Minggu, 03 Agustus 2014

Derita

DERITA
(Mencari Makna sebuah Peristiwa)
 
       Ketika mengadakan perjalanan menuju  danau Tondano, saya terkesima dengan  view  yang indah di sepanjang jalan. Di sepanjang jalan kulihat pohon-pohon dan kadang-kadang sawah terhampar bagaikan permandani  (Minggu, 03 Agustus 2014).   Setelah sampai tujuan,  saya hanya berdecak kagum dengan indahnya danau tersebut dan dalam hati saya berpikir, memang pantas dikatakan bahwa Danau ini menjadi  tujuan wisata yang terkenal di Provinsi Sulawesi Utara.
          Sementara   asyik-asyiknya menikmati pemandangan yang indah itu, suasana hati saya berubah, ketika mendengar lagu yang dilantumkan oleh Eddy Silitonga, "Hidupku yang sengsara, penuh dengan penderitaan. Oh Tuhan tolong tunjukkan jalan kehidupan jauhkan cobaan…"  Buku tulisan Arifin Surya Nugroho  dengan judul,  "Biografi Hartini-Sukarno" menulis, "Bapak pernah mengatakan kepada saya, ketika dipenjara oleh Belanda, ia merasa kuat dan tabah. Namun ketika merasa dikhianati oleh bangsanya sendiri dan kemudian ditahan di Wisma Yaso, bapak merasa amat sangat menderita." (hlm. 231).
Derita berasal dari bahasa Sansekerta "dhra" yang berarti  menahan atau menanggung sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan semakin berat apabila dialami secara batiniah. Dalam  buku yang berjudul, "Ramayana"  tulisan Nyoman Pendit, misalnya di sana kita bisa melihat   penderitaan   Sinta  di Taman Asoka dalam cengkeraman Rahwana.  Pikiran, jiwa dan hatinya  terus-menerus memikirkan kekasihnya,  Rama. Ibarat seorang gadis yang sedang jatuh cinta, "thinking of you."  Tentu saja Sinta menderita yang amat sangat.
Di sekitar kita banyak orang yang menderita. Dan seolah-olah – jika bisa berkata  – mereka ingin diringkankan penderitaannya. Motto R.S. PGI Cikini – Jakarta, "Sedare dolorem opus divinum est" – meringankan penderitaan adalah pekerjaan ilahi, tentunya tepat untuk melukiskan orang-orang yang berhati mulia. Raoul Follereau (1903 – 1977) – penulis Prancis mencoba melukiskan bagaimana seseorang meringankan penderitaan orang lain. Tulisnya, "Ada istri seorang kusta tinggal di sebuah perkampungan. Dia tidak kusta. Setiap pagi, suami-istri itu bertemu, dari jauh saja. Mereka saling bertatap muka dan tersenyum beberapa detik."  Si kusta itu berkata, "Ketika saya melihat istri saya setiap hari hanya dari dialah saya tahu bahwa saya masih hidup dan hanya untuk dialah saya masih mau hidup."
Penderitaan juga sering dialami oleh mereka yang memohon kepada Dewa Zeus. Permohonannya terkabul, namun kemudian menyesal karena ada "kekilafan" dan akhirnya mengakibatkan penderitaan. Aurora adalah dewi fajar. Ia jatuh cinta kepada Tithonus, manusia yang hidup di jagad ini. Aurora, bermohon agar kekasihnya memiliki hidup kekal seperti dirinya. Mereka berdua hidup bahagia sementara waktu, namun  Aurora lupa minta bagi kekasihnya  "awet muda." Dan pada gilirannya, Tithonus menjadi orang yang paling menderita, ia "awet tua" dan tidak pernah bisa mati. Aurora cantik jelita, sedangkan pada akhirnya kekasihnya tua-opong-peyot.   
Ternyata, derita itu ada pelbagai macam dan beraneka ragam. Hanya bagaimana cara kita meresponnya. Itu saja!
 
Senin, 04 Agustus 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Rabu, 30 Juli 2014

Bening

BENING
(Mencari Makna sebuah Peristiwa)
 
                Pernah suatu kali saya terperanjat dengan dengan kata-kata polos seorang bocah, "Kemarin ikan-ikan di  aquarium ini tidak kelihatan dan sekarang ikan-ikan itu  berenang dengan penuh kegembiraan." Kemudian bocah ini berkata lagi, "Beningnya air, membuat ikan-ikan kelihatan dari luar."
          Bening, jernih, polos, jujur dan transparan serta ketulusan adalah sikap hidup yang seharusnya kita miliki. Sikap tulus dalam Injil muncul dalam diri St. Yosef, suami Maria sebagai pribadi yang sincere (Bhs Inggris: tulus hati). Kata sincere itu berasal dari bahasa Latin, sine +cere yang berarti tanpa lilin. Zaman dulu jika seseorang menjual meubel maka untuk memperhalus  furniture digunakan lilin dan divernis. Kayu yang cacat menjadi halus. Namun ada pembuat dan penjual meja-kursi-lemari tanpa lilin, sehingga disebut sebagai sincere atau tulus. Orang yang tulus itu hatinya bening dan tidak ada kepalsuan pada dirinya.
          Pribadi yang bening juga memiliki wajah yang ceria bahkan awet muda, young forever. Kenyataan bahwa wajah dapat dilihat dari hati nyata dalam patung  Pieta yang adalah karya agung, masterpiece dari Michelangelo (1475 – 1564). Patung itu melukiskan tubuh Yesus yang baru saja diturunkan dari kayu salib "terkapar"  di pangkuan Bunda Maria. Ketika para pengunjung menyaksikan patung yang kesohor itu banyak kritik yang dilontarkan terhadap tampilnya Bunda Maria yang jauh lebih muda daripada puteranya sendiri. Jawab pemahat Renaissance yang terkenal itu adalah, "Jiwa yang tulus, jujur dan indah tidak pernah menjadi tua dan wajahnya selalu cantik." 
          Ketidakbeningan hati juga muncul dalam sikap orang yang memiliki agenda tersembunyi, hidden agenda. Dalam arti ini, ia berjuang untuk kepentingan diri sendiri atau kelompoknya.
          Dalam Injil kita sering mendengar sabda Yesus, "Berbahagilah orang yang …" Yang bersih hatinya  merupakan terjemahan dari bahasa Yunani, katharos. Kata ini dipakai dalam berbagai hal. Aslinya katharos berarti bersih yang dapat dipakai umpamanya untuk baju yang kotor yang dicuci sehigga bersih.  Bunda Maria memiliki hati yang bersih (Bhs. Jawa, "Rahayu wong kang resik atine"  – Berbahagialah orang yang bersih hatinya).  Dan kekayaan orang-orang yang bersih hatinya  adalah kepolosan manusia yang digambarkan sebagai orang-orang miskin. Kisahnya dapat dilihat dalam pengalaman iman Laurentius (225 – 258) adalah pembantu Paus Pius Paus Sixtus II (257-258). Ia dipaksa untuk mengumpulkan harta-kekayaan Gereja. Selama hidupnya, Laurentius adalah dekat dengan orang miskin. Pimpinan Roma bertanya lagi, "Mana harta gereja yang engkau janjikan?" Dengan tenang dan polos, Laurentius berkata, "Bapa yang mulia, inilah harta benda gereja" – sambil membawa orang-orang miskin tersebut.
          Orang-orang yang bersih hatinya memiliki wajah yang bersih dan berseri-seri. Dalam dirinya tidak ada kepalsuan.  "Bagaimana hal ini dapat dipahami?" Ketika Leonardo da Vinci (1452 – 1519)  hampir selesai melukis  Last  Supper, ia tidak menemukan model untuk Yudas. Berbulan-bulan, ia mencari-cari sang model di penjuru kota dan akhirnya menemukan seseorang yang memiliki wajah  sangar dan bermuram durja.  Sesampai di  studio, sang model berkata, "Da Vinci, apakah engkau lupa denganku?"  Model itu pun berkata, "Saya adalah orang yang dulu sebagai model Yesus. Kemudian saya hidup tidak teratur, mabuk-mabukan,  mengganggu masyarakat setempat dan kadang-kadang merampok serta mencuri."
          Setelah kita melihat orang-orang yang dekat  dengan Tuhan, dapat kita pahami mengapa mereka hidup dalam kedamaian. Hal ini dikarenakan hatinya bening. Berjumpa dengan seseorang yang memiliki hati yang bening, hendak mengatakan kepada kita bahwa sesama kita bisa melihat apa yang ada dalam diri kita (transparan). Jalan orang jujur dan bening  itu lurus. Dia mengatakan kalau "ya" akan mengatakan "ya" dan jika "tidak" dia pun akan mengatakan  "tidak" (Bdk Mat 5: 33 – 37).
          Memaknai kata  "bening"  saya menjadi ingat lagu ciptaan Ebiet G. Ade dengan judul, Cinta Sebening Embun – "Kasih pun  mulai deras mengalir cemerlang sebening embun."  Sambil menikmati lagu yang indah itu, di depan mejaku  terjadi minuman bukan teh atau kopi tetapi segelas air bening.
 
Kamis, 31 Juli 2014   Markus  Marlon

Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Jumat, 25 Juli 2014

Pasien

PASIEN
(Mencari Makna sebuah Peristiwa)
 
 
          Bulan yang lalu (19 Juni  2014) di RS Panti Rapih – Yogyakarta, saya melihat ada beberapa pasien sedang menunggu giliran ketemu dokter. Dari air muka yang saya lihat, semua murung-murung namun mereka semua sabar menunggu. Kemudian saya bertanya mengapa pasien itu sabar menunggu berjam-jam di ruang tunggu. Suster itu yang namanya Sr. Paulina CB (9 September 1963 – sekarang) berkata, "Pasien khan artinya sabar. Lihat saja apa arti  be patient,  bersabarlah!"  
          Untuk beberapa saat, saya belum begitu puas dengan jawaban suster itu. Pikiran saya kemudian melayang-layang  pada peristiwa penderitaan (paskhein, bahasa Yunani yang berarti menderita) Kristus menjelang Paskah. Memang Pesta Paskah adalah peringatan bangsa Yahudi lepas dari perbudakan di Mesir (exodus).  Dan dari sana Tuhan lewat (Paskah) karena melihat pintu yang sudah menjadi tanda. Di sana tidak ada kematian.
 Tiga hari menjelang Paskah, Yesus mengalami penderitaan secara sempuna. Ia dikhianati dan ditinggalkan para murid dalam kesendirian, bahkan merasa ditinggalkan oleh Bapa-Nya di taman Getsemani. Yesus disesah dan melakukan jalan salib,  via dolorosa dan akhirnya disalib. Gregorius Agung, penulis Regula Pastoralis memberi arti baru pada sakitnya kaum beriman berdasarkan penderitaan Kristus. Orang yang sakit dimohon untuk menjadi sabar (be patient) dengan memandang Yesus yang telah menderita banyak.
Di sini dapat kita pahami bahwa seorang pasien yang antri – dengan sabar – atau yang sedang rawat inap adalah orang-orang yang menderita (paskhein). Untuk itu, para pasien itu memiliki keinginan untuk dikunjungi dari sana saudara atau kerabat dekat bersimpati terhadap sang pasien. Secara harfiah simpati berasal dari kata Yunani, syn yang berarti bersama dengan dan  paskhein berarti menderita. Jadi simpati memiliki makna mengalami hal-hal bersama dengan orang lain (Willian Barclay dalam bukunya yang berjudul  "Memahami Alkitab Setiap hari Injil Matius"  hlm. 171).
 Mereka yang sakit (paskhein, pasien) itu belum tentu sabar (be patient). Mereka ingin segera cepat-cepat sembuh, bahkan mungkin sudah bosan dengan penyakitnya (tidak sabar). Namun karena diri mereka sakit (paskhein), mau tidak mau harus sabar (be patient)  antri dipanggil untuk diperiksa oleh dokter. Semoga dengan menjadi pasien yang sabar itu, ia lekas sembuh!
 
Jumat, 25 Juli 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Jumat, 18 Juli 2014

Beda

BEDA
(Mencari Makna sebuah Peristiwa)
 
 
          Ketika hendak "nyekar" (menabur bunga atau  kembang atau sekar) di makam ayah yang terletak di Pegunungan Gunungkidul, Yogyakarta ( 23 Juni 2014), kami sekeluarga meluncur dengan  Innova rental. Rupanya penumpang satu  mobil itu sudah memiliki calon presiden masing-masing. Namun ternyata di  dalam mobil itu semua adalah fanatik Jokowi-JK. Dalam perjalanan, kami semua diam. Kadang-kadang  nyeletuk  kata-kata pujian untuk Jokowi. Hanya itu.
         
          Tetapi setelah kembali dari makam menuju Yogjakarta menumpanglah  ipar saya yang adalah  pengagum berat Prabowo-Hatta. Ipar saya ini mulai membicarakan visi-misi capres no urut 1. Nah dalam suasana seperti ini, perjalanan kami menjadi "hidup" dan semangat. Dua kubu yang tidak seimbang – satu dikeroyok tujuh orang – itu semakin memanas. Perjalanan yang panjang menjadi begitu singkat karena ada perbedaan. Dan ternyata, perbedaan itu indah.
 
          Perbedaan itu tidak selamanya berbahaya.  Bahkan keanekaragaman sangat memperkaya orang. Coba bayangkan jika dalam setiap pertemuan, diskusi atau  meeting tidak ada perbedaan pendapat atau tidak ada oposisi, maka sidang, diskusi atau meeting pun  akan mati. "Berlainan pendapat akan selalu ada." Bung Karno (1901 – 1970)  pernah mengatakan bahwa masalah perbedaan pendapat itulah yang membawa kita kemajuan, "Du choc des opinions jaillit la veritte" kata orang Prancis yang berarti: dari pergesekan berlainan pendapat inilah timbul kebenaran.
 
          Jika kita mundur ke belakang lebih jauh, pada masa sebelum Renaissance, kita mengenal seorang  ningrat  bernama Medici di Italia. Ia justru mengumpulkan para pemikir dari berbagai bidang ilmu dengan pandangan yang berbeda-beda agar dapat menemukan berbagai solusi tajam atas permasalahan yang kompleks yang sudah terjadi menjadi masalah klasik.  Selain itu ada F. Scott Fitsgerald  yang pernah menulis bahwa individu yang berpegang pada dua ide bertentangan, mempertahankan  bahkan menahan ketegangan dari konfliknya, kemudian menjalankan fungsinya dengan efektif adalah orang yang benar-benar intelek. Merangkul ide-ide yang berbeda membutuhkan perjuangan yang tidak mudah.
 
          "Berani berbeda" adalah ungkapan yang sering kita dengar. Kita menginginkan sesuatu yang berbeda, yang lain dalam hidup ini. Orang bisa sukses karena berbeda, sebagai contoh adalah  Tukul Arwana, yang memiliki ciri khas dan tiada duanya. Kini ia menjadi pembawa acara entertainment papan atas dan katanya seorang bintang, belum merasa lengkap kalau belum diwawancarai olehnya dalam Acara "Bukan Empat Mata." Dan jika lebih jauh lagi mencari makna "beda" dapat kita lihat  kata  hagios dalam bahasa Yunani. Kata "kudus" dalam bahasa Yunani ialah hagios yang akar katanya berarti "berbeda." Bait Allah itu  hagios karena berbeda dari bangunan lain. Hari sabat itu hagios karena berbeda dari hari-hari lain.
 
          Memang sejak awal mula, kita ini dilahirkan berbeda. Sebelum kita lahir dan sesudah kita, tidak akan ada yang sama persis  dengan diri kia.  Diri kita adalah unicus, yang berarti satu-satunya dan dengan "sesuatu" yang berbeda itu, kita berkontribusi terhadap alam sekitar.
 
Jumat, 18 Juli 2014   Markus Marlon
         
Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Senin, 14 Juli 2014

Pertolongan

PERTOLONGAN
(Mencari Makna sebuah Peristiwa)
 
          Menyaksikan tengkorak-tengkorak dan peti dalam makam Londa – Tana Toraja (Kamis, 05 Juni 2014), bulu kudukku berdiri ketakutan namun menjadi tenang ketika tanganku dipegang oleh sang guide yang  membawa lampu gas atau petromax. 
          Tangan pembawa lampu gas itu bagaikan Roh Keperkasaan, "Semoga kami Kau kuatkan dengan memegang tangan-Mu yang senantiasa menuntun kami." Dalam dunia zaman sekarang, Pertolongan Tuhan itu diungkapkan dalam  lirik sebuah lagu, "S'lalu baru  dan tak pernah terlambat pertolongan-Mu, besar setia-Mu di s'panjang hidupku…" Memang setiap orang yang dalam derita dan down senantiasa membutuhkan pertolongan Tuhan.
          Saya menjadi ingat akan kisah  "Jejak-Jejak Kaki di Tepi Pantai" tulisan Margaret Fishback (1900 – 1985) yang sudah melegenda itu. Kisahnya demikian. Seorang lelaki tengah baya tidak memahami mengapa justru pada saat sangat membutuhkan Tuhan di tepi pantai, ia merasa ditinggalkan. Tetapi Tuhan berkata, "Anak-Ku, Aku mengasihi engkau dan tidak akan pernah meninggalkan engkau pada saat sulit dan penuh bahaya sekalipun. Ketika engkau melihat hanya ada satu pasang jejak kaki, itu adalah kakiku. Aku menggendong engkau" – When you saw only one set of footprints. It was then that I carried you.
          Pertolongan Tuhan kadang terjadi secara tidak terduga. Bahkan di kala jatuh dalam kekelaman, di sana – nampaknya – Tuhan hadir. "The darkest night is just before dawn" – Malam terasa gelap justru tanda fajar hampir datang. Hal ini pula yang menjadi keyakinan John Baptist de La Salle (1651 – 1719) dalam salah satu kata-kata mutiaranya, "Throw yourself in to God's arms. He will carry you when the road is rough."
Senin, 14 Juli 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Kamis, 26 Juni 2014

Berita Menggelegar

BERITA  MENGGELEGAR
(Serpihan-Serpihan Kisah Yang Tercecer)
 
       Tatkala sedang menikmati indahnya panorama persawahan di desa (19 Juni 2014) saya dikejutkan oleh sebuah berita. Membaca berita yang dikirim pertama kali oleh P. Jimmy Tumbelaka Pr tentang meninggalnya P. Made Miasa Pr pada hari Kamis, 19 Juni 2014 pukul 14.20 di RS Gunung Maria - Tomohon, saya teringat lagu dengan judul, “Bing” yang dilantunkan oleh Titiek Puspa: 
         
          Siang itu surya berapi sinarnya
          Tiba-tiba redup langit kelam
          Hati yang bahagia terhempas seketika
          Malapetaka seakan berlinang.
 
          Berita menggelegar aku terima
          Kekasih berpulang ‘tuk selamanya
          Hancur luluh rasa jiwa dan raga
          Tak percaya tapi nyata.
 
          Berita siang kemarin bagi kebanyakan orang merupakan  “berita menggelegar.”  Umat, sahabat, kenalan Pastor Made saling memberikan ucapan belasungkawa, dukacita ataupun RIP (Requiescat in pace atau  rest in peace).
 
          Kita bersyukur hidup pada zaman tehnologi yang semuanya serba cepat. Kita membayangkan bagaimana berita menggelegar zaman dulu kala. Zaman dulu, berita dikirim secara estafet dari puncak bukit yang satu ke puncak bukit lainnya. Pengiriman berita menggelegar ini berdasar pada  cursus publicus – suatu system pos. Kata  “post” dalam bahasa Inggris berasal dari kata Latin, positus yang berarti ditempatkan. Perkataan ini ada hubungannya dengan kuda-kuda yang ditempatkan pada tempat-tempat perhentian tertentu sepanjang jalan-jalan Romawi. Setiap kandang kuda diperkirakan menyediakan empat puluh ekor kuda. Degan begitu banyak kuda yang tersedua, sepucuk surat dapat menempuk jarak 100 mil sehari. Si pembawa berita – seringkali seorang budak dikenal sebagai  tabellarius. Sebagai tanda pengenal, ia memakai sebuah lencana kecil dari perunggu. Berabad-abad sebelum itu, Cyrus (± 576 – 529 seb. M) Raja Persia adalah penemu dari system pengiriman berita secara estafet. (Bdk. Buku tulisan Charles Ludwig dengan judul,  “Kota-kota pada zaman Perjanjian Baru” hlm. 12).  Bangsa Romawi juga memakai burung merpati untuk pengiriman sebuah berita  (par avion)
 
          Rasa ingin tahu akan sebuah berita sudah menjadi kecenderungan umat manusia. Sementara artikel ini ditulis, kebanyakan kita tetap ingin meng-up date berita menggelegar ini.  Tetapi sebenarnya hal ini bukan barang baru. Konon kabarnya, ketika orang-orang Athena saling berjumpa di pasar atau  agora, maka kata pertama yang mereka lontarkan ialah, “Ti kainon?” – masih ada kabar baru?  Kita pun setiap membuka percakapan selalu mengatakan, "Halo apa kabar?” Kita merupakan bangsa yang ingin tahu, well-informed (buku tulisan Dick Hartoko dengan judul, “Tanah Airku dari bulan ke bulan” hlm. 64).
 
          Dengan berita yang mengejutkan serta menggelegar ini, saya dari jauh berdoa bagi sahabat dan kakak kelas saya.  
 
Jumat, 20 Juni 2014   Markus Marlon
         
 


Rabu, 25 Juni 2014

BAGAN
(Serpihan-Serpihan Kisah Yang Tercecer)

Ketika menunggu di Ruang Tunggu pada sebuah kantor di bilangan
perkantoran Palopo (Senin, 09 Juni 2014), saya melihat ada sebuah
bagan yang indah dalam ruang direktur. Bagan itu tertulis rapi, jelas
dan masing-masing kolom dan garis komando serta garis konsultatif
menunjukkan betapa teraturnya mekanisme kantor tersebut.

Tetapi ketika saya mencermati tulisan-tulisan dalam bagan
itu secara seksama, salah seorang staff direksi berkata, "Saudara!!
apa yang saudara baca itu semua hanya teori belaka dan dalam
prakteknya amburadul."

Jika kita memasuki sebuah kantor sekretariat (perusahaan,
sekolah-sekolah maupun Rumah Sakit), di sana terpampang bagan-bagan
yang - mungkin - berisikan: struktur organisasi, personalia, mekanisme
kerja atau statistik. Bahkan sering kita temui ada bagan yang sudah
kadaluwarsa dan entah karena apa belum juga diperbaharui juga. Melihat
itu semua, bagan-bagan tersebut ibarat manusia yang tidak memiliki roh
atau jiwa, zombie.

L'histoire se répète, sejarah berulang. Pada akhir abad ketiga, Kaisar
Diokletianus - lengkapnya Gaius Aurelius Valerius Diokletianus (245 -
312) - ingin menyelamatkan kerajaan Roma dari keruntuhan, maka ia
menciptakan sebuah organisasi baru, system atau bagan baru yang antara
lain untuk mengamankan penggantian tahta. Tetapi ketika ia
mengundurkan diri, mekanisme baru yang seharusnya melancarkan dan
menghaluskan kenaikan seorang kaisar baru ternyata macet dan
berkobarlah kembali perang-perang saudara, perebutan mahkota
kekaisaran (Buku yang berjudul, "Tanah Airku dari Bulan ke Bulan"
tulisan Dick Hartoko hlm. 52).

Dari kisah tersebut di atas, kita bisa memahami betapa pentingnya
semangat pelayanan dari seluruh komponen yang berkarya di tempat
tersebut. Kita sering mendengar adagium tentang leadership dalam
suatu perusahaan atau lembaga bunyinya, "Gauverner c'est prevoir" -
memerintah yakni melihat ke depan atau seperti yang dikatakan
Agustinus (354 -430), "Non tam praeesse quam prodesse" - bukan untuk
memerintah tetapi untuk melayani. "Memerintah" dalam hal ini muncul
dalam "garis komando." Seorang pemimpin yang hanya memerintah dan
memerintah, tentu bukan menjadi "roh" dari bagan tersebut. Bagan
hanya sebuah kulit atau wadah tetapi yang lebih penting adalah isinya.
Tanpa semangat dan jiwa, maka segala bagan dan wadah tersebut tetap
tinggal barang-barang mati saja. Skema-skema menghiasi dinding-dinding
rapat, "Tetapi bagaimana follow up-nya?" Tanpa jiwa dan semangat,
skema-skema itu tinggal kerangka tulang-tulang saja.

Saya terkesima dengan motto R.S. Bintang Laut Jl. K.H. M. Kasim no. 5
Palopo (Sulawesi Selatan) yang berbunyi, "Servire in Caritate" -
Melayani dalam semangat kasih. Setiap bagan yang saya baca dari setiap
unit karya terpampang tertulis suatu semangat: melayani dengan tulus
dan sense of belonging dan hospitality atau keramahtamahan.

"At home" itulah yang - barangkali - yang perlu dialami oleh setiap
staff dan karyawan. Orang merasa dihargai yang menurut orang Jawa,
"Diwongke!" Mekanisme kerja menggunakan pendekatan hati dan ini
merupakan jiwa atau roh dari bagan-bagan tersebut. Jika demikian maka
tempat kerja merupakan tempat yang sangat dirindukan. Orang akan
merasa nyaman dan damai tinggal di dalamnya.

Kamis, 19 Juni 2014 Markus Marlon


--
Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com