Senin, 07 April 2014

Capek Dech

CAPEK  DECH!!
(Serpihan-Serpihan Kisah Yang Tercecer)
     
          Beberapa tahun yang lalu (± 1996-an), saya pernah menjadi pastor bantu – memang  sih kalau salah ucap jadi pembantu pastor  –  (sekarang istilahnya lebih  keren yakni pastor rekan) di sebuah paroki. Waktu itu saya didhapuk atau  ketiban sampur untuk menangani Media Paroki. Tentu saja dengan semangat yang berkobar-kobar saya menerima tugas itu. Edisi pertama, luar biasa tanggapan dari kalangan umat. Mereka mengagumi  Media yang berbentuk majalah bulanan itu. Ini yang membuat  crew makin bersemangat. Crew  ini juga makin kompak. Runtang-runtung  kesana-kemari meliput kegiatan paroki.
          Edisi kedua, ketiga masih semangat. Tetapi ketika memasuki edisi ke empat, pujian atas  Media paroki mulai menghilang. Yang dulu dipandang sebagai hal luar biasa, kini menjadi hal yang biasa. Apalagi ketika saya berkunjung ke keluarga-keluarga,  ternyata Media Paroki yang kami buat masih menumpuk di meja ruang tamu,  bahkan belum dibuka plastiknya. Kami menjadi loyo!
          Akhirnya crew mulai kadang muncul lagi di "Kantor  Media Paroki."  Deadline  mulai tidak diindahkan dan terbitnya pun mulai tidak tepat waktu. Bahkan salah seorang  crew berkata, "Masak kerja berbulan-bulan cuma kerja bhakti. Capek dech!!"  Dugaan saya, paroki-paroki yang dulu pernah memiliki Media – barangkali – kini tinggal kenangan saja.
          Memang benar kata pepatah, "Yang baru selalu indah dan menyenangkan,"  misalnya,   mahasiswa baru, pengantin baru, karyawan  yang baru diangkat menjadi pegawai tetap. "Nil novi sub sole" – tidak ada yang baru di bawah matahari, demikian kata pengkhotbah (Pkh 1: 9). Dan peristiwa-peristiwa semacam itu tentunya berulang dalam sejarah. Ketika Alexander  The Great (235 – 323 seb. M  ) raja Macedonia itu ingin menguasai dunia, setiap kali menduduki satu negeri ia disanjung dan dipuji (misalnya di kota Alexandria). Tetapi setelah beberapa bulan pujian mulai menghilang, Sang Penakluk akhirnya pergi lagi mencari koloni baru dan seterusnya. Selang beberapa tahunm dia mati bukan karena berperang namun karena kelelahan,  "Capek dech!!" (Bdk. Cerita wayang dengan judul, "Pandawa Swarga"). Sejarah memang berulang,  "L'histoire se répète"
          Mengelola sebuah Media untuk zaman muthakhir memang  gampang-gampang susah atau susah-susah gampang.  Sang pengelola harus bermental baja. Awalnya suatu pekerjaan itu dilihat sebagai  job, yang tentunya seperti tugas dan kewajiban. Kemudian, pekerjaan atau tugas menjadi suatu  career yang tentu melaluinya orang dapat naik pangkat dan dipromosikan. Lantas, mengelola  Media (apalagi – maaf – milik paroki, tarekat maupun Keuskupan) perlu didasarkan pada vocation atau calling (panggilan).  Dari situlah seseorang yang mengelola  Media akan merasa bahagia dan ada passion.  Meskipun tidak ada yang memuji atau pun tidak ada yang membaca serta melihat YouTube yang dibuat, ia akan mengerjakan dengan suka cita dan penuh gairah, passion. Ia akan mengerjakan seperti apa yang pernah dikatakan Mother  Teresa (1910  – 1997), "In this life, we cannot do great things. We can only do small things with great love."
          Usul saya, ketika seseorang mengelola media seperti: bulletin, majalah bulanan atau media elektronik seperti: renungan harian, YouTube, film-film singkat perlu memiliki  "hati yang lapang".  Ia sudah layak dan sepantasnya rela untuk tidak dihargai dan  ikhlas jika hasil karyanya ternyata   tidak dibaca atau pun dilihat. Dengan mental seperti ini, maka kalau kita tidak  dianggep,  maka tidak akan muncul kata-kata, "Capek dech!!"
 
Jumat, 04 April 2014   Markus Marlon

Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com

Tidak ada komentar: