Senin, 07 Mei 2012

PERPISAHAN

PERPISAAN
(Sebuah Percikan Permenungan)

Should auld acquaintance be forgot,
And never brought to mind?
Should auld acquaintance be forgot,
And auld lang syne?
For auld lan syne, my dear, for auld lang syne,
We'll take a cup o'kindness yet, for auld lang syne .
And surely ye'll be your pint-stowp!

Sepenggal lagu ciptaan Robert Burns (1759 - 1796) di atas, sungguh amat
mengharukan ketika dikidungkan pada acara old and new. Dalam permenungan
tersebut, setiap orang tunduk kepala dan tentunya dalam hati mengenang
kembali peristiwa dan kejadian yang telah dilewati. Pembakaran kalender dari
tahun yang telah berlalu menambah harunya suasana. Bulan per bulan, kalender
dibakar dan di sana orang-orang hanya tertunduk diam dan hening serta
tidak ada satu kata pun terucap. Barangkali orang sedang berasyik masyuk
dengan pengalamanya masing-masing. Pengalaman kecewa, sakit hati, getir dan
dikhianati itu membuat hidup menjadi "lumpuh sejenak" dan tidak berdaya.
Namun manusia tidak boleh berlarut-larut – yang menurut bahasanya Dale
Carnegie dalam Petunjuk Hidup Tentram dan Bahagia – sebagai pengalaman
"menangisi susu yang telah tumpah." Melalui pengalaman yang telah berlalu,
mau tidak mau kita harus berani mengucapkan selamat berpisah dengan
peristiwa-kejadian yang menyakitkan.

Berpisah dengan masa lalu memang tidak mudah. Saya pernah berjumpa dengan
seorang oma yang sudah sakit-sakitan. Selama hidupnya – pada usia
produktif – setiap malam menerima setoran dari anak buahnya. Setiap malam
itu pula, oma ini menghitung labanya dengan suka cita. Kebiasaan itu sudah
berjalan puluhan tahun. Kini oma ini sudah pikun. Dari pagi hingga malam,
ia ngomel-omel minta setoran. Lalu oleh anak-anaknya, diberi uang-uangan
dari permainan monopoli. Oma itu langsung tersenyum senang. Dia tidak mau
berpisah dengan kebiasaan lamanya. Aneh tetapi nyata!! Ada lagi, seorang
mertua yang senantiasa berkelahi dengan menantunya gara-gara sang mertua
selalu memanggil thole kepada anaknya yang sudah beristri itu. Dalam hati
seorang ibu tentu tidak mau berpisah dengan putra kesayangannya. Sebutan
sayang-sayang, thole itu sudah mengakar dalam dirinya, sehingga sulit sekali
untuk melepaskan. William Shakespeare (1564 – 1616) dalam King Lear, hendak
memperlihatkan kepada kita bahwa berpisah dengan kemasyuran itu tidak mudah.
Tahta itu nikmat, maka sulit untuk melepaskannya. Dengan penuh harap, ia
mengundang ketiga putrinya (Goneril, Regan dan Cordelia) untuk mendengarkan
"puji-pujian" mereka. Pencapaian King Lear atas hidupnya sebagai raja, tidak
mau diganggu gugat dan ingin selalu direngkuhnya serta tidak mau lepas. Ia
tidak mau berpisah dengan hingar-bingar nikmatnya suatu kekuasaan.

Berpisah memang menyakitkan, apalagi berpisah dengan seseorang yang amat
berharga bagi dirinya. Maka tidak mengherankan ada orang yang tidak bisa
tidur dan tidak mau makan gara-gara ditinggal tugas di luar kota. Kita juga
tidak perlu kaget, jika ada orang yang bunuh diri, gara-gara ditinggal
pacarnya. Itulah sebabnya dalam ajarannya, Sidharta Buddha Gautama (563 –
483 seb. M) mengatakan bahwa perpisahan itu sangat menyakitkan, terlebih
dengan orang-orang yang dicintai. Di Pulau Samosir, (Sumatra Utara) ada
Raja Tomok yang begitu mencintai anak laki-lakinya. Ketika sang anak
meninggal, ia belum siap menerima kenyataan ini. Maka, dibuatlah patung yang
sangat mirip dengan wajah anaknya. Sang Raja menganggap bahwa anaknya itu
tidak pernah mati. Patung inilah yang dinamakan dengan sigale-gale. Cinta
ayah pada anaknya begitu berat untuk dipisahkan. Perpisahan dengan orang
yang dicintai itu menurut bahasa Sang Buddha merupakan penderitaan karena
perubahan (Viparinama-Dukkha). Berubah karena pernah dicintai, kemudian
mengalami suatu kebencian atau kematian. Dalam M.E (Marriage Encounter) ada
sesi yang berbicara tentang kematian pasangan. Kematian adalah sesuatu yang
pasti, tetapi kadang orang "takut" untuk membicarakan. Membayangkan kematian
pasangan dan berpisah untuk selama-lamanya yang amat dicintai, merupakan
proses perpisahan yang realistis, tetapi ini merupakan perpisahan yang
paling berat. Romeo menghunus pedangnya ke dadanya sendiri ketika
menyaksikan Juliet terbujur kaku atau San Pek ikut masuk dalam kuburan Eng
Tay karena tidak sanggup hidup sendiri tanpanya (Bdk. Buku yang berjudul:
San Pek- Eng Tay, sebuah kisah sedih dua anak manusia)

Setiap peristiwa – termasuk pengalaman berpisah – perlu kita sikapi dengan
bijak. Setiap orang – siap atau tidak siap – tentu akan mengalami suatu
perpisahan. Sindhunata dalam Anak Bajang Menggiring Angin, kita perlu
belajar dari ketegaran Dewi Anjani yang siap melepaskan Hanoman pergi jauh
menjadi duta Rama. Film yang berjudul, 300 mengajarkan kepada kita tentang
seorang wanita Sparta yang dengan rela melepaskan anak-anak mereka pada
usia remaja untuk dididik menjadi prajurit yang gagah perkasa.

Umur produktif manusia pun ada batasnya. Ada waktunya kita berani
melepaskan, letting go dan memberikan tongkat estafet kepada generasi muda.
Untuk segala sesuatu ada waktunya. Alexander Agung (354 – 323 seb. M) ketika
meninggal dunia pada usia muda, berpesan jika mangkat, supaya tangannya
dibiarkan terbuka. Ini menunjukkan bahwa ketika orang wafat tidak membawa
apa-apa (tangan kosong). Dalam misa tadi pagi Rm. Gregorius Hertanto Dwi
Wibowo MSC, berkotbah tentang, Nunc dimittis. Simeon berani mengucapkan
kata-kata, "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai
sejahtera, sesuai dengan firman-Mu" (Luk 2: 29). Kitab Pengkhotbah
menulis, "Ada waktu untuk lahir dan ada waktu untuk meninggal, ada waktu
untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam" (Pkh 3: 2). Manusia
harus berani berpisah dan menyambut hal-hal yang baru dalam hidupnya.
Hal-hal yang baru itu kadang menakutkan, tetapi juga kadang memberi
pengharapan.

Tak terasa, tinggal 3 hari lagi tahun 2011 akan berlalu, tiba-tiba saya
teringat masa lalu.
Kehidupan manusia berlalu dengan cepatnya.
Banyak sekali yang telah dilalui.
Ada yang lancar.
Ada yang penuh rintangan.
Ada yang penuh kegembiraan.
Ada pula yang penuh kegetiran.

Semua pasti mengalaminya. Itulah kehidupan manusia.

Saat kita berumur 20 tahun merasa sungguh enak kalau kita tampan atau
cantik.
Saat kita 30 tahun merasa sungguh enak andaikan kita kembali muda lagi.
Saat kita 40 tahun merasa sungguh enak andai kita punya banyak uang.
Saat kita 50 tahun merasa ada kesehatan sungguh enak sekali.
Saat kita 60 tahun merasa untuk dapat hidup saja sudah sangat bagus.
Saat kita 70/80 tahun merasa kenapa hidup ini serasa sangat singkat sekali.

Membaca puisi di atas, lantas saya mulai membuka FB dan BB serta YM. Saya
pandangi satu per satu sahabat-sahabat yang memasang picture-nya . Dalam
puisi tertulis, "Saat kita berumur 20 tahun merasa sungguh enak kalau kita
tampan atau cantik". Saya merasa sahabat-sahabat ku ini umurnya 35 tahun ke
atas. Tetapi herannya, setiap orang memasang foto yang sedang action. Bahkan
satu hari ganti tiga kali. Barangkali ini yang dinamakan dengan
salah-mongso. Ranggawarsito (1802 – 1873) dalam Serat Kalatida, "Zaman
edan, sing ora edan ora komanan." Sebelum posting email ini, saya
cepat-cepat picture-ku yang sedang nampang saya ganti dengan nama-nama
obat herbal, sebab umurku sudah hampir 46 tahun yang berorientasi pada
kesehatan. "Curang nih!!"


Skolastikat MSC, 29 Desember 2011
Biara Hati Kudus – Pineleng
Jl. Manado – Tomohon KM. 09
MANADO – Sulawesi Utara – 95361

Markus Marlon msc

Tidak ada komentar: