Selasa, 16 Juli 2013
5 Petuah Bijak
(1). Jika Anda benar, maka Anda tidak perlu marah.
Dan jika Anda salah, maka Anda tidak layak marah.
(2). Sabar dengan Keluarga, itu namanya Cinta.
Sabar dengan Orang Lain, itu namanya Respect.
Sabar dengan Diri Sendiri, itulah Kepercayaan Diri.
(3). Jangan berpikir terlalu Keras mengenai masa lalu, hal itu membawa Air Mata.
Jangan pula berpikir terlalu banyak mengenai masa depan, hal itu membawa Ketakutan.
Hiduplah saat ini dgn senyuman, hal itu akan membawa ßάhάğîά.
(4). Setiap Cobaan dalam hidup kita, bisa membuat kita lebih terpuruk atau lebih ϐǻïk.
Setiap masalah datang untuk membuat kita lebih berprestasi, atau hancur sama sekali.
Pilihan ada di tangan kita, untuk menjadi seorang Pecundang atau Pemenang..
(5). Temukan hati yang indah & tulus, bukan wajah yang Rupawan atau Menawan.
Karena hal-hal yang Indah tidak Selalu Baik, namun.....Hal-hal yang Baik Selalu Indah.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Rabu, 10 Juli 2013
(Kontemplasi Peradaban)
Tahun 2011, saya berkunjung di Kabupaten Asmat – Papua. Dalam live in tersebut, saya mengalami betapa teguh para pencari ikan di rawa-rawa. Mereka berkutat "memelajari" gerak-gerik ikan yang hendak ditangkap. Selang beberapa jam, akhirnya akhirnya ikan-ikan itu tertikam oleh anak panak sang pemburu. "Keteguhan hati," Itulah kata-kata yang tepat untuk melukiskan para pemburu ikan dengan peralatan sederhana di hutan belantara Papua.
Orang yang memiliki keteguhan hati, tidak mendapatkan begitu saja, taken for granted. Keteguhan hati juga tidak akan terjadi seperti wahyucakraningrat yang didapat tidak tanpa perjuangan. Namun keteguhan hati ternyata kadang harus dialami dengan jatuh-bangun penuh onak-duri, seperti yang dialami oleh Aeneas dalam The Aeneid tulisan Vergilius (70 – 19 seb.M). Keteguhan hati ini juga dapat kita lihat dalam diri K.H. Ahmad Dahlan (1868 – 1923) yang bisa kita baca dalam novel berjudul Sang Pencerah yang ditulis oleh Akmal Nasery Basral dan sudah difilmkan serta disutradarai oleh Hanung Bramantyo (1975 – ). Amat berat memperjuangkan apa yang diyakininya. Tantangan demi tantangan dilaluinya dan akhirnya lahirlah lembaga berpengaruh bagi bumi pertiwi yakni Muhammadiyah. Tokoh nasional lain yaitu I.J. Kasimo (1900 – 1986) dalam menapaki dunia politik mengalami jatuh-bangun serta tekanan dari pelbagai pihak. Namun, ia semakin tegar. J.B. Soedarmanto dalam Biografi I.J. Kasimo menekankan politik yang bermartabat. Keteguhan hati untuk memperjuangkan rakyat kecil terinspirasi oleh kata-kata Marcus Tullius Cicero ( 106 – 43 seb. M) yang berbunyi, "Salus populi suprema lex esto" – kesejahteraan rakyat adalah hukum tertinggi (hlm. 104). Dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat, Kasimo memiliki prinsip-prinsip yang teguh, namun dengan senyum khasnya, ia memberi kesejukan bagi banyak orang. Pepatah Latin menulis, "Fortiter in re, suaviter in modo" – Teguh dalam prinsip atau pendirian dan luwes dalam penerapan.
Dalam sejarah pun kita mendapatkan pribadi-pribadi yang memiliki keteguhan hati. Ketika Raja Hendrik VIII (1491 – 1547) dari Inggris memisahkan diri dari gereja Katolik, karena paus tidak dapat menerima pernikahannya dengan Anne Boleyn (1501 – 1536). Alasan ketidak setujuan paus adalah karena raja masih terikat dengan perkawinan sakramentalnya dengan ratu. Tentu saja, terdapat banyak warga Inggris yang tidak menerima kebijaksanaan raja itu, termasuk perdana menterinya, yaitu Thomas More ( 1478 – 1535). Ia tetap berpegang teguh pada imannya (Bdk. Majalah Jembatan Firman vol. I no.1 hlm. 8 – 11, tulisan Piet Tinangon Pr). Ketika hendak dihukum mati, ia masih sempat berbicara bahwa ia masih seorang warga Inggris yang setia kepada rajanya, tetapi juga setia kepada imannya.
Menelusuri uraian di atas, sikap keteguhan hati itu perlu diperjuangkan dari hal-hal yang sepele dan remeh-temeh, namun dilakukan secara konsisten. Ida Friederike Gorres dalam Wajah Tersembunyi – Kehidupan Teresia Lisieux (1873 – 1888) menulis bahwa untuk menjadi seorang yang kudus dibutuhkan kesetiaan dan keberanian "menderita" terus-menerus. Tulisnya, "…ketika waktu rekreasi, dia mengatur sendiri selalu duduk di samping para suster yang paling murung dan rewel.." (hlm. 348). Orang kudus yang meninggal dalam usia belia ini, tentu membuat decak kagum dunia. Orang-orang yang tidak diperhitungkan, malah menjadi mercusuar dan memberi pedoman arah kehidupan yang suci-murni . Seperti apa yang ditulis dalam Kitab Suci. Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang orang kecil" (Luk 10: 21).
Akhirnya, "keteguhan hati" tidak hanya dimiliki oleh orang-orang hebat – kelas dunia. Kita yang adalah orang-orang biasa juga "dipanggil" untuk menjadi hebat bukan karena melakukan hal-hal besar. Kita dipanggil untuk melakukan hal-hal yang biasa namun dengan semangat yang luar biasa (Bdk. Kata-kata dari Mother Teresa dari Calcutta). Semangat yang luar biasa itu adalah keteguhan hati.
(Sudah dipublikasikan di Suara Pembaharuan, 6 Juli 2013)
Rabu, 10 Juli 2013 Markus Marlon
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Sabtu, 22 Juni 2013
(Kontemplasi Peradaban)
Ada seorang caleg (calon legestatif) yang menyalonkan diri untuk menjadi anggota DPRD. Sewaktu berkampanye, ia begitu banyak mengobral janji untuk take care kepada rakyat sedang dalam penderitaan.
Namun ternyata setelah menduduki "kursi Musa" dan ketika rakyat mengritik orang tersebut, dia dengan mudah berkata, "I don't care dengan yang kalian katakan!" Ini yang dalam Kitab Suci ditulis dengan kata-kata:
"Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung." (Mat 11: 17).
"I don't care" – saya tidak peduli adalah kata-kata pemali bagi pemimpin yang seharusnya menjadi pengayom (orang yang melindungi). Mereka bagaikan payung sehingga membuat rakyat menjadi ayem (tentram dan damai di hati). Para pemimpin yang tidak care, cepat atau lambat akan ditinggalkan orang, karena keinginan terdalam dari rakyat kebanyakan adalah tata tentrem kertaraharja guyup rukun bebarengan – hidup damai sejahtera dalam kebersamaan.
Asal muasal kata Inggris "care" berasal dari kata Gotik "kara" yang berarti dukacita. Maka arti dasar "care" yang diterjemahkan dengan perhatian adalah berduka, merasa sedih dan menangis (Bdk. P. Van Bremen dalam bukunya yang berjudul Kupanggil Engkau dengan Namamu, hlm. 135). Seseorang yang sedih atau berduka tidak membutuhkan "khotbah" Mereka membutuhkan simpati (sehati dan seperasaan). Mereka membutuhkan dipahami dan dimengerti. Pada akhirnya, yang menjadi kemendesakan untuk mengunjungi orang yang sedang menderita adalah "diam bersama dalam keheningan." Di sinilah Kahlil Gibran (1883 – 1931) menulis sebuah puisi, "Mungkin kamu akan melupakan orang yang tertawa denganmu, tetapi tidak mungkin melupakan orang yang pernah menangis denganmu."
Dalam tradisi Gereja Katolik ada istilah cura animarum yang berarti merawat jiwa-jiwa kaum beriman. Dalam pastoral (tugas penggembalaan), seorang pastor care bagi jiwa-jiwa kaum beriman yang membutuhkan keselamatan (penerimaan sakramen-sakramen). Dalam sebuah tradisi di NTT ada yang namanya tradisi Kure. Menurut Andreas Sa'u SVD dalam Teropong Kompas (28 Maret 2013) mengatakan bahwa tradisi Kure merupakan tradisi menghormati karya-karya manusia itu mungkin berasal dari bahasa Latin, currere yang berarti berjalan, menjelajah, merambat. Mungkin juga berasal dari kata cura yang berarti ibadah, persembahan kepada dewa-dewi. Dengan demikian, Kure bisa dimengerti sebagai kegiatan berjalan sambil berdoa dari rumah ke rumah. Tentu saja dalam perjalanan itu, mereka berbuat baik (Bdk. Kis, 10: 38 "Yesus berjalan berkeliling sambil berbuat baik").
Take care– peduli, perhatian, simpati, empati harus terwujud dalam tindakan kita. Tindakan ini bukan sekedar teori, melainkan secara nyata menjadi "pendamping," "teman," atau "pendengar" di kala orang tersebut mengalamai keterpurukan.
Sabtu, 22 Juni 2013 Markus Marlon
Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com
Senin, 03 Juni 2013
( Kontemplasi Peradaban)
Seseorang penceramah bertanya dalam suatu seminar, "Pernahkah kita kebakaran jenggot karena mendengar pergunjingan tentang diri kita?" Para peserta ceramah yang ditanya hanya diam saja – barangkali tanda setuju.
Jika kita mendapat "laporan" dari seseorang bahwa diri kita difitnah, dihakimi ataupun divonis, maka kita menjadi kecewa dan marah. Mereka membicarakan diri kita secara in absentia (tanpa kehadiran yang bersangkutan). Apalagi, orang yang bergunjing itu ternyata adalah teman-teman dekat yang kita percayai, makin tambah kecewa.
Pergunjingan ada di mana-mana. Di tempat tukang cukur pinggir kali (girli) yang tentunya di bawah pohon asem, di tempat pijet tradisional, di tempat rehat para karyawan kantor, bahkan di biara-biara ketika mereka santap di refter. Sepertinya, usia pergunjingan barangkali setua peradaban manusia itu sendiri. Orang Jawa memiliki istilah yang sangat tepat untuk kegiatan ini yaitu ngrasani yang berarti membicarakan orang lain yang buruk-buruk dan jelek-jelek tanpa kehadiran orang tersebut. Tidak secara kebetulan bahwa Paus Fransiskus beberapa hari setelah menduduki tahta tertinggi, ia berkotbah di Kapel Domus Sanctae Marthae supaya orang tidak mudah bergunjing (27 Maret 2013).
Edward Browne (1862 – 1926) pernah menulis, "Ketidaksempurnaan terbesar kita ada dalam visi batin kita. Kita begitu picik, sehingga bisa melihat hal buruk dalam diri orang lain, tetapi tidak bisa menemukan hal buruk dalam diri kita." Di sini kita bisa menyaksian sendiri, bagaimana jika dalam rumah-rumah biara bergunjing tentang teman sekomunitasnya. Seolah-olah yang berbicara itu malaikat yang tanpa dosa dan teman yang digunjing dan digoyang itu manusia jelmaan iblis. Padahal Yesus sendiri mengatakan, "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu" (Yoh 8: 7). Tidak mengherankan jika peribahasa yang berbunyi, "Gajah di pelupuk mata tak tampak," sering digunakan untuk menyadarkan si tukang fitnah agar berhenti – atau paling tidak mengurangi aktivitas bergunjing ini. Atau dalam bahasa Injil ditulis, "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?" (Mat 7: 3)
Kaum muslimin diperintahkan untuk tidak membicarakan orang lain di belakang-belakang. Dalam Al-Qur'an surat 49: 12 ditulis, "Hai, orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang dan janganlah sebagian dari kamu memergunjingkan sebagian yang lain…" Tentang pergunjingan ini, Kanjeng Nabi memiliki jawaban yang luar biasa, "Jika yang kalian katakan mengenai seseorang memang benar, maka itu berarti kalian telah mengumpatnya dan jika tidak benar, maka kalian telah memfitnahnya" (Bdk. Segalanya Tentang Islam tulisan Christine Huda Dodge, hlm. 188). Dari sini, kita menjadi ingat akan makna The Socrates' Filter. Uraian tentang filter atau saringan itu, dapat kita lihat sebagai berikut, "The first filter is truthfulness, the second filter is of goodness and the third filter is of usefulness." Jika ternyata pembicaraan orang lain itu tidak benar dan tidak baik dan tidak berguna lebih baik tidak usah disampaikan kepada yang bersangkutan. Kalau disampaikan malah akan terjadi bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelip, kol kutuk kadal kesit, hong wilaheng atos watu gembuk tahu, bolong semprong buntu alu dan yang kena gunjingan bisa marah ber-ganjingan seperti bajing atau anjing tidak terkendali.
"Memang lidah tak bertulang" sebuah syair singkat yang sarat makna dan kita menyetujuinya. Lidah perlu kita kendalikan supaya tidak mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati orang lain. Kita menjadi ingat kata-kata bijak, "Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya" (Ams 18: 7).
Lantas kita masing-masing bertanya, "Bagaimana kita bisa mengendalikan lidah?" Tanpa sadar saya ingat akan burung bangau atau crane yang hidup di pegunungan Taurus – Turki Selatan. Burung-burung tersebut cenderung berkicau terutama selama mereka terbang. Dan kicauan itu justru akan menarik perhatian burung rajawali yang tentunya akan menukik dan menyambar mereka. Crane yang berpengalaman akan menghindari "ancaman maut" tersebut dengan memungut batu-batu kerikil untuk memenuhi mulut mereka.
Kalau saya di Playen – Wonosari – Gunungkidul, banyak simbok-simbok yang nyusur. Selama nyusur itu, mereka diam dan tidak ngrumpi, sebab di mulutnya penuh dengan tembakau, pinang dan sirih. Ketika saya di Jayapura, di sana banyak sekali orang yang makan sirih-pinang. Selama makan sirih-pinang, mereka tidak buat mop-mop. Alangkah baiknya jika orang-orang yang suka bergunjing itu nyusur atau makan sirih-pinang, pasti dunia aman sentausa. Semoga!!
Rabu, 29 Mei 2013 Markus Marlon
Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com
Jumat, 24 Mei 2013
SOK
(Kontemplasi Peradaban)
Malam Minggu (18 Mei 2013), saya kongko-kongko (bahasa percakapan yang berarti: duduk santai dengan pembicaraan yang tidak menentu ujung pangkalnya) di Libra (lingkaran Brawijawa) yang indah di depan Mesjid Agung, "Al-Aqsa" yang megah – Merauke.
Dalam suasana santai, ada beberapa remaja Jamer (Jawa-Merauke: orang Jawa lahir dan besar di Merauke) yang berbicara sekenanya. Katanya, "Orang yang rajin ke Gereja itu namanya sok suci. Orang yang merasa diri tampan itu namanya sok ganteng. Orang yang merasa diri pintar itu namanya sok pintar."
Lantas, gadis belia turunan Toraja itu menimpali, "Kalau ada orang yang suka berbuat baik pada orang lain itu apa namanya?" Saya – meskipun bukan dari kelompok mereka – berkata, "sok sial! Eh maaf, sok sosial!"
Kata sok itu sebenarnya merupakan dialek melayu Jakarta, yang memiliki makna merasa mampu, hebat, tampan, cantik tetapi sebenarnya tidak atau berlagak (suka pamer dan sebagainya).
Dan sialnya lagi, orang-orang seperti ini sering kita jumpai di mana-mana. Banyak kisah-kisah menarik berkenaan dengan orang yang merasa diri hebat, yang ditulis dalam cerita fable (kisah-kisah binatang untuk menyindir perilaku hidup manusia). Din Man dalam bukunya yang berjudul 200 Kisah Terindah Sepanjang Masa dari China memberikan cerita tentang "Keledai Yang Sombong." Keledai itu mengangkut patung-patung dewa yang hendak dibawa ke kuil. Dalam perjalanan ke sana, banyak orang menghormati patung-patung itu sambil membungkukkan badan. Tetapi keledai yang sombong itu pun berkata, "Lihat, mereka membungkukkan badan untukku!" Keledai lupa bahwa orang-orang itu tidak sama sekali menghormati keledai.
Kisah fable lagi yang ditulis oleh pencerita dari Yunani: Aesop ( ± abad VI seb. M) tentang katak yang sok pintar. Dikisahkan bahwa si katak akan pergi ke pulau seberang seperti yang dibuat oleh para burung. Tetapi burung-burung itu menyesalkan keadaan katak yang tidak bisa terbang. Katak itu memiliki gagasan brilliant , katanya, "Tolong, kalian berdua memegang tongkat dengan mulut kalian, aku akan menggeggamnya di tengah-tengah dengan mulutku dan kita akan pergi bersama." Kedua burung itu pun bersedia. Semua berjalan dengan baik. Namun, sewaktu mereka terbang di atas sebuah padang rumput, dua sapi memandang ke atas dan melihat trio itu. Seekor dari kedua sapi itu berkomentar, "Wah, ada dua ekor burung terbang dan membantu seekor katak!" Katak yang mendengar kata-kata sapi itu pun menjadi jengkel dan berkata, "Ini semua karena gagasanku!" Tentu saja setelah berbicara, gigitannya terlepas dan ia pun jatuh dan tewas. Katak itu sok cerdas karena memiliki gagasan hebat.
Memang, kebanyakan orang tidak suka dengan orang yang sok pintêr dan berlagak diri tahu tentang banyak hal. Kata pintêr dalam arti tertentu memiliki makna negatif. Peribahasa Jawa yang berbunyi, "Wong pintêr keblinger" merujuk pada orang pandai tetapi terjerumus karena kepandaiannya sendiri. Berhadapan dengan orang-orang sok pintêr, orang-orang akan meyejajarkan dengan pintêr ngapusi atau pintêr goroh (pandai menipu). Makanya orang-orang yang suka sok itu cepat atau lambat akan ditinggalkan orang.
Orang-orang yang merasa diri hebat dan berlagak serta sok pintar, sok kaya, sok cantik juga sok kuasa itu sepertinya lupa dengan ungkapan Jawa, "Aja dumeh, ana salah, ana kalah, ana ngalah" yang berarti: jangan sok-sokan atau mentang-mentang. Dalam hidup ini ada saatnya kita berbuat salah, ada waktunya kita kalah dan ada tempo-nya kita harus mengalah. Hidup kita ini tidak selamanya "berada di atas." Ingat prinsip "Cakramanggilingan" yang berarti hidup kita ini berputar – kadang untung namun kadang pula buntung. Kita juga perlu belajar dari orang-orang Tionghoa yang berkata, "Tian Shang You Tian" yang berarti: di atas langit, masih ada langit. Lalu, "Untuk apa kita harus sok?"
Jumat, 24 Mei 2013 Markus Marlon
Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com
Rabu, 01 Mei 2013
(Kontemplasi Peradaban)
Ada seorang wanita single pulang dari kantor pada malam hari. Ia sungguh-sungguh letih, lesu, lelah, lemah, loyo dan lunglai, karena bekerja dari pagi hingga sore (09.00 to 17.00). Ia menonton Televisi sambil main-main channel sembari meluruskan badan dengan kaki slonjor.
Tiba-tiba di luar rumah, terdengar suara kendaraan yang sedang parkir di depan rumahnya, yakni mobil sang pacar. Wanita muda itu pun langsung berdiri dan mandi sambil bersenandung di kamar mandi. Dalam waktu yang amat singkat, rasa letih pun musnah.
Kebanyakan orang letih karena beban mental yang dibawanya serta. Novelis Inggris Margareth Storm Jameson (1891 – 1986) pernah berkata bahwa hampir semua orang menghabiskan waktu beberapa menit setiap jamnya untuk hidup di masa lampau dengan menyesali kegagalannya atau memikirkan masalah-masalah yang akan datang. Kadang-kadang mereka murung-murung tanpa sebab. Namun di pihak lain, juga banyak orang menjadi letih karena relasinya dengan orang lain, bahkan orang yang terdekatnya sekalipun Gary Champan (1938 – sekarang) dalam bukunya yang berjudul Loving Solution menulis, "Kami sungguh tidak bahagia dalam perkawinan ini. Kami menghadapi permasalahan berat yang tidak bisa kami pecahkan. Kami selalu bertengkar tentang hal yang sama, lalu rujuk kembali dan semuanya beres selama beberapa minggu. Selanjutnya kami bertengkar kembali. Kami letih" (hlm. 8). Pengaruh negatif yang kuat dari keletihan dapat menimbulkan kesalahpahaman dalam berelasi. Vince Lombardi (1953 – 1970) pelatih sepak bola, pernah berkata, "Keletihan membuat kita semua menjadi pengecut." Ketika kita letih atau sakit, kita sering cenderung untuk lebih bersifat reaktif.
Setelah kita keluar dari pintu rumah kita, di hadapan kita sudah mengular permasalahan-permasalahan yang meletihkan. Tukang ojek ataupun kernet yang berteriak-teriak mencari penumpang dan seolah-olah teriakannya ditujukan kepada kita. Di depan kantor berjumpa dengan tukang parkir dan satpam yang tidak bersahabat. Kemudian di kantor tidak ada sapaan ramah dari rekan kerja, seolah-olah kami semua mengidap penyakit Monday syndrom. Pekerjaan yang kita hadapi setiap hari membuat letih. Amat berbeda dengan pemikiran yang dilukiskan oleh Arfan Pradiansyah dalam bukunya yang berjudul, "I love Monday." Ia menulis bahwa sebagian besar hidup kita dalam pekerjaan, maka sudah layak dan sepantasnya jika kita mencintai pekerjaannya itu. Henri Nouwen (1932 – 1996) dalam bukunya yang berjudul, "Menggapai Kematangan Hidup Rohani" telah memberikan masukan yang tepat. Ia menulis bahwa seorang mahasiswa-wi merasa lunglai karena tidak mendapatkan teman-teman untuk berbagi pengalaman, curhat. Seorang guru menjadi letih karena tidak diterima oleh para muridnya dan seorang karyawan menjadi lesu karena tidak dihargai oleh boss-nya. Ini semua pengalaman hidup dalam bermasyarakat. Namun Ajahn Brahm ( lahir di London, 7 Agustus 1951 – suatu hari mengadakan travelling ke Tailand dan menjadi biksu pada usia 23 tahun) yang kumpulan wejangannya ditulis dalam buku yang berjudul "Horeee! Guru si Cacing Datang" mengatakan bahwa badan kita boleh sakit tetapi pikiran kita tidak boleh sakit maupun letih. Stamina pikiran bisa distabilkan dengan meditasi. Dalam pariwara, keletihan bisa dilawan dengan obat yang namanya fatigon. Padahal kata fatigon sendiri berasal dari bahasa Latin, "fatigatio-onis" yang berarti keletihan, kepenatan dan kelelahan.
"Menjadi letih itu suatu pilihan," kata seseorang. Ada seorang ibu muda yang bekerja siang malam, ibarat kaki menjadi kepala dan kepala jadi kaki tetapi ia tidak merasa letih yah karena demi anaknya. Pilihan untuk tidak letih itu pun telah ditulis oleh Viktor Frankl (1905 – 1997) dalam bukunya yang berjudul, "Man's Search for Meaning". Dalam Kamp Nazi Jerman ia membuat penemuan yang sangat berarti. Ketika seseorang memilih agar hidupnya bermakna, ia berjuang – meskipun terseok-seok – membantu sesama tawanan. Orang ini berusaha membantu orang lain dalam keletihannya yang amat sangat. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa orang yang mengalami compassion fatigue (keletihan berbuat baik). Misalnya di kota-kota besar, seperti Jakarta banyak pengemis, "pak ogah" yang mencari uang dengan mengemis atau menjadi fasilitator mobil-mobil yang hendak belok. Orang-orang sudah bosan untuk berbuat baik dengan member sesuatu kepada mereka. Sudah hilang rasa belas kasih.
Dalam arti ini, kita perlu berguru kepada Yesus, "Sang pemberi air hidup sejati." Ia pernah bersabda, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Mat. 11: 28).
Rabu, 01 Mei 2013 Markus Marlon
Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com
Minggu, 28 April 2013
(Motivasi Pelayanan)
Saya belum pernah mendengar seorang ibu yang bilang, "Sudah nak tidak usah latihan berjalan lagi, berhenti saja, nanti jatuh lagi!" sewaktu melihat anaknya sedang belajar berjalan. Sebaliknya, seorang ibu atau pengasuh tentu akan berteriak penuh semangat, "Ayo nak teruskan, teruskan, teruskan!! Jalan terus pasti bisa!"
"Teruskan" adalah kata-kata penegasan sekaligus memberi motivasi bagi yang mendengarkannya. Dalam Kitab Suci pun, ada suara-suara yang tegas-singkat-inspiratif. Mungkin tidak pernah terpikirkan bahwa malaikat tidak pernah mengatakan apa pun selain, "Bangun dan bergegaslah!" Seorang malaikat datang kepada Petrus dalam penjara dan berkata, "Pergilah, berdirilah ……" (Kis 5: 20). Seorang malaikat menampakkan kepada Yusuf dalam suatu mimpi, ketika Herodes membantai bayi-bayi dan berkata, "Bangunlah……." (Mat 2: 13). Tentu saja orang yang mendengar kata-kata tegas-singkat-inspiratif ini menjadi termotivasi karena ada "jaminan" bahwa akan selamat. Kata-kata magis itu seolah-olah mewakili orang yang hendak membantu dalam kesulitannya.
Sebenarnya dalam pelbagai peristiwa-kejadian, banyak orang yang mendukung, meskipun tidak harus berkata, "Teruskan!" Ketika acara X-Factor di RCTI – setiap Jumat malam – digelar, ada yuri yang berdiri sambil bertepuk tangan dan tersenyum kepada calon bintang, itulah bukti bahwa dirinya berkata, "Kau hebat, teruslah bernyanyi!" Tentu saja si calon bintang begitu termotivasi dan merasa didukung. Demikian pula jika ada antusiasme para kader yang melakukan standing ovation ketika mendengarkan pidato dari seorang pemimpin partai. Gemuruh suara para kader itu sebenarnya berkata, "Teruskan dan lanjutkan berjuang untuk rakyat!"
Setiap orang dalam dirinya sangat butuh kata-kata motivasi yang tulus dari orang lain, teristimewa orang-orang yang terdekat. Janganlah kita menjadi orang yang "patah semangat" karena dipatahkan oleh kata-kata negatif orang lain. Kita perlu berguru kepada Michelangelo (1475 – 1564) yang memberikan motivasi kepada muridnya, Antonio. Dalam sebuah kisa, setelah Michelangelo wafat, seseorang menemukan di studio-nya selembar kertas di mana ia menulis sebuah catatan kepada murid magangnya, "Menggambarlah Antonio, menggambarlah dan jangan buang-buang waktu!" (19 April 2013) Markus Marlon
Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com