Senin, 17 Oktober 2011

KAMBING HITAM

KAMBING HITAM
(Sebuah Percikan Permenungan)

Yang namanya melemparkan kesalahan kepada orang lain atau
mengkambinghitamkan orang lain itu senantiasa nampak dalam sktesa kehidupan
kita. Dan biasanya yang menjadi korban adalah wong cilik, yang tidak
berdaya. Ini memang dapat dimaklumi karena memang mereka tidak memiliki
apa-apa, sehingga yang ada hanyalah "salah dan kalah". Orang miskin dalam
cerita jawa sering disebut sebagai tumbal. Disebut tumbal karena
diperlakukan tidak adil serta sewenang-wenang oleh mereka yang bertindak
culas dan tentu saja yang diinjak-injak itu tidak mempunyai perlawanan yang
seimbang. Akhirnya menjadi apatis, karena meskipun berjuang dengan daya
upaya, para penguasa tidak memiliki telinga (lagi) untuk mendengarkan.
Kisah wong cilik ini akan begitu nyata dalam cerita pewayangan dengan judul
"Bale Sigala-gala". Ceritanya mengisahkan usaha Kurawa membinasakan para
Pandawa, ketika mereka masih remaja. Bale Sigala-gala dirancang oleh arsitek
Astina bernama Purucona atas petunjuk Mahapatih Sengkuni. Dinding
pesanggrahan itu terbuat dari bahan yang mudah terbakar. Namun ternyata
mereka bisa lolos. Lalu ditemukan 6 orang yang terbakar. Mereka adalah para
pengemis yang "numpang tidur" yang dikiranya adalah para putra Pandawa dan
ibunya, Kunthi. (Bdk. "Mahabaratha", tulisannya Nyoman S. Pendit). Para
pengemis itu adalah orang yang tidak punya suara atau voiceless. Mereka
tewas karena keserakahan para penguasa. Proyek-proyek pemerintah seperti
pendirian mall, lapangan golf dan jalan toll senantiasa menimbulkan korban.
Penggusuran pun terjadi sewenang-wenang sehingga jeritan dan terikan serta
tangisan orang-orang miskin itu tidak digubris lagi. Inilah negeri nyiur
melambai yang dulu terkenal dengan keramah-tamahannya. Namun saat ini negeri
ini penuh dengan ingar-bangar kekerasan, demo dan amuk massa.

Tetapi sebenarnya kisah "kambing hitam" itu bisa kita lihat dalam Kitab
Suci. Harun meletakkan kedua tangannya di atas kepala kambing jantan yang
masih hidup dan mengakui segala kesalahan dan pelanggaran mereka. Setelah
itu, kambing dilepaskan di padang gurun. Demikianlah dosa dan kesalahannya
sudah dibawa si kambing jantan itu. (Im 16: 20 – 22). Kisah kambing jantan
tersebut – barangkali – menjadi cikal bakal terjadinya kambing hitam. Tidak
jauh beda dari itu, dalam tradisi Jawa ada kisah di gunung Bromo yakni suku
Tengger. Dikisahkan ada ibu janda yang bernama Roro Anteng, yang memiliki
banyak anak. Pada waktu itu gunung Bromo mengalami kegoncangan hebat. Untuk
membuat harmoni alam semesta, maka bumi meminta "korban". Kerelaan Joko
Seger, putranya yang bungsu untuk mengorbankan diri itu merupakan
penyelamatan alam semesta.

Kisah-kisah kambing hitam yang besar setelah penyaliban Yesus ada dalam
diri Socrates (469-349 BC). Model pengajaran yang dipakai oleh Socrates
adalah mencari kebenaran dengan model dialog. Kebenaran sejati yang
ditemukan oleh Socrates itu ternyata menohok para pejabat pemerintahan kota
Athena. Tentu saja mereka kebakaran jenggot dan konsekuensi logis dari itu
semua adalah bahwa dirinya harus disingkirkan. Maka, dicarinya "kambing
hitam". Socrates yang adalah filsuf, dianggap oleh pemerintahan kota Athena
sebagai orang yang memengaruhi kejahatan kaum muda. Socrates dihukum mati
dengan meminum racun kalau tidak mau menarik ajaran-ajarannya. Tetapi
Socrates tidak mau menarik ajarannya dan dia berani untuk membela ajaran
yang diyakininya. Ia mati dengan minum racun untuk membela kebenaran. (Bdk.
Buku judul, "Peradilan Socrates") Kisah yang agak sama dan juga di negeri
Yunani adalah kisah Oedipus. Drama yang sudah diterjemahkan oleh Rendra
berjudul "Oedipus Rex" dengan apik ini memiliki kekuatan magis sekaligus
tragis. Sophocles (496-406 B.C) penulis drama tersebut mengisahkan tentang
Oedipus¸yang dianggap bersalah oleh semua orang. Hanya Oedipuslah pihak yang
harus dituduh, karena ia melakukan pembunuhan Laius dan mengawini Yocasta,
ibunya sendiri. Karena tindakan itulah Oedipus menjadi penyebab penyakit
menular yang menjadi bencana kota. Ia seorang monster yang harus
disingkirkan. Memang, akhirnya Oedipus sengaja menyakiti diri sendiri dengan
mencungkil kedua matanya dan hidup terlunta-lunta di hutan belantara. Ajaran
Socrates dan "penyimpangan" Oedipus itu membuat kekacauan kosmik, chaos dan
disorder. Maka untuk memulihkan dunia supaya menjadi harmoni, order harus
ada korban yakni kematian Socrates dan penderitaan Oedipus.

Kisah "kambing hitam" yang sempurna ada dalam diri Kaisar Nero. Pada tahun
64 Kaisar Nero, yang memiliki nama lengkap, Nero Claudius Caesar Drusus
Germanus (37-68 AD), dipersalahkan karena menyebabkan kebakaran besar yang
menghancurkan sebagian besar kota Roma. (Bdk. Novel "Quo Vadis", karya
Henryk Sienkiweicz,) "Oleh karena itu, untuk menghilangkan desas-desus,"
sejarahwan Romawi yang paling mendalam yang bernama Tacitus (55-115 A.D)
menuliskan. "Nero menetapkan perkumpulan orang-orang Kristenlah sebagai yang
telah melakukan kejahatan." Mereka diejek, difitnah dan dikoyak oleh
singa hingga akhir hayat atau diikat pada salib dan ketika hari petang
dibakar dan digunakan sebagai penerang di kebun kekaisaran. Sang kaisar
membuat kesalahan, namun ia sendiri tidak mau mengakuinya, bahkan
melemparkan kesalahan itu kepada kelompok kecil yang dijuluki nazarenos,
pengikut orang yang bernama Yesus dari Nasaret.

Kadangkala, "kambing hitam" juga ditujukan kepada suasana, keadaan dan benda
yang tidak bisa kita gapai atau peroleh. Jika kita menginginkan sesuatu,
tetapi tidak mampu untuk mendapatkannya, kita akan menyalahkan "yang lain".
Kisah ini sudah dituturkan oleh Aesop, pendongeng ulung Yunani kuno (620 –
560 BC) dengan fable-nya (cerita binatang) yang berjudul "anggur yang asam"
(sour grapes). Rubah itu sungguh bernafsu untuk mendapatkan anggur. Tetapi
berhubung sudah berusaha mendapatkannya, tetapi lompatannya tidak sampai,
sehingga gagal mendapatkannya. Sambil bersungut-sungut, Rubah itu berkata,
"paling anggur itu asam." Dunia binatang merupakan "cermin" yang tepat
untuk kehidupan kita.

Menyalahkan orang lain itu memang paling mudah. Kalau kita menunjuk dengan
jari ke orang lain, sebenarnya empat jari yang lain menunjuk pada diri
sendiri. Maka orang perlu mengenali diri sendiri dengan baik sebelum
menyalahkan orang lain. Ungkapan "gnoti souton" (Bhs. Yunani) yang artinya
kenalilah dirimu sendiri, rupanya tepat untuk menekankan supaya kita lebih
hati-hati dalam hidup ini, sebelum membicarakan orang lain. Tetapi lebih
baik, "Jangan pernah membicarakan tentang orang lain."

Kantor "Percikan Hati", 06 Juni 2011
Biara Hati Kudus,
Skolastikat MSC - Pineleng
Jl. Manado – Tomohon KM. 10
Pineleng II, Jaga VI
Minahasa – MANADO
Sulawesi Utara – 95361

Markus Marlon MSC

Selasa, 11 Oktober 2011

KEKUASAAN

KEKUASAAN
(Sebuah Percikan Permenungan)

Saya mempunyai seorang teman yang hidupnya sangat tertekan. Dari pagi
hingga malam, dia tidak pernah luput dari "kekuasaan" orang tuanya. Ketika
orang tuanya pergi, ia mulai "menunjukkan" kekuasaannya dengan "menguasai"
pembantunya di rumah. Pembantu merasa tertekan sebab dibentak, dipukul,
dicaci-maki, dihina dan dijelek-jelekkan. Suatu ketika si pembantu itu tidak
tahan lagi, namun ia tidak berani menghadapi anak majikannya itu secara
frontal. Dengan penuh amarah dan rasa dendam, ia memukuli kucing milik sang
majikan, hingga kucing itu lari terbirit-birit hampir mati. Dalam bahasa
psikologi, tindakan si pembantu itu disebut sebagai kompensasi. Kompensasi,
menurut Alfred Adler (1870 – 1937) seorang psikiater Austria adalah suatu
proses reaksi psikologis dari perasaan inferior (rendah diri) seseorang.
Orang yang terkena sindrom inferior cenderung bertindak agresif terhadap
orang lain. Rasa inferioritasnya ditutupi dengan sebuah rasa percaya diri
yang berlebihan. Dalam fenomena psikologis ini terlihat dalam hamparan
realitas hidup keseharian kita, termasuk dalam perilaku para penguasa.

Dalam Olympus kisah-kisah Dewa Yunani, misalnya Dewa Kronos begitu tega
menelan anak-anaknya sendiri, karena ia takut kalau kekuasaannya kelak
direbut oleh anak-anaknya. Dalam Kitab Suci, Absalom yang terburu-buru
merebut kekuasaan ayahnya: Daud dan berperang melawan Moab. Tetapi sangat
disayangkan bahwa Absalom tewas bukan karena perang face to face dengan
Yoab, melainkan karena kepalanya terantuk pada dahan pohon (2 Sam 18: 9 –
33).

Dalam buku yang berjudul, 48 Hukum Kekuasaan tulisa Robert Greene ada
kutipan tentang makna kekuasaan, "Untuk dikagumi oleh rakyat, buatlah mereka
takut kepadamu. Ciptakanlah terror supaya rakyat minta perlindungan
kepadamu." Kata-kata tadi merupakan ajaran Niccolo Machiavelli ( 1469 –
1527 ), penulis buku Il Principe. Kalau Adolf Hitler (1889 – 1945) membaca
Il Principe di atas ranjang setiap setiap hari, maka Lenin (1870 – 1924) dan
Yosef Stalin (1879 – 1953) mempelajarinya secara khusus di sebuah
Universitas di Rusia. Bahkan Benito Mussolini (1883 – 1945) secara
terang-terangan mengaku diri sebagai pengikut setia Machiaveli oleh karena
itu, ia sering mengutip kalimat-kalimat magisnya dalam pidato-pidatonya.
Buku Imperium, yang cover-nya adalah wajah Cicero ( 106 – 43 BC) bercerita
tentang perebutan kekuasan yang dimulai dengan perdebatan para senator. Dari
sana ada kisah yang menarik. Dalam perdebatan tercetus perdebatan tentang
pembusukan (corruption) dengan mengambil contoh seekor ikan. Ikan itu jika
membusuk, yang akan busuk adalah kepalanya terlebih dahulu. Demikian pula,
para penguasa adalah orang-orang yang memegang kekuasaan tertinggi. Negara
hancur, corrupt, bankrupt dan collapse pertama-tama karena "kelakuan"
penguasanya. Memang, penguasa adalah pemegang kebijakan yang membuat negara,
organisasi, perkumpulan dan lembaga bisa maju atau hancur. Pepatah Latin,
"Imperia et potestates pudorem ac auctoritatem non iam habentes" artinya
para petinggi dan penguasa tidak lagi mempunyai rasa malu dan kewibawaan
mengajak kita untuk berrefleksi, sejauh ini bagaimana sikap penguasa yang
kita kenal.

Perilaku penguasa itu aneh dan unik. Ketika pertama kali ia ingin menggapai
kekuasaan, dirinya akan tampil sebagai penampung aspirasi rakyat. Ia
berbicara tentang kepeduliannya terhadap wong cilik. Ia membuka diri untuk
menerima input yang berupa ide-ide dari constituent-nya. Tetapi ternyata
"bulan madu" antara calon penguasa dan pemberi suara itu pun tidak
berlangsung lama, karena secepat kilat sang penguasa mulai memutar haluan
"kapal kekuasaannya". Kritik pun mulai ditampik dan dirinya dibentengi oleh
puluhan bodyguard yang berotot kekar tetapi stupid. Bahkan tidak jarang
para penguasa – karena dikritik – berusaha untuk membungkam dan memberangus
media massa.

Untuk melawan pemegang kekuasaan, Seno Gumira Ajidarma dalam Ketika
Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara, menulis bahwa menutupi kebenaran
adalah perbuatan yang paling bodoh yang bisa dilakukan oleh manusia di muka
bumi ini. "Lawanlah itu!" Voltaire (1694 – 1778) misalnya ikut andil dalam
merekayasa terjadinya Revolusi Prancis (1789) dan dia pun ikut meringkuk di
penjara Bastile yang terkenal itu. Sebuah tulisan atau kumpulan tulisan
berseri mampu mengoyak kaki kekuasaan hingga terpelanting sembab. Buku
adalah musuh bebuyutan dari orang-orang berkepribadian kurang jujur.
Pramoedya Ananta Toer, penulis novel tetralogi yang tersohor itu pernah
berkata, "Janganlah pernah membungkam sebuah tulisan." Pada zaman abad-abad
gelap di Eropa, penguasa (Gereja) berusaha untuk melarang terbitnya
buku-buku, bahkan buku-buku tersebut dibakar. Daftar tulisan-tulisan
tersebut dinamakan Tridentine Index. Tetapi kita harus sadar bahwa ide dan
gagasan yang tertulis dalam buku itu bagaikan "anak" revolusi, demontrasi
dan protes. Pepatah Latin yang berbunyi, "verba volent, scripta manent"
artinya kata-kata itu akan terbang, sedangkan yang tertulis itu akan
menetap. Gagasan-gagasan dalam bentuk tulisan itu "tinggal tetap" dan hanya
menunggu "bom waktu" saja.

Memang, tidak semua orang tergila-gila dengan kekuasaan. Banyak orang
"sehat" di dunia ini, sekalipun masyarakat sudah "sakit". Mengutip tulisan
Priyono Sumbogo dalam Forum Keadilan (26 Juni 2011) terbersit suatu
harapan bahwa kita pernah memiliki teladan publik bangsa. Tulisnya, "Dulu
kita memiliki tokoh-tokoh sipil seperti Buya Hamka, Nurcholis Madjid dan
Romo Mangunwijaya. Mereka tidak memiliki kekuasaan politik, tidak memiliki
massa yang terorganisasi, juga tidak punya cukup untuk membeli gengsi.
Mereka hanya memiliki kata-kata yang secara umum mulia, walaupun mereka
tetap tidak luput dari kesalahan. Kata-kata mereka didengar oleh banyak
orang, meskipun barangkali tidak dijalankan. Dalam bersyiar, Buya Hamka
tidak meledak-ledak, tidak menyakiti siapa pun, juga tidak tunduk pada
kekuatan politik apa pun. Nurcholis dipanuti oleh semua penganut agama,
karena selalu mengingatkan bahwa "Tuhan bagi siapa saja". Nurcholis juga
disukai semua golongan, karena semua partai, semua suku dan semua kelompok
dapat menjadi berkah bagi semua negara. Romo Mangun menjauhi hingar bingar.
Ia menyepi di tepian Kali Code, Yogyakarta untuk mendidik anak-anak yang
tidak diperhatikan oleh negara. Tetapi para wartawan seringkali datang
menemuinya, kemudian menyebarkan pikiran-pikiran Romo Mangun yang jernih dan
menyejukkan."

Sidharta Budda Gautama (563 – 483 BC) adalah pangeran yang semula menikmati
harta kekayaan sang ayah. Setelah ia melihat sendiri bahwa nasib manusia itu
ditandai oleh kelahiran, kesengsaraan, penyakit dan mati, ia segera
melepaskan dirinya dari jejaring kekuasaan itu dan hidup sebagai petapa
miskin. Yesus adalah putra Allah yang turun ke dunia dan mengambil rupa
seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (Flp. 2:8). Ajaran Yesus
tentang kekuasaan amat paradoksal dan tidak masuk akal bagi kekuasaan zaman
sekarang. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi
pelayanmu (Mat. 23: 11). Sebutan Minister yang kalau di Indonesia adalah
mentri itu sebenarnya berarti pelayan (to minister, artinya melayani,
meladeni).

Kekuasaan itu nikmat, sehingga dikejar oleh semua orang, entah yang
berpangkat tinggi, maupun yang rajin berdoa. Karena nikmatnya itu, maka
perlu dibatasi. Mother Theresa dari Calcuta (1910 – 1997), pernah berkata,
"Berhentilah makan sebelum kenyang." Kekuasaan juga demikian, jika orang
terlalu lama menjabatnya, rakyat pun akan mengalami kejenuhan dan kurang
penyegaran (pemikiran dan ide baru). Seorang penguasa yang berhenti sebelum
masa jabatannya berakhir dan pada puncak jayanya, dirinya akan tetap
dicintai dan dikenang oleh rakyatnya. Dalam permenungan ini, saya jadi ingat
ketika saya menjadi pastor di paroki kecil. Tetapi seringkali saya merasa
bahwa "berkuasa" sendirian itu nikmat, sebab tidak ada orang yang
mengontrol. Apa yang saya katakan dianggap benar oleh umatku. Bahkan, ketika
harus pindah dari tempat tugas, rasa-rasanya berat. Sekali lagi, kekuasaan
itu nikmat. Tidak lama kemudian saya dinasihati oleh sahabatku, "Untuk
memegang kekuasaan, obatilah terlebih dahulu luka psikologis itu dengan
pencerahan budi dan pendewasaan diri. Kalau sudah begitu, maka kekuasaan itu
bukan lagi soal nikmat, melainkan itu sungguh suatu hikmat."

Kantor "Percikan Hati", 30 Juni 2011
Biara Hati Kudus,
Skolastikat MSC - Pineleng
Jl. Manado – Tomohon KM. 10
Pineleng II, Jaga VI
Minahasa – MANADO – Sulawesi Utara – 95361

Markus Marlon MSC

Rabu, 28 September 2011

MAHKOTA

MAHKOTA
(Sebuah Percikan Permenungan)

Kata Inggris, "no pain, no gain" dan "no cross no crown" memiliki makna yang
mendalam bagi kehidupan kita. Untuk mendapatkan kesuksesan memang orang
tidak boleh berpangku tangan, melainkan harus bekerja dan berjuang bahkan
harus disertai dengan penderitaan. Di Yunani kuno, istilah untuk
pertandingan adalah agoon. Dan untuk memenangkan sebuah pertandingan perlu
latihan dan kerja berat. Dari situlah maka muncul kata agony yang dalam
bahasa Inggris berarti penderitaan. Dengan demikian, peribahasa yang
berbunyi, "berakit-rakit dulu, berenang ke tepian" mendapatkan artinya di
sana. William Shakespeare ( 1564 – 1616) dalam Julius Caesar
menerangkan makna mahkota. Ketika Julius Caesar (100 – 44 SM) dinobatkan
menjadi kaisar seumur hidup, dia melemparkan mahkotanya kepada rakyat.
Markus Antonius (82 – 30 SM), orang kepercayaannya menjunjung tinggi di
depan Julius Caesar yang sudah menjadi mayat itu dengan pidatonya yang
masyur. Katanya, "Kalian semua melihat bagaimana aku di Lupercal sampai tiga
kali menawarkan mahkota kepadanya dan tiga kali pula ia tolak. Apa ini gila
kekuasaan?" Rupanya Julius Caesar hendak membuktikan bahwa kekaisaran Roma
yang saat itu maju itu dibutuhkan kerja keras.

Tetapi banyak kejadian dan peristiwa yang ingin mendapatkan mahkota tanpa
penderitaan akan berakhir dengan penderitaan. Drama tragedi karangan –
sekali lagi – William Shakespeare yang berjudul, "Machbath" melukiskan
bagaimana si Machbath atas bujukan istrinya, membunuh Sang Raja, hanya
karena menginginkan mahkota dan supaya cepat dilantik menjadi raja. Tetapi
selama hidupnya, Machbath dihantui dengan pembunuhan keji yang telah dia
lakukan. Memang yang namanya perebutan mahkota itu selalu saja menghasilkan
suatu korban.
Sede vacante, tahta lowong, bagi suatu kerajaan memang merupakan
malapetaka. Ketika Rama dan Sinta dalam Anak Bajang Menggiring Angin tulisan
Sindhunata, diusir oleh Dewi Kaikeyi, maka terjadilah tahta lowong, putra
mahkota yang menjadi idaman seluruh rakyat Ayodya harus mengembara di hutan
Dandaka selama 14 tahun. Maka terciptalah puisi indah, "Tanpa raja, sebuah
negara pasti musnah/ Tanpa raja, panenan tak akan dituai/tanpa raja anak
akan melawan orang tua/ tanpa raja, kejahatan akan merajalela//" Dalam hal
ini, maka kedudukan seorang pemimpin sangat mutlak.

Tapi yang namanya manusia itu dalam mencapai kemuliaan tidak jarang
menggunakan mental instant (sekali jadi). Dalam dunia perpolitikan kita
kenal money politic atau "politisi busuk". Dalam dunia bisnis ada ungkapan
uang pelicin dan nepotisme ketika hendak mencari pekerjaan. Dunia
pendidikan sempat dihebohkan karena adanya kebiasaan "menyontek" atau
plagiat skripsi maupun tesis. Dalam mencari kedudukan, seseorang tidak mau
menempuh jalan yang panjang dan berliku-liku, seperti yang pernah
dinyanyikan oleh Iwan Fals dengan judul, "Jalan Panjang yang berliku."
Liriknya: Jalan panjang yang berliku / jalan lusuh dan berbatu / Namun
kuharus mampu menempuh / bersama beban di batinku //. Saya sendiri
meyakini bahwa apa yang kita dapatkan dengan mudah hasilnyapun tidak akan
memuaskan. Maka dalam membangun hidup berkeluarga pun ada masa untuk pacaran
yakni masa saling mengenal dan menjajagi satu dengan yang lain. Kalau satu
hari kenalan dan langsung mau dihadapkan pada Sang Penghulu untuk
dinikahkan, tentu saja akan mengalami kesulitan di kemudian hari. Seorang
mahasiswa yang hanya belajar satu malam saja menjelang ujian tentu saja
berbeda dengan seorang mahasiswa yang dengan setia belajar dari hari ke hari
untuk menghadapi ujian. Dalam arti ini, persiapan batin sangat diperlukan
untuk menghadapi dunia yang penuh dengan pergolakan. Bukankah untuk
mendapatkan mahkota, seseorang harus bersih hatinya supaya tidak tercemar
dengan pengaruh-pengaruh yang tidak baik.

Untuk mencapai mahkota kemuliaan, seseorang perlu berproses yakni
mengundurkan diri dan mengolah batinnya. Markus Marlon dalam Suara
Pembaharuan menulis, " Ketika Musa mendapatkan tugas dari Allah, maka Musa
sengaja menyendiri, retreat di padang gurun (Kel 2: 15 – 20). Tatkala Paulus
mendapatkan penampakan Yesus di Damaskus, maka Paulus pergi ke tanah Arab
untuk menyepi, retreat (Gal 1: 17). Sewaktu Yesus hendak memulai karya-Nya,
Ia menyendiri, retreat di padang gurun selama 40 hari lamanya (Mrk 1: 12).
Karen Armstrong dalam Muhammad sang Nabi menulis bahwa Muhammad tinggal di
gunung Hira' di lembah Mekkah untuk melakukan semacam retreat (menyepi).
Ini merupakan kebiasaan umum di jazirah Arab pada saat itu. Muhammad mengisi
waktu sebulan itu – pada bulan Ramadhan – dengan ibadah dan memberi sedekah
kepada kaum miskin" (SP 30 Juli 2011). Ternyata untuk mendapatkan sesuatu
yang berharga kita perlu mengundurkan diri untuk menimba kekuatan dari dalam
diri, karena buah-buah karya yang baik itu tidak datang dari langit.
Olimpiade pertama (776 SM) yang diselenggarakan untuk menghormati para
pahlawan itu, para pemenangnya diberi mahkota daun salam yang disebut dengan
laurel. Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara,
apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga (2 Tim 2: 5). Ini
berarti usahanya selama berlatih itu tidak sia-sia. Memang, segala sesuatu
yang kita kerjakan itu tentu akan menghasilkan buah. Dan untuk menghasilkan
sesuatu yang optimal itu perlu waktu. Seperti ungkapan dalam bahasa Inggris
menyebutkan, "Rome was not built in one day" yang artinya, kota Roma tidak
selesai dibangun dalam satu hari.

Skolastikat MSC, 29 Agustus 2011
Biara Hati Kudus – Pineleng
Jl. Manado – Tomohon KM. 10
MANADO – Sulawesi Utara – 95361

Markus Marlon MSC

Selasa, 27 September 2011

RELASI

RELASI
(Sebuah Percikan Permenungan)

Di negeri antah berantah, hiduplah seorang permaisuri yang memiliki puri
yang indah dan dibangun di bukit tengah kota. Sang permaisuri begitu
mencintai puri itu, sehingga dibuat tidak memiliki jendela. Ia tidak rela
kalau perabot puri itu diketahui dan dilihat oleh orang lain. Di kamarnya
yang dikelilingi dengan cermin-cermin itu, sang permaisuri memanjakan
dirinya dengan bersolek. Karena kegemarannya bersolek itulah sang raja
marah. Dibongkarnya cermin-cermin itu dan dibuatlah lobang. Dengan adanya
lobang tersebut, ia menyadari bahwa di seberang puri tersebut banyak orang
menderita yang perlu untuk dikunjungi dan dibantu. Sejak saat itulah, sang
permaisuri menyuruh membuat jendela-jendela di purinya dan membuat jembatan
untuk menghubungkan antara puri kerajaan dan rakyatnya. Jembatan yang
terhampar, jendela dan pintu yang terbuka hendak melukiskan bahwa dirinya
mau berelasi dengan orang lain.

Gereja pun menyadari akan perlunya berelasi. Paus Yohanes XXIII (1881 –
1963) yang sebelumnya bernama Kardinal Roncalli, merasa bahwa Gereja harus
membuka pintu perubahan lebar-lebar. Ia menekankan kebutuhan gereja akan
"aggiornamento" artinya disesuaikan mengikuti zaman. Gereja harus mengejar
ketinggalannya dengan dunia modern. Walaupun dogma tidak berubah,
pengungkapannya dapat dan harus berubah. Orang Protestan harus dilihat
sebagai "saudara-saudara yang terpisah" bukan sebagai penyesat yang jahat.
Kini di setiap keuskupan bahkan paroki ada seksi HAK (Hubungan Antar
Keagamaan) yang hendak membangun relasi yang baik dengan agama-agama lain.
Setiap kali ada kerusuhan yang menyangkut SARA, para tokoh umat beragama
berkumpul dan membahas isu tersebut. Syukur kepada Allah bahwa suasana yang
sempat panas itu pun akhirnya menjadi kondusif. Dialog, kumunikasi,
musyawarah, kesepakatan dan perundingan adalah cara yang efektif untuk
meredam relasi yang memanas. Paus Yohanes Paulus II (1920 – 2005) adalah
seorang Paus yang suka melanglang buana untuk membangun relasi dengan
negara-negara lain dan agama serta aliran kepercayaan lain. Kata Pontifex
Maximus, menurut interpretasi saya mengandung arti: pont = jembatan dan
facere = membuat). Tugas salah satu Paus adalah membuat jembatan / membangun
relasi. Maka tidak mengherankan jika pada tahun 1987 dan sesudahnya Yohanes
Paulus II bertemu di Asisi dengan pimpinan banyak agama sedunia untuk
mendoakan damai bagi seluruh dunia. Belum lama ini, Paus Benediktus XVI
menemui tokoh-tokoh agama di biara, tempat Martin Luther dulu belajar di
Erfurt dan dihadiri 20 pemimpin dalam Kompas, 24 September 2011. Untuk
hidup berdamai dengan sesama perlulah berelasi dengan baik.

Orang yang ingin membangun relasi dengan orang lain memiliki niat – dalam
hatinya – untuk berdamai. Relasi dari tingkat pribadi sampai ke
negara-negara sudah menjadi kebutuhan. Di sinilah setiap negara memiliki
duta. Duta adalah utusan yang membawa kedamaian bagi negara yang dikunjungi.
Sindhunata dalam Anak Bajang Menggiring Angin, dengan amat bagus memberikan
ilustrasi tentang Hanoman, duta Rama. Tanggung jawabnya begitu berat sebagai
duta karena harus menghadapi pelbagai tantangan. Baik dari pihak dalam
(para kera pengikut Rama) maupun dari pihak luar (para ksatria pembela
Rahwana). Meskipun berat tugas yang diembannya, Hanoman, putra Anjani ini
tetap melaksanakannya dengan sepenuh hati. Prof Kong Yuanzhi dalam Cheng
Ho Muslim Tionghoa, menceriterakan seorang duta perdamaian yang luar biasa.
Cheng Ho berhasil dalam membangun relasi dengan negara-negara tetangga dan
dari relasinya yang baik dengan negara-negara yang dikunjungi itu,
terjalinlah pertukaran: budaya dan hasil bumi. Tidak sedikit hambatan yang
yang dihadapi oleh Cheng Ho. Bahkan tantangan dari dalam (kerabat sendiri)
tidak kalah dahsyatnya. Ia berprinsip, "Orang sering melempar batu di jalan
kita. Tergantung kita mau membuat batu itu jadi tembok atau jembatan."
Kritikan-kritikan dari orang lain dibangunnya sebuah "jembatan" sehingga
bisa dipakai untuk menjalin relasi dengan orang-orang yang tadinya
mengkritiknya. Itulah yang sering kita sebut sebagai kritik yang membangun.
Sekolah Komik Pipilaka dalam Laksamana Cheng Ho menulis bahwa relasi
dengan negara-negara lain itu tidak bertahan lama, sebab ketika Cheng Ho
mangkat, buku-buku yang ditulis selama pelayaran dibakar musnah oleh
orang-orang yang kontra dengannya.

Membangun relasi memang tidak mudah. Ibarat rumah yang sudah dibangun
dengan baik, dapat dengan mudah dirobohkan. Pepatah China berbunyi, "Satu
musuh kebanyakan dan seribu teman masih kurang" mengajak kita untuk
bermenung bahwa yang namanya membangun relasi itu memang tidak mudah.
Terkadang kita merasa bahwa relasi yang kita miliki itu sudah solid. Maka
dengan modal itu, orang bisa membuat kesepakatan yang gegabah. Ada dua ibu
yang merasa sudah akrab satu dengan yang lain. Karena keakrabannya itu,
mereka berdua sepakat untuk bekerja sama membangun usaha. Pada awalnya,
mereka saling percaya, tetapi dalam perjalanan waktu, usaha itu semakin
besar dan dari sana mulai ada saling curiga. Pecunia not olet yang artinya
siapa pun suka pada uang. Tidak lama kemudian, relasi yang dibangun dengan
niat yang baik, akhirnya layu sebelum berkembang.

Relasi yang sudah dibangun dengan baik pun kadang bisa juga dirobohkan
oleh kekuatan roh jahat. Di dunia ini tidak semua orang akan sependapat
dengan gagasan yang kita lontarkan. Niat ini muncul sebab dalam dirinya ada
rasa iri, dengki dan kecewa. Elizabeth M. Ince dalam Thomas More dari
London, melihat adanya relasi yang indah antara Raja Henry VIII (1491 -
1547) dan Thomas More (1478 - 1535). Sang raja bahkan sering beranjang sana
di rumahnya. Namun kekecewaan sang raja itu muncul setelah mengetahui bahwa
Thomas More tidak mendukung pernikahannya dengan Anne Boyle. Thomas More
setia dengan Paus. Akhir dari relasi itu adalah pemenggalan lehernya. Dalam
Kitab suci, Saul awalnya begitu menyayangi Daud, bahkan sudah dianggap
seperti anaknya sendiri. Tetapi ketika Saul mendengar sendiri, rakyat
memuji Daud, maka relasi mereka berdua menjadi terganggu dan ada niat
terselubung bahkan terang-terangan mermaksud membunuh Daud (1 Sam 21: 1 –
26: 25). Tetapi dalam diri Daud tidak ada dendam dan benci kepada Saul.
Daud semakin dikuatkan karena memiliki relasi yang baik dengan putra Saul,
yakni Yonatan (Sam 18: 1 – 20: 42)

Ada juga relasi yang dari luar nampaknya kuat, tetapi fundamennya rapuh.
Ini berlaku dalam relasi antara atasan dan bawahan. Seorang pemimpin adalah
orang yang "kesepian". Ketika waktu senggang tiba, ia menginginkan
sanjungan, pujian dan pengakuan dari bawahannya. Inilah kesempatan yang
ditunggu-tunggu oleh para penjilat. Secara berlebihan mereka memuji
pemimpinnya. Apa yang dikatakan oleh pemimpin itu selalu benar. Muncullah
badut-badut baru yang membuat gelak tawa. Tertawa kemunafikan. Kisah ini
bisa diperdalam ketika membaca dongeng "Pakaian Baru Kaisar" tulisan Hans
Christian Andersen (1805 – 1875), penulis dongeng Swedia. Relasi karena
jilat-menjilat tidak akan berlangsung lama. Ketika pemimpin mendapat SK
pemberhentian, mereka pun akan mundur teratur dan pada gilirannya akan
menjilat pemimpin yang baru. Relasi yang rapuh.

Inti dari relasi adalah komunikasi. Perseteruan, perkelahian, bahkan perang
itu terjadi karena tidak adanya komunikasi yang baik. Sang duta
dipermalukan, seperti yang terjadi dalam kisah, "Kubilai Khan" dan "Arya
Penangsang". Perundingan gagal total, sepertinya yang terjadi dalam kisah
Mahabaratha dengan lakon, "Kresna Duta". Di pihak lain, komunikasi yang
baik akan menumbuhkan sikap perdamaian. Setiap pagi, sebelum mengawali
tugasnya, Yesus senantiasa berkomunikasi dengan Bapa-Nya. Ia pergi ke
tempat sunyi dan berdoa (Mrk 1: 35). Semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah
(Luk 6: 12). Yesus senantiasa berelasi dengan diri-Nya sendiri,
lingkungan-Nya , sesama-Nya dan Bapa-Nya.

Skolastikat MSC, 26 September 2011
Biara Hati Kudus – Pineleng
Jl. Manado – Tomohon KM. 10
MANADO – Sulawesi Utara – 95361

Markus Marlon MSC

Rabu, 21 September 2011

GIGIH

GIGIH
(Sebuah Percikan Permenungan)

Jansen Sinamo dalam Kafe Etos menulis, "Nama Jenghis Khan (1162 – 1227)
mungkin tidak terlalu asing bagi kita. Sudah banyak buku yang ditulis
untuknya dan sudah banyak film yang dirilis baginya. Sepenggal kisah –
mungkin lebih tepat disebut sebagai hikayat – yang mengisahkan tentang
pengalaman sewaktu dikejar-kejar, dia bersembunyi di dalam gua. Di sana ia
melihat sebuah pemandangan yang menakjubkan. Segerombolan semut yang sedang
berusaha mengangkat sebongkah makanan melewati sebuah dinding batu setinggi
kepalan tangannya, yang di mata semut-semut itu adalah tebing yang amat
curam. Berulang kali ketika mereka hampir sampai di puncak, makanan itu
jatuh, sehingga mereka harus turun kembali ke dasar untuk beramai–ramai
mengangkatnya. Mengamati perjuangan semut-semut yang tidak pernah putus asa
itu merupakan keasyikan tersendiri bagi Temujin. Iseng-iseng ia pun mulai
menghitung, berapa kali mereka jatuh bangun mengangkat makanan tersebut.
Satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali, sepuluh kali, lima belas kali,
dua puluh kali, sampai lebih daripada lima puluh kali, hingga hitungan yang
kesekian, semut-semut itu pun berhasil. Pengalaman di dalam gua inilah yang
menjadi strating point bagi Jenghis Khan untuk menata hidupnya di kemudian
hari."

Gigih adalah suatu sikap seseorang untuk maju terus meskipun banyak
tantangan yang dihadapi. Anak-anak Sparta dalam Spartan memberikan
pengajaran kepada kita bahwa sejak awal, kehidupan manusia adalah berjuang.
Seneca (4 SM – 65) berkata, "Vivere militare" yang berarti hidup itu adalah
berjuang. Nyoman S. Pendit dalam Mahabaratha, hidup di dunia ini adalah
suatu perjuangan untuk mukti (mendapatkan kekuasaan, hidup mulia dan
sejahtera) atau mati. Ini terjadi dalam lakon pewayangan berjudul,
"Doryudana Gugur". Sang Putra Mahkota Astina itu bertanding melawan Bima.
Ketika hendak gugur, dari bibirnya sempat keluar kata-kata, "Hidup ini yah,
jika tidak mukti yah mati!" Kegigihan dari para prajurit Sparta dan Bima
adalah untuk mendapatkan martabat yang tinggi.
Memang untuk mendapatkan kehidupan yang sejahtera-aman-tentram-damai-mulia
itu tidak serta merta didapatkan begitu saja, seperti membalikkan tangan.
Kisah-kisah penuh penderitaan dalam dongeng maupun biografi, hendak
menunjukkan kepada kita bahwa untuk mendapatkan mahkota kemuliaan, orang
tidak bisa menghindari duri, no thorn no crown. Untuk mendapatkan pencapaian
yang prima, harus dilalui dengan penderitaan, no pain no gain. Lebih dari
semua itu dibutuhkan suatu semangat dan kegigihan yang tinggi. Charles
Perrault (1628 – 1703), sastrawan Perancis dan penulis dongeng Cinderella,
mengisahkan tentang seorang gadis miskin yang tidak memiliki apa-apa.
Meskipun tidak ada dukungan dari saudari-saudari dan ibu tirinya, dia tetap
mengerjakan tugas-tugas hariannya yang super berat itu dengan setia.
Cinderella tidak mau menyerah dengan situasi dan kondisi yang ada.
Kebanyakan orang akan berhenti berjuang ketika menyaksikan bahwa apa yang
dikerjakan itu terlalu berat dan sia-sia. Orang juga menjadi tidak
bersemangat kalau dirinya bekerja sendiri, padahal orang-orang di sekitar
tidak mengerjakan apa-apa. Ini semua dialami oleh Cinderella.

Kegigihan bisa luntur ketika yang hendak dicapai sungguh-sungguh di luar
kemampuannya. Aesop (± 6 SM) dalam Aesop's Fables, menceriterakan seekor
rubah yang hendak memetik buah anggur. Rubah itu pun berjuang dengan
gigihnya supaya mendapatkan anggur-anggur itu. Tetapi berhubung tidak bisa
mendapatkan anggur-anggur tersebut, sang rubah itu pun berkata,
"Paling-paling anggur-anggur itu adalah anggur yang asam!"

Dalam Kitab Suci, kita mengenal kegigihan Paulus dalam mewartakan kabar
gembira. Katanya, "Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit;
kami habis akal, namun tidak putus asa, kami dianiaya, namun tidak
ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa" (2 Kor 4: 8 –
9). Rupanya para nabi memang memiliki nasib yang sama. Yeremia yang
mendapatkan panggilan Tuhan untuk menyuarakan kebenaran kepada umat Israel
yang mulai meninggalkan Tuhan dan menyembah illah-illah lain. Para penguasa
memusuhi dan nyaris membunuhnya (Yer 11: 21). Yeremia juga dimasukkan ke
dalam sumur, yang tentu akan mati kelaparan (Yer 38: 5 – 13). Orang-orang
yang mendapat panggilan Tuhan untuk mewartakan kebenaran, banyak tantangan
yang harus dihadapi. Para nabi itu mati di Yerusalem. "Yerusalem, Yerusalem,
engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang
diutus kepadamu!" (Luk 13: 34). Dunia memang sungguh adil. Ketika banyak
orang ditindas dan ketika para penguasa bertindak sewenang-wenang, muncullah
"pahlawan" yang dengan tulus ikhlas ingin menjadi pembebas. Spartacus,
gladiator dari Thrace yang di Capua pada tahun 73 – 71 SM memulai
mengadakan penyerangan kepada Roma yang menindasnya. Judah Ben Hur dalam
film Ben Hur memperlihatkan kepada kita bahwa kebebasan adalah hak azasi
manusia. Judah berjuang dengan gigih di bawah tekanan Roma, teristimewa
Messala. Selama 4 tahun, Judah hidup sebagai budak dan hidup dalam
pengasingan. Namun tekadnya yang gigih itulah yang membuat Judah bertahan.
Laura Ingalls Wilder (1867 – 1957) dalam Rumah Kecil di Padang rumput
mengisahkan tentang kegigihan keluarga. Perjuangan keluarga ini tidak pernah
berhenti. Perindahan dari desa satu ke desa yang lain, musibah dalam
keluarga, berhadapan dengan suku Indian merupakan tantangan yang senantiasa
dihadapi. Tetapi kegigihan tersebut memberikan hasil yang luar biasa. Pa,
Ma, Mary dan Laura serta Caroline menjadi keluarga yang kuat dalam
menghadapi pelbagai masalah .

Untuk menutup permenungan ini, Aesop – sekali lagi – memberikan kisah
tentang kegigihan. Dongeng yang berjudul," Elang dan Kumbang." Mengisahkan
tentang elang yang sewenang-wenang berlaku kasar terhadap kelinci. Kumbang
sudah memperingatkan elang untuk bertoleransi terhadap kelinci itu, tetapi
elang tidak mau mendengarkan dan membunuhnya. Maka, kumbang mati-matian
mengobrak-abrik sarang elang setiap kali bertelur, hingga elang itu melapor
kepada Jupiter. Meskipun demikian, kumbang tetap gigih untuk
"membalasdendamkan" si kelinci yang sudah dibunuhnya. (The Turtle becomes a
CEO, tulisan David Noonan). Kegigihan kumbang itu perlu untuk kita
teladani.

Skolastikat MSC, 12 September 2011
Biara Hati Kudus – Pineleng
Jl. Manado – Tomohon KM. 10
MANADO – Sulawesi Utara – 95361

Markus Marlon MSC

Selasa, 13 September 2011

PUTUS ASA

PUTUS ASA
(Sebuah Percikan Permenungan)

Penyakit merupakan bencana yang menakutkan dan ditakuti dari generasi ke
generasi. Orang-orang Eropa tentu masih ingat bencana nasional yang
menghantui mereka dengan black death-nya. Penyakit sampar itu terjadi pada
pertengahan abad ke-14. Bencana itu dibawa dari Timur Tengah oleh
tikus-tikus yang dibawa oleh para saudagar. Dan itu menyebar sampai ke
Itali, Spanyol, Perancis pada tahun 1347, Inggris (1348), Jerman (1349) dan
akhirnya Rusia (1350). Kisah ini bisa kita baca dalam 100 Peristiwa yang
Membentuk Sejarah Dunia tulisan Bill Yenne dan Eddy Soetrisno.

Pemandangan penyakit yang mematikan itu membuat orang kehilangan harapan. Di
zaman sekarang pun kita tidak bisa menutup mata dengan adanya penyakit yang
dinamakan AIDS/HIV. Kalau kita ikut nimbrung dalam percakapan sehari-hari,
kata-kata seperti kolesterol, trigliserit dan asam urat serta diabetes sudah
menjadi ungkapan yang akrab dengan hidup kita. Orang-orang gamang
menghadapi pelbagai penyakit tersebut. Kalau seseorang tertimpa penyakit
dan tidak sembuh-sembuh biasanya ada rasa putus asa yang mendalam dan lebih
gawat lagi jika menyalahkan Tuhan. Penyakit memang momok yang sangat
menakutkan di jaman modern ini.
Dalam dunia politik yang melibatkan peperangan, jika negara atau kerajaannya
kalah, sang jendral tidak mau tunduk kepada conqueror, maka jalan
keputusasaannya adalah bunuh diri. Kita bisa membacanya dalam Three Kingdoms
tulisan Kim Woo Il atau dalam The Life of Hitler yang mengisahkan Adolf
Hitler dan kekasihnya, Eva von Braun yang bunuh diri setelah Jerman kalah.
Keduanya menelan racun maut yang menghantarkan mereka ke alam baka di
bunker yang mereka buat sendiri.

Ada pepatah yang berbunyi, "kegagalan adalah sukses yang tertunda." Tetapi
tidak semua orang setuju dengan ungkapan tersebut. Kita lihat saja, di
Jepang dikabarkan memiliki tingkatan bunuh diri tertinggi, karena gagal
dalam study misalnya, seorang siswa bisa terjun bebas dari hotel lantai 10.
Keputusasaan juga melanda di dalam hidup harian manusia pada zaman sekarang
ini. Kelangkaan BBM – yang jika harganya naik – tentu akan membuat harga
barang-barang semakin melambung. Orang-orang miskin marah dan melampiaskan
dengan demontrasi. Tetapi nampaknya sia-sia belaka. Banyak orang menjadi
putus asa, ke mana harus mengadu jika diri mereka terimpit dalam masalah
ekonomi dan keamanan. Orang menjadi tidak bersemangat jika harus berurusan
dengan pemerintah. Ibaratnya, jika kehilangan ayam dan melaporkan kepada
yang berwajib malah akan kehilangan kambing. Sungguh tragis ibu pertiwi yang
menjadi pijakan kaki ini. Himpitan hidup semakin ketat, hanya karena uang
puluhan ribu rupiah saja, orang bisa baku bunuh.
Putus asa sungguh memasuki area yang begitu kompleks dan melebar. Orang
putus asa, bukan hanya masalah ekonomi, resistensi terhadap hidup yang
sudah di ambang batas, tetapi juga masalah percintaan. Kisah-kisah
percintaan dalam pelbagai budaya hendak menunjukkan bahwa pikiran yang buntu
bisa memaksa seseorang untuk mengakhiri hidupnya. Drama Romeo-Juliet
tulisan Shakespeare (1564 - 1616) merupakan kisah keputusasaan, setelah dua
sejoli itu tidak menemukan way out bagi kisah cinta mereka. Di Cina ada Sam
Pek dan Eng Tay dan di Indonesia khususnya Jawa Tengah ada Pronocitra dan
Roro Mendut. Mereka meyakini bahwa hidup mereka akan di alam ke-langgeng-an
setelah mati bersama dan percintaan mereka menjadi abadi.

Yang lebih tragis dan paling klimaksnya adalah keputusasaan karena merasa
hidupnya tidak berarti, meaningless. Dia merasa bahwa eksistensinya di
dunia ini tidak memiliki makna apa-apa, maka way out-nya adalah mengakhiri
hidupnya sendiri yakni bunuh diri, suicide.

Putus asa kadang melekat dengan kehidupan kita dan kita terlibat di
dalamnya. Secara tidak sengaja, saya membuka tulisan tentang putus asa dalam
Ensiklopedi Gereja. Adolf Heuken dalam Ensiklopedi Gereja menulis "Putus
asa merupakan kejahatan besar terhadap Bapa Yang Maharahim. Pengalaman
menunjukkan bahwa kecenderungan seseorang untuk putus asa dapat membahayakan
kesehatan jasmani dan mental dan tidak jarang menyebabkan seseorang
menjermuskan diri ke aneka kejahatan. Cukup banyak orang beriman merasa
tidak dikasihi Allah, karena kurang beruntung dibandingkan orang lain. Maka,
mereka menjauhi Allah. Sikap seperti ini berbahaya untuk iman."


Skolastikat MSC, 18 Juli 2011

Biara Hati Kudus - Pineleng
Jl. Manado – Tomohon KM. 10
Pineleng II, Jaga VI
Minahasa – MANADO – Sulawesi Utara – 95361

Markus Marlon MSC

Sabtu, 10 September 2011

Bosan

BOSAN

Di antara kita mungkin pernah mengalami bosan. Bahkan bosan untuk berbuat
baik, sebab orang kita baiki ternyata tidak merasa dibaiki. Ada orang yang
mengeluh demikian, "Saya seperti berada dalam sebuah liang. Siang saya
mengerjakan pekerjaan yang sama setiap hari. Pergi ke kantor, pulang ke
rumah. Makan, nonton TV, tidur. Saya ingin mengadakan perubahan, tetapi saya
tidak mampu."

Jika tidak diselesaikan dengan benar, kebosanan bisa menyebabkan penyakit
kejiwaan. Tandanya ialah: hilangnya pengharapan, depresi dan pesimis. Tetapi
sebagai orang beriman, kita harus menyertakan Kristus dalam hidup ini. St.
Paulus berkata, "Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan dan
perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan" (Kol 3:1). Demi nama
Tuhan, saya bekerja. Jika kita berpikir bahwa apa yang kita kerjakan itu
semua untuk Tuhan, maka pekerjaan kita akan memberi sebuah pandangan baru
pada pekerjaan. Jika kita telah menyadari bahwa kita melakukannya untuk
Tuhan, kita memberikan nilai tambah, nilai plus pada pekerjaan yang sedang
kita lakukan.

Misalnya, ada suami istri yang sementara baku marah. Kemudian dengan
diam-diam, sang suami menyerahkan baju untuk diseterika. Meskipun hati ini
agak marah dan jengkel, tetapi pandanglah dengan kaca mata iman, bahwa yang
sementara diseterika itu adalah jubah Yesus. Maka, sang istri itu akan
menyetrika dengan perasaan lain, dengan pandangan baru.

Skolastikat MSC, 17 Mei 2011
Pineleng - Manado
Sulawesi Utara

Markus Marlon msc