Selasa, 10 Februari 2009

Berjuanglah, Kemudian Pasrahlah!

Alumni Pika yang berbahagia,
Kita sering mendengar ungkapan : "Pasrah saja sama Tuhan". Pasrah itu seperti apa ? Apakah - misalnya seorang anak mau mengikuti ujian, yang mengatakan : "Saya pasrah sama Tuhan, saya yakin Dia menolong saya", tetapi dia sendiri tidak belajar atau mempersiapkan diri - ini dinamakan pasrah ?
 
Arvan Pradiansyah dalam artikel di bawah ini mengatakan : "Kepasrahan berarti melakukan usaha semaksimal mungkin, tetapi menyerahkan hasilnya pada kehendak Tuhan". Mari kita baca bersama. (PDS)
 
 
Berjuanglah, Kemudian Pasrahlah!

Seorang pemuda pergi menemui mahaguru kebijaksanaan dan berkata, ''Guru, begitu besar kepasrahan saya pada Tuhan sampai-sampai saya tak pernah menambatkan unta saya itu. Saya biarkan unta itu dalam penjagaan Tuhan.''

Guru yang bijak itu berkata, ''Kembalilah keluar. Tambatkan untamu itu pada tiang, orang dungu! Tuhan tak akan melakukan sesuatu yang dapat kamu lakukan sendiri!''

Inilah pemahaman yang benar mengenai kepasrahan. Pasrah tak sama dengan menyerah. Pasrah justru sebuah sikap proaktif, sebuah perjuangan habis-habisan untuk melakukan apapun yang dapat kita lakukan sekaligus menyadari adanya suatu kekuatan yang bekerja di luar kontrol kita.

Apa yang kita hadapi pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga hal. Pertama, hal-hal yang dapat kita kontrol. Jangan salah, satu-satunya yang dapat Anda kontrol hanyalah perilaku Anda sendiri. Betapapun hebatnya Anda, Anda tak akan dapat mengontrol bawahan, pasangan, maupun anak Anda. Bisa saja Anda memaksa mereka melakukan apa yang Anda inginkan, tapi itu hanya akan terjadi di depan Anda. Di belakang Anda, percayalah, hal itu tak akan mereka lakukan.

Kedua, hal-hal yang tak dapat kita kontrol tapi dapat kita pengaruhi. Kita tak dapat mengontrol bawahan, tapi kita dapat mempengaruhinya agar bekerja lebih produktif. Kita tak dapat mengontrol kenaikan gaji di kantor, tapi kita dapat mengusulkannya kepada atasan. Kita tak dapat mengontrol anak untuk tak melakukan hal-hal tercela, tetapi kita dapat membekalinya dengan pendidikan agama. Sekali lagi, yang dapat kita lakukan hanyalah mempengaruhi.

Ketiga, hal-hal yang berada di luar kontrol kita. Ada banyak hal yang termasuk kategori ini, seperti krisis ekonomi dan moneter (pemerintah saja tak sanggup, apalagi kita!), biaya hidup yang semakin tinggi, pencemaran udara, kondisi keamanan yang rawan, dan sebagainya.

Untuk bersikap pasrah, pertama-tama Anda harus mengetahui apa yang dapat diubah dan apa yang tidak. Apapun masalah yang Anda hadapi, masukkanlah itu ke dalam ketiga kategori tersebut. Namun, disini Andapun harus hati-hati, jangan sampai salah memasukkan. Misalnya, dimana Anda akan memasukkan krisis ekonomi dan moneter? Dimana Anda akan memasukkan masalah banjir lima tahunan yang melanda Jakarta? Apakah hal itu di luar kontrol kita? Mungkin benar, kalau Anda rakyat biasa. Tapi kalau Anda adalah pejabat pemerintah dan para wakil rakyat, hal itu masuk hal-hal yang dapat Anda kontrol. Begitu juga dengan banjir lima tahunan, kalau Anda adalah pejabat di Pemda (termasuk Pak Sutiyoso) maupun beberapa pengusaha bisnis properti, masalah tersebut adalah kontribusi Anda.

Inti kedua dari kepasrahan adalah ''Selalu dapat melakukan sesuatu dalam situasi apapun.'' Kepasrahan bukanlah duduk termenung dan berdiam diri, tetapi konsep yang sangat dinamis dan proaktif. Anda tak dapat mengontrol harga-harga, tapi Anda dapat mengontrol gaya hidup Anda. Anda tak dapat mengontrol keamanan, tapi Anda bisa menghindari ke luar malam seorang diri. Anda tak dapat mengontrol jalanan yang macet, tapi Anda dapat berangkat ke kantor lebih pagi. Anda tak dapat melakukan apapun agar penerbangan Anda selamat, tapi Anda masih dapat menyerahkan segala sesuatunya pada Tuhan. Jangan salah, menyerahkan pada Tuhan bukanlah suatu tindakan yang pasif, tetapi suatu PILIHAN yang Anda ambil secara sadar.

Kepasrahan akan memberi Anda ketentraman yang sejati. Sewaktu bersekolah di Inggris dulu, saya seringkali dihantui ketakutan kalau-kalau tak sempat lagi bertemu dengan orang tua saya di Jakarta. Perasaan tersebut begitu mengganggu, sampai saya sadar bahwa ini adalah situasi tanpa kontrol. Saya baru memperoleh kedamaian dan ketenangan setelah saya MEMILIH menyerahkan hal ini pada ''penjagaan'' Tuhan.

Ada cerita menarik mengenai seorang rekan yang divonis menderita kanker rahim yang sangat ganas. Ia adalah pasien di rumah sakit yang sama dan dengan stadium yang sama dengan penyanyi Nita Tilana. Bahkan ia adalah pasien yang sedianya akan dioperasi persis sebelum Nita. Bedanya, kawan saya ini minta operasinya ditangguhkan selama sebulan. Selama itu ia berpuasa dan benar-benar menyerahkan dirinya pada Tuhan. Ia pun tak menceritakan hal itu pada keluarganya. Kemudian terjadilah keajaiban. Kanker yang sebelumnya menyebar, sekonyong-konyong menyatu di satu tempat, sehingga mudah dikeluarkan. Sampai saat ini rekan ini masih hidup dan bekerja bersama-sama dengan saya.

Jadi, kepasrahan berarti melakukan usaha semaksimal mungkin, tetapi menyerahkan hasilnya pada kehendak Tuhan. Dalam situasi tanpa kontrol, kepasrahan berarti memilih untuk menerima apa adanya, dan menghilangkan keinginan, ambisi dan cita-cita apapun. Kepasrahan yang total lebih dari sekedar meminta sesuatu kepada Tuhan, tetapi menyerahkan segala sesuatunya pada Tuhan.

Coba perhatikan doa Anda. Masih seringkah Anda meminta sesuatu kepada Tuhan ? Ataukah Anda mengatakan hal berikut ini, ''Ya Tuhan, berikanlah kepadaku apa yang terbaik menurut kehendak-Mu.''

Oleh: Arvan Pradiansyah, Dosen FISIP UI & Pengamat Manajemen SDM e-mail: fcgi@republika.co.id faksimile: 021-7983623 alamat surat: Jl Warung Buncit Raya No 37, Jakarta 12510

Keinginan Itu Membutakan

Alumni Pika yang budiman,
Kita sering mendengar pemeo, "Cinta itu buta". Tetapi Gede Prama mengubah pemeo itu menjadi "Keinginan itu membutakan". Mau tahu alasannya ? Mari kita simak artikel berikut ini. (PDS)
 
Keinginan Itu Membutakan
Oleh: Gede Prama

Salah satu acara tetap yang diadakan oleh pengelola web site saya adalah chatting. Diantara sekian chatting yang sudah berlalu, topik yang mendatangkan pengunjung paling banyak adalah topik 'hidup ini indah'. Sebagaimana biasa, selalu ada pro-kontra dalam setiap wacana. Saya tidak perlu lagi menjelaskan alasan-alasan orang yang pro terhadap konsep hidup ini indah. Terutama, karena sudah teramat jelas bagi saya. Akan tetapi, tidak sedikit orang yang menganggap saya 'melebih-lebihkan' kenyataan tentang hidup ini indah. Secara lebih khusus, mereka yang kurang terhibur oleh film Italia dengan judul Life Is Beautiful.

Tulisan ini bukan pledoi. Hanya renungan lebih lanjut dari pemikiran saya terdahulu tentang hidup ini indah. Mungkin saja tuduhan orang benar, bahwa saya suka melebih-lebihkan. Dan pengalaman yang berbeda bisa membawa kesimpulan yang berbeda juga. Di tengah pro-kontra ini, izinkan saya memperjelas lagi argumen-argumen terdahulu.

Coba cermati tempat Anda duduk saat ini. Dengan jabatan, kesehatan, uang, serta dukungan keluarga yang Anda miliki saat ini - sekali lagi saat ini. Saya tidak tahu posisi Anda dalam hal ini. Saat tulisan ini dibuat, ada problema dalam jabatan yang saya duduki. Kesehatan saya lumayan bagus. Uang tergantung pembandingnya. Dukungan keluarga saya, syukur alhamdulilah. Dan duduk di rumah di pinggir kali yang anginnya sedang bertiup kencang.

Anda boleh menyimpulkannya dengan indah atau tidak indah. Bagi saya pribadi, di hotel berbintang lima plus, maupun di rumah yang berlantai tanah liat serta beratap jerami, selalu tersembunyi keindahan dan kenikmatan. Dengan penuh rasa syukur saya ucapkan ke Tuhan, saya pernah hidup di perkampungan kumuh dengan baju berceceran di lantai - karena tidak punya lemari baju. Pernah juga hidup dalam standar orang-orang yang berpunya. Dan yang namanya kenikmatan, dia hadir baik ketika di tempat kumuh, maupun di tempat yang disebut orang mewah.

Dalam kejernihan saya ingin bertutur ke Anda, di kedua tempat tadi manusia sama-sama memakan sepiring lebih nasi dan lauknya. Tidur sekitar enam sampai delapan jam semalamnya. Menghirup udara dengan jumlah yang tidak jauh berbeda. Kalau bepergian, menggunakan apapun bisa sampai di tempat tujuan. Dalam kasus diri saya, ada sebuah tambahan yang membuatnya lebih indah lagi : hidup bersama anak mertua yang sama, serta sejumlah anak kecil yang juga sama.

Beda antara dua kehidupan ekstrim yang pernah saya lalui hanya satu : keinginannya yang berbeda. Dulu, karena belum pernah melewati kehidupan yang disebut orang mewah dan megah, ada keinginan untuk sesegera mungkin sampai di sana. Sekarang, ketika kehidupan tadi sudah sempat dilalui dan dinikmati, ada kesenangan kadang-kadang untuk membayangkan kehidupan yang serba sederhana dulu.

Nah, di sinilah inti ide yang mau saya bagi ke Anda : keinginan itu membutakan. Di tempat dan keadaan manapun - dari kandang kerbau sampai kamar hotel berbintang lima plus, dari naik angkot sampai naik Jaguar, dari mengenakan jam tangan murahan sampai memakai Rolex - orang bisa dibutakan oleh keinginan. Dan tidak hanya keinginan untuk menaik yang membutakan, keinginan untuk turunpun membutakan.

Coba cermati sejumlah keluarga yang akan berangkat berlibur. Ketika mempersiapkan segala sesuatunya, semua fikiran tertuju pada tujuan wisata. Entah keindahan pemandangan, makanan yang enak, hotel yang nyaman, atau berbelanja barang-barang kebutuhan. Tatkala sudah sampai di tempat tujuan - lengkap dengan badan yang lelah - semua fikiran tertuju pada rumah yang menenteramkan. Dari lingkungan yang sudah biasa, tempat tidur yang menenteramkan, sampai dengan tiadanya beban untuk membawa tas kemana-mana. Anda lihat sendiri, fikiran lengkap dengan keinginannya, sudah membutakan banyak orang. Di rumah ketika mau berangkat membutakan kenikmatan tinggal di rumah. Di tempat wisata, keinginan membutakan orang untuk menikmati keindahan tempat wisata.

Di pojokan lain dari kehidupan, hal serupa teramat sering terjadi. Kenikmatan-kenikmatan hari ini, sering lewat percuma begitu saja, semata-mata karena banyak orang sudah buta oleh keinginan. Kalau kemudian saya mengajak orang untuk menyelami konsep 'hidup ini indah', pada fikiran yang dibutakan keinginan, tentu saja jauh panggang dari api.

Sebagai manusia biasa, sayapun kadang dibutakan oleh keinginan. Setelah jadi direktur ingin jadi presiden direktur. Sesudah anak-anak sekolah di salah satu sekolah terbaik di Jakarta, ingin agar mereka segera ke luar negeri. Dan bila sang keinginan diikuti terus, maka buta dan tulilah kita dari semua berkah dan rahmat Tuhan. Syukur adalah kata yang tidak pernah mampir dalam rumah jiwa kita. Dan tanpa rasa syukur, siapapun dan di tingkat kehidupan yang setinggi langitpun hidup kita pasti menderita.

Entahlah, apakah saya sudah berhasil meyakinkan sahabat-sahabat yang masih skeptis terhadap ide tentang hidup ini indah, atau malah membuat mereka tambah tidak percaya. Yang jelas, kata-kata dan logika bukanlah cara yang paling tepat untuk berguru tentang kehidupan. Ia tidak lebih dari daftar menu saja, atau petunjuk jalan saja. Untuk sampai di sana, kita tidak bisa hanya memandangi petunjuk jalannya. Jalan dan berangkatlah ke sana. Tugas saya memasang petunjuk jalan sudah selesai. Hanya Anda yang bisa membawa diri Anda ke sana.

Senin, 09 Februari 2009

Sepuluh Ukuran Kesuksesan

SEPULUH UKURAN KESUKSESAN

Barbara Bartlein, R.N., M.S.W. Adalah seorang lulusan Fakultas Hukum, George Washington University. Lalu bekerja sebagai pengacara pada law firm terkemuka di Midwest. Ditilik dari penampilannya, ia adalah wanita yang sukses dan berhasil.

Namun, suatu saat di Senin pagi, ia mengajukan pengunduran diri dari posisinya. Hal ini tentu membingungkan banyak orang, namun keputusannya untuk keluar dari "jalur kesuksesan" itu didasari pada pendefinisian kembali makna "kesuksesan" baginya. Lebih lanjut, ia ingin menemukan sesuatu yang benar-benar ia inginkan.

Apakah anda adalah orang yang sukses ? Berikut ini, beberapa ukuran kesuksesan yang mungkin berguna untuk mengukur kesuksesan anda.

Kesuksesan adalah :

1. Mendapat penghasilan yang baik dari pekerjaan yang ditunaikan dengan baik pula.
Bila anda menyelesaikan pekerjaan dengan baik, anda bisa merasakan kegairahan dalam pekerjaan itu dan menikmati apa yang sedang anda kerjakan. Penghasilan yang besar tidak banyak berarti bila anda tidak bisa menemukan kegembiraan dalam pekerjaan anda setiap harinya. Gaji yang anda terima semestinya bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari agar anda bisa
memusatkan perhatian pada pekerjaan anda.

2. Mempunyai visi mengenai masa depan dan tujuan yang konsisten dengan visi tersebut.
Kehidupan kerja anda adalah untuk mengejar tujuan dengan penuh energi, daya cipta dan integritas. Tentu ada semacam ketegangan kreatif antara visi anda dan kenyataan saat ini sehingga anda perlu melakukan peregangan untuk meraihnya. Ketegangan kreatif ini memberi anda energi untuk menjaga momentum dan meraih tujuan anda satu per satu.

3. Memperoleh cinta dan penghormatan dari orang-orang di sekitar anda.
Berperilakulah sedemikian rupa sehingga anda berhak untuk mendapatkan cinta dan penghormatan dari orang-orang di sekitar anda. Dapatkan hal ini melalui kerja keras dan dedikasi. Jangan mencampur-adukkan antara "terkenal" dengan "terhormat". Terkadang keinginan anda untuk terkenal harus dikorbankan untuk mendapatkan kehormatan.

4. Memberikan sumbangsih pada masyarakat dengan sukarela.
Akuilah bahwa anda menerima sesuatu dari masyakat sekitar, maka dapatkan sebuah kesempatan untuk memberikannya kembali pada mereka. Hal ini bukan karena secara politis dibenarkan, namun karena anda mengakui sepenuh hati bahwa anda benar-benar mendapat karunia dan anugerah; karena berbagi pada sesama adalah sebuah penghargaan yang besar.

5. Menerima kegagalan dan penolakan, namun belajar darinya.
Dikatakan, ada dua tipe orang di dunia ini. Pertama, seseorang yang belajar dari kesalahan mereka sendiri. Dan mereka  yang belajar dari kesalahan orang lain. Jauh lebih mudah bila anda tidak perlu membuat kekeliruan sendiri. Namun orang yang sukses adalah mereka yang belajar dari kegagalan dan tumbuh bersamanya.

6. Menghabiskan waktunya untuk melakukan apa yang ingin dilakukan. 
Bisa menikmati setiap hari kerja adalah anugerah yang luar biasa. Seringkali tindakan yang sederhana dan tampak sepele memberikan kepuasan yang besar. Ingat, ada dua cara untuk menjadi kaya: mempunyai banyak uang, atau memiliki keinginan yang sederhana.

7. Mempunyai gaya hidup yang sehat secara fisik.
Pepatah yang mengatakan, "lebih awal tidur, lebih awal bangun, membuat orang jadi sehat, kaya, dan bijak" tetaplah berlaku. Banyak orang lebih memperhatikan mobilnya ketimbang tubuhnya sendiri, padahal kesehatan adalah hadiah yang tidak bisa kita beli. Ingat pula aturan emas mengenai kesehatan yang berbunyi, "jangan makan, minum atau tidur sebanyak yang kita maui."

8. Menjaga kehidupan spiritual.
Akuilah bahwa hidup ini sebuah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Cari dan ikuti petunjuk-Nya sehingga anda bisa menjalani hidup ini dengan baik dan terus maju.

9. Berusaha untuk meraih kesempurnaan, namun jangan harapkan itu dari diri anda atau orang lain.
Tetaplah berusaha untuk meraih kesempurnaan dengan melakukan perbaikan. Akui bahwa goal anda tidaklah sempurna. Hidup ini adalah sebuah proses penyempurnaan yang terus-menerus. Daripada mengharapkan kesempurnaan dari orang lain, lebih baik anda melihat keberhasilan yang diraih oleh orang lain dan berikan mereka pengakuan yang positif.

10. Mempercayai bahwa anda adalah seseorang yang sukses.
Pikiran yang positif adalah alat yang ampuh. Anda menjadi apa yang anda pikirkan. Bila anda percaya anda bisa, anda memperoleh "rewards" dari pikiran anda. Ada banyak jalan menuju kesuksesan, dan itu haruslah dirancang oleh diri anda sendiri. Setiap jalan pasti meliputi kesempatan dan resiko. Pastikan bahwa anda tahu apa makna keberhasilan bagi anda. Henry Kissinger berujar, "Bila anda tak tahu kemana anda sedang melangkah, maka semua jalan takkan membawa anda kemana-mana."

(Barbara Bartlein, R.N., M.S.W., Success Matters - Ten Measures of Success)

Minggu, 08 Februari 2009

Hidup Bahagia Selamanya

Rekan-rekan Alumni Pika yang budiman,
Banyak kiat untuk mencapai hidup bahagia selamanya. Salah satunya terkandung dalam pepatah cina berikut ini : Jika kau menginginkan kebahagiaan : untuk sejam - tidurlah selama itu, untuk sehari - pergilah memancing, untuk sebulan - menikahlah lag, untuk setahun - warisi harta, untuk seumur hidup - tolonglah orang lain. Simak penuturan Gede Parama selengkapnya di bawah ini. (PDS)

Hidup Bahagia Selamanya
Oleh: Gede Prama

Kebahagiaan adalah mata pencahariaan hampir setiap orang. Entah itu bekerja, menikah, berdoa dan kegiatan hidup lainnya, semuanya bermuara pada samudera yang bernama kebahagiaan. Boleh Anda lakukan survey di pinggir jalan, mungkin semua manusia normal menginginkan kebahagiaan. Demikian dahsyatnya daya tarik kebahagiaan, sehingga banyak orang yang mau mencapainya dengan ongkos dan biaya yang sebesar apapun. Maka, jadilah hidup seperti perjalanan yang diharapkan bermuara pada kebahagiaan.

Akan tetapi, kendati sudah menjadi tujuan manusia sejak lama, dan manusia sudah menghabiskan tenaga, waktu dan dana yang teramat besar, masih saja tersisa banyak sekali orang yang tidak puas akan hal ini. Di banyak pojokan kehidupan bahkan terjadi, ada tidak sedikit kehidupan yang hanya bergelimang air mata. Pojokan-pojokan seperti ini tidak hanya tersedia di tempat miskin yang kumuh, melainkan juga terjadi di perumahan elit lengkap dengan mobil mewahnya.

Kenyataan terakhir seperti mengajarkan ke kita, bahwa tawa dan air mata tidak mengenal sekat-sekat harta. Keduanya bisa terjadi pada tingkatan harta berapapun dan di manapun. Lantas, adakah sesuatu yang menjadi ciri khas hadirnya tawa dan air mata ? Meminjam argumen Hugh Down - sebagaimana dikutip penulis buku A Cup of Chicken Soup For the Soul - 'orang yang berbahagia bukanlah seseorang yang berada dalam suatu keadaan tertentu, melainkan seseorang dengan perangkat sikap tertentu'.

Kalau dicermati argumen terakhir, point pentingnya bukanlah keadaan (baca : harta, tahta dan keadaan lainnya) melainkan perangkat sikap kitalah yang lebih menentukan seberapa lama umur kebahagiaan bisa kita miliki. Dengan perangkat sikap yang tepat, mau miskin atau kaya, jabatan tinggi atau rendah, di kota atau di desa, semuanya dibukakan pintu kebahagiaan yang sama lebarnya oleh Tuhan.

Persoalannya, jarang orang yang mencari kebahagiaan melalui jalur-jalur sikap. Umumnya, orang mengejarnya di sektor keadaan. Maka, jadilah kegiatan terakhir seperti kegiatan mengejar kaki langit yang tidak mengenal akhir. Atau seperti mengejar bayangan sendiri.

Oleh karena tuntutan pekerjaan, serta kebiasaan hidup untuk senantiasa bergaul di atas maupun di bawah, tidak jarang saya bertemu orang yang dibuat sengsara oleh nafsu berlebihan untuk mencapai keadaan tertentu. Didorong oleh mesin kejam yang bernama keinginan, jadilah tubuh dan hidupnya seperti mobil yang bergerak cepat tapi tanpa sopir. Kerap sampai dalam keadaan yang diinginkan memang. Tetapi, ongkos yang dibayarnya amat dan teramat mahal. Tidak jarang terjadi, ongkosnya adalah kehidupan mereka sendiri.

Agak berbeda dengan pencari-pencari harta dan tahta, ada sejumlah orang yang saya kenal yang memusatkan sebagian besar  energi dalam perbaikan dan pengembangan sikap. Fokusnya memang bukan keadaan yang ada di luar sana, melainkan sikap yang muncul dari dalam sini. Tidak mudah tentunya, terutama pada awalnya. Dan saya sendiri masih dalam tahap belajar. Namun, begitu wilayah sikap ini sudah terkuasai, kebahagiaan bukanlah barang yang teramat langka dan mahal.

Sebutlah seorang tokoh mengagumkan yang bernama Helen Keller. Ia memiliki keadaan dalam bentuk matanya yang tidak bisa melihat. Akan tetapi, separuh lebih waktunya diisi dengan raut muka yang penuh dengan senyum. Demikian juga dengan Bunda Theresa, hidupnya sebagian besar dikelilingi orang-orang berpenyakit di lingkungan miskin. Akan tetapi, toh beliau bisa memiliki umur tua dan panjang. Buddha bahkan meninggalkan harta dan tahta untuk mencapai pencerahan. Sebenarnya masih ada contoh lain yang terlalu panjang untuk diceritakan di sini.

Yang jelas, sikaplah kunci yang amat menentukan dalam perjalanan menuju kebahagiaan. Berkaitan dengan hal ini, ada sebuah pepatah cina yang menarik perhatian saya. Pepatah tersebut berbunyi amat sederhana. Jika kau menginginkan kebahagiaan. Untuk sejam - tidurlah selama itu. Untuk sehari - pergilah memancing. Untuk sebulan - menikahlah lagi. Untuk setahun - warisi
harta. Untuk seumur hidup - tolonglah orang lain.

Lama sempat saya terpaku pada pepatah sederhana terakhir. Semakin ia didalami, semakin saya dibawa ke dalam rangkaian pemahaman tentang kebahagiaan yang demikian lengkap dan mengagumkan. Sikap, itulah hulu dari sungai kebahagiaan. Lebih-lebih kalau sikap terakhir dijabarkan ke dalam sikap rajin membantu dan menolong orang lain. Sungai kebahagiaan akan menjadi sungai yang tidak pernah mengenal kering.

Entah bagaimana Anda menjabarkan kalimat 'tolonglah orang lain'. Saya mengenal seorang sahabat yang kaya secara materi dan hidupnya berakhir mengagumkan. Ketika beliau masih hidup, sering kali merayakan ulang tahunnya di panti asuhan dan panti jompo secara bergantian. Memiliki anak asuh di mana-mana. Tutur katanya demikian lemah lembut. Mengingatkan kesalahan saya secara amat pas dan tidak pernah menyakiti hati. Banyak sekali sahabatnya - termasuk saya - yang demikian kehilangan ketika beliau meninggal dunia. Semua ini seperti mengingatkan saya dan Anda, bersikaplah yang positif, dan
kitapun sudah sampai pada keadaan bahagia selamanya. When all things are done well, the journey is the reward - demikian salah seorang guru meditasi saya pernah berucap.

Senin, 19 Januari 2009

Teori permainan dalam Perkawinan

Teori Permainan dalam Perkawinan

Orang tua yang masih usil menjodoh-jodohkan anak perempuannya tampaknya harus menengok ke Inggris. Beberapa waktu yang lalu peneliti dari University College London, University of Warwick, dan London School of Economics and Political Science melansir penelitian tentang teori permainan dalam sebuah perkawinan.

Para peneliti dari tiga universitas ternama di London itu mengembangkan model matematika dari teori itu. Dari teori ini, mereka merekomendasikan untuk memperpanjang masa pacaran dan jangan terburu-buru menikah. Waktu pacaran ibarat permainan sehingga setiap pasangan saling mengenal. Tak hanya itu, mereka saling bersiasat satu terhadap lainnya. Jika ada yang tak kuat mengikuti permainan itu, dia bakal terpental.

Model ini berasumsi setiap pasangan memiliki sudut pandang tersendiri. Perempuan mendapat hasil positif dari perkawinan jika laki-laki yang dinikahinya adalah laki-laki ''baik". Begitu juga sebaliknya dengan sudut pandang pria. Pria yang dinilai buruk oleh pasangannya biasanya lebih cepat terpental dalam permainan.

Profesor Robert Seymour, ahli matematika dari University College London, menjelaskan bahwa masa berpacaran butuh waktu panjang pada sejumlah spesies hewan. Misalnya pada manusia, ada proses makan malam, nonton film atau teater, atau kencan di luar rumah lainnya. "Proses ini ada yang berbulan-bulan, bahkan tahunan," katanya.

Menurut Seymour, masa berpacaran yang lama merupakan cara bagi perempuan untuk memperoleh informasi tentang teman kencannya. Sebab, masalah strategis yang dihadapi perempuan adalah bagaimana keburukan pasangannya segera tampil keluar. Maklum, sering kali sang pacar menyembunyikannya.

Dengan menunda perkawinan, perempuan dapat mengurangi kesempatan akan menikah dengan laki-laki yang dipersepsikan buruk. Keinginan laki-laki untuk berpacaran dalam waktu lama merupakan sinyal bahwa dia merupakan pria yang baik. Penelitian ini menilai bahwa panjangnya masa pacaran adalah harga yang harus dibayar agar perkawinan menjadi harmonis.

Bagaimana dengan laki-laki? Dr Peter Sozou, dari Warwick Medical School and LSE Centre for Philosophy of Natural and Social Science, menyarankan agar tidak cepat menyerah. "Pria yang baik biasanya lebih gigih dan tidak mudah menyerah," katanya. Science Daily

Rabu, 14 Januari 2009

Bob Tutup Oli

Bob-Tutup-Oli
Banyak untungnya kadang-kadang ikut yang namanya, seminar, pelatihan,
kursus, Upgrading, ong-going-formation, dsb. Dapat ilmu, iya. Dapat
pengalaman, iya. Dapat kenalan, juga iya. Menarik lagi, karena orang-orang
yang dikenal kerap sudah ber-jam tinggi di dalam kehidupan.

Ada salah satu rekan kursus, yang lalu jadi kawan-kenalan. Kenalan-kawan.
Dalam ilmu, dan dalam soal kehidupan. Namanya Pak Edy. Orangtuanya, dulu
pengusaha kecap di Smg. Ketika muda, bermaksud ekspansi usaha, agar grafik
hidupnya naik. Pergilah ke kota metropolitan. Dan akhirnya bermukim di Kota
Tngrng. Usaha buat kecap tak diteruskannya. Yang digeluti adalah usaha
bengkel rancang bangun las & mesin. Mengingat di sekitar kota itu banyak
pabrik. Usaha bengkel rancang bangun ini amat berkembang. Sampailah dia pada
usia pension.

Sesudah masuk masa pension, usaha bengkel diserahkannya kepada anaknya. Dia
membebaskan diri untuk mengisi sisa hidupnya. Soal uang, sudah tak soal
baginya. Tabungannya cukup. Usaha anaknya juga lancar. Maka banyak waktu
digunakan untuk pengembangan diri, agar bisa berbuat sesuatu untuk sesama.
Ya Gereja. Ya, masyarakat.

Dipelajarinyalah soal tanam-tanaman. Dari bibit, pupuk, obat pengusir hama,
sampai penanganan pasca panen & pemasaran. Obsesi yang dia tekuni, adalah
membuat pupuk cair. Ini dipilihnya, mengingat pupuk macam ini masih amat
langka di pasaran. Sebagai perintisan dipilihnya, membeli lahan luas di
Tjkrng.

Guna menunjang usaha itu, kerap berbagai pelatihan diikutinya. Pernah salah
satu kursus pengembangan yang diikutinya, membahas tentang perjalanan karier
pengusaha Bob Sadino.

Siapa tak kenal Bob Sadino. Seorang pengusaha nyentrik. Kemana-mana hanya
bercelana-kan jeans pendek, dan baju lengan pendek yang tak dijahit. Dialah
pemilik usaha makanan 'Kem chiks'. Kini usahanya melebar sampai ekspor
sayur-sayuran ke mancanegara. Padahal, dia sendiri tak punya sawah. Juga
ladang.

Pada awal kariernya, Bob Sadino adalah penjual telur di perumahan-perumahan
daerah Kemang. Pelanggannya, para ibu-ibu rumah tangga. Aneka sifat-karakter
yang dimiliki para wanita, ibu rumah tangga. Ada yang menyenangkan. Namun
ada pula yang amat menyebalkan.

Salah satu pelanggannya adalah seorang ibu yang amat cerewet. Kerap ibu
pelanggan telur ini bikin repot. Bob muda, berpikir, bagaimana si Ibu yang
super cerewet bisa malah memajukan usaha dagangnya.

Suatu kali, secara sengaja, si Ibu super cerewet ketika beli telur, salah
satu dicampuri oleh Bob, sebuah telur busuk. Respon apa yang muncul. Dia
bilang kemana-mana. Dan ketika si Ibu ini complaint, Bob Sadino bilang dan
lalu melakukan sungguhan, 'Jika ada telur dagangannya yang busuk, satu akan
diganti tiga.....!'

Sesudah satu telur busuk, diganti dengan tiga telur, Si Ibu inipun lalu juga
bilang ke mana-mana. Ke kawan-kawan & tetangga: 'Jika beli telur di tempat
Bob, busuk satu akan diganti tiga....!'.

Memang betulan, pembeli telur semakin banyak. Padahal, yang busuk sebenarnya
hanya satu. Ya untuk yang ibu super cerewet tadi. Dalam hati, Bob membatin,
bukankah 'kecerewetan si Ibu tadi bisa untuk promosi...!'. Dus promosi
gratis.

Di sebuah spanduk pinggir jalan ada tulisan,
'Krisis Keuangan Global. Sebuah tantangan menjadi peluang !'.
Ikutilah seminar sehari. Hari ...... Tgl...... Th.... di........
Jangan lewatkan. Dst-dst.

Dalam dunia managemen memang ada frase, '
Tantangan menjadi peluang.....'
Ternyata memang demikian,
untuk bisa maju, orang mesti bisa melihat peluang.
Di mana saja. Dan kapan saja.

Syalom. Wilujeng wengi. Rahayu-rahayu-rahayu.

Wasalam:
-agt agung pypm-
www.lelakuku.blogspot.com

Upaya menggelontor karat lemak

Upaya Menggelontor "Karat Lemak" Pembuluh Darah

Oleh: Dr. Handrawan Nadesul, Dokter Umum

Terobosan dalam menekan kejadian penyakit pembuluh darah sama kencangnya dengan upaya bagaimana membersihkan "karat lemak" pipa pembuluh darah.

Dimulai dengan menemukan semakin bertambahnya faktor penyebab mengapa pipa pembuluh darah cenderung berkarat lemak, sampai upaya bedah mengerok, dan menggelontor karat lemak dari dinding pembuluh darah (arterectomy)

Kita membaca mantan Presiden Filipina, Fidel Ramos, konon pernah digelontor pembuluh darah di lehernya karena sudah mengancam otaknya kehilangan pasokan darah. Kita tahu, pada mereka yang berbakat pembuluh darahnya berkarat, kebanyakan terjadi di pembuluh darah leher kiri maupun kanan kedua pembuluh darah ini yang memasok seluruh kebutuhan darah otak, yang tak boleh berkurang barang sedetik pun.

Pasokan darah ke otak akan berkurang bila pipa pembuluh leher carotis mulai menebal karat dindingnya. Bila dibiarkan, stroke mengancam. Dan karena proses menebalnya karat lemak ini memakan waktu puluhan tahun, mestinya selalu ada kesempatan bagi mereka yang berbakat begitu untuk mengerem proses penyumbatan pipa pembuluh darahnya, antara lain dengan menekan semua faktor penyebabnya.

Namun, tidak semua faktor penyebab penebalan karat lemak bisa direm. Bila penyebabnya faktor genetik, misalnya, faktor homosistein, Lipo (a) dalam darah, dan faktor pendukung lain terbentuknya karat lemak, tak mudah dihilangkan. Itu berarti tubuh menyimpan bom waktu, jika tidak segera dijinakkan.

Terobosan Nonbedah

  • Bahwa mereka yang mewarisi bakat lemak darah cenderung tinggi (hiperlipidemia), kendati tidak mengonsumsi lemak berlebihan, lipid darahnya tetap tinggi, masih mungkin berkelit dari ancaman penebalan dinding pembuluh darahnya.

Agar tidak terbentuk karat lemak, dapat diatasi dengan terus minum obat antilemak sepanjang hidup, sedangkan dengan berdiet rendah lemak saja tentu tak cukup.

Itu saja tidaklah cukup. Perlu ditilik adakah faktor pendukung lain terbentuknya karat lemak pembuluh darah, seperti radikal bebas, kerusakan pembuluh oleh infeksi (sekarang kuman terbukti menjadi salah satu faktor pendukung terbentuknya penebalan pembuluh darah juga).Atau mungkin kekurangan vitamin dan nutrien tertentu, sehingga sel-sel busa, sel trombosit gampang saling melengket, atau darah menjadi lebih likat, lekas membeku, dan
lebih kental, sehingga alirannya melambat.

Itu semua faktor pendukung yang memudahkan terbentuknya karat lemak dinding pembuluh darah tubuh, nyaris di pembuluh darah bagian tubuh yang mana saja. Menjadi fatal bila pembuluh otak, jantung, mata, dan ginjal yang berkarat lemak.

Dari beberapa riset terungkap kalau lecithin dalam kacang kedelai berpotensi menggelontorkan karat lemak yang sudah terbentuk. Perlu takaran tinggi kedelai untuk dosis lecithin yang berkhasiat untuk itu. Sekarang banyak preparat suplemen lecithin, kendati masih disangsikan kebenarannya.

Obat-obat penekan lemak darah (turunan golongan statin) terus dikembangkan agar lebih jitu menekan lipid darah. Kalau dulu cuma bisa menekan kolesterol buruk (LDL) saja tanpa meningkatkan kolesterol berjasa (HDL), sekarang ada obat yang bisa melakukan kedua khasiat itu sekaligus.

Yang lebih radikal lagi bagaimana memasok kolesterol berjasa (HDL) lebih banyak lagi ke dalam aliran darah. Kita tahu, LDL justru mengangkut lemak memasuki aliran darah, Sedangkan kolesterol HDL malah menyedot lemak yang berlebihan untuk dibuang melalui hati. Jadi, dengan meningkatkan kadar HDL diharapkan efek buruk lemak berlebihan dalam darah bisa ditekan.

Di tahun 2003 Dr. Steven Nissen (Cleveland Clinic Cardiologist) melakukan percobaan menyuntikkan cairan yang disebutnya Liquid Drano. Cairan ini berisi kolesterol berjasa. Ternyata hasilnya menjanjikan sekali, seperti diungkap Dr. Daniel Rader, Direktur Preventive Cardiology Universitas Pennsylvania.

Kolesterol berjasa ini yang diharapkan akan mengerok secara kimiawi karat lemak atau plaque (plak) yang sudah telanjur terbentuk. Dr. Bryan Brewer, Chief Molecular Disease National Heart, Lung, Blood Institute, bahkan menyebutnya sebagai terobosan terapi karat lemak nonbedah.

Peluruh Plak

  • Kita tahu tidak mudah meningkatkan HDL darah. Melakukan latihan fisik memang diharapkan dapat menaikkan HDL. Namun tidak sebanding dengan kenaikan LDL, sehingga efek merusak kolesterol masih lebih kuat dibanding efek pelindungnya.

Ada apa dengan HDL berjasa ini sebetulnya?

Dari temuan lebih 25 tahun lalu, terungkap di Desa Limne Sul Gardia, Italia Utara, kendati rata-rata penduduknya rendah saja kadar HDL-nya, kejadian penyakit jantung koronernya tidaklah banyak. Mengapa?

Ternyata kedapatan jenis protein khusus di dalam HDLnya. Partikel protein ini yang memiliki kemampuan mengerok plak karat lemak dari dinding pembuluh darah, Para ahli yang menemukan partikel protein khusus ini kemudian membuat sintetiknya yang dicobakan pada kelinci dan tikus dengan hasil cepat meluruhkan plak. Dipastikan, suntikan pada manusia dinilai sama amannya.

Tidak banyak terobosan nonbedah yang memungkinkan plak karat lemak bisa luruh, sehingga dinding pipa pembuluh darah terbebas dari bahan penyumbatnya. Dulu bawang putih, upaya infus dengan antidote (chelation) dilakukan mantan Presiden Ronald Reagan dengan harapan plak pembuluh darahnya tergelontor. Peranan chelation juga masih disangsikan.

Kemudian disebut-sebut juga kalau omega-3-6-8 juga menekan faktor risiko koroner, dan
tentunya juga stroke. Demikian pula faktor polutan sebagai pendukung terbentuknya karat lemak, perlu ditekan secara kimiawi dengan obat maupun vitamin dan mineral. Acap disebut- sebut peran "trace-elements selenium, chromium, manganese, dan beberapa unsur yang ikut berperan dalam menyehatkan jantung dan otak lewat perlindungannya terhadap pembuluh darah tubuh.

Begitu beragam dan derasnya radikal bebas yang sudah tak terbendung lagi oleh kemampuan antioksidan yang diproduksi tubuh, sehingga tubuh memang membutuhkan asupan antitioksidan dari luar. Sudah disebut kalau radikal bebas juga tergolong faktor pendukung terbentuknya karat lemak. Sekarang radikal bebas dioxin, misalnya, sudah menyelusup ke makanan bayi juga. Belum radikal bebas dalam polutan berbahaya polychlorinated biphenyls (PCBs).

Kehadiran radikal bebas menambah besar penyerapan LDL dari darah juga. Semua vitamin dan bahan yang berkhasiat sebagai antioksidan sekarang menjadi kebutuhan semua orang yang hidupnya tak bisa luput dari cemaran berbagai polutan yang berasal dari air, udara, maupun menu harian. @