Jumat, 17 Juni 2016

Hari jadi

Hari jadi

Beberapa bulan yang lalu saya sering membaca ucapan “Hari Ulang Tahun” atau “Dies Natalis” atau “Mauludan” namun sekarang yang sering saya dengar adalah “Selamat Hari Jadi.” Hari Jadi ini adalah terjemahan dari  birthday.  Memang bayi yang lahir itu jadi – menjadi – manusia. Dan lagu yang kita nyanyikan biasanya “Happy birthday to you…Happy birthday to you!”  Lagu tersebut (Happy birthday to you)  pertama kali didengungkan pada tahun 1893 itu,  ternyata judul aslinya  “Good morning to all.” Setelah 30 tahun, lagu tersebut mulai berkembang menjadi “Good morning to you” dan tahun 1935 dipatenkan oleh Jessica Hill dengan judul  “Happy Birthday” –  “Salamat hari jadi, salamat hari jadi…” 

Peristiwa kelahiran perlu disyukuri dan diberi makna, “Untuk apa aku dilahirkan di dunia ini.” Jangan seperti Ayub yang mengutuki hari jadinya (Bdk. Ayb 3:1). Namun, ada juga seorang ibu yang sedih merayakan hari jadi dari putrinya. Setiap kali  ketambahan  umur, ibu itu menangis – sesenggukan –  di kamar, sebab putrinya pada usia yang tidak muda lagi belum juga menemukan jodoh.

Sebuah buku yang berjudul  “Life Begins at Forty” bahkan menjadi semboyan hidup merupakan kepustakaan yang pantas untuk dibaca.  Tetapi saya juga pernah mendengar syair yang dinyanyikan oleh  The Beatles dengan judul, “Life begins forty four!”  Mungkin karena secara biologis dan psikologis, usia 40 tahun dianggap sebagai tolok ukur kedewasaan. Bahkan pada zaman dulu, ukuran biologis (misalnya: seperti jenggot) sangat berpengaruh.  Maka tidak mengherankan jika Brian Cavanaugh pernah bercerita demikian. Raja Spanyol mengirim seorang pemuda yang bijaksana untuk mengunjungi raja di negeri tetangga. Sesampai di istana yang menerima pemuda tersebut itu pun mencela, “Apakah kerajaan Spanyol telah kehabisan orang, sehingga memutuskan untuk mengirim seseorang yang belum tumbuh jenggotnya?” (Bdk.  Barbarosa  sampai Barbershop).

Namun kita tidak boleh menutup mata bahwa Isaac Newton (1642 – 1727) memerkenalkan hukum gravitasi ketika berusia 24 tahun. Victor Hugo (1802 – 1885) menulis kisah  tragedy  pertamanya ketika berusia 15 tahun, Johannes Calvin (1509 – 1564) bergabung dengan gerakan Reformasi ketika berusia 21 tahun dan menulis karyanya yang terkenal “Institutio Christianae Religionis” ketika berusia 27 tahun.  Bagi orang Yahudi umur 50 tahun merupakan umur yang matang. Lalu orang-orang Yahudi berkata kepada Yesus, “Umurmu belum ada lima puluh tahun dan Engkau sudah melihat Abraham?” (Yoh 8: 57).

Berapa pun umur manusia, perlu kita mensyukurinya.  Umur manusia itu memang di tangan Tuhan. Ada orang yang mati muda dan – katanya – belum banyak mengabdikan dirinya kepada sesama. Soe Hok Gie (1942 – 1969)  pernah menulis, “Nasib terbaik  adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda.”  Barangkali tafsiran dari Gie adalah supaya kita memaknai hidup setiap waktu secara penuh  (fully human – fully alive).  Maka tepatlah kata-kata Salomo yang tidak meminta umur panjang atau kekayaan tetapi kebijaksanaan” (1 Raj 3: 11). 

Akhirnya,  dalam kesempatan ini saya mengucapkan selamat merayakan Hari Jadi (happy birthday), Dirgahayu (Bhs. Skt:  dirghaayus.  Dirgham = Panjang dan  Ayus = Umur),  Ad multos annos,  selengkapnya: Vivat ad multos annos, ad summam senectutem – Semoga ia hidup panjang umur mencapai usia tertua. Pakatuan  wo pakalawiren – Semoga lanjut usia dan tetap lestari. Pakatuan   berasal dari kata dasar  tu’a  artinya: tua atau lanjut usia dan Pakalawiren berasal dari  lawir yang maknanya lestari atau abadi. Semoga Panjang umur dan sehat selalu!!

Kamis, 21 April 2016   Markus Marlon

Kamis, 16 Juni 2016

Terlalu Risau

TERLALU RISAU(Kontemplasi  Peradaban)

“Haud timet mortem qui vitamsperat” – yang berharaphidup tidak akan takut mati.

Bulan lalu, 29 April 2016 saya naik  speed  “CB Limex Permai” dari Tarakan ke Tanjung Selor.  Saya duduk satu deretan kursi dengan seseorang yang mengaku  diri orang Nunukan (Kaltara) asli. Selama dalam perjalanan, ia bercerita banyak tentang menjaga kesehatan. Di bercerita bahwa dirinya sakit. Ia membawa payung agar tidak kena titik-titik air, di sakunya ada minyak wangi “cap lang” dan dia senantiasa membawa menu yang harus dimakan setiap harinya.  Dia berkata, “Kita harus sehat, maka setiap detik kita harus menjaga hidup kita sedetail mungkin!”

Lantas saya berpikir, “Orang ini terlalu hati-hati”. Yang namanya “terlalu” itu tidaklah baik.  Misalnya seperti, terlalu rajin, terlalu suci, terlalu baik dan “terlalu-terlalu” lainnya. Orang tadi sungguh-sungguh menjaga kesehatannya sampai terlalu risau.  Ia terlalu strict dengan diet dan karena hidupnya tidak tenang maka tidur pun tidak nyaman.

Pepatah Latin berbunyi, “Non curator  qui curat” – yang selalu risau (justru) tidak mudah sembuh.  Peribahasa Inggris Sehari-hari menulis, “Laugh and grow fat” – tertawalah, Anda akan sehat dan gemuk. Peribahasa ini menasihatkan agar orang selalu gembira, banyak tertawa dan tidak selalu serius. Atau Amsal menulis, “A cheerful heart is good medicine” – Hati yang gembira adalah obat yang manjur” (Ams 17: 22).

Kisah tersebut di atas, mengingatkan saya akan seorang pemuda galau,  seperti yang dikisahkan oleh Dale Carnegie (1888 – 1955) dalam bukunya yang berjudul, “Petunjuk Hidup Tentram Dan Bahagia”.  Pemuda itu divonis dokter bahwa umurnya tidak panjang. Dalam waktu tiga bulan, akhirnya memutuskan untuk hidup “hura-hura” karena  toh hidupnya tidak terlalu lama lagi. Dia mulai tidak risau dengan apa yang dimakan. 

Dia pergi dengan kapal pasiar dan tidak risau dengan angin malam. Dan ternyata, seturut berlalunya waktu, pemuda itu pelan-pelan malah sembuh, “miracle!” Pemuda itu – seperti yang dikisahkan Carnegie – menjadi pribadi yang periang dan tidak pernah risau lagi. Itulah yang menyembuhkan.

Kata “risau” sendiri berasal dari bahasa Minangkabau, “rěsau” yang berarti: gundah. Kerisauan memang sering kita alami. Kita risau menghadapi sesuatu yang belum pasti. Hati menjadi “ciut” jika berhadapan dengan sesuatu yang belum pasti. Dan seolah-olah “sesuatu” itu lebih besar daripada diri kita. Ibarat, bayangan kita sendiri ketika jam 15.00 sore. Bayangan itu besar sekali, sebesar kerisauan kita. Hati menjadi gundah.

Senin, 9 Mei 2016  Markus Marlon

Senin, 13 Juni 2016

Perjumpaan

PERJUMPAAN  (Kontemplasi Peradaban)

Akhir April 2016, saya menginap di Biara OMI (Oblati Mariae Immaculatae) di Tarakan (Kaltara). Biara yang indah bak rumah dalam film Harry Potter. Banyak orang datang untuk sekedar foto atau bahkan untuk pre-wedding.
Waktu itu ketika menunggu makan pagi, seusai merayakan Ekaristi di biara, saya membaca booklet yang diterbitkan Komisi KOMSOS KWI dengan tema: “Perjumpaan yang Memerdekan”. Sejenak saya membaca booklet kecil yang mewah itu dengan cover yang penuh inspirasi.  Dari sana pula, saya mencoba merefleksikan apa itu “Perjumpaan”.
Suatu hari pada suatu masa, saya berjumpa dengan seseorang yang mengeluh demikian, “Mengapa yah saya ini kalau berjumpa dengan orang itu rasa muak, seperti tidak ada cemestry-nya gitu! Tetapi kalau ngomong-omong dengan orang lain, rasanya nyaman gitu!” 
Memang sebagai makhluk sosial, kita setiap saat mengadakan perjumpaan dengan pelbagai kalangan. Ada yang menyebalkan, ada pula yang  biasa-biasa saja, ada yang membuat hati sejuk dan akhirnya ada yang menghidupkan, symbiosis mutualism. Ini yang oleh John Powel  dalam Betapa Indah Hidup Ini, dikatakan sebagai self-giving relationship, sebuah relasi yang saling memberikan. Dalam perjumpaan yang disertai dengan berbagi pengalaman (sharing), masing-masing pribadi merasa dikuatkan untuk melangkah.  Perjumpaan yang menghidupkan ini nyata dalam diri Maria dan Elisabet (Luk 1: 39 – 45). Roh bertemu dengan roh. Maria berseru dengan suara nyaring dalam Magnificat!  Dalam kidung tersebut, masing-masing orang  mengungkapkan apa yang menjadi keunggulan atau kelebihan dari sahabat berbagi rasanya dan akhirnya tertuju kepada Tuhan, “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” (Luk 1: 46). BJ Habibie dalam Habibie & Ainun menulis, “Memang benar di belakang seorang pria yang berhasil berperan selalu seorang wanita, dalam hal ini isteri saya Ainun, yang lebih berhasil” (hlm. 153). Kita menjadi ingat akan kata-kata yang disampaikan oleh Albert Einstein (1879 – 1955), “Orang-orang yang dangkal membicarakan tentang orang-orang, orang-orang biasa membicarakan tentang peristiwa-peristiwa dan orang-orang luar yang dalam, membicarakan tentang ide-ide.”  Di sini kita bisa melihat bagaimana orang yang memiliki sikap hidup yang negatif (negative thingking) dan sikap hidup yang positif  (positive  thingking). Mereka yang pikirannya dipenuhi dengan hal-hal negatif akan banyak memunculkan kata-kata: ketidakpuasan, keluhan-keluhan, dan masalah-masalah yang dihadapi. Sedangkan mereka yang pikirannya dipenuhi dengan hal-hal positif akan banyak memunculkan kata-kata: konstruktif, puji-pujian dan pemecahan masalah, solution.Dalam perjumpaan yang menghidupkan itu, seseorang akan merasa terdukung. Ignatius Loyola (1491 – 1556)  dalam “masa-masa gelapnya” amat bersyukur memiliki teman bicara yang amat mendukung yaitu kakaknya sendiri, Martin. August Darleth dalam Pahlawan dari Loyola menulis, “Terima kasih Martin. Engkau dan isterimu yang baik budi telah merawatku dengan baik, lebih dari apa yang dapat diharapkan setiap orang. Aku bukan seorang pasien yang baik, tetapi banyak hal yang membuat aku sangat berterima kasih, tetapi yang terutama, di samping kebaikan budimu, adalah kesempatan membaca kedua buku itu yang telah membuka mataku ke arah dunia yang lebih luas” (hlm. 25).
Di sini pula, kita bisa merefleksikan oleh  Cicero (106 – 43 seb. M), nama lengkapnya: Marcus Tullius Cicero  dalam De Amicitia  menulis, “Vera amicitia est inter bono” – persahabatan sejati hanya terjadi di antara orang-orang yang tulus.  Perjumpaan-perjumpaan yang menghidupkan ini, hanya dapat terjadi jika satu sama lain, memiliki ketulusan hati. Jika salah seorang berbuat salah, maka ditegur empat mata, “Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia” (Luk 17: 3). Publilius (penulis Latin yang berasal dari Syria dibawa ke Italy sebagai budak , tetapi dihargai karena kecakapannya dalam bidang sastra) menulis, “secreto amicos admone, lauda palam” – tegorlah sahabat-sahabatmu di bawah empat mata (secara diam-diam), namun pujilah mereka secara terbuka.  Tentu saja ini suatu perjumpaan yang menyejukkan dan menghidupkan. Dalam masing-masing pribadi ada “self-giving love” – sebuah pemberian diri yang dijiwai oleh cinta. Suatu pemberian diri atau pengabdian total semacam ini tidak dapat dibeli dengan uang atau ditukar dengan kekuasaan.

Jumat, 6 Mei 2016  Markus Marlon

Minggu, 12 Juni 2016

PENDAPAT (Kontemplasi  Peradaban)

“Frangas  non flectes - engkau dapat menindasku, tetapi tidak untuk mengubah pendirianku, keyakinanku.

Pernah suatu kali saya menginap di sebuah keluarga di bilangan kota Samarinda (Kalimantan Timur). Istri mau mengobrol, suami diam saja. Istri ingin menghadiri pesta di rumah keponakan, suami sebal pada keponakan itu. Suaminya juga tidak suka pada abang dari istrinya.  Di pihak lain, istri membenci teman-teman kantor suaminya. Akibatnya hubungan mereka menjadi tegang. Untuk mencegah pertengkaran,  suami  membisu dan istri memendam. Kedua orang itu melakukan supresi yaitu menekan apa yang hendak diungkapkan. Suami istri itu takut untuk mengemukakan pendapatnya.

Sebenarnya, pendapat seseorang itu bagi yang lain itu merupakan kontribusi yang tak terkira manfaatnya. Tidak gampang menyatukan pendapat atau opini. Masing-masing orang bersikeras bahwa pendapatnya itulah yang paling baik dan sempurna. Kadang orang tidak mau menerima second opinion.

Sebenarnya kita harus ingat bahwa setiap pemain professional itu memiliki pelatih. Kisah pegolf Tiger Wood (terlahir: 30 Desember 1975) memberikan pelajaran untuk kita. Wood memiliki pelatih yang jika bertanding dengan dirinya, tentu pelatihnya akan kalah. Tetapi yang perlu diingat bahwa sang pelatih bisa mengetahui yang tidak dilihat oleh pegolf dunia ini. Pemain professional itu  mau menerima pendapat dari orang lain.

Dalam hidup ini sebenarnya saling melengkapi. Ibaratnya, “saling mengisi kekosongan”. Ada film bagus dengan judul, “Rocky”. Tatkala Sylvester Stallone berkata tentang tunangannya Adrian, dia berkata, “Saya punya cela, dia punya cela, jadi bersama-sama kami tidak punya cela”.  Di sini Kitab Amsal menulis, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya” (Ams 27: 17).

Memang benar bahwa barang yang tidak dipakai itu lama-lama akan aus, demikian pula dengan pengetahuan yang dimiliki seseorang. Pikiran akan menjadi aus jika tidak pernah diasah dengan cara: diskusi, berdebat dan adu pendapat.  Di sinilah Pepatah Latin mendapatkan pengetrapannya, “Ingenium longa robigine laesum torpet” – Pikiran menjadi tumpul karena tidak pernah dipakai.  

Di lain pihak, kita harus menjadi sadar bahwa dengan “masuk dalam ranah” saling adu pendapat, kita harus ikhlas untuk lelah, “lelah pikiran”. Lelah, karena masing-masing orang tidak pernah mau mengalah dengan apa yang menjadi pendapatnya, “Quot capito, tot sensus” – sebanyak kepala sebanyak pula pikirannya.

Senin, 23 Mei 2016   Markus Marlon

Selasa, 22 Desember 2015

CATUT
(Kontemplasi  Peradaban)
 
“Nunc animis
opus, Aenea, nunc pectore
 firmo” – Aeneas, sekarang ini kerja jiwamu
 hendaknya dilakukan dengan hati nurani yang kokoh (Vergilius).
 
       Ketika seseorang memerbaiki rumah atau pagar kemudian ada paku yang sudah tidak dipakai lagi dan perlu untuk dibuang, maka dibutuhkan sebuah catut. Dalam  Kamus Bahasa Jawa, “cathut” berarti peralatan untuk mencabut paku. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, catut diartikan sebagai penyalahgunakan (kekuasaan, nama orang dan jabatan) untuk mencari untung. Banyak orang yang mencatut nama pejabat untuk kepentingan pribadi. 

          “History repeat itself”  – Sejarah akan berulang dengan sendirinya.  Kisah catut-mencatut sudah ada sejak dulu kala. Dalam kisah pewayangan yang berjudul,  “Karno Tanding”  Kunti, ibu para Pandawa mencatut nama besar kelima anaknya (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa) agar Karno, yang pada waktu itu berpihak pada Doryudana,  bergabung dengan adik-adiknya. Pencatutan nama itu tentunya tidak diketahui oleh kelima anaknya. Ini adalah insitiatif sang ibu yang prihatin terhadap keutuhan keluarganya. Meskipun demikian, Karno tetap  kuekueh dengan pendiriannya, yakni berseberangan dengan adik-adiknya. 

          Aesop (620 – 506 seb.M) pun memberikan kisah tentang pencatutan yang dilakukan  seekor kera yang menggunakan nama kota besar  Piraeus, pelabuhan kota Athena.

Waktu itu, ikan lumba-lumba menolong kera yang terlempar di laut. Kemudian terjadilah percakapan antara kedua binatang tersebut.

      “Apakah kamu orang Athena?” Lumba-lumba itu bertanya.
            “Ya, betul,”  kera itu berbohong. “Saya merupakan anggota salah satu  keluarga paling terkemuka di seluruh Athena.”
            “Kalau begitu kamu pasti tahu Piraeus,” lumba-lumba berkata dengan bangga, mengacu pada pelabuhan indah yang ia jadikan tempat tinggal.
            Karena menduga bahwa Piraeus itu pasti merupakan seorang pejabat termasyur, kera pun menjawab,  “Ya, aku mengenalnya. Ia adalah salah satu teman terbaikku.”
            Ketika lumba-lumba mendengar jawaban bohong itu, ia menyelam ke dasar laut dan membiarkan kera itu tenggelam.
 

       “Nomen est omen” – Nama adalah pertanda. Dalam sebuah nama selalu terkandung sebuah harapan baik.  Lantas, bagaimana jika nama baik itu dicatut untuk hal-hal yang kurang baik, misalnya untuk memengaruhi suatu kebijakan. Nama baik tetaplah menjadi nama baik, tergantung pribadi yang menyandangnya. Ia akan tetap menjadi pribadi yang marwah.  Jadi meskipun namanya dicatut, ia tetap akan stabil, tak tergoncangkan.

Dalam budaya Jawa ada pepatah yang berbunyi, “Yen ora cluthak bisa galak” atau sebaliknya  “cluthak ora galak”.  Maknanya, “orang itu (pemimpin) kalau bersih (jika tidak nggragas, pemakan segala/ serakah) selalu mampu bersikap tegas”.  Jika yang dicatut namanya itu “bersih”, maka ia akan  galak  dan tegas.

Demikianlah, mencatut nama orang lain merupakan tindakan yang kurang terhormat.  “Penyalahgunaan nama” yang dalam bahasa Inggris diartikan sebagai  “to abuse”  berasal dari bahasa Latin, “abusus”. “Abusus” terdiri dari kata “ab” yang berarti dari dan “utor” berarti menggunakan.  Dengan demikian, “abusus” menunjuk pada “menyimpang dari penggunaan sebenarnya.

Kamis, 26 November 2015   
Markus Marlon

Senin, 07 Desember 2015

Jalan Sempit

JALAN  SEMPIT
 
“Et arcta via est, quae ducit ad vitam”  –  dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan (Mat 7: 14).
 
       “Pernahkan kita mengalami hidup itu terasa nyaman, sepertinya tidak ada masalah?” Seolah-olah jalan begitu lebar dan luas, tanpa gangguan. Tetapi tiba-tiba dalam kasus lain, sepertinya jalan begitu berat dan akhirnya kita menyerah.

          Setiap saat, kita senantiasa diperhadapkan pada pertanyaan dalam diri, “Saya akan ikut jalan mana?” Para tetua penduduk asli Amerika  memberikan petuah kepada anak-anak muda supaya berani melangkah di jalan yang sempit dan berkelok-kelok,  menanjak dan melintasi gunung-gunung terjal. Mereka menambahkan lagi, “Jalan itu penuh dengan begitu banyak kesulitan dan rintangan dan hanya yang kuatlah yang  bisa mencapai puncak gunung.”  Melalui legenda itu, para orang tetua  suku Indian mengajar  anak-anak  bahwa  bahwa jalan yang paling mudah bukanlah jalan yang terbaik.

Ronggowarsito (1802 – 1873 ) yang popular dengan  “jaman edan”-nya  memberikan ulasan tentang kehidupan manusia yang tidak mau ikut arus. Ia memuji orang yang waspada dan tidak lupa, “… begja-begjane kang lali,  luwih begja kang eling lan waspada” – Namun bagaimana pun juga betapapapun nikmatnya kehidupan mereka yang ikut menjadi  edan, masih lebih bahagia  mereka yang tetap mempertahankan kesadarannya.  Kalau kita ikut arus  zaman edan tersebut, akan banyak teman yang pasti hidup lebih terjamin di dunia ini. Bagaimana pun juga, kita harus hidup di jalan yang benar, karena  “invia virtuti nulla est via” – untuk sebuah kebajikan tidak ada jalan yang tidak bisa dilalui.

          Hal yang sama juga apa yang ditulis oleh Richard Bach (lahir 23 Juni 1936) yang terkenal dengan buku  the best seller-nya yang berjudul, “Jonathan Livingstone Seagull”.  Si camar itu berani meninggalkan cara hidup yang biasa-biasa saja. Semua burung lain melarangnya, namun ia tetap berpendirian untuk menjadi  “yang lain”  dan akhirnya menemukan kebahagiaan. Lain dengan cerita yang dikisahkan Antony de Melo (1931 – 1987) dalam bukunya yang berjudul “Burung Berkicau”  di sana ada orang lebih senang ikut masyarakat umum dan mengikuti cara hidup mereka (ikut arus) dan memang terasa nyaman. 

          Masih tentang  “jalan sempit”. Salah seorang murid Socrates yang bernama Cebes menulis di dalam bukunya yang berjudul,  “Tabula” demikian, “Apakah engkau melihat sebuah pintu kecil yang ada di depannya, namun tidak ramai serta hanya sedikit  saja yang melaluinya ?” Itulah jalan yang menuju kepada pengajaran sejati (Bdk. William Barclay dalam bukunya yang berjudul, “Pemahaman Alkitab Setiap hari Injil Matius”, hlm. 454).  Jalan sempit yang menyelamatkan juga ditulis oleh John Bunyan (1628 – 1688)  dalam bukunya yang sangat terkenal bahkan monumental, “The Pilgrim’s  Progress”.  Bunyan menulis bahwa jalan sempit itu penuh resiko dan tantangan, “Siapa takut?”

Senin, 19 Oktober  2015    Markus Marlon

Kamis, 03 Desember 2015

AMARAH
Kontemplasi Peradaban
 
Furor fit laesa saepius patientia – kesabaran yang
 sering dinistakan dapat berubah menjadi kemarahan (Publius Syrus).
 
       Siapa pun orangnya tentu pernah marah. Ada yang marah terlihat dari body language-nya yang tenang-tenang saja. Namun ada juga yang marahnya tidak terkendali seperti Baladewa, saudara  Kresna: meluap-luap. Dan  ketika kita melihat amarahnya, dari raut mukanya seolah-olah akan berbuat jahat. Itulah dalam bahasa Arab, ammarat  itu berarti menyuruh seseorang untuk berbuat jahat. Tidak heranlah jika dalam bahasa Latin, ada pepatah, “furor arma ministrant” – kemarahan mengarah untuk memakai senjata.

          Kebanyakan di antara kita berpikir bahwa amarah hanyalah dipunyai oleh mereka yang berkuasa. Seorang jendral marah kepada para prajutir, seorang direktur marah kepada karyawan-karyawannya dan seterusnya. Adolf  Hitler (1889 – 1945) misalnya – dalam biografinya – dituliskan bahwa kalau ada yang tidak sesuai dengan keinginannya langsung marah-marah. Penulis buku “Strategi Perang”  Sun Tzu (544 – 496 Seb. M) pernah menulis, “When the officer  get angry  easily with their men, it indicates that they are weary  of war” – Jika seorang pemimpin mudah marah-marah terhadap bawahannya, ketahuilah bahwa ia sudah capek dan jenuh dengan perang.

          “Menghadapi orang yang sedang marah-marah, jangan dilawan dengan marah”  kata seorang bijak, “Namun hadapilah dengan penuh kesabaran.”  Shakespeare  (1564 – 1616) dalam dramanya yang berjudul,  “Merchant of Venice”  merekam apa yang dikatakan Antonio. Antonio (tokoh utama) itu berkata, “Kan  kulawan kemarahannya dengan kesabaran, kan
kutanggung derita di bawah kuasa amarahnya dengan sikap setenang roh…”  Kalau ada api padamkanlah  dengan air.

          Kita harus sadar bahwa nafsu kemarahan itu hanya sejenak. Banyak orang yang menyesal setelah marah besar terhadap anaknya. Horatius (65 – 8 seb. M) pernah menulis, “Ira furor brevis est: animum rege, qui nisi imperat: hunc frenis, nunc tu compesce catena” – Nafsu amarah itu hanya sejenak: Arahkanlah hatimu, jika nafsu itu tidak ditundukkan, ia akan menguasaimu. Kekanglah nafsu itu dengan kendali atau dengan rantai.”

          Ya, memang, tali pada busur kadang-kadang  dikendorkan  – biarpun itu busur Apolo  –  agar tidak putus. Demikian pula, menurut bahasa Konfusius (551 – 479 seb. M), “Orang tidak dapat melihat bayangannya sendiri di dalam air yang mengalir, tetapi ia dapat melihatnya pada air yang diam.”

Rabu, 28 Oktober 2015  
Markus Marlon