Jumat, 26 Juli 2013

Melibatkan Diri

MELIBATKAN DIRI
(Kontemplasi Peradaban)
 
Ada seorang yang amat sibuk dengan pelbagai kegiatan. Katanya pada suatu hari, "Kita harus terlibat dengan pelbagai kegiatan. Jika di pasar jadilah pedagang. Jika di sawah jadilah petani dan jika di sekolah jadilah murid!"  Kita menceburkan diri ke dalam aktivitas dan hangus di dalamnya. "Cinta untuk untuk rumah-Mu menghanguskan aku" (Yoh. 2: 17).

Dalam melibatkan diri, seseorang bisa terjun secara  total, namun juga ada yang setengah-setengah. Keterlibatan itu bisa dari urusan rumah tangga yang remeh-temeh, namun juga bisa intervensi sebuah negara yang menguras energi dan pemikiran.  

Orang yang melibatkan diri dalam suatu perkara harus memiliki komitmen yang tinggi dan berani menanggung resiko. Fulton Sheen (1895 – 1979)  dalam bukunya yang berjudul   Kristus menulis, "Wanita-wanita Israel membungkam, tetapi wanita kafir ini, Claudia  tampil membela ketidakbersalahan Yesus serta mohon kepada suaminya, Ponsius Pilatus, supaya memperlakukan Dia secara adil" (hlm. 378). Kita tahu bahwa pada zaman itu, tiada seorang wanita pun diperbolehkan campur tangan dalam proses peradilan atau mengajukan sesuatu usul mengenai prosedur perundang-undangan. Barangkali peristiwa ini merupakan emansipasi pertama dalam dunia. Menurut etimologi, kata emansipasi berasal dari ex = keluar,  manus = tangan, cupere = membawa. Jadi Claudia itu berani  "mengunjukkan tangan" atau  menampilkan diri (Bdk. Felix Lengkong,  Millis Pineleng: 27 Januari 2012)   Lihat saja para pendekar emansipasi wanita, seperti R.A Kartini (1879 – 1904),  berani melibatkan diri untuk mengangkat derajat dan martabat kaumnya.

Orang yang melibatkan diri dalam suatu perkara tidak hanya menyumbangkan ide atau gagasan, melainkan "terjun langsung" menanganinya. Tangan atau manus, sebagai media utama  untuk melibatkan diri, diambil   menjadi istilah dalam biara-biara, "labor manualis" yang berarti kerja tangan.  Ada saat-saat tertentu bahwa para biarawan-wati  terlibat langsung untuk kebersihan biara mereka. Maka tidak mengherankan jika Abert Durër ( 1471 – 1528) melalui lukisannya yang berjudul Tangan yang Berdoa  memberikan pemahaman kepada kita bahwa tangan dalam lukisan tersebut adalah tangan yang kasar karena bekerja sebagai buruh demi biaya sahabatnya itu.  Sahabat dari Durër ini, melibatkan diri untuk sebuah kesuksesan orang lain. Ir Sukarno (1901 – 1970)  dalam Sarinah menulis, "… belum pernah ada orang yang belajar sesuatu hal dengan tidak bekerja. Orang tak dapat belajar berenang dengan tidak terjun ke dalam air. Orang tak dapat belajar menjahit, jika orang tidak mulai mengambil jarum di dalam tangannya…" (hlm. 221).  Manusia diminta supaya menggunakan tangganya terus-menerus  dalam melakukan pekerjaan yang baik sebagaimana Kristus telah menyelsaikan tugas yang diserahkan kepada-Nya oleh Bapa (Yoh 4: 34; 9: 4; 18: 4; Ibr. 10: 5, 7).

Ketika orang terjun dalam pekerjaan, Mahatma Gandhi ( 1869 – 1948) berkata, "Berbuatlah, tetapi jangan mencari buah perbuatanmu. Perbuatanmu mengalirkan siapakah dirimu sebenarnya, itulah buah. Hal ini sedikit banyak seperti jatuh cinta – ketika cinta mengalir ke luar begitu saja kepada orang Anda cintai."  Keterlibatan kita dalam masyarakat tidak perlu menghitung  "untung-rugi".  Kita berkarya secara total dalam   seumur hidup  (lifetime achievement).  Penulis, pelukis, penyanyi, pemimpin dan guru serta profesi lain yang melibatkan diri secara total adalah mereka yang menggunakan tangan-tangannya untuk berbuat baik. Mereka itu memiliki prinsip hidup, I do good, I intend good, I am good – "betindaklah yang baik, niat yang tulus dan menjadi baik.
 
Sabtu, 20 Juli 2013   Markus Marlon
 

Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com

Tidak ada komentar: