Senin, 15 September 2014

Kaya

KAYA
(Kontemplasi  Peradaban)
 
            Saya terkesima dengan tulisan yang terpampang pada sebuah bus malam dalam perjalanan ke Surabaya dari Jogjakarta (beberapa bulan yang lalu),  "Siapa yang kaya? Ia adalah orang yang merasa cukup dengan apa yang dimilikinya." Lalu saya minta bantuan mbah Goggle, ternyata pepatah tersebut  berasal dari para  rabi Yahudi.  Kemudian dalam hati, saya pun berkata, "Orang-orang besar selalu merasa cukup dengan sesuatu yang sedikit." Kadang, orang menunjuk pada orang bijak demikian,  "Dictum sapienti sat est" – bagi orang bijak, sebuah kata sudah cukup. Pepatah Latin ini merupakan warisan  dari Plautus (254 – 184 seb. M).
 
          Merasa kaya atau merasa cukup berasal dari sikap batin. Jika kita membaca drama karya Shakespeare (1564 – 1616) dengan judul  Henry VI, di sana dilukiskan seorang raja yang berkelana di daerah pedalaman yang tidak dikenalnya (incognito). Ia bertemu dengan dua orang pengawas binatang buruan dan berkata kepada mereka berdua bahwa dirinya adalah raja. Kemudian, salah seorang dari mereka bertanya kepadanya, "Kalau engkau seorang raja, mana mahkotamu?"  Lalu raja itu memberi jawaban yang luar biasa, "Mahkotaku ada di dalam hatiku, bukan di atas kepalaku; tidak bertatahkan intan dan permata, pun tidak terlihat, mahkotaku adalah rasa cukup." 
 
          Orang kadang-kadang melihat kekayaan dari apa yang terlihat di luar seperti: harta benda yang dia miliki. Namun di pihak lain ada orang yang berkata, "He is rich that has few wants" – ia yang keinginannya tidak berlebihan adalah orang kaya. Orang yang puas dengan apa yang dimilikinya dan tidak berkeinginan macam-macam lebih berasa kaya daripada orang kaya yang keinginannya terlalu banyak sehingga tidak dapat terpenuhi. Dalam hal ini, Epikuros (341 – 270 seb. M) pernah berkata kepada dirinya sendiri, "Berikanlah aku sepotong roti gandum dan segelas air, maka aku siap bersaing dengan Zeus dalam hal kebahagiaan."  Dan orang jawa memiliki kata-kata filosofi,  "nrima ing pandum" – menerima dan cukup puas dengan rejeki yang "dibagikan" oleh Tuhan.

          Mengenai makna "Rasa cukup" juga dikisahkan oleh Johannes Tauler (Strassburg, 1300 – 1361). Ia adalah seorang anggota serikat Dominikan. Pemikirannya banyak mendapat pengaruh dari Eckhart Meister (1260 – 1328). Pada suatu hari Tauler bertemu dengan seorang pengemis. Tauler memberi salam, "Tuhan kiranya memberimu hari baik, kawan." Jawab si pengemis itu, "Aku bersyukur kepada Tuhan, karena aku tidak pernah tidak bahagia!" dengan penuh heran Tauler berkata lagi "Apa maksudmu?" Si pengemis menjawab, "Ya, kalau keadaanku  baik, aku bersyukur kepada Tuhan, kalau hujan aku bersyukur kepada Tuhan, kalau aku mendapat banyak, aku bersyukur kepada Tuhan bla-bla-bla!"  Kemudian Tauler berkata lagi, "Siapakah engkau ini sebenarnya?" Si pengemis menjawab dengan tenang, "Aku ini raja!" Tauler bertanya lebih lanjut, "Di mana kerajaanmu?" Dan pengemis itu pun menjawb dengan tenang, "Di dalam hatiku!"

          Memang dalam hidup ini, ada yang beruntung memiliki harta banyak (kata kaya itu dari bahasa Jawa, "kaya" yang berarti  harta). Keberuntungannya itu membuat seseorang suka untuk menumpuk harta dan bisa-bisa tidak pernah akan cukup. Dalam hal ini, Publilius Syrus (46 – 29 seb.M) pernah berkata, "Fortuna nimium quem fovet stultum facit" – terlalu banyak keberuntungan membuat orang kurang hati-hati.

Senin, 15 September 2014   Markus Marlon


Website :
http://pds-artikel.blogspot.com

Tidak ada komentar: