Kamis, 31 Juli 2008

Mengirim Surat Kepada Tuhan

Mengirim Surat Kepada Tuhan
Oleh : Gede Prama

Menurut sebuah cerita yang tidak jelas asal usulnya, beberapa minggu sebelum Suharto lengser, ada seorang pegawai kantor post yang dipecat. Pasalnya, tukang stempel prangko ini berperilaku agak aneh. Setiap kali memberi stempel pada prangko yang bergambar presiden Suharto, dia pukul keras-keras sambil berteriak : 'rasain lu !'. Karena asal usul ceritanya tidak jelas, tentu saja saya tidak bisa mempertanggungjawabkannya.

Itu cerita dinamika kehidupan kantor post di republik ketoprak, dimana semua mau jadi pemimpin, dan tidak ada yang mau jadi bawahan orang lain.

Awal desember lalu, stasiun TV HBO memutar film yang bertutur tentang dinamika kehidupan di kantor post Los Angeles.

Di kantor post terakhir, hampir setiap hari, ada saja surat yang ditujukan kepada Tuhan. Untuk itu, dalam kelompok surat yang bermasalah, disediakan kotak yang berisi surat-surat dengan tujuan sama : Tuhan.

Karena tidak tahu mesti diapakan surat-surat buat Tuhan ini, dan di AS ada undang-undang ketat yang melarang membuka surat orang lain, maka menumpuklah surat-surat ini jauh melebihi kapasitas kotak yang disediakan.

Lebih-lebih menjelang thanksgiving day, surat yang ditujukan kepada Tuhan semakin membengkak jumlahnya. Tukang sortir suratpun dibuat pusing olehnya. Seorang tukang sortir surat bernama Tom, diracuni oleh teman-temannya agar berani membuka salah satu surat buat Tuhan. Dengan sembunyi-sembunyi, kaum 'makar' ini membuka satu surat. Eh, ternyata isinya sangat membuat hati mereka tersentuh. Seorang tua, yang isterinya telah lama meninggal, tidak memiliki siapa-siapa untuk diajak bicara, pesimis bisa menemukan teman hidup, menulis : 'Tuhan saya akan bunuh diri dengan menceburkan diri ke laut pada hari Minggu depan".

Tentu saja semua pembaca surat kalang kabut, dan seperti dihadapkan pada kewajiban untuk mencegah petaka kehidupan itu terjadi. Maka, bersiap-siaplah mereka membolos kantor untuk menyelamatkan sebuah nyawa.

Merasa ketagihan, kelompok makar ini sering membuka surat buat Tuhan. Salah satunya, surat seorang pengamen yang terompetnya dirampok orang. Alhasil, hidup pengamen ini terancam karena periuk nasinya dirampok. Salah seorang dari kelompok makar tadi, sangat tersentuh dengan nasib pengamen ini. Dia keluarkan sebagian tabungannya untuk membeli terompet baru dan bagus, dan dia kirim ke pengamen tadi.

Lama-lama, skandal perbuatan melawan hukum dalam bentuk membuka surat orang lain inipun ketahuan. Terutama karena ada banyak orang datang ke kantor post, mengirim surat buat Tuhan, dan mengharap datangnya kejaiban.

Singkat cerita, masuklah kasus ini ke meja pengadilan. Dan, si Tom tadilah terdakwanya. Anehnya, manusia biasa yang merekayasa keajaiban Tuhan inipun menemukan keajaiban. Semua pegawai post lengkap dengan armada postnya, turun berdemonstrasi di depan pengadilan, sampai-sampai memacetkan seluruh kota. Keputusan pengadilan, mudah ditebak, Tom bebas.

Anda boleh saja skeptis dengan cerita di atas, dengan menyebut : 'ah, film !'. Akan tetapi, spirit yang dihadirkan cerita film ini adalah spirit hidup mencintai orang lain.

Meminjam kerangkanya Shatki Gawain, penulis buku The Four Levels Of Healing, ada dua bentuk fundamental cinta : spiritual love dan human love.

Dalam klasifikasi cinta yang pertama, Anda terkait secara amat erat dengan spirit dan esensi hidup Anda, alam semesta serta kebersatuan dengan ciptaan Tuhan yang manapun. Jenis cinta ini, masih menurut Gawain, adalah unconditional love. Memberi tanpa mengharapkan hasil.

Klasifikasi cinta yang kedua meliputi kebutuhan-kebutuhan pribadi seperti kebutuhan fisik, emosi maupun mental. 'It's not unconditional love', tulis Gawain.

Kedua jenis cinta ini, sebenarnya saling terkait. Cinta spiritual akan sangat terganggu bila secara emosional Anda terganggu, tidak tahu bagaimana mencintai diri sendiri dan kehidupan, dan tidak tahu bagaimana hidup dengan our sense of truth. Jadi, titik berangkatnya, mulai dengan mencintai sang aku.

Di masa kecil, saya pernah mengalami gangguan di sisi keyakinan akan diri sendiri. Sejumlah rekan menyebut saya hidung besar, hidung kerbau, lobang hidung terbesar dan hinaan sejenis. Hampir sepanjang masa kecil saya, diwarnai oleh ketakutan melihat hidung sendiri. Sampai-sampai, pernah bercita-cita akan mengoperasi plastik hidung kalau punya uang kelak.

Dalam perjalanan menyembuhkan diri sendiri ini, belakangan saya bertemu seorang rekan pengusaha Chinese yang mengerti betul seluk beluk hoki. Sampai-sampai buku yang asli dari Cina sana ia perlihatkan ke saya. Ternyata, hidung yang tadinya menjadi sumber minder ini, katanya mengandung hoki yang amat besar. Dan, entah dari mana datangnya energi, saya tidak lagi menggendong rasa minder akibat hidung. Lebih dari itu, tubuh ini rasanya demikian ringan untuk diajak mencintai orang lain dan semesta.

Apa yang mau saya ceritakan melalui pengalaman kecil ini, dengan kesediaan untuk menerima sang aku, lengkap bersama kekurangan yang paling menjengkelkan sekalipun, saya dibekali energi besar untuk mengatakan I love you kepada anak, isteri dan juga komunitas semesta.

Sebagaimana langkah penyembuhan yang ditulis Shatki Gawain : 'Learn to accept and appreciate yourself, learn to love even your "unlovable" parts, and you will see that love just blossoms with in you and around you'.

Dan, Andapun tidak perlu mengirim surat kepada Tuhan

Etos kerja

Etos Kerja dalam Sepincuk Nasi Pecel

UNTUK apakah kita hidup?
Tanyakanlah ini kepada Mak Paenah yang tiap hari berjualan pecel di
depan Gedung DPRD Sumatera Utara (Sumut) di Medan. Dalam usianya yang-
menurut pengakuannya-86 tahun, Mak Paenah masih setia mendorong-
dorong kereta pecelnya demi mengumpulkan rupiah selembar demi
selembar dari Rp 1.500 per pincuk (piring dari daun pisang) pecel
jualannya itu.

Gerobaknya cukup berat dengan dua roda becak yang sering kempis
anginnya. Sebuah topi bambu lebar menemani tubuh ringkihnya menempuh
jarak sekitar lima kilometer dari rumah cucunya di kawasan Glugur ke
Gedung DPRD Sumut di Jalan Imam Bonjol melewati jalanan aspal yang
terik dan ramai.

Pernah suatu hari Mak Paenah tidak kunjung muncul pada jam makan
siang, dan baru datang berjualan saat matahari sudah sangat condong
ke barat.

"Aku diserempet mobil. Iki lho awakku babak bundas (lihat tubuhku
babak belur)," katanya dalam ujaran yang selalu tercampur dengan
bahasa Jawa kasar.

Setiap hari, biasanya sekitar pukul 11.00, ia sudah tiba menggelar
dagangannya. Dan, beberapa jam kemudian, ia pulang lagi dengan kereta
dorongnya yang sudah kosong dan segepok uang di dalam tas pinggang
yang terbuat dari kain batik lusuh.

Soal berapa banyak uang dalam tas pinggangnya itu, Mak Paenah sering
tidak tahu. Ia memang tidak peduli dapat uang berapa hari itu.
Bahkan, sering ada beberapa lembar ribuan tercecer di bawah kakinya,
yang lalu diambilkan orang lain. Yang ia tahu pasti, ia tidaklah
pernah rugi.

"Bathi kuwi ora usah okeh-okeh. Serakah jenenge... (kalau untung itu
jangan besar-besar. Serakah namanya...)," katanya pelan. Tidak
serakah ini pula yang membuat Mak Paenah cenderung royal dalam
memberi nasi pecel saat dagangannya hampir habis. Kata orang, kalau
beli di Mak Paenah, sebaiknya menjelang ia mau pulang. Pasti dapat
pecel lebih banyak.

Dengan keyakinan pasti tidak rugi itu pula, sering Mak Paenah
membelikan rokok untuk orang lain yang tampak memerlukannya. Andi
Lubis, fotografer harian Analisa, Medan, yang perokok berat, beberapa
kali diberi rokok oleh Mak Paenah kalau tampak sedang bengong dan
tidak merokok.

"Nyoh rokok. Kowe lagi ra duwe duwit tho? (Ini rokok. Kamu sedang
tidak punya uang kan?)" kata Mak Paenah tanpa basa-basi.

Bagi Mak Paenah, apa salahnya menyisihkan uang untuk menyenangkan
orang lain. Tidak jarang ia memberikan pecelnya secara gratis kalau
ada yang lapar, tapi tak punya uang.


***
JADI, untuk apa Mak Paenah berjualan pecel dalam usianya yang sudah
sangat senja itu? Di kota-kota besar, orang-orang yang jauh lebih
muda darinya sudah santai-santai di rumah menikmati uang pensiun
bersama cucu-cucu.

"Aku bekerja karena memang manusia itu harus bekerja. Aku sakit kalau
nganggur. Menganggur adalah bersahabat dengan setan. Kerja selalu ada
kalau kita mau mencarinya. Jangan mau menganggur, sampai kita mati,"
katanya seakan ahli filsafat.

Banyak yang meragukan apakah benar Mak Paenah benar telah berusia 86
tahun. Tapi, mendengar beberapa cerita yang sering diungkapkannya
sambil meracik pecel, apalagi mengamati wajahnya yang selalu teduh
itu, kita yakin bahwa setidaknya ia sudah berusia di atas 80 tahun.
Ia pernah bercerita bagaimana suaminya yang tentara terbunuh dalam
perang kemerdekaan, sementara saat itu anak sulungnya kira-kira
berusia belasan tahun.

Begitu suaminya meninggal, rasa tanggung jawab untuk menghidupi
ketiga anaknya memaksa Mak Paenah yang lahir dan besar di Blitar,
Jawa Timur, ini berjualan pecel. Baginya, tidak ada cerita untuk
meminta belas kasihan dari orang lain.

"Aku hanya bisa bikin pecel. Jadi, aku mencari makan dengan pecel
ini. Sudah puluhan tahun tanganku bikin sambel pecel. Sampai kapalan
mengulek... he-he-he...," kata Mak Paenah sambil memamerkan mulutnya
yang sudah ompong.

Mengapa tidak menikah lagi setelah menjanda waktu itu ?

"Sopo sing gelem karo rondo bakul pecel...lethek...he-he-he... (siapa
yang mau dengan janda penjual pecel yang lusuh dan bau)," katanya
terkekeh.

Tapi, setelah anak-anaknya bisa mandiri, untuk apa uangnya ?

"Keuntungan penjualan, tiap hari saya simpan di bawah bantal. Uang
itu saya pakai untuk menolong orang kalau ada yang membutuhkannya.
Siapa tahu, kan?" katanya dengan arif.

Mak Paenah menceritakan, ia pernah menolong tetangganya yang mendadak
membutuhkan uang. Tetangganya itu tidak menyangka ketika tiba-tiba
Mak Paenah yang hanya berjualan pecel itu mampu meminjaminya uang
dalam jumlah cukup besar, tanpa bunga pula.

Setiap pagi, Mak Paenah mengambil Rp 150.000 dari simpanannya untuk
berbelanja di Pasar Glugur. Pukul 04.00, ia sudah bangun dan pada
pukul 06.00 ia sudah mulai memasak bumbu-bumbu pecel dan juga
sayurannya.

"Bangun pagi membuat saya sehat. Tiap hari berbelanja dan menawar
juga membuat saya tidak pikun," paparnya. Dalam usianya itu, Mak
Paenah sering membuat kagum orang dengan kemampuannya menghitung
dengan cepat.

"Meja ini habis sembilan pincuk. Jadi, tiga belas ribu lima ratus,"
katanya suatu kali saat menagih kepada para wartawan yang makan.


***
PADA bulan Juni dan Juli 2002 , para wartawan Medan yang biasa
mangkal di depan Gedung DPRD kehilangan Mak Paenah. Dua bulan lebih
wanita tua itu menghilang. Banyak yang kuatir kalau-kalau Mak Paenah
sakit, atau bahkan sudah meninggal dunia. Dan, Mak Paenah baru muncul
lagi pada akhir Juli.

Ternyata, Mak Paenah pulang ke Blitar menengok sanak saudaranya.
Menurut dia, semua yang dikenalnya sudah meninggal.

"Uangku habis Rp 3,5 juta untuk beli oleh-oleh. Tapi, aku senang bisa
melihat Blitar lagi. Sudah sangat berubah. Aku sama sekali tidak bisa
mengenali tempat mana pun di sana," katanya dengan mata berbinar-
binar saat membicarakan kota yang ditinggalkannya pada awal tahun
1940-an ini.

Ketika diingatkan bahwa para wartawan kuatir dengan kepergiannya
selama dua bulan itu, Mak Paenah justru marah.

"Kamu yang muda-muda kok tidak punya perasaan. Kan, semua tahu di
mana rumahku. Kalau kuatir, ya mbok menengok ke rumah. Coba,
bagaimana kalau saya sakit betulan? Ya, kan? " kata Mak Paenah.

Namun, sejak awal Agustus ini, Mak Paenah menghilang kembali. Setelah
ditengok ke rumahnya, ternyata ia tidak kurang suatu apa.

"Aku pindah tempat jualan. Aku ngalah pada yang muda yang lebih perlu
uang,'' katanya yang kemudian menimbulkan tanda tanya.

Ternyata, Mak Paenah kini memilih berjualan di Lapangan Merdeka.
Menurut dia, di depan Gedung DPRD itu sudah muncul seorang saingan.
Seorang penjual pecel yang masih muda dilihatnya selalu berusaha
menyainginya dalam merebut hati pembeli.

"Aku tidak ingin bersaing. Rezeki sudah ada yang mengatur. Biarlah
aku yang sudah tua ini pindah," katanya tanpa emosi. (ARBAIN RAMBEY)
 
Sumber: KOMPAS - Jumat, 16 Agustus 2002 

Belajar mencinta

BELAJAR MENCINTA

1. Bagi orang yang ringan mulut, perlu belajar diam. Mulai dengan memperpendek kata-kata ketidakpuasan.

2. Bagi orang pendiam dan / atau sudah pandai mengendalikan lidah, belajarlah berdoa dengan diam-diam di hati, bila disakiti hatinya.

3. Jangan membiasakan diri marah terhadap Tuhan bila dikecewakan. Bila terhadap Tuhan pun biasa marah, apalagi terhadap sesama manusia.

4. Perlulah kita belajar marah, secukupnya. Marah yang pakai alasan dan pakai aturan atau ukuran.

5. Marah yang keterlaluan dan berkepanjangan, hanya menambah luka-luka di batin sendiri.

6. Terhadap orang yang tidak / belum dapat diperbaiki, hendaknya kita melatih diri untuk bersabar dan berbelaskasihan. Jangan malahan meningkatkan kemarahan dan kebencian.

7. Bila "dia" tidak / belum dapat berubah, aku sendirilah yang segera mulai mengubah diriku menjadi baik atau lebih baik. Maka terciptalah suatu awal keseimbangan.

8. Ada orang yang punya fasilitas sedikit tetapi sangat bersyukur. Jika dikecewakan, ia menganggap kekecewaan sebagai hal yang biasa saja, hal yang menimpa setiap orang, di waktu-waktu tertentu, bahkan ia bisa mengubah kekecewaan menjadi hikmah dan harapan : esok akan lebih baik !!

9. Ada pula orang-orang yang beruntung di dalam usaha-usahanya, akan tetapi masih selalu merasa kurang. Bahkan mengiri pada orang-orang lain yang dipandangnya lebih beruntung dan lebih mapan. Secara lahiriah mewah, tetapi di batin tumbuh luka-luka iri dan nafsu serakah yang tak terpuaskan. Ia, si kaya itu, berwajah muram, sepertinya berbedak hitam.

10. Di hidup ini ada orang-orang yang berkedudukan tidak tinggi dan berharta cukup-cukup saja. Tetapi ia puas dengan yang telah dicapainya dan pantang berambisi lebih. Ia puas dengan yang pas. Dia ini mirip pemain yang pas mendapat kartu-kartu yang hanya paspasan baik. Tetapi dia sangat pandai menjalankannya, sehingga selalu keluar sebagai pemenang !!

11. Kita menderita karena kita cinta kepada orang itu yang memang kesayangan kita.

12. Kita menderita karena orang kesayangan kita tertimpa malapetaka.

13. Kita menderita karena orang-orang yang sangat kita cintai menyakiti hati kita. Tetapi kita tetap mencintai mereka karena kita tak bisa berhenti mencintai mereka.

14. Bisa kita coba berhenti mencintai mereka, atau mengubah diri & hati untuk membenci mereka; akan tetapi hasilnya ialah : derita yang lebih parah bagi kita sendiri !!

15. Tetapi bertahan atau meneruskan mencintai mereka, juga merupakan derita. Akan tetapi menderita karena cinta merupakan pilihan lebih baik daripada menderita karena benci.

16. Aku mau menderita karena cinta; menderita dalam kesadaran & kebaikan hati; dalam penerimaan yang rela. Dalam doa-doa yang suci, manis & mengobati hati.

17. Ada seseorang yang sangat marah kepada sahabatnya dan berniat mau diam saja bila disapanya. Di saat dan tempat tak terduga, ia jumpa dan langsung disapa oleh sahabatnya yang dia benci. Akan tetapi ganti diam / marah, ia tersenyum dan memeluknya. Ketika tersadari lebih mendalam, ia menyesal !! "Selama ini saya telah salah sikap, ya, saya telah keterlaluan benci padanya !!"

18. Ada suatu daya dalam diri kita masing-masing yang sungguh agung. Daya yang lebih besar dari yang kita sadari dan mengerti.

19. Cinta yang dalam & berakar lama di batin terdalam, punya daya seperti mukjizat.

20. Ada daya lain pula yang sewaktu-waktu mendatangi kita. Daya cinta pemberian Tuhan !! Pun pula daya-daya doa kita & doa orang lain.

Pertapaan Rawaseneng

Perampok dalam diri kita.

Perampok Dalam Diri Kita
Oleh : Gede Prama

Satu hal yang tidak bisa dihindari oleh sejumlah konsultan, lebih-lebih yang
berinteraksi intensif dengan pemilik dan pimpinan puncak, adalah menjadi
saksi hidup dari ketidakdewasaan sejumlah orang kaya pemilik perusahaan.

Ada yang baru tidak punya jabatan kemudian bikin kacau di mana-mana. Ada
yang memanas-manasin pemegang saham dengan surat kaleng. Ada yang mabok
pujian kemudian buta dengan informasi yang sebenarnya. Ada yang tidak
sependapat dengan orang tuanya, kemudian menganulir keputusan, dan
menimbulkan ketakutan di setiap pojokan organisasi. Ada yang tidak
memiliki alat memimpin yang lain kecuali mengancam. Dan masih banyak lagi
variasi lainnya.

Yang jelas, catatan kerja yang ditandai oleh seringnya bertemu dengan
manusia-manusia seperti di atas, membuat saya amat bersukur. Sebab,
perjalanan hidup yang bermula dari tangga yang amat bawah, plus seluruh
penderitaannya, membuat saya tahu apa-apa yang tidak diketahui
rekan-rekan yang baru lahir sudah menjadi orang kaya.

Sebagian klien yang dekat dengan saya, dan berhasil saya buat menjadi lebih
dewasa, berfikir kalau saya memperoleh semua ini dari sekolah saya di INSEAD
Prancis, atau di Universitas Lancaster Inggris. Kalau boleh jujur, kearifan
dan kematangan hidup lebih banyak saya temukan secara otodidak di
Universitas Kesulitan. Sebuah sekolah yang amat saya banggakan. Dan
memiliki kontribusi jauh lebih tinggi dari Universitas manapun di dunia.

Sebenarnya, ingin sekali saya mengulas semua ini dalam sebuah buku khusus.
Atau dalam sebuah tulisan panjang yang spesial membahas soal kedewasaan.
Sayangnya, saya punya dua pembatas. Pertama, waktu sudah habis untuk jadi
eksekutif puncak perusahaan, pembicara publik dan penulis. Kedua, sedang
mengurangi diri membuat ide, konsep dan paradigma yang serba jelas namun
memerangkap.

Akan tetapi, dengan seluruh keterbatasan ini, izinkan saya bertutur secara
ringkas mengenai sebagian kecil saja dari seluruh aspek kedewasaan. Dalam
bahasa sederhana, tubuh kita sebenarnya kemana-mana sedang membawa dua jenis 'perampok'. Perampok pertama, ia berasal dari luar namun dibawa masuk ke
dalam tubuh oleh panca indera, khususnya mata dan telinga. Perampok ke dua
bersumber dari dalam, pembawanya adalah emosi, perasaan dan opini.

Mari kita mulai dengan perampok jenis pertama. Hati-hati dengan mata dan
telinga. Melalui mata kita memasukkan banyak sekali hal ke dalam tubuh. Yang
jelas, ada beberapa hal yang amat terpengaruh oleh pandangan mata.
Keinginan, cinta, nafsu, dengki, iri, kagum, suka, benci hanyalah sebagian
hal yang dipengaruhi oleh pandangan mata. Demikian juga dengan telinga. Ia membawa masuk dan mempengaruhi sama banyaknya unsur dalam tubuh kita.

Orang-orang dengan kedewasaan kurang, membiarkan dirinya didikte oleh mata
dan telinga. Apa saja yang dibawa masuk oleh mata dan telinga, dikonsumsi
mentah-mentah. Ini yang bisa menjelaskan, kenapa ada pengusaha yang mudah
sekali marah dan meledak di depan umum. Ini juga yang bisa menerangkan,
kenapa begitu ada berita buruk, orang langsung bereaksi secara
serabutan. Proses masuknya informasi dan stimuli dari luar, tidak melalui
proses pengolahan yang matang, namun langsung menjadi sikap dan keputusan.
Saya amat dan teramat sering menjadi penasehat dan konsultan dari
manusia-manusia jenis ini.

Jenis perampok kedua lain lagi. Emosi, perasaan dan opini sudah ada di dalam
diri kita sebagai modal untuk berespons. Apapun stimuli dan informasi yang
datang dari luar, akan diperkosa untuk masuk ke dalam kerangka emosi,
perasaan dan opini yang ada, untuk kemudian diproduksi menjadi sikap dan
keputusan. Sikap dan keputusan menjadi banyak gelapnya, jika kerangka
terakhir juga gelap. Manusia-manusia yang sejak kecil sudah dibentuk jadi
orang penuh curiga, mudah meledak, tersinggung, senang dipuji, dan
sejenisnya mudah sekali dirampok oleh emosi, perasaan dan opini.

Manusia-manusia yang self management-nya kurang tertata, membiarkan saja
kedua perampok di atas hidup semena-mena di dalam tubuh.

Ada yang dibuat menjadi manusia frustrasi. Ada yang dibohongi seumur hidup.
Ada yang dibiarkan menjadi manusia kanak-kanak selamanya. Ada yang baru
sadar setelah ada dalam kebangkrutan atau masuk penjara. Ada yang terkejut
dengan perubahan lingkungan, begitu keadaan berubah. Dan masih banyak lagi
spesies lainnya.

Anda tentu bertanya, siapa yang bisa menghalangi kesewenang-wenangan dua
perampok di atas? Pengalaman saya bertutur, yang bisa menghalangi dan
mengelolanya hanya kejernihan fikiran.

Ibarat melihat bayangan bulan di air. Kita tentu saja tidak bisa menemukan
bulan dengan mengaduk-aduk airnya. Ketenangan dan kejernihan adalah syarat
utama bagi utuhnya bayangan bulan.

Bedanya, jika ketenangan air hanya butuh kesabaran untuk menunggu saja,
ketenangan tubuh memerlukan latihan yang lama dan panjang. Saya 'dilatih'
oleh banyak sekali kesulitan hidup. Ditabrak, diinjak, dibuat hampir mati
oleh banyak ketidaktahuan. Berperang amat lama dengan sejumlah hawa nafsu.
Dan proses peperangan terakhir akan terjadi sepanjang manusia masih
bernafas. Belum sempurna memang. Namun, begitu kejernihan fikiran berada
jauh di atas hawa nafsu, sukses mudah dan senang sekali datang berkunjung.

Nah, bila ada orang yang mampu meletakkan kejernihan fikirannya, di atas
semua unsur tubuh, perampok manapun akan berubah menjadi sahabat. Dari
sinilah kedewasaan akan tumbuh dan berkembang secara meyakinkan.

Selasa, 22 Juli 2008

BANGAU dan KURA-KURA

BANGAU dan KURA-KURA
Iman Adalah Mematuhi Bukan Mempertanyakan

Sebuah desa yang dulunya subur dan makmur saat ini sedang dilanda kemarau
yang panjang, sehingga banyak tanaman dan pohon yang mati kekeringan. Dan,
disana hiduplah burung bangau dan kura-kura. Mereka bersahabat.

Dibandingkan dengan bangau, kondisi kura-kura lebih buruk, ia mulai lemah
karena kelaparan dan susah mencari air. Bangau sangat kasihan melihat
sahabatnya itu, maka ia mengajak kura-kura untuk mengembara mencari tempat
yang lebih baik.
"Kura-kura maukah engkau kuajak mencari air dan makanan di tempat lain ?",
ajak sang bangau.
"Oh, sahabatku yang baik, aku senang sekali engkau mau menolongku", jawab
kura-kura.
"Baiklah, engkau dapat bergelantungan kepadaku dengan cara menggigit kayu
yang akan ku pegang. Tetapi ingat, selama dalam perjalanan engkau tidak
boleh menanyakan sesuatu kepadaku sebelum sampai di tempat tujuan", saran
sang bangau.

Kemudian, mulailah mereka terbang melintasi tempat-tempat yang selama ini
belum pernah dilihat oleh kura-kura dari angkasa.

Ketika kura-kura melihat sebuah danau yang jernih dan indah, ia ingin sekali
mengajak bangau menuju ke sana, dan kura-kura pun lupa pada pesan sang
bangau bahwa selama dalam perjalanan ia tidak boleh berkata-kata. Ketika ia
akan bertanya, terbukalah mulutnya, sehingga gigitannya lepas dan kura-kura
itu terjatuh menimpa batu hingga akhirnya tewas.

Sering kali saat kita menghadapi persoalan hidup, kita bertanya kepada Tuhan
kenapa hal ini harus terjadi dalam hidup kita ?
Sering pula terjadi, saat kita merasa sudah ikut Tuhan dan setia menjalankan
firmanNya, tapi persoalan hidup kita tetap ada atau bahkan lebih banyak dari
waktu sebelum bertobat, yang akhirnya membuat kita menjadi kecewa dan
menjauh dari Tuhan.

Cerita diatas mengajarkan kepada kita untuk memiliki iman yang mematuhi
bukan mempertanyakan. Tuhan maha tahu apa yang terbaik buat hidup kita,
persoalan hidup yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita adalah padang
gurun yang harus kita lewati untuk menuju ke tanah perjanjian yang telah
disediakanNya buat kita yang tentunya adalah YANG TERBAIK buat kita.

Di dalam menghadapi persoalan hidup, Tuhan mau kita tetap taat kepadaNya,
tidak mempertanyakan kenapa, mengapa dan bagaimana, tetapi hadapi dengan
iman yang mematuhi dan percaya bahwa yang terbaiklah yang disediakanNya.

Sering pula kita berpikir apa yang kita lihat itu yang terbaik, padahal
belum tentu itu yang terbaik, percaya saja Tuhan lebih tahu yang mana yang
terbaik buat kita.

Seperti kura-kura, kita tidak akan mampu jika harus berjalan sendiri untuk
mencari keselamatan dalam hidup kita, kita butuh "BANGAU" yang menuntun
kita.

GBU all.

Jam

Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang
dibuatnya. "Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak
31,104,000 kali selama setahun?"

"Ha?," kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya?"

"Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?"

"Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping
seperti ini?" jawab jam penuh keraguan.

"Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?"

"Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu" tetap saja jam
ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam. "Kalau
begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?"

"Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa
terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena
ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu
berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.

Renungan :
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa
berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata
mampu. Bahkan yang semula kita
anggap impossible untuk dilakukan sekalipun.

Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah mencobanya.

Jumat, 18 Juli 2008

SIKAP MENGHADAPI KEHILANGAN

SIAKAP MENGHADAPI KEHILANGAN

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu
arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi
finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi
rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi
kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah
karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki
itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa
perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan
pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya
terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.

"Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok," gerutunya kecewa.
Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank."Sebaiknya koin in Bapak
bawa saja ke kolektor uang kuno," kata teller itu memberi saran. Lelaki
itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung
sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan
dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya
beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk
istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk
menyimpan jambangan dan toples.

Setelah ia membeli lembaran kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu
tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel
seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang
dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal.
Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100
dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun
pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi
agar dipilih lelaki itu.

Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu
tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun
segera membawanya pulang. Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru.
Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela
dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita
terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak
ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun
setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima.
Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat
itu seorang perampok keluar dari semak-semak,mengacungkan belati, merampas
uang itu, lalu kabur.Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati
suaminya seraya berkata, "Apa yang terjadi? Engkau baik-baik saja kan? Apa
yang diambil oleh perampok tadi?
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah
koin penyok yang kutemukan tadi pagi".

Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Semoga kita termasuk orang
yang bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses hanyalah TITIPAN
Allah. Benar kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali
pengalaman hidup. Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa
harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan ?**

" Kemenangan Hidup bukan berhasil mendapat banyak, tetapi ada pada kemampuan
menikmati apa yang didapat tanpa menguasai.

Best Regards,

Jungky Junanto