Selasa, 30 Juli 2013

NAMA
(Kontemplasi  Peradaban)
         
Belum lama ini,  saya berlima (Rm. Miranto, Rm. Yoh Sujono, Pst. Harry Singkoh, Pst. Jovi dan saya) mengadakan perjalanan menuju Coolibah.
Sebelum sampai di  Puncak Pass, saya dikagetkan dengan  "penampakan"  beberapa wanita muda yang mengenakan kaos biru muda yang bertuliskan PSK (Seingat saya, PSK itu Pekerja Seks Komersial). Karena rasa penasaran yang menggebu-gebu, merapatlah kendaraan kami di tempat beberapa wanita berkaos muda itu bekerja.
Wanita muda itu,  ternyata bertugas sebagai penusuk sate kambing, ada yang membakar dan menyajikan sate yang masih  kemebul itu ke para pembeli. Dan PSK itu – tak terduga sebelumnya – adalah  akronim dari Puncak Sate Kiloan. Karena sudah terlanjur masuk kawasan PSK, terpaksa kami harus makan sate yang dijual kiloan (artinya dijual per-kilogram dan 1kg berisi 45 tusuk). Memang enak. Rasanya seperti warung sate Belibul (kambing muda yang usianya Belum Lima Bulan) yang terletak di Kabupaten Slawi menuju pemandian air panas Guci. 
Siapa yang tidak penasaran dengan nama-nama seperti: PSK, Belibul, Ikan Gurami WTS (Warung Tengah Sawah) di Pemalang, Es bakar dan nasi bakar di Amplas (Ambarukma Plaza) Yogjakarta?
Nama bagi orang Indonesia sungguh memunyai makna. Orang Romawi kuno mengatakan bahwa nama adalah tanda,  "nomen est omen."  Ungkapan, "Gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan nama" hendak melegalkan bahwa nama itu memiliki makna.  Maka tidak mengherankan jika nama-nama jalan di setiap kota tentu menggunakan nama pahlawan. Karena setiap pahlawan itu harum namanya, seperti Ibu Kartini (1879 – 1904)  harum namanya.  Dari sana pula kita boleh beriskap kritis terhadap  Shakespeare (1564 – 1616)  yang mengatakan, "Apalah artinya sebuah nama, bunga mawar tetap harum meskipun namanya bukan mawar" (Bdk. Drama berjudul  Romeo-Juliet).
Sekali lagi,  "Nomen est omen!"  nama adalah tanda.  Orang Jawa memiliki nama yang panjang-panjang misalnya: Joko Hadiwijaya Nata Siswaya Mangku Singa Limo. Tetapi ingat bahwa orang Jawa juga dengan mudah mengganti nama,  seandainya orang yang mengenakan nama itu merasa "keberatan"  yang kadang ditandai dengan sakit-sakitan yang tidak kunjung sembuh. Maka atas nasihat orang-orang tua, sesepuh,  nama yang panjang dan indah itu bisa langsung diganti dengan nama Slamet. Dan ternyata anak itu jadi sehat walafiat. 
Di Gunungkidul – Yogjakarta zaman dahulu, banyak  orang menggunakan nama  yang  kelihatan  kampungan   – maaf – seperti: Markus Paimin.  Memang, nama itu di Gunungkidul  tidak begitu  keren. Tetapi ketika pindah ke Manado, nama Paimin itu menjadi  sangat  keren, karena di sana seperti  nama  fam (marga, keluarga).  Nama Paimin sejajar dengan Pandelaki, Tangkilisan, Wongkar dan lain sebagainya. Dan orang pun tidak sembarang memberi nama kepada anaknya.  Belum ada orang Kristen yang memberi nama Yudas kepada anaknya (padahal ada juga nama Yudas Tadeus yang rasul). Orang tua  tidak akan memberikan nama Hitler kepada anak kesayangannya. Orang tua tidak mungkin memberikan nama Doryudana kepada putranya yang semata wayang.
"Orang mati meninggalkan nama."  Kaisar Julius dan Kaisar Agustus ingin dikenang dalam Kalender.  Rupanya Kaisar Julius dalam Kalender menamakan diri sebagai bulan Juli dan Kaisar Agustus menamakan diri sebagai bulan Agustus.  Itulah sebabnya bulan September yang seharusnya menjadi bulan ketujuh (septem  artinya  tujuh) menjadi bulan kesembilan dan bulan Oktober yang seharusnya menjadi bulan kedelapan (Oktaf  artinya  delapan) menjadi bulan kesepuluh  (November, nona artinya sembilan dan Desember, decem  artinya  sepuluh).  Barangkali dari Surga Julius dan Agustus tersenyum karena namanya disebut setiap tahunnya.
Sepulang dari warung PSK (Puncak Sate Kiloan), kami menuju Collibah  dan menuju sebuah rumah. Di depan pintu muncullah seorang bapak muda yang siap menerima kami. Kemudian, bapak itu ingin tahu nama saya. Tetapi langsung saya bilang sambil menyitir  ungkapan Shakespeare, "Apalah pak arti sebuah nama!"  
Ketika mengaso sejenak di ruang tamu beberapa menit kemudian, bapak tersebut  mengeluarkan sebuah  pispot  untuk menyajikan  pisgor (pisang goreng).  Merasa jijik saya pun berkata, "Bapak kenapa  pispot  ini diisi dengan   pisgor?"
Dengan santai bapak itu pun berkata, "Saudara, Ini  pispot  baru dan amat bersih serta  belum pernah dipakai oleh siapa pun."  Katanya lagi, "Apalah arti sebuah nama!"
Saya tidak tega makan pisgor tersebut,  karena namanya saja  pispot, meskipun bersih dan tidak akan pernah dipakai untuk tempat  urine,  tetap pispot.
Rabu, 24 Juli 2013   Markus Marlon


Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com

Jumat, 26 Juli 2013

Melibatkan Diri

MELIBATKAN DIRI
(Kontemplasi Peradaban)
 
Ada seorang yang amat sibuk dengan pelbagai kegiatan. Katanya pada suatu hari, "Kita harus terlibat dengan pelbagai kegiatan. Jika di pasar jadilah pedagang. Jika di sawah jadilah petani dan jika di sekolah jadilah murid!"  Kita menceburkan diri ke dalam aktivitas dan hangus di dalamnya. "Cinta untuk untuk rumah-Mu menghanguskan aku" (Yoh. 2: 17).

Dalam melibatkan diri, seseorang bisa terjun secara  total, namun juga ada yang setengah-setengah. Keterlibatan itu bisa dari urusan rumah tangga yang remeh-temeh, namun juga bisa intervensi sebuah negara yang menguras energi dan pemikiran.  

Orang yang melibatkan diri dalam suatu perkara harus memiliki komitmen yang tinggi dan berani menanggung resiko. Fulton Sheen (1895 – 1979)  dalam bukunya yang berjudul   Kristus menulis, "Wanita-wanita Israel membungkam, tetapi wanita kafir ini, Claudia  tampil membela ketidakbersalahan Yesus serta mohon kepada suaminya, Ponsius Pilatus, supaya memperlakukan Dia secara adil" (hlm. 378). Kita tahu bahwa pada zaman itu, tiada seorang wanita pun diperbolehkan campur tangan dalam proses peradilan atau mengajukan sesuatu usul mengenai prosedur perundang-undangan. Barangkali peristiwa ini merupakan emansipasi pertama dalam dunia. Menurut etimologi, kata emansipasi berasal dari ex = keluar,  manus = tangan, cupere = membawa. Jadi Claudia itu berani  "mengunjukkan tangan" atau  menampilkan diri (Bdk. Felix Lengkong,  Millis Pineleng: 27 Januari 2012)   Lihat saja para pendekar emansipasi wanita, seperti R.A Kartini (1879 – 1904),  berani melibatkan diri untuk mengangkat derajat dan martabat kaumnya.

Orang yang melibatkan diri dalam suatu perkara tidak hanya menyumbangkan ide atau gagasan, melainkan "terjun langsung" menanganinya. Tangan atau manus, sebagai media utama  untuk melibatkan diri, diambil   menjadi istilah dalam biara-biara, "labor manualis" yang berarti kerja tangan.  Ada saat-saat tertentu bahwa para biarawan-wati  terlibat langsung untuk kebersihan biara mereka. Maka tidak mengherankan jika Abert Durër ( 1471 – 1528) melalui lukisannya yang berjudul Tangan yang Berdoa  memberikan pemahaman kepada kita bahwa tangan dalam lukisan tersebut adalah tangan yang kasar karena bekerja sebagai buruh demi biaya sahabatnya itu.  Sahabat dari Durër ini, melibatkan diri untuk sebuah kesuksesan orang lain. Ir Sukarno (1901 – 1970)  dalam Sarinah menulis, "… belum pernah ada orang yang belajar sesuatu hal dengan tidak bekerja. Orang tak dapat belajar berenang dengan tidak terjun ke dalam air. Orang tak dapat belajar menjahit, jika orang tidak mulai mengambil jarum di dalam tangannya…" (hlm. 221).  Manusia diminta supaya menggunakan tangganya terus-menerus  dalam melakukan pekerjaan yang baik sebagaimana Kristus telah menyelsaikan tugas yang diserahkan kepada-Nya oleh Bapa (Yoh 4: 34; 9: 4; 18: 4; Ibr. 10: 5, 7).

Ketika orang terjun dalam pekerjaan, Mahatma Gandhi ( 1869 – 1948) berkata, "Berbuatlah, tetapi jangan mencari buah perbuatanmu. Perbuatanmu mengalirkan siapakah dirimu sebenarnya, itulah buah. Hal ini sedikit banyak seperti jatuh cinta – ketika cinta mengalir ke luar begitu saja kepada orang Anda cintai."  Keterlibatan kita dalam masyarakat tidak perlu menghitung  "untung-rugi".  Kita berkarya secara total dalam   seumur hidup  (lifetime achievement).  Penulis, pelukis, penyanyi, pemimpin dan guru serta profesi lain yang melibatkan diri secara total adalah mereka yang menggunakan tangan-tangannya untuk berbuat baik. Mereka itu memiliki prinsip hidup, I do good, I intend good, I am good – "betindaklah yang baik, niat yang tulus dan menjadi baik.
 
Sabtu, 20 Juli 2013   Markus Marlon
 

Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com

Minggu, 21 Juli 2013

Antusias

ANTUSIAS
(M   o   t   i   v   a   s   i)
 
          Ada seorang  orator  yang berpidato di atas podium dengan penuh semangat dan berkobar-kobar.  Para pendengar tersihir dengan apa yang dikatakan. Mereka sangat antusias mendengarkan pidato  singa podium itu.
          Antusias! Adalah sebuah kata yang sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari. Bahkan saya pernah naik  angkot (angkutan kota) dan di sana sang sopir berkata kepada saya,  si penumpang, "Sobat, antusiasme terhadap  FaceBook  sekarang besar sekali ya?" Kemudian  saya pun menjawab, "Iya benar. Jika setiap orang memiliki antusiasme yang tinggi  terhadap pekerjaannya masing-masing, maka dunia ini menjadi indah sekali." Di sini antusiasme diartikan sebagai minat besar terhadap sesuatu: kegairahan, gelora semangat,  passion.  
          Antusiasme para prajurit  sangat tergantung dari komandannya. Dan seorang komandan yang tukang komando itu adalah orang yang pertama-tama pemberi antusiasme. Buku yang berjudul  The Best  of  Chinese Wisdom  tulisan Leman, menceriterakan tentang strategi sang komandan, bahkan jendral.  Melihat para tentara dalam kondisi lelah, akhirnya Cao Cao  –  penguasa Wei dan jendral yang sangat disegani –  memerintahkan mereka untuk beristirahat. Ketika para prajurit sangat kehausan, ia menemukan sebuah ide. Ia membisikkan sesuatu kepada salah seorang prajutinya. Sesuai instruksi, prajurit tersebut pun berangkat menunggang kuda. Tidak lama kemudian, ia kembali dengan berita, "Ada kabar baik. Ada kabar baik. Di sana ada pohon plum, buahnya besar-besar!!" Mereka dengan bersemangat langsung berdiri dan berangkat mengikuti prajurit yang membawa berita tersebut. Mereka tidak menemukan buah plum. Namun antusiasme yang dimunculkan oleh keinginan menikmati buah plum itu telah membuat mereka berdiri, bergerak dan berjalan serta akhirnya berhasil membawa mereka ke daerah yang tidak lagi gersang dan tandus (hlm. 99 – 100).     
Orang menjadi antusias dengan membayangkan atau memimpikan sesuatu yang hendak dicapai. Bahkan George Lucas (lahir tahun 1944, sutradara  Star Wars  dan Pencipta  Trilogi  Indiana  Jones)  pernah mengatakan bahwa impian itu sangat penting. Katanya lagi, "Kita tidak bisa berbuat apa-apa sebelum membayangkannya."  Seorang karyawan muda yang  membayangkan sebagai direktur perusahaan akan lebih antusias daripada mereka yang tidak memimpikan masa depannya.  Bukankah orang tidak akan pernah bisa "terbang" kalau Wright bersaudara ( Orville Wright: 1871 – 1945 dan Wilbur Wright: 1867 – 1912)  tidak pernah membayangkan untuk menerbangkan manusia?  
Dari berbagai motivator yang ada, Norman Vincent Peale (1898 – 1993) adalah salah seorang yang suka menggunakan kata-kata antusias. Dalam bukunya yang berjudul  Enam Sikap Pemenang, ia menuliskan antusiasme dalam hidup sehari-hari.  Peale mensitir kata-kata William Danforth (1870 – 1955), seorang pemimpin bisnis terkenal, "Setiap pagi berdirilah tegak. Lalu pikirkanlah hal-hal yang tegak dan  yang besar. Lalu keluarlah dan berbuatlah kebesaran. Lakukan itu, maka sukacita akan mengalir kepada Anda. Sebarkanlah antusiasme sepanjang hari dan pada malam harinya Anda memiliki simpanan sukacita yang melimpah…" (hlm. 38).
Antusias itu sebenarnya berasal dari bahasa Yunani yanani, en-theos yang artinya di dalam Tuhan.  Paulus dalam surat nya kepada orang-orang Kolose menulis, "Dalam segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan dan perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita"  (Kol 3: 17).
(Sudah dipublikasikan di  Tribun Manado)
Rabu, 17  Juli 2013   Markus  Marlon


Sent by PDS
http://pds-artikel.blogspot.com

Jumat, 19 Juli 2013

JALAN
(Kontempasi Peradaban)
         
Ketika saya hendak berkunjung kesalah satu keluarga di Manado – di bilangan kota Teling, saya agak heran karena dulu nama jalan itu adalah Jalan Anoa. Tetapi sekarang nama Jalan itu sudah tidak ada dan yang masih ada adalah Jalan 14 Februari.  Setelah saya bertanya kepada penduduk setempat, ternyata nama Anoa itu telah di-pleset-kan ("digelincirkan") oleh penduduk lain, menjadi akronim: Anak Nakal Otak Anjing. Padahal nama Anoa (hewan endemic Sulawesi) itu indah. Karena nama Jalan itu menjadi  "tidak baik" orang-orang yang tinggal di Jalan Anoa tersebut sengaja menghilangkan nama yang indah itu, Anoa.
Tahun berikutnya (2112), saya mengadakan perjalanan ke Jawa Barat. Di sepanjang jalan saya merasakan ada kejanggalan, ketika melihat nama-nama Jalan di sana. Di sana tidak ada nama Jalan yang  menggunakan nama  Gajah Mada. Sekonyong-konyong terbersit dalam pikiran saya dengan novel  yang pernah saya baca yang berjudul  Perang Bubat  yang terjadi tahun 1357 tulisan Langit Kresna Hariadi. Dalam novel tersebut, dikisahkan tentang Dyah Pitaloka putri Raja Galuh Pajajaran. Dalam perang Bubat tersebut, Patih  GajahMada (circa 1290 – 1364 ) amat berperan besar. Mungkin itulah nama Gajah Mada sengaja dilupakan, bahkan ingin dihapus dari ingatan negeri Parahiyangan. Wallahualam bi shawab!!
Mengontemplasikan makna Jalan, kita diajak untuk memasuki relung-relung kehidupan itu sendiri, dari Jalan yang biasa (street atau road) hingga Jalan menuju kepada keabadian (eternity).Maka tidak mengherankan jika muncul kata  sirotol mustaqim  (jalan menuju surga), yang menurut bahasa Injil adalah sempitlah jalan menuju kesurga (Mat 7: 13 – 14).
Orang seperti saya yang terlahir di  ndesa kluthuk  (desa yang sangat udik) tentu banyak pengalaman mengenai Jalan. Saya masih teringat bagaimana di  sepanjang jalan desa kami ada  kendi yang diletakkan di depan rumah oleh tuan rumah. Ternyata  kendi-kendi  tersebut disediakan bagi orang-orang yang mengadakan perjalanan dari desa ke desa (zaman dulu belum ada kendaraan dan listrik pun belum masuk). Keramahtamahan dari tuan rumah pada zaman itu sungguh luar biasa. Para  "peziarah" itu dengan mudah bertanya arah mana yang harus ditempuh (Bdk. Peribahasa,  "Malu bertanya sesat di jalan"), apalagi banyak persimpangan. Pada waktu itu memang belum ada petunjuk jalan, rambu-rambu maupun marka yang menjadi fasilitas bagi para pengguna jalan seperti zaman sekarang ini.
Sebuah jalan bisa menjadi kenangan, seperti lagu yang berjudul,  "Sepanjang Jalan Kenangan" ciptaan Is Haryanto dan dipopulerkan oleh Tetty Kadi (1969). Menjadi kenangan karena – barangkali – di jalan tersebut untuk pertama kali berjumpa dengan kekasih hati. Jalan menuju kotaWonosari – Gunung kidul dulu ada Jalan yang namanya  Irung Petruk (hidung Petruk) yang bentuknya seperti hidung  Pinokio (Novel ini ditulis oleh Carlo Collodi yang lahir di Florence 1826 – 1890). Orang-orang yang sedang jatuh cinta dan berduaan naik kendaraan bermotor akan mengatakan bahwa mereka memasuki  "tikungan mesra." Pengalaman seperti inilah yang menjadi kenangan. NH Dini dalam novelnya yang berjudul  Sebuah  Lorong di Kotaku, menceritakan tentang sebuah lorong yang memberi kenangan di masa kecil. Kita pun tentu memiliki kenangan tersendiri di sepanjang Jalan hidup ini. Petrus – Paus Pertama memiliki pengalaman tersendiri mengenai Jalan. Di Jalan Appia atau Via Appia, Petrus hendak melarikan diri dari penyiksaan dan pembantian orang-orang Kristen  di kota Roma. Sementara hendak keluar dari kota Roma  di Via Appia, ia bertemu dengan seseorang dan berkata,  "Quo vadis Domini?"  Dan "Tuan" itu  pun berkata, "Aku hendak ke Roma untuk disalibkan kedua kali." Dari sanalah Petrus sadar bahwa  "Tuan" itu adalah Yesus (Kisah selengkapnya bisa dibaca dalam novel berjudul  Quo Vadis tulisan Henryk Sienkiewicks).
Jalan bagi The Beatles – group music dari Liverpool dipandang sebagai jejak-jejak kehidupan.  Syair yang berbunyi,   "The long and  winding road" mengajak kita untuk mengontemplasikan akan kehidupan yang panjang dan penuh liku. Dan kadang dalam menapaki Jalan ini, kita mengalami banyak susah-derita. MalahanYesus bersabda, "Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku"  (Bdk. Luk 9:   23). Tidak heran jika tradisi kekatolikan menanamkan Jalan salib atau  Via  Dolorosa  (JalanPenderitaan) sebagai sarana untuk menghayati kehidupan Yesus. Jalan Salib menjadi permenungan umat manusia. Melalui Jalan Salib itu, kita merenungkan akan penghakiman terhadap orang yang tidak berdosa  (Yesus diadili secara tidak adil), diolok-olok (orang-orang yang menertawakan dan mencibir), jatuh dalam perjalanan (Yesus Jatuh tiga kali), perjumpaan dengan orang-orang yang tulus (Simon dari Kirene dan Veronica), ditolong oleh orang-orang yang prihatin (ibu-ibu Yerusalem yang menangisi Yesus), dipukul dan disiksa (algojo-algojo Romawi) akhirnya diancam dan dibunuh.
Jalan dalam bahasa Jawa diartikan sebagai  dalan.  Orang yang hidupnya tidak lurus disebut sebagai orang yang  "orandalan"  yang  berarti hidupnya tidak tahu aturan. Jalan – dengan demikian – dikandung maksud suatu arah, pedoman dan tujuan. Oleh karena itu, tidak salahlah jika hakekat jalan pun memiliki makna  religious.  Jalan menuju keabadian.  Orang-orang Mesir meyakini bahwa untuk menghadap  Osiris perlu peta atau denah yang ditaruh di bawah kepala orang yang yang sudah meninggal. Mereka beranggapan bahwa peta itu merupakan petunjuk arah menuju Osiris (dewa bawah tanah dan hakim orang mati). Bagi orang Yunani, orang yang meninggal itu dalam bibirnya diselipi koin emas. Ini dipakai untuk  "membayar"  orang yang menyeberangkan sungai dan bertemu dengan Dewa  Hades (Dewa Kematian).  Orang-orang Katolik mengenal yang namanya  viaticum yang adalah sakramen bagi orang-orang yang dalam sakit berat dan sebagai bekal Jalan  (via) menghadap Bapa di surge atau  viaticum  dalam bahasa Teologi diartikan sebagai  "makanan bagi yang mengadakan perjalanan." Komuni suci yang diberikan kepada orang yang akan meninggal untuk menyiapkannya bagi kehidupan yang akandatang.
Jalan juga sering diartikan sebagai  way of life – cara hidup.  Maka tidak mengherankan jika Yesus menyebut diri-Nya sebagai Jalan.  Via vita, via verita  – Jalan Kehidupan dan Jalan Kebenaran (Bdk.  Yoh 14: 6). 
Sebenarnya saya hendak menutup tulisan ini seperti yang ditulis oleh Thomas Aquinas (1225 – 1274). Ia berbicara secara analog mengenai Allah dengan merumuskan:  Via Affirmationis  (Jalan Peneguhan),  Via Negationis (Jalan Penyangkalan) dan Via Eminentiae  (Jalan Mulia). Tetapi sementara berpikir-pikir untuk menyusun kata-kata, sahabat saya mengajakku Jalan-Jalan. Dalam benakku sempat terpikir bahwa  Jalan-Jalan itu tidak memiliki tujuan,  sekadar  mlaku-mlaku  (bahasa Jawa) atau  sirèng-sirèng  atau  klinthong-klinthong  atau  sightseeing.  Namun supaya tidak mengecewakan yang mengajak  Jalan-Jalan, saya mencoba untuk memaknai  Jalan-Jalan itu sebagai suatu Perjalanan (journey). Maka tidak mengherankan jika perjalanan hidup itu pun harus ditulis dalam Buku Jurnal.  Hidup adalah suatu Perjalanan dan bukan hanya Jalan-Jalan, pun pula bukan Jalan di tempat. Einstein (1879 – 1955) pernah berkata, "Sepeda itu baru bisa Jalan kalau bergerak dan tidak jalan di tempat. Dan jika tidak bergerak maka akan jatuh."  Kita pun sudah layak dan sepantasnya dalam  nglakoni  (bahasa Jawa dari kata: laku, mlaku  yang berarti Jalan) hidup ini dengan bergerak, "Yok  Jalan!"
Senin, 15 Juli 2013  Markus  Marlon

 
Sent by PDS
http://www.birotiket.com/?id=PDSTiket

Kamis, 18 Juli 2013

SEMANGAT
(M   o   t   i   v   a   s   i)
 
          Malam hari, ketika saya hendak masuk di sebuah restoran di Jl. Malioboro – Jogjakarta, para pramusaji menyapa kami secara serentak, "Semangat Pagi!!"
          Agak setengah heran dan terkejut saya bertanya kepada salah seorang dari mereka. Jawabnya, "Om,  kami di sini dimotivasi oleh General Manager, agar selalu semangat. Ungkapan semangat pagi yang tadi kami katakana itu  hendak menunjukkan bahwa kami  memiliki  semangat pagi  meskipun seharian bekerja hingga malam hari"  
          Semangat diartikan sebagai kemauan dan gairah untuk bekerja dan berjuang, "Hendaknya diusahakan supaya semangat bekerja dan jangan sampai luntur!" Semangat ini yang dalam bahasa motivasi disebut sebagai  passion.
          Ada beberapa kisah tentang orang-orang yang terpuruk namun bangkit lagi karena ada semangat. Dalam buku yang berjudul  1000 Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa  ditulis, "Pada waktu setelah ditinggal Pram, kita pergi dari rumah dengan hanya baju yang menempel. Kalau kotor, cuci-kering langsung pakai lagi. Kita dibilang anak PKI-lah. Mereka menjauhi kita." Tulisanya lagi, "Tapi kita satu keluarga, setiap minggu selalu berkumpul. Kita ngobrol, harus bagaimana lagi? Lalu kita sekeluarga berpikir, kok kita mau  diginiin  orang? Ayo kita bangkit! Kita sampai jual kue dan macam-macam" (hlm. 94).  Orang bisa menjadi semangat dan bergairah karena sudah merasakan keterpurukan hidup. Mungkin benar  ungkapan yang berbunyi, "Sudah bosan menjadi orang miskin!" Maka orang menjadi semangat kerja supaya hidup lebih baik.
          Semangat  dan gairah karena dalam dirinya ada target yang hendak dicapai. Hal ini seperti yang dibuat oleh Yakub. Yakub harus bekerja selama tujuh tahun untuk Rahel, namun  "tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya yang besar kepada Rahel" (Kej 29: 20). Lihat juga bagaiman seorang ibu yang banting tulang dari pagi hingga malam dan tidak merasa lelah. Ibu muda itu berkata, "Saya bekerja sepertinya kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala –  jempalitan – ini semua saya lakukan karena cinta kepada anak-anakku yang masih kecil-kecil."
          Dalam buku-buku motivasi, kita sering mendengar adanya orang yang bekerja hingga lupa waktu karena sungguh-sungguh mencintai pekerjaannya. Misalnya, orang yang  hobby-nya menyanyi kemudian ditawari rekaman. Orang ini merasa bahwa tarawan itu merupakan,  "Pucuk dicinta ulam tiba" dan tentu saja dalam rekaman itu akan menghasilkan sesuatu yang maksimal.  "Hobby yang menjadi pekerjaan" kata orang "Itu amat membahagiakan!"
          Suatu malam, ketika Thomas Edison (1847 – 1955)  pulang dari tempat kerjanya, istrinya berkata kepadanya, "Engkau sudah bekerja cukup lama tanpa istirahat. Baiklah engkau pergi berlibur!"
          "Akan tetapi, ke mana aku harus pergi?" Tanya Edison
          "Putuskan saja di tempat mana engkau lebih senang berada dibanding tempat lain di bumi ini," saran istrinya.
          "Baiklah istriku!" Akhirnya ia berkata, "Aku akan pergi besok!"
          Keesokan paginya ia kembali bekerja di  laboratorium-nya.
(Sudah dipublikasikan di Tribun Manado, 6 Juli 2013)
Jumat, 12 Juli 2013  Markus Marlon

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 16 Juli 2013

5 Petuah Bijak

5 Petuah Bijak

(1). Jika Anda benar, maka Anda tidak perlu marah.
Dan jika Anda salah, maka Anda tidak layak marah.

(2). Sabar dengan Keluarga, itu namanya Cinta.
Sabar dengan Orang Lain, itu namanya Respect.
Sabar dengan Diri Sendiri, itulah Kepercayaan Diri.

(3). Jangan berpikir terlalu Keras mengenai masa lalu, hal itu membawa Air Mata.
Jangan pula berpikir terlalu banyak mengenai masa depan, hal itu membawa Ketakutan.
Hiduplah saat ini dgn senyuman, hal itu akan membawa ßάhάğîά.

(4). Setiap Cobaan dalam hidup kita, bisa membuat kita lebih terpuruk atau lebih ϐǻïk.
Setiap masalah datang untuk membuat kita lebih berprestasi, atau hancur sama sekali.
Pilihan ada di tangan kita, untuk menjadi seorang Pecundang atau Pemenang..

(5). Temukan hati yang indah & tulus, bukan wajah yang Rupawan atau Menawan.
Karena hal-hal yang Indah tidak Selalu Baik, namun.....Hal-hal yang Baik Selalu Indah.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 10 Juli 2013

TEGUH
 (Kontemplasi Peradaban)
 
          Tahun 2011, saya  berkunjung di Kabupaten Asmat – Papua. Dalam  live in  tersebut, saya mengalami betapa teguh para pencari ikan di rawa-rawa. Mereka berkutat  "memelajari" gerak-gerik ikan yang hendak ditangkap. Selang beberapa jam, akhirnya akhirnya ikan-ikan itu tertikam oleh anak panak sang pemburu.  "Keteguhan hati,"  Itulah kata-kata yang tepat untuk melukiskan para pemburu ikan dengan peralatan sederhana di hutan belantara Papua.
          Orang yang memiliki keteguhan hati, tidak mendapatkan begitu saja,  taken for granted.  Keteguhan hati juga tidak akan terjadi seperti wahyucakraningrat  yang didapat tidak tanpa perjuangan. Namun keteguhan hati ternyata kadang harus dialami dengan  jatuh-bangun penuh onak-duri, seperti yang dialami oleh  Aeneas dalam The Aeneid   tulisan Vergilius (70 – 19 seb.M). Keteguhan hati ini juga dapat kita lihat dalam diri K.H. Ahmad Dahlan (1868 – 1923) yang bisa kita baca dalam novel berjudul  Sang Pencerah   yang ditulis oleh   Akmal Nasery Basral dan sudah difilmkan serta  disutradarai  oleh  Hanung Bramantyo (1975 –  ). Amat berat memperjuangkan apa yang diyakininya. Tantangan demi tantangan dilaluinya dan akhirnya lahirlah lembaga berpengaruh bagi bumi pertiwi yakni Muhammadiyah.  Tokoh nasional lain yaitu  I.J. Kasimo (1900 – 1986) dalam menapaki dunia politik mengalami jatuh-bangun serta tekanan dari pelbagai pihak. Namun, ia semakin tegar.  J.B. Soedarmanto dalam  Biografi I.J. Kasimo menekankan  politik yang bermartabat.  Keteguhan hati untuk memperjuangkan rakyat kecil terinspirasi oleh kata-kata Marcus Tullius Cicero ( 106 – 43 seb. M) yang berbunyi, "Salus populi  suprema lex esto" – kesejahteraan rakyat adalah hukum tertinggi (hlm. 104). Dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat, Kasimo memiliki prinsip-prinsip yang teguh, namun dengan senyum khasnya, ia memberi  kesejukan bagi banyak orang.  Pepatah Latin menulis, "Fortiter in re, suaviter in modo" – Teguh dalam prinsip atau pendirian dan luwes dalam penerapan.
          Dalam sejarah pun kita mendapatkan pribadi-pribadi yang memiliki keteguhan hati.  Ketika Raja Hendrik VIII (1491 – 1547)  dari Inggris memisahkan diri dari gereja Katolik, karena paus tidak dapat menerima pernikahannya dengan Anne Boleyn (1501 – 1536).  Alasan ketidak setujuan paus adalah  karena  raja masih terikat dengan perkawinan sakramentalnya dengan ratu. Tentu saja, terdapat banyak warga Inggris yang tidak menerima kebijaksanaan raja itu, termasuk perdana menterinya, yaitu Thomas More ( 1478 – 1535). Ia tetap berpegang teguh pada imannya (Bdk. Majalah  Jembatan Firman  vol. I no.1 hlm. 8 – 11, tulisan Piet Tinangon  Pr). Ketika hendak dihukum mati, ia masih sempat berbicara bahwa ia masih seorang warga Inggris yang setia kepada rajanya, tetapi juga setia kepada imannya.
             Menelusuri uraian di atas, sikap keteguhan hati itu perlu diperjuangkan dari hal-hal yang sepele dan remeh-temeh,  namun dilakukan secara konsisten. Ida Friederike  Gorres dalam  Wajah Tersembunyi – Kehidupan Teresia Lisieux (1873 – 1888) menulis  bahwa untuk menjadi seorang yang kudus dibutuhkan kesetiaan dan keberanian  "menderita"  terus-menerus. Tulisnya, "…ketika waktu rekreasi, dia mengatur sendiri selalu duduk di samping para suster yang paling murung dan rewel.." (hlm. 348). Orang kudus yang meninggal dalam usia belia ini, tentu membuat decak kagum dunia.  Orang-orang yang tidak diperhitungkan, malah menjadi mercusuar  dan memberi pedoman arah kehidupan yang suci-murni . Seperti apa yang ditulis dalam Kitab Suci.  Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang orang kecil" (Luk 10: 21).  
          Akhirnya, "keteguhan hati"  tidak hanya dimiliki oleh orang-orang hebat – kelas dunia. Kita yang adalah  orang-orang  biasa juga "dipanggil" untuk menjadi hebat bukan karena melakukan hal-hal besar. Kita dipanggil untuk  melakukan hal-hal yang biasa namun dengan semangat yang luar biasa (Bdk. Kata-kata dari Mother  Teresa dari Calcutta).  Semangat yang luar biasa itu adalah keteguhan hati.

(Sudah dipublikasikan di  Suara Pembaharuan, 6 Juli 2013)
Rabu, 10 Juli 2013  Markus Marlon 


Powered by Telkomsel BlackBerry®