Kamis, 03 September 2009

Orang yang tidak pernah miskin

Orang yang tidak pernah miskin

Menjadi kaya, mungkin itu adalah impian banyak
sekali orang. Entah itu kaya secara material,
maupun kaya secara spiritual, apa lagi kaya
kedua-duanya, ia sudah menjadi magnet dengan daya
tarik yang demikian besar. Lebih dari delapan puluh
persen energi manusia terkuras untuk meraih ini semua.
Bahkan tidak sedikit manusia yang menghabiskan
hampir seluruh hayatnya hanya untuk menjadi kaya.
Tidak ada satupun manusia waras yang bercita-cita
untuk menjadi miskin.

Di tengah arus deras pencaharian seperti ini,
dalam renungan-renungan keheningan kadang
terpikir, adakah manusia yang tidak pernah miskin?
Ya sejak lahir sampai dengan meninggal, ia tidak
pernah mengalami kemiskinan. Kalau orang seperti itu
ada, betapa beruntungnya dia. Lama sempat saya
mencari orang-orang yang tidak pernah miskin ini.
Dari sekian desa dan kota yang sempat saya kunjungi.
Entah di negeri sendiri, atau di negeri orang,
sungguh teramat sulit menemukannya. Ada yang lahir
serta besar di keluarga kaya secara materi,
namun merasa diri paling miskin di dunia.
Sebab, selalu membandingkan dirinya dengan orang
yang lebih tinggi. Ada juga yang lahir dan tumbuh
di keluarga yang kaya secara spiritual,
tetapi menyesali kehidupan materinya yang
serba kekurangan.

Ada jawaban yang sederhana dan mendasar
mengenai kemiskinan ini, yaitu:
"those who are good at enjoying life are not poor".
Dengan kata lain, manusia yang tidak pernah
miskin berkaitan dengan seberapa baik dan seberapa bisa
ia menikmati dan mensyukuri hidupnya.
Begitu kemampuan menikmati dan mensyukuri melekat
dalam pada kehidupan seseorang, maka masuklah ia
dalam kelompok yang tak pernah miskin.

Bagaimana bisa disebut miskin kalau pada
tingkatan penghasilan dan kehidupan manapun ia
hanya mengenal kata syukur, syukur dan syukur.
Di tahapan-tahapan awal, syukur memang
memerlukan pembanding, terutama pembanding yang
lebih rendah. Akan tetapi, dalam pemahaman yang
lebih mendalam, syukur adalah syukur. Ia tidak
lagi memerlukan pembanding.

Tuhan tidak menjanjikan hari-hari tanpa sakit,
Tertawa tanpa kesedihan,
Matahari tanpa hujan,
Tetapi Dia menjanjikan kekuatan untuk hari itu,
Kebahagiaan untuk air mata,
Dan terang dalam perjalanan.

Sumber : Milis Tetangga

Selasa, 01 September 2009

Kebaikan Menghasilkan Keajaiban-Keajaiban

Kebaikan Menghasilkan Keajaiban-Keajaiban
-- Gede Prama

Lelah dan letih, mungkin itu kata yang tepat untuk mewakili keadaan tubuh
dan jiwa saya menjelang 2 Maret 2001. Sebuah tanggal yang membuat umur saya
menjadi tiga puluh delapan tahun. Banyak orang memang meyakini, kehidupan
mulai di umur empat puluh tahun. Dan entah apa yang terjadi kelak, kalau
saya sudah sampai pada titik start kehidupan terakhir. Mudah2an lelah dan
letih ini hanya kondisi sesaat saja. namun, yang jelas kendati sang badan
dan jiwa sudah mengeluh letih, tetap saja stok rasa syukur tidak berkurang.
Malah, semakin hari semakin bertambah, bertambah dan bertambah.

Izinkan saya berbagi refleksi dari salah satu pojokan rasa syukur yang
dikaruniai Tuhan. Masih segar sekali dalam ingatan, ketika pertama kali
menginjakkan kaki di ibu kota Jakarta ini dengan membawa ijazah sarjana
ditahun 1985, di terminal bus Pulo Gadung, saya bertanya ke diri sendiri;
akankah saya bisa tumbuh di Jakarta ini? Antara optimis dan ragu, saya
bergerak menuju kerumah keluarga di Pasar Minggu sana. Ketika pikiran
optimis datang, hati saya berkata : beruntunglah mereka yang bisa
mendapatkan saya jadi pekerja. Tatkala pikiran pesimis berkunjung, bayang2
manusia kalah yang kembali pulang ke kampung menghantui saya.
Kalau saja ada orang yang bertanya ketika itu, apa modal jualan saya di
Jakarta agar diri saya laku jadi pekerja, terus terang, hanya
kebingunganlah jawabannya. Maka tertulislah dalam sejarah kehidupan saya,
seorang anak manusia yang menganggur di Jakarta ini hampir dua tahun. Kalau
jalan2 sepanjang Jakarta setiap hari, hanya untuk mengobati rasa malu pada
tetangga karena kelihatan menganggur, sudah menjadi menu sehari2 ketika
itu. Belum lagi ditambah dengan bayangan malu pada orang2 di kampung, sudah
bergelar sarjana, telah berkeluarga namun jadi pengangguran.
Ketika menghadapi godaan2 karier yang hebat di awal2 karier, hanya rasa
malu terakhirlah yang membuat saya bertahan. Entah godaan hampir
diberhentikan ketika baru mulai kerja, godaan baru pulang dari Inggris dan
Prancis kemudian menganggur lagi. Yang jelas, kalau ada bayangan cengeng
yang meminta saya harus pulang kampung jadi manusia kalah, cepat2 dihapus
dari kepala. Rumusnya sederhana, saya anggap sudah tidak punya apapun di
kampung sana.

Belasan tahun setelah kisah ini berlalu, sisi2 menyedihkan sudah sangat
berkurang. Diganti dengan pojokan2 rasa syukur yang hadir disana-sini. Ada
saja bahan yang bisa membuat saya bertutur reflektif kepada Anda di hari
ulang tahun ini.  Hadiah ulang tahun yang patut di syukuri di tahun 2001
ini, karena ada pemilik perusahaan yang mempercayakan perusahaannya kepada
saya untuk dipimpin.
Dalam lorong2 renungan saya menoleh kembali kebelakang, ternyata Tuhan
menghadiahi saya sejumlah lompatan karier. Satu hal, yang tidak ditemui
oleh kebanyakan sahabat dan kerabat dekat. Dalam bahasa seorang rekan, dua
tahun berturut2 naik pangkat ditempat yang tinggi. Jadi konsultan dua
tahun, jadi komisaris dua tahun, jadi direktur SDM dua tahun dan ditahun
2001 ini jadi CEO. Dan yang membuat sahabat dan kerabat tambah iri, posisi
ini saya lakoni tetap dengan tidak meninggalkan habitat saya yang lama
(jadi penulis, pembicara dan konsultan).
Ada orang yang mengira saya hebat. Dan kalau boleh jujur, bila kinerja,
kepintaran dan pendidikan ukurannya dan diserahkan ke saya sendiri untuk
memilih CEO-nya, saya akan memilih orang lain. Tentu ada yang bertanya,
lantas apa modal saya bisa sampai disini? Sebenarnya tidaklah hebat2
sangat, karena modal saya dimiliki semua orang. Modal tadi bernama
kebaikan. Kebaikan dan hanya kebaikan, itu dan hanya itu.
Ketika orang berebut kekuasaan saling sikut, saya biarkan saja sambil tetap
bekerja. Tatkala ada yang mencoba menjegal saya kiri kanan, kadang memang
ada dorongan ego untuk melawan, tetapi kerap saya rem dengan keyakinan :
kebaikanlah penyelamat kita yang paling utama. Ada yang mencoba naik dengan
segala cara, dan bahkan menginjak kepala. Saya ingatkan diri saya : tidak
ada pengorbanan yang terbuang percuma. Ada yang menjelek2kan saya di depan
umum, dan memang sangat menyakitkan. Akan tetapi, ini berhasil saya
tenangkan dengan cara serupa.

Berhadapan dengan orang2 atas dengan value yang berbeda memang menghadirkan
tantangan tersendiri. Kadang, identitas saya yang asli bisa dikotori dengan
nilai2 baru. Inipun senantiasa saya rem, rem dan rem. Pernah terjadi, diri
saya dibuat demikian tertekan oleh orang atas, dan memancing saya untuk
mundur. Inipun berhasil direm dengan rumus basi yang sama. Demikian juga
ketika berhadapan dengan pekerja bawah yang di zaman2 ini teramat berani.
Kebaikan dan kejujuran mengalahkan segalanya. Tidak hebat2 sangat bukan?
Anda serta siapapun bisa melakukannya. Modalnya hanya satu, niat kuat untuk
memulai dan kemudian bertahan dengan seluruh tenaga. Lelah, capek dan
bahkan kadang sakit memang. Tapi, mana ada kebaikan yang bisa hadir tanpa
bayaran ?

Dalam perjalanan hidup seperti ini, kalau boleh saya menyimpulkan untuk
sementara, apa kearifan kehidupan yang mau dibagi di hari ulang tahun ini
sebenarnya sederhana. Ternyata, kebaikan dan kejujuran menghasilkan banyak
sekali keajaiban2 hidup.


PENGERTIAN SUBYEKTIF DIPERLUKAN SEKALI !

PENGERTIAN SUBYEKTIF DIPERLUKAN SEKALI !

Oleh: Lasmono Aldulrify Dyar, Dipl. Ing*

Kisah Anne....

Kisah berikut ini dikutip dari buku "Gifts From The Heart for
Women"karangan Karen Kingsbury. Buku ini dapat Anda peroleh di toko buku
Gramedia, maupun toko buku lainnya.

Inti ceritanya kira-kira sbb :

Ada pasangan suami isteri yang sudah hidup beberapa lama tetapi belum
mempunyai keturunan.
Sejak 10 tahun yang lalu, sang istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk
menentang ABORSI,
karena menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi.

Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri
hamil,Sehingga pasangan tersebut sangat bahagia.
Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada famili, teman2 dan sahabat2,
dan lingkungan sekitarnya.
Semua orang ikut bersukacita dengan mereka.
Dokter menemukan bayi kembar dalam perutnya, seorang bayi laki2 dan
perempuan.

Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi.
Tetapi bayi perempuan mengalami kelainan,dan ia mungkin tidak bisa hidup
sampai masa kelahiran tiba.

Dan kondisinya juga dapat mempengaruhi kondisi bayi laki2. Jadi dokter
menyarankan untuk dilakukan aborsi, demi untuk sang ibu dan bayi laki2
nya.Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik.
Baik sang suami maupun sang istri mengalami depressi.
Pasangan ini bersikeras untuk tidak Menggugurkan bayi perempuannya
(membunuh bayi tsb),
tetapi juga kuatir terhadap kesehatan bayi laki2nya. "Saya bisa
merasakan keberadaannya,
dia sedang tidur nyenyak", kata sang ibu di sela tangisannya.
Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada pasangan tersebut,
dengan mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan.

Ketika sang istri semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, tiba-tiba dia
tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencanaNya dibalik semua ini.
Hal ini membuatnya lebih tabah.Pasangan ini berusaha keras untuk
menerima fakta ini. Mereka mencari informasi di internet, pergi ke
perpustakaan, bertemu dengan banyak dokter, untuk mempelajari lebih
banyak tentang masalah bayi mereka. Satu hal yang mereka temukan adalah
bahwa mereka tidak sendirian.

Banyak pasangan lainnya yang juga mengalami situasi yang sama, dimana
bayi mereka tidak dapat hidup lama.
Mereka juga menemukan bahwa beberapa bayi akan mampu bertahan hidup,
bila mereka mampu memperoleh donor organ dari bayi lainnya. Sebuah
peluang yang sangat langka. Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke
orang lain ?
Jauh sebelum bayi mereka lahir,pasangan ini menamakan bayinya, Jeffrey
dan Anne. Mereka terus bersujud kepada Tuhan.

Pada mulanya,mereka memohon keajaiban supaya bayinya sembuh. Kemudian
mereka tahu, bahwa mereka seharusnya memohon agar diberikan kekuatan
untuk menghadapi apapun yang terjadi, karena mereka yakin Tuhan punya
rencanaNyasendiri.

Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne cukup sehat untuk
dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2 jam. Sang
istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika sesuatu yang buruk
terjadi pada Anne, mereka akan mendonorkan organnya. Ada dua bayi yang
sedang berjuang hidup dan sekarat, yang sedang menunggu donor organ
bayi. Sekali lagi, pasangan ini berlinangan air mata. Mereka menangis
dalam posisi sebagai orang tua, di mana mereka bahkan tidak mampu
menyelamatkan Anne. Pasangan ini bertekad untuk tabah menghadapi
kenyataan yg akan terjadi.

Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua bayinya dengan
selamat. Pada momen yang sangat berharga tersebut, sang suami
menggendong Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap ayahnya, dan
tersenyum dengan manis. Senyuman Anne yang imut tak akan pernah
terlupakan dalam hidupnya. Tidak ada kata2 di dunia ini yang mampu
menggambarkan perasaan pasangan tersebutpada saat itu. Mereka sangat
bangga bahwa mereka sudah melakukan pilihan yang tepat (dengan tidak
mengaborsi Anne),mereka sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil
tersenyum pada mereka, mereka sangat sedih karena kebahagiaan ini akan
berakhir dalam beberapa jam saja.

Sungguh tidak ada kata2 yang dapat mewakili perasaan pasangan tersebut.
Mungkin hanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang
berasal dari jiwa mereka yang terluka..

Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki kesempatan untuk
melihat Anne. Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap bertahan hidup setelah
lewat 2 jam. Memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi keluarga
tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan. Tetapi Anne tidak mampu
bertahan setelah enam jam.....

Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran
organ.Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tsb bahwa
donor Tsb berhasil. Dua bayi berhasil diselamatkan dari kematian.
Pasangan Tersebut sekarang sadar akan kehendak Tuhan. Walaupun Anne
hanya hidup selama 6jam,tetapi dia berhasil menyelamatkan dua nyawa.
Bagi pasangan tersebut, Anne adalah pahlawan mereka, dan sang Anne yang
mungil akan hidup dalam hati mereka selamanya...

=============

Ada 3 point penting yang dapat kita renungkan dari kisah ini :

1. SESUNGGUHYA, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu hari
ataupun bahkan seratus tahun.
Hal yang benar2 penting adalah apa yang kita telah kita lakukan selama
hidup kita, yang bermanfaat bagi orang lain.

2. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama perusahaan kita telah
berdiri, satu tahun ataupun bahkan dua ratus tahun.
Hal yang benar2 penting adalah apa yang dilakukan perusahaan kita selama
ini, yang bermanfaat bagi orang lain.

3. Ibu Anne mengatakan "Hal terpenting bagi orang tua bukanlah mengenai
bagaimana karier anaknya di masa mendatang, di mana mereka tinggal,
maupun berapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan. Tetapi hal
terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah untuk memastikan bahwa
anak2 kita melakukan hal2 terpuji selama hidupnya, sehingga ketika
kematian menjemput mereka,mereka akan menuju surga".

Mohon KEMURAHAN HATI Anda untuk menyebarkan kisah ini kepada sanak
keluarga Anda, famili, teman2, rekan2 kerja, rekan2 bisnis, atasan,
bawahan, Sebuah kelompok organisasi ataupun perusahaan, serta siapa saja
yang Anda temui.

Ada 4 kemungkinan respon dari pihak2 yang telah membaca kisah ini.

PERTAMA, cuek / tidak peduli / tidak mengerti kisah ini.

KEDUA, tersentuh dengan kisah ini, tetapi tidak melakukan apapun.

KETIGA,tersentuh dengan kisah ini, intropeksi diri, lalu mengubah cara
pandang tentang hidupnya.

KEEMPAT, tersentuh, intropeksi diri, mengubah cara pandang
tentanghidupnya, lalu bergerak aktif untuk memaknaihidupnya sendiri
dengan cara memberikan makna bagi kehidupan orang lain.

Bila di antara sekian banyak orang yang memperoleh kisah ini dari Anda,
ada satu saja yang termasuk kategori nomor EMPAT, ini berarti Anda telah
berhasil mengubah hidup seseorang, dari sekedar"Hidup" menjadi "Hidup
Yang Lebih Bermakna".
Mereka sungguh beruntung dengan kehadiran Anda di dunia ini.

Berhentilah Untuk Selalu Memikirkan Kepentingan Diri Sendiri, Jadikanlah
Kehadiran Anda Di Dunia Ini Sebagai *BERKAT* Bagi Orang Banyak dan Bagi
Orang2 Yang Anda Cintai (Ayah, Ibu, Saudara/i,Suami/Istri, Anak2 Anda,
Teman & Orang2 di dekat anda)

Kisah ini memang ada didalam <Jiwa penemuan> DR.Jose Silva:
PSYCHORIENTOLOGY

*Lasmono Dyar [83] adalah Instruktur resmi bersertifikat dari Silva Mind
Control.

Minggu, 30 Agustus 2009

Batu bata jelek

BATU BATA JELEK

Setelah kami membeli tanah untuk Vihara kami pada tahun
1983, kami jatuh bangkrut. Kami terjerat hutang.
Tidak ada bangunan di atas tanah itu, pun tidak ada sebuah
gubuk.
Pada minggu-minggu pertama kami tidur di atas pintu-pintu
tua yang kami beli murah dari pasar loak.
Kami mengganjalnya dengan batu bata pada setiap sudutnya
untuk meninggikannya dari tanah.

Kami hanyalah Bhikkhu-Bhikkhu miskin yang memerlukan
sebuah bangunan. Kami tak mampu membayar
tukang. bahan-bahan bangunannya saja sudah cukup mahal.
Jadi saya harus belajar cara bertukang :
bagaimana mempersiapkan pondasi, menyemen dan
memasang batu bata, mendirikan atap,
memasang pipa-pipa. pokoknya semua.

Kelihatan gampang membuat tembok dengan batu bata :
tinggal tuangkan seonggok semen, sedikit ketok sana,
sedikit ketok sini. Ketika saya memulai memasang batu bata,
saya ketok 1 sisi untuk meratakannya, sisi lain nya jadi naik.
Lalu saya ratakan sisi itu, batu batanya jadi melenceng.
Setelah saya meratakan kembali, sisi yg pertama jadi
terangkat lagi. Coba saja sendiri.

Sebagai seorg Bhikkhu yg memiliki kesabaran dan waktu
yg banyak, saya pastikan setiap batu bata terpasang
dengan sempurna, tak peduli berapa lama jadi nya.
Akhirnya saya menyelesaikan tembok batu bata saya yang
pertama dan berdiri di baliknya untuk mengagumi hasil karya
saya.. saat itulah saya memperhatikannya. oh, tidak..!!
saya telah keliru meyusun dua batu bata. Semua batu bata
lain sudah lurus, tetap dua batu bata itu terlihat miring.
Mereka terlihat jelek sekali. Mereka merusak keseluruhan
tembok.

Saat itu semennya sudah terlanjur keras untuk mencabut dua
batu bata itu, jadi saya bertanya kepada kepala Vihara apakah
saya boleh membongkar tembok itu dan membangun
kembali tembok yang baru.. Kepala Vihara bilang tidak
perlu, biarkan saja temboknya seperti itu.

Ketika saya membawa para tamu pertama berkunjung
keliling Vihara setengah jadi kami, saya selalu
menghindari membawa mereka melewati tembok bata yang
saya buat. Saya tidak suka ketika ada org melihat dua
batu tersebut. Lalu kira-kira 3-4 bulan setelah saya
membangun tembok itu, saya berjalan dengan seorg
pengunjung dan dia melihatnya.

"Itu sebuah tembok yang indah," ia berkomentar
dengan santainya.
"Pak" saya menjawab dengan terkejut, "apakah kacamata
anda tertinggal di mobil? Apakah penglihatan anda
sedang terganggu? Tidakkah anda melihat dua batu bata jelek
itu merusak keseluruhan tembok itu?" Ucapan dia selanjutnya
telah mengubah keseluruhan pandangan saya terhadap
tembok itu, berkaitan dengan diri saya sendiri dan banyak
aspek lainnya dalam kehidupan. Dia berkata
"Ya, saya dapat melihat dua bata jelek itu, tetapi saya juga
dapat melihat 998 batu bata yang bagus"

Saya tertegun. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga
bulan, saya mampu melihat batu bata-batu bata lainnya selain
dua bata jelek itu. Di atas, di bawah, di sebelah kiri,
dan sebelah kanan dari dua batu bata jelek itu adalah
batu bata - batu bata yang bagus, batu bata yang sempurna,
jauh lebih banyak daripada dua bata bata jelek itu.

Sebelumnya mata saya hanya terpusat pada dua kesalahan
yang telah saya perbuat; saya terbutakan akan hal hal
lainnya. Itulah sebabnya saya tak tahan melihat tembok itu atau
tak rela membiarkan org lain melihatnya juga. Itulah sebabnya
saya ingin menghancurkannya. tapi sekarang saya dapat
melihat batu bata - batu bata yang bagus, tembok itu jadi
tampak tak terlalu buruk lagi. itu menjadi, seperti yang
dikatakan pengunjung itu, "Sebuah tembok yang indah" tembok
itu masih tetap berdiri sampai sekarang, setelah dua puluh
tahun, tetapi saya sudah lupa persisnya di mana dua bata jelek
itu berada. Saya benar-benar tak dapat melihat kesalahan itu
lagi.

Berapa banyak orang yang memutuskan hubungan atau
cerai karena semua yang mereka lihat dari diri
pasangannya adalah "dua bata jelek"? Berapa banyak
di antara kita yang depresi atau bahkan ingin bunuh diri,
karena semua yang kita lihat dalam diri kita hanyalah "dua
bata jelek"? Pada kenyataannya, ada banyak, jauh lebih
banyak batu bata yang bagus.. di atas, di bawah,
di sebelah kiri, sebelah kanan. dari yang jelek. tetapi pada
saat itu kita tak dapat melihatnya.

Malahan setiap kali kita melihat, mata kita hanya terfokus
pada kekeliruan yang kita perbuat. Semua yang kita lihat
adalah kesalahan, dan kita mengira hanya kekeliruan
semata, karenanya kita ingin menghancurkannya.
Dan terkadang, sayangnya, kita benar-benar
menghancurkan sebuah "tembok yang indah"

Kita semua memiliki "dua bata jelek" tetapi bata yang baik
di dalam diri kita masing-masing, jauh lebih banyak daripada
yang jelek. Begitu kita melihatnya, semua akan tampak tak
begitu buruk lagi. Bukan hanya kita dapat berdamai dengan
diri sendiri, termasuk dengan kesalahan-kesalahan kita.

Sumber :
Milis Tetangga

Rabu, 26 Agustus 2009

Tiga tahap kehidupan

Dalam hidup ini kita mengalami tiga tahap kehidupan......

Usia belasan tahun :
Punya waktu + tenaga ......tetapi tidak punya uang !!

Usia kerja :
Punya uang + tenaga ....... tetapi tidak punya waktu !!

Usia tua :
Punya waktu + uang ......tetapi tidak punya tenaga !!!

Senin, 03 Agustus 2009

Hidup yg berarti

Hidup yg berarti

Berapa umur anda saat ini?
25 tahun, 35 tahun, 45 tahun atau bahkan 60 tahun...
Berapa lama anda telah melalui kehidupan anda?
Berapa lama lagi sisa waktu anda untuk
menjalani kehidupan? Tidak ada seorang pun yang
tahu kapan kita mengakhiri hidup ini.

Matahari terbit dan kokok ayam menandakan pagi telah
tiba. Waktu untuk kita bersiap melakukan aktivitas,
sebagai karyawan, sebagai pelajar,
sebagai seorang profesional, dll.

Kita memulai hari yang baru. Macetnya jalan membuat
kita semakin tegang menjalani hidup. Terlambat sampai
di kantor, itu hal biasa. Pekerjaan menumpuk, tugas dari
boss yang membuat kepala pusing, sikap anak buah
yang tidak memuaskan, dan banyak problematika
pekerjaan harus kita hadapi di kantor.

Tak terasa, siang menjemput...
"Waktunya istirahat..makan-makan.."
Perut lapar, membuat manusia sulit berpikir.
Otak serasa buntu. Pekerjaan menjadi semakin berat
untuk diselesaikan. Matahari sudah berada tepat
di atas kepala. Panas betul hari ini...

Akhirnya jam istirahat selesai, waktunya kembali bekerja...
Perut kenyang, bisa jadi kita bukannya semangat
bekerja malah ngantuk. Aduh tapi pekerjaan kok
masih banyak yang belum selesai. Mulai lagi kita kerja,
kerja dan terus bekerja sampai akhirnya terlihat
di sebelah barat...

Matahari telah tersenyum seraya mengucapkan
selamat berpisah. Gelap mulai menjemput. Lelah sekali
hari ini. Sekarang jalanan macet. Kapan saya sampai
di rumah. Badan pegal sekali, dan badan rasanya
lengket. Nikmat nya air hangat saat mandi nanti.
Segar segar...

Ada yang memacu kendaraan dengan cepat supaya
sampai di rumah segera, dan ada yang berlarian
mengejar bis kota bergegas ingin sampai di rumah.
Dinamis sekali kehidupan ini.

Waktunya makan malam tiba. Sang istri atau mungkin Ibu
kita telah menyiapkan makanan kesukaan kita.
"Ohh.. ada sop ayam".
"Wah soto daging buatan ibu memang enak sekali".
Suami memuji masakan istrinya, atau anak memuji
masakan Ibunya. Itu juga kan yang sering kita lakukan.

..Selesai makan, bersantai sambil nonton TV.
Tak terasa heningnya malam telah tiba.
Lelah menjalankan aktivitas hari ini, membuat kita
tidur dengan lelap. Terlelap sampai akhirnya pagi
kembali menjemput dan mulailah hari yang baru lagi.

Kehidupan.. ya seperti itu lah kehidupan di mata
sebagian besar orang. Bangun, mandi, bekerja, makan,
dan tidur adalah kehidupan.

Jika pandangan kita tentang arti kehidupan sebatas
itu, mungkin kita tidak ada bedanya dengan hewan
yang puas dengan bisa bernapas, makan, minum,
melakukan kegiatan rutin, tidur. Siang atau malam
adalah sama. Hanya rutinitas... sampai akhirnya
maut menjemput. Memang itu adalah kehidupan tetapi
bukan kehidupan dalam arti yang luas.

Sebagai manusia jelas kita memiliki perbedaan
dalam menjalankan kehidupan. Kehidupan bukanlah
sekedar rutinitas.

Kehidupan adalah kesempatan untuk kita
mencurahkan potensi diri kita untuk orang lain.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita berbagi suka
dan duka dengan orang yang kita sayangi.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita bisa
mengenal orang lain.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita melayani
setiap umat manusia.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita
mencintai pasangan kita, orang tua kita, saudara,
serta mengasihi sesama kita.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita belajar dan
terus belajar tentang arti kehidupan.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita selalu
mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa ..
Kehidupan adalah ... dll.

Begitu banyak Kehidupan yang bisa kita jalani.
Berapa tahun anda telah melalui kehidupan anda?
Berapa tahun anda telah menjalani kehidupan rutinitas anda?
Akankah sisa waktu anda sebelum ajal menjemput
hanya anda korbankan untuk sebuah rutinitas belaka ?

Kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput,
mungkin 5 tahun lagi, mungkin 1 tahun lagi,
mungkin sebulan lagi, mungkin besok, atau mungkin
1 menit lagi.

Hanya Tuhanlah yang tahu...

Pandanglah di sekeliling kita... ada segelintir orang
yang membutuhkan kita. Mereka menanti kehadiran
kita. Mereka menanti dukungan kita. Orang tua,
saudara, pasangan, anak, sahabat dan sesama......
Serta Tuhan yang setia menanti ucapan syukur dari bibir kita.

Bersyukurlah padaNYA setiap saat bahwa kita
masih dipercayakan untuk menjalani kehidupan ini.
Buatlah hidup ini menjadi suatu ibadah.

Selamat menjalani hidup yang lebih berkualitas.

Penunggang Kuda

Penunggang Kuda

Dulu, ada seorang Kaisar yg mengatakan pada
seorang penunggang kuda, bahwa jika dia bisa
menjelajahi daerah seluas apapun, maka Kaisar
akan memberikan kepadanya daerah seluas yg
sanggup dijelajahinya itu. Kontan si penunggang kuda
itu melompat ke punggung kudanya & melesat
secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin.

Dia melaju & terus melaju, melecuti kudanya untuk
lari secepat mungkin untuk menjelajahi dataran
seluas mungkin. Ketika lapar & letih, dia tidak berhenti
untuk makan dan minum karena dia mau memiliki tanah
yg maha seluas.

Akhirnya tiba ia pada suatu tempat setelah
berhasil menjelajahi daerah cukup luas, tetapi ia
sudah sangat lelah & hampir mati. Lalu dia berkata
terhadap dirinya sendiri,
"Mengapa aku paksa diri begitu keras untuk
menguasai tanah yg seluas ini? Kini aku sudah sekarat,
& hampir mati & aku hanya butuh tanah seluas 2 meter
untuk menguburkan diriku sendiri.

Cerita ini mirip dgn perjalanan hidup kita.
Kita cenderung memaksa diri sangat keras tiap hari
untuk mencari uang, kuasa, dan keyakinan diri.
Kita cenderung mengabaikan kesehatan kita,
waktu bersama keluarga, dan kesempatan
mengagumi keindahan di sekeliling kita, hal-hal yg ingin
kita lakukan. Kita cenderung mengabaikan kehidupan
rohani kita. Kita cenderung tidak memikirkan dengan
serius hidup kita sesudah mati.

Anda percaya ada kehidupan sesudah mati?
Suatu hari ketika kita menoleh ke belakang, kita akan
melihat betapa kita tidak membutuhkan sebanyak itu,
tapi kita tidak mampu memutar mundur waktu atas semua
hal yg tidak sempat lakukan. Maka mulai sat ini
luangkanlah waktu memikirkan sejenak hal yg akan
terjadi jika kita mati kelak. Atau apa yg akan kita lakukan
saat ini seandainya kita tahu bahwa kita akan
meninggal dalam waktu seminggu lagi? Sebulan lagi?
Setahun lagi? 10tahun lagi? Atau 40tahun lagi?
Bukankah suatu hal yg menyenangkan
sekaligus menyeramkan seandainya kita bisa
mengetahui kapan kita akan mati? Cuma kita tidak tahu,
kita semua tidak ada yg tahu.

Kita hanya bisa bersiap meninggalkan semuanya.
Jalanilah hidup yg seimbang, belajarlah menghargai
dan menikmati hidup ini apa adanya, dan terutama:
TAHU APA YG TERPENTING DALAM HIDUPMU