Senin, 22 November 2010

Rahasia Pensiun Muda, Kaya Raya, Dan Bahagia

Rahasia Pensiun Muda, Kaya Raya, Dan Bahagia

Pensiun muda, kaya raya, dan bahagia adalah idaman setiap orang. Siapa yang
mau kerja sampai tua tapi tetap miskin dan menderita? Ada orang yang
setelah menetapkan goal mereka dapat mencapai goal itu dengan cukup mudah.
Ada yang perlu kerja sedikit lebih keras. dan akhirnya berhasil. Namun ada
juga yang telah bekerja sangat keras tetap belum bisa berhasil.

Sebenarnya apakah sulit untuk bisa pensiun muda, kaya raya, dan bahagia?
Ah, nggak. Justru sangat mudah.

Jika memang sangat mudah mengapa banyak orang tidak bisa mencapainya? Nah,
inilah alasannya saya menulis artikel ini.

Jawaban singkatnya sederhana sekali. Ini semua bergantung pada definisi
sukses yang mereka tetapkan untuk diri mereka.

Lho, maksudnya?

Begini ya. Banyak orang tidak menetapkan secara sadar arti sukses bagi diri
mereka. Umumnya orang, termasuk saya juga dulunya, mengadopsi sukses
berdasarkan definisi atau kriteria orang lain. Itulah sebabnya bila kita
bertanya kepada orang, "Apa yang ingin anda capai dalam hidup?", mereka
akan menjawab, "Sukses". Kalau kita kejar lagi, "Sukses seperti apa?", maka
umumnya mereka akan menjawab, "Mencapai kebebasan waktu dan uang" atau
"Pensiun dini". Yang paling keren adalah jawaban, "Muda kaya raya, tua
foya-foya, mati masuk surga".

Dulu saya juga ingin sukses seperti di atas. Namun sekarang saya mengerti.
Sukses bukanlah seperti yang didefinisikan kebanyakan orang. Kita harus
menetapkan sendiri definisi sukses. Saya mendefinisikan sukses sebagai
perjalan diri berdasar peta sukses yang kita rencanakan sendiri dengan
kesadaran kita saat itu.

Di sini ada dua komponen penting. Pertama, sukses adalah perjalanan yang
dilakukan berdasarkan peta sukses. Kedua, peta sukses ini kita rencanakan
sendiri dengan kesadaran kita saat itu.

Peta sukses ini adalah impian-impian yang ingin kita capai dalam hidup.
Impian harus memenuhi dua syarat utama yaitu harus bersifat personal dan
bermakna. Dan yang lebih penting lagi adalah kita menetapkan impian dengan
menggunakan kesadaran kita pada saat itu.

Hal ini berarti seiring dengan berkembang dan meningkatnya kesadaran diri
maka kita perlu melakukan update impian-impian kita. Ada yang perlu kita
tambah dan ada yang perlu kita hapus dari daftar.

Mengapa sampai perlu dihapus dan ditambah? Karena seringkali apa yang dulu
kita anggap penting ternyata sekarang sudah tidak penting lagi. Apa yang
dulu kita anggap personal dan bermakna ternyata sekarang sudah tidak
bermakna lagi karena level kesadaran kita telah berkembang. Sebaliknya apa
yang dulu tidak terpikirkan oleh kita, eh. sekarang malah sangat penting
untuk kita capai.

Impian harus ditetapkan dengan mengacu pada nilai-nilai hidup (value)
tertinggi kita. Tidak asal ditetapkan seperti yang dilakukan oleh
kebanyakan orang. Saat impian sejalan dengan value maka impian ini berisi
muatan emosi positif yang tinggi. Emosi positif ini selanjutnya akan
menjadi pendorong, motivator, dan sekaligus provokator sehingga kita akan
selalu semangat melakukan kerja atau upaya untuk mencapainya.
Pencerahan lain yang saya dapatkan adalah kita perlu hati-hati menetapkan
makna kata "pensiun". Mengapa? Karena ada begitu banyak orang sulit
mencapai kebebasan waktu dan uang yang mereka impikan karena mereka
dihambat oleh kata "pensiun".

Lho, kok bisa begitu?

Begini ya. Manusia berpikir dengan menggunakan dua pikiran yaitu pikiran
sadar dan bawah sadar. Pensiun diartikan sebagai sesuatu yang indah,
kebebasan uang dan waktu, ini kan baru kita dapatkan setelah kita dewasa.
Apalagi setelah membaca bukunya Robert Kiyosaki Cashflow Quadrant.

Pensiun menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) artinya: 1) tidak
bekerja lagi karena masa tugasnya telah selesai, dan 2) uang tunjangan yang
diterima tiap-tiap bulan oleh karyawan sesudah ia berhenti bekerja atau
oleh istri (suami) dan anak-anaknya yang belum dewasa kalau ia meninggal
dunia. Definisi pensiun di atas nggak terlalu bagus, kan?

Nah, bagaimana dengan makna "pensiun" menurut orang di sekitar kita?
Berbeda dengan definisi KBBI di atas, dari hasil programming saat kita
masih kecil umumnya kata "pensiun" mempunyai arti "berhenti bekerja", "uang
pas-pasan", "nganggur karena sudah nggak ada kerjaan", "tidak punya
kekuasaan", "tidak dihargai orang", "tua dan lemah", atau "melewati
hari-hari yang membosankan". Hal ini ditambah lagi ada banyak contoh orang
yang pensiun dari jabatan tertentu eh.. dua tahun kemudian meninggal.

Jadi, tanpa kita sadari ada muatan emosi negatif yang cukup tinggi yang
melekat pada kata "pensiun". Emosi negatif ini bekerja di level pikiran
bawah sadar dan tanpa kita sadari justru menjadi mental block yang
menghambat upaya kita.

Langkah awal untuk pensiun adalah melakukan definisi ulang makna kata
"pensiun". Dan pastikan makna ini benar-benar masuk dan tertanam dengan
kuat di pikiran bawah sadar kita.

Anda mungkin tidak percaya dengan apa yang saya jelaskan di atas, bahwa apa
yang kita pikirkan secara sadar belum tentu sejalan dengan pikiran bawah
sadar. Bila sampai terjadi konflik antara pikiran sadar dan bawah sadar
maka yang selalu menang adalah pikiran bawah sadar.

Ini saya beri contoh nyata. Seorang kawan, sebut saja Budi, adalah anak
muda yang sangat aktif dan percaya diri. Budi punya impian besar. Ia ingin
jadi orang sukses. Budi menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Ia serius
mengembangkan dirinya dengan membaca sangat banyak buku pengembangan diri,
bisnis, keuangan, ekonomi, dan mengikuti berbagai seminar di dalam dan luar
negeri. Budi telah mengikuti pelatihan semua pembicara top Indonesia. Di
luar negeri Budi, antara lain, mengikuti pelatihan Anthony Robbins dan
Robert Kiyosaki.

Setelah dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh Budi akhirnya memilih fast
track menjadi orang kaya dengan menjadi pengusaha properti. Budi sadar
sesadar-sadarnya bahwa, seperti ilmu yang ia dapatkan dari berbagai
pelatihan yang ia ikuti, untuk bisa sukses finansial tidak perlu modal
besar. "You don' need a lot of money to make a lot of money", ini mantra
yang selalu ia sampaikan pada saya, " Yang penting sikap, keyakinan diri,
dan antusiasme". Namun setelah mencoba sekian lama Budi masih tetap belum
bisa berhasil. So, what's wrong? Some thong wring. eh.. salah. some thing
wrong.

Apa yang menjadi penghambat Budi?

Pikiran sadar Budi yakin bahwa tidak perlu uang banyak untuk sukes secara
finansial. Namun pikiran bawah sadarnya berkata sebaliknya. Budi belum bisa
sukses karena, menurut pikiran bawah sadarnya, tidak punya modal banyak.
Hal ini semakin diperparah lagi dengan satu program pikiran yang ia
dapatkan dari ayahnya yaitu kalau berbisnis tidak boleh mengambil untung
banyak karena pelanggan bisa lari ke orang lain.

Saat keluar dari kondisi relaksasi pikiran dan diajak berdiskusi mengenai
mental blocknya Budi sempat bingung. Ia berkata, "Ini benar-benar nggak
masuk akal. Saya sudah yakin seyakin-yakinnya kalau mau sukses nggak perlu
modal besar, eh. pikiran bawah sadar saya berkata sebaliknya. Makanya susah
sekali untuk sukses. Rupanya saya disabotase pikiran saya sendiri. Padahal
saya yakin sekali lho dengan apa yang diajarkan Kiyosaki."

Nah, pembaca, anda jelas sekarang?

Kembali ke definisi kata "pensiun", saya mendefinisikan pensiun bukan dari
ukuran kebebasan waktu dan uang yang saya capai. Saya mendefinisikan
pensiun sebagai melakukan sesuatu dengan pikiran tenang dan hati yang
damai.

Nah, untuk bisa mencapai pikiran yang tenang dan hati yang damai, saat
melakukan suatu kegiatan,pekerjaan, atau bisnis, maka saya perlu menetapkan
syarat-syarat yang spesifik. Istilah teknisnya "rule" atau aturan.

Saya menetapkan syarat antara lain: 1) saya suka melakukan pekerjaan itu,
2) semakin saya melakukannya maka semakin diri saya bertumbuh dan
berkembang ke arah yang lebih baik, 3) apa yang saya lakukan mempengaruhi
hidup orang banyak secara positif, 4) saya menentukan harganya, 5) saya
bisa melakukannya di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja, 6) tidak
perlu banyak karyawan, 7) gudangnya ada di otak dan komputer saya, saya
bersedia tidak dibayar melakukan apa yang saya lakukan, 9) sejalan dengan
tujuan hidup saya, 10) bisa diwariskan atau diteruskan oleh anak.

Jika anda baca dengan saksama maka syarat yang saya tetapkan di atas
sebenarnya menjelaskan satu hal yaitu passion. Namun juga jangan salah
mengerti ya. Jika hanya berbekal passion saja tidak cukup untuk sukses.
Passion harus didukung oleh strategi yang jitu dan terarah.

Ada klien saya yang hanya mengandalkan passion saja, walaupun saya tahu ia
orang yang sangat kompeten di bidangnya, ternyata harus mengalami kegagalan
beruntun di dalam bisnisnya. Waktu saya tanya, "Strategi apa yang akan anda
gunakan dalam memasarkan produk anda?", jawabnya enteng, "Nggak usah pake
strategi macam-macam. Pokoknya saya senang melakukan apa yang saya lakukan.
Hasilnya pasti akan bagus. Nanti akan sukses dengan sendirinya".

Apa yang terjadi? Benar di awal bisnisnya pesanan sangat banyak. Namun
karena tidak didukung dengan perencanaan yang matang, klien ini harus
kalang kabut untuk memenuhi pesanan produknya. Akibatnya, quality control
terabaikan. Dan ending-nya, bisnisnya bubar karena banyak klien kecewa dan
menolak melanjutkan kerjasama.

Defisi lain yang perlu kita tetapkan dengan sangat hati-hati adalah makna
kata "kaya". Apa ukurannya sehingga seseorang disebut sebagai orang kaya?

Masyarakat umumnya mengukur dari jumlah rupiah yang dimiliki seseorang.
Semakin banyak rupiahnya maka semakin kaya orang itu. Apakah benar seperti
ini?

Jawaban ini benar, untuk ukuran kebanyakan orang. Namun untuk diri kita
sendiri, kita perlu menetapkan definisi yang personal. Kaya sebenarnya
tidak ada hubungannya dengan jumlah rupiah. Kaya sebenarnya lebih
ditentukan oleh perasaan cukup.

Apa maksudnya?

Begini, ada banyak orang yang sangat kaya (uangnya banyak sekali) namun
sebenarnya ia hidup dalam kemiskinan. Juga ada sangat banyak orang yang
miskin (uangnya sedikit sekali) namun mereka sangat kaya.

Seorang kawan dengan sangat bijak pernah berkata, "Orang kaya itu adalah
orang miskin yang kebetulan uangnya banyak. Sedangkan orang miskin itu
adalah orang kaya yang kebetulan uangnya sedikit."

Lho, kok dibolak-balik?

Kaya atau miskin ini lebih ditentukan oleh perasaan cukup. Saat kita merasa
cukup, kita puas dengan apa yang kita miliki, maka pada saat itu kita telah
menjadi orang kaya.
Kita bisa kaya tanpa harus punya uang sangat banyak. Sebaliknya, walaupun
kita punya isi seluruh dunia, namun bila kita masih tetap saja merasa
kurang maka sebenarnya kita adalah orang miskin. Bahkan John D. Rockefeller
JR., berkata, "Orang termiskin yang aku ketahui adalah orang yang tidak
mempunyai apa-apa kecuali uang".

Kaya raya ukurannya semata-mata hanyalah suatu perasaan. Dan karena
parameternya adalah perasaan maka hal ini sangatlah subjektif. Setiap orang
punya takaran sendiri. Kita tidak boleh menggunakan takaran orang lain
untuk mengukur diri kita. Demikian pula sebaliknya kita tidak boleh
menggunakan takaran kita untuk mengukur orang lain.

Nah, sekarang bagaimana menjadi bahagia?

Jika kita melakukan pekerjaan atau bisnis dengan hati gembira, karena
sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan hidup kita, dan menjadi kaya
berdasarkan perasaan cukup yang kita tetapkan sendiri, dengan penuh
kesadaran, maka hasil akhirnya kita pasti bahagia.

Saya pernah ditanya seorang peserta seminar, "Pak Adi, kalau memang Bapak
sedemikian hebat, mengerti otak-atik pikiran, bisa membantu seseorang
berubah dan sukses, mengapa Bapak tidak mendirikan banyak perusahaan dan
menjadi milyuner? Atau mengapa Bapak tidak mencoba menjadi presiden RI?".

Menjawab pertanyaan peserta ini saya menjelaskan dua hal. Pertama, saya
tidak pernah mengklaim diri saya sebagai orang hebat. Saya hanyalah seorang
pembelajar di Universitas Kehidupan yang kebetulan mengambil spesialisasi
jurusan teknologi pikiran. Saya belajar dan praktik lebih dulu dari peserta
itu. Jika kita sama-sama belajar, bisa jadi peserta itu jauh lebih pintar
dari saya.

Kedua, saya tidak akan mau mendirikan perusahaan besar ataupun jadi
presiden RI. Sebenarnya sekarang pun saya adalah seorang presiden, Presiden
Direktur di perusahaan Kehidupan saya sendiri. Alasan lainnya saya telah
menentukan tujuan hidup saya, yang didasarkan pada nilai-nilai hidup saya.
Saya punya parameter yang sangat subjektif yang digunakan untuk mengukur
keberhasilan hidup saya. Salah satunya adalah ketenangan pikiran dan
kedamaian hati.

Nah pembaca, nggak susah kan untuk bisa pensiun muda, kaya raya, dan
bahagia?
Kalau mati masuk surga, wah ini urusannya sama Tuhan. Saya nggak berani
komentar.

Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator. Adi
dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com dan
www.adiwgunawan.com , www.QLTI.com

Setiap insan adalah spesial

Setiap Insan adalah Spesial

Alkisah, disebuah kelas sekolah dasar, bu guru memulai pelajaran dengan
topik bahasan, "Setiap insan adalah spesial". Kehadiran manusia di dunia
ini begitu berarti dan penting. "Anak-anakku, kalian, setiap anak adalah
penting dan spesial bagi ibu. Semua guru menyayangi dan mengajar kalian
karena kalian adalah pribadi yang penting dan spesial. Hari ini ibu khusus
membawa stiker bertuliskan warna merah "Aku adalah spesial". Kalian maju
satu persatu, ibu akan menempelkan stiker ini di dada sebelah kiri kalian".
Dengan tertib anak-anak maju satu persatu untuk menerima stiker dan sebuah
kecupan sayang dari bu guru mereka. Setelah selesai, bu guru melanjutkan
"Ibu beri kalian masing-masing tambahan 4 stiker. Beri dan tempelkan 1
kepada orang yang kalian anggap spesial, sebagai ungkapan rasa hormat dan
terima kasih dan kemudian serahkan 3 stiker lainnya untuk diteruskan kepada
orang yang dirasa spesial pula olehnya, begitu seterusnya. Mengerti
kan...".

Sepulang sekolah, seorang murid pria mendatangi sebuah kantor, diapun
memberikan stikernya kepada seorang manajer di sana. "Pak, bapak adalah
orang yang spesial buat saya. Karena nasehat-nasehat yang Bapak berikan,
sekarang
saya telah menjadi pelajar yang lebih baik dan bertanggung jawab. Ini ada 3
stiker yang sama, bapak bisa melakukan hal yang sama, memberikannya kepada
siapapun yang menurut bapak pantas menerimanya".

Lewat beberapa hari, manajer tersebut menemui pimpinan perusahaannya yang
emosional dan sulit untuk didekati. Tetapi mempunyai pengetahuan yang luas
dan telah memberi banyak pelajaran hingga dia bisa menjadi seperti hari
ini. Awalnya sang pemimpin terkesima, namun setelah mengetahui alasan
pemberian stiker itu, dia pun menerimanya dengan haru. Sambil mengangsurkan
si manajer berkata,"Ini ada 1 stiker yang tersisa. Bapak bisa melakukan
yang sama kepada siapapun yang pantas menerima rasa sayang dari bapak".
Sesampai di rumah, bergegas ditemui putra tunggalnya. "Anakku, selama ini
ayah tidak banyak memberi perhatian kepadamu, meluangkan waktu untuk
menemanimu. Maafkan ayahmu yang sering kali marah-marah karena hal-hal
sepele yang telah kamu lakukan dan ayah anggap salah. Malam ini, ayah ingin
memberi stiker ini dan memberitahu kepadamu bahwa bagi ayah, selain ibumu,
kamu adalah yang terpenting dalam hidup ayah. Ayah sayang kepadamu".
Setelah kaget sesaat, si anak balas memeluk ayahnya sambil menangis
sesenggukan. "Ayah, sebenarnya aku telah berencana telah bunuh diri. Aku
merasa hidupku tidak berarti bagi siapapun dan ayah tidak pernah
menyayangiku. Terima kasih ayah". Mereka pun berpelukan dalam syukur dan
haru serta berjanji untuk saling memperbaiki diri.

Pembaca yang luar biasa,
Kehidupan layaknya seperti pantulan sebuah cermin. Dia akan bereaksi yang
sama seperti yang kita lakukan. Begitu pentingnya bisa menghargai dan
menempatkan orang lain di tempat yang semestinya. memuji orang lain dengan
tulus juga merupakan ilmu hidup yang sehat, bahkan sering kali pujian yang
diberikan disaat yang tepat akan memotivasi orang yang dipuji, membuat
mereka bertambah maju dan berkembang, dan hubungan diantara kitapun akan
semakin harmonis, mari kita mulai dari diri kita sendiri, belajar memberi
pujian, menghormati dan memperhatikan orang lain dengan tulus dengan
demikian kehidupan kita pasti penuh gairah, damai dan mengembirakan.

Salam sukses luar biasa!
Andrie Wongso

Rabu, 17 November 2010

Wirausaha Tidak Bisa Dilatih

Wirausaha Tidak Bisa Dilatih
Kamis, 18 November 2010 | 02:57 WIB

Jakarta, Kompas - Untuk menjalankan usaha sendiri, seseorang harus
mempunyai karisma di dalam dirinya. Karisma ini hanya dimiliki orang-orang
yang memiliki visi atau impian dan semangat yang luar biasa untuk
mewujudkan impiannya itu.

Oleh karena itu, materi-materi ajar kewirausahaan di sekolah, terutama di
sekolah menengah kejuruan dan politeknik, tak serta-merta akan menghasilkan
wirausaha karena mereka tidak bisa dilatih atau dididik.

Hal itu dikemukakan ekonom dan pengusaha dari Amerika Serikat, Carl J
Schramm, di Jakarta, Senin (15/6). "Kita tidak bisa melatih seseorang untuk
memiliki karisma. Ada orang-orang tertentu yang memiliki kepribadian senang
dengan tantangan serta berani mengambil risiko dan inovatif dan gigih
mewujudkan impiannya," kata Schramm yang juga Presiden dan CEO Kauffman
Foundation itu.

Yang bisa dilakukan, lanjut Schramm, adalah melatih atau mendidik seseorang
yang memiliki bekal ide dan semangat atau bahkan sudah memulai usahanya
sedikit demi sedikit untuk membuat rencana atau strategi usaha. Tujuannya,
untuk mengurangi risiko kegagalan usahanya dan memastikan keberhasilan
usaha. Jika memiliki rencana atau strategi usaha yang jelas, dipastikan
usahanya pun akan berhasil.

Sekolah-sekolah kejuruan akan sangat berguna dalam hal itu. Tidak hanya
itu. Para wirausaha yang sukses juga bisa berbagi ilmu dengan siswa di
sekolah-sekolah kejuruan.

"Jadi, belum tentu semua orang bisa menjadi entrepreneur karena masih lebih
banyak orang yang boro-boro memikirkan inovasi usaha, memikirkan mau makan
apa hari ini saja sudah susah," kata Schramm.

Menjadi seorang wirausaha yang sukses pun, kata Schramm, tidak perlu harus
memulai usaha sejak usia muda. Selama ini banyak beredar anggapan keliru
bahwa jika ingin sukses, seseorang harus memulai usaha sejak usia 19 atau
21 tahun. Jika tidak, tidak akan pernah berhasil menjadi wirausaha. "Nyatanya,
banyak orang yang memulai usaha justru ketika sudah pensiun," ujarnya.

Schramm juga mengatakan, kewirausahaan harus dilakukan, bukan sekadar
diajarkan. Pendidikan kewirausahaan memang perlu diperkenalkan di sekolah-
sekolah untuk menginformasikan kepada siswa bahwa kewirausahaan itu penting
dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.

Schramm menambahkan, kewirausahaan juga untuk membentuk adanya keinginan di
dalam diri seseorang untuk bekerja sendiri, bukan bekerja kepada orang
lain. Sebab, negara memang butuh meningkatkan jumlah perusahaan-perusahaan
baru guna mendorong meningkatnya pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, Staf Ahli Kementerian Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Prof
Dr Payaman J Simanjuntak saat berbicara dalam seminar "Entrepreneurship
Solusi bagi Pengangguran dan Kemiskinan" di Universitas Katolik Widya
Mandira, Kupang, Senin, menegaskan, di era globalisasi ini
perusahaan-perusahaan besar terbukti selalu mengalami kesulitan menghadapi
persaingan yang kian tajam. Sebaliknya, kelompok usaha kecil justru mampu
menghadapinya karena lebih lincah, fleksibel, serta cepat mengambil
keputusan.

"Tantangan bagi Indonesia adalah mempersiapkan tenaga berkemampuan bekerja
mandiri yang merupakan bagian dari kelompok usaha kecil tersebut," ujar
Payaman.

Menurut dia, kewirausahaan adalah sikap dan kemampuan melihat sekaligus
memanfaatkan berbagai peluang untuk berusaha. Terkait dengan kehebatan
perusahaan kecil dan menengah, Payaman menunjuk contoh ekspor Amerika
Serikat dan Jerman yang 50 persen di antaranya merupakan produk perusahaan
kecil dengan karyawan kurang dari 20 orang.

Sebaliknya, hanya 7 persen ekspor Amerika Serikat bersumber dari perusahaan
besar yang mempekerjakan 500 orang atau lebih. (luk/eln/ans)

Selasa, 16 November 2010

Jangan kebanyakan mimpi

Jangan Kebanyakan Mimpi.!

Banyak orang yang mengatakan bermimpilah, sebelum mimpi itu dilarang. Ada
juga yang menambahkan, mimpi aja, wong gratis. hehehe. Pesan yang terdengar
bernada slenge'an itu sebenarnya mengandung makna yang sangat dalam. Sebab,
banyak hal, banyak peristiwa, banyak kejadian, banyak orang besar dan
sukses di dunia, mengawalinya dari sebuah mimpi. Impian mengubah dunia,
impian meraih sukses, telah banyak mengantarkan orang-orang itu menjadi
"somebody", bahkan, ada yang from zero to hero!

Lantas, bagi kita sebagai pengusaha, mimpi seperti apa yang harus kita
canangkan untuk kita raih? Tentu, siapa pun menginginkan sebuah gambaran
kesuksesan yang berlipat-lipat. Perusahaan bisa beranak pinak, dan, kalau
bisa menghidupi tujuh turunan. Sebuah impian yang sangat indah bukan?

STOP!!! Tapi, sebelum Anda bermimpi lebih jauh, izinkan saya menghentikan
mimpi indah Anda. Mengapa? Sebab, dari banyak kasus, bahkan saya sendiri
pernah mengalami, mimpi indah itu kadang hanya jadi mimpi belaka. Malah,
kadang itu menjadi sesuatu yang membebani kita. Pernah, suatu ketika, saya
berangan-angan untuk membesarkan salah satu unit usaha saya. Waktu itu,
saya melihat sebuah peluang cukup besar yang tak bisa dilewatkan.

Sayang, ternyata ambisi dan impian saya tak bertemu dengan kenyataan. Modal
hilang, bisnis pun bahkan ikut melayang. Impian yang pernah saya bangun
dengan sebuah harapan akan mendapatkan untung besar, amblas begitu saja.
Dan, rupanya, banyak orang yang berdiskusi maupun berkonsultasi dengan
saya, mengalami hal yang sama. Pengennya meraih impian, dapatnya malah
kesulitan.

Sebenarnya saat ini, membuka bisnis seolah memang sangat mudah, layaknya
membalik telapak tangan saja. Jika punya modal, beraneka jenis franchise
dengan aneka jenis bidang usaha mudah kita jumpai di mana saja. Tinggal
bayar, lihat manualnya, kita bisa langsung membuka bisnis yang kita
dambakan. Mudah dan cepat, sangat instan.

Tapi, apakah semudah itu? Tentu tidak. Banyak sekali orang-orang yang
membeli waralaba tak berkembang usahanya. Tidak hanya satu dua. Yang
kemudian bahkan tutup alias bangkrut juga banyak. Jika sudah begini,
pelajaran apa yang bisa kita petik?

Satu hal yang ingin saya sharing-kan. Yakni, jangan kebanyakan mimpi!
Mengapa? Mimpi yang terlalu besar, mimpi yang terlalu muluk, bisa jadi
hanya akan jadi impian di siang bolong jika tak disertai dengan usaha
keras, dan kerja dari hal-hal yang kecil dan ringan dulu. Bukankah seribu
mil jarak pun ditempuh dari satu dua langkah terlebih dahulu?

Inilah kunci utama bagi kita yang ingin memulai bisnis. Mulai dari yang
kecil-kecil, mulai dari kemampuan kita. Tentu, ukuran kecil ini sangat
relatif. Namun, yang ingin saya bagikan di sini sebenarnya adalah tentang
apa yang harus kita lakukan di awal saat membuka usaha. Sebuah kisah dari
rekan saya yang berjualan siomay ini mungkin bisa jadi sebuah contoh.

Saat mengawali, ia membuka usaha siomay dengan berjualan keliling dengan
dua sepeda. Satu dijalankan oleh dirinya, dan satu lagi dijalankan oleh
adiknya. Dalam sehari, kedua sepeda itu mampu menjual minimal 100 porsi
dengan harga per porsi 4000. Ini berarti, saat itu, setidaknya, dari dua
sepeda, mereka membukukan keuntungan kotor mencapai 800 ribu per hari!
Padahal, modal membuat siomaynya, menurut penuturan rekan saya itu tak
sampai 300 ribu. Terbayang kan berapa keuntungannya per bulan?

Kini, dengan keuntungan itu, ia sudah mengembangkan armadanya menjadi 12
sepeda dengan wilayah penjualan lebih luas. Dan, kini ia tak lagi ikut
berjualan, ia hanya perlu mengontrol kualitas rasa dan kebersihan armada
penjualannya. Maka, dengan 12 sepeda itu, jika masing-masing penjualan,
katakanlah sama, yakni 100 porsi per sepeda, berapa penghasilannya?

Tak perlu repot berpikir. Yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa dengan
usaha yang kecil dan sesuai kemampuan pun, sebuah usaha bisa menghasilkan
keuntungan yang luar biasa. Tak salah memang jika kemudian kita bermimpi
membesarkan usaha, tapi, akan jauh lebih baik jika kita bangun dan beraksi
sesuai kemampuan.

Bagaimana? Siap bangun dari mimpi dan merealisasikannya saat ini? Mulailah
dari yang kecil, yang kita bisa, sesuai kemampuan, dilandasi kesenangan,
disertai tekad dan semangat pantang menyerah, maka impian, bukan lagi
sekadar khayalan..

*) Agoeng Widyatmoko, konsultan independen UKM, perencana pemasaran usaha
keluarga, penulis buku best seller 100 Peluang Usaha. Ia bisa dihubungi
melalui email agoeng.w@gmail.com atau telepon 021-30316708

Selasa, 09 November 2010

Arti Kehidupan

Arti Kehidupan

Alkisah, seorang pemuda mendatangi orang tua bijak yang tinggal di sebuah
desa yang begitu damai. Setelah menyapa dengan santun, si pemuda
menyampaikan maksud dan tujuannya. "Saya menempuh perjalanan jauh ini untuk
menemukan cara membuat diri sendiri selalu bahagia, sekaligus membuat orang
lain selalu gembira."
Sambil tersenyum bijak, orang tua itu berkata, "Anak muda, orang seusiamu
punya keinginan begitu, sungguh tidak biasa. Baiklah, untuk memenuhi
keinginanmu, paman akan memberimu empat kalimat. Perhatikan baik-baik ya."

"Pertama, anggap dirimu sendiri seperti orang lain!" Kemudian, orang tua
itu bertanya, "Anak muda, apakah kamu mengerti kalimat pertama ini? Coba
pikir baik-baik dan beri tahu paman apa pengertianmu tentang hal ini."

Si pemuda menjawab, "Jika bisa menganggap diri saya seperti orang lain,
maka saat saya menderita, sakit dan sebagainya, dengan sendirinya perasaan
sakit itu akan jauh berkurang. Begitu juga sebaliknya, jika saya mengalami
kegembiraan yang luar biasa, dengan menganggap diri sendiri seperti orang
lain, maka kegembiraan tidak akan membuatku lupa diri. Apakah betul,
Paman?"

Dengan wajah senang, orang tua itu mengangguk-anggukkan kepala dan
melanjutkan kata-katanya. "Kalimat kedua, anggap orang lain seperti dirimu
sendiri!"

Pemuda itu berkata, " Dengan menganggap orang lain seperti diri kita, maka
saat orang lain sedang tidak beruntung, kita bisa berempati, bahkan
mengulurkan tangan untuk membantu. Kita juga bisa menyadari akan kebutuhan
dan keinginan orang lain. Berjiwa besar serta penuh toleransi. Betul,
Paman?"

Dengan raut wajah makin cerah, orang tua itu kembali mengangguk-anggukkan
kepala. Ia berkata, "Lanjut ke kalimat ketiga. Perhatikan kalimat ini
baik-baik, anggap orang lain seperti mereka sendiri!"

Si anak muda kembali mengutarakan pendapatnya, "Kalimat ketiga ini
menunjukkan bahwa kita harus menghargai privasi orang lain, menjaga hak
asasi setiap manusia dengan sama dan sejajar. Sehingga, kita tidak perlu
saling menyerang wilayah dan menyakiti orang lain. Tidak saling mengganggu.
Setiap orang berhak menjadi dirinya sendiri. Bila terjadi ketidakcocokan
atau perbedaan pendapat, masing-masing bisa saling menghargai."

Kata orang tua itu, "Bagus, bagus sekali! Nah, kalimat keempat: anggap
dirimu sebagai dirimu sendiri! Paman telah menyelesaikan semua jawaban atas
pertanyaanmu. Kalimat yang terakhir memang sesuatu yang sepertinya tidak
biasa. Karena itu, renungkan baik-baik."

Pemuda itu tampak kebingungan. Katanya, "Paman, setelah memikirkan keempat
kalimat tadi, saya merasa ada ketidakcocokan, bahkan ada yang kontradiktif.
Bagaimana caranya saya bisa merangkum keempat kalimat tersebut menjadi
satu? Dan, perlu waktu berapa lama untuk mengerti semua kalimat Paman
sehingga aku bisa selalu gembira dan sekaligus bisa membuat orang lain juga
gembira?"

Spontan, orang tua itu menjawab, "Gampang. Renungkan dan gunakan waktumu
seumur hidup untuk belajar dan mengalaminya sendiri."

Begitulah, si pemuda melanjutkan kehidupannya dan akhirnya meninggal.
Sepeninggalnya, orang-orang sering menyebut namanya dan membicarakannya.
Dia mendapat julukan sebagai: "Orang bijak yang selalu gembira dan
senantiasa menularkan kegembiraannya kepada setiap orang yang dikenal."

Pembaca yang luar biasa,

Sebagai makhluk sosial, kita dituntut untuk belajar mencintai kehidupan dan
berinteraksi dengan manusia lain di muka bumi ini. Selama kita mampu
menempatkan diri, tahu dan mampu menghargai hak-hak orang lain, serta
mengerti keberadaan jati diri sendiri di setiap jenjang proses kehidupan,
maka kita akan menjadi manusia yang lentur. Dengan begitu, di mana pun kita
bergaul dengan manusia lain, akan selalu timbul kehangatan, kedamaian, dan
kegembiraan. Sehingga, kebahagiaan hidup akan muncul secara alami. luar
biasa!

-Andrie Wongso

Minggu, 07 November 2010

Doa dan Usaha

Doa Dan Usaha

Dikisahkan, ada seorang pemuda sedang naik sepeda motor di jalan raya.
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya seperti ditumpahkan dari langit.
Dengan segera ditepikan sepeda motornya untuk berteduh di emper sebuah
toko. Dia pun membuka helm yang dikenakan dan segera perhatiannya tercurah
pada langit di atas yang berlapis awan kelabu.
Sambil menggigil kedinginan, bibirnya tampak berkomat-kamit melantunkan
doa, "Tuhan, tolong hentikan hujan yang kau kirim ini. Engkau tahu, saya
sedang didesak keadaan harus segera tiba di tempat tujuan. Please Tuhan...,
please... Tolong dengarkan doa hambamu ini". Dan tak lama kemudian
tiba-tiba hujan berhenti dan segera si pemuda melanjutkan perjalanannya
sambil mengucap syukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah
mendengar dan mengabulkan doanya.

Di waktu yang berbeda, di cuaca yang masih tidak menentu, lagi-lagi hujan
turun cukup deras dan kembali si pemuda mengulang kegiatan yang sama
seperti pengalamannya yang lalu, yakni berdoa memohon Tuhan menghentikan
hujan, tetapi kali ini hujan tidak berhenti bahkan semakin deras mengguyur
bumi. Di tengah menunggu berhentinya hujan, si pemuda sadar, dia harus
berupaya menemukan dan membeli jas hujan untuk mengantisipasi saat
berkendaraan di tengah hujan. Kali ini, walaupun terlambat, dia belajar
sesuatu hal yakni ada saatnya mengucap doa tetapi juga harus disertai
dengan usaha yaitu menyiapkan jas hujan.

Suatu hari, di waktu yang berbeda,si pemuda ke kantor tanpa sepeda motornya
karena mogok akibat kebanjiran. Hujan yang kembali turun, tetapi jas hujan
yang telah dibeli, saat dibutuhkan, tiba-tiba raib entah kemana. Dia pun
mulai bertanya kesana kemari, barangkali ada yang bersedia meminjamkan
payung atau apapun untuk melindunginya dari terpaan guyuran hujan. Kembali
diulang doa yang sama, usaha yang sama, dan harapan yang sama pula.
Eh,tiba-tiba seorang teman yang bersiap hendak meninggalkan tempat itu
dengan berkendaraan mobil berkata, "Hai teman, kalau kita searah jalan. Ayo
ikut aku sekalian. Aku antar sampai tempat tujuanmu dan dijamin tidak
kehujanan, oke?". maka si pemuda itu pun mendapat tumpangan dan pulang ke
rumah dengan selamat.

Peristiwa alam yang sama, yakni turunnya hujan, telah mengajarkan si pemuda
bahwa selain doa, harus usaha dan akhirnya berserah. Karena jika kita mau
membuka hati, ternyata Tuhan tidak pernah meninggalkan kita tetapi kitalah
yang harus berupaya dengan segala cara dan pikiran yang telah dikaruniakan
Tuhan kepada kita.

Pembaca yang budiman,

Hanya sekedar mengandalkan doa saja namun tanpa usaha dan kerja nyata tidak
mungkin ada perkembangan, hasil akhirnyapun pasti nihil alias kosong,
sedangkan sekedar kerja keras tanpa diiringi doa memungkinkan kita salah
bertindak karena hanya memikirkan hasilnya. Dengan dilengkapi doa tentu
usaha kita itu terarah di jalan yang benar, baik dan halal, maka yang
paling ideal adalah usaha dan kerja keras kita yang diiringi dengan doa,
niscaya segala usaha kita akan dikabulkan dan tentu hasil yang kita
inginkan akan sukses dan memuaskan.

* Andrie Wongso
Salam sukses luar biasa!!!

Kamis, 04 November 2010

Tentang cinta

Tentang Cinta Dalam Kehidupan Kita
Oleh Andrew Ho.

"There is a comfort in the strength of love: 'Twill make a thing endurable,
which else would overset the brain, or break the heart. - Ada kedamaian
dalam kekuatan cinta: 'Mereka (cinta) akan menjadikan sesuatu berjalan
dengan baik, dimana yang lain dapat menyebabkan pusing atau patah hati."
~ William Wordsworth

Pada 23 November 2006 saya diundang dalam sebuah seminar motivasi National
Achievers Congress 2006. Kebetulan dua di antara empat pembicara dalam
seminar tersebut adalah teman lama saya, yaitu Happy S. Tjandra, penulis
buku Motiv-8, dan Darmadi Darmawangsa, penulis buku Fight Like A Tiger, Win
Like A Champion. Sedangkan dua pembicara yang lainnya adalah Tony
Christiansen dari Selandia Baru dan Dwi Krismawan.

Materi motivasi dari pembicara terakhir yang saya sebutkan tadi benar-benar
menginspirasi saya tentang peran cinta dalam kehidupan. Dwi Krismawan
mengungkapkan bagaimana ia terbebas dari jurang keterpurukan dan berhasil
menciptakan kehidupan yang penuh kebahagiaan. Cinta telah berperan sangat
penting dalam kehidupannya.

Sebenarnya cinta begitu penting bagi siapa pun di dunia ini seperti tubuh
memerlukan oksigen. Seorang filosof seperti Plato menyebutkan, "Siapa yang
tidak terharu oleh cinta, berarti berjalan dalam gelap gulita." Ia
menyatakan begitu penting cinta bagi kehidupan kita. Hanya saja selama ini
kita tak cukup memahami pengertian cinta itu sendiri, karena cinta memiliki
makna yang begitu dalam. Kali ini dari kehidupan Dwi Krismawan kita dapat
belajar memahami unsur-unsur yang selalu ada dalam cinta.

Dwi Krismawan adalah seorang pemuda yang bercita-cita menjadi seorang
pilot. Ia berupaya keras untuk mencapai cita-cita tersebut, sampai akhirnya
ia berhasil diterima di Sekolah Tinggi Penerbangan Curug. Tetapi ia
mengalami kecelakaan tragis tiga bulan sebelum diwisuda, tepatnya pada
tanggal 28 Januari 1997. Pesawat jenis FG-10 yang ia piloti bersama sang
instruktur meledak dan hancur setelah menabrak punggung Gunung Gere di Jawa
Barat.

Walaupun berhasil diselamatkan 8 jam kemudian, tetapi keadaan fisik Kris
sudah sangat memprihatinkan. Kedua daun telinganya hilang, dan kedua
kelopak matanya tidak lagi sempurna. Ia harus menjalani 15 kali bedah
konstruksi dan dirawat intensif selama 15 bulan di rumah sakit.

Keadaan Kris yang memprihatinkan dan hampir tidak memiliki masa depan tak
membuat kekasihnya, Bethania Eden, berpaling. Bethania berusaha mencurahkan
perhatian untuk kekasihnya. Ia terus memberikan perhatian agar Kris kembali
sembuh dan memiliki rasa percaya diri.

Saat ini Kris yang tak lagi tampan justru mampu menertawakan dirinya
sendiri. "Saya pernah diundang untuk main film yang berjudul Bangkit dari
Perkuburan. Saya tidak perlu make up (dandanan) lagi! Hemat waktu!"
katanya.

"Sewaktu saya bermain dengan anak saya di tepi kolam air, kedengaran orang
berkata, The Beauty and the Beast (Si Cantik dan Si Buruk Rupa)," imbuhnya.

Menurut Erich Fromm, murid kesayangan Sigmund Freud, cinta mengandung empat
unsur yaitu perhatian, tanggung jawab, rasa saling menghormati, dan
pengetahuan. Bethania benar-benar memiliki unsur cinta yang teramat penting
yaitu perhatian. Ia mencurahkan segenap perhatian kepada kekasihnya sampai
akhirnya Kris kembali memiliki rasa percaya diri tersebut. Perhatian adalah
salah satu unsur yang selalu ada dalam cinta, dan Bethania adalah salah
satu personifikasi yang sudah mampu menunjukkan cinta dalam perbuatannya.

Sementara itu, pada proses pascamasa penyembuhan semula Dwi Krismawan tak
pernah dapat menerima keadaan fisiknya yang hancur. Tetapi Bethania tak
pernah letih memberikan pengertian agar Kris selalu berpikir positif.
Bethania tak pernah menuntut Kris segera menerima keadaannya yang baru. Ia
memahami keadaan Kris yang membutuhkan waktu untuk memulihkan kepercayaan
dirinya dan sangat membutuhkan seseorang yang tulus dan setia mendampingi
dirinya. Sikap Bethania terhadap Kris tersebut merupakan salah satu bentuk
dari unsur cinta. Ia sangat memahami Kris dari segi latar belakang keadaan,
keluarga, apa yang ia butuhkan dan lain sebagainya. "Kalau kamu malu, kamu
akan semakin terpuruk tetapi kamu harus belajar menerima kenyataan, belajar
menerima apa yang telah terjadi dengan besar hati," demikian kata Bethania
membesarkan hati seperti ditirukan Kris sendiri. Cinta dari Bethania
akhirnya menjadikan Kris pribadi yang positif dan motivator yang telah
memberikan banyak inspirasi kepada banyak orang.

Ketika Kris mengalami kecelakaan, sebenarnya Bethania dapat meninggalkan
Kris begitu saja. Apalagi waktu itu Bethania masih cukup muda dan cantik,
status hubungan mereka juga belum menikah, terlebih hubungan asmara mereka
tidak direstui keluarga Kris. Tetapi Bethania memilih untuk tetap
mendampingi Kris dan terus memberinya semangat hidup.

Bethania merasa bertanggung jawab untuk membangkitkan semangat hidup
kekasih yang kemudian menjadi suaminya itu. Ia merasa sudah seharusnya
membantu memulihkan kepercayaan diri pasangannya dengan berbagai cara,
termasuk mengajak Kris jalan-jalan ke pusat-pusat perbelanjaan sekaligus
menemani dan mendorongnya berinteraksi dengan banyak orang.

Sebaliknya, Kris juga sangat mencintai istri dan anak-anaknya. Oleh sebab
itu ia merasa bertanggung jawab untuk membahagiakan mereka dari segi
material, emosional, spiritual dan menata masa depan anak-anaknya sebaik
mungkin. Dari sanalah Kris mampu bangkit, memulai karir sebagai agen
asuransi sampai akhirnya pernah dinobatkan sebagai agen asuransi terbaik
dan kini menjadi motivator yang inspiratif.

Padahal ketika Kris menikah pada tanggal 17 Juli 1999, keadaan ekonomi
keluarganya sangat memprihatinkan karena ia kesulitan mendapatkan
pekerjaan. Beban ekonomi kian berat ketika putra pertama mereka lahir.
Tetapi di tengah deraan kesulitan tersebut, Bethania tetap menunjukkan rasa
hormat terhadap suaminya sebagai kepala rumah tangga sebagai bentuk cinta
kasih dan kesetiaannya.

Dalam sebuah wawancara di majalah Voice, Bethania menyatakan, "Bagaimana
bisa kita setia dan mencintai Tuhan YME yang tidak kelihatan, kalau yang
kelihatan saja tidak bisa kita cintai dan setia." Bethania tetap bangga
pada kelebihan dan menerima kekurangan Kris dengan tulus. Sikap Bethania
yang selalu menghargai pasangan apa pun keadaan pasangannya adalah salah
satu contoh dari unsur yang selalu ada dalam cinta.

Cinta benar-benar berperan penting dalam kehidupan Kris. Cinta kasih
istrinya adalah salah satu daya dorong yang luar biasa untuk menggapai
keberhasilan dan kebahagiaan yang ia miliki saat ini. Begitu pun dalam
kehidupan kita, cinta juga berperan sangat penting terutama cinta yang
mengandung keempat unsur cinta sebagaimana diuraikan di atas. "We are never
so helplessly unhappy as when we lose love. - Kita tak akan pernah begitu
menderita dan putus asa seperti bila kita kehilangan cinta," kata Sigmund
Freud.