Kamis, 14 Januari 2010

KISAH DUA KUDA

KISAH DUA KUDA

Ada sebuah padang, dengan dua ekor kuda di dalamnya. Dari kejauhan, dua
kuda itu seperti kuda pada lazimnya. Tetapi jika Anda menghentikan mobil
dan berjalan mendekat, Anda akan menemukan satu hal yang mengagumkan. Saat
memperhatikan mata salah satu kuda, akan terlihat bahwa kuda itu buta.
Pemiliknya telah memutuskan untuk tidak membuangnya, tetapi justru
membuatkan sebuah rumah yang nyaman untuknya.

Hal berikut ini juga luar biasa
Jika Anda berdiri di dekatnya dan memperhatikan, akan terdengar bunyi suara
lonceng. Saat mencari sumber suara itu, Anda akan melihat bahwa itu berasal
dari kuda yang lebih kecil di padang rumput itu.

Di lehernya dikalungkan sebuah lonceng kecil. Suaranya akan memberi tanda
kepada kuda yang buta arah kuda kecil berada, sehingga bisa mengikutinya.

Ketika Anda berdiri dan memperhatikan kedua kuda itu, Anda akan melihat
bahwa kuda yang memiliki lonceng selalu menoleh memperhatikan kuda yang
buta, dan kuda yang buta akan mendengar suara lonceng dan kemudian berjalan
perlahan ke arahnya; percaya bahwa dia tidak akan tersesat.

Saat kuda dengan lonceng kembali ke kandang pada sore hari, dia setiap kali
akan selalu berhenti dan menoleh, memastikan bahwa temannya yang buta tidak
berjalan terlalu jauh untuk bisa mendengar bunyi loncengnya.

Seperti pemilik dari kedua kuda ini, Tuhan tidak pernah membiarkan kita
terbuang hanya karena kita tidak sempurna atau kita sedang menghadapi
masalah atau tantangan.

Dia mengawasi kita dan bahkan membawa orang lain ke dalam hidup kita untuk
menolong kita saat kita membutuhkannya.

Kadang-kadang kita adalah kuda buta yang dituntun oleh bunyi pelan lonceng
dari orang-orang yang ditempatkan Tuhan dalam kehidupan kita.

Teman baik selalu seperti itu ... Anda tidak pernah selalu melihat mereka,
tapi Anda tahu bahwa mereka selalu ada di sana.

Dengarkanlah lonceng saya dan saya akan mendengarkan lonceng Anda.

Dan ingat ... bersikaplah ramah lebih dari biasanya - siapa saja yang Anda
temui adalah ibarat pergumulan dalam suatu pertempuran.

Live simply,
Love generously,
Care deeply,
Speak kindly ....

(dari haryono99@gmail.com)

Rabu, 13 Januari 2010

Sebuah Renungan tentang KESUKSESAN

Sebuah Renungan tentang KESUKSESAN
Sebuah Renungan tentang KESUKSESAN

Sukses itu sederhana,
Sukses tidak ada hubungan dengan menjadi kaya raya,
Sukses itu tidak serumit/serahasia seperti kata Kiyosaki/Tung Desem
Waringin/The Secret,
Sukses itu tidak perlu dikejar,
SUKSES adalah ANDA!
Karena kesuksesan terbesar ada pada diri Anda sendiri...

Bagaimana Anda tercipta dari pertarungan jutaan sperma untuk membuahi 1
ovum, itu adalah sukses pertama Anda!

Bagaimana Anda bisa lahir dengan anggota tubuh sempurna tanpa cacat, itulah
kesuksesan Anda kedua...

Ketika Anda ke sekolah bahkan bisa menikmati studi S1, di saat tiap menit
ada 10 siswa drop out karena tidak mampu bayar SPP, itulah sukses Anda
ketiga...

Ketika Anda bisa bekerja di perusahaan bilangan segitiga emas, di saat 46
juta orang menjadi pengangguran, itulah kesuksesan Anda keempat...

Ketika Anda masih bisa makan tiga kali sehari, di saat ada 3 juta orang
mati kelaparan setiap bulannya itulah kesuksesan Anda yang kelima...

Sukses terjadi setiap hari,
Namun Anda tidak pernah menyadarinya. ..

Saya sangat tersentuh ketika menonton film Click! yang dibintangi Adam
Sandler, "Family comes first", begitu kata2 terakhir kepada anaknya sebelum
dia meninggal...

Saking sibuknya Si Adam Sandler ini mengejar kesuksesan, ia sampai tidak
sempat meluangkan waktu untuk anak & istrinya, bahkan tidak sempat
menghadiri hari pemakaman ayahnya sendiri, keluarga nya pun berantakan,
istrinya yang cantik menceraikannya, anaknya jadi ngga kenal siapa
ayahnya...

Sukses selalu dibiaskan oleh penulis buku laris supaya bukunya bisa
terus2an jadi best seller
dengan membuat sukses menjadi hal yg rumit dan sukar didapatkan.. .

Sukses tidak melulu soal harta,rumah mewah,mobil sport,jam Rolex,pensiun
muda,menjadi pengusaha,punya kolam renang/helikopter, punya istri cantik
seperti Donald Trump,&resort mewah di Karibia...

Sukses sejati adalah hidup dengan penuh syukur atas segala rahmat Tuhan,
sukses yang sejati adalah menikmati & bersyukur atas setiap detik kehidupan
Anda, pada saat Anda gembira, Anda gembira sepenuhnya, sedangkan pada saat
Anda sedih, Anda sedih sepenuhnya,
setelah itu Anda sudah harus bersiap lagi menghadapi episode baru lagi.

Sukses sejati adalah hidup benar di jalan Allah, hidup baik, tidak menipu,
apalagi scam, saleh & selalu rendah hati, Sukses itu tidak lagi
menginginkan kekayaan ketimbang kemiskinan, tidak lagi menginginkan
kesembuhan ketimbang sakit,

Sukses sejati adalah bisa menerima sepenuhnya kelebihan, keadaan, dan
kekurangan Anda apa adanya dengan penuh syukur.

Pernahkah Anda menyadari?
Anda sebenarnya tidak membeli suatu barang dengan uang
Uang hanyalah alat tukar,
Anda sebenarnya membeli rumah dari waktu Anda.
Ya, Anda mungkin harus kerja siang malam utk bayar KPR selama 15 tahun atau
beli mobil/motor kredit selama 3 tahun.
Itu semua sebenarnya Anda dapatkan dari membarter waktu Anda,
Anda menjual waktu Anda dari pagi hingga malam kepada penawar tertinggi
untuk mendapatkan uang supaya bisa beli makanan, pulsa telepon dll...

Aset terbesar Anda bukanlah rumah/mobil Anda, tapi diri Anda sendiri,
Itu sebabnya mengapa orang pintar bisa digaji puluhan kali lipat dari orang
bodoh...
Semakin berharga diri Anda, semakin mahal orang mau membeli waktu Anda...

Itu sebabnya kenapa harga 2 jam-nya Kiyosaki bicara ngalor ngidul di
seminar bisa dibayar 200 juta atau harga 2 jam seminar Pak Tung bisa
mencapai 100 juta!!!

Itu sebabnya kenapa Nike berani membayar Tiger Woods & Michael Jordan
sebesar 200 juta dollar, hanya untuk memakai produk Nike.
Suatu produk bermerk menjadi mahal/berharga bukan karena merk-nya, tapi
karena produk tsb dipakai oleh siapa....

Itu sebabnya bola basket bekas dipakai Michael Jordan diperebutkan, bisa
terjual 80 juta dollar,
sedangkan bola basket bekas dengan merk sama, bila kita jual harganya
justru malah turun...

Hidup ini kok lucu, kita seperti mengejar fatamorgana, bila dilihat dari
jauh, mungkin kita melihat air/emas di kejauhan, namun ketika kita kejar
dng segenap tenaga kita & akhirnya kita sampai, yang kita lihat yah cuman
pantulan sinar matahari/corn flakes saja
oh...ternyata. ..

Lucu bila setelah Anda membaca tulisan di atas
Namun Anda masih mengejar fatamorgana tsb, ketimbang menghabiskan waktu
Anda yg sangat berharga bersama dengan orangtua yg begitu mencintai Anda,
memeluk hangat istri/kekasih Anda, mengatakan "I love you" kepada orang -
orang yang anda cintai: orang tua, istri, anak, sahabat2 Anda.

Lakukanlah ini selagi Anda masih punya waktu, selagi Anda masih sempat,
Anda tidak pernah tahu kapan Anda akan meninggal, mungkin besok pagi,
mungkin nanti malam,

LIFE is so SHORT.

Luangkan lebih banyak waktu untuk melakukan hobi Anda, entah itu bermain
bola, memancing, menonton bioskop, minum kopi, makan makanan favorit
Anda,berkebun, bermain catur, atau berkaraoke.. .

Enjoy Ur Life, LIFE is so SHORT my dear friend....


From...

JIsmanto

Selasa, 12 Januari 2010

Haruskah Hati Menciptakan Jarak

Haruskah Hati Menciptakan Jarak

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya,
"Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah,
ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat
tangan dan menjawab, "Karena saat seperti itu ia
telah kehilangan kesabaran, karena itu ia
lalu berteriak."

"Tapi..." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya
justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak?
Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang
dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak
satu pun jawaban yang memuaskan.
Sang guru lalu berkata, "Ketika dua orang sedang
berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua
hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik
mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak
yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya,
semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka
menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang
ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi.
Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."

Sang guru masih melanjutkan, "Sebaliknya, apa yang
terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta?
Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka
berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu
halus dan kecil. Sehalus apa pun, keduanya bisa
mendengarkan nya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?"

Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya.
Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan
jawaban.

"Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka
tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak
perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah
cukup membuat mereka memahami apa yang ingin
mereka sampaikan."

Sang guru masih melanjutkan, "Ketika Anda sedang
dilanda kemarahan, jangan lah hatimu
menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak
mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di
antara kamu. Mungkin di saat seperti itu,
tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara
yang bijaksana. Karena waktu akan membantu Anda."

sent by haryono99@gmail.com

Minggu, 10 Januari 2010

Ilustrasi Ramesh

Ilustrasi Ramesh

'Mengapa ada beberapa orang yang mampu melewati badai cobaan paling dahsyat
dalam hidupnya dan tetap berdiri tegar.
Sementara beberapa lainnya selalu mengeluh, complain terus tentang setiap
gangguan kecil dalam hidupnya dan akhirnya semakin terpuruk?'

Ramesh menjelaskan-nya dalam kisah ilustrasi yang sangat indah ini.

'Suatu saat, hidup seorang yang sangat dipenuhi oleh roh kasih dalam
hidupnya.
Ketika ia meninggal, semua orang mengira bahwa manusia sepertinya pasti
langsung masuk ke Surga.

Tetapi karena sesuatu dan lain hal, malaikat di Surga berbuat kesalahan.
Ia kelewatan nama orang itu dan berpikir karena orang tersebut tidak
terdaftar di Surga, tempatnya adalah di 'tempat satunya lagi' dan ia
langsung mengirimnya ke Neraka!

Dan di Neraka, tidak ada yang men-cek reservasi anda.
Semua yang dibuang di sana adalah penghuni abadi.
Jadi begitulah, orang tersebut tinggal tanpa membantah karena ia berpikir
mungkin dia belum layak untuk tinggal di surga.

Hanya seminggu kemudian, Raja Iblis pergi ke Surga.
Marah-marah menuduh bahwa Kerajaan Surga telah melakukan terorisme di
Neraka.

'Ada apa?', tanya malaikat Surga.

Sang Raja Iblis berteriak dengan murka.

"Apa maksud kalian mengirim orang ini ke Neraka.
Dia benar-benar merusak tempatku.
Sejak awal, dia tidak pernah membalas siapa pun yang menyakitinya. Malahan
ia selalu mendengarkan, mengasihi dan menghibur yang lain. Sekarang semua
penghuni di sekeliling orang ini mulai saling memeluk dan mengasihi satu
dengan lainnya.
Ini bukan Neraka yang ku-kehendaki.
Ini orangnya aku kembalikan, aku tidak perduli.
Pokoknya aku tidak bisa menerimanya di kerajaan-ku!"

Dan Ramesh menutup ceritanya dengan berkata,

"Maka hiduplah dengan penuh cinta dan kasih dalam hatimu.
Sehingga apa pun yang terjadi denganmu, sampai sekalipun malaikat melakukan
kesalahan dan mengirim-mu ke Neraka, Sang Iblis sendiri yang akan
mengantarmu kembali ke Surga."

Rabu, 06 Januari 2010

If life is so short....

If life is so short....

Saya pertama kali bertemu dengan Charles dan Linda Graham saat pasangan
asal
Amerika itu ikut serta dalam rombongan tur ke Eropa Barat yang saya pimpin,
kira-kira 12 tahun yang lalu. Ketika itu mereka mengadakan perjalanan dalam
rangka memperingati ulangtahun emas perkawinan mereka. Saya banyak
berkomunikasi dengan mereka sebab mereka duduk di baris pertama pada bus
yang kami kendarai sepanjang perjalanan, tepat di belakang bangku tempat
duduk saya.

Selama 14 hari perjalanan mengunjungi 9 kota di 5 negara, pasangan yang
sudah berusia lebih dari 70 tahun itu kerap menjadi perhatian saya. Bukan
karena saya mengkhawatirkan kondisi fisik mereka yang mungkin kelelahan
akibat perjalanan panjang, karena untuk ukuran kebanyakan orang seusianya,
mereka tergolong cukup sehat dan lincah. Yang saya perhatikan justru
bagaimana mereka tampak begitu menikmati setiap momen dalam perjalanan
tersebut.

'Pengamatan' yang saya lakukan secara sembunyi-sembunyi terhadap mereka -
entah
dengan mencuri pandang melalui kaca spion bus yang kebetulan mengarah
langsung pada mereka, atau memperhatikan bagaimana mereka berunding untuk
menentukan mau pergi ke mana ketika acara bebas-membuat saya melihat ada
sesuatu yang 'berbeda' diantara keduanya dibandingkan para peserta lain.
Keduanya tampak sangat ceria, yang terpancar jelas dari raut wajah mereka
yang sudah dipenuhi keriput.

Rasa penasaran saya atas pasangan Charles dan Linda belum sempat terjawab
ketika perjalanan yang kami lakukan sudah harus berakhir. Seluruh rombongan
berpisah untuk kembali ke tempat tinggal masing-masing, sementara saya
melanjutkan hidup saya seperti biasa.

Setahun berikutnya, ketika ditugaskan untuk memimpin sebuah rombongan tur
ke
Eropa Timur, secara tak sengaja saya bertemu lagi dengan Charles dan Linda
yang ternyata juga ikut serta dalam rombongan tur yang saya pimpin saat
itu.
Kali ini mereka melakukan perjalanan untuk merayakan ulangtahun perkawinan
yang ke-51.

Lantaran sudah saling kenal sebelumnya, kami menjadi cepat akrab.
Sebenarnya, saat itu saya hanyalah seorang tur leader pengganti lantaran
tur
leader yang seharusnya memimpin perjalanan tersebut mendadak jatuh sakit.
Di
awal perjalanan, saya berterus terang kepada para peserta tur bahwa saya
kurang familiar dengan rute perjalanan kali ini.

Di luar dugaan, Charles secara diam-diam berbicara banyak tentang saya
kepada para peserta tur lainnya berdasarkan pengalaman yang dialaminya saat
ikut serta dalam rombongan tur yang saya pimpin setahun sebelumnya. Tentang
bagaimana saya sudah menjadi tur leader yang menurut dia sangat baik dan
caring serta berbagai hal-hal positif lainnya.

Berkat dia pulalah, sebagian besar peserta tur jadi memiliki penilaian
positif terhadap saya. Konsekuensinya, saya jadi lebih tertantang untuk
berbuat semaksimal mungkin, memberikan kualitas layanan yang terbaik dan
memuaskan.

Pengalaman memimpin grup tur ke Eropa Timur saat itu adalah awal perjalanan
karir saya sebagai seorang tur leader, namun justru di saat saya merasa
banyak kemungkinan untuk melakukan kesalahan karena minimnya 'jam terbang'
dan penguasaan medan, hampir seluruh peserta tur malah memberikan dukungan
positif atas apa yang saya lakukan saat itu sehingga saya merasakan situasi
yang nyaman sepanjang perjalanan tersebut. Dan semua itu disebabkan karena
berbagai pernyataan positif yang disampaikan oleh Charles.

"Hidup ini terlalu singkat untuk dijalani, kalau bisa membuatnya lebih
indah, kenapa harus dijalani dengan airmata. Kalau bisa memotivasi orang
lain dengan pujian, mengapa kita harus menyampaikannya dengan
celaan?*"*demikian kata Linda saat saya menyampaikan terimakasih atas
'promosi' yang
dilakukan suaminya untuk saya.

Prinsip *"Life is too short"* yang dianut oleh Charles dan Linda itu
membuat
saya merenung tentang makna hidup yang sudah saya jalani saat ini. Usia
pernikahan yang mereka jalani hingga sanggup mencapai angka di atas 50
tahunadalah suatu hal yang langka, dan menurut saya perjalanan hidup
mengarungi
kehidupan selama 70 tahun lebih bukanlah waktu yang singkat pula.

"Kita tidak pernah tahu kapan hidup ini bakal berakhir, kapan saat terakhir
kita bakal bertemu dengan orang yang kita kasihi. Bisa saja besok saya atau
kamu dipanggil Tuhan, dan alangkah menyesalnya kita ketika menyadari betapa
banyak hal yang sebenarnya ingin kita capai, ternyata tidak pernah
terwujudkan. Jika setiap saat kita berpikir bahwa hidup ini terlalu singkat
untuk dijalani, maka kita akan termotivasi untuk memberikan makna terbaik
pada hari-hari yang kita jalani saat ini*,*" demikian ungkap Charles
panjang
lebar. "Dan jika pada kenyataannya kita diberi anugerah untuk menjalani
hidup ini lebih lama, bukankah hari-hari yang sudah kita lalui bakal
menjadi
rangkaian kenangan nan indah? "

Selama kehidupan pernikahan kami, rasanya kami tidak sempat meributkan
hal-hal kecil karena waktu kami telah tersita dengan pemikiran bagaimana
mengisi hari-hari 'pendek' kami dengan sebaik mungkin."

Perkataan Charles dan Linda itu terus melekat di benak saya hingga kini.
Prinsip hidup yang mereka anut telah berhasil mempengaruhi jalan pemikiran
saya, sehingga sejak saat itu saya menjalani kehidupan dengan lebih
bersemangat.

Ketika menikah beberapa tahun yang lalu, saya bersama istri juga telah
bersepakat untuk menjalani kehidupan ini dengan prinsip *'life is so
short'*.
Setiap saat kami selalu berpikir bagaimana caranya agar mengisi hari-hari
kami dengan sebaik mungkin. Peringatan hari ulang tahun saya dan istri,
maupun ulangtahun pernikahan, kami menjadi ajang untuk introspeksi tentang
hari-hari yang telah kami lewati bersama, sekaligus merencanakan apa yang
akan kami lakukan untuk kurun waktu setahun ke depan.

Kami menjadi lebih ekspresif dalam mengungkapkan isi hati dan perasaan
masing-masing dan tidak ragu-ragu untuk saling mempersembahkan yang terbaik
dan berupaya untuk saling membahagiakan satu sama lain. Setiap kali ada
konflik yang terjadi, kami berupaya untuk menyelesaikannya dengan sesegera
mungkin.

Banyak orang yang mengatakan bahwa kehidupan rumah tangga yang kami jalani
barulah 'seumur jagung', sehingga saat ini kami baru menikmati yang
manis-manis saja. Memang benar, selama hampir dua tahun kehidupan
pernikahan
kami, hampir bisa dipastikan kami jarang bertengkar. Perselisihan memang
ada, namun kami berdua senantiasa mengupayakannya agar persoalan yang kami
hadapi tidak melebar dan meluas ke mana-mana. "*If you can make it simple,
why make it hard?*", begitu kata Linda .

Apabila setiap saat kami mempertahankan prinsip yang sama dalam menjalani
hidup ini, dan ketika nantinya kami dikaruniakan umur panjang untuk bisa
merayakan ulangtahun pernikahan yang ke-10, 20, 30 atau bahkan yang ke-50
seperti Charles dan Linda , wow.... betapa bernilainya hari-hari yang telah
kami jalani selama ini, dan betapa banyak kenangan indah yang telah terukir
sepanjang kehidupan ini.

Dan kalaupun toh kami tidak dikaruniakan usia yang panjang, setidaknya kami
berdua sudah pernah melewati hari-hari yang indah bersama-sama.

Beberapa bulan yang lalu, saya mendapat kiriman surat dari Linda (kami
memang sering saling berkirim surat semenjak pertemuan kami di Eropa
bertahun-tahun lalu). Di suratnya Linda menceritakan bahwa Charles telah
meninggal dunia, beberapa saat setelah peringatan ulangtahun pernikahan
mereka yang ke-62. Herannya, saya tidak menangkap kesan kesedihan di dalam
suratnya tersebut.

Bahkan dia mengatakan bahwa mereka berdua sudah sejak lama bersiap
menghadapi momen perpisahan yang tak mungkin terelakkan oleh manusia
manapun
di dunia ini. Linda mengungkapkan bagaimana beruntungnya mereka bisa
melewati saat kebersamaan yang panjang, dan bersyukur atas begitu banyak
peristiwa yang boleh mereka jalani berdua. Dan ketika memang 'saat' itu
tiba, yang terungkap justru rasa syukur karena telah diberi banyak
kesempatan untuk menjalani hari demi hari bersama dengan orang yang
dicintainya.

*When you think your life is so short and when you always keep trying to
fill up your days with cheers and laughter; someday you'll be amazed, how
many great moments you've been through in your lifetime.* Itulah kalimat
penutup yang ditulis Linda Graham dalam surat terakhir yang dikirimkannya
pada saya.

MARI BELAJAR TERUS

Mari belajar terus

Dari tetesan air mata, kita belajar mengerti,
dari rasa kuatir, kita belajar mempercayai,
dari kehilangan, kita belajar menghargai,
dari kesalahan, kita belajar memaafkan.

Dikatakan memang manusia harus belajar seumur hidup,
bukan hanya di bangku sekolahan saja, tetapi juga di
masyarakat dan dari setiap proses kehidupan yang kita
jalani. Setiap menghadapi sesuatu, kita belajar dari hal
tersebut sehingga kita memiliki pengalaman.
Dengan pengalaman, maka kita dapat mengambil
tindakan di kemudian hari dengan lebih baik dan lebih
tepat.

Sekarang marilah kita belajar dari setiap hal kecil yang
kita alami. Pada saat kita memiliki keinginan,
seringkali keinginan itu tidak terwujud, sehingga kita
meneteskan air mata karena kecewa. Tetapi dengan
berjalannya waktu, kita menyadari bahwa hal tersebut
ternyata membawa dampak lain yang lebih baik;
semuanya telah Tuhan atur sehingga indah dan tepat pada
waktunya. Dari hal ini kita memperolah pengertian baru
yang harus kita sukuri.

Saat kita merasa kuatir, kita menyerahkannya kepada
Tuhan dalam doa, dan ... ternyata semua kekuatiran kita
tidak terwujud. Nah disini kita belajar percaya bahwa
Tuhan selalu menyertai umatNya yang percaya. Saat kita
kehilangan barang atau seseorang, kita baru menyadari
akan pentingnya barang atau orang itu. Dulu kita tidak
menghargainya, dan sekarang ternyata kita
membutuhkannya, karena itu marilah kita menghargai
semua barang dan teman atau keluarga yang ada di
samping kita. Janganlah terlambat sehingga kita menyesal
di kemudian hari.

Tidak ada manusia yang terlepas dari kesalahan, diri kita
pun sering berbuat salah, karena itu marilah kita
berempati kepada orang yang telah berbuat salah
sehingga kita dapat membuka pintu hati untuk memaafkannya. Amin !

Hayono

Selasa, 05 Januari 2010

Sifat Kepiting

Sifat Kepiting

Mungkin banyak yang tahu wujud kepiting, tapi tidak
banyak yang tahu sifat kepiting. Semoga Anda tidak
memiliki sifat kepiting yang dengki.

Di Filipina, masyarakat pedesaan gemar sekali menangkap
dan memakan kepiting sawah. Kepiting itu ukurannya
kecil namun rasanya cukup lezat. Kepiting-kepiting itu
dengan mudah ditangkap di malam hari, lalu dimasukkan
ke dalam baskom/wadah, tanpa diikat.

Keesokkan harinya, kepiting-kepiting ini akan direbus
dan lalu disantap untuk lauk selama beberapa hari.
Yang paling menarik dari kebiasaan ini,
kepiting-kepiting itu akan selalu berusaha untuk keluar
dari baskom, sekuat tenaga mereka, dengan menggunakan
capit-capitnya yang kuat.

Namun seorang penangkap kepiting yang handal selalu
tenang meskipun hasil buruannya selalu berusaha
meloloskan diri.

Resepnya hanya satu, yaitu si pemburu tahu betul sifat
si kepiting. Bila ada seekor kepiting yang hampir
meloloskan diri keluar dari baskom, teman-temannya
pasti akan menariknya lagi kembali ke dasar.

Jika ada lagi yang naik dengan cepat ke mulut baskom,
lagi-lagi temannya akan menariknya turun... dan begitu
seterusnya sampai akhirnya tidak ada yang
berhasil keluar.

Keesokan harinya sang pemburu tinggal merebus mereka
semua dan matilah sekawanan kepiting yang dengki itu.
Begitu pula dalam kehidupan ini...

Tanpa sadar kita juga terkadang menjadi seperti
kepiting-kepiting itu. Yang seharusnya bergembira jika
teman atau saudara kita mengalami kesuksesan kita
malahan mencurigai, jangan-jangan kesuksesan itu diraih
dengan jalan yang nggak bener.

Apalagi di dalam bisnis atau hal lain yang mengandung
unsur kompetisi, sifat iri, dengki, atau munafik akan
semakin nyata dan kalau tidak segera kita sadari tanpa
sadar kita sudah membunuh diri kita sendiri.

Kesuksesan akan datang kalau kita bisa menyadari bahwa
di dalam bisnis atau persaingan yang penting bukan
siapa yang menang, namun terlebih penting dari itu
seberapa jauh kita bisa mengembangkan diri
kita seutuhnya.

Jika kita berkembang, kita mungkin bisa menang atau
bisa juga kalah dalam suatu persaingan, namun yang
pasti kita menang dalam kehidupan ini.

Pertanda seseorang adalah 'kepiting', jika :

1. Selalu mengingat kesalahan pihak luar (bisa orang
lain atau situasi) yang sudah lampau dan menjadikannya
suatu prinsip/pedoman dalam bertindak

2. Banyak mengkritik tapi tidak ada perubahan

3. Hobi membicarakan kelemahan orang lain tapi tidak
mengetahui kelemahan dirinya sendiri sehingga ia hanya
sibuk menarik kepiting-kepiting yang akan keluar dari
baskom dan melupakan usaha pelolosan dirinya sendiri.

Seharusnya kepiting-kepiting itu tolong-menolong
keluar dari baskom, namun yah... dibutuhkan jiwa yang
besar untuk melakukannya...

Coba renungkan berapa waktu yang Anda pakai untuk
memikirkan cara-cara menjadi pemenang.
Dalam kehidupan sosial, bisnis, sekolah, atau agama.

Dan gantilah waktu itu untuk memikirkan cara-cara
pengembangan diri Anda menjadi pribadi yang sehat
dan sukses.


haryono99@gmail.com