Sakiro Suzuki
First school day in an American School. The female Teacher introduces a new student. Sakiro Suzuki (son of Sony CEO).
The class starts.
Teacher : "Let's see who masters the American Culture History. Who said : GIVE ME THE FREEDOM OR THE DEATH".
It was quiet in the class. Suzuki raises the hand : "Patrick Henry 1775 in Philadelphia"
"Very good Suzuki. And who said : "The State is the people. The people may not go down.
Suzuki stands : "Abraham Lincoln 1863 in Washington".
The teacher looks at the students and says : "Shame you. Suzuki is Japanese and knows the American History better than you".
A voice is coming out from background : "Kiss my ass, you damned Japanese".
"Who said that ?" the teacher screams.
Suzuki raises the hand and without waiting he says : "General McArthur 1942 at Panama Canal and Lee Iacocca 1982 in the BOD meeting of General Motor".
The class is super quiet From behind : "I must vomit"
The teacher screams : "Who was that ?"
Suzuki answers : "George Bush Senior to Japanese First Minister Tanaka during lunch in Tokyo 1991"
One of the students stands and screams angrily : "Blow me one".
The teacher upset : "Now stop. Who was that now ?"
Suzuki without blinking the eye : "Bill Clinton to Monica Levinsky 1997 in Washington in oval room of White House".
Another student's stands and screams : "Suzuki damned you"
Suzuki says : "Valentino Rossi in Ryo at Grand Prix Motorcycle racing In South Africa 2002".
The class falls in hysteria, the teacher becomes unconscious. The door opens and the principal comes in : "F**k, I have never seen such a mess"
Suzuki : "German Chancellor Schroeder after he was betrayed in the budget by Finance Minister Eichel".
Sabtu, 29 November 2008
Kamis, 27 November 2008
Panurata bermimpi : Air berubah menjadi minyak
Di Desa "Gemah Ripah", Panurata, seorang pemuda desa yang tampan dan cerdas ini, termasuk pemuda yang tidak pantang mundur terhadap situasi hidupnya, termasuk kesulitan keluarganya untuk mendapatkan minyak tanah. Dua hari antre di pasar, barulah ia dapat minyak 5 liter,meski dengan harga yang 3 kali lipat lebih mahal. Nah karena kesulitan itulah, Panurata berangan-angan mengubah air menjadi minyak. Isterinya, Jerawati sampai geleng-geleng kepala karena sudah satu bulan, minyak tanahnya malah sering habis tidak untuk masak, tapi untuk uji coba Panurata mengubah air menjadi minyak. Dia mencoba mencampurkan air dengan minyak...tapi tetap saja tidak bisa jadi satu, selalu saja pisah.
Jerawati pun suatu saat jengkel, "Mas, sudah tahu, air tidak bisa bercampur dengan minyak, tetep saja tiap hari dicampur campur...sampai minyak habis. Apa nggak nyadar sih, minyak kan mahal!! Kita saja kurang minyak untuk masak...eh malah buat mainan!! Sadar Mas,...Sadar...!! Dengan penuh kesabaran, Panurata menatap Jerawati, "Jeng...apa kita tidak boleh bermimpi, suatu saat terjadi penemuan yang menggegerkan jagad, air berubah jadi minyak, karena bisa bercampur.! Lalu dari pencampuran itu kan akan kelihatan...manakah unsur yang bisa membuat air bisa jadi minyak! Nah..sekarang ini saya lagi berusaha mencari unsur yang bisa mempersatukan air dan minyak...kalau unsur itu ketemu..wah...kita jadi orang kaya sedunia Jeng!! Jerawati makin cemberut,sampai maju 3 cm bibirnya maju..."Yeee...nggak usah mimpi deh...lihat kenyataan mas, nggak bakal minyak bisa bercampur dengan air, apalagi kok mau mengubah air menjadi minyak!" Panurata lalu berpangku tangan, mulai mengiyakan pendapat isterinya tercinta, "Jeng, memang benar, sampai sekarang, air tidak bisa bercampur dengan minyak, tapi apa salahnya sih aku mencoba?" Jerawati pun lalu mulai kendor ketegangannya, "Okey Mas, aku ikut mendukung percobaanmu...ehmm tapi apa kamu tidak konsultasi dengan seseorang yang bisa menjadi gurumu?" Panurata tersenyum, rasanya isteri tercinta mulai mendukung usahanya, "Okey, nanti aku cari!"
Benar, Panurata mencari seorang guru. Karena itu ia mencari seorang pinisepuh di Desanya, "Gemah Ripah". Pinisepuh itu namanya Mbah Gedhek. Simbah Gedhek menasihati Panurata katanya, "Dik Panu, saya salut dengan usahamu untuk membuat mimpimu jadi kenyataan, istilah yang bagus itu, a dream will come true! Nah, cobalah berjalan dari sini ke arah selatan menuju pegunungan Harta Karun, lalu carilah sebuah gua yang menghadap pantai selatan. Kalau kamu sudah memotong bukit itu, pasti akan ketemu pantai, tidak jauh dari situ akan ada gua yang bagus. Nah di situlah guru itu tinggal! Kira kira 50 km jaraknya!" Dengan wajah ceria penuh harapan, Panurata menanggapi petunjuk guru itu. "Mbah, saya boleh bertanya apa saja kepada guru itu?" Dengan senyum penuh wibawa, Mbah Gedhek pun geleng geleng kepala. "Tidak anakku, kamu hanya boleh bertanya satu kali saja, "unsur apa yang membuat air menjadi minyak?" Panurata pun hanya bisa mengatakan, "Baiklah kalau begitu!" Panurata lalu pamit dan berjalan dengan wajah bergairah, rasanya mimpi itu seolah olah sudah tinggal selangkah lagi!
Sepulang dari rumah Mbah Gedhek, Panurata lalu cerita kepada Jerawati. "Jeng, aku sudah tanya Mbah Gedhek. Aku harus ketemu seorang guru di gua, di balik pegunungan Harta Karun, Wilayah Provinsi Artomoro, sekitar 50 km. Dan dari jalan besar ke gua itu 25 km, hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki." Jerawati terpana, "Haah....tapi ya kalau memang sudah jadi niat dan tekadmu yang "keukeuh", aku hanya bisa mendukungmu dengan doa!". Panurata begitu bahagia malam itu, rasanya mimpi itu sudah mulai terpampang di depan matanya, seperti membalik telapak tangan.
Akhirnya pada sabtu pagi, sekitar pk 4 Panurata memulai perjalanan. Dia naik bis kota, dan sesampai di perbatasan Provinsi Artomoro yang berjarak 25 km dari desanya, dia lalu turun dan berjalan menuju gua di balik pegunungan Harta Karun. Dia melewati jalan sempit, perbukitan, kadang jalan setapak yang tepi kanan dan kirinya berupa jurang. Sabtu sore, menjelang jam 15, Panurata sampai di gua itu. Lalu masuklah, dan dengan suara keras dia menyapa, "Punteeeen..... Punteeeen...!!" Lalu keluarlah seorang gadis yang kelihatan dewasa, bernampilan rok panjang warna putih dan rambut panjangnya sebahu terurai. Gadis itu kelihatan cantik! Panurata lalu menyapa, "Maaf, apakah saya bisa mencari seorang guru yang mengajari saya segala ilmu?" Gadis itu menjawab, "Mas, dapat informasi dari siapa, kok jauh jauh mencari seorang guru sampai di sini?" Panurata pun dengan agak malu-malu menjawab, "dari Mbah Gedhek, Non!" Gadis itu, melipat tangan di dadanya, lalu menanggapi, "Ehmmm...begitu..iya benar..saya kenal beliau! Terus apa yang mau kamu tanyakan pada saya? Dan ingat, kamu hanya boleh bertanya satu pertanyaan, tidak boleh lebih." Panurata lalu menyahut, "Baik, saya akan ajukan satu pertanyaan!" Panurata masih kelihatan grogi, melihat gadis cantik yang katanya "guru" segala ilmu itu. Lalu Panuratapun mengajukan pertanyaan,."Non, apakah Anda sudah menikah?"
Begitulah cerita pendek itu berakhir, dan sampai sekarang, air tidak pernah berubah menjadi minyak, karena Panurata tidak tanya "unsur apa yang bisa membuat air jadi minyak", tetapi malahan bertanya, "Non, apakah Anda sudah menikah?"
Cerita itu memberikan pesan, "Begitu kuat niat dan tekad untuk mengubah segalanya, tapi ketika berhadapan dengan kenyataan sesungguhnya, kita kerap kali berubah pikiran."
Jerawati pun suatu saat jengkel, "Mas, sudah tahu, air tidak bisa bercampur dengan minyak, tetep saja tiap hari dicampur campur...sampai minyak habis. Apa nggak nyadar sih, minyak kan mahal!! Kita saja kurang minyak untuk masak...eh malah buat mainan!! Sadar Mas,...Sadar...!! Dengan penuh kesabaran, Panurata menatap Jerawati, "Jeng...apa kita tidak boleh bermimpi, suatu saat terjadi penemuan yang menggegerkan jagad, air berubah jadi minyak, karena bisa bercampur.! Lalu dari pencampuran itu kan akan kelihatan...manakah unsur yang bisa membuat air bisa jadi minyak! Nah..sekarang ini saya lagi berusaha mencari unsur yang bisa mempersatukan air dan minyak...kalau unsur itu ketemu..wah...kita jadi orang kaya sedunia Jeng!! Jerawati makin cemberut,sampai maju 3 cm bibirnya maju..."Yeee...nggak usah mimpi deh...lihat kenyataan mas, nggak bakal minyak bisa bercampur dengan air, apalagi kok mau mengubah air menjadi minyak!" Panurata lalu berpangku tangan, mulai mengiyakan pendapat isterinya tercinta, "Jeng, memang benar, sampai sekarang, air tidak bisa bercampur dengan minyak, tapi apa salahnya sih aku mencoba?" Jerawati pun lalu mulai kendor ketegangannya, "Okey Mas, aku ikut mendukung percobaanmu...ehmm tapi apa kamu tidak konsultasi dengan seseorang yang bisa menjadi gurumu?" Panurata tersenyum, rasanya isteri tercinta mulai mendukung usahanya, "Okey, nanti aku cari!"
Benar, Panurata mencari seorang guru. Karena itu ia mencari seorang pinisepuh di Desanya, "Gemah Ripah". Pinisepuh itu namanya Mbah Gedhek. Simbah Gedhek menasihati Panurata katanya, "Dik Panu, saya salut dengan usahamu untuk membuat mimpimu jadi kenyataan, istilah yang bagus itu, a dream will come true! Nah, cobalah berjalan dari sini ke arah selatan menuju pegunungan Harta Karun, lalu carilah sebuah gua yang menghadap pantai selatan. Kalau kamu sudah memotong bukit itu, pasti akan ketemu pantai, tidak jauh dari situ akan ada gua yang bagus. Nah di situlah guru itu tinggal! Kira kira 50 km jaraknya!" Dengan wajah ceria penuh harapan, Panurata menanggapi petunjuk guru itu. "Mbah, saya boleh bertanya apa saja kepada guru itu?" Dengan senyum penuh wibawa, Mbah Gedhek pun geleng geleng kepala. "Tidak anakku, kamu hanya boleh bertanya satu kali saja, "unsur apa yang membuat air menjadi minyak?" Panurata pun hanya bisa mengatakan, "Baiklah kalau begitu!" Panurata lalu pamit dan berjalan dengan wajah bergairah, rasanya mimpi itu seolah olah sudah tinggal selangkah lagi!
Sepulang dari rumah Mbah Gedhek, Panurata lalu cerita kepada Jerawati. "Jeng, aku sudah tanya Mbah Gedhek. Aku harus ketemu seorang guru di gua, di balik pegunungan Harta Karun, Wilayah Provinsi Artomoro, sekitar 50 km. Dan dari jalan besar ke gua itu 25 km, hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki." Jerawati terpana, "Haah....tapi ya kalau memang sudah jadi niat dan tekadmu yang "keukeuh", aku hanya bisa mendukungmu dengan doa!". Panurata begitu bahagia malam itu, rasanya mimpi itu sudah mulai terpampang di depan matanya, seperti membalik telapak tangan.
Akhirnya pada sabtu pagi, sekitar pk 4 Panurata memulai perjalanan. Dia naik bis kota, dan sesampai di perbatasan Provinsi Artomoro yang berjarak 25 km dari desanya, dia lalu turun dan berjalan menuju gua di balik pegunungan Harta Karun. Dia melewati jalan sempit, perbukitan, kadang jalan setapak yang tepi kanan dan kirinya berupa jurang. Sabtu sore, menjelang jam 15, Panurata sampai di gua itu. Lalu masuklah, dan dengan suara keras dia menyapa, "Punteeeen..... Punteeeen...!!" Lalu keluarlah seorang gadis yang kelihatan dewasa, bernampilan rok panjang warna putih dan rambut panjangnya sebahu terurai. Gadis itu kelihatan cantik! Panurata lalu menyapa, "Maaf, apakah saya bisa mencari seorang guru yang mengajari saya segala ilmu?" Gadis itu menjawab, "Mas, dapat informasi dari siapa, kok jauh jauh mencari seorang guru sampai di sini?" Panurata pun dengan agak malu-malu menjawab, "dari Mbah Gedhek, Non!" Gadis itu, melipat tangan di dadanya, lalu menanggapi, "Ehmmm...begitu..iya benar..saya kenal beliau! Terus apa yang mau kamu tanyakan pada saya? Dan ingat, kamu hanya boleh bertanya satu pertanyaan, tidak boleh lebih." Panurata lalu menyahut, "Baik, saya akan ajukan satu pertanyaan!" Panurata masih kelihatan grogi, melihat gadis cantik yang katanya "guru" segala ilmu itu. Lalu Panuratapun mengajukan pertanyaan,."Non, apakah Anda sudah menikah?"
Begitulah cerita pendek itu berakhir, dan sampai sekarang, air tidak pernah berubah menjadi minyak, karena Panurata tidak tanya "unsur apa yang bisa membuat air jadi minyak", tetapi malahan bertanya, "Non, apakah Anda sudah menikah?"
Cerita itu memberikan pesan, "Begitu kuat niat dan tekad untuk mengubah segalanya, tapi ketika berhadapan dengan kenyataan sesungguhnya, kita kerap kali berubah pikiran."
Empati
EMPATI
By: Andy F Noya
Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji dikawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.
Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.
Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari. Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan.
Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.
Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan.
Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah.
Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.
Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun.
Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya.
Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah keluar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.
Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran.
Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka. Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah disitu.
Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.
Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya. Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.
Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chiken Soup", saya kerap membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.
Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.
Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata "terima kasih" saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian. Menurut dia, kata "terima kasih" merupakan "magic words" yang akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.
Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. "Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?'' Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya.Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya,
saya segera teringat nasihat istri tersebut.
Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.
Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.
Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di
belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.
Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah sekarang juga.
By: Andy F Noya
Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji dikawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.
Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.
Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari. Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan.
Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.
Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan.
Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah.
Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.
Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun.
Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya.
Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah keluar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.
Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran.
Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka. Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah disitu.
Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.
Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya. Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.
Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chiken Soup", saya kerap membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.
Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.
Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata "terima kasih" saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian. Menurut dia, kata "terima kasih" merupakan "magic words" yang akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.
Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. "Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?'' Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya.Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya,
saya segera teringat nasihat istri tersebut.
Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.
Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.
Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di
belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.
Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah sekarang juga.
Rabu, 26 November 2008
Kebebasan
KEBEBASAN
by Wayne B. Lynn
Suatu hari di musim semi yang berangin, aku mengamati anak-anak muda sedang memanfaatkan angin untuk menerbangkan layang-layang mereka. Beraneka warna dan bentuk serta ukuran memenuhi langit, menukik dan menari-nari di angkasa.
Ketika angin keras berhembus, layang-layang itu tertahan oleh seutas benang. Bukannya hilang tertiup angin, layang-layang itu malah membubung tinggi. Layang-layang itu bergetar menarik-narik, tapi benang tetap mengekang mereka, mengarahkan mereka ke atas menentang angin. Ketika
layang-layang berjuang serta bergetar melawan benang itu, mereka seakan berkata : "Lepaskan aku! Lepaskan aku! Aku ingin bebas merdeka!"
Layang-layang itu melayang, membubung serta meluncur dengan indahnya meskipun mereka terikat oleh benang dan mendapat terpaan angin kencang.
Akhirnya, salah satu benang layang-layang itu putus. Layang-layang itu bebas. "Hura.., akhirnya aku bisa bebas juga", tampaknya itu yang dikatakan oleh layang-layang itu.
Namun kebebasan dari hambatan tali tadi membawa nasibnya ditentukan oleh tiupan angin yang kurang ramah. Ia - layang-layang putus itu - terombang-ambing sampai akhirnya jatuh ke tanah, mendarat di semak-semak liar.
Kebebasan itu berakhir, dia tinggal tidak berdaya ditiup angin kesana-kemari di atas tanah tanpa ada yang menolong dan akhirnya hancur berantakan.
Kitapun kadang-kadang mirip sekali dengan layang-layang. Tuhan memberi kita hukum dan peraturan-peraturan untuk diikuti agar kita bisa tahu cara untuk menggapai ketinggian. Tuhan juga memberi kita badai cobaan untuk meningkatkan kemampuan. Hambatan dan ujian adalah tantangan yang diperlukan agar kita semakin tinggi melayang. Tapi beberapa di antara kita menyentak dan meronta-ronta, mencoba lepas dari kekangan dan peraturan-peraturan, sehingga
kita malahan tidak berhasil membubung mencapai ketinggian yang semestinya kita raih. Kita tetap tertinggal di tanah.
Marilah kita masing-masing naik ke ketinggian yang disediakan oleh Tuhan kita. Kita sadari bahwa peraturan dan kesulitan yang Tuhan berikan sesungguhnya adalah tantangan yang membantu kita untuk bisa tinggal landas, melayang tinggi dan berhasil jaya. (JM)
Shared by Joe Gatuslao -- Bacolod City, Philippines
by Wayne B. Lynn
Suatu hari di musim semi yang berangin, aku mengamati anak-anak muda sedang memanfaatkan angin untuk menerbangkan layang-layang mereka. Beraneka warna dan bentuk serta ukuran memenuhi langit, menukik dan menari-nari di angkasa.
Ketika angin keras berhembus, layang-layang itu tertahan oleh seutas benang. Bukannya hilang tertiup angin, layang-layang itu malah membubung tinggi. Layang-layang itu bergetar menarik-narik, tapi benang tetap mengekang mereka, mengarahkan mereka ke atas menentang angin. Ketika
layang-layang berjuang serta bergetar melawan benang itu, mereka seakan berkata : "Lepaskan aku! Lepaskan aku! Aku ingin bebas merdeka!"
Layang-layang itu melayang, membubung serta meluncur dengan indahnya meskipun mereka terikat oleh benang dan mendapat terpaan angin kencang.
Akhirnya, salah satu benang layang-layang itu putus. Layang-layang itu bebas. "Hura.., akhirnya aku bisa bebas juga", tampaknya itu yang dikatakan oleh layang-layang itu.
Namun kebebasan dari hambatan tali tadi membawa nasibnya ditentukan oleh tiupan angin yang kurang ramah. Ia - layang-layang putus itu - terombang-ambing sampai akhirnya jatuh ke tanah, mendarat di semak-semak liar.
Kebebasan itu berakhir, dia tinggal tidak berdaya ditiup angin kesana-kemari di atas tanah tanpa ada yang menolong dan akhirnya hancur berantakan.
Kitapun kadang-kadang mirip sekali dengan layang-layang. Tuhan memberi kita hukum dan peraturan-peraturan untuk diikuti agar kita bisa tahu cara untuk menggapai ketinggian. Tuhan juga memberi kita badai cobaan untuk meningkatkan kemampuan. Hambatan dan ujian adalah tantangan yang diperlukan agar kita semakin tinggi melayang. Tapi beberapa di antara kita menyentak dan meronta-ronta, mencoba lepas dari kekangan dan peraturan-peraturan, sehingga
kita malahan tidak berhasil membubung mencapai ketinggian yang semestinya kita raih. Kita tetap tertinggal di tanah.
Marilah kita masing-masing naik ke ketinggian yang disediakan oleh Tuhan kita. Kita sadari bahwa peraturan dan kesulitan yang Tuhan berikan sesungguhnya adalah tantangan yang membantu kita untuk bisa tinggal landas, melayang tinggi dan berhasil jaya. (JM)
Shared by Joe Gatuslao -- Bacolod City, Philippines
Selasa, 25 November 2008
Bakat terpendam
BAKAT TERPENDAM
Kadang-kadang kita semua ingin menyangkal bakat alami yang Tuhan berikan, sebab dengan adanya bakat dan ketrampilan akan datang pula tuntutan tanggung jawab.
Mungkin diperlukan seseorang lain untuk menunjukkan suatu bakat khusus yang kita miliki. Misalnya, ketika pada suatu pertemuan, aku berkata : "Saya cuma punya satu bakat". Dengan itu saya mau merangsang pendengar-pendengarku untuk memakai bakat yang dimiliki. Tiba-tiba ada seorang wanita muda menemui saya, kemudian berkata : "Yang anda katakan tadi tidak benar". "Wah", aku ngomong sendiri, "apa aku tadi berbohong ?" Wanita itu melanjutkan dan membuatku tenang : "Aku tahu karya tulismu dan hal-hal lain yang anda kerjakan, tapi yang terbaik pada dirimu yaitu betapa akrabnya anda sebagai teman saat duduk ngobrol di perapian".
Jadi jelaslah bahwa kita bisa memakai suatu bakat biarpun kita tak sadar bahwa kita memilikinya. Malam itu aku merasa begitu berbesar hati ketika mengetahui, bahwa "hanya dengan duduk di perapian sambil menjadi sahabat" sudah merupakan "bakat" yang dianugerahkan Tuhan.
Kita bisa menghabiskan waktu sejam bersama dengan kawan-kawan untuk saling membantu mengenali dan menemukan bakat-bakat khusus yang telah kita terima. Dengan cara-cara sederhana seperti itu kita bisa saling menerangkan dan mendorong. Bukan lagi saatnya beralasan seperti : "Ah, aku tak bisa..... mengerjakan ini atau itu". Sebaliknya, akan lebih mermanfaat jika dapat saling membantu mengenali bakat dan kemampuan kita.
Mungkin kita bisa saja mempunyai beberapa pilihan mengenai bakat atau kemampuan yang kita miliki. Barangkali kita juga ingin mencoba menukar bakat kita dengan dengan yang lainnya yang lebih menarik. Tapi Allah kita yang Maha Bijaksana sudah memberikan dan membagi sesuai kehendakNya. Dan suatu hari Dia akan meminta pertanggungjawaban, bagaimana kita masing-masing telah memanfaatkan anugerah-anugerah itu.
Kalau anda dan saya ingin dipakai oleh Tuhan, sudah selayaknya bila kita mulai tekun mencari kemampuan khusus kita dan langsung segera mempraktekkannya.
Ada pertanyaan bagus yang boleh kita tanyakan kepada diri sendiri: Kalau bukan saya yang mengerjakannya hari ini, lantas siapa yang akan melakukan ? (JM)
By Jeanette Lockerbie,
That Unrecognized Talent.
Kadang-kadang kita semua ingin menyangkal bakat alami yang Tuhan berikan, sebab dengan adanya bakat dan ketrampilan akan datang pula tuntutan tanggung jawab.
Mungkin diperlukan seseorang lain untuk menunjukkan suatu bakat khusus yang kita miliki. Misalnya, ketika pada suatu pertemuan, aku berkata : "Saya cuma punya satu bakat". Dengan itu saya mau merangsang pendengar-pendengarku untuk memakai bakat yang dimiliki. Tiba-tiba ada seorang wanita muda menemui saya, kemudian berkata : "Yang anda katakan tadi tidak benar". "Wah", aku ngomong sendiri, "apa aku tadi berbohong ?" Wanita itu melanjutkan dan membuatku tenang : "Aku tahu karya tulismu dan hal-hal lain yang anda kerjakan, tapi yang terbaik pada dirimu yaitu betapa akrabnya anda sebagai teman saat duduk ngobrol di perapian".
Jadi jelaslah bahwa kita bisa memakai suatu bakat biarpun kita tak sadar bahwa kita memilikinya. Malam itu aku merasa begitu berbesar hati ketika mengetahui, bahwa "hanya dengan duduk di perapian sambil menjadi sahabat" sudah merupakan "bakat" yang dianugerahkan Tuhan.
Kita bisa menghabiskan waktu sejam bersama dengan kawan-kawan untuk saling membantu mengenali dan menemukan bakat-bakat khusus yang telah kita terima. Dengan cara-cara sederhana seperti itu kita bisa saling menerangkan dan mendorong. Bukan lagi saatnya beralasan seperti : "Ah, aku tak bisa..... mengerjakan ini atau itu". Sebaliknya, akan lebih mermanfaat jika dapat saling membantu mengenali bakat dan kemampuan kita.
Mungkin kita bisa saja mempunyai beberapa pilihan mengenai bakat atau kemampuan yang kita miliki. Barangkali kita juga ingin mencoba menukar bakat kita dengan dengan yang lainnya yang lebih menarik. Tapi Allah kita yang Maha Bijaksana sudah memberikan dan membagi sesuai kehendakNya. Dan suatu hari Dia akan meminta pertanggungjawaban, bagaimana kita masing-masing telah memanfaatkan anugerah-anugerah itu.
Kalau anda dan saya ingin dipakai oleh Tuhan, sudah selayaknya bila kita mulai tekun mencari kemampuan khusus kita dan langsung segera mempraktekkannya.
Ada pertanyaan bagus yang boleh kita tanyakan kepada diri sendiri: Kalau bukan saya yang mengerjakannya hari ini, lantas siapa yang akan melakukan ? (JM)
By Jeanette Lockerbie,
That Unrecognized Talent.
Senin, 24 November 2008
Menyediakan segalanya
Menyediakan apa yang kita tidak mampu
Seorang pimpinan sebuah toko mendengar bawahannya berkata pada seorang
langganan : "Maaf Bu, kami sudah sejak beberapa minggu ini belum
mendapatkannya dan kelihatannya kita tidak bakalan mendapatkannya dalam
waktu dekat ini".
Dengan kuatir, pimpinan itu bergegas lari menyusul si pelanggan yang sedang
berjalan keluar pintu, katanya : "Maaf Bu, itu tadi tidak benar. Tentu saja,
tidak lama lagi sudah akan kami terima, karena kami sudah mengirimkan
pesanan beberapa minggu yang lalu".
Lalu si manejer itu menarik pembantunya itu kesamping dan ia menasehati :
"Jangan jangan sekali-kali kau katakan kita tidak punya sesuatu. Kalaupun
kita tak punya, katakan saja kita sudah memesan dan sedang dalam perjalanan
kemari, pokoknya sudah dikirim dari sana, mengerti ? Sekarang, apa sih yang
Ibu tadi butuhkan ?"
"Hujan !"
Kadang-kadang sebanyak apapun yang ingin bisa kita sediakan bagi orang-orang
yang membutuhkannya, kenyataannya kita tidak mampu. Ada hal-hal lain yang
hanya bisa disediakan Allah.
Mungkin anda berada dalam situasi begitu akhir-akhir ini. Mungkin ada
anggota keluarga anda yang sedang menderita suatu penyakit berat. Atau
mungkin anda punya seorang anak yang sedang kuliah jauh dari rumah dan
sedang mengalami pencobaan dan kini sedang kesepian sekali. Atau mungkin ada
teman anda yang sedang mengalami masa-masa berat di dalam pernikahannya.
Ada beberapa hal kecil yang bisa anda bantu lakukan, namun pada akhirnya
anda begitu merasa tak berdaya, sebab anda benar-benar tak bisa menyediakan
apa yang benar-benar mereka butuhkan. Jadi anda lalu berdoa pada Tuhan,
sebab hanya Allah saja yang bisa menyediakan.
Terkadang kita membuat kesalahan dengan berpikir : "Berdoa, itu paling
sedikit yang bisa kita kerjakan".
Salah itu ! Bukan begitu, justru berdoa adalah yang paling banyak yang bisa
kita lakukan. Kita mempunyai Allah yang bisa menyediakan segala apa yang
kita sendiri tidak mampu lakukan. Ingatlah itu saat anda merasa tidak mampu
untuk memenuhi kebutuhan setiap orang di sekitar anda.
Shared by Joe Gatuslao
Seorang pimpinan sebuah toko mendengar bawahannya berkata pada seorang
langganan : "Maaf Bu, kami sudah sejak beberapa minggu ini belum
mendapatkannya dan kelihatannya kita tidak bakalan mendapatkannya dalam
waktu dekat ini".
Dengan kuatir, pimpinan itu bergegas lari menyusul si pelanggan yang sedang
berjalan keluar pintu, katanya : "Maaf Bu, itu tadi tidak benar. Tentu saja,
tidak lama lagi sudah akan kami terima, karena kami sudah mengirimkan
pesanan beberapa minggu yang lalu".
Lalu si manejer itu menarik pembantunya itu kesamping dan ia menasehati :
"Jangan jangan sekali-kali kau katakan kita tidak punya sesuatu. Kalaupun
kita tak punya, katakan saja kita sudah memesan dan sedang dalam perjalanan
kemari, pokoknya sudah dikirim dari sana, mengerti ? Sekarang, apa sih yang
Ibu tadi butuhkan ?"
"Hujan !"
Kadang-kadang sebanyak apapun yang ingin bisa kita sediakan bagi orang-orang
yang membutuhkannya, kenyataannya kita tidak mampu. Ada hal-hal lain yang
hanya bisa disediakan Allah.
Mungkin anda berada dalam situasi begitu akhir-akhir ini. Mungkin ada
anggota keluarga anda yang sedang menderita suatu penyakit berat. Atau
mungkin anda punya seorang anak yang sedang kuliah jauh dari rumah dan
sedang mengalami pencobaan dan kini sedang kesepian sekali. Atau mungkin ada
teman anda yang sedang mengalami masa-masa berat di dalam pernikahannya.
Ada beberapa hal kecil yang bisa anda bantu lakukan, namun pada akhirnya
anda begitu merasa tak berdaya, sebab anda benar-benar tak bisa menyediakan
apa yang benar-benar mereka butuhkan. Jadi anda lalu berdoa pada Tuhan,
sebab hanya Allah saja yang bisa menyediakan.
Terkadang kita membuat kesalahan dengan berpikir : "Berdoa, itu paling
sedikit yang bisa kita kerjakan".
Salah itu ! Bukan begitu, justru berdoa adalah yang paling banyak yang bisa
kita lakukan. Kita mempunyai Allah yang bisa menyediakan segala apa yang
kita sendiri tidak mampu lakukan. Ingatlah itu saat anda merasa tidak mampu
untuk memenuhi kebutuhan setiap orang di sekitar anda.
Shared by Joe Gatuslao
Jumat, 21 November 2008
Pilihan Bijaksana
PILIHAN BIJAKSANA
Di saat menuju jam istirahat kelas, dosen mengatakan pada mahasiswa/i nya :
"Mari kita buat satu permainan, mohon bantu saya sebentar". Kemudian salah satu Mahasiswa berjalan menuju pelataran papan tulis.
DOSEN : Silahkan tulis 20 nama yang paling dekat dengan anda. Dalam sekejap sudah dituliskan semuanya, ada nama tetangganya, teman kantornya, orang terkasih dan lain-lain.
DOSEN : Sekarang silahkan coret satu nama diantaranya yang menurut anda paling tidak penting !
Siswa itu lalu mencoret satu nama, nama tetangganya.
DOSEN : Silahkan coret satu lagi !
Kemudian Siswa itu mencoret satu nama teman kantornya lagi.
DOSEN : Silahkan coret satu lagi !
Siswa itu mencoret lagi satu nama dari papan tulis dan seterusnya. Sampai pada akhirnya diatas papan tulis hanya tersisa tiga nama , yaitu nama orang tuanya, Istrinya dan nama anaknya. Dalam kelas tiba-tiba terasa begitu sunyi tanpa suara, semua Mahasiswa/siswi tertuju memandang ke arah dosen, dan mereka mengira sudah selesai tidak ada lagi yang harus dipilih oleh
siswi itu.
Tiba-tiba dosen memecahkan keheningan dengan berkata : "Silahkan coret satu lagi ! "
Dengan pelahan-lahan siswa itu melakukan suatu pilihan yang amat sangat sulit. Dia kemudian mengambil kapur tulis, mencoret nama orang tuanya.
DOSEN : "Silahkan coret satu lagi!"
Hatinya menjadi binggung. Kemudian ia mengangkat kapur tulis tinggi-tinggi. lambat laun menetapkan dan mencoret nama anaknya. Dalam sekejap waktu, sepertinya mahasiswa itu sangat sedih.
Setelah suasana tenang, Dosen lalu bertanya " Orang terkasihmu bukannya Orang tuamu dan Anakmu ?, Orang tua yang membesarkan anda, anak adalah anda yang merawatnya, sedang istri itu bisa dicari lagi. Tapi mengapa anda berbalik lebih memilih istri sebagai orang yang paling sulit untuk dipisahkan ?
Semua teman sekelas mengarah padanya, menunggu apa yang akan dijawabnya. Setelah agak tenang, kemudian pelahan-lahan ia berkata : "Sesuai waktu yang berlalu, orang tua akan pergi dan meninggalkan saya, sedang anak jika sudah besar setelah itu menikah bisa meninggalkan saya juga, yang benar-benar bisa menemani saya dalam hidup ini hanyalah istri saya.
Di saat menuju jam istirahat kelas, dosen mengatakan pada mahasiswa/i nya :
"Mari kita buat satu permainan, mohon bantu saya sebentar". Kemudian salah satu Mahasiswa berjalan menuju pelataran papan tulis.
DOSEN : Silahkan tulis 20 nama yang paling dekat dengan anda. Dalam sekejap sudah dituliskan semuanya, ada nama tetangganya, teman kantornya, orang terkasih dan lain-lain.
DOSEN : Sekarang silahkan coret satu nama diantaranya yang menurut anda paling tidak penting !
Siswa itu lalu mencoret satu nama, nama tetangganya.
DOSEN : Silahkan coret satu lagi !
Kemudian Siswa itu mencoret satu nama teman kantornya lagi.
DOSEN : Silahkan coret satu lagi !
Siswa itu mencoret lagi satu nama dari papan tulis dan seterusnya. Sampai pada akhirnya diatas papan tulis hanya tersisa tiga nama , yaitu nama orang tuanya, Istrinya dan nama anaknya. Dalam kelas tiba-tiba terasa begitu sunyi tanpa suara, semua Mahasiswa/siswi tertuju memandang ke arah dosen, dan mereka mengira sudah selesai tidak ada lagi yang harus dipilih oleh
siswi itu.
Tiba-tiba dosen memecahkan keheningan dengan berkata : "Silahkan coret satu lagi ! "
Dengan pelahan-lahan siswa itu melakukan suatu pilihan yang amat sangat sulit. Dia kemudian mengambil kapur tulis, mencoret nama orang tuanya.
DOSEN : "Silahkan coret satu lagi!"
Hatinya menjadi binggung. Kemudian ia mengangkat kapur tulis tinggi-tinggi. lambat laun menetapkan dan mencoret nama anaknya. Dalam sekejap waktu, sepertinya mahasiswa itu sangat sedih.
Setelah suasana tenang, Dosen lalu bertanya " Orang terkasihmu bukannya Orang tuamu dan Anakmu ?, Orang tua yang membesarkan anda, anak adalah anda yang merawatnya, sedang istri itu bisa dicari lagi. Tapi mengapa anda berbalik lebih memilih istri sebagai orang yang paling sulit untuk dipisahkan ?
Semua teman sekelas mengarah padanya, menunggu apa yang akan dijawabnya. Setelah agak tenang, kemudian pelahan-lahan ia berkata : "Sesuai waktu yang berlalu, orang tua akan pergi dan meninggalkan saya, sedang anak jika sudah besar setelah itu menikah bisa meninggalkan saya juga, yang benar-benar bisa menemani saya dalam hidup ini hanyalah istri saya.
Langganan:
Postingan (Atom)