Jumat, 19 Juli 2013

JALAN
(Kontempasi Peradaban)
         
Ketika saya hendak berkunjung kesalah satu keluarga di Manado – di bilangan kota Teling, saya agak heran karena dulu nama jalan itu adalah Jalan Anoa. Tetapi sekarang nama Jalan itu sudah tidak ada dan yang masih ada adalah Jalan 14 Februari.  Setelah saya bertanya kepada penduduk setempat, ternyata nama Anoa itu telah di-pleset-kan ("digelincirkan") oleh penduduk lain, menjadi akronim: Anak Nakal Otak Anjing. Padahal nama Anoa (hewan endemic Sulawesi) itu indah. Karena nama Jalan itu menjadi  "tidak baik" orang-orang yang tinggal di Jalan Anoa tersebut sengaja menghilangkan nama yang indah itu, Anoa.
Tahun berikutnya (2112), saya mengadakan perjalanan ke Jawa Barat. Di sepanjang jalan saya merasakan ada kejanggalan, ketika melihat nama-nama Jalan di sana. Di sana tidak ada nama Jalan yang  menggunakan nama  Gajah Mada. Sekonyong-konyong terbersit dalam pikiran saya dengan novel  yang pernah saya baca yang berjudul  Perang Bubat  yang terjadi tahun 1357 tulisan Langit Kresna Hariadi. Dalam novel tersebut, dikisahkan tentang Dyah Pitaloka putri Raja Galuh Pajajaran. Dalam perang Bubat tersebut, Patih  GajahMada (circa 1290 – 1364 ) amat berperan besar. Mungkin itulah nama Gajah Mada sengaja dilupakan, bahkan ingin dihapus dari ingatan negeri Parahiyangan. Wallahualam bi shawab!!
Mengontemplasikan makna Jalan, kita diajak untuk memasuki relung-relung kehidupan itu sendiri, dari Jalan yang biasa (street atau road) hingga Jalan menuju kepada keabadian (eternity).Maka tidak mengherankan jika muncul kata  sirotol mustaqim  (jalan menuju surga), yang menurut bahasa Injil adalah sempitlah jalan menuju kesurga (Mat 7: 13 – 14).
Orang seperti saya yang terlahir di  ndesa kluthuk  (desa yang sangat udik) tentu banyak pengalaman mengenai Jalan. Saya masih teringat bagaimana di  sepanjang jalan desa kami ada  kendi yang diletakkan di depan rumah oleh tuan rumah. Ternyata  kendi-kendi  tersebut disediakan bagi orang-orang yang mengadakan perjalanan dari desa ke desa (zaman dulu belum ada kendaraan dan listrik pun belum masuk). Keramahtamahan dari tuan rumah pada zaman itu sungguh luar biasa. Para  "peziarah" itu dengan mudah bertanya arah mana yang harus ditempuh (Bdk. Peribahasa,  "Malu bertanya sesat di jalan"), apalagi banyak persimpangan. Pada waktu itu memang belum ada petunjuk jalan, rambu-rambu maupun marka yang menjadi fasilitas bagi para pengguna jalan seperti zaman sekarang ini.
Sebuah jalan bisa menjadi kenangan, seperti lagu yang berjudul,  "Sepanjang Jalan Kenangan" ciptaan Is Haryanto dan dipopulerkan oleh Tetty Kadi (1969). Menjadi kenangan karena – barangkali – di jalan tersebut untuk pertama kali berjumpa dengan kekasih hati. Jalan menuju kotaWonosari – Gunung kidul dulu ada Jalan yang namanya  Irung Petruk (hidung Petruk) yang bentuknya seperti hidung  Pinokio (Novel ini ditulis oleh Carlo Collodi yang lahir di Florence 1826 – 1890). Orang-orang yang sedang jatuh cinta dan berduaan naik kendaraan bermotor akan mengatakan bahwa mereka memasuki  "tikungan mesra." Pengalaman seperti inilah yang menjadi kenangan. NH Dini dalam novelnya yang berjudul  Sebuah  Lorong di Kotaku, menceritakan tentang sebuah lorong yang memberi kenangan di masa kecil. Kita pun tentu memiliki kenangan tersendiri di sepanjang Jalan hidup ini. Petrus – Paus Pertama memiliki pengalaman tersendiri mengenai Jalan. Di Jalan Appia atau Via Appia, Petrus hendak melarikan diri dari penyiksaan dan pembantian orang-orang Kristen  di kota Roma. Sementara hendak keluar dari kota Roma  di Via Appia, ia bertemu dengan seseorang dan berkata,  "Quo vadis Domini?"  Dan "Tuan" itu  pun berkata, "Aku hendak ke Roma untuk disalibkan kedua kali." Dari sanalah Petrus sadar bahwa  "Tuan" itu adalah Yesus (Kisah selengkapnya bisa dibaca dalam novel berjudul  Quo Vadis tulisan Henryk Sienkiewicks).
Jalan bagi The Beatles – group music dari Liverpool dipandang sebagai jejak-jejak kehidupan.  Syair yang berbunyi,   "The long and  winding road" mengajak kita untuk mengontemplasikan akan kehidupan yang panjang dan penuh liku. Dan kadang dalam menapaki Jalan ini, kita mengalami banyak susah-derita. MalahanYesus bersabda, "Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku"  (Bdk. Luk 9:   23). Tidak heran jika tradisi kekatolikan menanamkan Jalan salib atau  Via  Dolorosa  (JalanPenderitaan) sebagai sarana untuk menghayati kehidupan Yesus. Jalan Salib menjadi permenungan umat manusia. Melalui Jalan Salib itu, kita merenungkan akan penghakiman terhadap orang yang tidak berdosa  (Yesus diadili secara tidak adil), diolok-olok (orang-orang yang menertawakan dan mencibir), jatuh dalam perjalanan (Yesus Jatuh tiga kali), perjumpaan dengan orang-orang yang tulus (Simon dari Kirene dan Veronica), ditolong oleh orang-orang yang prihatin (ibu-ibu Yerusalem yang menangisi Yesus), dipukul dan disiksa (algojo-algojo Romawi) akhirnya diancam dan dibunuh.
Jalan dalam bahasa Jawa diartikan sebagai  dalan.  Orang yang hidupnya tidak lurus disebut sebagai orang yang  "orandalan"  yang  berarti hidupnya tidak tahu aturan. Jalan – dengan demikian – dikandung maksud suatu arah, pedoman dan tujuan. Oleh karena itu, tidak salahlah jika hakekat jalan pun memiliki makna  religious.  Jalan menuju keabadian.  Orang-orang Mesir meyakini bahwa untuk menghadap  Osiris perlu peta atau denah yang ditaruh di bawah kepala orang yang yang sudah meninggal. Mereka beranggapan bahwa peta itu merupakan petunjuk arah menuju Osiris (dewa bawah tanah dan hakim orang mati). Bagi orang Yunani, orang yang meninggal itu dalam bibirnya diselipi koin emas. Ini dipakai untuk  "membayar"  orang yang menyeberangkan sungai dan bertemu dengan Dewa  Hades (Dewa Kematian).  Orang-orang Katolik mengenal yang namanya  viaticum yang adalah sakramen bagi orang-orang yang dalam sakit berat dan sebagai bekal Jalan  (via) menghadap Bapa di surge atau  viaticum  dalam bahasa Teologi diartikan sebagai  "makanan bagi yang mengadakan perjalanan." Komuni suci yang diberikan kepada orang yang akan meninggal untuk menyiapkannya bagi kehidupan yang akandatang.
Jalan juga sering diartikan sebagai  way of life – cara hidup.  Maka tidak mengherankan jika Yesus menyebut diri-Nya sebagai Jalan.  Via vita, via verita  – Jalan Kehidupan dan Jalan Kebenaran (Bdk.  Yoh 14: 6). 
Sebenarnya saya hendak menutup tulisan ini seperti yang ditulis oleh Thomas Aquinas (1225 – 1274). Ia berbicara secara analog mengenai Allah dengan merumuskan:  Via Affirmationis  (Jalan Peneguhan),  Via Negationis (Jalan Penyangkalan) dan Via Eminentiae  (Jalan Mulia). Tetapi sementara berpikir-pikir untuk menyusun kata-kata, sahabat saya mengajakku Jalan-Jalan. Dalam benakku sempat terpikir bahwa  Jalan-Jalan itu tidak memiliki tujuan,  sekadar  mlaku-mlaku  (bahasa Jawa) atau  sirèng-sirèng  atau  klinthong-klinthong  atau  sightseeing.  Namun supaya tidak mengecewakan yang mengajak  Jalan-Jalan, saya mencoba untuk memaknai  Jalan-Jalan itu sebagai suatu Perjalanan (journey). Maka tidak mengherankan jika perjalanan hidup itu pun harus ditulis dalam Buku Jurnal.  Hidup adalah suatu Perjalanan dan bukan hanya Jalan-Jalan, pun pula bukan Jalan di tempat. Einstein (1879 – 1955) pernah berkata, "Sepeda itu baru bisa Jalan kalau bergerak dan tidak jalan di tempat. Dan jika tidak bergerak maka akan jatuh."  Kita pun sudah layak dan sepantasnya dalam  nglakoni  (bahasa Jawa dari kata: laku, mlaku  yang berarti Jalan) hidup ini dengan bergerak, "Yok  Jalan!"
Senin, 15 Juli 2013  Markus  Marlon

 
Sent by PDS
http://www.birotiket.com/?id=PDSTiket

Tidak ada komentar: