Kamis, 23 Juli 2009

Bunga cantik dalam pot yang retak.

Bunga Cantik Dalam Pot Yang Retak.

Rumah kami langsung berseberangan dengan pintu masuk RS John Hopkins di
Baltimore. Kami tinggal dilantai dasar dan menyewakan kamar-kamar lantai
atas pada para pasien yang ke klinik itu.

Suatu petang dimusim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada
orang mengetuk pintu. Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria dengan
wajah yang benar buruk sekali rupanya."Lho, dia ini juga hampir cuma
setinggi anakku yang berusia 8 tahun", pikirku ketika aku mengamati tubuh
yang bungkuk dan sudah serba keriput ini. Tapi yang mengerikan ialah
wajahnya, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti
daging mentah., hiiiihh...!

Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata : "Selamat malam.
Saya ini kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam
saja. Saya datang berobat dan ti ba dari pantai Timur, dan ternyata tidak
ada bis lagi sampai esok pagi."

Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, tidak
ada seorangpun tampaknya yang punya kamar.
"Aku rasa mungkin karena wajahku ... Saya tahu kelihatannya memang
mengerikan, tapi dokterku bilang dengan beberapa kali pengobatan lagi..."

Untuk sesaat aku mulai ragu2, tapi kemudian kata2 selanjutnya menenteramkan
dan meyakinkanku: "Oh aku bisa kok tidur di kursi goyang diluar sini, di
veranda samping ini. Toh bisku esok pagi2 juga sudah berangkat."

Aku katakan kepadanya bahwa kami akan mencarikan ranjang buat dia, untuk
beristirahat di veranda. Aku masuk kedalam menyelesaikan makan malam.

Setelah rampung, aku mengundang pria tua itu, kalau2 ia mau ikut makan.
"Wah, terima kasih, tapi saya sudah bawa cukup banyak makanan."

Dan ia menunjukkan sebuah kantung kertas coklat. Selesai dengan mencuci p
iring2, aku keluar mengobrol dengannya beberapa menit.

Tak butuh waktu lama untuk melihat bahwa orang tua ini memiliki sebuah hati
yang terlampau besar untuk dijejalkan ketubuhnya yang kecil ini. Dia
bercerita ia menangkap ikan untuk menunjang putrinya, kelima anak2nya, dan
istrinya, yang tanpa daya telah lumpuh selamanya akibat luka ditulang
punggung.

Ia bercerita itu bukan dengan berkeluh kesah dan mengadu; malah
sesungguhnya, setiap kalimat selalu didahului dengan
ucapan syukur pada Allah untuk suatu berkat !! Ia berterima kasih bahwa
tidak ada rasa sakit yang menyertai penyakitnya,
yang rupa2nya adalah semacam kanker kulit. Ia bersyukur pada Allah yang
memberinya kekuatan untuk bisa terus maju dan bertahan. Saatnya tidur, kami
bukakan ranjang lipat kain berkemah untuknya di kamar anak-anak...

Esoknya waktu aku bangun, seprei dan selimut sudah rapi terlipat dan pria
tua itu sudah berada di veranda. Ia menolak makan pagi, tapi sesaat sebelum
ia berangkat naik bis, ia berhenti sebentar, seakan meminta suatu bantuan
besar, ia berkata, "Permisi, bolehkah aku datang dan tinggal disini lagi
lain kali bila aku harus kembali berobat? Saya sungguh tidak akan
merepotkan anda sedikitpun. Saya bisa kok tidur enak dikursi."

Ia berhenti sejenak dan lalu menambahkan, "Anak-anak anda membuatku begitu
merasa kerasan seperti di rumah sendiri. Orang dewasa rasanya terganggu oleh
rupa buruknya wajahku, tetapi anak2 tampaknya tidak terganggu."
Aku katakan silahkan datang kembali setiap saat.

Ketika ia datang lagi, ia tiba pagi2 jam tujuh lewat sedikit. Sebagai oleh2,
ia bawakan seekor ikan besar dan satu liter kerang oyster terbesar yang
pernah kulihat. Ia bilang, pagi sebelum berangkat, semuanya ia kuliti supaya
tetap bagus dan segar.
Aku tahu bisnya berangkat jam 4.00 pagi, entah jam berapa ia sudah harus
bangun untuk mengerjakan semuanya ini bagi kami. Selama tahun-tahun ia
datang dan tinggal bersama kami, tidak pernah sekalipun ia datang tanpa
membawakan kami ikan atau kerang oyster atau sayur mayur dari kebunnya.

Beberapa kali kami terima kiriman lewat pos, selalu lewat kilat khusus, ikan
dan oyster terbungkus dalam sebuah kotak penuh daun bayam atau sejenis kol,
setiap helai tercuci bersih. Mengetahui bahwa ia harus berjalan sekitar 5 km
untuk mengirimkan semua itu, dan sadar betapa sedikit penghasilannya,
kiriman2 dia menjadi makin bernilai...

Ketika aku menerima kiriman oleh2 itu, sering aku teringat kepada komentar
tetangga kami pada hari ia pulang ketika pertama kali datang. "Ehhh, kau
terima dia bermalam ya, orang yang luar biasa jelek menjijikkan mukanya itu?
Tadi malam ia kutolak. Waduhh, celaka dehh.., kita kan bakal kehilangan
langganan kalau ner ima orang macam gitu!"

Oh ya, memang boleh jadi kita kehilangan satu dua tamu. Tapi seandainya
mereka sempat mengenalnya, mungkin penyakit mereka bakal jadi akan lebih
mudah untuk dipikul. Aku tahu kami sekeluarga akan selalu bersyukur, sempat
dan telah mengenalnya; dari dia kami belajar apa artinya menerima yang buruk
tanpa mengeluh, dan yang baik dengan bersyukur kepada Allah.

Baru2 ini aku mengunjungi seorang teman yang punya rumah kaca. Ketika ia
menunjukkan tanaman2 bunganya, kami sampai pada satu tanaman krisan yang
paling cantik dari semuanya, lebat penuh tertutup bunga berwarna kuning
emas. Tapi aku jadi heran sekali, melihat ia tertanam dalam sebuah ember
tua, sudah penyok berkarat pula. Dalam hati aku berkata, "Kalau ini
tanamanku, pastilah sudah akan kutanam di dalam bejana terindah yang
kumiliki."

Tapi temanku mengubah cara pikirku. "Ahh, aku sedang kekurangan pot saat
itu," ia coba terangkan, "dan tahu ini bakal cantik sekali, aku pikir tidak
apalah sementara aku pakai ember loak ini. Toh cuma buat sebentar saja,
sampai aku bisa menanamnya ditaman."

Ia pastilah ter-heran2 sendiri melihat aku tertawa begit gembira, tapi aku
membayangkan kejadian dan skenario seperti itu di surga. "Hah, yang ini luar
biasa bagusnya," mungkin begitulah kata Allah saat Ia sampai pada jiwa
nelayan tua baik hati itu. "Ia pastilah tidak akan keberatan memulai dulu di
dalam badan kecil ini."

Semua ini sudah lama terjadi, dulu -- dan kini, didalam taman Allah, betapa
tinggi mestinya berdirinya jiwa manis baik ini.
"Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di
depan mata, tetapi Tuhan melihat hati."

Sahabat adalah orang yang istimewa sekali. Mereka membuatmu tersenyum dan
mendorongmu jadi sukses. Mereka meminjamimu sebuah kuping dan berbagi suatu
kata pujian. Tunjukkan kepada kawan2mu betapa kau perduli. Buatlah seseorang
tersenyum hari ini.

Tidak ada komentar: