Rabu, 17 Juni 2015

Badai

BADAI
(Sebuah Catatan Perjalanan)
 
God doesn’t allow
trials in our lives to defeat us,
 but to develop us – Tuhan
 tidak membiarkan ujian dalam hidup
 mengalahkan kita, tetapi untuk
 mengembangkan kita (Charles Stanley).
 
Ketika saya nongkrong di  “Kampoeng Popsa” yang letaknya di depan benteng   Fort  Rotterdam – Makassar, terdengar orang menyanyikan lagu yang pernah dinyanyikan  Chrisye:
 Kini semua bukan milikku,
 musim itu telah berlalu
 matahari segera berganti
 Badai pasti berlalu….
 
Lantas pikiran saya tertuju pada novel tulisan Marga, T dengan judul, “Badai Pasti Berlalu”.  Membaca novel tersebut dijamin air mata yang membacanya akan  berlinang. Memang, setiap orang memiliki  “badai”. Ada yang kencang seperti tornado atau  puting beliung namun juga ada yang  bagaikan angin semilir saja.  Namun jika kita membaca tulisan  Rick Waren (Lahir 28 Januari 1954) dalam bukunya yang berjudul,  ”Purpose Driven Life”,  Every storm is school, each trial is a teacher, every experience is education, every difficulty is for our development” – Setiap badai adalah pelajaran, setiap ujian adalah guru, setiap pengalaman adalah didikan dan setiap kesukaran adalah untuk mengembangkan kita”, maka kita akan mensyukuri “badai tersebut”.
Bahkan  -tidak tanggung-tanggung- ada orang yang mengatakan bahwa “badai” dalam hidup malah menjadi titik-tolak akan hidup yang makin kuat. Kisah James Cook (1728 – 1779) yang legendaris, misalnya.  Cook menulis dalam pelayarannya yang mengerikan karena kapalnya menghantam batu karang dan hampir tenggelam. Peristiwa itu dinamakan  Cape Tribulation (Tanjung Pencobaan) yang malah membuat Cook makin berani mengarungi samodra.
 Memang setiap orang memiliki badainya masing-masing. Bila kita terlanjur kecewa dan frustasi atas kegagalan yang kita alami, maka yang ada hanyalah keluhan dan gerutuan. Dan ini malah akan mengerdilkan diri kita. Padahal dengan badai itu – seperti yang tadi kita baca di atas – malah akan membuat kita kuat. Mari kita simak Film yang berjudul, “Nada untuk Asa” yang bercerita tentang dua wanita positif  HIV untuk tetap hidup di tengah-tengah keluarga dan masyarakat yang tidak menerima penyakit itu. Hidup mereka terasa sangat berat. Dalam episode terakhir, anaknya Asa berkata kepada ibunya, Nada, “Ma, mengapa badai yang keras ini diberikan Tuhan kepada kita?” Ibunya berkata, “Karena kita kuat, nak!”

Rabu, 10  Juni 2015   Markus Marlon

Sent from my Sony Xperia™ smartphone

Tidak ada komentar: