Kamis, 30 April 2009

Takkan Kumaafkan Diriku Ini

Takkan Kumaafkan Diriku Ini.

Usia ayah telah mencapai 70 tahun, namun tubuhnya masih kuat. Dia mampu
mengendarai sepeda ke pasar yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer untuk
belanja keperluan sehari-hari. Sejak meninggalnya ibu pada 6 tahun lalu,
ayah sendirian di kampung. Oleh karena itu kami kakak-beradik 5 orang
bergiliran menjenguknya.

Kami semua sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari kampung halaman di Teluk
Intan. Sebagai anak sulung, saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar.
Setiap kali saya menjenguknya, setiap kali itulah istri saya mengajaknya
tinggal bersama kami di Kuala Lumpur.

"Nggak usah... lain kali saja...!"jawab ayah. Jawaban itu yang selalu
diberikan kepada kami saat mengajaknya pindah. Kadang-kadang ayah mengalah
dan mau menginap bersama kami, namun 2 hari kemudian dia minta diantar
balik. Ada-ada saja alasannya.

Suatu hari Januari lalu, ayah mau ikut saya ke Kuala Lumpur. Kebetulan
sekolah masih libur, maka anak-anak saya sering bermain dan bersenda-gurau
dengan kakek mereka. Memasuki hari ketiga, ia mulai minta pulang. Seperti
biasa, ada-ada saja alasan yang diberikannya. "Saya sibuk, ayah... tak boleh
ambil cuti. Tunggulah sebentar lagi... akhir minggu ini saya akan antar
ayah," balas saya. Anak-anak saya ikut membujuk kakek mereka. "Biarlah ayah
pulang sendiri jika kamu sibuk. Tolong belikan tiket bus saja yah...",
katanya yang membuat saya bertambah kesal. Memang ayah pernah berkali-kali
pulang naik bus sendirian.

"Nggak usah saja yah..." bujuk saya saat makan malam. Ayah diam dan lalu
masuk ke kamar bersama cucu-cucunya. Esok paginya saat saya hendak berangkat
ke kantor, ayah sekali lagi minta saya untuk membelikannya tiket bus. "Ayah
ini benar-benar nggak mau mengerti yah... saya sedang sibuk, sibuuukkkk!!!"
balas saya terus keluar menghidupkan mobil.

Saya tinggalkan ayah terdiam di muka pintu. Sedih hati saya melihat mukanya.
Di dalam mobil, istri saya lalu berkata, "Mengapa bersikap kasar kepada ayah
? Bicaralah baik-baik! Kasihan khan dia...!" Saya terus membisu.

Sebelum istri saya turun setibanya di kantor, dia berpesan agar saya penuhi
permintaan ayah. "Jangan lupa, bang.. belikan tiket buat ayah," katanya
singkat. Di kantor saya termenung cukup lama. Lalu saya meminta ijin untuk
keluar kantor membeli tiket bus buat ayah.

Pk. 11.00 pagi saya tiba di rumah dan minta ayah untuk bersiap. "Bus
berangkat pk. 14.00," kata saya singkat. Saya memang saat itu bersikap agak
kasar karena didorong rasa marah akibat sikap keras kepala ayah. Ayah tanpa
banyak bicara lalu segera berbenah. Dia masukkan baju-bajunya kedalam tas
dan kami berangkat. Selama dalam perjalanan, kami tak berbicara sepatah kata
pun.

Saat itu ayah tahu bahwa saya sedang marah. Ia pun enggan menyapa saya.
Setibanya di stasiun, saya lalu mengantarnya ke bus. Setelah itu saya pamit
dan terus turun dari bus. Ayah tidak mau melihat saya, matanya memandang
keluar jendela. Setelah bus berangkat, saya lalu kembali ke mobil. Saat
melewati halaman stasiun, saya melihat tumpukan kue pisang di atas meja
dagangan dekat stasiun. Langkah saya lalu terhenti dan teringat ayah yang
sangat menyukai kue itu. Setiap kali ia pulang ke kampung, ia selalu minta
dibelikan kue itu. Tapi hari itu ayah tidak minta apa pun.

Saya lalu segera pulang. Tiba di rumah, perasaan menjadi tak menentu. Ingat
pekerjaan di kantor, ingat ayah yang sedang dalam perjalanan, ingat istri
yang berada di kantornya. Malam itu sekali lagi saya mempertahankan ego saya
saat istri meminta saya menelpon ayah di kampung seperti yang biasa saya
lakukan setiap kali ayah pulang dengan bus. Malam berikutnya, istri
bertanya lagi apakah ayah sudah saya hubungi. "Nggak mungkin belum tiba,"
jawab saya sambil meninggikan suara.

Dini hari itu, saya menerima telepon dari rumah sakit Teluk Intan. "Ayah
sudah tiada..." kata sepupu saya disana. "Beliau meninggal 5 menit yang lalu
setelah mengalami sesak nafas saat Maghrib tadi." Ia lalu meminta saya agar
segera pulang. Saya lalu jatuh terduduk di lantai dengan gagang telepon
masih di tangan. Istri lalu segera datang dan bertanya, "Ada apa, bang ?"
Saya hanya menggeleng-geleng dan setelah agak lama baru bisa berkata, "Ayah
sudah tiada!!"

Setibanya di kampung, saya tak henti-hentinya menangis. Barulah saat itu
saya sadar betapa berharganya seorang ayah dalam hidup ini. Kue pisang,
kata-kata saya kepada ayah, sikapnya sewaktu di rumah, kata-kata istri
mengenai ayah silih berganti menyerbu pikiran.

Hanya Allah yang tahu betapa luluhnya hati saya jika teringat hal itu. Saya
sangat merasa kehilangan ayah yang pernah menjadi tempat saya mencurahkan
perasaan, seorang teman yang sangat pengertian dan ayah yang sangat mengerti
akan anak-anaknya. Mengapa saya tidak dapat merasakan perasaan seorang tua
yang merindukan belaian kasih sayang anak-anaknya sebelum meninggalkannya
buat selama-lamanya.

Sekarang 5 tahun telah berlalu. Setiap kali pulang ke kampung, hati saya
bagai terobek-robek saat memandang nisan di atas pusara ayah. Saya tidak
dapat menahan air mata jika teringat semua peristiwa pada saat-saat akhir
saya bersamanya. Saya merasa sangat bersalah dan tidak dapat memaafkan diri
ini. Benar kata orang, kalau hendak berbakti sebaiknya sewaktu ayah dan ibu
masih hidup. Jika sudah tiada, menangis airmata darah sekalipun tidak
berarti lagi.

Kepada pembaca yang masih memiliki orangtua, jagalah perasaan mereka.
Kasihilah mereka sebagaimana mereka merawat kita sewaktu kecil dulu.

Sumber : Milis tetangga

Tanda Salib Atau Cinta

Tanda Salib Atau Cinta

Seorang uskup memeriksa kelayakan kelompok calon untuk dibaptis.

"Dengan tanda apa orang bisa mengenal anda sebagai Katolik?" tanyanya.

Tidak ada jawab. Jelas tidak ada yang menantikan pertanyaan seperti itu.
Uskup mengulangi pertanyaannya. Lalu ia mengatakannya sekali lagi, kali ini
dengan membuat Tanda Salib, untuk menunjukkan kepada yang lain jawaban
yang benar.

Tiba-tiba salah satu calon menangkapnya. "Cinta", katanya.

Uskup agak kecewa. Hampir saja ia berkata : "Salah", tetapi tepat waktu ia
masih menguasai dirinya.

Anthony De Mello SJ

Selasa, 28 April 2009

Guruku Ikan Salmon!

GURUKU IKAN SALMON!

Untuk melaju ke hilir, mengalir, hanyut, bahkan terjun menuju tempat-tempat
rendah merupakan salah-satu sifat fisis dari sat cair. Demikian juga untuk
berhembus dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat-tempat yang
tekanannya rendah, merupakan sifat dari udara. Bagaimana dengan kita, dengan
manusia, apakah kita juga punya sifat-sifat bawaan ?

Merenungkan hal ini, kekaguman saya pada naluri ikan salmon -yang mesti ke
hulu menentang derasnya arus sungai, melompati jeram-jeram berbatu tajam dan
licin, menantang bahaya yang bisa berarti kehilangan nyawa- hanya untuk
bertelur, untuk melahirkan keturunan, melahirkan penerus spesiesnya,
sedemikian mengharukan hati saya.

Pada saat yang sama, saya juga merasa cemburu terhadap semangat kejuangan
mereka, yang notabene hanyalah ikan, binatang, yang kita katakan makhluk
hidup yang lebih rendah tingkat kesadaran dan akal-budinya dibanding kita.

Mungkin kini kian terasa perlu bagi kita untuk mempertanyakan kembali,
apakah kita punya semangat yang menyala-nyala, tekad yang kuat membaja,
kegigihan yang pantang-mundur dan tak kenal lelah maupun takut, ketulusan
bahkan untuk mengorbankan jiwa-raga sekalipun, demi melahirkan generasi
penerus umat manusia yang lebih baik, lebih berkualitas, lebih
manusiawi, seperti para salmon itu ?

Saya rasa, bila kita benar-benar mencintai umat manusia, mencintai
kemanusiaan itu sendiri, kitapun semestinya tidak kalah beraninya didalam
mengorbankan keakuan kita, seperti salmon-salmon itu. Oleh karenanya,
rasanya tidaklah sulit dimengerti kalau kita mendengar seseorang mengatakan:
"Guru spiritualku ikan salmon.". Bagi yang telah éling, akan bisa melihat
kalau apapun bisa membabarkan kebenaran (Dharma), mengutarakan kesujatian
(Satyam) di hadapannya.

Denpasar, Hari Saraswati, 5 April 2003.
Ngestoe Rahardjo
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Si aku bisa sedemikian liciknya. Berhati-hatilah! Ia bisa saja mengenakan
kedok orang suci yang rendah-hati dan mulia, hanya untuk meninggikan
dirinya.

~anonymous 120706-19.

Guruku Ikan Salmon!

GURUKU IKAN SALMON!

Untuk melaju ke hilir, mengalir, hanyut, bahkan terjun menuju tempat-tempat
rendah merupakan salah-satu sifat fisis dari sat cair. Demikian juga untuk
berhembus dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat-tempat yang
tekanannya rendah, merupakan sifat dari udara. Bagaimana dengan kita, dengan
manusia, apakah kita juga punya sifat-sifat bawaan ?

Merenungkan hal ini, kekaguman saya pada naluri ikan salmon -yang mesti ke
hulu menentang derasnya arus sungai, melompati jeram-jeram berbatu tajam dan
licin, menantang bahaya yang bisa berarti kehilangan nyawa- hanya untuk
bertelur, untuk melahirkan keturunan, melahirkan penerus spesiesnya,
sedemikian mengharukan hati saya.

Pada saat yang sama, saya juga merasa cemburu terhadap semangat kejuangan
mereka, yang notabene hanyalah ikan, binatang, yang kita katakan makhluk
hidup yang lebih rendah tingkat kesadaran dan akal-budinya dibanding kita.

Mungkin kini kian terasa perlu bagi kita untuk mempertanyakan kembali,
apakah kita punya semangat yang menyala-nyala, tekad yang kuat membaja,
kegigihan yang pantang-mundur dan tak kenal lelah maupun takut, ketulusan
bahkan untuk mengorbankan jiwa-raga sekalipun, demi melahirkan generasi
penerus umat manusia yang lebih baik, lebih berkualitas, lebih
manusiawi, seperti para salmon itu ?

Saya rasa, bila kita benar-benar mencintai umat manusia, mencintai
kemanusiaan itu sendiri, kitapun semestinya tidak kalah beraninya didalam
mengorbankan keakuan kita, seperti salmon-salmon itu. Oleh karenanya,
rasanya tidaklah sulit dimengerti kalau kita mendengar seseorang mengatakan:
"Guru spiritualku ikan salmon.". Bagi yang telah éling, akan bisa melihat
kalau apapun bisa membabarkan kebenaran (Dharma), mengutarakan kesujatian
(Satyam) di hadapannya.

Denpasar, Hari Saraswati, 5 April 2003.
Ngestoe Rahardjo
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Si aku bisa sedemikian liciknya. Berhati-hatilah! Ia bisa saja mengenakan
kedok orang suci yang rendah-hati dan mulia, hanya untuk meninggikan
dirinya.

~anonymous 120706-19.

Mencintai dengan tulus menghadirkan Kebahagiaan

Mencintai dengan Tulus,  Menghadirkan Kebahagiaan.
 
Cinta untuk dimiliki.       
Ketika seseorang berbicara tentang cinta, maka apa yang  sebetulnya sedang bercokol dalam hatinya adalah untuk dicintai. Kalaupun ia mencoba mencintai  seseorang, maka itu hanyalah agar dicintai. Ia mencintai untuk dicintai, sebagai  balasannya. Dan bilamana ternyata yang dicintainya itu tidak membalasnya, maka ia  akan sangat mudah berubah, bahkan berbalik membenci. Ia merasa kecewa,  direndahkan, disepelekan, tidak dihargai, ditolak, ditampik, terhina atau  sejenisnya. Yang tadinya ia sangka sebagai prilaku mencintai, kini telah  berubah sama sekali. Kini ia berubah menjadi benci, bahkan dendam.
Apa yang sesungguhnya terjadi padanya? Apakah ia memang  benar-benar mencintai orang, yang konon tadinya ia cintai itu ? Ternyata tidak.  Bukan karena ia kini membenci atau mendendam, namun karena keinginannya untuk  memiliki, menguasai, mengangkangi bagi dirinya sendiri. Yang ada ketika itu sebetulnya  samasekali bukan cinta.

Saya kira Anda pernah mendengar kata-kata indah: "Cinta  bukanlah untuk memiliki, namun untuk dimiliki." Anda boleh menyetujuinya atau  tidak; akan tetapi, bilamana Anda benar-benar dapat menghadirkan sikap batin  demikian, itu memang mampu membahagiakan. Dengan membiarkan diri untuk dimiliki tanpa merasa perlu memiliki.
Mencintai ataupun membenci seseorang atau sekelompok  orang sepenuhnya ada dalam kewenangan Anda bukan? Anda tak dapat dipaksa untuk  mencintai siapapun, kecuali hanya berpura-pura saja. Demikian pula orang lain;  tak seorangpun dapat kita paksa untuk mencintai kita. Bila Anda benar-benar  mencintai seseorang atau sekelompok orang, Anda tak perlu peduli apakah ia atau  mereka mencintai Anda atau tidak. Anda hanya mencintainya. Itu saja. Sama  sekali tidak ada urusannya dengan masalah kepemilikan, masalah memiliki,  menguasai, mengangkangi.
Bila kita benar-benar  dapat mencintai tanpa disertai atau dimotivasi keinginan yang kuat untuk  memiliki, maka kita bisa merasakan kebahagiaan dari mencintai.Sebaliknya, kita hanya  mengundang kepedihan, kesengsaraan. Ketulusan dalam mencintai itulah yang  membahagiakan. Bukan balasan yang kita terima. Dalam ketulusan, tiada harapan,  hasrat atau keinginan untuk menerima sesuatu sebagai imbalan. Dalam ketulusan,  yang ada hanyalah sikap batin memberi dengan sukarela, dengan ikhlas. Itulah yang  membahagiakan. Dan, itu pertanda bahwa cinta yang Anda berikan murni adanya.
Sesungguhnya, kita tidak pernah layak untuk dicintai bila  belum siap untuk mencintai. Adalah keliru memandang dicintai sebagai hak, sementara  tak merasa wajib untuk mencintai. Kewajiban semestinya selalu mesti  didahulukan. Apakah kewajiban itu mensyaratkan kerja fisik, kerja verbal, kerja  perasaan ataupun kerja pikiran, ia tetap mesti didahulukan.
Cinta tidak menyengsarakan siapapun.        
Kepemilikan, ketergantungan, kemelekatan pada yang  dicintai, itulah yang menyengsarakan. Ada ungkapan bijak yang mengatakan : "Pada  yang Anda cintailah kesengsaraan Anda tersembunyi." Namun jangan salah. Bukan  cinta itu yang menyengsarakan. Tidaklah tepat bila ada yang menyangka dirinya 'sengsara  karena cinta'. Cinta tak pernah dan tak akan pernah menyengsarakan siapa-siapa.
Kepemilikan, ketergantungan dan kemelakatan kitalah yang  menyengsarakan. Disanalah kesengsaraan bersembunyi. Keinginan untuk memiliki yang  dicintai, tergantung pada balasan setimpal dari yang dicintai dan karenanya  melekat padanya, merupakan sumber-sumber kesengsaraan itu.
Sebaliknya, mungkin Anda cukup beruntung, memperoleh  tanggapan yang setimpal dari yang dicintai. Dicintai oleh seseorang yang Anda  cintai, bisa dibilang suatu keberuntungan. Akan tetapi, bila Anda memang  benar-benar mencintainya dengan tulus, Anda tetap merasa bahagia. Kebahagiaan yang diperoleh dari mencintai  dengan tulus tidak tergantung pada apakah Anda dicintai atau tidak. Kembali  harus kita akui bahwa, kebahagiaan hanya tergantung pada tindak mencintai saja,  pada ketulus-ikhlasan itu saja.
       
Kita bukan Robot Emosi.       
Pada dasarnya, tak seorangpun suka diikat, dibelenggu,  atas dalih cinta sekalipun. Manusia mewarisi kehendak bebas. Keterikatan, ketergantungan ataupun belenggu  merampas kebebasan; dan bersamaan dengan itu pula, kebahagiaan-pun beranjak pergi  darinya. Konyolnya, kita seringkali menggunakan cinta sebagai pengikat dan  pembelenggu siapa saja atau apa saja yang kita cintai. Kita ingin memiliki,  medominasi yang kita cintai. Disinilah titik persoalannya.
Anda bisa berbahagia dengan mencintai profesi yang Anda  tekuni selama ini, misalnya. Akan tetapi, bila kecintaan Anda pada profesi  mulai bergeser kepada pemburuan atau penimbunan uang, kepada penghasilan yang  Anda peroleh dari menjalani profesinya, atau kepada kemasyuran, penghormatan  dan pemuliaan, Anda mesti siap-siap untuk melepaskan kebahagiaan itu lagi. Karena  Anda telah mengarahkan diri Anda ke dalam perangkap perbudakan yang Anda  ciptakan sendiri. Perbudakan inilah yang menjauhkan kita dari kebahagiaan.  Jadi, tidaklah terlampau ceroboh bila kita mengatakan bahwa, kebahagiaan -dalam  kaitannya dengan cinta- tergantung pada seberapa konsisten kita mempertahankan  ketulusan pada 'hanya mencintai'. 
Mencintai memang bukan memiliki. Mencintai dan memiliki  adalah dua hal yang sama sekali berbeda; sayangnya, bagi sebagian besar orang  mereka sulit dipisahkan secara emosional. Ketika cinta kita bersambut, rasa kepemilikan  segera menyertainya. Ketika rasa memiliki timbul, maka 'hanya mencintai' sirna.  Ia berubah, dan kitalah yang telah merubahnya secara emosional. Degradasi ini seakan-akan  ada di luar kendali kita. Ia seolah-olah berjalan secara otomatis.
Menjadi 'lepas kendali' merupakan persoalan laten kita  yang lainnya; walaupun kita tahu kalau sesungguhnya tidak harus berjalan terkendali.  Kita tidak harus dikendalikan oleh perasaan atau emosi; kita tak harus  bertindak secara otomatis, hanya atas dorongan emosi, karena kita bukanlah 'mesin  emosi', kita bukan 'robot emosi'. Pada dasarnya, kita bukanlah emosi itu.
       
Jangan mau dihambat oleh persoalan laten!        
Apa yang juga teramati disini adalah persoalan laten -yakni  identifikasi-diri. Indentifikasi-diri  pada perasaan, pada emosi adalah fenomena umum bagi kita, disamping  identifikasi-diri pada raga ini. 
Kedua bentuk identifikasi-diri ini sebetulnya sudah cukup  baik bila dibandingkan dengan identifikasi-diri pada peran-peran, pada profesi,  atribut-atribut yang dikenakan orang pada diri kita. Identifikasi-diri pada  atribut-atribut yang dikenakan orang-orang bisa amat menyiksa, amat menyengsarakan.  Fenomena mental ini dapat Anda amati dengan jelas pada orang-orang yang sering  berkata: "Ah...apa nanti kata orang." Ini sungguh berbahaya, sungguh fatal  akibatnya. Anda bukanlah apa yang orang katakan  tentang Anda. Kebahagiaan maupun penderitaan Anda samasekali tidak tergantung  pada 'apa kata orang'. Jati-diri Anda tidak tertumpu di sana, pada mulut-mulut setiap  orang. Bila fenomena ini kebetulan benar-benar terjadi pada Anda, maka  segeralah sadari dan akhiri!
Kembali pada cinta dan kepemilikan. Mencintai tak-perlu  memiliki. Kepemilikan hanya akan menodai cinta Anda. Mencintai atau menyayangi dengan  tulus, menghadirkan kebahagiaan. Bila Anda siap menyikapinya demikian, Anda  segera akan menemukan kebahagiaan dari 'hanya mencintai'. Bila tidak, Anda  hanya akan menebar jala kesengsaraan.
Denpasar, 20 Maret 2001.
Ngestoe Rahardjo

Senin, 27 April 2009

Saya tidak tahu

Saya tidak tahu.
       
"Apakah Anda orang suci ?", tanya  seorang pemuda yang panasaran kepada Guru.
"Saya tidak tahu", jawab Guru.
"Bukankah orang suci harus tahu  siapa dirinya ?"
"Saya tidak tahu", jawab beliau  lagi.
"Kalau begitu Anda bukan orang  suci ?", tanya si pemuda lagi.
Dan lagi-lagi dijawab oleh Guru dengan : "Saya tidak tahu".
   
Kita umumnya punya persepsi  sendiri tentang Tuhan, tentang para dewa atau malaikat, tentang orang suci, atau tentang segala sesuatunya. Dalam  keterbatasan dari persepsi kita itu, kita 'merasa tahu' tentang banyak hal, bahkan semua hal. Dan berdasarkan persepsi kita itu pula kita kemudian menilai siapapun atau apapun. Padahal,  segala sesuatunya hanya seperti apa  adanya. Persepsi kita itu belum tentu benar adanya.
       
Bali, Kamis, 14 Desember 2006.
Ngestoe Rahardjo

Minggu, 26 April 2009

Ulat Kecil

Ulat Kecil

Dikisahkan, ada seekor ulat kecil sejak lahir menetap di daerah yang tidak
cukup air, sehingga sepanjang hidupnya, dia selalu
kekurangan makanan. Di dalam hati kecilnya ada keinginan untuk pindah dari
rumah lamanya demi mencari kehidupan dan lingkungan yang baru. Tapi dari
hari ke hari dia tidak juga memiliki keberanian untuk melaksanakan niatnya.
Hingga suatu hari, karena kondisi alam yang semakin tidak bersahabat, si
ulat terpaksa membulatkan tekat memberanikan diri keluar dari rumahnya,
mulai merayap ke depan tanpa berpaling lagi ke belakang.

Setelah berjalan agak jauh, dia mulai merasa bimbang, katanya dalam hati,
"Jika aku sekarang berbalik kembali ke rumah lama rasanya masih keburu,
mumpung aku belum berjalan terlalu jauh. Karena kalau aku berjalan lebih
jauh lagi, jangan-jangan jalan pulang pun takkan kutemukan lagi, mungkin aku
akhirnya aku tersesat dan... entah bagaimana nasibku nanti!"
Ketika si ulat sedang maju mundur penuh kebimbangan dan pertimbangan,
tiba-tiba ada sebuah suara menyapa di dekatnya,
"Halo ulat kecil! Apa kabar ? Aku adalah kepik. Senang sekali melihatmu
keluar dari rumah lamamu. Aku tahu, engkau tentu bosan kekurangan makan
karena musim dan cuara yang tidak baik terus menerus.Kepergianmu tentu untuk
mencari kehidupan yang lebih baik, kan".
Si ulat pun bertanya kepada si kepik yang sok tau, "Benar kepik. Aku
memutuskan pergi dari sarangku untuk kehidupan yang lebih baik. Apakah
engkau tau, apa yang ada di depan sana ?"
"Oh...Aku tahu, jalan ke depan yang akan kau lalui, walaupun tidak terlalu
jauh tetapi terjal dan berliku, dan lebih jauh di sana ada sebuah goa yang
gelap yang harus kau lalui, tetapi setelah kamu mampu melewati kegelapan,
aku beritahu, pintu goa sebelah sana terbentang sebuah tempat yang terang,
indah dan sangat subur. Kamu pasti menyukainya. Di sana kau pasti bisa hidup
dengan baik seperti yang kamu inginkan".

Si kepik dengan bersemangat memberi dorongan kepada ulat yang tampak ragu
dan ketakutan.
"Kepik, apakah tidak ada jalan pintas untuk sampai ke sana ?", tanya ulat.
"Tidak sobat. Jika kamu ingin hidup lebih baik dari hari ini, kamu harus
melewati semua tantangan itu. Nasehatku, tetaplah berjalan langkah demi
langkah, fokuskan pada tujuanmu dan tetaplah berjalan. Niscaya kamu akan
tiba di sana dengan selamat. Selamat jalan dan selamat berjuang sobat!",
sambil berteriak penuh semangat, si kepik pun meninggalkan ulat.

Pembaca yang budiman,

Memang benar.... kemenangan, kesuksesan adalah milik mereka yang secara
sadar, tau apa yang menjadi keinginannya sekaligus siap menghadapi rintangan
apapun yang menghadang serta mau memperjuangkannya habis-habisan melalui
cara-cara yang benar sampai mencapai tujuan akhir yaitu kesuksesan.

Pengertian sukses secara sederhana demikian, telah dipraktekkan oleh manusia
sukses berabad abad lampau sampai saat ini sesuai dengan bidangnya
masing-masing.

Maka ...untuk meraih kesuksesan yang maksimal, kita tidak memerlukan teori
teori kosong yang rumit. Cukup tau akan nilai yang akan di capai dan take
action! Ambil tindakan!

Sumber : Milis tetangga