Selasa, 30 Juli 2013

NAMA
(Kontemplasi  Peradaban)
         
Belum lama ini,  saya berlima (Rm. Miranto, Rm. Yoh Sujono, Pst. Harry Singkoh, Pst. Jovi dan saya) mengadakan perjalanan menuju Coolibah.
Sebelum sampai di  Puncak Pass, saya dikagetkan dengan  "penampakan"  beberapa wanita muda yang mengenakan kaos biru muda yang bertuliskan PSK (Seingat saya, PSK itu Pekerja Seks Komersial). Karena rasa penasaran yang menggebu-gebu, merapatlah kendaraan kami di tempat beberapa wanita berkaos muda itu bekerja.
Wanita muda itu,  ternyata bertugas sebagai penusuk sate kambing, ada yang membakar dan menyajikan sate yang masih  kemebul itu ke para pembeli. Dan PSK itu – tak terduga sebelumnya – adalah  akronim dari Puncak Sate Kiloan. Karena sudah terlanjur masuk kawasan PSK, terpaksa kami harus makan sate yang dijual kiloan (artinya dijual per-kilogram dan 1kg berisi 45 tusuk). Memang enak. Rasanya seperti warung sate Belibul (kambing muda yang usianya Belum Lima Bulan) yang terletak di Kabupaten Slawi menuju pemandian air panas Guci. 
Siapa yang tidak penasaran dengan nama-nama seperti: PSK, Belibul, Ikan Gurami WTS (Warung Tengah Sawah) di Pemalang, Es bakar dan nasi bakar di Amplas (Ambarukma Plaza) Yogjakarta?
Nama bagi orang Indonesia sungguh memunyai makna. Orang Romawi kuno mengatakan bahwa nama adalah tanda,  "nomen est omen."  Ungkapan, "Gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan nama" hendak melegalkan bahwa nama itu memiliki makna.  Maka tidak mengherankan jika nama-nama jalan di setiap kota tentu menggunakan nama pahlawan. Karena setiap pahlawan itu harum namanya, seperti Ibu Kartini (1879 – 1904)  harum namanya.  Dari sana pula kita boleh beriskap kritis terhadap  Shakespeare (1564 – 1616)  yang mengatakan, "Apalah artinya sebuah nama, bunga mawar tetap harum meskipun namanya bukan mawar" (Bdk. Drama berjudul  Romeo-Juliet).
Sekali lagi,  "Nomen est omen!"  nama adalah tanda.  Orang Jawa memiliki nama yang panjang-panjang misalnya: Joko Hadiwijaya Nata Siswaya Mangku Singa Limo. Tetapi ingat bahwa orang Jawa juga dengan mudah mengganti nama,  seandainya orang yang mengenakan nama itu merasa "keberatan"  yang kadang ditandai dengan sakit-sakitan yang tidak kunjung sembuh. Maka atas nasihat orang-orang tua, sesepuh,  nama yang panjang dan indah itu bisa langsung diganti dengan nama Slamet. Dan ternyata anak itu jadi sehat walafiat. 
Di Gunungkidul – Yogjakarta zaman dahulu, banyak  orang menggunakan nama  yang  kelihatan  kampungan   – maaf – seperti: Markus Paimin.  Memang, nama itu di Gunungkidul  tidak begitu  keren. Tetapi ketika pindah ke Manado, nama Paimin itu menjadi  sangat  keren, karena di sana seperti  nama  fam (marga, keluarga).  Nama Paimin sejajar dengan Pandelaki, Tangkilisan, Wongkar dan lain sebagainya. Dan orang pun tidak sembarang memberi nama kepada anaknya.  Belum ada orang Kristen yang memberi nama Yudas kepada anaknya (padahal ada juga nama Yudas Tadeus yang rasul). Orang tua  tidak akan memberikan nama Hitler kepada anak kesayangannya. Orang tua tidak mungkin memberikan nama Doryudana kepada putranya yang semata wayang.
"Orang mati meninggalkan nama."  Kaisar Julius dan Kaisar Agustus ingin dikenang dalam Kalender.  Rupanya Kaisar Julius dalam Kalender menamakan diri sebagai bulan Juli dan Kaisar Agustus menamakan diri sebagai bulan Agustus.  Itulah sebabnya bulan September yang seharusnya menjadi bulan ketujuh (septem  artinya  tujuh) menjadi bulan kesembilan dan bulan Oktober yang seharusnya menjadi bulan kedelapan (Oktaf  artinya  delapan) menjadi bulan kesepuluh  (November, nona artinya sembilan dan Desember, decem  artinya  sepuluh).  Barangkali dari Surga Julius dan Agustus tersenyum karena namanya disebut setiap tahunnya.
Sepulang dari warung PSK (Puncak Sate Kiloan), kami menuju Collibah  dan menuju sebuah rumah. Di depan pintu muncullah seorang bapak muda yang siap menerima kami. Kemudian, bapak itu ingin tahu nama saya. Tetapi langsung saya bilang sambil menyitir  ungkapan Shakespeare, "Apalah pak arti sebuah nama!"  
Ketika mengaso sejenak di ruang tamu beberapa menit kemudian, bapak tersebut  mengeluarkan sebuah  pispot  untuk menyajikan  pisgor (pisang goreng).  Merasa jijik saya pun berkata, "Bapak kenapa  pispot  ini diisi dengan   pisgor?"
Dengan santai bapak itu pun berkata, "Saudara, Ini  pispot  baru dan amat bersih serta  belum pernah dipakai oleh siapa pun."  Katanya lagi, "Apalah arti sebuah nama!"
Saya tidak tega makan pisgor tersebut,  karena namanya saja  pispot, meskipun bersih dan tidak akan pernah dipakai untuk tempat  urine,  tetap pispot.
Rabu, 24 Juli 2013   Markus Marlon


Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com

Tidak ada komentar: