Sabtu, 05 September 2015

Memberi

MEMBERI
(Kontemplasi  Peradaban)

Sunan Drajat (± lahir 1470)  memberikan ajaran yang sangat bagus untuk kita simak:
Menehana teken wong kang wuto
Menehana mangan wong kang luwe
Menehana busono marang wong kang wudo
Menehana ngeyup marang wong kang kodanan

(Terjemahan: berilah ilmu agar orang menjadi pandai/sejahterakan orang miskin/ajarilah kesusilaan kepada orang yang tidak punya rasa malu/berilah perlindungan kepada orang-orang yang menderita).
Inti dari ajaran yang hingga kini masih “hidup” di Pondok Pesantren Sunan Drajat ini adalah memberi. Mother  Teresa (1910 – 1997)  bahkan pernah berkata,  “Tidak hanya yang menerima yang gembira, namun yang memberi juga merasa gembira.”  Dan dalam pemberian diri ia membutuhkan cinta yang tulus,  “Love until you are hurt” – mencintailah sampai engkau merasa sakit. Hal yang sama seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad, “Sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermanfaat bagi sesama.”  Orang yang bermanfaat adalah orang yang banyak memberi.
Mungkin kita pernah berniat memberikan uang misalnya kepada orang miskin. Dalam hati, kita berpikir, “Orang ini akan saya beri uang Rp. 50.000.”  Kemudian ketika tiba waktunya memberi, kita  hanya memberi uang Rp. 20.000,-  Lantas, untuk beberapa saat, kita menyesal dan merasa bersalah.  Kemudian saya membayangkan orang-orang miskin yang membutuhkan bantuan.  “Bis dat qui cito dat” – Memberi (bantuan) dengan cepat artinya memberi (bantuan) dua kali.
Bulla (surat resmi) yang berjudul, “Misericordia Vultus” – wajah kerahiman/ belas kasih – yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus (11 April 2015), hendak menegaskan bahwa “kerahiman merupakan dasar utama kehidupan Gereja (Bdk. Tulisan  J. Mangkey MSC dalam “Warta Keluarga Chevalier” Th. XIII. No.1 Juli 2015).  Di sini pula, kita diajak untuk menjadi orang-orang yang  “bermurah hati” dan mudah tergerak oleh belas kasihan kepada orang lain. Ini pula yang dibuat  oleh Yesus sejak masa kecilnya yakni bersikap murah hati. Kita baca kutipan dari Kahlil Gibran dengan judul, “Jesus the Son of Man” yang dikatakan Anna,  Ibunda Maria:
Seringkali Ia mengambil makanan kami dan memberikannya kepada orang-orang yang lewat. Dan Ia suka memberikan makanan yang kuberikan kepada-Nya kepada anak-anak lain, sebelum ia mencicipinya.
Ia suka memanjat pepohonan di kebunku untuk memetik buahnya, tetapi tidak pernah untuk dimakan sendiri.
Dan Ia suka lomba lari dengan anak-anak lainnya dan terkadang, karena lari-Nya lebih cepat, Ia suka menunggu agar mereka menang.

Kamis, 30 Juli 2015   Markus Marlon

Tidak ada komentar: