Rabu, 01 Juli 2009

Dermawan Rahasia

Dermawan Rahasia
oleh: Woody McKay Jr,

Sebagai seorang supir selama beberapa tahun di sekitar awal tahun 1910-an,
ayahku menyaksikan majikannya yang kaya raya secara diam-diam memberikan
uang kepada banyak orang, dan sadar bahwa mereka tidak akan pernah mampu
mengembalikan uang itu.

Ada satu cerita yang menonjol dalam kenanganku di antara banyak cerita yang
disampaikan ayahku kepadaku. Pada suatu hari, ayahku mengantar majikannya
ke sebuah kota lain untuk menghadiri sebuah pertemuan bisnis. Sebelum masuk
ke kota itu, mereka berhenti untuk makan sandwich sebagai ganti santap
siang.

Ketika mereka sedang makan, beberapa orang anak lewat, masing-masing
menggelindingkan sebuah roda yang terbuat dari kaleng. Salah seorang di
antara anak-anak itu pincang. Setelah memperhatikan lebih dekat, majikan
ayahku tahu bahwa anak itu menderita club foot. Ia keluar dari mobil dan
menghentikan anak itu.

"Apakah kakimu membuatmu susah?" tanya orang itu kepada si anak.

"Ya, lariku memang terhambat karenanya," sahut anak itu.

"Dan aku harus memotong sepatuku supaya agak enak dipakai. Tapi aku sudah
ketinggalan. Buat apa tanya-tanya? "

"Mm, aku mungkin ingin membantu membetulkan kakimu. Apakah kamu mau?"

"Tentu saja," jawab anak itu. Anak itu senang tetapi agak bingung menjawab
pertanyaan itu.

Pengusaha sukses itu mencatat nama si anak lalu kembali ke mobil. Sementara
itu, anak itu kembali menggelindingkan rodanya menyusul teman-temannya.

Setelah majikan ayahku kembali ke mobil, ia berkata, "Woody, anak yang
pincang itu... namanya Jimmy. Umurnya delapan tahun. Cari tahu di mana ia
tinggal lalu catat nama dan alamat orang tuanya. " Ia menyerahkan kepada
ayahku secarik kertas bertuliskan nama anak tadi.

"Datangi orang tua anak itu siang ini juga dan lakukan yang terbaik untuk
mendapatkan izin dari orang tuanya agar aku dapat mengusahakan operasinya.
Urusan administrasinya biar besok saja. Katakan, aku yang menanggung
seluruh biayanya."

Mereka meneruskan makan sandwich, kemudian ayahku mengantar majikannya ke
pertemuan bisnis.

Tidak sulit menemukan alamat rumah Jimmy dari sebuah toko obat di dekat
situ. Kebanyakan orang kenal dengan anak pincang itu.

Rumah kecil tempat Jimmy dan keluarganya tinggal sudah harus di cat ulang
dan diperbaiki di sana sini. Ketika memandang ke sekeliling, ayahku melihat
baju compang-camping dan bertambal-tambal dijemur di seutas tali di samping
rumah. Sebuah ban bekas digantungkan pada seutas tambang pula pada sebuah
pohon oak, tampaknya untuk ayunan.

Seorang wanita usia tiga puluh limaan menjawab ketukan pintu dan membuka
pintu yang engselnya sudah berkarat. Ia tampak kelelahan, dan tampangnya
menunjukkan bahwa hidupnya terlalu keras.

"Selamat siang," ucap ayahku memberi salam. "Apakah Anda ibu Jimmy?"

Wanita itu agak mengerutkan dahinya sebelum menyahut.

"Ya. Apakah ia bermasalah?" Matanya menyapu ke arah seragam ayahku yang
bagus dan disetrika rapi.

"Tidak, Bu. Saya mewakili seorang yang sangat kaya raya yang ingin
mengusahakan kaki anak Anda dioperasi agar dapat bermain seperti
teman-temannya. "
"Apa-apaan ini, Bung? Tak ada yang gratis dalam hidup ini."

"Ini bukan main-main. Apabila saya diperbolehkan menerangkannya kepada Anda
dan suami Anda, jika ia ada saya kira semuanya akan jelas. Saya tahu ini
mengejutkan. Saya tidak menyalahkan bila Anda merasa curiga."

Ia menatap ayahku sekali lagi, dan masih dengan ragu-ragu, ia
mempersilahkannya masuk. "Henry," serunya ke arah dapur, "Ke mari dan
bicaralah dengan orang ini. Katanya ia ingin menolong membetulkan kaki
Jimmy."

Selama hampir satu jam, ayahku menguraikan rencananya dan menjawab
pertanyaan-pertanyaan mereka. "Apabila Anda mengizinkan Jimmy menjalani
operasi," katanya, "Saya akan mengirimkan surat-suratnya untuk Anda
tandatangani. Sekali lagi, kami yang akan menanggung seluruh biayanya."

Masih belum bebas dari rasa terkejut, orang tua Jimmy saling memandang di
antara mereka. Tampaknya mereka masih belum yakin.

"Ini kartu nama saya. Saya akan menyertakan sebuah surat kalau nanti saya
mengirimkan dokumen-dokumen perizinan. Semua yang telah kita bicarakan akan
saya tuliskan dalam surat itu. Andai kata masih ada pertanyaan, telepon
atau tulis surat ke alamat ini." Tampaknya sedikit banyak ini memberi
mereka kepastian. Ayahku pergi. Tugasnya telah ia laksanakan.

Belakangan, majikan ayahku menghubungi walikota, meminta agar seseorang
dikirim ke rumah Jimmy untuk meyakinkan keluarga itu bahwa tawaran tersebut
tidak melanggar hukum. Tentu saja, nama sang dermawan tidak disebutkan.

Tidak lama kemudian, dengan surat-surat perizinan yang telah
ditandatangani, ayahku membawa Jimmy ke sebuah rumah sakit mewah di negara
bagian lain untuk yang pertama dari lima operasi pada kakinya.

Operasi-operasi itu sukses. Jimmy menjadi anak paling disukai oleh para
perawat di bangsal ortopedi rumah sakit itu. Air mata dan peluk cium
seperti tak ada habisnya ketika ia akhirnya harus meninggalkan rumah sakit
itu. Mereka memberikannya sebuah kenang-kenangan, sebagai tanda syukur dan
peduli mereka... sepasang sepatu baru, yang dibuat khusus untuk kaki
"baru"nya.

Jimmy dan ayahku menjadi sangat akrab karena sekian kali mengantarnya
pulang dan pergi ke rumah sakit. Pada kebersamaan mereka yang terakhir,
mereka bernyanyi-nyanyi, dan berbincang tentang apa yang akan diperbuat
oleh Jimmy dengan kaki yang sudah normal dan sama-sama terdiam ketika
mereka sudah sampai ke rumah Jimmy.

Sebuah senyum membanjiri wajah Jimmy ketika mereka tiba di rumah dan ia
melangkah turun dari mobil. Orangtua dan dua saudara laki-lakinya berdiri
berjajar di beranda rumah yang sudah tua itu.
"Diam di sana, " seru Jimmy kepada mereka. Mereka memandang dengan takjub
ketika Jimmy berjalan ke arah mereka. Kakinya sudah tidak pincang lagi.

Peluk, cium dan senyum seakan tak ada habisnya untuk menyambut anak yang
kakinya telah "dibetulkan" itu. Orang tuanya menggeleng-gelengkan kepalanya
sambil tersenyum ketika memandangnya. Mereka masih tidak bisa percaya ada
orang yang belum pernah mereka kenal mengeluarkan uang begitu banyak untuk
membetulkan kaki seorang anak laki-laki yang juga tidak dikenalnya.

Dermawan yang kaya raya itu melepas kacamata dan mengusap air matanya
ketika ia mendengar cerita tentang anak yang pulang ke rumah itu.
"Kerjakan satu hal lagi, " katanya, "Menjelang Natal, hubungi sebuah toko
sepatu yang baik. Buat mereka mengirimkan undangan kepada setiap anggota
keluarga Jimmy untuk datang ke toko mereka dan memilih sepatu yang mereka
inginkan. Aku akan membayar semuanya. Dan beritahu mereka bahwa aku
melakukan ini hanya sekali. Aku tidak ingin mereka menjadi tergantung
kepadaku."

Jimmy menjadi seorang pengusaha sukses sampai ia meninggal beberapa tahun
yang lalu.

Sepengetahuanku, Jimmy tidak pernah tahu siapa yang membiayai operasi
kakinya.

Dermawannya, Mr, HENRY FORD, selalu mengatakan lebih menyenangkan berbuat
sesuatu untuk orang yang tidak tahu siapa yang telah melakukannya.

"Ada kebahagiaan yang kita rasakan dari menolong orang lain"

(Paul Newman)

Tidak ada komentar: