Kamis, 09 Desember 2010

Orang yang tepat

Orang yang Tepat

Pemimpin baru membawa atau membentuk tim kerja yang baru. Galibnya begitu.
Sebab salah satu tugas awal seorang pemimpin adalah melakukan perekrutan
untuk memastikan bahwa posisi-posisi penting ditempati oleh orang yang
tepat. Mengisi posisi-posisi penting secara serampangan bisa berakibat
fatal. Risiko untuk berhasil perlu diperbesar dengan memastikan
posisi-posisi penting diisi oleh orang yang tepat.

Ketika Susilo Bambang Yudhoyono memilih berpasangan dengan Jusuf Kalla
dalam pemilihan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres)
Republik Indonesia secara langsung tahun 2004 silam, tidak banyak yang
optimis bahwa mereka akan menang. Namun, makin dekat dengan waktu pemilihan
umum, popularitas mereka makin mantap, dan akhirnya mereka benar-benar
memenangkan pemilihan umum yang bersejarah itu.

Lalu, ketika pemilihan langsung Capres dan Cawapres Republik Indonesia
periode 2009-2014 akan berlangsung, banyak pihak menjagokan duet incumbent
SBY-JK yang dinilai cukup ideal untuk dipertahankan. Ternyata, dengan modal
suara Partai Demokrat sebagai partai pemenang pemilihan umum legislatif,
SBY punya pendirian tersendiri dan memilih untuk menggandeng Boediono
sebagai Cawapres. Berbagai spekulasi kembali merebak, tetapi masyarakat
luas agaknya memang masih pro-SBY.

Masalahnya kemudian adalah bagaimana dengan formasi anggota kabinet
pemerintah periode 2009-2014? Akankah SBY-Boediono berani memberikan porsi
cukup besar kepada kaum teknokrat dan profesional untuk mengisi kursi
departemen strategis? Akankah posisi menteri yang memimpin departemen
teknis diserahkan kepada orang-orang partai pendukungnya? Apapun pilihan
SBY-Boediono, stabilitas dan instabilitas pemerintahannya akan juga
ditentukan oleh penempatan orang-orang didalam kabinet tersebut.

Dalam konteks mikro, para pemimpin perusahaannya juga mengalami hal yang
senada seirama. Jika pemilik perusahaan berganti, maka boleh jadi sebuah
tim eksekutif baru perlu segera dibentuk menggantikan yang lama. Dan jika
pemimpin baru menawarkan visi perubahan untuk meningkatkan kinerja
perusahaan, maka umumnya ia akan memastikan lebih dulu bahwa posisi-posisi
strategis dipegang oleh orang-orang yang sejalan dengan dirinya.

Terkadang, untuk menyelamatkan muka sejumlah orang, struktur organisasi
diubah untuk memberikan tempat kepada orang-orang baru, tanpa harus
menyingkirkan orang-orang lama; setidaknya untuk sementara waktu.

Selanjutnya, jika orang-orang sudah direkrut dan ditempatkan, bagaimana
seorang pemimpin dapat tahu bahwa ia telah memilih orang yang tepat untuk
tiap posisi strategis? Indikator apa saja yang bisa dipergunakan untuk
menjawab soal "tepat dan tidak tepat" ini?

Tidak ada jawaban yang definitif dan mutlak. Namun, studi Jim Collins,
dalam karya terbarunya bertajuk How The Mighty Fall: And Why Some Companies
Never Give In (2009), mungkin dapat dijadikan rujukan awal.

Menurut Collins, yang sebelumnya kondang sebagai pengarang buku Good to
Great: Why Some Companies Make the Leap..and Others Don't (2001),
sedikitnya ada enam sifat penting yang menunjukkan bahwa suatu posisi
penting sudah ditempati oleh "orang yang tepat".

Pertama, orang yang tepat cocok dengan nilai-nilai inti perusahaan.
Perusahaan-perusahaan yang hebat membangun budaya dimana mereka yang tidak
memiliki nilai-nilai institusi yang sama dikelilingi antibodi dan ditolak
seperti virus. Orang bertanya: Bagaimana caranya agar orang memiliki nilai
inti yang sama?" Jawabnya: rekrut orang yang sudah memiliki kecenderungan
ke arah itu-dan pertahankan mereka.

Kedua, orang yang tepat tidak perlu diatur dengan ketat. Ketika Anda merasa
perlu mengatur seseorang dengan ketat, Anda mungkin telah melakukan
kesalahan rekrutmen. Anda tak perlu menghabiskan banyak waktu "memotivasi"
dan "mengatur" orang yang tepat. Dalam diri mereka sudah tertanam konsep
bahwa mereka akan mati-matian produktif, termotivasi sendiri, mampu
mendisiplin diri, dan sangat terpacu untuk unggul dibanding yang lain.

Ketiga, orang tepat mengerti bahwa mereka tidak punya "pekerjaan"-tapi
tanggung jawab. Mereka paham perbedaan antara daftar tugas dan tanggung
jawab mereka yang sesungguhnya. Orang yang tepat bisa berkata, "Saya
satu-satunya orang yang memanggul tanggung jawab final untuk .".

Keempat, orang yang tepat memenuhi komitmen mereka. Dalam sebuah kultur
disiplin, orang menganggap komitmen sebagai sesuatu yang sakral-mereka
melakukan apa yang mereka katakan akan mereka lakukan, tanpa mengeluh. Sama
halnya, ini berarti mereka sangat berhati-hati dalam mengatakan apa yang
akan mereka lakukan, berhati-hari untuk tidak pernah over-committed atau
menjanjikan sesuatu yang tidak bisa mereka penuhi.

Kelima, orang yang tepat antusias dengan perusahaan dan pekerjaan
perusahaan. Mereka menunjukkan intensitas antusiasme yang luar biasa.

Keenam, orang yang tepat menunjukkan kematangan jendela-dan-cermin. Ketika
sesuatu berjalan lancar, orang yang tepat menunjuk keluar jendela, memuji
faktor-faktor selain diri sendiri. Mereka menyoroti pihak-pihak lain yang
memberikan kontribusi. Namun, ketika segala sesuatu berjalan tidak
sebagaimana mestinya, mereka tidak menyalahkan situasi dan orang lain.
Mereka memandang ke cermin dan berkata, "Saya yang bertanggung jawab".

Jika para pemimpin dan eksekutif puncak organisasi belum memiliki perangkat
yang lebih baik untuk mengukur tepat tidaknya orang-orang yang
ditempatkannya pada posisi penting, maka keenam sifat penting yang
diusulkan Collins bisa dipergunakan untuk sementara. Namun lebih dari itu,
para pengamat dan konstituen pemimpin tertentu dapat menggunakan hal yang
sama untuk memberikan penilaian apakah pemimpin mereka (kita) sudah
menempatkan orang-orang yang tepat pada posisi-posisi strategis. Semoga.

*) ANDRIAS HAREFA; Penggagas Visi Indonesia 2045; Trainer Coach
Berpengalaman 20 Tahun; Penulis 35 Buku Best-seller; Beralamat di
www.andriasharefa.com dan aharefa@gmail.com. Artikel ini juga dimuat di
Bisnis Indonesia Minggu rubrik Spiritual Leadership Edisi 26 Juli 2009.

Selasa, 07 Desember 2010

Membangun Karisma

Membangun Karisma

"Charisma is a sparkle in people that money can't buy. It's an invisible
energy with visible effects. - Karisma adalah cahaya seseorang yang tak
ternilai dengan materi. Karisma adalah energi yang tak terlihat tetapi
memberi dampak nyata." Marianne Williamson aktifis spiritual, penulis,
dosen dan pendiri The Peace Alliance di Amerika Serikat.

Pasti kita pernah mendengar istilah orang yang penuh karisma, yaitu orang
yang memiliki daya tarik luar biasa. Aura kehadiran maupun kata-katanya
begitu berpengaruh dan menarik. Orang-orang berkarisma itu ada di berbagai
bidang, contohnya Soekarno (politik), Dalai Lama (spiritual), Bunda
Theresia (spiritual & kemanusiaan), Warren Buffet (bisnis), Leonardo Da
Vinci (seni dan budaya), dan masih banyak lagi.

Orang yang berkarisma seperti itu mampu menjadi pusat perhatian yang begitu
dikagumi banyak orang, padahal penampilan mereka tak berbeda dengan
kebanyakan orang. Ada sebagian orang mengatakan bahwa karisma itu merupakan
bakat alamiah. Namun sebenarnya siapapun dapat membangun karisma, yaitu
dengan memperbarui beberapa hal diantaranya adalah moral dan spiritual,
kesan keseluruhan postur tubuh, sorot mata, kepercayaan diri, kemampuan dan
kematangan sikap. Beberapa langkah berikut ini akan dapat membantu Anda
membangun karisma.

Pertama adalah memiliki visi dan misi yang jelas dan berjuang keras
mewujudkannya. Lihat saja pemimpin besar seperti Soekarno memiliki visi
yang jelas & betul-betul memperjuangkan kemerdekaan RI. Lalu Martin Luther
King, Jr., yang mempunyai impian tentang masa depan Amerika sehingga rakyat
Amerika mendukung dia sepenuhnya, begitu pula dengan John F. Kennedy.

Visi menjadikan seseorang memiliki daya tarik, sebab kejelasan visi mampu
mengisi kekosongan atau harapan orang lain. Selain itu, visi juga dapat
mengarahkan seseorang melakukan tindakan-tindakan konstruktif dan nyata.
Niccolo Machiavelli mengatakan, "Make no small plans, for they have no
power to stir the soul. - Mereka tidak akan memiliki kekuatan untuk
mengarahkan jiwa mereka jika tidak memiliki sedikitpun perencanaan."

Bila saya perhatikan mayoritas orang-orang yang karismatik memiliki visi
yang besar dan mulia. Untuk memperjuangkan visi tersebut mereka sangat
menghargai waktu, kehidupan dan diri mereka sendiri serta memiliki tanggung
jawab yang tinggi untuk menjadikan dunia lebih baik. Intergritas dan
kepercayaan diri mereka juga luar biasa dalam upaya mewujudkan visi mereka.

Langkah lain yang perlu ditempuh untuk menumbuhkan karisma adalah memupuk
rasa percaya diri. Rasa percaya diri nampak dari postur, sorot mata dan
sikap yang baik dan alamiah. Kepercayaan diri yang tinggi juga tercermin
dari kalimat-kalimat yang penuh optimisme, positif dan memotivasi.
Kalimat-kalimat seperti itu juga terdengar lebih menarik. Jika Anda tekun
mengembangkan kemampuan tersebut, pasti Anda akan terlihat menonjol
dibandingkan yang lain.

Yang ketiga adalah menghargai orang lain atau berusaha menjadikan orang
lain merasa berarti. Misalnya dengan meluangkan waktu untuk menyapa dan
berusaha mengerti apa yang dirasakan orang lain. Termasuk diantaranya
adalah menunjukkan empati yang tulus, sehingga terbangun interaksi positif
dengan orang lain sebanyak mungkin.

Orang terlihat lebih karismatik ketika ia tidak mementingkan diri sendiri,
keluarga maupun golongan. Karismanya terpancar dari sikap yang setia dan
tulus dalam melayani serta kesediaannya maju di depan justru ketika situasi
genting dan benar-benar membuntutkan seorang pemimpin. Mereka menjadi
karismatik karena memberi harapan di tengah keputusasaan dan bersedia
menjadi penerang dalam kegelapan.

Seseorang menjadi karismatik bukan dikarenakan pandai mendeskripsikan sosok
ideal melalui kata-kata, melainkan menampilkan sosok ideal dalam setiap
perbuatannya sehari-hari. Aura karismatik seseorang terpancar dari teladan
sikapnya yang positif, misalnya ketekunannya berusaha, kejujuran,
komitmennya menegakkan kebenaran, dan kasih sayangnya kepada orang lain.
Jika Anda selalu berusaha memperlihatkan teladan sikap positif, pasti Anda
juga bisa menarik banyak perhatian dan dukungan banyak orang.

Selain itu berusahalah untuk selalu bersyukur dan meningkatkan kekuatan
spiritual. Seseorang yang memiliki keteduhan iman dan selalu bersyukur
lebih mudah mengontrol sikap atau perbuatannya, sehingga cenderung mampu
bersikap menyenangkan. Penampilan sosok yang memiliki keteduhan iman,
syukur dan rendah hati pasti terlihat lebih menarik bagi orang lain.

Meningkatkan ilmu pengetahuan dan berlatih berpikir kreatif merupakan
langkah lain untuk terlihat menarik. Beberapa orang mengatakan bahwa ilmu
pengetahuan itu seksi. Berusahalah untuk terus meningkatkan ilmu
pengetahuan lambat laun pasti membuat Anda menjadi lebih karismatik.

Humor dan senyum merupakan 2 hal penting untuk meningkatkan karisma dan
mempererat hubungan sosial. Senyuman dan humor dapat menghancurkan kebekuan
sehingga suasana menjadi lebih akrab dan menyenangkan. Semua orang menyukai
orang yang dapat membuat mereka tertawa. Agar Anda lebih berkarisma,
pelajarilah cara menciptakan humor dan gunakan sesering mungkin pada
situasi yang tepat.

Berusaha memperbaiki kekurangan dan berpenampilan menarik merupakan langkah
penting agar lebih berkarisma. Untuk menjaga penampilan tetap menarik tak
harus berpakaian serba mahal dan bermerek terkenal, walaupun sederhana
asalkan rapi, bersih dan sopan. Menghormati diri sendiri dengan menjaga
penampilan sama halnya Anda membantu orang lain menghargai Anda.

Seseorang yang berkarisma berpotensi menjadi pemimpin ideal. Penulis "The
Purpose-Driven Life" Rick Warren merumuskan seorang pemimpin ideal adalah
mereka yang memiliki kepedulian dan belas kasih pada orang lain, terus
membangun kekuatan spiritual, intelektual, dan moralitas sikapnya. Rick
Warren juga memaparkan bahwa seorang pemimpin karismatik juga mampu fokus
pada persoalan kritis dan tidak sibuk dengan masalah-masalah sekunder,
memiliki integritas serta berani melaksanakan solusi terbaik walaupun tidak
populer. Semua kualitas pemimpin ideal tersebut pasti Anda miliki jika Anda
serius dan aktif membangun karisma.

Bila Anda tertarik untuk menumbuhkan karisma, lakukan beberapa hal yang
telah saya uraikan di atas. Ketekunan membangunnya (karisma) pasti membuat
Anda menjadi magnet yang kuat, terutama untuk meraih perhatian dan kekuatan
massa. Yang terpenting bahwasanya siapapun yang membangun karismanya akan
mendapatkan banyak kemudahan dalam mengatasi tantangan-tantangan hidup.

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku
best-seller. Kunjungi websitenya di: www.andrewho-uol.com

Keseimbangan Hidup

Keseimbangan Hidup

Dikisahkan, suatu hari ada seorang anak muda yang tengah menanjak karirnya
tapi merasa hidupnya tidak bahagia. Istrinya sering mengomel karena merasa
keluarga tidak lagi mendapat waktu dan perhatian yang cukup dari si suami.
Orang tua dan keluarga besar, bahkan menganggapnya sombong dan tidak lagi
peduli kepada keluarga besar. Tuntutan pekerjaan membuatnya kehilangan
waktu untuk keluarga, teman-teman lama, bahkan saat merenung bagi dirinya
sendiri.

Hingga suatu hari, karena ada masalah, si pemuda harus mendatangi salah
seorang petinggi perusahaan di rumahnya. Setibanya di sana, dia sempat
terpukau saat melewati taman yang tertata rapi dan begitu indah.

"Hai anak muda. Tunggulah di dalam. Masih ada beberapa hal yang harus Bapak
selesaikan," seru tuan rumah. Bukannya masuk, si pemuda menghampiri dan
bertanya, "Maaf, Pak. Bagaimana Bapak bisa merawat taman yang begitu indah
sambil tetap bekerja dan bisa membuat keputusan-keputusan hebat di
perusahaan kita?"

Tanpa mengalihkan perhatian dari pekerjaan yang sedang dikerjakan, si bapak
menjawab ramah, "Anak muda, mau lihat keindahan yang lain? Kamu boleh
kelilingi rumah ini. Tetapi, sambil berkeliling, bawalah mangkok susu ini.
Jangan tumpah ya. Setelah itu kembalilah kemari".

Dengan sedikit heran, namun senang hati, diikutinya perintah itu. Tak lama
kemudian, dia kembali dengan lega karena mangkok susu tidak tumpah sedikit
pun. Si bapak bertanya, "Anak muda. Kamu sudah lihat koleksi batu-batuanku?
Atau bertemu dengan burung kesayanganku?"

Sambil tersipu malu, si pemuda menjawab, "Maaf Pak, saya belum melihat apa
pun karena konsentrasi saya pada mangkok susu ini. Baiklah, saya akan pergi
melihatnya."

Saat kembali lagi dari mengelilingi rumah, dengan nada gembira dan kagum
dia berkata, "Rumah Bapak sungguh indah sekali, asri, dan nyaman." tanpa
diminta, dia menceritakan apa saja yang telah dilihatnya. Si Bapak
mendengar sambil tersenyum puas sambil mata tuanya melirik susu di dalam
mangkok yang hampir habis.

Menyadari lirikan si bapak ke arah mangkoknya, si pemuda berkata, "Maaf
Pak, keasyikan menikmati indahnya rumah Bapak, susunya tumpah semua".

"Hahaha! Anak muda. Apa yang kita pelajari hari ini? Jika susu di mangkok
itu utuh, maka rumahku yang indah tidak tampak olehmu. Jika rumahku
terlihat indah di matamu, maka susunya tumpah semua. Sama seperti itulah
kehidupan, harus seimbang. Seimbang menjaga agar susu tidak tumpah
sekaligus rumah ini juga indah di matamu. Seimbang membagi waktu untuk
pekerjaan dan keluarga. Semua kembali ke kita, bagaimana membagi dan
memanfaatkannya. Jika kita mampu menyeimbangkan dengan bijak, maka pasti
kehidupan kita akan harmonis".

Seketika itu si pemuda tersenyum gembira, "Terima kasih, Pak. Tidak diduga
saya telah menemukan jawaban kegelisahan saya selama ini. Sekarang saya
tahu, kenapa orang-orang menjuluki Bapak sebagai orang yang bijak dan baik
hati".

Teman-teman yang luar biasa,
Dapat membuat kehidupan seimbang tentu akan mendatangkan keharmonisan dan
kebahagiaan. Namun bisa membuat kehidupan menjadi seimbang, itulah yang
tidak mudah.

Saya kira, kita membutuhkan proses pematangan pikiran dan mental. Butuh
pengorbanan, perjuangan, dan pembelajaran terus menerus. Dan yang pasti,
untuk menjaga supaya tetap bisa hidup seimbang dan harmonis, ini bukan
urusan 1 atau 2 bulan, bukan masalah 5 tahun atau 10 tahun, tetapi kita
butuh selama hidup. Selamat berjuang!

Demikian dari saya, Andrie Wongso - action and wisdom motivation training.
Success is my right, sukses adalah hak saya!

Salam sukses luar biasa!!
Andre Wongso

Minggu, 05 Desember 2010

Pesan Ibu

Pesan Ibu

Suatu hari, tampak seorang pemuda tergesa-gesa memasuki sebuah restoran
karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makanan, seorang
anak penjaja kue menghampirinya, "Om, beli kue Om, masih hangat dan enak
rasanya!"

"Tidak Dik, saya mau makan nasi saja," kata si pemuda menolak.

Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran.

Melihat si pemuda telah selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri
lagi dan menyodorkan kuenya. Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak
membayar makanan berkata, "Tidak Dik, saya sudah kenyang."

Sambil berkukuh mengikuti si pemuda, si anak berkata, "Kuenya bisa dibuat
oleh-oleh pulang, Om."

Dompet yang belum sempat dimasukkan ke kantong pun dibukanya kembali.
Dikeluarkannya dua lembar ribuan dan ia mengangsurkan ke anak penjual kue.
"Saya tidak mau kuenya. Uang ini anggap saja sedekah dari saya."

Dengan senang hati diterimanya uang itu. Lalu, dia bergegas ke luar
restoran, dan memberikan uang pemberian tadi kepada pengemis yang berada di
depan restoran.

Si pemuda memperhatikan dengan seksama. Dia merasa heran dan sedikit
tersinggung. Ia langsung menegur, "Hai adik kecil, kenapa uangnya kamu
berikan kepada orang lain? Kamu berjualan kan untuk mendapatkan uang.
Kenapa setelah uang ada di tanganmu, malah kamu berikan ke si pengemis
itu?"

"Om, saya mohon maaf. Jangan marah ya. Ibu saya mengajarkan kepada saya
untuk mendapatkan uang dari usaha berjualan atas jerih payah sendiri, bukan
dari mengemis. Kue-kue ini dibuat oleh ibu saya sendiri dan ibu pasti
kecewa, marah, dan sedih, jika saya menerima uang dari Om bukan hasil dari
menjual kue. Tadi Om bilang, uang sedekah, maka uangnya saya berikan kepada
pengemis itu."

Si pemuda merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti. "Baiklah,
berapa banyak kue yang kamu bawa? Saya borong semua untuk oleh-oleh." Si
anak pun segera menghitung dengan gembira.

Sambil menyerahkan uang si pemuda berkata, "Terima kasih Dik, atas
pelajaran hari ini. Sampaikan salam saya kepada ibumu."

Walaupun tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan si pemuda,
dengan gembira diterimanya uang itu sambil berucap, "Terima kasih, Om. Ibu
saya pasti akan gembira sekali, hasil kerja kerasnya dihargai dan itu
sangat berarti bagi kehidupan kami."

Teman-teman yang luar biasa,

Ini sebuah ilustrasi tentang sikap perjuangan hidup yang POSITIF dan
TERHORMAT. Walaupun mereka miskin harta, tetapi mereka kaya mental!
Menyikapi kemiskinan bukan dengan mengemis dan minta belas kasihan dari
orang lain. Tapi dengan bekerja keras, jujur, dan membanting tulang.

Jika setiap manusia mau melatih dan mengembangkan kekayaan mental di dalam
menjalani kehidupan ini, lambat atau cepat kekayaan mental yang telah kita
miliki itu akan mengkristal menjadi karakter, dan karakter itulah yang akan
menjadi embrio dari kesuksesan sejati yang mampu kita ukir dengan gemilang.

Salam sukses luar biasa!
Andrie Wongso

Bersyukur dan Bahagia

Bersyukur dan Bahagia

Alkisah, ada seorang pedagang kaya yang merasa dirinya tidak bahagia. Dari
pagi-pagi buta, dia telah bangun dan mulai bekerja. Siang hari bertemu
dengan orang-orang untuk membeli atau menjual barang. Hingga malam hari,
dia masih sibuk dengan buku catatan dan mesin hitungnya. Menjelang tidur,
dia masih memikirkan rencana kerja untuk keesokan harinya. Begitu hari-hari
berlalu.

Suatu pagi sehabis mandi, saat berkaca, tiba-tiba dia kaget saat menyadari
rambutnya mulai menipis dan berwarna abu-abu. "Akh. Aku sudah menua. Setiap
hari aku bekerja, telah menghasilkan kekayaan begitu besar! Tetapi kenapa
aku tidak bahagia? Ke mana saja aku selama ini?"

Setelah menimbang, si pedagang memutuskan untuk pergi meninggalkan semua
kesibukannya dan melihat kehidupan di luar sana. Dia berpakaian layaknya
rakyat biasa dan membaur ke tempat keramaian.

"Duh, hidup begitu susah, begitu tidak adil! Kita telah bekerja dari pagi
hingga sore, tetapi tetap saja miskin dan kurang," terdengar sebagian
penduduk berkeluh kesah.

Di tempat lain, dia mendengar seorang saudagar kaya; walaupun harta
berkecukupan, tetapi tampak sedang sibuk berkata-kata kotor dan memaki
dengan garang. Tampaknya dia juga tidak bahagia.

Si pedagang meneruskan perjalanannya hingga tiba di tepi sebuah hutan. Saat
dia berniat untuk beristirahat sejenak di situ, tiba-tiba telinganya
menangkap gerak langkah seseorang dan teriakan lantang, "Huah! Tuhan,
terima kasih. Hari ini aku telah mampu menyelesaikan tugasku dengan baik.
Hari ini aku telah pula makan dengan kenyang dan nikmat. Terima kasih
Tuhan, Engkau telah menyertaiku dalam setiap langkahku. Dan sekarang,
saatnya hambamu hendak beristirahat."

Setelah tertegun beberapa saat dan menyimak suara lantang itu, si pedagang
bergegas mendatangi asal suara tadi. Terlihat seorang pemuda berbaju lusuh
telentang di rerumputan. Matanya terpejam. Wajahnya begitu bersahaja.

Mendengar suara di sekitarnya, dia terbangun. Dengan tersenyum dia menyapa
ramah, "Hai, Pak Tua. Silahkan beristirahat di sini."

"Terima kasih, Anak Muda. Boleh bapak bertanya?" tanya si pedagang.
"Silakan."

"Apakah kerjamu setiap hari seperti ini?"
"Tidak, Pak Tua. Menurutku, tak peduli apapun pekerjaan itu, asalkan setiap
hari aku bisa bekerja dengan sebaik2nya dan pastinya aku tidak harus
mengerjakan hal sama setiap hari. Aku senang, orang yang kubantu senang,
orang yang membantuku juga senang, pasti Tuhan juga senang di atas sana. Ya
kan? Dan akhirnya, aku perlu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan
atas semua pemberiannya ini".

Teman-teman yang luar biasa,
Kenyataan di kehidupan ini, kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan sebesar
apapun tidak menjamin rasa bahagia. Bisa kita baca kisah hidup seorang maha
bintang Michael Jackson yang meninggal belum lama ini, yang berhutang di
antara kelimpahan kekayaannya. Dia hidup menyendiri dan kesepian di tengah
keramaian penggemarnya; tidak bahagia di tengah hiruk pikuk bumi yang
diperjuangkannya.

Entah seberapa kontroversial kehidupan Jacko. Tetapi, yah. setidaknya, dia
telah berusaha berbuat yang terbaik dari dirinya untuk umat manusia
lainnya.

Mari, jangan menjadi budaknya materi. Mampu bersyukur merupakan kebutuhan
manusia. Mari kita berusaha memberikan yang terbaik bagi diri kita sendiri,
lingkungan kita, dan bagi manusia-manusia lainnya. Sehingga, kita
senantiasa bisa menikmati hidup ini penuh dengan sukacita, syukur, dan
bahagia.

Salam sukses luar biasa!!!
Andrie Wongso

Jumat, 03 Desember 2010

Personal Winning Alphabet

Personal Winning Alphabet

Menurut pakarnya, manusia sukses tidak cuma dari IQ saja. Peran EQ
(Emotional Intelligence) pada kesuksesan bahkan melebihi porsi IQ. Seorang
pakar EQ bernama Patricia Patton memberikan tips bagaimana kita menemukan
dan memupuk harga diri, yang disebutnya alfabet keberhasilan pribadi.

Yuk kita lihat apa maksudnya :

A : Accept.
Terimalah diri anda sebagaimana adanya.

B : Believe.
Percayalah terhadap kemampuan anda untuk meraih apa yang anda inginkan
dalam
hidup.

C : Care.
Pedulilah pada kemampuan anda meraih apa yang anda inginkan dalam hidup.

D : Direct.
Arahkan pikiran pada hal-hal positif yang meningkatkan kepercayaan diri.

E : Earn.
Terimalah penghargaan yang diberi orang lain dengan tetap berusaha menjadi
yang terbaik.

F : Face.
Hadapi masalah dengan benar dan yakin.

G : Go.
Berangkatlah dari kebenaran.

H : Homework.
Pekerjaan rumah adalah langkah penting untuk mengumpukan informasi.

I : Ignore.
Abaikan celaan orang yang menghalangi jalan anda mencapai tujuan.

J : Jealously.
Rasa iri dapat membuat anda tidak menghargai kelebihan anda sendiri.

K : Keep.
Terus berusaha walaupun beberapa kali gagal.

L : Learn.
Belajar dari kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya.

M : Mind.
Perhatikan urusan sendiri dan tidak menyebar gosip tentang orang lain.


N : Never.
Jangan terlibat skandal seks, obat terlarang, dan alkohol.

O : Observe.
Amatilah segala hal di sekeliling anda.Perhatikan, dengarkan dan belajar
dari orang lain.

P : Patience.
Sabar adalah kekuatan tak ternilai yang membuat anda terus berusaha.

Q : Question.
Pertanyaan perlu untuk mencari jawaban yang benar dan menambah ilmu.

R : Respect.
Hargai diri sendiri dan juga orang lain.

S : Self confidence, self esteem, self respect.
Percaya diri, harga diri, citra diri, penghormatan diri akan membebaskan
kita dari saat-saat tegang.

T : Take.
Bertanggung jawab pada setiap tindakan anda.

U : Understand.
Pahami bahwa hidup itu naik turun, namun tak ada yang dapat mengalahkan
anda.

V : Value.
Nilai diri sendiri dan orang lain, berusahalah melakukan yang terbaik.

W : Work.
Bekerja dengan giat, jangan lupa berdoa.

X : X'tra.
Usaha lebih keras membawa keberhasilan.

Y : You.
Anda dapat membuat suatu yang berbeda.

Z : Zero.
Usaha nol membawa hasil nol pula.

Kamis, 02 Desember 2010

Nilai Kehidupan

Nilai Kehidupan

Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah,
hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya.
Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati
kesehariannya dengan baik.

Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak
mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di
ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu
kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki
arti.

"Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik
aku mengakhiri saja kehidupan ini," katanya dalam hati. Disiapkannya seutas
tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.

Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela
lembut. "Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung
diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal
setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk
menghibur siapapun yang berada di sekitar sini."

Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang
lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara
lirih si pohon, "Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon
yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin.
Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah
dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati
hasilnya."

Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari
pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, "Anak muda,
karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk
sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati
di sini."

Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir,
"Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka
menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap
rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain".

Segera timbul kesadaran baru. "Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat.
Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus
punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat
bagi makhluk lain".

Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.

Teman-teman yang luar biasa,

Kalau kita mengisi kehidupan ini dengan menggerutu, mengeluh, dan pesimis,
tentu kita menjalani hidup ini (dengan) terasa terbeban dan saat tidak
mampu lagi menahan akan memungkinkan kita mengambil jalan pintas yaitu
bunuh diri.

Sebaliknya, kalau kita mampu menyadari sebenarnya kehidupan ini begitu
indah dan menggairahkan, tentu kita akan menghargai kehidupan ini. Kita
akan mengisi kehidupan kita, setiap hari penuh dengan optimisme, penuh
harapan dan cita-cita yang diperjuangkan, serta mampu bergaul dengan
manusia-manusia lainnya.

Maka, jangan melayani perasaan negatif. Usir segera. Biasakan memelihara
pikiran positif, sikap positif, dan tindakan positif. Dengan demikian kita
akan menjalani kehidupan ini penuh dengan syukur, semangat, dan sukses luar
biasa!

Salam sukses luar biasa!!!
-Andrie Wongso