman penghias meja, cicak di atas
dinding, atau gumpalan awan di balik jendela. Apa saja !

Bila anda tak menemukan yang bisa anda cintai dari pekerjaan anda, maka
mengapa anda ada di situ ? Tak ada alasan bagi anda untuk tetap bertahan.
Cepat pergi dan carilah apa yang anda cintai, lalu bekerjalah di sana.

Hidup hanya sekali. Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa
cinta yang tulus.

--------------------

Apa komentar anda ?

Salam kompak,
PDS

Kamis, 10 Juli 2008

Racun Penyembuh

Racun Penyembuh

Seorang gadis bernama Lili menikah dan tinggal bersama suami dan ibu mertua.
Dalam waktu singkat, Lili menyadari bahwa ia tidak dapat cocok dengan ibu
mertuanya dalam segala hal. Kepribadian mereka berbeda, dan Lili sangat
marah dengan banyak kebiasaan ibu mertua. Lili juga dikritik terus-menerus.
Hari demi hari, minggu demi minggu, Lili dan ibu mertua tidak pernah
berhenti konflik dan bertengkar. Keadaan jadi tambah buruk, karena
berdasarkan tradisi Cina, Lili harus taat kepada setiap permintaan sang
mertua.

Semua keributan dan pertengkaran di rumah itu mengakibatkan suami yang
miskin itu ada dalam stress yang besar. Akhirnya, Lili tidak tahan lagi
dengan temperamen buruk dan dominasi ibu mertuanya, dan dia memutuskan untuk
melakukan sesuatu.

Lili pergi menemui teman baik ayahnya, Mr Huang, yang menjual jamu. Lili
menceritakan apa yang dialaminya dan meminta kalau-kalau Mr Huang dapat
memberinya sejumlah racun supaya semua kesulitannya selesai.

Mr Huang berpikir sejenak dan tersenyum dan akhirnya berkata, Lili, saya
akan menolong, tapi kamu harus mendengarkan dan melakukan semua yang saya
minta.

Lili menjawab, "Baik, saya akan melakukan apa saja yang anda minta." Mr
Huang masuk kedalam ruangan dan kembali beberapa menit kemudian dengan
sekantong jamu.

Dia memberitahu Lili, "Kamu tidak boleh menggunakan racun yang bereaksi
cepat untuk menyingkirkan ibu mertuamu, karena nanti orang-orang akan
curiga. Karena itu saya memberimu sejumlah jamu yang secara perlahan akan
meracuni tubuh ibu mertuamu. Setiap hari masakkan daging babi atau ayam
kesukaannya dan kemudian campurkan sedikit jamu ini. Nah, untuk memastikan
bahwa tidak ada orang yang mencurigaimu pada waktu ia meninggal, kamu harus
berhati-hati dan bertindak dangan sangat baik dan bersahabat. Jangan
berdebat dengannya, taati dia, dan perlakukan dia seperti seorang ratu".
Lili sangat senang. Dia kembali ke rumah dan memulat rencana pembunuhan
terhadap ibu mertua.

Minggu demi minggu berlalu, dan berbulanbulan berlalu, dan setiap hari, Lili
melayani ibu mertua dengan masakan yang dibuat secara khusus. Lili ingat apa
yang dikatakan Mr Huang tentang menghindari kecurigaan, jadi Lili
mengendalikan emosinya, mentaati ibu mertua, memperlakukan ibu mertuanya
seperti ibu-nya sendiri dengan sangat baik dan bersahabat.

Setelah eman bulan, seluruh rumah berubah. Lili telah belajar mengendalikan
emosinya begitu rupa sehingga hampir-hampir ia tidak pernah meledak dalam
amarah atau kekecewaan. Dia tidak berdebat sekalipun dengan ibu mertua-nya,
yang sekarang kelihatan jauh lebih baik dan mudah ditemani.

Sikap ibu mertua terhadap Lili berubah. Dia mulai menyayangi Lili seperti
anaknya sendiri. Dia terus memberitahu teman-teman dan kenalannya bahwa Lili
adalah menantu terbaik yang pernah ditemuinya. Lili dan ibu mertuanya
sekarang berlaku sepertu ibu dan anak sungguhan. Suami Lili sangat senang
melihat apa yang telah terjadi.

Satu hari, Lili datang menemui Mr. Huang dan minta pertolongan lagi. Dia
berkata, "Mr Huang, tolonglah saya untuk mencegah racun itu membunuh ibu
mertua saya. Dia telah berubah menjadi wanita yang sangat baik dan saya
mengasihinya seperti ibu saya sendiri. Saya tidak ingin dia mati karena
racun yang saya berikan".

Mr. Huang tersenyum dan mengangkat kepalanya. "Lili, tidak usah khawatir.
Saya tidak pernah memberimu racun. Jamu yang saya berikan dulu adalah
vitamin untuk meningkatkan kesehatannya. Satu-satunya racun yang pernah ada
ialah didalam pikiran dan sikapmu terhadapnya, tapi semua sudah lenyap oleh
kasih yang engkau berikan padanya".

Renungan :
Teman, pernahkah engkau menyadari bahwa sebagaimana perlakukanmu terhadap
orang lain akan sama dengan apa yang akan mereka lakukan terhadap kita ?
Pepatah China berkata : Orang yang mengasihi orang lain akan dikasihi.


Sumber : Unknown

Berpikir Sederhana

Berpikir Sederhana

Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa
busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang
paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing
pelacak atau jaring penyerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang
memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan. Tidak lama ia menunggu,
seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat
di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gangang tombaknya,
kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir : "Untuk
apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar ? Apakah artinya dia dibanding
dengan seekor rusa besar yang saya incar ?"

Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di
depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, "Ah,
hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia". Agak lama
pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang
mendekat, pemburupun mulai siaga penuh, tetapi ternyata, ah... kijang. Ia
pun membiarkannya berlalu. Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa
yang lewat, sehingga ia tertidur. Baru setelah hari sudah sore, rusa yang
ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang
tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia
berteriak, "Rusa !!!" sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit
sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

Renungan :
Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu
yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya pun
terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati
begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh
sesuatu yang berharga. Tidak jarang orang-orang seperti itu menelan pil
pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa. Demikian juga dengan
seseorang yang mencari pasangan hidup. Kalau dia mengharapkan seorang
gadis cantik atau perjaka tampan yang baik, pintar dan sempurna lahir dan
batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.

Berpikir sederhana, bukan berarti tanpa pertimbangan logika yang sehat. Kita
tentunya perlu mempunyai harapan dan idelaisme supaya tidak asal tabrak.
Tetapi hendaknya kita ingat bahwa seringkali Tuhan mengajar umat-Nya dengan
perkara-perkara kecil terlebih dahulu sebelum mempercayakan perkara besar
dan lagi pula tidak ada sesuatu di dunia yang perfect, yang memenuhi semua
idealisme kita. Berpikirlah sederhana.

Sumber : Unknown.

Kamis, 03 Juli 2008

Sang tunanetra yang luarbiasa

SANG TUNANETRA YANG LUAR BIASA
Action & Wisdom Motivation Training

Hidup adalah pembelajaran tanpa henti. Setiap hari, setiap saat, dan setiap
waktu, jika kita telaah lebih jauh, selalu menjadi momen pembelajaran. Baik
itu berupa halangan, rintangan, tantangan, atau berbagai kejadian apa pun
yang kita temui. Jika bisa disikapi dengan cara yang bijak, maka selalu ada
sisi positif yang bisa kita ambil sebagai bagian proses belajar.
Maka, tak salah, jika orang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik.
Namun, semua itu harus dikembalikan kepada individu yang menjalaninya. Jika
tak ada proses evaluasi dan tindakan perbaikan, pembelajaran yang didapatkan
pun tak akan maksimal. Hadirnya pengalaman, baru akan bernilai jika kita
bisa memaknainya dengan sudut pandang dan mindset positif.

Seperti yang saya jumpai saat saya memberikan seminar di Asian Agri Medan
pada tanggal 8 Januari 2008, dengan tema "If Better is Possible, Good is Not
Enough". Ketika acara, saya mendapat "pelajaran" yang sangat berharga.
Sebagaimana setiap kali seminar, ada banyak orang yang antusias mengikuti
seminar. Kemudian, banyak pula yang lantas ingin berfoto dan meminta tanda
tangan. Namun, ada satu hal yang luar biasa saat itu. Salah satu orang yang
sangat antusias tersebut ternyata adalah seorang penyandang tunanetra.

Yang menjadikannya luar biasa, orang yang bernama Roswidi itu, adalah
tekadnya. Meski punya keterbatasan fisik, hal tersebut tidak menjadi
halangan baginya untuk berkarya. Hebatnya, dengan kekurangan itu, ia
ternyata adalah sosok yang berada di balik suksesnya acara seminar. Pria
yang mengaku sebagai pendengar setia acara saya, Smart Motivation di radio
Smart FM setiap Senin ini, adalah event organizer acara yang khusus
menangani sound system acara. Dengan keterbatasan itu, Roswidi membuktikan
pada semua orang, bahwa ia tak beda dengan orang kebanyakan.

Bicaranya yang terdengar semangat, menunjukkan betapa keterbatasan yang
dimilikinya, sama sekali bukan halangan untuk sukses. Bahkan, ia mengaku
sudah menjalani usaha sound system itu selama lima tahunan. Sebelumnya, ia
juga pernah menjadi pemain keyboard di berbagai acara. Selain itu, ia
ternyata juga menjadi pengusaha onderdil sepeda. Roswidi benar-benar
menunjukkan kepada saya dan semua orang yang hadir saat itu, bahwa sukses
memang hak siapa saja, "Success is my right!" Ia adalah contoh nyata orang
yang bisa "melihat" dengan tekad dan hati, bahwa halangan dan tantangan,
sebenarnya hanyalah bagian dari proses pembelajaran diri.

Jika menengok keadaan kita, hal ini tentu adalah sebuah hal yang sangat luar
biasa. Semangat dan daya juang Roswidi patut dicontoh. Apalagi, bagi kita
yang dikaruniai tubuh lengkap dan tak kurang suatu apa pun. Seharusnya, dari
contoh kisah Roswidi ini, bisa menumbuhkan semangat dalam diri.

Sungguh, perjalanan saya kali ini ke kota Medan memberi pengalaman yang luar
biasa. Apalagi, Roswidi sempat berkata, "Kita dapat melakukan apa pun, meski
tanpa kedua mata. Sebab, kita masih punya kaki, tangan, otak, dan pikiran
yang bisa kita maksimalkan." Sebuah kalimat sederhana, namun mengandung arti
yang sangat luar biasa. Roswidi membuktikan, bahwa dengan tindakan nyata, ia
pun bisa berkarya layaknya manusia seutuhnya.

Untuk itu, seperti komitmen saya untuk menjadikan tahun ini sebagai tahun
Think and Action 2008, kisah Roswidi ini seharusnya mampu memacu kita untuk
berpikir dan bertindak maksimal. Jika orang yang kurang secara fisik saja
(maaf: buta) mampu, bagaimana dengan kita yang sehat?

Maka, mari kita jadikan semua cobaan dan tantangan, bukan sebagai halangan.
Namun, justru jadi batu loncatan menuju kesuksesan. Dengan think and action,
kita buktikan diri mampu menjemput semua impian.

Salam sukses Luar Biasa!!!
Andrie Wongso

Kamis, 19 Juni 2008

Sertifikat, pelajar dan Pembelajaran

Sertifikat, pelajar dan Pembelajaran
# Arvan Pradiansyah

Seorang dokter sedang memeriksa pasien yang terbaring lemas di tempat tidur.
Tak lama kemudian ia berdiri dan berkata kepada istri pasien. "Maaf, saya
turut berduka cita atas meninggalnya suami ibu". Lalu, suara protes lemah
terdengar dari tubuh lemas yang terbaring di tempat tidur, "Tidak, saya
masih hidup". Mendengar hal itu, istrinya langsung menjawab, "Diam! Dokter
itu lebih tahu daripada kamu!".

Mungkin anda tertawa mendengar lelucon tersebut. Sebenarnya, hal itu
merefleksikan kenyataan masyarakat. Kita sering lebih menghargai posisi
keteimbang kebenaran, lebih menghargai penampilan ketimbang karakter, lebih
menghargai sertifikat ketimbang isi dan substansi. Ini bisa menjelaskan
mengapa bznyak orang tertarik memperoleh gelar tanpa susah payah.
Padahal apa artinya sertifikat ? menurut saya, sertifikat hanyalah potret
mengenai perjalanan hidup seseorang, belum tentu menggambarkan kapasitas dan
kompetensinya. Orang yang bergelar doktor tapi kemudian berhenti belajar,
maka ia pun ketinggalan dalam waktu singkat, Orang yang memiliki SIM tapi
tak pernah menyetir mobil, pastilah kehilangan keahliannya. Jadi sertifikat
apapun bentuknya sebenarnya sekedar potret, sertifikat hanyalah nilai,
sedangkan prinsipnya adalah mendapatkan kompetensi dengan belajar.

Toh kenyataannya, banyak orang yang lebih mementingkan sertifikat ketimbang
proses belajarnya. Dalam suatu pelatihan bersertifikasi, saya pernah tidak
meluluskan seorang peserta, karena ia belum dapat menunjukkan keahlian yang
diperlukan, namun dia tetap menuntut sertifikat, akhirnya saya hanya
memberikan certificate of attendance ( sertifikat kehadiran ) kepadanya,
anehnya ia cukup puas dan bangga dengan sertifikat tadi.

Orang-orang seperti ini banyak kita jumpai di seminar dan studi banding ke
luar negeri / dalam negeri, sering yang dicari sertifikat atau citra (
seminar di luar negeri sering tidak mengeluarkan sertifikat ). Saya pernah
mengikuti konferensi internasional si salah satu negara ASEAN, ternyata
peserta terbanyak dari Indonesia. Namun, itu hanya pemandangan hari pertama
dan malam penutupan. Di hari-hari seminar, banyak peserta yang menghilang
entah kemana. Bahkan di hari terakhir, seorang peserta seminar mengatakan
kepada saya bahwa kopernya overweight, padahal ia akan mampir lagi di negara
tetangga buat berbelanja. Anda tahu barang apa yang lalu ditinggalkannya?
Tak lain, tas berisi semua makalah seminar. "Habis mau bagaimana lagi, koper
saya sudah terlalu berat."

Berbeda dari manusia jenis pertama yang lebih mementingkan citra dan
sertifikat, ada orang yang memang senang belajar, berdiskusi, ikut pelatihan
dan datang ke seminar. Ini disebut manusia pelajar. Orang ini banyak ilmunya
tetapi sayangnya ia tidak menerapkan ilmu itu untuk meningkatkan kualitas
hidupnya. Mereka tahu cara mendidik anak, tapi tetap tak bisa dekat dengan
anak. Tahu cara berkomunikasi, tapi lebih sering mengalami miskomunikasi.
Tahu cara mengelola organisasi, tapi menerapkan manajemen pokoke alias
manajemen otoriter. Inilah ciri pelajar, Stephen Covey mengatakan, "to know
but not to do is not to know." Maksudnya, mengetahui sesuatu tetapi tidak
melakukan apa-apa, sama saja dengan tidak mengetahui. Anda mempunyai banyak
buku terbaru, tapi tak pernah satu kalipun membacanya, sama saja nilainya
dengan orang yang tak pernah membeli buku, bahkan sama dengan orang yang tak
bisa membaca.!

Manusia terbaik adalah pembelajar. Inilah orang yang senantiasa belajar,
kemudian mengamalkan apa yang diperolehnya. Rekan saya mengatakan, perbedaan
antara orang Indonesia dan Amerika seperti ini, "orang Indonesia datang ke
seminar untuk belajar sesuatu yang baru, sementara orang Amerika datang ke
seminar untuk menerapkan hal yang baru." Orang pertama cuma menangkap,
sedangkan orang kedua menjalani proses pembelajaran yang meliputi empat
tahap : menangkap ( capture ), memperluas dan mengaitkan dengan pengalaman
sendiri ( expand ), menerapkan ( apply ), dan berbagi ( share ).
Dengan mengamalkan ilmu dan membagikan pengalaman menerapkannya kepada orang
lain, kita memenuhi bukan hanya kebutuhan mental ( to learn ), melainkan
juga kebutuhan spriritual ( to leave a legacy ). Kita meningkatkan kualitas
hidup orang lain. Dengan demikian, hidup kita pun lebih berkualitas dan
lebih bermakna.

(Penulis adalah dosen FISIP Universitas Indonesia dan konsultan SDM Franklin
Covey Indonesia )

Ubah dulu yang di dalam

UBAH DULU YANG DI DALAM
Action & Wisdom Motivation Training

Saat renovasi rumah, si empunya rumah sudah merencanakan memasang sebuah
lukisan potret keluarga di ruang tamu yang telah ditatanya dengan indah.
Lukisan itu telah dipesan melalui seorang seniman pelukis wajah yang
terkenal dengan harga yang tidak murah. Tetapi, saat lukisan itu tiba di
rumah dan hendak dipasang, dia merasa tidak puas dengan hasil lukisan dan
meminta si pelukis merevisiya sesuai dengan gambar yang dibayangkan.

Apa daya, setelah diperbaiki hingga ketiga kalinya, tetap saja ada sesuatu
yang tidak disukai pada lukisan tersebut sehingga setiap si pemilik rumah
melintas ruang tamu, selalu timbul ketidakpuasan dan kekecewaan. Itu
sangatlah mengganggu pikirannya. Menjadikan dirinya tidak senang,
uring-uringan, jengkel, kecewa dan sebal dengan ruang tamunya yang indah
itu. Semua gara-gara sebuah lukisan!

Suatu hari, datang bertamu satu keluarga sahabat ke rumah itu. Sahabat ini
termasuk pengamat seni yang disegani di lingkungannya. Saat memasuki ruang
tamu-setelah bertukar sapa begitu akrab dengan tuan rumah-tiba-tiba mereka
bersamaan terdiam di depan lukisan potret keluarga itu. Si tuan rumah
buru-buru menyela, "Teman, tolong jangan dipelototi begitu, dong. Aku tahu,
lukisan itu tidak seindah seperti yang aku mau, tetapi setelah di revisi
beberapa kali jadinya seperti itu, ya udah lah, mau apalagi?"

"Lho, apa yang salah dengan lukisan ini? Lukisan ini bagus sekali, sungguh
aku tidak sekedar memuji. Si pelukis bisa melihat karakter objek yang
dilukisnya dan menuangkan dengan baik di atas kanvas, perpaduan warna di
latar belakangnya juga mampu mendukung lukisan utamanya. Betul kan, Bu?"
tanyanya sambil menoleh kepada istrinya.

"Iya, lukisan ini indah dan berkarakter. Jarang-jarang kami melihat karya
yang cantik seperti ini. Kamu sungguh beruntung memilikinya," si istri
menambahkan dengan bersemangat. Kemudian, mereka pun asyik terlibat diskusi
tentang lukisan itu.
Setelah kejadian itu, setiap melintas di ruang tamu dan melihat lukisan
potret keluarga itu, dia tersenyum sendiri teringat obrolan dengan
sahabatnya. Kejengkelan dan kemarahannya telah lenyap tak berbekas.
Pembaca yang budiman,

Jika sebuah lukisan tidak bisa diubah atau banyak hal lain di luar diri kita
yang tidak mampu kita ubah sesuai dengan keinginan kita atau selera kita,
maka tidak perlu menyalahkan keadaan! Karena sesungguhnya, belum tentu
lukisan atau keadaan luar yang bermasalah, tetapi cara pandang kitalah yang
berbeda. Jika kita tidak ingin kehilangan kebahagiaan maka kita harus
berusaha menerima perbedaan yang ada.

Dengan mengubah cara berpikir kita yang di dalam, tentu kondisi di luar juga
ikut berubah.
Pada kesempatan yang baik ini, saya mengucapkan, Selamat hari Natal 2007 dan
Tahun Baru 2008! Mari kita pelihara semangat dan kebahagiaan kita, bukan
dengan mengubah dunia sesuai dengan keinginan kita, tetapi menerima
perubahan dengan cara mengubah yang ada di dalam diri kita terlebih dulu.

Andrie Wongso
Action & Wisdom Motivation Training

Selasa, 17 Juni 2008

Berjuanglah, Kemudian Pasrahlah!

Berjuanglah, Kemudian Pasrahlah!

Seorang pemuda pergi menemui mahaguru kebijaksanaan dan berkata, ''Guru, begitu besar kepasrahan saya pada Tuhan sampai-sampai saya tak pernah menambatkan unta saya itu. Saya biarkan unta itu dalam penjagaan Tuhan.''

Guru yang bijak itu berkata, ''Kembalilah keluar. Tambatkan untamu itu pada tiang, orang dungu! Tuhan tak akan melakukan sesuatu yang dapat kamu lakukan sendiri!''

Inilah pemahaman yang benar mengenai kepasrahan. Pasrah tak sama dengan menyerah. Pasrah justru sebuah sikap proaktif, sebuah perjuangan habis-habisan untuk melakukan apapun yang dapat kita lakukan sekaligus menyadari adanya suatu kekuatan yang bekerja di luar kontrol kita.

Apa yang kita hadapi pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga hal. Pertama, hal-hal yang dapat kita kontrol. Jangan salah, satu-satunya yang dapat Anda kontrol hanyalah perilaku Anda sendiri. Betapapun hebatnya Anda, Anda tak akan dapat mengontrol bawahan, pasangan, maupun anak Anda. Bisa saja Anda memaksa mereka melakukan apa yang Anda inginkan, tapi itu hanya akan terjadi di depan Anda. Di belakang Anda, percayalah, hal itu tak akan mereka lakukan.

Kedua, hal-hal yang tak dapat kita kontrol tapi dapat kita pengaruhi. Kita tak dapat mengontrol bawahan, tapi kita dapat mempengaruhinya agar bekerja lebih produktif. Kita tak dapat mengontrol kenaikan gaji di kantor, tapi kita dapat mengusulkannya kepada atasan. Kita tak dapat mengontrol anak untuk tak melakukan hal-hal tercela, tetapi kita dapat membekalinya dengan pendidikan agama. Sekali lagi, yang dapat kita lakukan hanyalah mempengaruhi.

Ketiga, hal-hal yang berada di luar kontrol kita. Ada banyak hal yang termasuk kategori ini, seperti krisis ekonomi dan moneter (pemerintah saja tak sanggup, apalagi kita!), biaya hidup yang semakin tinggi, pencemaran udara, kondisi keamanan yang rawan, dan sebagainya.

Untuk bersikap pasrah, pertama-tama Anda harus mengetahui apa yang dapat diubah dan apa yang tidak. Apapun masalah yang Anda hadapi, masukkanlah itu ke dalam ketiga kategori tersebut. Namun, disini Andapun harus hati-hati, jangan sampai salah memasukkan. Misalnya, dimana Anda akan memasukkan krisis ekonomi dan moneter? Dimana Anda akan memasukkan masalah banjir lima tahunan yang melanda Jakarta? Apakah hal itu di luar kontrol kita? Mungkin benar, kalau Anda rakyat biasa. Tapi kalau Anda adalah pejabat pemerintah dan para wakil rakyat, hal itu masuk hal-hal yang dapat Anda kontrol. Begitu juga dengan banjir lima tahunan, kalau Anda adalah pejabat di Pemda (termasuk Pak Sutiyoso) maupun beberapa pengusaha bisnis properti, masalah tersebut adalah kontribusi Anda.

Inti kedua dari kepasrahan adalah ''Selalu dapat melakukan sesuatu dalam situasi apapun.'' Kepasrahan bukanlah duduk termenung dan berdiam diri, tetapi konsep yang sangat dinamis dan proaktif. Anda tak dapat mengontrol harga-harga, tapi Anda dapat mengontrol gaya hidup Anda. Anda tak dapat mengontrol keamanan, tapi Anda bisa menghindari ke luar malam seorang diri. Anda tak dapat mengontrol jalanan yang macet, tapi Anda dapat berangkat ke kantor lebih pagi. Anda tak dapat melakukan apapun agar penerbangan Anda selamat, tapi Anda masih dapat menyerahkan segala sesuatunya pada Tuhan. Jangan salah, menyerahkan pada Tuhan bukanlah suatu tindakan yang pasif, tetapi suatu PILIHAN yang Anda ambil secara sadar.

Kepasrahan akan memberi Anda ketentraman yang sejati. Sewaktu bersekolah di Inggris dulu, saya seringkali dihantui ketakutan kalau-kalau tak sempat lagi bertemu dengan orang tua saya di Jakarta. Perasaan tersebut begitu mengganggu, sampai saya sadar bahwa ini adalah situasi tanpa kontrol. Saya baru memperoleh kedamaian dan ketenangan setelah saya MEMILIH menyerahkan hal ini pada ''penjagaan'' Tuhan.

Ada cerita menarik mengenai seorang rekan yang divonis menderita kanker rahim yang sangat ganas. Ia adalah pasien di rumah sakit yang sama dan dengan stadium yang sama dengan penyanyi Nita Tilana. Bahkan ia adalah pasien yang sedianya akan dioperasi persis sebelum Nita. Bedanya, kawan saya ini minta operasinya ditangguhkan selama sebulan. Selama itu ia berpuasa dan benar-benar menyerahkan dirinya pada Tuhan. Ia pun tak menceritakan hal itu pada keluarganya. Kemudian terjadilah keajaiban. Kanker yang sebelumnya menyebar, sekonyong-konyong menyatu di satu tempat, sehingga mudah dikeluarkan. Sampai saat ini rekan ini masih hidup dan bekerja bersama-sama dengan saya.

Jadi, kepasrahan berarti melakukan usaha semaksimal mungkin, tetapi menyerahkan hasilnya pada kehendak Tuhan. Dalam situasi tanpa kontrol, kepasrahan berarti memilih untuk menerima apa adanya, dan menghilangkan keinginan, ambisi dan cita-cita apapun. Kepasrahan yang total lebih dari sekedar meminta sesuatu kepada Tuhan, tetapi menyerahkan segala sesuatunya pada Tuhan.

Coba perhatikan doa Anda. Masih seringkah Anda meminta sesuatu kepada Tuhan? Ataukah Anda mengatakan hal berikut ini, ''Ya Tuhan, berikanlah kepadaku apa yang terbaik menurut kehendak-Mu.''

Oleh: Arvan Pradiansyah, Dosen FISIP UI & Pengamat Manajemen SDM e-mail: fcgi@republika.co.id faksimile: 021-7983623 alamat surat: Jl Warung Buncit Raya No 37, Jakarta 12510