Rabu, 09 September 2009

KEBERUNTUNGAN

KEBERUNTUNGAN
Kategori: Artikel - Pekerjaan

Dalam acara Business Art With Mario Teguh di saluran O-Channel, ada
seorang yang bertanya, "Berapa persen peran keberuntungan dalam
menentukan sebuah kesuksesan?"

Karena sebelumnya Mario Teguh selalu menekankan tentang berpikir positif
dan bertindak positif untuk mencapai hal yang positif, saya jadi
bertanya-tanya, apa jawaban yang akan diberikannya. Sebab umumnya orang
beranggapan bahwa keberuntungan itu adalah sesuatu hal yang berada di
luar kepastian sebuah teori yang matematis.

"Luck" bagi banyak orang adalah suatu misteri, sehingga di dalam saku
atau dompet dengan diam-diam orang membawa sebentuk "jimat
keberuntungan." Benda-benda yang sudah didoakan atau dikeramatkan
diharapkan bisa membawa keberuntungan bagi pemiliknya.

Tentunya kita masih ingat akan ikan arwana yang harganya bisa mencapai
puluhan juta rupiah karena dianggap bisa memberi keberuntungan. Padahal
dahulu kala di tempat asalnya, ikan Arwana termasuk dalam daftar menu
makanan kegemaran penduduk setempat.

Saya termasuk seberuntung saudara kita di pedalam Kalimantan, karena
pernah menikmati daging ikan Arwana milik saudara yang tiba-tiba sekarat
karena salah makan. Terasa nikmat lebih karena membayangkan sedang
menyantap daging seekor ikan yang pernah ditawar jutaan rupiah, tetapi
berakhir tragis di penggorengan.

Fengshui bagi sebagian orang juga dipercaya mengubah keberuntungan lebih
besar bagi yang mengikutinya. Bahkan ada saluran TV yang secara khusus
menayangkan program fengshui, dan ternyata menjadi tayangan dengan
rating yang tinggi - karena memang orang sangat rindu untuk meraih
keberuntungan hidup.

Keberuntungan adalah hal yang diliputi kabut misteri yang menyebabkan
orang mengambil kesempatan dengan menawarkan barang dan jasa yang bisa
menyingkap kabut kalau-kalau bisa menemukan keberuntungan dibaliknya.
Beruntung adalah lawan dari sial, yang kedatangannya pasti dihindari
oleh semua orang.

Kemudian apa jawaban Mario Teguh ? Seperti biasa sambil tersenyum dan
penuh percaya diri dia menjawab, "Orang menempuh pendidikan yang baik
supaya hidupnya beruntung. Orang berpakaian dengan rapi dan baik supaya
beruntung. Orang menjaga tutur kata dan tingkah lakunya supaya beruntung
dalam pergaulan. Orang melakukan semua hal yang baik supaya beruntung
dalam hidupnya."

"Jadi berapa persen peran keberuntungan dalam sebuah kesuksesan?
Jawabnya adalah Seratus Persen!"

Hebat sekali sekali jawaban yang diberikan. Mengubah hal yang diluar
perkiraan dan tidak terukur (intangible) menjadi hal yang terukur
(tangible) dan masuk akal. Semua penonton di studio dan juga di rumah
setuju dan membenarkan jawaban jitu yang diberikan oleh Mario Teguh.

Tetapi kemudian saya melihat hal berbeda - bukan karena mau mengkritisi
atau merasa lebih pintar dari Mario Teguh. Saya lebih melihat bahwa
keberuntungan yang disampaikannya adalah bentuk "keberuntungan yang
diusahakan."

Orang dengan pendidikan yang tinggi mempunyai tingkat keberuntungan yang
lebih besar daripada yang berpendidikan rendah. Orang dengan penampilan
fisik yang sempurna akan lebih beruntung dalam hidupnya dibandingkan
yang cacat. Orang yang kuper (kurang pergaulan) tidak akan seberuntung
orang yang pergaulannya luas. Dan masih banyak deretan yang lain untuk
menunjukkan bahwa semua yang terbaik dan sempurna bisa menciptakan
keberuntungan yang lebih. Semua alasan itu mudah untuk dipahami.

Tetapi disamping "keberuntungan yang diusahakan" saya akan menambahkan
dengan "keberuntungan yang dianugerahkan". Akan tetapi kita harus
hati-hati dengan keberuntungan yang kedua untuk tidak menjadi latah
dengan gambaran jimat ataupun ikan arwana di penjelasan awal.

Di kantor, saya menemukan orang melamar pekerjaan dengan ijazah SMU
karena itu yang dibutuhkan dibandingkan dengan ijazah sarjana yang
dimiliki.

Ada teman wanita yang cantik, pintar, karir bagus dan sudah ingin
menikah tetapi tidak ada yang mengajukan proposal padanya. Sempat dia
memburu cowok idamannya, tetapi pelaminan ternyata berpihak pada wanita
lain yang tampak biasa-biasa saja.

Ada staf di kantor yang pendidikannya tinggi, pintar, pribadinya
simpatik, mudah bekerjasama dengan baik - tetapi di manapun ditempatkan
tidak mencapai target karir yang membuatnya frustrasi. Sampai akhirnya
saya ajak dia untuk bergabung dengan team di proyek yang saya kerjakan.
Baru saya tahu penyebab utamanya, yaitu entah kenapa dia selalu berada
di tempat dan waktu yang tidak tepat.

Banyak kali, dia tidak ada di tempat karena sedang ditugaskan untuk
mengerjakan pekerjaan yang lain. Padahal momen itu berguna bagi
karirnya. Walaupun saya sudah berusaha memberi jalan untuk membantunya,
mendorong semangatnya, tetapi pada akhirnya selalu ada saja yang
membuatnya tidak berhasil.

Kemudian dia resign. Ternyata hanya beberapa minggu setelahnya ada
program penyegaran perusahaan yang menawarkan kompensasi resign dengan
nominal yang lebih tinggi. Karena surat resignnya terlanjur sudah
diterima oleh management sebelumnya, maka dia tidak bisa menerima
kompensasi sebesar yang ada di program penyegaran.

Karena ketidakberhasilan bekerja dengan orang lain, dia memutuskan untuk
wirasrasta. Tetapi setelah itu saya mendengar usahanya juga bermasalah
cukup serius. Saya sampai bingung sendiri melihat kenyataan itu, dan
akhirnya mengakui bahwa dia adalah orang yang 'tidak beruntung'.

Saya punya banyak teman yang merasa tidak seberuntung yang lain -
walaupun tingkat pendidikannya lebih tinggi. Walaupun dia sudah berusaha
bekerja sama dengan semua pihak. Walaupun sudah mengorbankan waktu dan
pikiran untuk lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan keluarga dan
hubungan sosial; tetapi tetap saja mereka merasa tidak sukses - sehingga
harus berpindah dari satu tempat kerja ke tempat yang lain. Sehingga
akhirnya memutuskan untuk berhenti berpindah dan menekuni satu pekerjaan
dengan merasa tetap tidak berhasil.

Kalau saya mengajukan sebuah pertanyaan, "Apakah anda merasa beruntung
saat ini?" Saya percaya jawaban yang saya terima adalah lebih banyak
gelengan kepala dengan perasaan sedih. Kenapa bisa seperti itu? Karena
semua usaha dan kerja keras yang sudah dilakukan untuk membuatnya
beruntung ternyata tidak sebanding dengan harapan keuntungan ataupun
sukses yang sudah diraih. Itu yang membuat orang merasa tidak sukses
atau bahkan merasa gagal dalam hidup.

Mereka pada akhirnya merasa gagal karena berusaha meraih keberhasilan
dengan menggunakan "Keberuntungan yang diusahakan."

Ada jalan keluar yang lebih manjur untuk mencapai kesuksesan diluar
cara-cara pengumpulan jimat, fengshui atau pun kerja keras untuk
membentuk "kebentungan yang diusahakan." Cara yang ampuh yaitu dengan
menggunakan jurus, "keberuntungan yang dianugerahkan."

Petrus, Thomas, Natanael dan dua orang murid Tuhan Yesus adalah para
profesional penjala ikan. Tetapi dengan semua kemampuan yang membuatnya
bisa memperoleh "Keberuntungan yang diusahakan," semalam-malaman mereka
bekerja dan tidak menangkap apa-apa. Nothing! Tidak ada satu ikan pun
yang berhasil diperoleh.

Tetapi menjelang siang, mereka kembali melaut dengan berbekal
"Keberuntungan yang dianugerahkan" oleh Tuhan Yesus, dan mereka
memperoleh ikan-ikan besar sebanyak seratus lima puluh tiga ekor dan
jalanya tidak koyak (Yohanes 21:11).

Memang tetap diperlukan keahlian dan usaha mereka sebagai "keberuntungan
yang diusahakan." Mereka harus bisa mengendalikan perahu, harus bisa
membuat jala, harus bisa menebarkan jala dan menarik jala dengan benar
serta semua keahlian yang harus dimiliki oleh seorang nelayan. Akan
tetapi keberhasilan memperoleh ikan ternyata hanya karena "keberuntungan
yang dianugerahkan."

Berapa besar perbandingan keduanya? Kalau diperhitungkan terhadap hasil
akhir dan kesuksesan yang diraih, maka porsi "keberuntungan yang
diusahakan" sekitar 10% dan "Keberuntungan yang dianugerahkan" sebesar
90%. Ada yang menyebut 15% dan 85%, tetapi semuanya setuju bahwa
"keberuntungan yang dianugerahkan" menduduki peran yang paling utama.

Apa kata TUHAN melalui nabi Yeremia mengenai kedua macam keberuntungan
ini?

Pertama, mengenai "keberuntungan yang diusahakan," dalam Yeremia 17:5
dikatakan :
"Beginilah firman TUHAN: 'Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia,
yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari
pada TUHAN!' "

Ternyata TUHAN sama sekali tidak berkenan dengan orang yang MENGANDALKAN
kesuksesannya pada "keberuntungan yang diusahakan." Kemampuan dasar
memang harus dimiliki dan kerja keras harus dilakukan - tetapi itu lebih
dipandang sebagai sarana pendukung saja. Sebab jika itu yang menjadi
andalan untuk memperoleh keberhasilan, maka TUHAN justru berfirman
sebaliknya: "Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak
akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di
padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk."

Melihat hasil dari jerih payah yang sia-sia itu, kita bisa menyimpulkan
dengan satu kalimat pendek, "Capek deh ...."

Sekarang bagaimana dengan "keberuntungan yang dianugerahkan" ? TUHAN
rupanya menjamin dengan firmanNya, "Diberkatilah orang yang mengandalkan
TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN." (Yeremia 17:7)

Kemudian hasil yang bisa dicapai dengan "keberuntungan yang
dianugerahkan" itu adalah: "Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi
air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak
mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak
kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah."

Suatu kesuksesan yang luar biasa yang pasti dicapai oleh orang yang
mengandalkan dan bergantung kepada, "keberuntungan yang dianugerahkan."
Dahsyat...

Saya merasa tidak memiliki cukup "keberuntungan yang diusahakan."
Pendidikan saya tidak setinggi teman-teman ataupun bahkan staf saya.
Penampilan fisik saya jauh dibanding dengan mereka yang memiliki
kriteria tampan dan keren. Yang yang lebih parah, saya merasa otak di
kepala ini tidak secanggih anak-anak muda jaman sekarang. Saya termasuk
orang yang gaptek alias 'gagap teknologi'.

Walaupun dengan segudang kelemahan dan kekurangan, tetapi saya
dilahirkan sebagai manusia biasa yang juga memiliki harapan dan
keinginan untuk bisa berhasil dan sukses dalam hidup. Karena merasa
tidak ada pilihan dan harapan di bagian yang pertama, maka saya bisanya
hanya bergantung pada pilihan yang kedua yaitu pada "keberuntungan yang
dianugerahkan."

Ya, seperti Petrus dan teman-temannya, saya melengkapi diri dengan
kemapuan dasar supaya bisa bekerja dengan baik.

Seingat saya setelah itu, saya diterima bekerja di tempat ini dengan
menyingkirkan ratusan pelamar yang lain adalah karena pada setiap
tahapan test, saya selalu minta didoakan oleh ibu saya. Jadi Tuhan
mengabulkan doa ibu saya dan saya bisa pindah kerja di tempat ini.

Saya bersyukur karena di dalam kebodohan saya, Tuhan memberikan para
staf yang berpendidikan tinggi, pintar dan cemerlang, sehingga semua
angan-angan dan gambaran yang mustahil sekalipun bisa diwujudkan secara
mengagumkan. Bahkan lebih progresif dibandingkan dengan proyek sama yang
dikerjakan di group perusahaan di luar negeri. Apa jadinya pekerjaan
saya tanpa didukung oleh para staf yang loyal dan berdedikasi tinggi.
Mereka bahkan selalu setia 'mengikuti' kemana saja saya ditempatkan, dan
saya sangat bersyukur untuk itu.

Tuhan juga telah mempertemukan saya dengan orang-orang yang ternyata di
kemudian hari sangat menopang pekerjaan dan karir saya baik di Indonesia
maupun di luar negeri. Saya melihat itu semua sebagai keping-keping
puzzle yang ternyata baru terlihat gambar indahnya setelah
bertahun-tahun terlewati.

Kalau diibaratkan seekor burung, saya tidak perlu terus menerus memeras
energi dan pikiran untuk mengepak supaya bisa terbang tinggi. Memang
tetap harus diperlukan kepakan sayap awal supaya bisa terangkat ke
angkasa. Tetapi setelah itu lebih banyak melayang, mengikuti dorongan
angin lembut dan nyaman, yang menjaga ketinggian di udara bahkan
mendukung untuk dapat terbang lebih tinggi lagi.

Saya merasa bahwa usaha dan kerja keras yang saya lakukan tidak
sebanding dengan keberhasilan yang telah saya peroleh - dibandingkan
dengan mereka yang harus 'jungkir balik' tetapi tetap tidak bisa
mencapainya. Ini yang terkadang membuat orang merasa iri melihat
"kesuksesan" yang saya terima - dan keingintahuan mereka saya jawab
dengan, "Semuanya terjadi hanya karena 'keberuntungan yang
dianugerahkan' oleh Tuhan saja ..."

Ya, "keberuntungan yang dianugerahkan" pada kenyataannya merupakan 90%
penentu dari semua keberhasilan yang bisa dicapai. Semua usaha dan kerja
keras untuk membuat "keberuntungan yang yang diusahakan" hanya
menyumbang 10%, dan tidak lebih sebagai sebuah langkah awal.

'Sepuluh persen' pun bisa tidak membuahkan hasil apa-apa seperti Petrus
dengan segala keahliannya sebagai nelayan yang berusaha keras semalaman
menjaring ikan tetapi kembali tanpa menangkap seekor pun. Akan tetapi
usaha yang 'sepuluh persen' akan berbuah keberhasilan yang menakjubkan,
manakala yang 'sembilan puluh persen' turut terlibat di dalamnya.

Jika demikian halnya, mengapa kita tidak mengandalkan diri pada
"keberuntungan yang dianugerahkan" ; sehingga membuat kita dengan bangga
mampu untuk mengaku, "Bahwa pertolongan kita adalah di dalam nama Tuhan
yang menciptakan langit dan bumi." Bukankah itu adalah kunci rahasia
keberuntungan yang dahsyat dan super?

Selasa, 08 September 2009

SEBERAPA DALAMNYA AKAR ITU?

*SEBERAPA DALAMNYA AKAR ITU?

*Pada suatu hari, seorang tua yang bijaksana berjalan melalui hutan bersama
seorang muda yang terkenal tidak bisa bertanggung jawab dan berkepala batu.
Orang itu menghentikan langkahnya, lalu menunjuk sebuah pohon yang masih
kecil sekali. "Cabutlah pohon itu", katanya. Dengan segera pemuda itu
membungkuk dan hanya dengan dua jari saja secara mudah dia dapat mencabut
pohon itu.

Setelah berjalan lebih jauh lagi, orang tua itu berhenti di depan sebuah
pohon yang sudah agak besar tumbuhnya.
"Coba cabutlah pohon ini", katanya.
Sekali lagi pemuda itu menuruti perintahnya, namun kali ini dia menggunakan
kedua tangannya dan tenaga untuk mencabut akar pohon itu. Akhirnya mereka
berhenti lagi di depan sebuah pohon yang besar sekali.
"Sekarang, cabutlah pohon ini!" perintahnya lagi.

"Wah, hal ini tidak mungkin!" protes pemuda itu.
"AKu tidak dapat mencabut pohon sebesar ini. Untuk memindahkannya
diperlukan sebuah buldozer."
"Engkau benar sekali", jawab sang orang tua.

Kebiasaan, entahlah itu baik ataupun buruk, sama seperti pohon-pohon itu.
Kebiasaan yang belum berakar dalam, seperti pohon yang masih kecil sekali,
dapat dicabut dengan mudahnya. Kebiasaan yang akarnya mulai dalam adalah
seperti pohon yang sudah agak besar tumbuhnya. Untuk mencabutnya diperlukan
usaha dan tenaga sekuat mungkin. Kebiasaan yang telah lama sekali sudah
terlalu dalam akarnya sehingga orang itu sendiri tidak mungkin lagi bisa
mencabutnya. Jagalah dirimu agar akar kebiasaan yang sedang engkau tanamkan
itu adalah kebiasaan yang baik.

Sumber : Milis Tetangga

OMONG KOSONG

OMONG KOSONG

Ketika Sang Guru berbicara tentang daya hipnotis kata-kata, seseorang dari
bagian belakang berteriak, "Anda omong kosong! Jika saya mengatakan Allah,
Allah, Allah, apakah itu akan membuat saya ilahi? Dan jika saya mengatakan
dosa, dosa, dosa, apakah itu akan membuat saya jahat ?"

"Duduk, bajingan!" kata Sang Guru.

Kontan saja, orang itu segera naik pitam. Mukanya merah padam. Ia terdiam
sesaat, lalu dengan suara serak ia ungkapkan rasa tersinggung dan sakit
hatinya.

Sang Guru kelihatan menyesal sekali dan kemudian berkata, "Maafkan saya,
Tuan, saya memang khilaf. Saya sungguh-sungguh minta maaf atas kelancangan
yang tidak termaafkan itu."

Orang itu segera menjadi tenang.

"Nah, kini kamu tahu jawabnya. Satu kata membuat kamu naik pitam dan satu
kata yang lainnya menenangkan kamu," kata
Sang Guru.

Dari: Berbasa-basi Sejenak, Anthony de Mello, Penerbit
Kanisius, Cetakan 1, 1997.

Kamis, 03 September 2009

Cara Mengendalikan & Merubah Perasaan

CARA MENGENDALIKAN DAN MERUBAH PERASAAN

Mengapa kita harus mengendalikan perasaan kita ?

Ada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa manusia mempunyai sebanyak
60.000 pikiran dalam sehari. Tentu tidak mudah untuk memilah pikiran mana
yang positif dan mana yang negatif dari sekian puluh ribu pikiran tersebut.
Ada cara yang paling mudah untuk mengetahui pikiran mana yang positif dan
pikiran mana yang negatif yaitu lewat PERASAAN ( EMOSI ).

Bob Doyle – salah satu tokoh dalam film The Secret – mengatakan bahwa emosi
adalah hadiah yang luar biasa, yang membuat kita mengetahui apa yang kita
pikir. Intinya jika perasaan kita senang, gembira, bersyukur berarti
pikiran kita sedang berada di area yang positif. Jika perasaan kita sedih,
cemas, gelisah, takut, iri hati, dlsbnya berarti pikiran kita sedang berada
di area yang negatif.

Perasaan "GOOD" --> Berpikir yang "GOOD" --> Menarik hal-hal yang "GOOD".
Perasaan "BAD" --> Berpikir yang "BAD" --> Menarik hal-hal yang "BAD".

Perasaan yang baik akan menghasilkan pikiran yang baik. Pikiran yang baik
diwujudkan dalam bentuk perkataan dan perbuatan yang baik. Perkataan dan
perbuatan yang baik jika dilakukan secara rutin akan menjadi kebiasaan yang
baik. Kebiasaan yang baik ini akan membentuk watak / karakter yang baik
pula. Dan inilah yang menentukan masa depan kita. Kira-kira begitu cara
kerjanya.

Contoh : Jika pagi hari kita bangun dengan perasaan / mood yang negatif
karena habis dimarahi atasan pada hari sebelumnya, maka pikiran kita kurang
lebih akan berkata : "Ah, hari ini saya malas ke kantor. Terlambat sedikit
ga pa pa lah.", "Hari ini saya ijin saja karena lagi ga mood.", ataupun
jika tetap berangkat ke kantor maka dilakukan dengan setengah hati.
Sesampai di kantor, jika mood ini tetap dipertahankan maka perkataan dan
perbuatan di kantor pasti akan negatif, misalnya : Gosip menjelekkan
atasan, menjelekkan kondisi perusahaan, dll. Jika perbuatan dan perkataan
ini tetap dipertahankan selama seminggu maka akan menjadi kebiasaan. Jika
tidak gosip menjelekkan atasan, rekan kerja, perusahaan rasanya seperti ada
yang kurang.

Lebih mudah untuk membentuk karakter yang negatif daripada yang positif.
Setelah ini menjadi karakter yang negatif, maka bisa dipastikan kita akan
diperhatikan oleh orang lain ( atasan, rekan kerja, bawahan ). Anda
kemudian bisa menjawab sendiri, masa depan orang tersebut kira-kira seperti
apa. ) Padahal awal mulanya hanya dari "perasaan".

Pikiran dan Perasaan Anda membentuk hidup Anda. Akan selalu begini. Pasti
! – Lisa Nichols.

Cara merubah perasaan kita !

1. Merubah GERAK :

Coba Anda praktekkan ketika bangun pagi, Anda merasa malas untuk bangun,
walaupun mata masih tertutup, Anda paksakan bangun ( JANGAN LUPA UNTUK
SENYUM dan BERSYUKUR terlebih dahulu ) dan lakukan lompat-lompat kecil
selama 10 - 15 menit. Kira-kira setelah itu Anda akan lanjut tidur lagi ?
NO, Anda akan langsung ke kamar mandi untuk bersiap-siap ke kantor. Alasan
: Karena gerak yang Anda lakukan
merangsang aliran darah untuk lebih lancar mengalir ke seluruh pembuluh
darah dalam tubuh dan ke otak dan membuka pori-pori tubuh untuk
mengeluarkan keringat.

Gerak tubuh orang bersemangat bisa Anda bedakan dari gerak tubuh orang yang
tidak bersemangat. Jadi jika Anda sedang tidak bersemangat, coba ubah gerak
tubuh Anda menyerupai gerak tubuh orang yang bersemangat : Berjalan cepat,
kepala tidak menunduk, dada membusung, senyum. Ini akan membuat perasaan
Anda dari tidak bersemangat menjadi bersemangat ( lebih ceria ).

2. Merubah FOKUS :

Coba Anda lakukan hal ini ketika Anda sedang merasa negatif / bad mood :
Ubah fokus kita ke hal-hal atau pengalaman-pengalam an yang menyenangkan /
lucu / gembira / positif. Saya selalu membayangkan keberhasilan-
keberhasilan yang telah saya capai di masa lampau dan kegembiraan-
kegembiraan karena kesuksesan yang akan saya capai di masa yang akan datang
jika pikiran dan perasaan saya sedang negatif. Dengan demikian, saya akan
kembali terinspirasi dan termotivasi untuk kembali mengejar impian saya
walaupun sempat gagal di tengah jalan.

GAMPANG-GAMPANG SUSAH untuk melakukan hal ini. Tetapi ingat, awalnya hanya
dari "perasaan" dan berkembang menjadi kebiasaan. Jika kita lakukan secara
konsisten hal ini, maka ini dapat menjadi kebiasaan kita dan kita akan
lebih mudah untuk merubah perasaan kita.

3. Merubah SUARA INTERNAL :

Bayangkan ketika Anda menemani anak menonton film kartun dan mendengar
suara Donald Duck yang khas "wekkk ... wekkk ... wekkk ...". Mungkin Anda
akan turut tertawa atau tersenyum. Merubah suara interal berarti merubah
suara yang bagi kita terasa tidak mengenakkan ( misalkan umpatan, makian,
teguran dari atasan, klien, konsumen, rekan kerja, teman, dlsbnya ) menjadi
suara yang terdengar lucu bagi kita.

Suara yang terasa lucu bagi kita, misalkan suara Donald Duck yang khas,
suara orang berbicara gagap / terputus-putus, suara pria yang dibuat mirip
wanita, ataupun suara-suara lainnya yang menurut pengalaman Anda
masing-masing lucu. Dengan demikian akan merubah suasana hati menjadi lebih
positif dan bersemangat kembali.

4. Merubah ARTI :

Anda mungkin pernah membaca di surat kabar bahwa tingkat pengangguran yang
tinggi dan kehidupan ekonomi yang semakin sulit menyebabkan banyak orang
bunuh diri.

YES, Anda yang memberi arti terhadap hidup Anda. Jika si A menganggap
dirinya miskin segala-galanya, tidur di kolong jembatan, tidak punya
keluarga, makan dari sisa-sisa pemberian orang, dihina orang, cacat fisik,
dsbnya, kira-kira menurut Anda apakah yang akan dilakukan oleh si A ? Lebih
mungkin dia akan mengambil jalan pintas untuk bunuh diri.

Tetapi bandingkan dengan si B, dengan kondisi yang sama, tetapi dia memberi
arti lain bagi hidupnya. "Hari-hari seperti ini sudah cukup. Saya harus mau
berusaha lebih keras dan menghargai diri saya sehingga orang lain mau
menghargai saya juga." Dengan arti yang diberikan oleh si B, kemungkinan
dia untuk maju akan lebih terbuka.

5. Merubah SUASANA :

Pelatihan di alam terbuka akan membawa suasana dan hasil yang berbeda
dibandingkan dengan pelatihan di dalam ruangan. Tempat dan suasana yang
berbeda dari rutinitas sehari-hari bisa memberikan dampak yang
berbeda.

Contoh : Jika sehari-hari berada dan bekerja di kantor, maka cobalah pada
hari libur untuk mencari suasana yang berbeda. Ini berguna untuk
menyegarkan kembali suasana hati kita dan untuk pemulihan sel-sel
tubuh ( fisik ) kita.

Staff saya bahkan menyempatkan diri di sela-sela kesibukannya untuk
bersantai dan merubah suasana hati di lounge airport terminal internasional
J. Dengan begitu, menurut pengakuannya, sekembalinya dari tempat tersebut,
suasana hati menjadi lebih bersemangat dan positif. Entah mengapa. Mungkin
ada pengalaman yang menyenangkan / positif yang berhubungan dengan tempat
tersebut.

Sayapun suka membawa staff saya untuk pelatihan di alam terbuka ( enam
bulan sekali ). Terbukti, bahwa setelah kembali dari pelatihan, semangat
dan motivasi menjadi lebih terpacu. Silahkan dicoba !

6. Merubah INPUT :

Ketika Anda bersama keluarga menonton acara televisi : BUSER, PATROLI,
SERGAP, SMACK DOWN, dlsbnya, kira-kira apa komentar umum yang terlontar ?
"Koq, para penjahat tambah sadis ya ?", "Koq kota kita tambah ga aman ya
?", "Koq orang-orang jadi pada ga punya hati nurani ya ?" Akibatnya apa ?
Pikiran yang negatif mempengaruhi perasaan kita menjadi negatif.

Ubah perasaan kita menjadi positif dengan mendengarkan lagu-lagu
perjuangan, motivasi, misalnya : I Have A Dream – Westlife, The Power Of
The Dream – Celine Dion, We Are The Champion – Queen, dlsbnya. Baca
buku-buku motivasi dan pengembangan diri. Bacanya jangan 'Lampu Merah'
melulu. Ikut seminar, klub, organisasi, kursus untuk pengembangan
kepribadian dan bersosialisasi.

Dengan mengubah input yang masuk, kita memprogram ulang pikiran dan
perasaan kita untuk menjadi lebih baik.

Sharing selanjutnya adalah bagaimana cara untuk menggunakan dan
mengaplikasikan RAHASIA ini dalam hidup kita.

Orang paling bahagia

Orang paling bahagia

Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an
datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Saya menyiapkan
berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin
dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi. Sewaktu menunggu, pria tua
itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Saya merasa
kasihan. Jadi ketika sedang luang saya sempatkan untuk memeriksa lukanya,
dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang
perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan
dokter, saya putuskan untuk melakukannya sendiri.

Sambil menangani lukanya, saya bertanya : "Apakah dia punya janji lain
hingga tampak terburu-buru".
Lelaki tua itu menjawab : "Tidak, saya hendak ke rumah jompo untuk makan
siang bersama istri saya, seperti yang saya lakukan sehari-hari".
Kemudian dia menceritakan, bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak
beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer.
Lalu saya bertanya : "Apakah istrinya akan marah kalau dia datang
terlambat".
Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5
tahun terakhir.
Saya sangat terkejut dan berkata : "Bapak masih pergi ke sana setiap hari
walaupun istri Bapak tidak kenal lagi ?"
Dia tersenyum sambil tangannya menepuk tangan saya dan berkata : "Dia
memang tidak mengenali saya, tetapi saya masih mengenali dia, kan ?"

Saya terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tangan saya masih tetap
merinding, Cinta kasih seperti itulah yang saya mau dalam hidupku. Cinta
sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis. Cinta sejati adalah
menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan
terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi. Bagi saya pengalaman ini
menyampaikan satu pesan penting : Orang yang paling berbahagia tidaklah
harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, melainkan mereka dapat berbuat
yang terbaik dengan apa yang mereka miliki.


Sumber : Milis tetangga

Orang yang tidak pernah miskin

Orang yang tidak pernah miskin

Menjadi kaya, mungkin itu adalah impian banyak
sekali orang. Entah itu kaya secara material,
maupun kaya secara spiritual, apa lagi kaya
kedua-duanya, ia sudah menjadi magnet dengan daya
tarik yang demikian besar. Lebih dari delapan puluh
persen energi manusia terkuras untuk meraih ini semua.
Bahkan tidak sedikit manusia yang menghabiskan
hampir seluruh hayatnya hanya untuk menjadi kaya.
Tidak ada satupun manusia waras yang bercita-cita
untuk menjadi miskin.

Di tengah arus deras pencaharian seperti ini,
dalam renungan-renungan keheningan kadang
terpikir, adakah manusia yang tidak pernah miskin?
Ya sejak lahir sampai dengan meninggal, ia tidak
pernah mengalami kemiskinan. Kalau orang seperti itu
ada, betapa beruntungnya dia. Lama sempat saya
mencari orang-orang yang tidak pernah miskin ini.
Dari sekian desa dan kota yang sempat saya kunjungi.
Entah di negeri sendiri, atau di negeri orang,
sungguh teramat sulit menemukannya. Ada yang lahir
serta besar di keluarga kaya secara materi,
namun merasa diri paling miskin di dunia.
Sebab, selalu membandingkan dirinya dengan orang
yang lebih tinggi. Ada juga yang lahir dan tumbuh
di keluarga yang kaya secara spiritual,
tetapi menyesali kehidupan materinya yang
serba kekurangan.

Ada jawaban yang sederhana dan mendasar
mengenai kemiskinan ini, yaitu:
"those who are good at enjoying life are not poor".
Dengan kata lain, manusia yang tidak pernah
miskin berkaitan dengan seberapa baik dan seberapa bisa
ia menikmati dan mensyukuri hidupnya.
Begitu kemampuan menikmati dan mensyukuri melekat
dalam pada kehidupan seseorang, maka masuklah ia
dalam kelompok yang tak pernah miskin.

Bagaimana bisa disebut miskin kalau pada
tingkatan penghasilan dan kehidupan manapun ia
hanya mengenal kata syukur, syukur dan syukur.
Di tahapan-tahapan awal, syukur memang
memerlukan pembanding, terutama pembanding yang
lebih rendah. Akan tetapi, dalam pemahaman yang
lebih mendalam, syukur adalah syukur. Ia tidak
lagi memerlukan pembanding.

Tuhan tidak menjanjikan hari-hari tanpa sakit,
Tertawa tanpa kesedihan,
Matahari tanpa hujan,
Tetapi Dia menjanjikan kekuatan untuk hari itu,
Kebahagiaan untuk air mata,
Dan terang dalam perjalanan.

Sumber : Milis Tetangga

Selasa, 01 September 2009

Kebaikan Menghasilkan Keajaiban-Keajaiban

Kebaikan Menghasilkan Keajaiban-Keajaiban
-- Gede Prama

Lelah dan letih, mungkin itu kata yang tepat untuk mewakili keadaan tubuh
dan jiwa saya menjelang 2 Maret 2001. Sebuah tanggal yang membuat umur saya
menjadi tiga puluh delapan tahun. Banyak orang memang meyakini, kehidupan
mulai di umur empat puluh tahun. Dan entah apa yang terjadi kelak, kalau
saya sudah sampai pada titik start kehidupan terakhir. Mudah2an lelah dan
letih ini hanya kondisi sesaat saja. namun, yang jelas kendati sang badan
dan jiwa sudah mengeluh letih, tetap saja stok rasa syukur tidak berkurang.
Malah, semakin hari semakin bertambah, bertambah dan bertambah.

Izinkan saya berbagi refleksi dari salah satu pojokan rasa syukur yang
dikaruniai Tuhan. Masih segar sekali dalam ingatan, ketika pertama kali
menginjakkan kaki di ibu kota Jakarta ini dengan membawa ijazah sarjana
ditahun 1985, di terminal bus Pulo Gadung, saya bertanya ke diri sendiri;
akankah saya bisa tumbuh di Jakarta ini? Antara optimis dan ragu, saya
bergerak menuju kerumah keluarga di Pasar Minggu sana. Ketika pikiran
optimis datang, hati saya berkata : beruntunglah mereka yang bisa
mendapatkan saya jadi pekerja. Tatkala pikiran pesimis berkunjung, bayang2
manusia kalah yang kembali pulang ke kampung menghantui saya.
Kalau saja ada orang yang bertanya ketika itu, apa modal jualan saya di
Jakarta agar diri saya laku jadi pekerja, terus terang, hanya
kebingunganlah jawabannya. Maka tertulislah dalam sejarah kehidupan saya,
seorang anak manusia yang menganggur di Jakarta ini hampir dua tahun. Kalau
jalan2 sepanjang Jakarta setiap hari, hanya untuk mengobati rasa malu pada
tetangga karena kelihatan menganggur, sudah menjadi menu sehari2 ketika
itu. Belum lagi ditambah dengan bayangan malu pada orang2 di kampung, sudah
bergelar sarjana, telah berkeluarga namun jadi pengangguran.
Ketika menghadapi godaan2 karier yang hebat di awal2 karier, hanya rasa
malu terakhirlah yang membuat saya bertahan. Entah godaan hampir
diberhentikan ketika baru mulai kerja, godaan baru pulang dari Inggris dan
Prancis kemudian menganggur lagi. Yang jelas, kalau ada bayangan cengeng
yang meminta saya harus pulang kampung jadi manusia kalah, cepat2 dihapus
dari kepala. Rumusnya sederhana, saya anggap sudah tidak punya apapun di
kampung sana.

Belasan tahun setelah kisah ini berlalu, sisi2 menyedihkan sudah sangat
berkurang. Diganti dengan pojokan2 rasa syukur yang hadir disana-sini. Ada
saja bahan yang bisa membuat saya bertutur reflektif kepada Anda di hari
ulang tahun ini.  Hadiah ulang tahun yang patut di syukuri di tahun 2001
ini, karena ada pemilik perusahaan yang mempercayakan perusahaannya kepada
saya untuk dipimpin.
Dalam lorong2 renungan saya menoleh kembali kebelakang, ternyata Tuhan
menghadiahi saya sejumlah lompatan karier. Satu hal, yang tidak ditemui
oleh kebanyakan sahabat dan kerabat dekat. Dalam bahasa seorang rekan, dua
tahun berturut2 naik pangkat ditempat yang tinggi. Jadi konsultan dua
tahun, jadi komisaris dua tahun, jadi direktur SDM dua tahun dan ditahun
2001 ini jadi CEO. Dan yang membuat sahabat dan kerabat tambah iri, posisi
ini saya lakoni tetap dengan tidak meninggalkan habitat saya yang lama
(jadi penulis, pembicara dan konsultan).
Ada orang yang mengira saya hebat. Dan kalau boleh jujur, bila kinerja,
kepintaran dan pendidikan ukurannya dan diserahkan ke saya sendiri untuk
memilih CEO-nya, saya akan memilih orang lain. Tentu ada yang bertanya,
lantas apa modal saya bisa sampai disini? Sebenarnya tidaklah hebat2
sangat, karena modal saya dimiliki semua orang. Modal tadi bernama
kebaikan. Kebaikan dan hanya kebaikan, itu dan hanya itu.
Ketika orang berebut kekuasaan saling sikut, saya biarkan saja sambil tetap
bekerja. Tatkala ada yang mencoba menjegal saya kiri kanan, kadang memang
ada dorongan ego untuk melawan, tetapi kerap saya rem dengan keyakinan :
kebaikanlah penyelamat kita yang paling utama. Ada yang mencoba naik dengan
segala cara, dan bahkan menginjak kepala. Saya ingatkan diri saya : tidak
ada pengorbanan yang terbuang percuma. Ada yang menjelek2kan saya di depan
umum, dan memang sangat menyakitkan. Akan tetapi, ini berhasil saya
tenangkan dengan cara serupa.

Berhadapan dengan orang2 atas dengan value yang berbeda memang menghadirkan
tantangan tersendiri. Kadang, identitas saya yang asli bisa dikotori dengan
nilai2 baru. Inipun senantiasa saya rem, rem dan rem. Pernah terjadi, diri
saya dibuat demikian tertekan oleh orang atas, dan memancing saya untuk
mundur. Inipun berhasil direm dengan rumus basi yang sama. Demikian juga
ketika berhadapan dengan pekerja bawah yang di zaman2 ini teramat berani.
Kebaikan dan kejujuran mengalahkan segalanya. Tidak hebat2 sangat bukan?
Anda serta siapapun bisa melakukannya. Modalnya hanya satu, niat kuat untuk
memulai dan kemudian bertahan dengan seluruh tenaga. Lelah, capek dan
bahkan kadang sakit memang. Tapi, mana ada kebaikan yang bisa hadir tanpa
bayaran ?

Dalam perjalanan hidup seperti ini, kalau boleh saya menyimpulkan untuk
sementara, apa kearifan kehidupan yang mau dibagi di hari ulang tahun ini
sebenarnya sederhana. Ternyata, kebaikan dan kejujuran menghasilkan banyak
sekali keajaiban2 hidup.