Senin, 20 April 2015

Belajar

BELAJAR
(Kontemplasi Peradaban)
 
Ut ameris, amabilis esto – supaya
engkau dicintai jadilah orang
 yang penuh cinta.
 Ovidius (43 seb.M – 18 M).
 
Saya pernah ditegur sambil dimarahi oleh seseorang. Saya bilang begini, "Tenang sajalah saya sudah tahu teori tentang cara bermain piano. Pasti dalam waktu dekat saya sudah bisa melampaui sahabatku, Harry Singkoh".  Lantas orang itu berkata lagi, "Hal yang kita pelajari itu akan sia-sia jika tidak disertai dengan praktek!" Dan memang benar adanya, karena hingga hari ini jari-jari saya tidak bisa menari-nari di atas clavicord.
 
Memang, dengan praktek apa yang kita pelajari makin mantap. Orang Jawa memiliki tembang yang bagus, "Ngelmu iku kelakone kanthi laku…"  (Wedhatama). Peribahasa Inggris menulis, "Practice makes perfect" – Latihan menjadikan sempurna. Bahkan hampir seribu tahun yang lalu, bangsa kita pernah melahirkan seorang pujangga yang namanya tidak tercatat dalam sejarah kita. Orang itu adalah Dharmakirti. Intisari ajarannya adalah pelajari dirimu sendiri supaya kamu bisa berlaku baik (Bdk. Buku tulisan Anand Krishna yang berjudul, "Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan", hlm. 114).
 
Tidak heranlah jika para motivator selalu mengakhiri pencerahannya dengan berkata, "Take action!"  Karena dengan bertindak, maka sebenarnya kita banyak belajar.  Acapkali terjadi bahwa dengan mengajar kita belajar – "docendo discimus" atau kita meminjam  kata-kata dari Seneca (4 seb.M – 65 M), "Homines dum docent, discunt" – manusia sementara mengajar juga belajar.   Atau Pepatah Latin yang lain, "Qui docet, discit – "Siapa yang mengajar, dia juga akan belajar".
 
Banyak orang hebat "yang merangkak" dari titik  zero menuju puncak dan dengan cara banyak praktek, misalnya: John Wesley (1703 – 1791), seorang pendeta Anglican termasyur. Dalam riwayat hidupnya, Wesley adalah pribadi yang tidak pernah berhenti bekerja atau berpangku tangan. Sambil berkotbah ia belajar bagaimana ia mendengarkan warganya yang haus akan firman Tuhan. Melalui tindakannya, ia menjadi maju dalam evangelisasi. Bahkan di tengah-tengah perjalanannya mewartakan Injil dia berpedoman seperti Yesus, "Pertransiit benefaciendo" – berjalan keliling sambil berbuat baik (Kis 10:38).
 
Tidak mudah bagi kita untuk take action. Mudah bagi kita untuk menunda dengan mengatakan, "Nanti sajalah, masih ada waktu!" Atau karena kita tidak mau melawan kemalasan dalam diri. Baiklah jika kita belajar dari bangsa Axum kuno.  Bangsa yang tinggal di Laut Merah di Ethiopia modern mengatakan, "Daripada gentar terhadap angin badai dan hujan yang terjadi, lebih baik belajar untuk berlayar dengan mengarungi badai"  Contra agere!
 
Senin, 20 April 2015  Markus Marlon
 


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Tidak ada komentar: