Senin, 07 Februari 2011

GURU

G U R U
(Sebuah Percikan Permenungan)

Ingatanku pada para guru yang telah mendidikku selama ini, mendorongku,
"memaksaku" (urget me) untuk merenungkan, "Siapakah itu sang guru?"

Guru Buddhis yang terkenal dari India diundang datang ke Tibet untuk
"membabarkan" Dharma. Guru ini membawa serta seorang laki-laki yang tidak
hanya bawel dan tidak bertanggung jawab, tetapi juga sebagai tukang masak
yang "judes". Setelah mengamati selama beberapa waktu, orang-orang Tibet
mendekati sang guru dan berkata dengan penuh hormat, "Mengapa guru begitu
tenggang rasa dengan tukang masak yang tidak berguna itu? Ia kelihatannya
cuma menimbulkan masalah, alih-alih membantu guru." Sang Guru tersenyum dan
menjawab, "Ah, kalian tidak mengerti. Ia bukan pelayanku, ia adalah
guruku." Orang-orang Tibet kaget dan memohon penjelasan, "Kenapa bisa
begitu?" Sang guru menjelaskan, "Kalian lihat, perangainya yang rewel dan
tidak menyenangkan itu telah mengajariku untuk bersikap sabar dan
bertenggang rasa setiap hari. Karena itulah aku menghargainya dan
menyebutnya sebagai guruku."

Memang benar, banyak orang beranggapan bahwa seorang guru itu haruslah
seorang yang berdiri di depan kelas serta menerangkan pelbagai hal. Bahkan
orang Jawa mengatakan bahwa guru itu adalah akronim dari kata "digugu lan
ditiru" yang artinya seorang guru haruslah bisa dipercaya dan diteladani.
Seorang guru harus berpenampilan rapi, berbicara santun dan berbudi halus.
Memang benar bahwa bimbingan sang guru secara formal tersebut sangat
penting. Namun apakah kita juga sadar bahwa dalam hidup ini kita memilki
"guru-guru" yang bisa mengembangkan kepribadian kita. Semesta alam
menyimpan pelbagai inspirasi untuk dijadikan "guru". Dalam Ramayana,
wejangan seorang Guru kepada muridnya tercetus dalam "Hastabrata" yakni
delapan pedoman untuk meneladan kepada alam semesta. Seorang murid
diharapkan meneladan pada matahari yang memanasi bumi dengan cahayanya
secara sabar dan tanpa bosan, sehingga air menguap dan menyirami bumi serta
memberi rejeki yang melimpah ruah. Air, angin, tanah, api adalah guru-guru
yang diwejangkan dalam Hastabrata. Kisah ini merupakan wejangan Ramawijaya
kepada adik tirinya, Bharata agar bisa memerintah Kerajaan Ayodya dengan
baik, benar dan adil. (Bdk. Anak Bajang Menggiring Angin atau Ramayana
tulisan Nyoman Pendit atau buku yang terbaru tulisan C. Rajagopalachari).
Selain berguru pada alam semesta, manusia juga diajak untuk berguru pada
dunia binatang. Penulis yang kesohor dalam menulis kisah ini adalah Aesop
(620 - 560 s.M), berkebangsaan Yunani kuno. Melalui dongeng-dongeng yang
ditulisnya, ia mengajak kita untuk bercermin pada dunia fauna. Sebab dalam
dongeng itu, selain termaktub sikap kesetiaan, kejujuran, keadilan dan
kedamaian, mereka juga mengenal intrik, iri hati, keserakahan dan
kebusukan. Dongeng-dongeng seperti: Singa yang bodoh, balas budi burung
elang, ekor sapi, rubah dan anggur asam merupakan fable yang penuh dengan
ajaran moral yang tinggi. Kita juga bisa menyimak dongeng dari Grimm
Bersaudara (Jacob Grimm dan Wilhelm Grimm), H.C. Andersen (1805 - 1875),
kisah 1001 malam dan jangan lupa "Kancil nyolong timun" dongeng menjelang
tidurnya bagi anak-anak Jawa pada masa silam.

Berguru dalam arti magang sudah dikenal sejak zaman dulu kala. Dalam dunia
pendidikan ada istilah "nyantrik" yang artinya menjadi santri, agar ahli
dalam bidang bahasa atau sastra. Pondok-pondok pesantren merupakan tempat
yang ideal untuk "menggodok" anak-anak muda supaya militan sebagai murid.
Dalam magang di pondok pesantren, para murid langsung hidup bersama dengan
sang guru. Tempat tidur santri sama dengan tempat tidur kiyai dan apa yang
dimakan para santri tidak jauh berbeda dengan apa yang dimakan oleh kiyai.
Umberto Eco dalam "The Name of The Rose" mengisahkan perjalanan seorang
guru dan murid yang mengadakan investigasi di Biara kaya yang berlokasi di
Italia, yakni sehubungan dengan adanya kematian misterius. Dan memang
melalui petualangan dalam biara tersebut, terkuaklah tabir yang selama ini
disembuyikan. Dalam kisah itu, si murid mengikuti terus jejak gurunya.
Berguru, memang sebaiknya harus sendiri mengalami apa yang menjadi
pergumulan gurunya. Dari sini pula, saya baru menyadari, mengapa ketika
kuliah, para mahasiswa diberi banyak tugas, seperti: paper, riset dan
social mapping? Setelah terjun dalam masyarakat, tugas-tugas kuliah itu
baru terasa manfaatnya. Teori-teori bermunculan satu per satu dalam
pikiran, setelah berhadapan langsung dengan dunia nyata.

"Pengalaman berguru" yang satu ini barangkali agak lain. Henry Nouwen,
penulis buku yang amat produktif dalam "In The Name of Jesus" berkisah
bahwa pengalaman tinggal dan hidup bersama orang-orang yang hanya mampu
berbicara sedikit saja atau bahkan samasekali tidak mampu berbicara,
menyadarkan dirinya untuk "rela" dituntun oleh orang lain. Pencarian
hidupnya yang mau pindah dari Universitas Harward ke L'Arche merupakan
suatu perpindahan dari tempat yang paling bergengsi dan cemerlang yang
memiliki cita-cita untuk menguasai dunia kepada dunia yang paling lemah dan
tak berpengaruh. Apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad (570 - 632) dan
Sidharta Buddha Gautama (563 - 483) serta Yesus Kristus (± 6 SM - 30 SM),
supaya umat manusia berguru dan mencintai kepada yang lemah, rupanya tidak
tanpa alasan.

Pameo yang berbunyi, "Pengalaman adalah guru yang baik" maupun "Historia
est magistra" yang artinya sejarah adalah guru, perlu untuk kita renungkan.
Dunia ini memberikan banyak guru yang bijak. Untuk itu marilah kita berguru
kepada mereka dan tentunya langsung mengalami hidup bersama sang guru.


Merauke, 3 Februari 2011

Markus Marlon msc

Tidak ada komentar: