Senin, 09 April 2012

CUKUP

CUKUP
(Sebuah Percikan Permenungan)

Minggu lalu, saya diantar sahabat berkunjung pada sebuah keluarga di
bilangan Pasar Empat Lima – Manado. Sudah cukup lama kami
berbincang-bincang mengenai pelbagai perkara. Tuan rumah yang saya kunjungi
kayaknya sudah gerah. Istrinya setiap kali melihat jam dinding di ruang
tamu. Saya baru sadar ternyata sudah tiga jam saya berkunjung di rumahnya.

Dalam perjalanan pulang, teman saya itu pun berkata, "Sahabat, tadi tuan
rumah sudah gelisah karena you terlalu lama bertamu. Kalau lama-lama
bertamu, tentu saja tuan rumah akan menjadi bosan." Saya setuju dengan
nasihat dari sahabatku tadi. Tidak heranlah jika tadi tuan rumah
berkali-kali melihat arloji tangannya. Kemudian sahabatku itu berkata lagi,
"Ya, sebaiknya kalau bertamu itu secukupnya saja!" Pada hari itu, saya
mendapat pengalaman yang amat berharga.

Ada sebuah cerita yang menarik untuk disimak. Suatu ketika Epictetus (55 –
135 M) seorang filsuf yang dilahirkan di Hierapolis, Phrygia – ditanya
oleh temannya, "Siapa yang bisa disebut kaya?" Dia menjawab, "Cui satis est
quod habet," artinya: yang kaya itu adalah orang yang sudah merasa cukup
dengan yang dimilikinya. Kerakusan dan ketamakan itu terjadi karena orang
tidak pernah merasa diri cukup. Mahatma Gandhi (1167 – 1227) pernah
berkata, "Dunia ini cukup bagi orang yang hidup secara wajar dan ugahari,
tapi tidak cukup bagi orang yang serakah."

Keserakahan dan ketamakan yang terjadi akhir-akhir ini menyakiti hati rakyat
yang setiap hari berjuang untuk mengisi perutnya. Orang-orang yang memiliki
sebutan bapak dan ibu dewan terhormat masih belum merasa cukup dengan apa
yang mereka miliki. Mungkin kita bisa belajar dari kisah awal Revolusi
Prancis. Stefan Zweig dalam Maria Antoinette, (1755 – 1793) menulis bahwa
Raja Louis XVI (1754 - 1793) bersama anggota keluarganya berdiri di balkon
menyebar roti yang diperebutkan rakyat yang kelaparan. Rakyat rela
menukarkan kematian dengan secuil roti. Raja pesta-pora sedangkan rakyat
jelata menderita-sengsara. Baiklah jika kita meneladani asketis sang
Nabi. Asep Salahudin menulis, "Rasulullah lebih memilih menyatu dengan
rakyat. Istananya tidak dibangun berlapiskan emas permata, tetapi menjadi
bagian dengan masjid tempat keluar masuk masyarakat. Alih-alih memakai pagar
yang menghabiskan uang rakyat, pintu rumahnya justru dibiarkan terbuka agar
para sahabat dan komponen bangsa dapat berdialog setiap saat." (Kompas, 4
Februari 2012). Pribadi yang sudah merasa cukup tidak perlu takut dengan apa
yang dimiliki. Rasulullah sangat terbuka dengan alam sekitar, sang nabi
transparan, hidupnya suci sehingga setiap orang bisa menimba "air kehidupan
yang indah itu."

Jika kita menyaksikan media elektronik dan mass media yang menyiarkan
tentang kerasukan orang-orang terhormat, paling-paling rakyat hanya dapat
berteriak, merobohkan pagar, pasang tenda di depan Gedung DPR, menjahit
mulut atau membakar diri (Kompas, 24 Januari 2012). Kita pun menjadi apatis
terhadap situasi zaman sekarang. Tidak salahlah jika kita menyebutnya
sebagai annus horribilis yang berarti tahun yang mengerikan. Orang yang
mencuri sandal jepit dibawa ke meja hijau dan mereka yang menyelewengkan
uang rakyat bermilyard-milyard, bahkan triliyun rupiah, masih bisa
lenggang kangkung.

Rasa tidak cukup juga terjadi dalam diri para penguasa. Kekuasaan itu
nikmat. Jika tidak maka dunia ini akan aman dan sejahtera, bagaikan negeri
Hesperia yang diimpikan oleh Aeneas, sebuah epik karya Vergilius (70– 19
seb. M ). Jika para mentri kita yaitu Kabinet Bersatu II ( 2009 – 2014) itu
sungguh-sungguh memahami makna minister (Kata minister dalam bahasa
Latin berarti pelayan), maka tidak akan lagi perebutan kekuasaan . Para
penguasa tidak pernah belajar dari sejarah. Banyak dari mereka diturunkan
secara paksa, padahal jika seorang penguasa itu sungguh-sungguh menghayati
falsafat dari lengser keprabon madeg pandhita, yang artinya: meninggalkan
urusan dunia dan menuju jalan ke akhirat, maka dirinya akan menjadi manusia
terhormat dan menjadi negarawan. Mari kita lihat penaklukan dari Raja Cyrus
Agung (547 – 529 seb. M). Sebagai penguasa Kerajaan Persia dan penakluk
bangsa Lidia dan Babilonia, Cyrus memiliki kedudukan yang belum pernah ada
sebelumnya: tuan atas seluruh tanah mulai dari perbatasan India hingga
Mediterania. Sang Raja sudah diperingatkan supaya mengakhiri petualangannya
"menguasai dunia" Tetapi nafsu berkuasanya tidak kunjung padam. Akhirnya
dia terbunuh ketika berperang melawan sebuah suku bangsa bernama Massagetae.
Para prajuritnya sudah ingin pulang dan berjumpa dengan anak dan istrinya
sambil berkata, "Enough is enough. Sudah cukup! Mari kita pulang!" Tetapi
sang raja menutup mata hatinya. Robert Greene (lahir: 1959) dalam 48 Hukum
Kekuasaan menulis bahwa bahaya terbesar biasanya terjadi pada momen
kemenangan. Orang yang menang perang akan semakin besar kuasa dan
wewenangnya. Sisi buruknya adalah bahwa ia akan menyalahgunakan wewenangnya,
sehingga yang terjadi adalah sewenang-senang. Lord Acton (1834 – 1902)
mengatakan bahwa the great man is the bad man, yang artinya orang besar
adalah orang yang buruk. Di balik kegemilangan prestasi mereka, tiap
penakluk – dipandang dari sudut yang lain – adalah orang-orang yang juga
menghancurkan kehidupan banyak orang. Attila (406 - 453) memeras bangsa
Romawi dan menghancurkan kehidupan ratusan suka bangsa Eropa sehingga ia
disebut Flagellum Dei, yang artinya: Bencana dari Tuhan. Sepak terjang
Genghis Khan (1167 – 1227) dengan bangsa Mongol-nya menyebabkan kehancuran
di sepanjang daratan Eurasia, sehingga bangsa-bangsa Eropa Barat yang tidak
mengalaminya secara langsung pun menyebut mereka sebagai bangsa "Bangsa
Setan menjijikkan yang dicurakna seperti para iblis dari Neraka.
Singkatnya, setiap penakluk pada umumnya memunyai predikat negatif di
samping kemegahannya.

Mengatakan, "Cukup" memang tidak mudah. Ketika merokok bersama dengan
teman-teman, saya berkata, "Ini isapan yang terakhir. Cukup!" Tetapi
besoknya saya mengatakan hal yang sama, "Ini isapan yang terakhir. Cukup!"
Merenungi makna cukup ini, saya jadi ingat akan kata-kata Teresa dari Avila
(1515 – 1582), "Solo Dios basta" yang berarti: Tuhan saja cukup. Inilah
motto tahbisan Pastor Terry Panomban Pr.

Skolastikat MSC, 26 Maret 2012
Biara Hati Kudus
Jl. Raya Pineleng , KM. 9 PINELENG
MANADO – 95361
Markus Marlon msc

Tidak ada komentar: