Rabu, 28 Oktober 2009

Kisah Tentang Pengampunan

Kisah Tentang Pengampunan

Charles Reed akan dibebaskan dengan syarat. Ia dijatuhi hukuman penjara
12th dan telah menjalaninya selama 8th. Usianya baru 33th. Masa depannya
masih luas terbentang, tetapi ia mempunyai masa lampau yang tidak pernah
dapat ia lupakan.

Kisahnya dimulai ketika ia berusia 24th. 2th sebelumnya ia menyelesaikan
study dan sudah menjadi seorang agen real estate yang berhasil di Denver.
Pembawaannya menyenangkan, penampilannnya menarik. Tahun-tahun kuliahnya ia
gambarkan sebagai masa-masa ketika ia menikmati hidup. Dengan gaji yang
tinggi, wajah yang tampan, semangat yang muda, ia menjadi orang yang amat
dikenal di wilayah itu.

Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau setiap hari Sabtu malam ia
kelihatan menggandeng seorang wanita cantik. Suatu hari ia ke tempat
tinggal wanita itu dan beberapa jam kemudian pergi mengendarai mobil
sportnya yang gagah berwarna merah. Yang mengagetkan ialah yang terjadi
pada hari berikutnya. Seorang kawan berusaha menghubungi wanita itu di
tempat
tinggalnya, tetapi tidak ada jawaban sehingga pintu harus dibuka paksa.
Wanita itu kedapatan tergeletak di tempat tidurnya, mati ditikam.

Tidak lama kemudian, polisi datang ke apartemen Charles. Ia masih tidur,
sehingga harus dibangunkan. Mobil yang diparkir di garasi diperiksa, dan
ditemukan pisau yang masih ada darahnya, tergeletak di tempat duduk bagian
belakang. Charles meskipun menyatakan dirinya tidak bersalah, akhirnya
ditahan, diadili dan dijatuhi hukuman 12th penjara. Orangtuanya menjual
tanah, rumah dan perusahaannya untuk membebaskannya dari segala tuduhan,
karena yakin Charles tidak bersalah.
Dalam penjara Charles hidup amat baik. Banyak waktu yang ia luangkan untuk
mengajar teman-teman sepenjara, dan belajar
mengembangkan sikap tanpa kekerasan dalam menghadapi konflik.

Setelah menjalani hukuman 8th, Charles tetap menyatakan diri tidak
bersalah, akhirnya ia dibebaskan dengan syarat. Pada waktu itulah, dengan
perantara seorang pekerja sosial (yang kemudian ia nikahi) saya mengenal
dia. Sesudah mengadakan pembicaraan panjang dan berkali-kali, saya pun
menjadi yakin bahwa Charles tidak bersalah dan dia dipenjara secara tidak
adil. Bukti-bukti tertentu yang mengarah pada tertuduh lain tidak
dikemukakan dalam peradilan, karena sistem hukum yang berlaku dan jaksa
penuntutnya. Sekarang Charles masih mengusahakan agar ketidakbersalahannya
dinyatakan secara hukum.

Ketika merasa bahwa saya sudah mengenalnya dengan baik, saya bertanya
kepadanya mengenai perasaannya dalam semua hal itu. Bagaimana reaksinya
terhadap jaksa, hakim, juri, dan sistem hukum yang tidak hanya
menghancurkan hidupnya sendiri tetapi juga orang tuanya? Ia mempunyai
jawabannya. Jelas ia sudah memikirkan masalah-masalah ini secara amat
mendalam.

Ia mengatakan, "Selama tahun pertama di penjara, saya merasa pahit, marah
dan benci kepada mereka semua. Lalu saya sadar bahwa saya tidak dapat
membiarkan mereka menentukan hidup saya lagi, sehingga saya belajar untuk
mencintai
dan mengampuni mereka."

Kisah yang kedua juga mengenai seorang tahanan. Mikael yang berusia 18th,
berbadan kekar. Ia dibayar oleh seorang pengusaha kaya sebagai pengawalnya.
Ia tidak merasa risau ketika ia sadar bahwa sebagian dari tugas-tugasnya
adalah menyelenggarakan acara-acara yang berkaitan dengan obat bius.
Acara-acara itu secara diam-diam direkam dan digunakan untuk memeras
anggota-anggota salah satu club kaya di California. Yang merisaukan Mikael
adalah ketika jaringan itu akhirnya diketahui oleh polisi, ia ditangkap dan
terbukti bertanggung jawab atas seluruh usaha ini. Majikannya karena kaya
dan mempunyai pengaruh dalam bidang politik, tidak pernah disangkut pautkan
dalam perkara ini.

Mikael mau mengakui kesalahannya, tetapi tidak bersedia memikul tanggung
jawab pertama atas seluruh jaringan ini. Oleh karena itu ketika hakim
menjatuhkan hukuman 8th penjara, Mikael menjadi sangat marah. Ia mengangkat
kursi diruang sidang
dan menggunakannya untuk menyerang hakim. Dibutuhkan 6 polisi untuk
mencegahnya. Ketika semua sudah tenang, hakim mengubah hukumannya menjadi
8th dipenjara dengan penjahat-penjahat yang tidak waras.

Pada mulanya rasa marah Mikael tidak dapat dikendalikan. Ia menyerang para
sipir, melempar jatah makanannya ke tembok,
menghancurkan segala sesuatu yang dia pegang. Mungkin pada waktu hukumannya
dijatuhkan ia bukan orang yang tidak waras, tetapi sekarang ia benar-benar
tidak waras.

Ia mengatakan kepada saya, "Saya membutuhkan waktu 1th sampai saya dapat
bertanya 'siapa yang saya sakiti ? Pelan-pelan saya menjadi sadar bahwa
kemarahan saya tidak mempunyai pengaruh apapun bagi majikan saya dulu,
hakim ataupun sistem hukum yang saya protes. Yang saya serang adalah hanya
diri saya sendiri. Lalu saya bertanya kepada diri saya sendiri,
bagaimanakah saya dapat berhenti? Tidaklah cukup hanya menghentikan
tindakan keras saya. Sakit hati, kemarahan dan kebencian sudah begitu
merusak diri saya, sehingga saya harus berubah dari dalam bathin. Akhirnya
saya dipaksa untuk menyadari bahwa satu-satunya jalan yang dapat saya lalui
untuk keluar penjara yang sesungguhnya yaitu penjara yang saya
bangun sendiri di sekitar saya adalah belajar mengampuni dan mencintai.
Saya melakukan hal itu, tidak mudah, tetapi sejak saat itu saya bebas."

Kisah yang ketiga mengenai pengampunan, mirip tapi berbeda. Suster Maria
berusia 50th, adalah provinsial Tarekat biarawati yang besar. Hasil
pemeriksaan dokter mengharuskan dia menjalani operasi otak. Operasi ini
berjalan dengan baik. Sebuah slang dibiarkan terpasang melalui lubang di
tengkorak untuk saluran cairan. Dua hari setelah operasi, seorang dokter
dengan
rasa amat cemas dan takut mengatakan kepadanya bahwa ia telah memasukkan ke
dalam otak suster cairan mematikan. Dan dalam waktu 3jam akan meninggal.

Pada waktu itu Suster Maria sadar penuh dan dapat menggunakan seluruh akal
budinya. Dengan segera ia memanggil wakilnya dan anggota dewan. Ia
mengatakan, "Jangan saling menuduh. Tidak ada yang harus disalahkan. Tidak
perlu menuntut dokter karena malpraktek. Saya memberikan pengampunan tanpa
syarat kepada siapapun yang dengan cara tertentu bertanggung jawab atas
kejadian ini." Dua jam kemudian Suster Maria meninggal.

************************** ******************

Mengapa pengampunan begitu penting dan berarti ??

Pengampunan adalah salah satu bentuk realisme. Pengampunan membuat kita
mampu melihat diri kita sendiri, orang lain, peristiwa-peristiwa yang
terjadi dalam hidup kita sebagaimana adanya. Pengampunan tidak berarti
menyangkal, tidak ambil pusing, mengecilkan, berpura-pura atau tidak
menganggap serius apa yang telah dilakukan orang lain terhadap kita atau
penderitaan yang kita tanggung karena tindakan itu. Kalau kita mengampuni,
kita membuat diri kita sendiri mampu melihat luka-luka serta bekas-bekas
luka dalam diri kita seperti adanya. Pengampunan berarti bahwa kita tidak
mau lagi membalas orang-orang yang bersalah kepada kita. Pengampunan
adalah kemerdekaan sejati. Pengampunan membebaskan hidup kita.

*William A. Meninger, OCSO*

Tidak ada komentar: