Kamis, 02 April 2009

Membuat Duplikat dan Merumahkan Tuhan

Membuat Duplikat dan Merumahkan Tuhan 
   
Suatu ketika sekelompok orang melihat Tuhan sedang sibuk dengan pekerjaan-Nya. 
Salah seorang diantaranya bertanya kepada Tuhan, "Apa yang sedang Engkau lakukan?"
   
"Aku sedang membuat duplikat diriKu, seorang manusia," jawab Tuhan, yang kemudian balik bertanya, "Apa yang sedang kalian lakukan disini?"
   
Orang itu menjawab, "Oo, kami sedang membentuk Tuhan ke dalam rupa kami."
   
***
   
Itulah tragedi sepanjang masa. Kita begitu mudah menjadi 'tidak serupa Allah' dan mulai mendekonstruksi Tuhan ke dalam rupa manusia. Milyaran uang dipakai untuk mengkonstruksi bangunan-bangunan megah untuk merumahkan Tuhan, yang dipergunakan untuk perbuatan-perbuatan yang tak beriman. Tempat-tempat ibadah kita telah menjadi pusat-pusat pelestarian perilaku yang mana kefanatikan dan idolatry (mengagungkan seseorang atau kitab tertentu sebagai satu-satunya sumber dan jalan kebenaran), kecanduan, dan nafsu (amarah, curiga, iri, benci, menghakimi, dll.)
   
Dan ironisnya hal-hal itu diterima atau dianggap wajar. Kita lupa bahwa Tuhan ada dimana-mana (omnipresent). Dia berada di dalam kita semua dan tempat yang paling disukai adalah hati yang baik hati, tulus dan welas asih.
   
Manusia berevolusi oleh alam sebagai spesies yang memiliki pikiran sendiri untuk memilih jalan-hidupnya, untuk menjadi serupa atau tidak serupa dengan Allah. Namun kita telah mengerdilkan hati Tuhan.
   
Kekuatan mental yang seyogyanya adalah anugerah terbukti menjadi kutukan terbesar yang menggerogoti Tuhan sendiri. Tuhan menginginkan kita untuk menjalani kehidupan yang lepas dari ikatan-ikatan. Namun kita justru telah melepaskan diri kita dari Tuhan. Melakukan kebaikan adalah menjadi seperti Tuhan. Tetapi kita telah menjadi tidak serupa Tuhan dengan begitu banyaknya pilihan-pilihan keliru yang telah kita perbuat.
   
Kita harus berhenti dan merenungkan: Sedang kemana kita berjalan?
Kita menjarah bumi bagi kebutuhan-kebutuhan kita yang tak pernah dapat terpuaskan dan menghancurkan jiwa kita demi ego, harga diri dan kebanggaan.
   
Untuk mencapai Tuhan, kita harus berperilaku seperti Tuhan. Kita harus selalu mencoba berbuat baik dan melakukannya terus-menerus tanpa membuang waktu sedikitpun.
   
~ Daniel V. Kaunang.
 disadur dari The Nazarene Way, http://satori-kensho.blogspot.com

*********************************************************    
Celotehan pikiran dan gelora emosi serta rasa sentimental
membuat kita tuli terhadap suara hati sendiri.

~anonymous 131106-01.
*********************************************************

Tidak ada komentar: