Rabu, 13 April 2011

BERANI MENGALAH

BERANI MENGALAH
(Sebuah Percikan Permenungan)

Salah satu episode dalam film yang berjudul "Abraham" sungguh memukau,
karena di situ dikisahkan bagaimana sang tokoh berani memilih untuk
mengalah setelah kemenakannya, yang bernama Lot memilih terlebih dahulu.
Kata-katanya yang terkenal, "Kalau kamu ke kanan, aku ke kiri, kalau kamu
ke kiri aku ke kanan". Suatu sikap mengalah yang luar biasa. Sikap yang
mengalah tidak selamanya kalah, tetapi nanti suatu saat akan memetik
hasilnya. Lihat saja tokoh Jean Valjean dalam novel legendaris "Les
Miserables" tulisan Victor Hugo (1802-1885) bagaimana ia begitu terobsesi
untuk mencintai orang lain, dengan mengadopsi Cosette, anak tidak sah dari
Fantine, meskipun banyak tantangan dari pelbagai pihak. Sudah menjadi
pemandangan umum bahwa orang yang kalah berarti salah. Olah karena itu, ada
sikap gengsi untuk mengakui segala kelemahannya.

Memang dunia ini seolah-olah milik para pemenang dan bukan milik pecundang.
Bagaimana orang-orang yang memenangkan sebuah pertandingan ? Bukankah
mereka diarak serta disambut dengan kalung bunga dan diarak di atas mobil
terbuka disertai sorak-sorai ? Ketika raja Nebukadnezar (605-562 s.M) raja
Babel berhasil melumpuhkan negeri Yehuda, maka dengan semangat dia
berteriak, "Dunia ini adalah milikku." Sebagai pemenang, sang Raja bebas
bertindak apa saja yang ia kehendaki. Sedangkan yang kalah dianggap sebagai
budak. Juga Pharoh, yang dianggap sebagai Dewa yang hidup senantiasa
bertindak sewenang-senang, karena pasti memenangkan segala perkara. Bahkan
dirinya tidak mau kalah dengan dunia kematian, sehingga dibangunlah
piramida yang menurut kepercayaan orang Mesir, sang Raja yang disemayamkan
di tengah piramida itu tidak akan mati.

Kisah-kisah klasik seperti "Jane Eyre" tulisan Charlotte Bronte atau "Si
Bongkok dari Notre Dame" tulisan Victor Hugo, adalah sepenggal cerita yang
hendak mengemukakan tentang perjuangan yang kalah, namun pada akhir cerita
mendapatkan kemuliaan. Jane Eyre hidup dalam penderitaan yang luar biasa.
Namun pada akhirnya menemukan jodoh yang setia kepadanya. Dunia sufi
mengenal ilmu yang namanya "wani ngalah luhur wekasane" yang artinya kalau
kita sabar akan mendatangkan kebaikan pada akhirnya. Bukankah dunia
pewayangan senantiasa mengkisahkan orang-orang yang pada awalnya kalah,
namun pada akhir cerita mendapatkan kemuliaan serta kejayaan. Para putera
Raja, yakni sang pangeran tidak langsung menduduki tahta yang nikmat,
melainkan harus melewati pelbagai cobaan yang amat berat. Dalam "Ramayana"
putra mahkota harus mengalami "pembuangan" selama 12 tahun. Demikian pula
dalam "Mahabaratha" para putra
Pandawa harus dihukum di hutan belantara selama 12 tahun. Memang, dalam
dunia yang mengagungkan kekuasaan dan kekayaan, mereka dipandang sebagai
orang yang kalah. Tetapi dalam kisah-kisah wira-cerita di atas hendak
memberikan makna yang mendalam kepada kita bahwa penderitaan yang
dilandaskan pada kejujuran, ketulusan dan keiklasan, akhirnya mendapatkan
kemenangan dan kemuliaan ataupun mahkota. (no cross no crown).

Banyak kisah nyata yang sebenarnya hendak mempermalukan orang-orang cerdik
pandai. Di Indonesia ini, terlahir orang-orang yang tidak mengandalkan
gelar sebagai wibawa akademik untuk menuliskan sebuah buku. Lihat saja
Sujatmoko alm, Pramudya Ananta Toer alm, Andreas Harefa, dan Andre Wongso
adalah
orang-orang yang tidak memiliki gelar, namun mereka sangat produktif dalam
menelurkan karya-karya ilmiah. Dari segi gelar mereka kalah, namun,
kemenangan gelar akademik tidak berarti menang pula dalam produktivitas
karya-karyanya. Bukankah banyak doktor mandul dalam menuangkan gagasannya.
Saya pernah mendengar ungkapan yang berbunyi, "Menjadi doktor merupakan
puncak dari segala segala praktek ilmiah." Dalam hal ini, gelar doktor
dianggap sebagai tujuan,
sehingga ketika orang sudah mendapatkannya, berhenti pula untuk belajar.

Keberanian untuk mengalah harus diimbangi dengan kebesaran jiwa. Ambil
contoh para misionaris lampau seperti Fransiskus Xaverius. Orang selalu
terheran-heran melihat kekuatan fisik dan mental yang dimilikinya ketika
menjelejahi tanah-tanah asing, berhadapan dengan situasi-situasi penuh
tantangan. Pepatah mengatakan, "Senjata paling digdaya adalah hati manusia
yang berkobar-kobar untuk menaklukkan dunia." Tetapi kita harus juga
mengerti bahwa kemenangan atas dunia itu pertama-tama disadari sebagai
kemenangan atas diri sendiri. Pepatah Latin, "vincit qui se vincit" yang
artinya yang dapat menang adalah yang dapat mengalahkan dirinya sendiri
dapat memberi juga inspirasi bagi permenungan ini. Nabi Muhammad (570-632)
juga pernah mengatakan kepada para pengikutnya, "Perang yang kita lalui
kemarin, belum apa-apa dibandingkan dengan perang yang akan kita hadapi
yakni berperang melawan diri sendiri."

Merauke, 19 Maret 2011

Markus Marlon msc

Selasa, 12 April 2011

Tune-up Pernikahan Anda

Tune-up Pernikahan Anda

Julianto Simanjuntak

Merawat Cinta jauh lebih rumit dari merawat wajah atau mesin mobil.

Membutuhkan banyak waktu, perasaan, pengorbanan, kreatifitas dan seni
menyatakan cinta tingkat tinggi.

Tune-Up Pernikahan Anda. Cinta ibarat mesin pernikahan. Sayangnya tak
banyak yang tahu bagaimana merawat mesin pernikahan itu. Setelah perayaan
nikah, mesin itu terus berjalan tanpa perawatan. Awalnya cinta yang baru
itu hangat, segar dan romantis. Namun karena minim perawatan, mesin cinta
pernikahan itu akhirnya "mati" . Seperti mesin mobil, cinta dalam
pernikahan perlu mendapat perawatan rutin (tune-up). Jika anda rutin
merawat cinta, mesin pernikahan anda ini tetap segar danberfungsi baik.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan intimasi berkaitan erat dengan
stress. Relasi yang intim menjadi semacam benteng bagi efek negatif dari
stress. Mereka yang intim dengan pasangan, lebih sedikit mengalami syndrom
yang berkaitan dengan stress. Mereka umumnya cepat dalam mengatasi berbagai
penyakit, dan paling sedikit kemungkinan kumat dengan penyakitnya
dibandingkan mereka yang tidak memiliki relasi yang intim.

Merawat cinta.
Pertama-tama anda perlu memahami aspek-aspek keintiman dalam pernikahan.
Ada lima area keintiman yang perlu perawatan rutin:

Pertama, keintiman emosi. Ini merupakan pengalaman kedekatan secara
perasaan, kemampuan membagikan perasaan secara terbuka, dan mendapat
perhatian penuh dari pasangan. Wujudnya adalah kerinduan untuk bersama, ada
kesukaan ngobrol dan jalan berdua. Intinya, sediakan waktu bermesraan
secara emosi.

Kedua, keintiman sosial. Pengalaman memiliki teman dan kegiatan sosial
bersama-sama. Wujudnya, tidak mudah cemburu. Sebaliknya mau akrab bergaul
dengan sahabat pasangan Anda. Menyediakan waktu ngobrol dan bertemu dengan
sahabat masing-masing.

Ketiga, keintiman seksual (bagi suami-istri). Ini adalah pengalaman
menyatakan afeksi, sentuhan, kedekatan secara fisik dan aktivitas seksual.
Wujudnya adalah punya rasa tertarik pada tubuh pasangan, mengalami orgasme
dan bebas dalam mengkomunikasikan masalah seksual. Tipsnya, sediakan waktu
berkala menikmati hubungan seksual dengan pasangan Anda sesuai kebutuhan
dan kesepakatan, juga kreatif.

Kempat, keintiman rekreasional. Pengalaman membagi kesukaan lewat hobi,
olahraga, dan rekreasi bersama. Kemampuan menikmati waktu senggang bersama.
Rencanakan berlibur setidaknya dua kali setahun, yang menyenangkan bagi
kedua belah pihak termasuk anak-anak.

Kelima, keintiman spiritual. Kemampuan menikmati persekutuan bersama secara
rohani, bertumbuh secara iman serta saling mendoakan. Selain menikmati iman
yang utuh, perlu saling menguatkan saat pasangan dalam kondisi tertekan dan
banyak pergumulan. Anda menjadi teman sharing menyenangkan dan menguatkan

Secara praktis, wujud merawat cinta berikanlah waktu yang cukup dengan
pasangan. Usahakan Anda menjadi teman bicara yang menyenangkan. Sedikit ada
humor dan canda. Suka membantu ketika pasangan membutuhkan pertolongan atau
bantuan. Anda tidak hanya fokus pada bisnis dan karir Anda, sebaliknya
berfokus pada pasangan. Selalu memikirkan bagamana agar pasangan anda
senang dan puas.

Merawat cinta berarti peduli. Bersedia berbagi dan menyatakan diri pada
pasangan tanpa rasa takut atau berpura-pura. Ada kerelaan memelihara
pasangan dan memproteksi kebutuhan fisik dengan baik. Termasuk berkorban
bagi pasangan, membela pasangan saat dia terancam. Semua ini akan
memberikan pasangan Anda rasa aman yang paling mendasar.

Upah Keintiman. Jika Anda bisa membangun dan merawat keintiman di atas,
maka Anda membawa kenikmatan, kepuasan pada pasangan dan diri Anda sendiri.
Anda menikmati kegembiraan, kedamaian, ketentraman, dan minim stres.
Sebaliknya, jika Anda tidak merawat cinta dan keintiman dapat membawa hasil
yang negatif. Antara lain, mudah sakit, banyak keluhan fisik dan psikhis.
Akhirnya, perkawinan tanpa keintiman menimbulkan ketegangan dan kesulitan
yang mempengaruhi kinerja dan karir Anda.

Apakah cinta anda masih hangat membara ? Apakah mesin pernikahan Anda masih
berfungsi baik atau mulai merongrong ? Jika mulai terganggu, kini saatnya
men-tune-up nya. Carilah konsultan pernikahan untuk meraih cinta yang
seolah sudah "hilang". Membuat manis cinta yang sudah hambar. Menghangatkan
cinta yang sudah dingin. Jangan sampai mesin cinta Anda "turun mesin". Itu
hanya akan menambah luka derita hingga ke anak-cucu. Jatuh cinta itu mudah,
tapi tidak demikian merawatnya.

Julianto Simanjuntak

Pendiri Peduli Konseling Nusantara & Penulis "Seni Merayakan Hidup Yang
Sulit" (Gramedia)

Senin, 11 April 2011

Gambaru

*Japanese philosophy of Gambaru -
sharing dari seorang anak Indonesia yg study di Jepang**

Gambaru !
Oleh Rouli Esther Pasaribu pada 14 Maret 2011 jam 12:02

Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba
di Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai
titik darah penghabisan. Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama
prof, kata-kata penutup selalu : motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih
lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo
berjuang bersama-sama), motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin
penelitian lebih dan lebih lagi). Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa
ngga ada kosa kata lain selain GAMBARU? Apaan kek gitu, yang penting bukan
gambaru.

Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang2 cemen gitu2 aja yang kalo males
atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya...berhenti aja. Menurut kamus
bahasa jepang sih, gambaru itu artinya : "doko made mo nintai shite
doryokusuru" (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan)
Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter "keras" dan
"mengencangkan". Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini
adalah "mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras
dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan
itu". (maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah
sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup emang pada dasarnya susah, jadi
jangan ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru,
titik.).

Terus terang aja, dua tahun gw di jepang, dua tahun juga gw ngga
ngerti,kenapa orang2 jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah
hidupnya. Bahkan anak umur 3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh gambaru
disekolahnya, kayak pake baju di musim dingin mesti yang tipis2 biar nggak
manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah ngga boleh pakai kaos kaki
karena kalo telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan,
sakit2 dikit cuma ingus meler2 atau demam 37 derajat mah ngga usah bolos
sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak
akan kuat menghadapi penyakit jika ia relawan penyakitnya itu sendiri.
Akibatnya, kalo naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan gw
ngos2an kecapean, otomatis Joanna ngomong : Mama, gambare! Mama faitoooo!
(mama ayo berjuang, mama ayo fight!).

Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru sampe titik darah
penghabisan it's a must! Gw bener2 baru mulai sedikit mengerti mengapa
gambaru ini penting banget dalam hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan
gempa bumi dengan kekuatan 9.0 di jepang bagian timur. Gw tau, bencana alam
di indonesia seperti tsunami di Aceh, Nias dan sekitarnya, gempa bumi di
padang, letusan gunung Merapi....juga bukanlah hal yang gampang untuk
dihadapi. Tapi , tsunami dan gempa bumi di Jepang kali ini, jauuuuuh lebih
parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah
dan terbesar di dunia. Wajaaaaaaar banget kalo kemudian pemerintah dan
masyarakat Jepang panik kebingungan karena bencana ini. Wajaaaaar banget
kalo mereka kemudian mulai ngerasa galau, nangis2, ga tau mesti ngapain.
Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya bisa "dimaafkan" jika
stasiun-stasiun TV memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu ebiet dan
membuat video klip tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban
bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan. bagaimana
tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh
kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka tidak punya
harapan.

Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini? Dari hari pertama
bencana, gw nyetel TV dan nungguin lagu-lagu ala Ebiet diputar di
stasiunTV. Nyari-nyari juga di mana rekening dompet bencana alam. Video
klip tangisan anak negeri juga gw tunggu2in. Tiga unsur itu (lagu ala
Eiet,rekening dompet bencana, video klip tangisan anak negeri), sama sekali
ngga disiarkan di TV.Jadi yang ada apaan dong? Ini yang gw lihat di
stasiun2 TV :

1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada

2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi
bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah
tokyo dan tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)

3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan
pemadamanlistrik terencana

4. Tips-tips menghadapi bencana alam

5. Nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam

6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah
yangterkena bencana

7. Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga
yangterkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar
bernilai banget harganya)

8. Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang
dan tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita
hadapi (government official pake kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan
secara harafiah : menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati

9. Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati : *ada
yang nyari istrinya, belum ketemu2, mukanya udah galau banget, tapi tetap
tenang dan ngga emosional, disemangati nenek2 yang ada di tempat
pengungsian: gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo
kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)

*Tulisan di twitter : ini gempa terbesar sepanjang sejarah. Karena itu,
kita mesti memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat melewati bencana
ini;

Gelap sekali di Sendai, lalu ada satu titik bintang terlihat terang. Itu
bintang yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah ke atas.

Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan bencana
ala gambaru kayak gini, gw bener-bener merasa malu dan di saat yang
bersamaan : kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah Jepang. Ini
negeri yang luar biasa, negeri yang sumber daya alamnya terbatas banget,
negeri yang alamnya keras, tapi bisa maju luar biasa dan punya mental
sekuatbaja, karena : falsafah gambaru-nya itu. Bisa dibilang, orang-orang
jepang ini ngga punya apa-apa selain GAMBARU. Dan, gambaru udah lebih dari
cukupu ntuk menghadapi segala persoalan dalam hidup. Bener banget, kita
mesti berdoa, kita mesti pasrah sama Tuhan. Hanya, mental yang apa-apa
"nyalahin" Tuhan, bilang2 ini semua kehendak-Nya, Tuhan marahpada umat-Nya,
Tuhan marah melalui alam maka tanyalah pada rumput yang bergoyang.....I
guarantee you 100 percent, selama masih mental ini yang berdiam di dalam
diri kita, sampai kiamat sekalipun, gw rasa bangsa kita ngga akan bisa
maju.Kalau ditilik lebih jauh, "menyalahkan" Tuhan atas semua bencana
danpersoalan hidup, sebenarnya adalah kata lain dari ngga berani
bertanggungjawab terhadap hidup yang dianugerahkan Sang Pemilik Hidup. Jika
diperjelas lagi, ngga berani bertanggungjawab itu maksudnya : lari dari
masalah, ngga mau ngadepin masalah, main salah2an, ngga mau berjuang dan
baru ketemu sedikit rintangan aja udah nangis manja.

Kira-kira setahun yang lalu, ada sanak keluarga yang mempertanyakan, untuk
apa gw menuntut ilmu di Jepang. Ngapain ke Jepang, ngga ada gunanya, kalo
mau S2 atau S3 mah, ya di Eropa atau Amerika sekalian, kalo di Jepang mah
nanggung. Begitulah kata beliau. Sempat terpikir juga akan perkataannya
itu, iya ya, kalo mau go international ya mestinya ke amrik atau eropa
sekalian, bukannya jepang ini. Toh sama-sama Asia, negeri kecil pula dan
kalo ga bisa bahasa Jepang, ngga akan bisa survive di sini. Sampai sempat
nyesal juga, kenapa gw ngedaleminnya sastra jepang dan bukan sastra inggris
atau sastra barat lainnya.Tapi sekarang, gw bisa bilang dengan yakin sama
sanak keluarga yang menyatakan ngga ada gunanya gw nuntut ilmu di jepang.
Pernyataan beliau adalah salah sepenuhnya. Mental gambaru itu yang paling
megang adalah jepang. Dan menjadikan mental gambaru sebagai way of life
adalah lebih berharga daripada go international dan sejenisnya itu. Benar,
sastra jepang, gender dan sejenisnya itu, bisa dipelajari di mana saja.
Tapi, semangat juang dan mental untuk tetap berjuang abis-abisan biar udah
ngga ada jalan,gw rasa, salah satu tempat yang ideal untuk memahami semua
itu adalah dijepang. Dan gw bersyukur ada di sini, saat ini. Maka, mulai
hari ini, jika gw mendengar kata gambaru, entah di kampus, dimall, di
iklan-iklan TV, di supermarket, di sekolahnya Joanna atau di manapun itu,
gw tidak akan lagi merasa muak jiwa raga. Sebaliknya, gw akan berucap
dengan rendah hati : Indonesia jin no watashi nigambaru no seishin to imi
wo oshietekudasatte, kokoro kara kanshaitashimasu. Nihon jin no minasan no
yoo ni, gambaru seishin wo mi nitsukeraremasu yoo ni, hibi gambatteikitai
to omoimasu. (Saya ucapkan terimakasih dari dasar hati saya karena telah
mengajarkan arti dan mental gambaru bagi saya, seorang Indonesia. Saya akan
berjuang tiap hari, agar mental gambaru merasuk dalam diri saya, seperti
kalian semuanya, orang-orang Jepang).

Say YES to GAMBARU!*

PT. Mitra Reka Graha - your reliable partner

========================================

Saya bekerja di sebuah bank Jepang lebih dari tujuh (7) tahun dan hampir
tiap tahun saya selalu dikirim untuk training di Kantor Pusat (Honbu) di
Tokyo yang letaknya di pusat industri jasa keuangan, mirip seperti di
Wallstreet (Manhattan) New York, yang terletak di Otemachi Chiyoda-ku
Tokyo.

Bangsa Jepang pada dasarnya adalah bangsa yang simpel dan sederhana.
Walaupun tingkat kemakmurannya amat tinggi namun mereka hidup sehat dan
hemat. Mobil hanya dipakai pada saat weekend ke luar kota, pada hari kerja
mereka lebih suka pergi bekerja naik kereta api dan subway (metro atau
kereta api bawah tanah). Tiap orang di sana yang telah bekerja rata2 punya
tabungan yang mencukupi serta polis asuransi yang rata2 tiap orang punya
lebih dari satu atau beberapa polis asuransi untuk bermacam keperluan.

Jika sedang bekerja, suasana di dalam kantor Jepang sangat sunyi dan khusuk
mirip seperti orang sedang beribadah, namun pada waktu istirahat makan
mereka bercakap dan bergurau ramai seperti pasar.

Bangsa Jepang memiliki semangat yang gigih pantang menyerah. Umumnya para
pekerja di kantor jarang mau pulang ke rumah jika pekerjaan penting hari
itu belum berhasil diselesaikan. Atasan berusaha sekuat tenaga memberi
contoh yang baik kepada bawahan dan bawahan jarang berani pulang dulu
sebelum atasan pulang meninggalkan kantor. Karena itu budaya lembur (tanpa
honorarium lembur) telah menjadi budaya dalam perusahaan.

Orang Jepang sangat menghargai hasil kerja kolektif atau yang disebut
sinergy. Jika ada satu tenaga kerja Jepang duduk bersama satu tenaga kerja
bangsa lain, tampaknya hasil kerja atau outputnya tidak berbeda atau sama
saja. Namun coba kumpulkan satu kelompok (team) kerja orang Jepang
dibandingkan satu kelompok kerja bangsa lain, terlihat bahwa kerja kelompok
(team work) orang Jepang sangat unggul dan mumpuni. Ibarat persamaan
matematika: 2 + 2 = 4, namun bagi orang Jepang yang biasa kerja dalam
kelompok, 2 + 2 = 8, atau 2 + 2 = 12.

Orang Jepang juga sangat menghargai dan menjunjung tinggi sebuah prestasi
keberhasilan, di samping itu mereka juga memiliki budaya malu dan budaya
kegagalan yang besar pula. Tiap tahun perusahaan selalu memberikan award
dan penghargaan, baik dalam bentuk sertifikat penghargaan maupun uang dalam
jumlah yang lumayan, bagi para karyawan tertentu yang dianggap telah
menonjol dan sukses di bidang tertentu dan telah memajukan perusahaan. Akan
tetapi tidak jarang pula kita melihat adanya pejabat atau pimpinan puncak
perusahaan yang mengundurkan diri atau bahkan sampai ada yang bunuh diri
jika mereka merasa telah melakukan kegagalan besar atau berbuat skandal
yang memalukan.

Jepang bukan bangsa yang cengeng dan suka minta belas kasihan. Olahraga
mereka yang keras seperti beladiri karate, kempo, kendo, jujitsu, judo,
aikido, sumo, semuanya mengajarkan sifat ksatria, berani mengakui kekalahan
dan dengan tulus menghormati pihak yang menang. Kekalahan diartikan sebagai
harus berlatih lebih keras lagi agar menjadi lebih baik dan sempurna di
kemudian hari. Di dalam budaya kerja semangat itu muncul dalam bentuk
pembaharuan dan perbaikan proses secara terus-menerus (continuous
improvement, yang secara khas Jepang disebut kaizen) demi menciptakan hasil
yang lebih baik atau lebih bermutu, atau lebih efisien, dan sebagainya.

Sikap tidak cengeng dan tidak minta dikasihani orang lain tampak nyata
ketika terjadi bencana gempabumi besar di Kota Kobe (tahun 1995) yang
menelan ribuan korban jiwa dan kerusakan yang sangat parah, Jepang berusaha
mengatasi masalah sendiri dan tidak minta bantuan internasional. Bahkan
dalam bencana terbesar saat ini yang konon paling besar nomor dua dalam
sejarah Jepang setelah Perang Dunia II, yakni:
1. Gempa bumi skala 9.0 richter;
2. Gelompang tsunami di pesisir timur;
3. Bencana darurat nuklir di Fukushima;
Jepang tetap berusaha mengatasi sendiri semua masalah yang ada dengan sabar
dan percaya diri tanpa minta bantuan kepada masyarakat dunia internasional.
Sekian hari dilanda tiga (3) bencana besar secara berturut dan sekaligus,
namun rakyat Jepang walau dalam kondisi menderita dan kekurangan tetap
tabah dan sabar serta tidak lakukan perbuatan tercela seperti penjarahan
atau perampokan makanan. Sungguh satu bangsa yang sangat disiplin dan
beradab.

Mari kita angkat topi bagi rakyat Jepang dan para pemimpinnya yang santun
dan sederhana serta jauh dari tindak pidana korupsi itu, seraya ikut bantu
berdoa kepada Tuhan agar Jepang yang selama ini rajin membantu dunia
internasional dapat segera pulih dari tiga (3) bencana berturutan yang maha
dahsyat itu.

Tuhan memberkati.

Salam.

Gregorius Wisnu Rosariastoko

Selasa, 15 Februari 2011

PERBEDAAN ITU INDAH

PERBEDAAN ITU INDAH
(Sebuah Percikan Permenungan)

Ibu Theresa dari Calcuta pernah memberi sekantong beras kepada seorang
petani beragama Hindu yang miskin sekali di pinggir kota Calcuta. Ibu
Theresa heran melihat bahwa tidak lama kemudian, petani itu membawa separuh
dari kantong itu keluar rumah. "Apa yang dilakukannya?" Ternyata, petani
Hindu itu memberikan
sebagian dari berasnya kepada seorang petani Kristen yang lebih miskin
lagi.

Motto negara Amerika yang berbunyi E pluribus unum yang aslinya dipilih
oleh John Adams, Benyamin Franklin dan Thomas Jefferson mengajak setiap
warga untuk saling menghargai perbedaan. Hal yang sama bisa dilihat pada
semboyan negara Indonesia "Bhineka Tunggal Ika" yang berarti Berbeda-beda
tetapi satu adanya atau Unity in diversity. Menghargai perbedaan memang
sungguh merupakan anugerah jika setiap pribadi menghayatinya. Sejak bumi
diciptakan, Tuhan tidak menciptakan semuanya seragam, melainkan suatu
perbedaan, sehingga makhluk hidup itu saling melengkapi. Penciptaan manusia
pertama, yaitu Adam dan Hawa konteks perbedaan, tetapi saling melengkapi
dan saling menghargai sehingga manusia itu diciptakan sederajat. Bertitik
tolak dari sanalah, maka John Gray dalam bukunya "Man from Mars and Woman
from Venus" mengajak para pembaca untuk bercermin bahwa dalam setiap
manusia itu memiliki kelebihan dan kekurangannya. Dengan demikian, itulah
yang menjadi alasan supaya dalam kelemahannya, manusia itu saling membantu
dan saling menolong.

Penghargaan perbedaan itu dalam filsafat China dikenal dengan yin-yang.
Istilah ini menunjuk pada prinsip aktif dan pasif dari dunia. Yang atau
laki-laki menghadirkan Terang, aktif. Sedangkan Yin atau wanita
menghadirkan suatu kegelapan dan pasif, penerimaan. Frans von
Mangnis-Susena pernah mengaplikasikan terang-gelap, hitam-putih, baik-buruk
dalam dunia pewayangan. Orang beranggapan bahwa Pandawa selalu di pihak
yang baik, sehingga tidak ada cela dalam diri mereka. Sedangkan Astina
selalu pada pihak yang buruk, sehingga yang ada hanyalah keserakahan,
dengki dan iri hati. Tetapi menurut Magnis-Susena, meskipun Pandawa
senantiasa dalam pihak yang benar, tidak jarang mereka juga bertindak
culas. Dalam lakon wayang, "Pandawa Dadu" Yudistira bertindak amat gegabah,
sehingga mempertaruhkan seluruh harta bendanya bahkan adik-adiknya serta
istrinya dalam permainan dadu tersebut.

Kalau dalam berpikir kita menggunakan "kaca mata kuda"maka dengan gampang
kita akan menolak perbedaan di antara umat manusia. Peter Rosler Garcia,
ahli Politik dan Ekonomi Luar Negeri dari Hamburg menulis demikian. Contoh
paling dahsyat tentu saja kelompok Nazi Jerman. Mula-mula mereka
mengasingkan kaum Yahudi. Jerman "asli" dilarang membeli barang di toko
milik Yahudi atau menikah dengan orang Yahudi. Kemudian sinagoga dan rumah
ibadah Yahudi dibakar. Juga, orang Yahudi dipaksa menjual rumah, tanah,toko
dan perusahaan mereka kepada orang Jerman "asli". Akhirnya, kelompok Nazi
membunuh dalam pabrik kematian mereka, kita-kira enam juta orang Yahudi
dari hampir seluruh negara Eropa (Kompas 3 Januari 2006). Dalam film "Hotel
Rwanda", kita menyaksikan, anggota suku Hutu membunuh lebih dari satu juta
warga suku Tutsi walaupun kedua suku itu punya bahasa, agama, kebudayaan
dan falsafah hidup yang sama. Dan banyak sekali di antara mereka kawin
campur. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa suku Tutsi pada umumnya lebih
kaya.

Jaman sekarang ini di banyak tempat mengadakan dialog atau seminar tentang
masalah kerukunan beragama. Seperti yang dikemukakan oleh Komaruddin
Hidayat dalam artikelnya yang berjudul "Mengadili Keyakinan Agama." Ia
menulis demikian, "Oleh karena itu, jika kebenaran agama semata berdasarkan
keyakinan – bisa jadi berdasarkan Kitab Suci dan pencarian makna hidup –
sudah pasti kebenaran dan agama selalu bersifat plural dan tidak bisa
diseragamkan. Setiap pemeluk agama akan memandang dirinya sebagai titik
terdekat dan jalan pintas meraih keselamatan Tuhan. Orang lain (the others,
outsiders) bagaikan domba-domba sesat atau kelompok kafir yang harus
diselamatkan (Kompas 3 Januari 2006). Pengalaman pribadi saya dalam dialoq
dengan orang yang berkeyakinan lain, tidak pernah menyinggung tentang
doktrin fundamental. Adalah tidak mudah menerangkan makna trinitas kepada
orang yang beragama Hindu misalnya. Sebaliknya sulit juga menjelaskan makna
reinkarnasi kepada orang yang beragama Protestan. Namun, dalam setiap agama
memiliki nilai-nilai universal yang diterima, misalnya tentang cinta kasih,
kejujuran dan kesalehan. Cita-cita kita bersama adalah adanya hidup rukun
dan damai dalam perbedaan. Belum lama ini saya yang kebetulan seorang
Katolik berdialog dengan seorang Ustad. Percakapan kami tidak tentang
keyakinan, melainkan tentang hobby, makanan kesukaan, dan keluarga. Kami
merasa amat senang dan kunjungan dilanjutkan terus, sehingga sudah seperti
saudara sendiri.

Merauke, 9 Februari 2011

Markus Marlon msc

Senin, 07 Februari 2011

Strategi Bisnis dari SWOT ke TOWS

Strategi Bisnis dari SWOT ke TOWS

"Change is the law of life. And those who look only to the past or present
are certain to miss the future. - Perubahan adalah hukum kehidupan. Bila
mereka hanya melihat masa lalu atau masa sekarang, maka sudah pasti mereka
akan kehilangan masa depan."
John F. Kennedy, Presiden AS ke-35.

Selama ini SWOT Matrix selalu digunakan dalam analisa untuk strategi
perencanaan dan pemasaran. SWOT Matrix merupakan akronim dari Strengths
(kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunities (kesempatan) dan Threats
(ancaman). Metode analisa tersebut lebih menekankan pada faktor kondisi dan
situasi internal, yaitu kekuatan dan kelemahan diri sendiri atau perusahaan
(SW). Setelah itu baru dipelajari dan diperhitungkan faktor external,
ancaman dan kesempatan (OT).

Metode analisa SWOT Matrix memanfaatkan secara maksimal kekuatan internal
berupa sumber daya dan pengalaman untuk mencapai target. Tetapi seiring
perubahan kebutuhan manusia dan pertumbuhan tehnologi yang sudah beralih
dari konvensional ke digital, metode analisa SWOT Matrix tersebut mulai
ditinggalkan. Sebab kekuatan (internal) belum tentu dapat memenuhi peluang
pasar dengan baik dan mampu menghadapi tekanan atau tantangan.

Oleh sebab itu, para perencana dan pemasar sekarang beralih menggunakan
analisa TOWS Matrix. Mereka terlebih dulu mempelajari dan menginvestigasi
peluang faktor-faktor eksternal, karena dianggap bersifat lebih dinamis dan
bersaing. Faktor-faktor eksternal tersebut diantaranya adalah; cara promosi
para pesaing, budaya konsumen, daya beli masyarakat, nilai rupiah,
kebijakan pemerintah, iklim politik, perubahan sosio ekonomi, profil
populasi, gaya hidup, aturan sosial, perubahan tehnologi, dan lain
sebagainya.

Sesudah mendapatkan informasi eksternal, barulah dilakukan beberapa
penyesuaian sampai perbaikan potensi internal untuk menciptakan peluang
menguntungkan. Berdasarkan analisa TOWS Matix tersebut kemudian dilakukan 4
langkah berikutnya, yaitu;
1. Memaksimalkan potensi atau kekuatan
2. Memastikan kelemahan tidak membebani usaha atau kemajuan
3. Memaksimalkan peluang yang tersedia
4. Mengantisipasi segala bentuk tantangan & menyediakan beberapa solusi

Berdasarkan analisa TOWS Matix itu juga dihasilkan 4 strategi pencapaian
target, yaitu;
1. SO (Aggressive Strategy): Menggunakan kekuatan internal untuk mengambil
kesempatan yang ada di luar.
2. ST (Diversification strategy): Menggunakan kekuatan internal untuk
menghindari ancaman yang ada di luar.
3. WO (Turn Around) - Menggunakan kesempatan eksternal yang ada untuk
mengurangi kelemahan internal.
4. WT (Defensive strategy) - Meminimalkan kelemahan dan ancaman yang
mungkin ada.

Analisa TOWS Matrix lebih memastikan kita dapat memperhitungkan dan
memanfaatkan dengan baik setiap peluang di luar untuk peningkatan bisnis.
Di saat bersamaan kita juga dapat mengetahui dan memanfaatkan potensi
internal. Dengan menganalisa eksternal tersebut (TOWS Matrix) kita juga
mampu mengantisipasi tantangan dari setiap perubahan eksternal, bahkan
mengubahnya (tantangan) menjadi peluang baru.

Sedangkan dalam skala gambar yang lebih kecil, terutama di dunia persaingan
bisnis mungkin Anda pernah mendengar istilah zero sum games, dimana pihak
yang kalah sudah pasti merugi. Strategi saling mengalahkan seperti itu
seharusnya sudah harus ditinggalkan, karena hanya menguras banyak biaya,
tenaga, dan pikiran. Strategi terbaik yang seharusnya kita gunakan adalah
memenangkan suatu pertempuran tanpa ada peperangan.

Strategi tersebut dikenal dengan pola keluar dari persaingan Lautan Merah
(Red Ocean), dan berpindah ke Lautan Biru (Blue Ocean). Jadi masing-masing
pihak bukan berpikir dan berlaku saling mengalahkan, melainkan berusaha
saling mendukung dengan keunggulan masing-masing untuk mencapai suatu
target secara bersama-sama. Strategi kerjasama seperti itu lebih mampu
mendatangkan sinergi positif dan menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Pada masa sekarang, menjalin kerjasama dengan pihak lain lebih menjamin
kemajuan bisnis. Ada bermacam bentuk kerjasama baik secara online atau
offline, dan salah satunya adalah membangun jaringan. Siapapun yang mampu
menguasai jaringan konsumen, maka dia pasti akan berhasil dalam bisnisnya.

Berikut ini merupakan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
menciptakan sebuah tim kerjasama bisnis yang baik;
1. Menciptakan target pencapaian yang jelas, sehingga masing-masing
individu maupun tim kolektif mengerti peran masing-masing dan meyakini tak
ada agenda atau tujuan tertentu yang tersembunyi.
2. Masing-masing pihak sama-sama bersikap konsisten dengan apa yang sudah
disepakati, sehingga terbangun rasa saling percaya.
3. Mempunyai rasa saling ketergantungan dan saling memiliki.
4. Tidak saling menonjolkan diri melainkan saling mendukung satu sama lain,
terutama ketika sedang menghadapi tantangan, sehingga tercipta rasa nyaman
dalam bekerja.
5. Memiliki tanggung jawab yang tinggi untuk menjalankan peran
masing-masing berdasarkan langkah-langkah bisnis yang sudah dirancang
sebelumnya.
6. Bersikap terbuka dan berusaha memahami apa yang dirasakan orang lain.

Saya menyimpulkan bahwa TOWS Matrix merupakan analisa bisnis yang paling
menguntungkan untuk menciptakan design strategi bisnis. Analisa TOWS Matrix
akan menghasilkan strategi bisnis terbaik jika dikombinasikan dengan pola
kerjasama, dimana satu sama lain saling membangun jaringan bisnis, saling
mengisi dan menerima, serta sama-sama fokus pada bisnis dan tujuan yang
sama.

Strategi bisnis yang dilandasi pola kerjasama tentunya juga harus memenuhi
aturan kerjasama yang baik. Beberapa aturan kerjasama yang telah saya
sebutkan di atas secara garis besar menekankan pentingnya kredibilitas,
untuk menarik minat banyak pihak bekerjasama dan menciptakan rasa saling
percaya yang kuat. Sebagaimana hal tersebut pernah diungkapkan oleh Walter
D. Scott, "Keberhasilan atau kegagalan bisnis sesungguhnya lebih
dipengaruhi oleh sikap mental daripada kapasitas mental." Tentunya design
strategi bisnis tersebut akan semakin sempurna jika benar-benar digunakan
dalam praktek di lapangan.

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best
seller.Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com

GURU

G U R U
(Sebuah Percikan Permenungan)

Ingatanku pada para guru yang telah mendidikku selama ini, mendorongku,
"memaksaku" (urget me) untuk merenungkan, "Siapakah itu sang guru?"

Guru Buddhis yang terkenal dari India diundang datang ke Tibet untuk
"membabarkan" Dharma. Guru ini membawa serta seorang laki-laki yang tidak
hanya bawel dan tidak bertanggung jawab, tetapi juga sebagai tukang masak
yang "judes". Setelah mengamati selama beberapa waktu, orang-orang Tibet
mendekati sang guru dan berkata dengan penuh hormat, "Mengapa guru begitu
tenggang rasa dengan tukang masak yang tidak berguna itu? Ia kelihatannya
cuma menimbulkan masalah, alih-alih membantu guru." Sang Guru tersenyum dan
menjawab, "Ah, kalian tidak mengerti. Ia bukan pelayanku, ia adalah
guruku." Orang-orang Tibet kaget dan memohon penjelasan, "Kenapa bisa
begitu?" Sang guru menjelaskan, "Kalian lihat, perangainya yang rewel dan
tidak menyenangkan itu telah mengajariku untuk bersikap sabar dan
bertenggang rasa setiap hari. Karena itulah aku menghargainya dan
menyebutnya sebagai guruku."

Memang benar, banyak orang beranggapan bahwa seorang guru itu haruslah
seorang yang berdiri di depan kelas serta menerangkan pelbagai hal. Bahkan
orang Jawa mengatakan bahwa guru itu adalah akronim dari kata "digugu lan
ditiru" yang artinya seorang guru haruslah bisa dipercaya dan diteladani.
Seorang guru harus berpenampilan rapi, berbicara santun dan berbudi halus.
Memang benar bahwa bimbingan sang guru secara formal tersebut sangat
penting. Namun apakah kita juga sadar bahwa dalam hidup ini kita memilki
"guru-guru" yang bisa mengembangkan kepribadian kita. Semesta alam
menyimpan pelbagai inspirasi untuk dijadikan "guru". Dalam Ramayana,
wejangan seorang Guru kepada muridnya tercetus dalam "Hastabrata" yakni
delapan pedoman untuk meneladan kepada alam semesta. Seorang murid
diharapkan meneladan pada matahari yang memanasi bumi dengan cahayanya
secara sabar dan tanpa bosan, sehingga air menguap dan menyirami bumi serta
memberi rejeki yang melimpah ruah. Air, angin, tanah, api adalah guru-guru
yang diwejangkan dalam Hastabrata. Kisah ini merupakan wejangan Ramawijaya
kepada adik tirinya, Bharata agar bisa memerintah Kerajaan Ayodya dengan
baik, benar dan adil. (Bdk. Anak Bajang Menggiring Angin atau Ramayana
tulisan Nyoman Pendit atau buku yang terbaru tulisan C. Rajagopalachari).
Selain berguru pada alam semesta, manusia juga diajak untuk berguru pada
dunia binatang. Penulis yang kesohor dalam menulis kisah ini adalah Aesop
(620 - 560 s.M), berkebangsaan Yunani kuno. Melalui dongeng-dongeng yang
ditulisnya, ia mengajak kita untuk bercermin pada dunia fauna. Sebab dalam
dongeng itu, selain termaktub sikap kesetiaan, kejujuran, keadilan dan
kedamaian, mereka juga mengenal intrik, iri hati, keserakahan dan
kebusukan. Dongeng-dongeng seperti: Singa yang bodoh, balas budi burung
elang, ekor sapi, rubah dan anggur asam merupakan fable yang penuh dengan
ajaran moral yang tinggi. Kita juga bisa menyimak dongeng dari Grimm
Bersaudara (Jacob Grimm dan Wilhelm Grimm), H.C. Andersen (1805 - 1875),
kisah 1001 malam dan jangan lupa "Kancil nyolong timun" dongeng menjelang
tidurnya bagi anak-anak Jawa pada masa silam.

Berguru dalam arti magang sudah dikenal sejak zaman dulu kala. Dalam dunia
pendidikan ada istilah "nyantrik" yang artinya menjadi santri, agar ahli
dalam bidang bahasa atau sastra. Pondok-pondok pesantren merupakan tempat
yang ideal untuk "menggodok" anak-anak muda supaya militan sebagai murid.
Dalam magang di pondok pesantren, para murid langsung hidup bersama dengan
sang guru. Tempat tidur santri sama dengan tempat tidur kiyai dan apa yang
dimakan para santri tidak jauh berbeda dengan apa yang dimakan oleh kiyai.
Umberto Eco dalam "The Name of The Rose" mengisahkan perjalanan seorang
guru dan murid yang mengadakan investigasi di Biara kaya yang berlokasi di
Italia, yakni sehubungan dengan adanya kematian misterius. Dan memang
melalui petualangan dalam biara tersebut, terkuaklah tabir yang selama ini
disembuyikan. Dalam kisah itu, si murid mengikuti terus jejak gurunya.
Berguru, memang sebaiknya harus sendiri mengalami apa yang menjadi
pergumulan gurunya. Dari sini pula, saya baru menyadari, mengapa ketika
kuliah, para mahasiswa diberi banyak tugas, seperti: paper, riset dan
social mapping? Setelah terjun dalam masyarakat, tugas-tugas kuliah itu
baru terasa manfaatnya. Teori-teori bermunculan satu per satu dalam
pikiran, setelah berhadapan langsung dengan dunia nyata.

"Pengalaman berguru" yang satu ini barangkali agak lain. Henry Nouwen,
penulis buku yang amat produktif dalam "In The Name of Jesus" berkisah
bahwa pengalaman tinggal dan hidup bersama orang-orang yang hanya mampu
berbicara sedikit saja atau bahkan samasekali tidak mampu berbicara,
menyadarkan dirinya untuk "rela" dituntun oleh orang lain. Pencarian
hidupnya yang mau pindah dari Universitas Harward ke L'Arche merupakan
suatu perpindahan dari tempat yang paling bergengsi dan cemerlang yang
memiliki cita-cita untuk menguasai dunia kepada dunia yang paling lemah dan
tak berpengaruh. Apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad (570 - 632) dan
Sidharta Buddha Gautama (563 - 483) serta Yesus Kristus (± 6 SM - 30 SM),
supaya umat manusia berguru dan mencintai kepada yang lemah, rupanya tidak
tanpa alasan.

Pameo yang berbunyi, "Pengalaman adalah guru yang baik" maupun "Historia
est magistra" yang artinya sejarah adalah guru, perlu untuk kita renungkan.
Dunia ini memberikan banyak guru yang bijak. Untuk itu marilah kita berguru
kepada mereka dan tentunya langsung mengalami hidup bersama sang guru.


Merauke, 3 Februari 2011

Markus Marlon msc

Kamis, 03 Februari 2011

Sahabat

S A H A B A T
(Sebuah Percikan Permenungan)

"A friend in need is a friend indeed," yang berarti teman dalam kesusahan
adalah teman sejati, pantas untuk kita renungkan. Teman yang membantu,
mendampingi di saat "jatuh" serta benar-benar memberikan pertolongan adalah
teman yang tulus hati. Mereka akan tetap setia dalam suka maupun duka.
Marcus Tullius Cicero (106 - 43 SM), pernah berkata, "Amicus certus in re
incerta cernitur" yang berarti sahabat sejati ditentukan ketika ada hal
yang tidak pasti. Ini berarti pula bahwa sahabat sejati ditentukan ketika
seseorang sedang menghadapi permasalahan. Seorang sahabat tidak akan
meninggalkan sendiri dalam kemelut permasalahannya, namun dia akan
mendampingi.

Dongeng klasik tulisan H.C. Andersen (1805 - 1875) yang berjudul, "The
Travelling Companion" menceriterakan kisah John - yang walaupun - sebatang
kara
dan miskin, ia memberikan semua uangnya untuk menolong orang yang sudah
meninggal dunia. Setelah itu, ia menjalani hidup tanpa uang saku atau bekal
yang
berarti. Namun di tengah perjalanan ia menemukan teman, yaitu Tom. Teman
itu sangat baik dan banyak membantu John ketika menghadapi kesulitan.
Akhirnya
John bisa hidup bahagia berkat pertolongannya. Itulah cerita dari "The
Traveling Companion." Kalau ditilik dari asal katanya (etimologi), kata
"companion" berasal dari kata "cum" (bersama) dan "panis" (roti). Arti
harfiahnya adalah makan roti bersama, makan dari roti yang sama, sharing
bersama, berjalan bersama-sama. Kebersamaan - idealnya - selalu disertai
dengan makan bersama. Suasana hati yang sedang makan, tentu disertai dengan
rasa gembira. Jika dalam makan bersama itu ada ganjalan hati, tentu saja
makanan - bagaimana pun nikmatnya - tidak akan tertelan.

Sikap yang tulus dalam persahabatan dapat dirasakan oleh orang lain. Sikap
hidup yang penuh kasih itu dimulai dalam keluarga. Tatkala anak dalam
bimbingan orang tua dan diasuh dengan penuh kasih, di kemudian hari, anak
tersebut akan memberikan kasih dan perhatian juga kepada sesama. Dia akan
menjadi sahabat yang baik.

Belum lama berselang, saya mengunjungi sebuah Panti Asuhan yang mengasuh
anak-anak "yang kelahirannya tidak dikehendaki oleh orang tuanya". Di
pojokan taman ada anak yang menaruh curiga-prasangka terhadapku sewaktu
saya mendekati dan ingin memeluknya. Tetapi anak itu menolaknya. Barangkali
"pengalaman penolakan" dari kedua orang tuanya yang tidak bertanggung-jawab
itu terpateri dalam hatinya dan menganggap orang lain itu pantas untuk
dicurigai.

Sikap curiga yang berlebihan itu bagaikan dinding yang tinggi yang
menghalangi seseorang bergaul akrab dengan yang lain. Namun tidak dapat
diingkari bahwa kita seringkali menemukan kehangatan persahabatan dalam
sebuah keluarga. Seorang anak yang diasuh oleh pengasuh yang sederhana,
baik hati dan setia, bisa menumbuhkan sikap afeksi dalam diri anak terebut
dan menjadi pribadi "yang penuh cinta". Pengalaman ini bisa kita sandingkan
dengan "David Copperfield" karya Charles Dickens (1812 - 1870). Membaca
Novel tersebut, banyak orang tentu berdecak kagum dengan kesetiaan si
Peggotty. Kemurnian hati Peggotty dalam mengasuh David yang telah ditinggal
mati ayahnya dan ibunya sungguh luar biasa. Dave, panggilan kesayangan
David Copperfield itu pada waktu itu hanya memiliki sahabat sejati yang
terdapat dalam diri Peggotty. Dan setelah mencapai kesuksesannya sebagai
penulis, tentu saja David tidak mungkin melupakan jasa-jasanya.
Persahabatan yang sedemikian ini berlangsung abadi, karena tidak ada
tendensi apa pun. Peggotty dan David bukanlah saudara kandung. Itulah
sebabnya, ada orang yang mengatakan bahwa tetangga adalah sahabat terdekat
dari diri kita. Jika kita sakit, pertama-tama yang tahu adalah tetangga
sendiri. Sedangkan saudara kandung (kakak-adik) itu tidak bisa merawat kita
yang sedang sakit karena jarak yang jauh. Di sinilah kita diajak untuk
memberi arti sebuah nilai persahabatan.

"Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu" adalah
sepenggal syair dari Sindentosca. Membangun persahabatan tidaklah mudah.
Tidak jarang kita temui persahabatan itu seperti "ulat" yang di dalamnya
ada konflik, perselisihan dan salah komunikasi. Kejadian seperti ini memang
dibutuhkan untuk memurnikan nilai sebuah persahabatan. Tetapi kemudian,
masing-masing pribadi perlu untuk berefleksdi diri yaitu dengan menjadi
"kepompong" dan hasilnya adalah seekor kupu-kupu yang indah.

Pada cerita lain kita kenal dengan film yang berjudul "Butterfly" yang
disutradarai oleh Nayato Fio Naula dengan lagu yang dinyanyikan oleh Melly
Guslaw dan Andhika Pratama. Film ini mengisahkan tentang tiga sahabat yaitu
Vano, Tia dan Desi yang mencari jati diri dalam perjalanan (companion) dan
mencari makna kehidupan. Klimaks dari cerita "Butterfly" ini adalah
kematian Desi yang dengan tulus "menyerahkan" Tia supaya menjadi sahabat
bahkan pasangan hidup bagi Vano yang juga dicintainya. Persahabatan memang
sungguh indah!!

Merauke, 27 Januari 2011

Markus Marlon MSC