Selasa, 04 Januari 2011

Mengendalikan diri

MENGENDALIKAN DIRI
(Sebuah Percikan Permenungan)

Pada awal tahun baru ini, saya ingin sekali menggoreng dendeng rusa dan
untuk itu saya pergi ke kios "Rusa Merah" di kota Rusa - yang adalah
julukan lain kota Merauke. Di tengah jalan ada orang marah-marah kepada
penyeberang jalan, sebab menghalangi orang penting - very important
person - yang hendak menghadiri rapat. Secara gegabah dan tidak terkendali,
dirinya mengata-ngatai penyeberang jalan yang hampir saja ketabrak. Dalam
benakku terlintas bahwa jika tidak dilerai - karena emosinya yang sudah
memuncak - akan memukul penyeberang jalan, yang diduga bersalah itu.
Pepatah Latin, "Post verba verbera" yang artinya sesudah dikata-katai
kemudian digebugi, akan terjadi di persimpangan jalan. Namun, untunglah
karena yang dicemaskan tidak terjadi. Lalu, saya mengintip dari jendela
mobil, ternyata orang yang tidak bisa mengendalikan diri itu adalah orang
yang belum lama diwisuda sebagai M.Pd (Master Pendidikan). Ini adalah gelar
yang biasa disandang oleh para kepala sekolah di Merauke. Mungkin kita
pernah mendengar gelar, "Grand Master" atau "Master of Art" atau "Master of
Science." Mereka itu dinyatakan lulus, sebab diri mereka sudah bisa
menguasai dirinya sendiri (to master). Kemudian saya bermenung dalam hati,
"Apakah dalam suasana kacau-balau, chaos, suasana hati yang tidak menentu,
saya masih bisa hidup dengan tenang dan bisa mengendalian diri?" Ini
adalah sekelumit kisah tentang rasa emosi, kesal, marah-marah, bahkan
terjadi gesekan fisik, hanya karena tidak mampu mengendalikan diri.

Mari kita menegok ke belakang tentang kisah pengendalian diri, seseorang
yang bernama Gengis Khan (1167 - 1227). Konon sementara perang, sang Kaisar
ini amat kehausan. Ia memiliki gagak yang amat setia yang senantiasa
bertengger di pundaknya. Di tengah-tengah kehausannya, ia menemukan tetesan
air di dalam gua. Tetapi setiap kali mau meminumnya, burung gagak itu terus
menyambar tempurung dan airnya pun tumpahlah. Kejadian itu terjadi
berulang-ulang. Akhirnya yang keempat kali, sewaktu burung gagak akan
menyambar air dalam tempurung itu, Gengis Khan langsung menghunus pedang
tepat di tembolok burung gagak dan matilah seketika itu juga.

Sang kaisar penasaran dan memanjatlah ia ke sumber air itu. Dia kaget,
ternyata dalam sumber itu, airnya terdapat bangkai ular berbisa yang sudah
meracuni genangan air itu. Penyesalan selalu datang terlambat. Sang Kaisar
itu tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri, tetapi dikendalikan oleh
emosi dan perasaan, yang mengakibatkan gegabah dalam mengambil keputusan.
Kata-kata indah, "Orang dianggap pahlawan bukan karena mampu menguasai
kota, melainkan karena orang itu bisa menguasai dirinya sendiri,"
mendapatkan tempatnya bagi kita yang sulit untuk mengendalikan diri.

Dalam suatu bimbingan rohani - tradisi para seminaris dan para
biarawan-biarawati - saya pernah dinasihati supaya mampu mengambil jarak
dengan problem yang sedang dihadapi. Pembimbing saya membagikan
pengalamannya demikian. Katanya, "Saya pernah jengkel terhadap seseorang.
Dalam kejengkelan itu, saya menulis surat yang berisi maki-makian terhadap
orang tersebut. Lalu surat saya masukkan amplop dan diberi alamat lengkap
dan ditempel perangko serta saya taruh di laci. Surat itu "menginap" dalam
laci selama dua hari. Setelah itu, surat saya baca kembali. Sungguh di luar
dugaan, saya menjadi malu membacanya, sebab isinya maki-makian dan
"penghuni kebun binatang". Memang dalam situasi yang kalut, orang sulit
untuk bisa mengendalian diri. Jika hati sedang "gelap" yang terjadi ialah
bahwa suasana di sekitar itu sepertinya tidak mendukung. Kalau diri kita
sedang menghadapi masalah, baiklah kita berani menyendiri dan berkata,
"Maaf! Biarkanlah saya sendiri dulu!" Dengan berhadapan dengan dirinya
sendiri - tanpa intervensi dari luar - suasana hati pelan-pelan akan
mereda.

Pengalaman kesendirian itulah yang membuat orang berlatih untuk
mngendalikan diri. Kesendirian juga merupakan moment yang tepat untuk
mengendapkan peristiwa-kejadian yang dialami yakni pengalaman suka-duka.
Sejarah yang mendukung kisah ini ada dalam diri Raden Mas Said. Dia adalah
putra sulung Tumenggung di bawah kerajaan Majapahit. Dalam kedalaman
hatinya, ia terpanggil untuk memberantas kejahatan dan kebatilan dalam
masyarakat. Untuk memenuhi "bisikan Tuhan" ia rela melepaskan gelar
keningratan dan bertapa di tepi sungai (kali), yang nantinya akan bergelar
Kali Jaga (Panjaga Kali). Dalam kesendiriannya, ia berhadapan dengan
"ego"-nya sendiri (Bdk. Cerita wayang lakon Dewa Ruci). Berkat
ketabahannya untuk berlatih mengendalikan diri, Raden Mas Said mendapatkan
"Nur" (cahaya, yang diartikan juga kekuatan) dari yang ilahi. Kemudian dia
diangkat menjadi wali yang terkenal dalam deretan nama sembilan wali (wali
sanga) dengan gelar Sunan Kali Jaga. Dalam memutuskan sesuatu, Sunan Kali
Jaga terkenal tenang penuh welas asih (belas kasih).

Tiba-tiba muncul pertanyaan, "Bagaimana saya sebagai orang yang hidup dalam
dunia nyata yang senantiasa berusaha mencukupi kebutuhan hidup ini. Lantas,
bagaimana saya bisa hidup dengan rasa tenang dan damai?" Jawaban imaginer
pun demikian, "Kebutuhan kita di dunia ini tidak terbatas. Kalau kita
hanya mengejar kebutuhan yang tidak terbatas itu, kita akan dikuasai oleh
hawa nafsu itu sendiri." Seorang guru agama Buddha berkata, "Bukankah tali
dawai yang terikat kencang terus dalam mandolin sekali-kali perlu
dikendorkan. Demikian pula, pikiran kita yang penuh dengan angan-angan,
cita-cita dan harapan itu pun perlu dikendorkan, relax, supaya menjadi
segar kembali, refresh." Kita perlu belajar dengan kata-kata Plato (438 -
348 SM), "Hidup yang tidak direnungkan ialah hidup yang tidak bermakna."
Merenung, hening, mengambil waktu jeda adalah cara yang tepat untuk
mengendalikan diri bagi orang-orang sibuk. Tawaran untuk hidup sehat di
kota-kota besar - mau tidak mau - mengedepankan kehidupan yang menjanjikan
ketenangan batin seperti; yoga, meditasi, rei ki, tai-chi. Saya yakin bahwa
orang-orang yang banyak mengolah batinnnya juga mampu mengendalikan diri.

Sementara merenungkan tentang makna pengendalian diri, di luar Biara MSC
terdengar suara petasan, "Dor! Dor!" serta kembang api yang memekakkan
telinga (rupanya petasan dan kembang api sisa Tahun Baru). Kemudian tanpa
terkendali, saya pun berteriak-teriak, sambil marah-marah supaya tidak
bermain petasan karena amat mengganggu. Kini kusadari bahwa ternyata
sulit mengendalikan diri. Kita pun - tanpa kecuali berguman, "Memang, baru
tahu ya?"

Merauke - Kota Rusa, 4 Januari 2011

Markus Marlon MSC

Tidak ada komentar: